Articles

Pemilu Ribet, Demokrasi Lancar

koran SINDO
07 April 2009

PP09

oleh: Wimar Witoelar

Pemilihan umum tinggal beberapa hari lagi, dan Anda bingung karena tidak mengerti caranya, pusing terlalu banyak pilihan, caleg semua tidak bermutu. Jangan takut. Jalankan saja, nanti akan tahu sendiri caranya. Seperti naik bus kota. Pusing karena banyak pilihan, dan tidak bermutu semua menurut Anda? Banyak yang begitu. Kemarin dulu ada yang bertanya pada suatu pertemuan: ”Setuju tidak, semboyan di suatu iklan yang mengatakan: Banyak pilihan bikin bingung?”  Ya, tergantung orangnya. Ada orang masuk department  store jadi bingung, karena banyak pilihan. Dia mengomel, susah milih, bingung.  “Kasih tahu dong harus milih yang mana.”  Itu wajar saja, kalau orang itu belum pernah masuk department store. Dia lebih nyaman masuk toko kecil di mana pilihan tidak banyak, atau lebih bagus lagi menerima kemeja yang dipilihkan oleh orang tuanya atau istrinya atau temannya. Dia tidak bisa memilih. Atau orang yang bingung memilih jodoh, dan minta dicarikan oleh orang lain.

Beberapa hari yang lalu majalah dunia terkemuka The Economist dari Inggris menerbitkan artikel panjang dengan inti bahwa demokrasi di Indonesia tumbuh sangat subur. Kalau banyak yang bingung menghadapi pemilih yang makin ribet, itu merupakan masalah tapi hanya masalah pelaksanaan. Yang penting Indonesia ini benar-benar bebas, banyak cekcok tapi bukan jenis yang serem seperti pada kekerasan rezim Suharto dan bukan pembunuhan besar-besaran seperti di Aceh dan Timor Timur.

Memang disayangkan bahwa pelaku kekerasan dan korupsi Orde Baru masih banyak berkeliaran, tapi justru bagus bahwa sebagian dari mereka aktif dalam Pemilu sampai menjadi Capres. Berarti mereka sendiri yakin demokrasi sudah menjadi pilihan Indonesia. Daripada membeli senjata gelap, jauh lenbih bagus beli baliho dan iklan televisi. Militer tetap kuat sebagai bagian vital dari negara, tapi keterlibatan TNI tidak lagi diizinkan dalam jabatan politik. Tentara terlihat netral dalam pilihan antara Capres.

Selain orang yang bingung menghadapi pilihan, lebih banyak lagi orang yang mandiri, punya selera dan punya kebutuhan. Kita sadar bahwa untuk memilih diperlukan pengalaman. Di negara demokrasi yang sudah lama, orang biasa sudah sering mengalami Pemilu. Sejak kecil sudah melihat tiap sekian tahun orang memilih, bahkan di sekolah diajarkan tentang memilih. Di Indonesia, sepuluh tahun yang lalu orang belum mengenal pemilihan umum. Suatu keajaiban, bahwa dalam waktu sekian singkat, kita sudah menjalani Pemilu untuk ketiga kalinya. Dunia terkagum-kagum menamakan Indonesia negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Tapi orang di sini banyak yang mengomel. Seperti orang yang pertama kali masuk pertokoan besar, pusing, tapi lama-lama menjadi biasa. Kalau tetap tidak betah, orang yang pengalaman sudah tahu dia tidak perlu lama-lama masuk mall, cari saja barang yang diperlukan, beli terus keluar.

Politik membingungkan bagi yang tidak mengerti. Dan sampai mengerti pun, tetap saja dunia politik tidak menyenangkan. Tapi sangat keliru untuk menyimpulkan bahwa Pemilu adalah pembuangan uang. Pemilu adalah kegiatan warga, bukan proyek pemerintah. Warga tidak perlu berpolitik, hanya perlu memilih. Masuk toko tidak perlu mengenal seluruh isinya atau cara mengelolanya, cukup tahu barang yang dia perlukan, dan kalau ada di situ, tinggal dipilih.

