Articles

Indonesia-AS Kembali Bersahabat, tapi Berapa Lama?

SINDO
23 February 2009

 

oleh: Wimar Witoelar

kolom PRESIDEN KITA

Dalam kampanye Presiden Amerika Serikat tahun 1960,Senator John F Kennedy mengumumkan konsep untuk membentuk ”Peace Corps,”sebagai alternatif pengabdian anak muda pada negara di samping dinas militer.

 

peace_corps.jpg
Peace Corps di Afrika

JFK mengajak pemuda Amerika untuk mengabdikan dirinya pada negara, jangan menuntut saja.Lahirlah kalimat terkenal yang kemudian diucapkannya dalam pidato pelantikan Presiden tahun 1961: ”Ask not what your country can do for you—ask what you can do for your country.” (Jangan tanya apa yang bangsa dapat kerjakan untuk Anda –tanya apa yang Anda dapat kerjakan untuk bangsa).Peace Corpskemudian beroperasi di berbagai negara termasuk Indonesia.

 Puluhan pemuda datang ke Indonesia dan walaupun mereka awam karena ini organisasi volunter, mereka bersemangat membantu berbagai bidang kegiatan rakyat Indonesia,mulai dari pelajaran bahasa Inggris sampai pada membantu teknologi pedesaan. Tapi di 1964, pada puncak keangkuhan Presiden Soekarno melawan dunia barat, Peace Corps dilarang di Indonesia bersama dengan organisasi internasional lain seperti PBB,Komite Olimpiade, dan Bank Dunia. 

Dalam pidato inaugurasi Presiden Barack Obama di pada Januari lalu,Obama menyatakan ”The time has come to reaffirm our enduring spirit; ….. that all are equal, all are free and all deserve a chance to pursue their full measure of happiness.” (Waktunya telah tiba untuk menandaskan kembali semangat kita;…. Bahwa semua orang adalah sama, semua bebas dan semua berhak atas kesempatan untuk mengejar kebahagiaan selengkap- lengkapnya).

Kemudian, dalam perjalanan pertama ke luar negeri, Menteri Luar Negeri Hillary Clinton mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan menghidupkan lagi Peace Corps di Indonesia. Satu putaran dalam sejarah hubungan Indonesia dan Amerika Serikat telah dimulai pada Rabu (18/2).Indonesia dan Amerika Serikat kembali bersahabat. Kalimat Presiden Obama agak panjang,tapi isinya dahsyat, tidak kurang daripada suatu pengingkaran kebijaksanaan Pemerintah Amerika Serikat selama delapan tahun di bawah Presiden George W Bush.

Koreksi yang merupakan ”systems reset” mengembalikan Amerika Serikat dari posisi menyerang dan memecah belah dunia, pada posisi kerja sama sederajat. Mempertegas keyakinan Amerika Serikat bahwa semua orang berdiri sama tinggi, semua bebas, dan semua berhak mengejar jatah lengkap kebahagiaan. 

Pengertian Obama dirinci dalam kalimat lain pidato inaugurasi: ”to all the other peoples and governments ….. : know that America is a friend of each nation and every man,woman, and child who seeks a future of peace and dignity.” (kepada semua bangsa dan pemerintah…: ketahuilah bahwa Amerika Serikat adalah sahabat setiap negara dan setiap pria, wanita, dan anak-anak yang mendambakan masa depan dengan damai dan harga diri). 

Amerika Serikat dan Indonesia bersahabat, tapi ini hanya suatu awal, dan persahabatan selalu menghadapi gelombang naik dan turun. Tidak pernah juga kita tahu berapa lama persahabatan akan bertahan karena semuanya tergantung kerja sama dan terutama satu hal: saling percaya atau trust. Pasti banyak yang memandang skeptis keterangan bersama Hillary Clinton dan Menlu Hassan Wirajuda, katanya seperti panggung sandiwara. Memang,itu semuanya sandiwara untuk ditonton dan dihayati. 

Jika kita menanggapi dengan positif dan menginginkan hidup yang baik seperti dalam sandiwara itu, maka kita bisa membantu merealisasikannya. Hubungan internasional zaman sekarang bukan lagi masalah antarpemerintah. Dunia telah menjadi global dan kerja sama internasional ditentukan oleh orang biasa melalui bisnis, media, dan jejaring sosial atau social networking. 

