Articles

  • As the screams got louder and rowdier, and as more rocks flew into my house, I ran downstairs and saw my dad. “Turn off the lights! Stay inside!” he said. Behind him are several small bags, filled with important documents he had prepared last week, right after the news of Trisakti students shot dead.

    Read ›
  • Dalam rangka memperingati HUT ke-238 Museum Nasional, Yayasan Belantara Budaya Indonesia mengajak 1000 penari dan tokoh masyarakat untuk menari tarian pendet bersama.

    Read ›
  • Oleh: Mahisa Dwi Prastowo

    Menurut Wimar Witoelar, perkembangan intoleransi di Indonesia berjalan bersamaan dengan tumbuhnya toleransi. Situasinya kira-kira sama seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Ketika pemenuhan dan perlindungan hak-hak sipil berkembang sangat baik di Amerika, di saat yang sama ada fenomena Donald Trump yang merupakan calon presiden yang mengusung nilai-nilai intoleransi. “Jadi Amerika Serikat memiliki peningkatan toleransi dan intoleransi yang berjalan bersama. Itu juga yang terjadi di Indonesia,” ujarnya dalam diskusi di kantor Wahid Institute.

     

    Read ›
  • Memperkuat akses Perempuan atas Sumber Daya Alam

    Read ›
  • Rasanya belum ada program radio dimanapun yang bersiaran dari kamar pribadi seorang tokoh terkemuka. Tapi, program Weker Wimar dibawakan oleh bekas Kepala Juru Bicara Kepresidenan era Gus Dur, dan ahli komunikasi, Wimar Witoelar, LIVE dari  kamar pribadinya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

    Read ›
  • Harianjogja.com, SOLO — Saat ini di beberapa bagian dunia sedang mengalami teror. Teror seperti penyakit kanker. Teroris bisa masuk secara random dan kita tidak bisa menjamin kita bisa menangkal penyakit itu.

    Read ›
  • Oleh: Mahisa Dwi Prastowo

    Indonesia adalah harapan penyelamatan dunia dari perubahan iklim. Bersama dengan
    Brazil dan Kongo, Indonesia memiliki hutan hujan tropis terbesar di dunia dengan keanekaragaman hayatinya dan menyimpan banyak karbon. Kalau hutan hujan tropis ditebang maka kerugian karbonnya lebih tinggi. Boleh dibilang nyawa di planet ini berada di hutan hujan tropis yang ada di Brazil, Kongo dan Indonesia. Namun hanya
    Indonesia dari tiga negara tersebut yang memiliki kestabilan politik.

    Read ›
  • Seri mitologi terbaru dari Rick Riordan kali ini mengangkat Nordik, legenda orang-orang Skandinavia.

    Menceritakan Magnus Chase (sepupu Annabeth Chase) yang terjebak dalam konflik antar dewa-dewi

    Nordik. Magnus yang seorang gelandangan di kota Boston ditakdirkan akan mati pada hari ulang

    tahunnya yang ke-16. Ternyata kematian Magnus ini bukan akhir dari segalanya, tetapi justru awal dari

    petualangannya mengarungi Sembilan Dunia yang terpaut pada Yggdrasil demi menyongsong Ragnarok.

    Seperti dalam 3 serial novel mitologi sebelumnya (Yunani, Romawi, Mesir), Riordan menggunakan tema

    besar yang sama yaitu Hari Kiamat, sehingga berdampak pada alur cerita dengan tenggat waktu yang

    sangat sempit (rata-rata 1 minggu untuk satu buku).

