Articles

Sekarang Golput, Nanti Memilih

Koran Sindo
30 December 2008

PP09

PRESIDEN KITA

Dalam demokrasi yang mewakili 240 juta manusia, wajar sekali bahwa banyak pendapat berbeda. Karena itu kalau jumlah partai melebihi empat puluh dan jumlah calon presiden bisa sampai duapuluh, itu bagus saja. Daripada pilihannya hanya satu – yaitu Suharto - selama lima kali Pemilu, atau tidak ada pilihan selama duapuluh satu tahun – yaitu Sukarno – lebih baik kita punya banyak pilihan.

Yang membuat banyak orang bingung, adalah bahwa dengan adanya banyak pilihan, tanggungjawab diletakkan pada pemilih. Kalau orang benci Sukarno atau tidak suka Suharto selama mereka memegang jabatan Presiden, orang bisa bebas ngomel, melawan atau tidak peduli. Dikasih kesempatan memilih, lepas saja, enakan Golput. Sangat bisa dibenarkan, Golput jaman dulu. Tapi dalam sejarah Indonesia, kita sekarang paling mendekati demokrasi beneran. Memilih bukan hanya tanggungjawab tapi hak dan kekuatan. Tidak percuma dipakai istilah "hak memilih", bukan "kewajiban memilih".

Bukan kewajiban memilih, jadi kalau tidak mau, silakan saja, tapi jangan ganggu suasana orang yang ingin menggunakan haknya. Itu namanya anti-sosial dan anti-demokrasi.

"Tapi, bang, abis calonnya gitu-gitu aja, itu-itu lagi, jadi gimana nggak males milih?"

Memang betul, saya juga sebal melihat daftar calon legislatif dan daftar calon Presiden. Tapi udah bagus ada yang mau tanggungjawab pasang badan untuk diomelin publik dan siapa tahu, membuat perubahan setelah 2009. Kalau soal penyalahgunaan kekuasaan itu soal tersendiri. Kan masyarakat berhak penuh, dan banyak menggunakan hak untuk menanggapi kekuasaan dan mengajukan kritik. Tidak lagi seperti dulu dimana orang harus takut menyebut nama. Sekarang sebut saja Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Sri Mulyani, Megawati, Sultan Yogya, Amien Rais, Wiranto, Prabowo, Hidayat Nurwahid, Yudi Chrisnandi, Rizal Ramli, orang berkelas dan orang abal-abal. Silakan diomelin, dikritik, di ekspose, diluapkan pengetahuan dan perasaan anda mengenai mereka, dan anda masih berada dalam batas hak dan tanggungjawab warganegara dengan memagang hukum sebagai perlindungan dan acuan anda. Tentunya kalau melawan hukum jangan minta dilindungi, terima konsekuensi. Konsekuensi yang diterima tokoh politik yang anda benci, jauh lebih berat, Bisa dipenjara, didenda, dan dihadapkan pada amarah masyarakat.

Kalau ada calon yang anda suka, berikan suara anda pada mereka. Kalau ada calon yang anda tidak suka, anda yakin orangnya tidak beres, berikan suara anda pada calon lain diluar mereka. Sederhana, karena and tidak akan menemukan calon yang anda betul-betul suka kecuali anda sendiri yang jadi calon, atau anda ikut mensukseskan pencalonan orang itu.

Sangat sederhana, hubungan hak dan tanggung jawab, suka dan tidak suka. Dengan sikap ini, kita bisa menghadapi kenyataan pahit. Sebab betul sekali, pola kampanye masih jadul, jauh kalah sama kampanye produk. Tidak heran kalau Golput naik atau pilih tanda gambar parpol.  Kalau yang terakhir terjadi, parpol akan berkoar2 "Nah, loh! Gue lagi yang tentuin siapa di parlemen! " Padahal kita sudah senang juga mendengar putusan Mahkamah Konstitusional bahwa calon partai melihat suara terbanyak. Dagang sapi dengan partai akan berkurang. Pasti banyak argumen sebaliknya, mengatakan bahwa aturan MK ini tidak fair. Terutama tidak fair untuk orang ambisius yang sudah menyumbang milyardan rupiah kepada partai agar mendapat nomor kecil 1, 2, 3 dan seterusnya. Perhitungannya kalau partainya dapat suara, dia dapat kursi. Seperti bagi kerja,  caleg menyumbangkan uang, partai memenangkan suara Pemilu.

Sekarang sudah tidak bisa begitu. Ada suatu joke yang menanyakan perbedaan antara profesi tertentu dengan partai tertentu. Dua-duanya disingkat menjadi tiga huruf. Ceritanya, profesi tiga huruf ini menyediakan kenikmatan dulu, baru bayar belakangan. Kalau partai tiga huruf ini sebaliknya. Bayar dulu, baru enak belakangan. Eeeh dengan aturan MK ini, yang udah bayar setor mahal ke partai, malah nantinya nggak dapat enaknya. Kursi idamannya dimenangkan oleh caleg yang mendapat suara terbanyak. Jadi partai bukan lagi seperti dealer tapi seperti supermarket, tiap merek bersaing terbuka di partai yang menawarkan mereka sebagai pilihan.

Coba diingat bahwa dengan aturan lama ataupun putusan MK yang baru, tetap pilihan ada di tangan pemilih. Bukan berarti bahwa dengan memilih, selesai persoalan. Dengan memilih, anda ikut menyisihkan calon yang paling payah. Selanjutnya seleksi pemimpin dikawal oleh mekanisme kontrol, diskusi media, unjuk rasa, gugatan hukum, protes yang semuanya merupakan bagian dari kegiatan berdemokrasi. Ini bisa diwakili oleh orang-orang rajin. Tapi memilih tidak bisa diwakili oelh siapa-siapa, tidak seperti dulu dimana pilihan politik diserahkan secara paksa kepada Golkar dengan mesin Suharto.