Obama tidak menjadi Presiden AS dengan kekuatan partai saja, tapi diawali dengan inti dukungan orang biasa melalui blog, facebook, and social networking lain. SBY tidak menjadi Presiden Indonesia dengan kekuatan Partai Demokrat versi Indonesia, tapi karena saat itu mampu menimbulkan kepercayaan masyarakat, lebih dari lawannya dalam pemilihan umum. Media memegang peran di kedua negara, lembaga politik konvensional memberikan pengabsahan. 
 
peacecorps.jpg
Presiden John F. Kennedy dengan Peace Corps 1961
 

Pengumuman hidupnya Peace Corps adalah peristiwa besar,mengakhiri permusuhan antara rakyat Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat dan persekongkolan antara penguasa Indonesia dengan kompleks militer-industri Amerika Serikat.Hubungan baru AS-Indonesia didasarkan atas kekuatan mendasar, yaitu nilai bersama yang disebut oleh Hillary Clinton sebagai ”shared values”,yaitu demokrasi dan pluralisme. 

Dasar ini adalah modal persahabatan yang bisa dan harus dikembangkan bersama, tidak hanya diserahkan pada pemerintah, diplomat, dan pakar hubungan internasional. Di kala Indonesia menghidupkan demokrasi baru berdasarkan pluralisme,AS mengembalikan pluralisme sebagai nilai dasar demokrasi tua mereka. Kolom ini yang berjudul ”Presiden Kita” sangat tepat sebagai pusat seruan untuk mengembangkan persahabatan Indonesia dan Amerika Serikat dan semua bangsa di dunia. 

Sebab, kita harus punya presiden yang sanggup membuka jalan bagi orang biasa untuk menikmati angin segar dari Washington. Jangan lagi kita menyiasiakan kesempatan untuk menerobos keluar dari sikap rendah diri yang bersembunyi dari demokrasi dunia dan sedikit-sedikit menyalahkan negara lain untuk kekurangberhasilan kita dalam banyak hal mulai dari industri migas sampai perdagangan batik. Kita bisa menduga bahwa setelah Peace Corps dihidupkan dan juga program beasiswa Fulbright yang sangat bersejarah sebagai ”success story”, pintu keluar-masuk kedua negara akan dibuka lebih lebar. 

Presiden Obama menghadapi hambatan dan tantangan besar di negaranya untuk melaksanakan pembaruan yang dijanjikan. Presiden Indonesia menghadapi hambatan dan tantangan besar di negara ini untuk menyambut pola baru hubungan internasional. Sebagian besar hambatan itu datang dari dalam pemerintah sendiri. Karena itu,kita perlu seorang presiden yang bisa mengatur pemerintah lebih baik, lebih tegas,dan lebih bersih. (*) 

Wimar Witoelar 

Print article only

22 Comments:

  1. From rahadian p. paramita on 24 February 2009 09:39:50 WIB
    'Persahabatan' yang terjadi antara Indonesia-AS, saya kira terlalu naif kalau hanya dilihat dari sisi ini. Kita tahu persis, apapun yang dilakukan Amerika bukan tanpa kepentingan. There's no free lunch, isn't it?
  2. From wimar on 24 February 2009 09:50:13 WIB
    betul there is no free lunch. karenanya saya tulis;

    Jangan ... bersembunyi dari demokrasi dunia dan sedikit-sedikit menyalahkan negara lain.. kita perlu seorang presiden yang bisa mengatur pemerintah lebih baik, lebih tegas,dan lebih bersih