    Read ›
  • Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) merupakan organisasi masyarakat sipil yang bergerak pada bidang kesehatan dan kelestarian lingkungan. Klinik ASRI yang terletak di Desa Sukadana,  Kayong Utara, Kalimantan Barat memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sekitar dengan sistem pembayaran tunai dan non tunai (menggunakan hasil kerajinan, pangan, bibit tumbuhan, dsb). Beberpa program lainnya dapat dilihat dalam video ini.
    Video ini merupakan hasil kerjasama Yayasan Perspektif Baru (YPB) dengan ASRI pada Januari 2016 lalu.
    Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) merupakan organisasi masyarakat sipil yang bergerak pada bidang kesehatan dan kelestarian lingkungan. Klinik ASRI yang terletak di Desa Sukadana,  Kayong Utara, Kalimantan Barat memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sekitar dengan sistem pembayaran tunai dan non tunai (menggunakan hasil kerajinan, pangan, bibit tumbuhan, dsb). Beberpa program lainnya dapat dilihat dalam video ini.
    Video ini merupakan hasil kerjasama Yayasan Perspektif Baru (YPB) dengan ASRI pada Januari 2016 lalu.
    Read ›
  • “Rancangan Undang-Undang ini sebenarnya hutang konstitusional Republik Indonesia kepada masyarakat adat. Tujuh puluh tahun tidak pernah dibayar lunas. Dibayar dengan dicicil-cicil dengan Undang-Undang sektoral,” demikian diungkapkan dengan semangat oleh Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Abdon Nababan pada Media Briefing AMAN bertema, “Ada Apa dengan RUU Masyarakat Adat” di Jakarta, Rabu (27/1).

    Read ›
  • Oleh : Panji Kharisma Jaya

    Memasuki tahun baru 2016, banyak hal-hal baru yang patut untuk dicoba dan dilakukan. Beberapa orang telah mulai menyusun dan melaksanakan resolusi tahun baru untuk mencapai tujuan masing-masing di tahun ini. Tidak sedikit yang membuat resolusi untuk membentuk tubuh kekar, menabung, hingga menikah di tahun 2016. Namun, seberapa banyak yang beresolusi untuk mencoba teknologi terbaru?

    Awal tahun identik dengan kemunculan berbagai macam tren seperti model rambut, fashion, hingga tren fotografi. Namun, tidak sedikit pula tren teknologi yang muncul pada awal tahun. Dan tahun ini, teknologi VR (Virtual Reality/Realitas Visual) diprediksi akan menjadi tren.

    Read ›
  • “Indonesia tidak perlu dibela, mereka masyarakat internasional menghormati banyaknya capaian-capaian yang telah ditunjukkan,” ujar WW. Joko Widodo juga menerima apresiasi dari masyarakat internasional karena meskipun baru satu tahun menjabat, ia sudah bisa menjalin kerja sama yang baik dengan melibatkan para akademisi dan gerakan-gerakan masyarakat sipil.

    Read ›
  • SIDANG COP 21 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) berjalan lambat. Pasalnya, delegasi-delegasi yang mewakili tiap negara masih mementingkan bisnis, bukan penyelamatan lingkungan.

    "Indonesia akan marah apabila hingga 7 Desember tidak ada kemajuan dalam sidang tersebut. Para delegasi tidak menyampaikan apa yang diinginkan pemerintahan mereka," kata Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim Rachmat Witoelar, di Paris, kemarin.

    Read ›
  • PARIS, KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia menghadapi dua isu besar dalam COP 21 pada kerangka konvensi perubahan iklim PBB (UNFCCC) di Paris. Kedua isu itu yakni kebakaran lahan gambut dan hutan, serta rencana dibangunnya pembangkit listrik berbasis batubara di Indonesia.

    Read ›
  • Jakarta (ANTARA News) - Indonesia akan memperjuangkan pengelolaan hutan sebagai aset produktif bangsa tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan dalam Conference of the Parties to The United Nations Frame on Climate Change (COP 21/CMP11) di Paris, 30 November-11 Desember 2015.

    Read ›
  • PARIS, KOMPAS.com - Toleransi maksimal kenaikan dua derajat maksimum suhu bumi dalam KTT perubahan iklim, UNFCCC, Paris, Prancis sulit terpenuhi. Hal itu diungkapkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, di sela-sela COP 21 Paris, Rabu (2/12/2015) waktu setempat.

    Read ›
  • Two degrees Celsius does not sound like much, but it’s one of the key issues being debated at the climate talks in Paris, which entered their third day on Wednesday.

    Two degrees Celsius does not sound like much, but it’s one of the key issues being debated at the climate talks in Paris, which entered their third day on Wednesday.

    Indonesia is currently working in an alliance with developing countries in the G-77, including China, the world’s biggest polluter, in negotiations at the COP21 climate talks in Paris, to reach a new agreement to replace the Kyoto Protocol, including capping the rise of global temperatures.