Ada seorang bernama Lupa Lagi, mengirim komentar ini di facebook:

"Bung wismar sebenarnya apasih tujuan dari sebuah pemerintahan dari suatu negara? saya pribadi adalah seorang gol put yang datang dri nurani. apakah ada yang dapatmerubah pendirian saya ini?"

Terima kasih, Sdr Lupa Lagi, pertanyaan ini mewakili banyak orang dan bagus untuk menutup tulisan ini, menekankan inti tulisan. Supaya tidak ada yang tanya:  "What's the message?"

Oke, ini jawaban saya. Ingat bahwa pendapat selalu berupa milik pribadi. Lain orang, lain pendapat.

Satu, sebetulnya pertanyaan sudah bisa di-diskualifikasi karena salah nama. Bukan wismar atau wilmar, tapi w-i-m-a-r. Di facebook ada nama Wymmar – walaupun lebih bagus, tapi itu juga bukan nama saya.

Dua, tujuan sebuah pemerintahan dari suatu negara itu penting sekali diyakini dan tidak bisa diajarin orang. Kalau orang tidak tahu tujuan pemerintahan, berarti tidak ada gunanya dia pikirkan proses politik, apalagi demokrasi.

Ketiga, kalau anda "gol put yang datang dari nurani", pertahankan nurani anda, sambil cari pengetahuan tambahan.

Terakhir, "apakah ada yang dapatmerubah pendirian saya ini?"  itu hanya anda yang tahu. Tidak ada yang boleh memaksakan. Logika terbalik, susah ditanggapi.

Jadi ingat sama komentar orang "ngapain ngomongin politik, ga pengaruh".  Orang-orang ini justru ngomongin gosip selebriti, ngomongin trend handphone, ngomongin trend pakaian, dsb. Bagus aja sih, tapi justru ngomongin itu lebih ga pengaruh. jadi kalau maunya kita ngomongin yang pengaruh, mestinya justru hanya ngomongin politik aja.

Hasil pemilihan di Amerika Serikat ditentukan oleh golongan "undecided". Pada hari pemilihan, mereka memutuskan untuk memilih Barack Obama. Kita juga boleh "undecided" atau golput, bagus malah sambil mengamati calon-calon yang ditawarkan.

Mari kita golput sekarang. Pada hari pemilihan, kita pilih yang terbaik, atau yang kurang jelek.  Sementara itu rajin2 baca berita, nonton televisi, browsing internet, termasuk www.perspektif.net.

Wimar Witoelar

Versi asli dari tulisan yang terbit di Koran Seputar Indonesia

Print article only

53 Comments:

  1. From alaksir on 30 December 2008 11:18:00 WIB
    Pak Wimar, mungkin agak OT tapi mungkin bisa membantu agar orang nggak golput. Kalau boleh di perspektif.net bikin semacam panduan untuk pemilu dong. Isinya mungkin partai yang ini pentolannya siapa aja, latar belakangnya apa, posisinya apa, dan kalau sudah di DPR kemarin kerjanya ngapain aja. Boleh juga kalau memasukkan pendapat atau posisi pribadi redaksi perspektif.net. Terus terang aja, kalau saya lihat-lihat di indonesiamemilih.com dan situs-situs resmi partai yang ada sepertinya landasannya kebanyakan juga Pancasila (atau Islam), agendanya sama-sama mengatasi kemiskinan, ekonomi rakyat, dll. Sebagai orang yang melek politik dan pastinya punya pendapat yang patut dipertimbangkan, Pak Wimar pasti bisa mencerahkan kami-kami calon pemilih yang bingung mau milih apa.
  2. From wiwit r fatkhurrahman on 30 December 2008 13:17:42 WIB
    salam kenal Bung Wimar, saya selama ini memperhatikan anda. meski baru kali ini saya tuliskan ke anda. terakhir, kemarin di acara Catatan Akhir tahun Gus Dur.

    www.wiwitfatur.wordpress.com

  3. From ihsan on 30 December 2008 13:23:04 WIB
    Boleh-boleh dan sah-sah saja golput, selama bukan golput biasa tetapi golput politik. Golput politik, yaitu tidak menggunakan hak suaranya karena memang tidak ada kepercayaan kepada siapa atau partai mana yang akan diplih dan memperjuangkannya dengan "cara lain". Harus difahami, selain sebagai fakta demokrasi, banyaknya partai politik itu juga menandakan "golput Politik" dari masyarakat Indonesia yang tidak mempercayai parpol yang sudah lebih dahulu ada dengan mendirikan parpol Baru...


  4. From anton djakarta on 30 December 2008 20:03:33 WIB
    Mau Golput, Mau Partai apa...
    Yang Penting PDIP, karena disitu ada dua idola saya : Rano Karno dan Budiman Sudjatmiko.

    Hidup Mega, Hidup Budiman!...Hidup Rano Karno Calon Gubernur DKI masa depan!

    Hidup adalah soal menentukan pilihan.....

    Anton Djakarta.
  5. From dmitri on 31 December 2008 00:45:52 WIB
    memilih sesuatu karena terpaksa, adalah paksaan. tidak beda dengan pemilu jaman Soeharto, atau jaman Putin.

    memilih untuk mengaku kalau kita tidak terwakili, adalah jalan terbaik menuju politik lebih jujur.

    tidak ada ruginya, karena toh, yang terbaik akan terpilih. hanya %nya tidak mayoritas. itu saja. no big deal.

    jangan maksa, dan berpura-pura tidak maksa. politic is also an art, and art is a seduction. learn to seduce people artfully. communicate more. work more. dont be lazy.
  6. From anggana bunawan on 31 December 2008 01:02:10 WIB
    menjadi golput atau tidak kembali ke preferensi masing-masing,

    menjadi pemilih yang bertanggung jawab itu jauh lebih berarti, tunjuk hidunnya kritisi dengan proporsional.

