Articles

Paparazzi untuk Semua

AREA magazine
24 December 2008

Paparazzi untuk Semua

 

AREA125.jpg


Wimar WItoelar

Teman saya mencatat bahwa orang Indonesia kalau di luar negeri senang sekali foto-foto.  Sampai dia saksikan sepasang turis mengunjungi obyek wisata dan sang wanita menikmati pemandangan menarik, tapi sang lelaki lebih sibuk. Akhirnya wanita mengatakan: “Sudahlah jangan foto-foto saja, apa sih yang bisa dilihat nanti dalam foto? Nikmati saja selagi ada disini.” Si pria sadar dan malu juga, dan menyimpan kameranya.


Sekarang bukan hanya turis di luar negeri, tapi dimanapun orang rajin ambil foto. Mungkin ini karena sekarang semua orang punya hand phone, dan kebanyakan hand phone punya kamera. Ternyata hand phone yang laku di Indonesia itu yang model menengah ke atas, yang ada kameranya.  Selain menelepon dan kirim sms, fungsi yang paling populer adalah kamera. Ini hasil survey lihat kiri kanan, bukan melalui lembaga polling.


Menarik juga bahwa makin banyak orang menggunakan kamera itu untuk memotret diri sendiri atau diri sendiri bersama teman. Jadi ramai, dan menghilangkan penghasilan kios foto yang pakai otomat itu. Orang memang narsis, dan seharusnya begitu, sebab kalau orang tidak senang pada dirinya, susah mengharapkan orang senang pada dia.


Saya pikir juga bahwa foto yang dibuat turis di tempat wisata pasti tidak semuanya foto obyek itu sendiri, tapi foto dirinya sendiri dengan teman atau banyak teman, dengan latarbelakang tempat wisata. Kalau tidak, katanya beli postcard saja. Walaupun rasanya jaman sekarang makin sedikit orang pakai kartupos bergambar. Terakhir tante saya almarhum yang selalu minta dikirim postcard dari perjalanan luar negeri. Dulu soalnya orang ke luar negeri tiga minggu dan kirim postcard seminggu sudah sampai di rumah tante. Sekarang pos sudah lebih cepat jadi postcard dari Sydney bisa sampai di Jakarta empat hari kemudian, tapi kita sendiri pergi ke Sydney hanya dua hari, jadi pas pulang ketemu tante, postcard belum datang. Akhirnya untuk menghemat prangko saya bawa sendiri setumpuk kartupos bergambar dan menyerahkannya pada tante sebagai oleh-oleh.


Kebiasaan ini berubah setelah disadari bahwa foto digital bisa langsung dikirim lewat email atau di posting di flickr, nggak usah nunggu lagi. Bahkan kalau orang disuruh belanja buah, dia bisa motret buah itu dan langsung kirim lewat handphone dengan pertanyaan: “Mau jeruk yang model gini?”


Satu hal tidak berubah. Walaupun orang sudah bergeser dari kamera film ke kamera digital ke kamera handphone, kebiasaan foto-foto di obyek wisata. Percuma juga dilawan karena foto-fotoan sudah merupakan kebutuhan. Sama dengan kamera yang menggunakan external memory dalam bentuk kartu, otak manusia juga menggunakan external memory dalam bentuk kamera. Hasil kamera disimpan dalam arsip foto komputer, disimpan lebih aman lagi dalam flickr atau photobucket atau website foto yang lain. Kalau dipasang dalam facebook, jadilah dia collective memory untuk jutaan orang. Kalau mau, kita bisa jadi bagian dari komunitas yang sangat luas dan juga sangat intim.


Maka itu, hati-hatilah terhadap jepretan kamera teman atau diri sendiri atau bahkan jepretan orang lewat, sebab kita akan terekam sepanjang masa dalam kondisi pada saat itu. Kalau senyum maka kita akan dikenal sebagai orang happy, kalau muka lempeng kita akan dikenal sebagai orang datar. Semua menjadi selebriti instan dan semua menjadi paparazzi instan.


Dunia semakin terbuka, makin enak untuk orang yang terbuka, tidak nyaman untuk orang yang punya banyak rahasia. Ingat bahwa Casey Anthony yang dituduh membunuh puterinya berusia dua tahun Caylee, terbongkar kasusnya ketika dia secara kebetulan terekam dalam kamera video di hand phone yang dipasang di You Tube. Kelihatan Casey berpesta ria padahal baru siang harinya dia lapor anak hilang sambi menangis-nangis di kantor polisi.
Smile, you are (always) on camera


 

Print article only

3 Comments:

  1. From bambang ps on 14 February 2009 20:12:55 WIB
    Heran kok gak ada yang kasih komentar, padahal ini menyangkut kemajuan teknologi terutama teknologi informasi. Ngomong-ngomong soal suka memotret dan memfilm diri sendiri yah itu berkah untuk perbaikan ahlak kita. Bukan hanya casey anthony saja, tapi lihatlah terbongkarnya berbagai kasus ahlak yang terekam di hand-phone di tanah air kita bisa memberikan pelajaran kepada mereka untuk kembali ke jalan yang benar, baik itu selebritis, politikus, atau siapa saja. Jadi biarkan budaya senang merekam diri sendiri terus berkembang karena ada unsur baiknya juga ha....ha....
  2. From rasti on 04 March 2009 18:20:13 WIB
    Tulisan bang Wimar ada betulnya. Orang menjadi narsis untuk bangga akan diri sendiri. Mengenai perkembangan teknologi, ini semua memudahkan hidup manusia. Asalkan manusia menggunakan pada batasnya. Always trz to smile.. Zou are candid everywhere..everytime..
  3. From julius on 11 March 2009 17:47:41 WIB
    ya inti itu semua bergantung dari kalian pribadi. apa lagi jaman sekarang NARZISME semakin parah dan merajarela dengan cara hubungan intim yang di abadikan dengan video. ini kan reformasi yang anda inginkan ? BEBASSSSSSSSSSSS MASA BODO SAMA KEPENTINGAN ORANG YANG PENTING G PUASSSS :P

« Home