Kalau mau bingung, Pemilu kita membingungkan, karena ini adalah Pemilu terbesar di dunia. Tapi bisa kita memilih untuk kagum, kalau kita mengerti prestasi bangsa ini. Lihat angka-angka yang fantastis ini.

Caleg DPR ada 11.215 orang (perempuan 3.910). Kursi DPR hanya untuk 560 orang. Caleg DPD ada 1.109 orang (perempuan 129). Kursi DPD hanya untuk 132 orang. Jumlah calon DPRD belum saya temukan angkanya, tapi kalau kita perkirakan 33 Propinsi  dikalikan 38 partai dikalikan lagi 10 caleg dari masing-masing partai (perkiraan sangat rendah) maka jumlahnya 12.540 caleg DPRD Propinsi.  Caleg DPRD Kabupaten masih ada  471 dikalikan 30 karena tidak semua partai ada di semua Kabupaten, dikalikan 10 jadi 141.300 caleg DPRD Kabupaten atau Kota.

Jadi berapa caleg semua? Menurut perkiraan The Economist, ada sekitar 800.000 orang.

Angka-angka lain yang mungkin menarik:

Jumlah pemilih=171.265.442

Jumlah TPS=519.803

Jumlah petugas pemilu (KPPS)=4.679.280

Jumlah kotak suara=2,1 juta

Jumlah surat suara= kira2 700 juta.

Tenang saja. Ada berapa jenis barang di suatu mall?  Apa kita tahu semua? Ya tidak lah. Tapi kita bisa milih kan? Bingung menghadapi Pemilu sangat wajar. Tapi untuk memilih, tidak perlu bingung. Sebab dari sekian banyak nama itu, kita cukup memilih satu nama untuk DPR Nasional, satu nama untuk DPD, satu nama untuk DPRD tingkat 1 dan mungkin satu nama untuk DPRD tingkat 2.

Jenis pesimisme kedua adalah bahwa caleg ini tidak bermutu semua, tidak dikenal, dan itu-itu saja. Loh, bagaimana bisa bilang mereka itu-itu saja, kalau Anda  tidak mengenal mereka. Dan mengatakan semua tidak bermutu rasanya sangat angkuh. Bukankah ada satu yang cukup bermutu untuk Anda pilih? Coba lihat lagi nama-nama itu, pasti ada satu yang bisa Anda pilih.

Pengertian yang paling negative sering diucapkan oleh orang yang merasa pemilu ini tidak bagus, karenanya dia tidak mau memilih. Kalau begitu, orang ini menunggu Pemilu dibereskan dulu, baru dia milih. Ini pengertian yang paling salah, seperti complaint bahwa rumah  kita tidak beres jadi kita tidak mau masuk. Ya ikutlah membereskan, biar bisa cepat masuk.  Karena kita tidak punya pelayan.

Dalam demokrasi, tidak ada pemilik dan pelayan. Yang ada adalah warga yang memilih pengelola kota, propinsi dan negara. Kalau mau ikut bersuara, harus ikut memilih. Kalau tidak, jangan complain.