    menjadi pemilih yang kritis, walaupun smua berhak untuk jadi golput di hari pemilihan,

    tapi dalam kondiisi apapun selalu ada harapan dari beberapa tokoh yang semestinya bisa menjadi anginn segar ditengah ketidakpastian kualitas legislator dan politisi. selalu menjadi kritis agar smua pihak ingat bahwa masyarakat masih menjalankan mekanisme sebagai pemegang kedaulatan, seperti ekonomi dunia yang masih hidup ketika kapitalis memainkan ketamakan dalam sistem, maka indonesia pun begitu, jalankan sistem secara alamiah, tolak yang korup, kembali dukung yang punya integritas.

    smangat.... 100 hari lagi pemilu legislatif
  7. From dmitri on 31 December 2008 01:03:21 WIB
    komentar Alaksir menjelaskan bentuk komunikasi yg seharusnya dikerjakan sama calon presiden. setuju.

    tapi banyak salah kaprah, saya pikir, karena 'tidak setuju sama pilihan yang ada' merupakan pilihan juga, dan mereka yang batal memilih bisa menjadi target untuk masa berikut (atau pemilu tahap 2, atau pemilu berikut).

    memang, kalau do pikiran kita golput itu bukan target audience yang bisa diharapkan untuk memilih kita, ya kita jadi tidak mau ada golput. padahal itu cara terbaik untuk menang, kalau kita tau ada sejumlah besar golput yang bisa di-approach. kalau di pemilu ada 20% golput, dan memilih 'tidak setuju', yang berarti mereka masuk pos pemilu, artinya calon pengikut anda potensial nambah 20% di masa depan, kalau anda niat.

    jangan pesimis gitu, ah. market yang siap digarap kok malah dilepehin...
  8. From dewasa on 31 December 2008 04:09:55 WIB
    Om Wilmar eh Wimar, kasih referensi capres/cawapres dan partai-partai yang bagus untuk Indonesia ke depan dong, biar kita-kita ada suara pembanding dari kampanye mereka di media sebelum menjatuhkan pilihan. Secara serial ditulis di blog ini, akan bagus, Om. Salam
  9. From fadil on 31 December 2008 08:15:00 WIB
    Sesuai dengan putusan MK, pemilu kali ini kita emang bener2 milih orang langsung. jadi saya setuju dengan pendapat om WW, kalo dengan ikut memilih kita berarti udah ikut menyisihkan calon yang palng payah. Berarti kita udah ikut menggagalkan upaya calon yang demen korupsi, pembalakan liar, pelanggar HAM dll utk kepilih jadi anggota DPR. Selaen itu dengan sistem pemilu seperti sekarang ini kita juga jangan sampe terlalu terpukau dengan prestasi partai2, capres2 ato orang2 di dalam partai (seperti SBY, Budiman, Rano Karno dll), karena belum tentu orang2 itu ada di dalam daftar caleg daerah tempat kita ikut milih. Kita fokus aja sama caleg2 di daerah pemlihan kita masing2.
    Yang terakhir, saya minta tolong om WW kasih tau link tentang daftar caleg donk, khususnya untuk DKI Jakarta, kayaknya situs KPU gak ada yang bener deh, makasih..
  10. From TOHIR on 31 December 2008 09:23:00 WIB
    buat saya golput atau tidak terserah orangnya tapi yang jelas jika kita bertanggung jawab atas negara ini pilihlah jangan jadi golput. http://www.pesantrenputri.blogspot.com
  11. From widhi on 31 December 2008 13:50:38 WIB
    hmmm..... golput dari hati nurani ya??
    saya rasa itu pembenaran dari orang yang tidak mau melihat informasi serta visi misi dari calon yang ditawarkan selama ini, meskipun dalam realisasinya sendiri visi misi itu belum tentu berhasil,toh manusia tak hanya berhak memilih,tapi juga berkewajiban untuk berusaha dengan sebaik - baiknya.
  12. From Muhammad Khabib Tegowanu on 01 January 2009 02:11:24 WIB
    lha kalau semua orang pada memilih golput, nanti yang main di panggung politik siapa? nanti kan pentas politik terus selesai dong?
    ya mbok ya jangan gitu semua, mosok dari piihan yang ada ndak ada yang bagus, atau jangan-jangan anda sendiri yang bagus, lah mbok ya ikut nyalon, nanti saya dukung........age ta....................
  13. From Christian Sjioen on 01 January 2009 02:18:22 WIB
    Waktu untuk memilih 2009 adalah tepat , pilihan!!! pribadi2 lebih dari harapan saya baik Capres anggota DPRD DPR DPD dan berlanjut pada 2014 LIMA TAHUN WAKTU UTK PENILAIAN untuk kita semua yang memilih maupun GollPoeT Awal Januari 2009 utk wujudkan impian impian
  14. From Christian Sjioen on 01 January 2009 03:47:48 WIB
    Manusiawi : Absen : Partisipasi / GolPoet

    Harap Kerjakan !!!
    Harap harap Cemas ???
    Berharap bersama !!!
    Berpengharapan tidak terlalu lama !!!