  3. From boy hidayat on 24 February 2009 11:35:15 WIB
    bukannya tidak percaya kepada maerika, tapi terkadang bersikap lebih hati-hati demi keutuhan bangsa, itu adalah sebuah hal yang wajar. jangan sampai karena hubungan dengan negara yang katanya "bersahabat", kita malah kehilangan sahabat yang sesungguhnya, yakni anak bangsa itu sendiri
  4. From Chandra on 24 February 2009 13:31:12 WIB
    Peace corps dan Fullbright perlu disambut dengan positif. Tapi "genuine peace" hanya mungkin apabila Amerika bisa melepaskan nafsu hegemoninya dan berlaku adil terhadap bangsa2 di dunia. Ini mungkin tantangan paling berat Obama. Neocon masih belum mau mengubur impian membangun imperium. AIPAC masih lebih cinta Israel daripada Amerika. Juga di arus bawah masih banyak Christian Right dan red neck yang fanatik buta.
  5. From BlogSaham on 24 February 2009 20:51:31 WIB
    Amerika lagi kebakaran buntut karena perekonomiannya lg murat marit gara gara duit di hambur buat perang, nah si Obama ini lebih cerdik dengan memimpin negaranya dengan cara Empati dan mungkin aja si Obama ini tanda sadar kena imbas didikan kultur Jawa ...jd ya saat ini yg namanya sahabat adalah how to survive buat ekonominya Amrik .... jd harus waspada ada udang dibalik bakwan deh ......
  6. From Look it 2 on 25 February 2009 00:46:49 WIB
    aku melihat dr si2 lain hubungan dgn amrik, mungkin bisa membuat amunisi kita bertambah shg bisa mengawal tanah air yg sangat luas, nga seperti saat ini kita dilecehkan terus ama negara tetangga yg doyan maling-in pulau2 kosong yg kurang diperhatiin ama kita.. gitu lho.. sorry kalo pandanganku salah.. yg jelas sia teh maling!
  7. From harrie shaputra on 25 February 2009 07:59:02 WIB
    Kalopun ada agenda terselubung di balik kembali bersahabatnya Indonesia-Amerika, kita patut bersyukur, setidaknya Amerika sudah mau berusaha mengubah image mereka di mata dunia terkait cara pandang mereka terhadap \"perbedaan\"
  8. From joe on 25 February 2009 08:29:13 WIB
    Saya baru memberikan kepercayaan 1% kepada USA, saya masih belum yakin USA akan adil dalam kasus TimTeng dll, saya akan berikan 100% jika USA segera menarik tentaranya dari Irak, Afganistan, pangkalan militer di Jepang, Filipina, menutup Guantanamo, restrukturisasi DK PBB, adil dalam kasus Timteng, menyelesaikan masalah tanpa perang / infansi ke negara lain, menghormati kedaulatan negara lain. Kepada USA berjuanglah menuju jalan yang benar, benar bukan menurut anda, tapi benar secara universal. Selamat berjuang. Kita cinta warga USA, tapi masih belum cinta kepada pemerintah AS.
  9. From Arie on 25 February 2009 13:43:04 WIB
    sama seperti di Indonesia Obama adalah produk generasi baru, semacam antidote dari generasi sebelumnya. Syukurnya walaupun sama2 model rekonsiliator dia tidak pake metode Gus Dur yang 'terserah' atau 'gitu aja kok repot', pluralis dan bipartisanya Obama masih pake platform adab dan bukan platform duit, dan niat pluralisnya bukan pingin beda tapi pingin bener. Lama persahabatan ya selama-lamanya kalo bisa, tapi ya tergantung bisa tidak antidotenya bekerja efektif ngelawan generasi sepuh yang radikal, gila harta dan kuasa, biasanya yang sudah2 sih umurnya pendek..! kan WW sendiri bilang orang jahat itu biasanya bekerja lebih keras dibanding orang baik. Selama Obama dan timnya bekerja lebih keras dari lawannya, yakin hasilnya pasti positif. liat aja CNN makin sinis saja setiap hari. WW juga dan timnya harus bekerja lebih keras lagi, biar shownya ngga dibreidel lagi!
  10. From jaka on 26 February 2009 01:47:02 WIB
    Jalinan hubungan antar manusia selalu memiliki kepentingan di dalamnya..entah itu dalam keluarga atau di luar keluarga (sekolah,pekerjaan,pemerintahan,blog's dsb)..dan itu sangat wajar prens...namanya juga orang hidup..

    Oleh sebab itu saya setuju dengan tema di atas, bahwa hubungan persahabatan itu MAU berapa lama? atau AKAN berapa lama?

    Tapi harapan saya mah, jangan sampai terjadi lagi peribahasa yg mengatakan, karena buruk rupa , cermin dibelah...wahh malunya itu , prens sadayana ! Diketawain orang sadunia..

    sakitu wae lah ..permiosssssss...
  11. From Mundhori on 27 February 2009 08:57:39 WIB
    Pernyataan AS membuka persahabatan dg semua bangsa dan bla bla, termasuk dg Indonesia adalah pernyataan politik, sebagai pintu masuk untuk aspek yang lain, terutama ekonomi. Sebab hubungan Indonesia dg AS adalah hubungan yg mengandung banyak aspek. Bukan hanya hubungan politik saja. Karena itu pernyataan politik itu perlu ditindak lanjuti untuk dicermati dari berbagai aspek dalam menciptakan implementasinya. Ya politik, ya ekonomi, ya militer, hubugan budaya, social, pandangan agama, dan masih banyak lagi termasuk untuk generasi muda kita. Bahkan sudah harus dipersiapkan proposal sebagai antisipasi implementasi memanfaatkan hubungan. persahabatan Indonesia AS. Selama ini sudah ada hubungan antar negara, antar bangsa, yg sudah banyak pula produk produk hubungan bilaterar itu, yang dirasakan sangat tidak imbang, khususnya di bidang ekonomi. Kita banyak mendapatkan kerugian dari pada keuntungan yg bersifat kesejahteraan umum.Contohnya kontrak eksplorasi sda, dll. Karena itu dalam rangka lebih menjalin hubungan persahabatan dengan AS jangan melepaskan kewaspadaan untuk bidang bidang lain, selain politik
  12. From wak tul on 27 February 2009 10:45:29 WIB
    Orang jualan....