Print article only

36 Comments:

  1. From Alvan Prihandijaya on 07 April 2009 11:14:38 WIB
    heheh .. kalau saya sih, akan mencontreng parpol gurem non-orba dan caleg dengan nomor urut paling besar. Percuma juga memilih parpol2 yang sdh besar dan mapan, hasilnya tetep gini2 aja ... mending pilih parpol gurem. Perkara mereka masuk atau tidak, urusan belakang !!! :)
  2. From Budi on 07 April 2009 11:18:52 WIB
    setuju!! pastinya saya akan mencontreng pada 9 April nanti, walaupun sampai saat ini saya belum menerima kartu pemilih. Kalau tidak dapat kartu pemilih pun saya akan tetap ke TPS untuk memilih (kalau bisa hehe). Saya merasa memiliki peran dalam pembangunan negara ini kalau saya ikut nyontreng dalam pemilu ini. Semoga demikian juga dengan yang lain.. cheers.
  3. From wimar on 07 April 2009 11:32:04 WIB
    bagus.. tiap orang punya pilihan bebas. saya sendiri belum memutuskan mau milih siapa, tapi ada bebeapa orang/partai yang saya tidak akan pilih..
    yang penting sih bahwa semua orang berusaha temukan pilihan dan menggunakan kesempatan ikut memilih, sebab kalau terlalu banyak yang absen, siapa tahu kita bisa kembali pada jaman kekerasan dan pembungkaman
  4. From wimar on 07 April 2009 11:32:34 WIB
    bagus.. tiap orang punya pilihan bebas. saya sendiri belum memutuskan mau milih siapa, tapi ada bebeapa orang/partai yang saya tidak akan pilih..
    yang penting sih bahwa semua orang berusaha temukan pilihan dan menggunakan kesempatan ikut memilih, sebab kalau terlalu banyak yang absen, siapa tahu kita bisa kembali pada jaman kekerasan dan pembungkaman
  5. From Mundhori on 07 April 2009 11:34:39 WIB

    Demokrasi itu memang seenaknya sendiri. Iya, karena saya bebas memilih, atau tidak memilih. Caleg juga bebas ngomong apa saja, bebas janji, bebas manipulasi. Aturan pemilu juga banyak memberi kebebasan. Contrang partai boleh, calec syah, coblos syah, garis bawah juga syah. Kok masih bingung. Seenaknya sajalah. Lalu apa yg bikin bingung ?? Banykanya partai ?? Banyakanya caleg ?? Banyaknya yg harus dicontreng ?? Paling sedikit 4 kali untuk DPR, DPD, DPRD Propinsi dan DPRD kota/kab. Yg bikin bingung itu pilih siapa ?? Siapa yg bisa memakmurkan rakyat. Siapa yg mau berjuang untuk rakyat. Dan siapa yg mampu mengatur negara untuk kepentingan rakyat ? Naah dari rakyat itu, terjadi focus, bahwa demokrasi itu memang milik rakyat, untuk rakyat dan kesejahteraan rakyat. Tahunya dari mana bahwa caleg itu pilihan kita ?? Tahu dari mana kalau caleg itu punya karakter, punya kompetensi ? Punya komitmen Yaa itulah PR (pekerjaan rumah) demokrasi kita, adalah membuat aturan yg rakyat tidak bingung, aturan yg mudah, kuat, mengikat dan perspektif untuk rakyat. Tahun 2014 mungkinkah ???
  6. From nden on 07 April 2009 11:54:08 WIB
    wah...
    pusing juga yua mas...
    dari mulai caleg DPR pusat sampe daerah saya kurang mengenal mereka..
    selain kampaye ke daerah juga kurang .. mungkin saya juga kurang mengikuti kampanye skr..
    asal pilih juga gimana... asa kurang sreg!
    maw golput,, hak kita sebagai warga untuk memilih sayang jika tidak dipegunakan...
    mungkin benar apa kata mas win, asal pilih az mana yg menurut kita sreg..tapi gimana pasti pusing secara liad kertas suaranya saja panjang dan lebar begitu wahhh.. jadi mumet duluan pastinya....
    jadi seperti buah simalakama ini mas...
    ga milih gimana milih gimana.. hufft!!!
  7. From rezania on 07 April 2009 11:55:12 WIB
    tak saya duga..ternyata sekeluarga saya dapat kartu undangan untuk nyontreng..
    sipp..besok kemis siap2 nyontreng..
  8. From LuxsMan on 07 April 2009 12:35:35 WIB
    Dulu partai cuma tiga, banyak orang mencak-mencak demokrasi tidak jalan, sekarang diberi leluasa buat parpol tambah bingung mau nyontreng nama siapa.......

    BIngung-Bingung ku memikirnya.......