    Dalam perjalanan Tahun 2009




  15. From iwan basari on 01 January 2009 17:57:06 WIB
    salam,
    He.he.he ahirnya kebaca ajakan gusdur... kalo bang iwan fals bilang \" aku bukan pilihan \" kira-kira calon wakil rakyat bilang apa ya...
    golput ato gak golput sejatinya saudara saya yang bukan sebangsa tanah dan sebangsa air, malah tambah bingung. kok wakilnya bisa lebih makmur, lebih kuasa,lebih... dan lebih sampai jjs rohaninya cukup buat selametan sekampung... bang, bantulah saya... makin lama saya makin malu jadi orang indonesia, yang kebetulan beragama islam.....
    tapi saya percaya saudara saya yang didusun klotok sekalipun yakin kami butuh pemimpin... makanya bagi kami golput pasti akan diikuti golning, goltem dan golkri... ( golongan kribo kritis.... )he.he.he..
    wallahul muwafiq
    matur suwun
  16. From Berlin Simarmata on 02 January 2009 11:41:30 WIB
    Untuk Anggota DPR/D,rasanya kita masih bisa milih salah satu dari sekian banyak Caleg,tapi kalau untuk jadi Presiden,kok sepertinya malas deh.SBY kayak gitu,ngomong doyang.Megawati,nanti suaminya yg kuasa.Wiranto paling nurut sama Cendana.Rizal Ramli kayaknya kecepatan lahir,belum waktunya deh.Prabowo ya paling juga bisanya melibas saja.Sutiyoso,paling juga bisanya bikin busway.Pak Sultan,baru bisa ngurusin Jogya saja.Gue mungkin mau pilih Tutut saja,lumayan nanti dapat sangu deh.Bebas kok.
  17. From Harryfakri on 02 January 2009 19:23:56 WIB
    Andaikan ada partai golput dan diberi gambar serta berisi orang-orang pintar seperti kang wimar, saya pasti mencontreng. Dahulu saya sempat tergiur untuk percaya dan memilih suatu partai, malahan saya juga ikut kampanye pada komunitas saya, tetapi sekarang partai yang saya pilih tidak berhasil melakukan perubahan, bisa dibilang tidak ada usaha untuk itu. Bahkan saya semakin kecewa dengan akselerasi politik partai tersebut yang menurut saya sangat menyakitkan hati orang-orang yang terdholimi. Singkat kata, saya kapok untuk memilih, tetapi maaf, golput pilihan politik saya beda dengan golput gusdur...
  18. From muhammad mihradi on 02 January 2009 20:34:27 WIB
    golput pilihan ketika partai mengecewakan dan perubahan hanya nampak sayup-sayup bersinar tipis di siluet Indonesia. Tentu perlu leader yang mampu menghadirkan harapan,karena golput tentu bukan sesuatu tujuan, ia hanya bentuk komit moral ketika pilihan baik sudah tidak cukup tersedia.
  19. From Jaka on 03 January 2009 10:17:34 WIB
    Bagi para anggota dpr ataupun calon2 anggota dpr dan calon2 presiden dan wapres, saya dan rekan2 mengharapkan partisipasinya dalam blog perspektif WW ini..agar kami2 tidak mengalami kesulitan untuk mengetahui program2 dan target2 kepemimpinan anda sekalian.

    Hal tsb akan membantu untuk mencegah bertambah banyaknya golput..

    Untuk Gus Dur,akan lebih baik kalau seluruh persoalan yg dialami beliau diungkapkan kepada masyarakat melalui media masa yg dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Sehingga masyarakat mengerti apa yg terjadi antara beliau dengan pemerintah sekarang...hal ini untuk menghindari kesalahpahaman di dalam masyarakat thd beliau ,yg membuat beliau dianggap mendorong2 orang untuk golput tanpa alasan yg kuat padahal beliau dinilai sebagai tokoh demokrasi Indonesia(kalau mengandalkan radio utan kayu (kongkow bareng gusdur)saja ,banyak orang tidak mengikuti acara tsb).

    Kami sadar,menjadi masyarakat demokrasi yg beradab, bermartabat dan makmur bukan perjalanan yg pendek,melainkan suatu perjalanan yg akan dilanjutkan oleh cucu,buyut dan cicit kami, yg entah akan sampai kapan dan pengorbanan2 apa yg harus dilalui oleh mereka untuk mencapainya...






  20. From Freddy Hernawan on 03 January 2009 14:29:24 WIB
    "bukannya begitu om, saya dan teman-teman pernah milih suatu partai, tapi ujung2nya, "suara" nya malah di jual ke partai lain" itu pesen yang pernah saya dengar dari temen kampus saya dulu. nahkalau itu gimana? kan kalau dah gt orang bisa jd males mau milih, toh suaranya malah dibelokkin lagi.
  21. From Woka Aditama on 03 January 2009 20:02:09 WIB
    salam kenal pak Wimar!
    saya adalah murid kelas 2 di salah satu sman di bandung.ini pertama kalinya saya berkunjung ke situs anda.Saya juga jarang menyimak acara-acara anda.Tapi saya cukup mengenal nama bapak yang sering menjadi kritisi terhadap masalah2 hangat yang ada di bangsa ini.Saya sangat senang menyimak berita-berita hangat baik di televisi maupun koran.

    semoga saat ini saya bisa lebih dekat dan mengenal anda lebih jauh!
    Terima kasih sebelumnya,maaf apabila ada salah kata dari saya.

    www.wokap3dia.blogspot.com
  22. From wimar on 04 January 2009 01:12:37 WIB
    Selamat datang Woka, senang sekali ketemu anda bergabung dalam forum dimana kita kembangkan pendapat yang berbeda-beda dengan sikap yang sama, yaitu memanfaatkan kebebasan bicara untuk menghargai dan membandingkan perspektif masing-masing, membangun kecerdasan kolektif. Kita sangat membutuhkan suasana kritis konstruktif untuk tidak tenggelam dalam keputus asaan dalam menggunakan demokrasi untuk mencapai hal-hal yang konkrit.

    Terima kasih juga kepada teman-teman lain yang bersedia berbagi pendapat dan pengalaman bersama kita semua.
  23. From Slamet riyadi on 04 January 2009 02:16:12 WIB
    saya merasa sulit untuk tidak golput kang, karena sy dihadapkan pada kenyataan memilukan yg sering terjadi pd dunia demokrasi kita hingga saat ini. \\\"PARTAI, CALEG maupun SIMPATISannya tidak SPORTIF\\\". Mereka kebanyakan tidak siap kalah yg ujung-ujungnya pengerahan massa dan bertindak berlebihan. Dan sy juga tidak simpati dengan Partai/ Caleg yg menang,karna menurut sy kebanyakan dari mereka hanya memprioritaskan kepentingan sendiri/partai(mengembalikan modal kampaye) Sy belum menemukan calon yg betul2 rela berkorban demi bumi pertiwi. Ada ngga Kang ????
  24. From JerryCo on 04 January 2009 14:18:43 WIB
    Tahun 2009 ini ramai-ramai para elite2 NEGARA INI berkompetisi untuk melangkah ke \"GEDUNG SENAYAN\" dan \"ISTANA NEGARA\". Dmana dua tempat itu adalah SURGA yang didalam nya terisi \"PUNDI-2 UANG , FASILITAS-2 MEWAH, dan HARTA KARUN NEGARA INDONESIA\" yang diperoleh dari KEPERIHAN, KERINGAT, dan KESENGSARAAN Bangsa ini............