    Begitulah dalihnya. Baik mau jualan eceran ataupun partei dan super partei kayak USA-RI.
    Silahkan timteng saling perang, maka negara industri bisa jualan senjata. Silahkan WNI saling bunuh, sementara alamnya dihabisi oleh mereka semua.
    Lalu bagaimana dg kita ???

    Hah, sebodo amat ?!?!?!
    Mau no free lunch mau kepercayaan, atau apalah namanya. Yg penting, bisnis adalah bisnis. Pribadi adalah pribadi. Keduanya ga bisa dicampur. Mau kapitalis ataupun komunis, semua yg kebablasan sama brengseknya. Apalagi yg main pelintir ??!!??!!

    Suatu persahabatan tentu dilandasi tujuan. Istilahnya take and give, getoooo lhoooo.....
  13. From rendy on 01 March 2009 10:14:41 WIB
    suka atau tidak suka ,di dalam hidup kita membutuhkan teman..
    dan selama pertemanan itu saling menguntungkan, ngga usahlah cari2 kejelekan teman kita itu...

    kalo sampe kita menjelekkan teman yg memberikan keuntungan buat kita , itu namanya 'ga tau diri ,bos!

    mau contoh tentang 'ga tau diri itu?
    liat aja hasil pengeboran di sidoarjo itu..kalau kita salah pilih teman dan sok tau (keminter-bhs jawa), ya begitulah akibatnya..salah ngebor!! harusnya ngebor minyak , jadi ngebor lumpur comberan! ter - la- lu !!



  14. From salvan on 02 March 2009 03:36:23 WIB
    Semoga bisa bertahan lama dan punya komitmen bersama membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
  15. From Salman Nasution on 02 March 2009 12:00:33 WIB
    ask what you do in your life, future (Doomsday) ?
    so in your business today will be successfully
  16. From |richard.p.s| on 03 March 2009 01:16:38 WIB
    semoga nih, yang galak-galak anti amerika, bukan karena lagi cari muka sama kubu arab yang semakin mengacung dengan gagahnya. alih-alih jelekin asing, padahal kepentingan kitanya yang jelek. masa sih, persahabatan hanya karena gatel dicocol mamon? nggak kwalitet ah. kok bisa-bisanya mengharapkan persahabatan yang kwalitet?
  17. From robinharyanto on 05 March 2009 11:52:55 WIB
    saya kira kita harus melihat segala hal dengan lebih jernih dan "wise". Yang jelas kita boleh saja bersahabat dengan siapapun,dengan negara manapun asalkan dalam persahabatan tersebut tidak ada intervensi terhadap kepentingan dalam negeri kita. sehingga kita ( Indonesia ) masih bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain.

    Hatur nuhun,
    Robin
  18. From andri on 06 March 2009 06:20:43 WIB
    semua ini masih misteri bung. saya yakin hubungan as-indonesia tidak akan berlangsung lebih 10 tahun terutama ketika as akan melemah pada waktu itu
  19. From lisega on 31 March 2009 08:39:45 WIB
    Dengan Rusia, dong (bersahabat makin erat)

    lisega.110mb.com
  20. From andro on 22 May 2009 00:12:09 WIB
    Kalau kita merasa benar - benar takut dibodohi ber a r t i
    kita memang benar-benar bodoh.
    Persahabat adalah bagi siapa saja selama ada Positive Thinking
    disana
    berfikir positif hasil positif
    berfikir biasa hasil biasa
    berfikir negatif hasil negatif
    berfikir luar biasa hasil luar biasa

    silakan untuk anda pilih salah satunya
    maka itu akan mencerminkan pandangan anda terhadap orang lain
  21. From reza safrianto on 30 June 2009 10:40:28 WIB
    saya yakin cukup bertahan lama pak..kepada teman2 yg anti AS, lebih baik jgn terlalu anti2 bgt deh,, lihat dulu apa yg bisa kita raih dari partnership ini,,
  22. From armad on 23 September 2009 14:16:05 WIB
    wajarlah jika negeri paman sam itu membentuk persahabatan buat indonesia ingat-ingat bos kita ini menjadi merdeka kita ini terlepas dari penjajahan tak lepas dari kekuatan bom atom amerika yang dia lepas di hirosima dan nagasaki ah ah ah jangan sok muna lah ayo kita sambut perdamaian buat super power

« Home