    (doh) Apa Kata Dunia???????
  9. From Broto Winarno on 07 April 2009 12:37:05 WIB
    Saya..agak sedikit setuju dengan pendapat banyak pilihan tambah bingung.Mengapa..? karena hal semacam itu sudah menjadi pertanyaan lama saya. Waktu saya memberikan kursus komputer, selalu muncul kalimat \'press any key to continue.\' yang terus saya terjemahkan.\'tekan sembarang tombol untuk meneruskan..\' Tapi apa reaksi yang seringkali muncul...? Selalu ada bertanya \'tombol mana Pak yang ditekan..?\'. Ini apa artinya..? Artinya orang Indonesia *tidak semuanya sih* apabila diberi kebebasan malah tambah bingung..! Kayak sekarang aja...! Partainya banyak..tambah bingung milihnya.
  10. From Ali Uhan on 07 April 2009 20:13:40 WIB
    Setuju Pak Wimar, Indonesia adalah negara kita, rumah kita, kitalah yang harus merapihkannya .... siapa lagi kalau bukan kita ? Selamat memilih
  11. From yesy on 07 April 2009 22:05:36 WIB
    aksi jor-joran para caleg dan capres yang secara telanjang dan kadang mungkin tidak mereka sadari telah menunjukkan betapa "haus"nya akan kekuasaan, sudah seakan menutup mata hati saya untuk dapat berpartisipasi bang. saya merasa semuanya adalah bagaimana mengemas kampanye selayaknya permen yang sangat menggoda untuk menarik perhatian seorang anak kecil, tapi di balik itu, saya hanya akan menemui dejavu, point of nowhere, or somewhere worse. saya sendiri yakin caleg yang benar2 tulus kampanyenya pasti pesannya atau pendekatannya akan sampai di hati nurani kita, atau saya minimal, dan dia psti dekat dengan masyarakat, ga cuma mau pemilu aja. saya pernah menonton tayangan tv yang meliput kiprah caleg yang "lugu" dan bermodal pas2an berjuang u/ dpt meraih kursi legislatif sehingga dapat memperjuangkan nasib kelompok masyarakt yang senasib sepenanggungan nantinya, sangat menyentuh sekali. berapa banyak sebenarnya caleg yang teguh seperti itu? bagaimana mereka akan "survive" saat di legislatif nanti? apakah mereka akan tergerus oleh "hukum alam" pemilu dimana yang "bergizi" yang menang?
  12. From dmitri on 07 April 2009 22:09:14 WIB
    kalau rumah saya dibangun kontraktor dan enggak beres-beres, ya si kontraktor yang saya suruh ngeberesin. tanpa fee tambahan apa-apa. kok malah saya yang harus ikut ngeberesin? memangnya saya enggak bayar pajak, apa? pantes masih korup kalau logikanya begitu.

    kalau toko menjual barang kadaluarsa, sebaiknya sih toko itu dikenakan sanksi, atau ditutup. apa lagi kalau uang pajak saya sudah dipakai untuk membangun toko itu. at least, ada pihak yang memberi cap tanggal kadaluwarsa pilihan kita itu. KPU kah? media kah? blog kita masing2 kah?