    Rakyat butuh perubahan kongkrit \"MENTAL-MENTAL\" elite2 POLITIK .


  25. From abu djais on 05 January 2009 09:19:53 WIB
    Maaf ikutan comment nih..
    keknya mata tu kan indra -menurut saya- yang paling bisa di percaya, walopun telinga juga,tapi bukan paling...
    dengan demikian para caleg seharusnya sudah mulai meninggalkan bentuk-bentuk kampanye purba dengan mengandalkan slogan, janji tapi nihil bukti...
    seharusnya para caleg mulai memberikan sumbangsihnya kepada masyarakat dalam bentuk tindakan nyata yang benar-benar menyentuh masyarakat mulai dari lima tahun yang lalu....dan menurut saya itu minimal...
    wong dalam novel andrea hirata, untuk menilai calon mempelai pria tu baik ato buruk saja butuh waktu tujuh tahun lebih lo.....hehehe...nah lo, ndak malu lo para bakal caleg?
    nb: maaf bahasanya belepotan
    lha ndak biasa nulis e
  26. From Mundhori on 05 January 2009 09:38:49 WIB
    Golput adalah bentuk pesemistis, kepasrahan atau tidak tahu. Di era negeri kita masih belum sempurna tertata ini, kurang bijaksana dan kurang cerdas bila kita golput, dalam arti tidak memenfaatkan hak pilih. Memang ada kemungkinan golput karena tidak ada yg dianggap pantas untuk dipilih. Kalau hal itu terjadi, semestinya melakukan tebang pilih. Sebab pemilu yg akan datang ada 5 yg harus dipilih. DPR,DPD, DPRD Propinsi,DPRD Kota/Kabupaten dan pemilihan presiden. Taruh kata dianggap tidak ada yg pantas dipilih, ya masak dari keempat pilihan itu tidaki ada satupun yg dinilai pantas. Kalau di DPR tidak, yang memilih di DPRD Prop. Atau DPRD Kota/Kab. Atau memilih presiden saja. Yg penting sebagai warga negara yg baik harus peduli dg kondisi negara. Sebab pilleg dan pilpres untuk menentukan pemimpin negara yg akan mengatus negeri ini. Tanpa rakyat mendukung apa arti demokrasi. Memang benar DPR,DPRD kita kerjanya mengecewakan rakyat. Pemimpin negara tidak tepat melaksanakan kebijakan yg pro rakyat. Tetapi untuk masa depan yg masih akan gemilang perlu dipikirkan melalui pemilu. Jangan golputlah.
  27. From Christian Sjioen on 05 January 2009 11:13:54 WIB
    Anggran SUBSIDI BBM 2008 ALIHKAN PADA SEKTOR SEKTOR YANG MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYRAKAT YAITU SEKTOR MARGINAL:proyek infrastruktur,kredit ala bank GARMEN.PEPAYA MANGGA PISANG JAMBU DIBAWA DARI \"PASAR MINGGU\" DISANA BANYAK PENJUAL DI KOTA BANYAK PEMBELI ....INI DIA PEPAYA JERUK JAMBU RAMBUTAN DUREN DUKUH DLLNYA . APA KATA RAKYAT KALAU BERHASIL SAY NO GOLPUT... No No REGRES CAPRES CALON LEGISLATIF MERDEKA BUNG

    dana / sdm tersedia
  28. From john lennon on 05 January 2009 14:43:37 WIB
    @ #11 widhi

    sy sdh lihat visi & misi calon2 yg ada, krn itu sy tidak memilih mereka smua a.k.a golput.

    keputusan tdk memilih itu menurut sy tidak ada organisasix jadi tidak terstruktur, tidak diarahkan, dan dlm bahasa masa kini disebut sbg tidak direkayasa. Golput hanya istilah penelompokan yg dinyatakan oleh para jurnalis sj yg lalu disepakati utk memudahkan. Mereka dan saya hanya individu belaka yg didorong oleh berbagai alasan logis bukan supranatural atau juga klenik, sederhana sj.

    Kalo ada tokoh spt gusdur atau bung WW atau yg lain itu hny golput di wilayah public figure dan kalo mereka menyarakan, minta bahkan menyerukan golput, kekuatan mereka tidak akan cukup menghasilkan golput yg ada selama ini atau nanti pd pilpres 2009. terlalu kecil kekuatan mereka utk menghasilkan kelompok golput ini, jadi bukan krn mereka, tapi krn calon yg ditawarkan tersebut.

    njelimet bgt....ya pokok e Golput
    Salam


  29. From Udin on 05 January 2009 17:32:18 WIB
    GOLPUT menurut saya adalah kesadaran murni dari rakyat indonesia dan benar sekali tanpa diorganisir pun akan terjadi GOLPUT. Flatform partai para elit2 politik mendapat nilai 100 tapi watak para elit2 negara ini sungguh keterlaluan jika sudah berada didalam kekuasaan. Untuk merubahnya ya REVOLUSI kalau tanpa perubahan apapun ya GOLPUT.