    One of the Indonesian delegation’s lead negotiators at the conference, Rachmat Witoelar, said that one of the key points that countries in the coalition had agreed on was that they would probably commit to limiting global temperature rises to a little over 2 degrees Celsius.

    “From the INDC [Intended Nationally Determined Contribution] that [developing] countries have submitted, we can assess that it will be difficult to agree on 2 degrees Celsius. Based on their [developing countries] abilities, the figure should be between 2.7 and 3.5,” Rachmat said at a press briefing at the Indonesian pavilion at the COP21 conference hall in Le Bourget, in the suburbs of Paris on Wednesday.

    In preparation for the Paris meeting, more than 150 countries submitted national climate targets covering nearly 90 percent of global emissions, which will be used to create a legal agreement to limit the rise of global temperatures to less than 2˚ Celsius.

    Rachmat said that pushing developing nations into reaching the 2º Celsius target would create a rift in the group. “We can’t force them to accept the 2 degree target or else we will create a split,” said the former environment minister.

    Another negotiator representing Indonesia at the COP21, Sarwono Kusumaatmadja, said that Indonesia could make a significant contribution to limiting the global temperature rise to 2 degrees Celsius by controlling the rate of deforestation.

    “We need to control our landscape given its great contribution [to the Earth’s atmosphere]. Deforestation is the key,” said Sarwono, who is also a former environment minister.

    Earlier on Monday, in his speech at the opening of the COP21 on Monday, President Joko “Jokowi” Widodo vowed that his administration would balance climate efforts with economic growth.

    He later renewed Indonesia’s commitment made previously in its INDC to reduce carbon emissions to 29 percent by 2030, or 41 percent with international support.

    At the COP21, the Indonesian delegation expects to reach an agreement under which countries are allowed to carry out their climate change mitigation initiatives according to their respective capabilities.

    Environment and Forestry Minister Siti Nurbaya Bakar said that in spite of the massive forest and peatland fires that blanketed large parts of Indonesia in haze earlier this year, Indonesia could continue to play a leading role at the Paris negotiations.

    “There have been no statements regarding the haze because the President was frank about it in his speech. We have to show this kind of attitude more often,” Siti said.

    She quickly added that CO2 emissions from the forest and peatland fires, which are estimated to be between 0.8 and 1.1 gigatons, would not be factored into the country’s INDC’s target of a 29 percent reduction of its current amount of 2.8 gigatons per year.

    “The INDC target was set in June, before the fires,” she said.

     On day three of the COP21, after state leaders had left Paris, much of the negotiations will take place between countries to discuss funding for developing countries to deal with the effects of climate change.

    Developed countries have pledged to mobilize 0 billion annually by 2020 to help poor countries adapt to climate change. - See more at: http://www.thejakartapost.com/news/2015/12/03/ri-joins-china-developing-countries-cop21-negotiations.html#sthash.iV87LL39.dpuf
    Read ›
  • TEMPO.CO, Paris -  Rachmat Witoelar, utusan khusus presiden untuk perubahan iklim, mengatakan pemerintah Indonesia melibatkan sejumlah negosiator non-formal dari kalangan diplomat sampai kelompok agamawan untuk turut berunding dalam negosiasi Konferensi Perubahan Iklim ke-21 Paris (COP21 Paris).

    Read ›
  • Salah satu sesi pentong di Pavilion Indonesia Paris COP membahas tentang  tantangan, strategi dan pembelajaran untuk pengelolaan SDA dan pembangunan hijau di Provinsi Kaltim.  Pembahasa  mengarah pada  perlunya mendorong green growth melalui dukungan sumber finansial, insentif untuk pengurangan emisi dan perlindungan hutan, peningkatan kapasitas SDM.

    Read ›
  • “Reducing deforestation doesn’t require any new technology, it’s generally cost effective...”

    By Daniel Zarin, Climate and Land Use Alliance

    The data can be viewed online on Global Forest Watch Climate as part of an interactive platform where users can compare carbon emissions information between countries or follow trends over time.

    Read ›

« Home | ‹ Previous | Next ›