    kuncinya bukan mempromosikan pemilu, tapi caleg/capres yang berlaku baik. saya sudah mendapat beberapa hal positif di media lain (jakartaglobe seminggu terakhir bagus tuh). ternyata memang ada grassroot politics. saya setuju kalau dibilang demokrasi kita tambah maju. jadi ingat bagaimana Labourists ketuk pintu kos-kosan saya untuk menjelaskan rencana kerja mereka di sebuah kampung di inggris, padahal saya bukan warga negara. tapi tetap aja dijelasin, sampai dua kali tuh dalam 6 bulan. pantes aja mereka menang pemilu.
  13. From miftahrahman on 08 April 2009 03:23:11 WIB
    mas wimar, tulisan-tulisan anda sangat mencerahkan dan optimistis dalam arti selalu menghindar dari buruk sangka.tetapi dalm masalah pemilu sangat berbeda dengan mamilih barang di mall.tetap saja nggak akan bisa di samakan karena ini menyangkut was-was kebaikan hidup masyarakat dan bangsa.kita bisa saja pergi begitu saja keluar dari mall ketika kita bingung memilih barang yang mana tetapi tidak semudah itu dalam pemilu.bagaimana pula bisa di samakan membereskan rumah dengan membereskan wakil rakyat yang undang-undang saja kadang nggak mampu menjangakaunya...tapi salut buat mas wimar, cerdas dan penuh kelapangan dada
  14. From jaka on 08 April 2009 04:07:34 WIB
    Jangan bingung ,jangan pusing !
    contreng saja sesuai hati ...
    jangan bingung , jangan pusing!
    contrengan kita contrengan sakti...
  15. From Yudha on 08 April 2009 05:21:16 WIB
    Kalau saya sejak jauh hari sudah memastikan ikut berpatisipasi dlm pemilu ini, malah saya juga menyarankan teman2 saya agar tidak golput..
    Karena seperti yang bapak bilang, tidak bersuara ya jangan protes dengan kebijakan pemerintah..
  16. From febs on 08 April 2009 11:29:15 WIB
    semakin byk yg bingung berarti semakin berhasil pemerintahan yg sdg berkuasa krn menunjukan nggak ada yg lebih baik dr yg skrg.
    spt sebuah perusahaan dgn manajemen buruk semua kary ingin mengubah dan duduk mengganti posisinya, tapi mereka tdk sadar kalau stakeholder lainnya melihat kary tsb sbg bag dr manajemen buruk tsb dan lebih penting lagi sebenarnya manajemen tsb sdh melakukan dg optimal tp hslnya belum optimal. Jadi mungkin tdk cukup utk "mengganti manajemen" utk kali ini.

  17. From febs on 08 April 2009 11:42:40 WIB
    ....lanjutan

    anyone can have any expectation, the problem is competitors always set higher than ours

    by definition:
    a competitor is someone who offers you higher expectation and pushes others' limits
    a friend is someone who says only the sky has no limit and be yourself.
    ;)) pis n thx
  18. From epratiwani on 08 April 2009 13:30:02 WIB
    beneran..bsk mau nyonteng sampai detik ini msh binggung mo nyontreng yg mana..andai saja ada parta atw caleng yg berani berkomitmen untuk menghukum mati bandar narkoba dan para pejabat yg koruptor..pasti tanpa pikir panjang saya akan contreng partai dan caleg tsb ya walaupun stlh terpilih ybs lupa akan komitmentnya....
  19. From Hok on 08 April 2009 14:26:36 WIB
    Kalo menurut pendapat saya, kita nyontreng kali ini sambil memberi kesempatan kepada para caleg untuk belajar menjadi orang yg dipercaya masyarakat banyak.

    Seperti yg Dmitri contohkan di Inggris itu, saya pikir harus ada orang yg bisa "mencerahkan" para caleg itu ,sehingga mereka BISA MEMAHAMI DAN MEREALISASIKAN APA YANG DIBUTUHKAN MASYARAKAT DI WILAYAH PEMILIHAN MEREKA dan pada akhirnya mereka akan dikenal pemilih mereka melalui karya2nya.

    Jadi,kita yg milih tidak bingung ,dan yg dipilih juga tidak bikin bingung...
  20. From kiki on 08 April 2009 15:40:30 WIB
    om WW : "Kalau mau ikut bersuara, harus ikut memilih. Kalau tidak, jangan complain..."