    Para elit2 politik. Teruslah berkampanye jangan patah semangat dan jangan pernah takut akan GOLPUT. Karena disuruh tanpa disuruh pun untuk saat ini GOLPUT pilihan saya

    GOLPUT adalah suatu pilihan bukan sesuatu yang nista. Mungkin para pemilih GOLPUT rata-rata mereka sibuk BERKEWAJIBAN UNTUK MEREALITAKAN IMPIAN MEREKA DENGAN MENYEKOLAHKAN ANAK2NYA DAN MENCARI REJEKI. TAPI PARA ELIT YANG TERPILIH KEMARIN EHHHHMMMMMMMMMM.....
  30. From jaka on 07 January 2009 01:17:56 WIB
    Kang Wimar, kalau seandainya ada golput lebih dari separuh dari rakyat Indonesia( katakanlah 60% misalnya), kira2 apa pengaruhnya bagi kehidupan rakyat Indonesia di kemudian hari?

    Meskipun sebenarnya saya agak ragu bahwa akan ada lebih dari separuh rakyat Indonesia Raya yang benar2 golput. Yang sangat mungkin mah, golput2an alias tidak didaftarkan oleh kpu setempat..seperti diberitakan di koran2..Nahh kalo golput2an ini terjadi, apa yang harus kita lakukan?

    terima kasih untuk penjelasannya bagi kami semua..

    Salam perspektif...
  31. From Martin Manurung on 07 January 2009 10:58:41 WIB
    Wah, tulisan ini kok bisa mirip dengan yg sy jg tulis di blog martinmanurung.com

    Rakyat yang sadar harus tahu bagaimana ia bisa menghargai suaranya sendiri untuk mengubah nasibnya sendiri. Sebal itu bagus, sebab berarti dia ingin situasi yang lebih baik. Tapi, berhenti pada sebal saja, malah tidak membuat situasi menjadi lebih baik.
  32. From paul on 07 January 2009 11:36:22 WIB
    menurut saya golput adalah sebuah ketidakmampuan seseorang dalam berpolitik.
    bisa juga disebut sebuah kekalahan individual dalam visi politiknya.
    secara psykologis, mereka2 sadar akan kekalahannya. tapi mereka tak mau mengakui kekeliruannya.
  33. From kiki on 07 January 2009 15:14:38 WIB
    Kalo di Indonesia hari ini masih ada partai yang anggota DPR/DPRD nya melaporkan uang siluman yang diterimanya ke KPK sebelum 30 hari (denger2 sampai 2M).
    dan kalau masih ada partai yang mewacanakan rekonsiliasi antar anak bangsa (yg salah tetap dihukum tentunya) dengan meninggalkan saling caci dan saling intrik untuk bersama dalam keluarga besar yang bernama INDONESIA merencanakan akan dibawa kemana bangsa ini ke depan.
    dan selagi masih ada partai yang berusaha sekuat tenaga untuk tetap BERSIH, PEDULI & PROFESIONAL....

    maka bagi Bangsa Indonesia ketahuilah...
    HARAPAN ITU MASIH ADA...

    Btw.. om WW. udh 2 pekan rakyat Palestina dibantai Zionis, but, di forum ini belum ada pembahasannya ya? What\'s Wrong?
    thanks.. keep ur smile
  34. From BUDISAN on 07 January 2009 21:41:14 WIB
    GOLPUT adalah "kekalahan dan ketidakmampuan" mungkin ini khusus untuk para intelektual dan para elit2 dalam meyakinkan Rakyat Indonesia dan merupakan suatu kelemahan para elit2 politik untuk tidak merealitakan flatform2 partainya.
  35. From soul on 08 January 2009 10:50:19 WIB
    Undangan untuk rekan2 blogger. KalSel punya event besar ARUH BLOGGER 2009 akses di (http://aruhblogger.com). sampaikan kepada rekan2 blogger lainnya

    thanks

    chandra
    CP : 05117718393, 05119044028, 085251534313, 081952954056
  36. From Hani Putranto on 09 January 2009 11:41:55 WIB
    Benar Bung Wimar. Harus milih dan harus banyak berkunjung ke web atau blog jangan hanya baca media cetak, antara lain di blog ini www.perspektif.net juga www.ekonomikerakyatan.ugm.ac.id atau blog saya http://satriopiningitasli.blogspot.com
  37. From dmitri on 10 January 2009 04:32:53 WIB
    @Berlin Simarmata
    setuju, milih caleg lebih gampang. milih anggota DPR yang kita inginkan lebih gampang.

    memangnya kalau yang milih SBY cuma satu, dan sisanya golput, terus negara bubar? kan masih ada pemilihan tahap berikutnya. masih ada waktu untuk menarik massa. malas, ya?

    lagi pula, enggak mungkin gak ada yg milih, karena golput enggak dikampanyekan, dan enggak di iklankan. tapi sebagai pilihan, sepantasnya diterima. absurd kalau semua golput. itu bukan kebanggaan, tapi bagian dari demokrasi. coba hitung jumlah % pemilih di Inggris dan AS selama 20 tahun terakhir? berapa yg golput? memang Obama tidak melirik mereka saat mencalonkan diri? anda mau ada 'Obama' tidak di Indonesia? jangan asal pilih.

    setiap partai sudah mengumpulkan bubuhan tanda tangan supaya bisa partisipasi. itu saja sudah ada calon pemilih.

    pesimis amat. nanti salah pilih, lho... tapi, saya juga bisa salah kaprah. ini pilihan masing-masing.
  38. From tikno on 12 January 2009 05:19:31 WIB
    Salam buat Pak Wimar,
    Ini pertama kali saya berkunjung ke sini. Saya suka gaya Pak Wimar yang santai tapi serius.

    Masalah Golput saya kira bukan hanya ada di Indonesia saja, di negara lain juga banyak. Bahkan saya mendengar anekdot saat pilkada di tempat saya seperti ini: \"Seandainya dari Golput ada calon-nya pasti sudah jadi Gubernur.\" Saya tertarik jika Pak Wimar membuat posting tentang beberapa alasan (analisa) mengapa banyak golput.

    Jika Pak Wimar punya waktu, saya sangat tertarik untuk mengetahui opini Pak Wimar di posting saya dengan judul \"Veto VS Democracy\" dan relevansinya di jaman sekarang.