    CERDAS...!!

    untuk DPR/DPRD BERSIH... kita harus PEDULI...!!
  21. From berly on 08 April 2009 18:43:41 WIB
    Yang paling membingungkan saya adalah caleg DPD. Katanya mereka tidak membawa emel-embel parpol. Alias mereka benar-benar mewakili daerah masing-masing. Hanya saja, sampai saat ini saya paling tidak mengenal mereka.
    Untuk parpol sih mudah. Sudah ada beberapa parpol favorit.
    Lah, kalo DPD ?
    Kenal saja tidak, kok berani-beraninya mereka maju sebagai wakil saya ?
    Tapi tetep, besok Insya Allah, saya akan menggunakan hak pilih saya. Sholat Malam dulu, ah, Supaya saya dan keluarga tidak salah pilih.
  22. From ujang on 08 April 2009 22:37:36 WIB
    sepertinya, ini artikel pesanan. hehehehe
  23. From Bibeh on 09 April 2009 00:37:45 WIB
    Kalau dapat diBINGUNGkan mengapa diperJELASkan. He.he.
    Masih ingat jaman prosesor celeron atau pun sempron.

    Nah secara gampangannya, inilah yang terjadi dengan banyaknya parpol di Indonesia. Masih bingung juga? Kalau kawan-kawan dapat menemukan differensiasi / keunikan yang sejelas-jelasnya dari suatu parpol, yang membedakannya dari parpol lainnya maka dapatlah disebut ini partai baru.

    Selalu ada \\\'penghubung\\\' antara Asal dan Turunannya.

    Sempat saya berpikir, betapa egoisnya, kalau untuk urusan yang kagak ade duitnye, rakyat disuruh cape-cape membuat keputusan, tetapi kalau yang sabetannye gedhe, hei..you! silent! These are our part, you...keep out!. hee...hee..

    Selamet nyontreng, yang nggak dapet hak nyontreng, minta ampun sama MUI, biar halal!
  24. From wimar on 09 April 2009 05:36:43 WIB
    santai aja, kalau tetap aja bingung, tidak perlu milih. Kebanyakan orang belum biasa demokrasi, dan belum siap juga untuk belajar. Atau memang sifat orangnya tidak bisa menerima barang baru. Karena itu perlu beberapa generasi sebelum demokrasi mantap. Untunglah sebagian lagi sudah siap karena tidak mau terus menerus hidupnya ditentukan orang lain.
  25. From neno on 09 April 2009 11:00:46 WIB
    om, ngga dapet undangan nyontrang masa! kaga bisa ke 'mall' nih buat pilih2 huhhu :(( kenapa DPT ngga accessable di internet aja ya?? kan biar cepet ngurusnya..pengumuman di RT baru kemaren trus kata kpl RK ya udah ngga usah nyontreng.. pas pilpres aje.. siake!jd pusing
  26. From frans on 09 April 2009 11:16:36 WIB
    ok oom.. sy udah py tato di ujung jari hehehe
    oom sy tgu muncul di tipi loh..

    sebelum 1997, sy termasuk apolitis.. krn kuliah dan berorganisasi dan yg pasti stelah pertama kali saya liat episode Perspektif di Indosiar yg waktu itu mengenai CBS (currency board system). dg bintang tamu prof yg bisa bikin nilai tukar dollar mnjadi 100rp=1US$.. sy jd tertarik dan menuggu tayangan perspektif.. so WW mmg dahsaaatt.. syg di JakTV jg gak lama.. tp oom, anda tetap cawapres ku
  27. From frans on 09 April 2009 23:20:29 WIB
    oom pemilu kali ini mmg ribet.. ayah saya membtuhkan waktu 40 menit u/ mencari nama yg akan dipilih..

    dan semoga kpu belajar dari segala kekurangan pemilu kali ini yg sgt byk bolongnya.. terutama dalam memilih hari dan tanggal pileg.. byk teman dan relasi yg tdk ikut pileg krn lbh memilih libur panjang..