    Salam hangat,
    Tikno
    http://love-ely.blogspot.com
  39. From redaksi on 23 January 2009 14:18:50 WIB
    PESAN DARI SURGA BUAT PARA KORUPTOR

    Engkau menuliskan senandung nyanyianmu di atas wajah suci kaummu; lalu engkau membiusku dan perlahan-lahan merampas hartaku… seperti itulah yang dilakukan para koruptor…

    Demikianlah, negara ku kini menduduki peringakat 3 negara terkorup se-Asia Tenggara, dan aku lemas, lunglai tak berdaya di tengah melimpahnya kekayaan kita. Kalbuku mengerang kesakitan, ku meraung kepedihan menahan luka gores sayatan yang menggores batin ini oleh perselingkuhan orang kepercayaan.

    Dulu dalam fahamku, kau ku pilih karena kau orang yang tepat di posisimu, kau pengelola managemen dasyat dari segala kehebatan negeriku. Maka itu ku serahkan tanpa syarat semua kepadamu. Dengan maksud kita bersama-sama menyeberangi tepian bahagia menjadi bangsa bermartabat.

    Tapi kini, rencana janjimu adalah angin lalu, semua ucapan manis mu kau buang di ngarai hampa. Ketahuilah semua kepalsuan yang kau ucapkan, aku tak percaya lagi!! Aku tidak ingin bersama mu di pemilu 2009 mendatang.

    Semalam dua sebelum anggota KPK datang menjemput, aku mempersiapkan sepatah dua patah untuk kusampaikan kepadamu, namun engakau persiapan hanyalah persiapan, aku tak bisa melepas siratan hati karena penjagaan ketat garda polisi.

    Sekarang di antara persidangan hati sekalian, aku katakan kepadamu ” aku akan boikot pemilu tgl 5 april 2009, kami akan golput!!!” agar kau merasakan seperti apa luka yang kau berikan.


    sumber:www.asyiknyaduniakita.blogspot.com
  40. From gesti on 24 January 2009 23:00:10 WIB
    yap, agak setuju sih golput sekarang tapi pas hari H wajib udah tau siapa yang paling kompeten untuk kita pilih. Kebetulan saya pemilih pemula nih, benar benar masa mengambang, semoga ntar piliha saya tak salah. Makanya, penting banget tuh pendidikan politik dan brain wash tentang good leader di masyarakat.
  41. From jamin on 25 January 2009 00:32:53 WIB
    gw ngga akan golpput. sudah saatnya indonesia bangkit. dan memilih pemerintah yg mau dialog.

    Hanya dengan dialog terbuka pesan kita bisa mencuat.

    pilih partai yg tidak banyak orasi dan terak2 tapi lebih banyak dialog terbuka.

    Emang ada partai yg berani dialog?

    Saat ini hampir nihil. Ada dua, semoga dalam waktu singkat partai2 lain akan mulai berani berdialog "dua-arah" dan tidak "satu arah".

    Kunjungi blog "kumpulan partai2 yg berani berdialog".
  42. From ANANG PRASONGKO on 29 January 2009 00:45:22 WIB
    GOLPUT ITU BAIK YANG JELEK GOLIT (GOLONGAN ITEM ATAU HITAM) JADI TINGGAL PILIH AJA MAIN YOYO ATAU BERMAIN PANTUN DUA-DUANYA LUCU DAN MASUK AREA KANAK-KANAK LUCU DAB LUCU
  43. From mukhtar on 29 January 2009 23:53:52 WIB
    Ternyata anda seirama dengan MUI. gitu donk sekali-sekali akur.
  44. From wimar on 30 January 2009 03:09:30 WIB
    beda dong, kan kita nggak mengharamkan. Sikap politik adalah hak setiap orang
  45. From frans on 01 February 2009 00:12:31 WIB
    hehehe...esai yg menarik dan .. seandainya oom wimar bisa dimunculkan bersama dg JK dlm sebuah debat imajiner..antara cawapres versi perspektif dg cawapres versi ATM (asal tetap menjabat) :)
  46. From sayamidun on 07 February 2009 14:18:39 WIB
    bayangin jk golput di indonesia jmlhnya s.d 95%, pasti presiden dan DPR/D yg menjabat akan lbh berhati2 kerjanya,
    tentu karena suara yg mendukungnya sangat sdikit kan, bisa2 diturunin paksa oleh 95% rakyat indonesia yg tdk memilihnya.
    dan akhirnya mereka akan merengek2 ke kita dgn berusaha membuktikan kinerjanya.

    seandainya saya jd bos,pasti saya gk akan mau dipaksa2 orang lain utk memperkerjakan seorang pelayan utk saya.
    seandainya butuh pelayanpun, itu urusan istri saya yg jg melayani saya........kekekekekekke....

    canda om...sory
  47. From bambang ps on 08 February 2009 17:34:12 WIB
    Ini topik yg bikin miris. Bayangkan golput yang notabene hak politik sudah masuk ruang lingkup agama. Bikin bulu kuduk berdiri. Fenomena golput sebenarnya adalah karena kita sudah bingung mau milih yang mana. Ibarat pacaran karena sudah berkali-kali kecewa lalu gimana mau percaya lagi dengan semua. Jadi gak usah pacaran aja. Jadi ya lu-lu gue-gue kata remaja jaman saya.
    Jadi kalo sudah bingung masa harus dipaksa? jadi ya oom-oom dan tante-tante yang mencalonkan diri harus introspeksi diri kenapa dagangannya (yang pesta demokrasinya memakan biaya aduhai) kurang atau tidak laku. Mari kembali untuk bertanya ke hati masing-masing apa yang sudah diberikan
    kepada rakyat dan akan dipertanggungjawabkan nanti diadapanNya.
    Jadi sodorkan program yang rakyat bikin senang. Atau bapak-bapak dan ibu-ibu yang punya kemampuan untuk membuat suatu platform yang bagus (kalo perlu sampe juklak dan juknisnya dibuat he...he....)bikinlah dan tawarkan ke masyarakat lalu tawarkan ke politikus kita apakah ada yang mau pakai, jika iya kita dukung rame-rame. Nah karena sekalian basah politik sudah masuk ranah agama, bikin juga fatwa bahwa politikus yang membohongi rakyat adalah kafir (misalnya ha...ha...). Begitulah curhat yang lagi bingung he...he....
  48. From Eka SulisAnjarwati on 09 February 2009 15:54:27 WIB
    Yang banyak golput biasanya sih orag\\ng2 kota yang jiwa individualismenya udah luntur... contoh kecil ajah, di kampung saya, orang2 pada mau pergi k TPS walaupun jauh dan gak mudah mencapai ke TPS. Ada yang milih karena ngikut apa kata pak RT, ada yang milih karena Sodaranya duduk nyalon juga, ada yang milih karena Bares 2 kilo indomie, ada juga yang milih karena sering denger tuh calon ngasi pengajian,, tapi rata2 mereka tetep berangkat milih. Coba di Kota2 yah... susah banget nyuruh Pegi ke TPS ajah... saya jadi bingung, ini sebenernya orang2 kota kan istilahnya lebih pinter yah daripada oranmg desa,, tapi kok... malah gak mau milih, apa karena mereka lebih pinter jadi mereka milih golput. jadi yang mana yang lebih baik...saya jadi bingung ini..
  49. From gigih on 21 February 2009 05:03:08 WIB
    bang wimar,umur saya 19 tahun.Pemilu 2009 ini saya mau golput aja.Saya golput bukan karena benci demokrasi,tapi saya benci calon2nya..Liat aja paltform2 partai2 sekarang,yng diandelin cuma kemiskinan dan selalu mengatasnamakan rakyat untuk kampanyenya.Dan yang selalu diperhatikan cuma2 orang kurang mampu.Ju2r sebagai anak muda saya iri,kenapa pemerintah dan caleg2 itu tidak berpihak kepad kami(anak muda).Maksudnya berpihak kepada anak muda itu seperti ini,pemerintah atau caleg2 berusha agar IPTEK kita maju.Jaringan internet dikencengin lagi dan tarifnya dimurahin lagi.Dan pemerintah juga mau menghargai aktifitas2 anak muda sekarang.Saya pernah baca majalah khusus game,dimana ada 4 pemuda indonesia mewakili ajang game dunia dan mereka masuk 3 besar,akhirnya mereka dirkrut sebagai tim ASUS.Mereka membela indonesia dgn uang mereka sendiri lho bang..kenapa mereka tidak dihargai??sebagai catatan saya harga pc khusus game itu diatas 10 juta..Lalu ada putra bangsa ini yang juara hacker di tingkat dunia,tapi apa pemerintah tau?Saya sebagai putra bangsa indonesia ingin agar putra-putri indonesia juga di beri perhatian bukan hanya di bidang politik saja,tapi di bidang IPTEK.oiya..ada yang lupa,tolong donk..pemerintah support anak2 muda yang hobinya EXTREM SPORT..diluar negeri olahraga ini dihargai lho..Bang tolong jawab pertanyaan saya dibawah ini ya??

    Gaji Presiden pasti lebih besar dari gaji wakil presiden
    Gaji Direktur pasti lebih besar dari gaji wakil direktur
    Tetapi apa Gaji Rakyat lebih besar dari gaji wakil rakyat????
  50. From wimar on 21 February 2009 06:10:26 WIB
    ini sedikit jawaban, gigih.

    Gaji Presiden tidak lebih besar dari Gaji Direktur Bank. Gaji anggota DPR tidak lebih besar dari sebagian gaji pegawai perusahaan, tapi lebih besar dari sebagian lagi.

    Kalau pemerintah support extrem sport, pemerintah juga harus support water sports. Yang mana yang harus diprioritaskan, diputuskan dalam proses politik. Yang mempengaruhi proses politik, antara lain DPR. Yang menentukan anggota DPR, adalah Pemilihan Umum. Yang membuat Pemilu sukses, itu kalau banyak yang ikut memilih. Kalau tidak, DPR diduduki orang yang dipilih orang yang tidak Golput.

    Sampai kapanpun Gigih menunggu, tidak akan ada platform partai yang bagus kalau Gigih tidak ikut dalam proses politik. Jadi pilihan ada pada Gigih, wakil rakyat yang jelek seneng sekali kalau Gigih tetap Golput, sebab berarti mereka lebih mungkin terpilih lagi.
  51. From wimar on 21 February 2009 06:14:03 WIB
    Eka, orang yang lebih kaya lebih malas memilih karena hidupnya lebih enak. Atau kalau ada yang tidak disukai, lebih punya cara untuk menyatakannya. Orang yang kurang beruntung hidupnya, tidak banyak tumpuan harapan. Mereka lihat Pemilu sebagai satu kemungkinan bersuara, karena itu lebih rajin.
  52. From Kusnanto on 08 April 2009 12:31:28 WIB
    Tadinya juga mau golput, alasannya sama sebel sama calon2 yang ada. Tapi daripada semua golput tidak ada pemerintahan dan paling tidak \"ada yang mau bertanggung jawab pasang badan diomelin publik...\" (bagus juga sudut pandangnya..dan orisinil). Dan yang lebih penting kita bisa menyingkirkan yang paling tidak kita sukai dengan memilih yang lain, siapa saja selain dia, walaupun tidak kita kenal dan belum tentu juga tidak nyebelin. MK sudah putuskan suara terbanyak, tapi kenapa keluar peraturan (presiden?) yang membolehkan mencontreng partai? Apakah itu tidak bertentangan dengan keputusan MK tsb? Dimana kedudukan /kekuatan hukum keputusan MK, apakah bisa dikebiri begitu dengan alasan agar tidak banyak suara yang hilang / salah? Ini juga termasuk yang nyebelin.......
  53. From daneilelpurdwisantoso on 05 July 2009 12:05:19 WIB
    mengapa golput ya apa sebab ya gak memilih ya harus ya memilih capres dong

« Home