    juga bagi partai2 gurem yg tiap pemilu pasti bertebaran spy belajar bhw mereka PASTI tdk akan memliki suara yg cukup!! contohny sj ayah sy ribet mencari nama caleg dr partai gurem yg kami sekeluarga dukung.. bayangkan teman

    salam kelingking item oom ww hehe
  28. From Berto on 10 April 2009 21:07:03 WIB
    Pemilu legislatif kemarin akan menghasilkan anggota dewan beberapa jenis.
    Jenis pertama adalah anggota dewan terpilih karena pamornya. Kedua anggota dewan terpilih karena banyak uang alias melakukan politik uang. Ketiga anggota dewan yang terpilih karena dia memiliki keluarga besar, dimana keluarganya yang bingung memilih siapa, akan memilih keluarga sendiri.
  29. From parlin on 12 April 2009 15:34:16 WIB
    Oom Wimar yg baik,...

    saya ini GOLPUT bukan kehendak saya, tapi tidak ada di DPT pemilu 2009 jadi dosa siapakah ini ?

    Komentar saya,..
    Demokrat lagi senang, Golkar gak mau pisah, PDI-P tetap perjuangan,..PKS lagi perbanyak amunisi, PPP malu-malu antara oposisi atau ngumpulin amunisi, PAN nyari-nyari posisi, PKB gak berani pisah ame pemerintah, PBB yg penting dapur ngebul, Gerindra pasti berani, Hanura tetap ambisi ingin eksis....

    Bagi kekuasaan sedang dimulai,...ada yg berani ambil resiko ada juga yg gak berani takut miskin...ha..ha....
    Golkar banyak akan ambil resiko jika mengambil posisi besebrangan dengan Demokrat,...tapi menurut saya SBY harus cari orang baru jangan JK he..he..mangap ya?....

    Aburizal bakrie lagi dakdigdug nih....kalo pisah, abis deh duitnye...oh LAPINDO...

    PKS mmmmm,..tetap dengan SBY-lah....jelas jatahnye...
    PDI-P harus keluar keringet terus, hayo cari teman buat adu pinalti.....

    mari kite liat partai selanjutnye.....apakah rakyat masih dibohongi?...


    PANWASLU (PANitia pengaWAS LUcu)
    Parlin
    HIDUP GOLPUT
  30. From Wildan on 13 April 2009 08:30:16 WIB
    Jadi kalau para 'orang' yang merasa dirinya sudah menjadi pengamat politik saat ini yang sering muncul di TV TV besar (YUdi Latif, Bonny Hargens dan orang sejenisnya bahkan juga temen temen dari lingkar Madani oposan nya KPU),mungkin harus belajar lagi tentang buku pelajaran geografi bahwa negara ini segitu gedenya, segitu berbeda tingkat IPK pengetahuan umumnya bahkan sekalipun bagi orang yang mungkin terlibat menjadi KPPS (Kelompok pelaksana pemungutan suara) di tiap TPS.
    Apriorisme mereka bahkan ilmu 'nyalahisme" yang mereka anut itu ditambah lagi sama punya ilmu prinsip "keukeuh" merasa paling bener.....

    Susahnya ilmu prinsip 'keukeuh' itu tadi mengorbankan orang orang yang sudah tulus bantu negeri ini memilih semisal tukang lipat kertas, kuli angkut kartu suara dipedalaman yang cuma dibayar sperak dua perak karena anggarannya kurang mungkin....

    Yang kedua, ironinya orang orang pintar semisal Bunda Megawati, Komandan Prabowo dan KOmandan Wiranto sampAi ke tingkAt para oversteenya punya ilmu 'keUkeuh' itu tadi yang menyatakan Pemilu sekarang ini karena faktor DPT salah, faktor distribusi salah sebagai sesuatu yang bersifat sebuAh "KECURANGAN SISTEMATIK".
    Bahwa mereka lupa atau pura pura lupa kalau data DPT yang dipakai Pemilu sekarang ini 'asbabul nudzulnya' itu adalah data kependudukan yang juga dipakai mereka sewaktu menjadi 'Presiden, sewaktu menjadi menteri atau waktu jadi Komandan Kostrad/Kopassus".
    Bahwa kita tahu dan setuju kalau data kependudukan yang ada saat ini perlu dilakukan revolusi perubahan, baik yang menyangkut data administrasi kependudukan itu sendiri maupun mental kita agar kita juga jangan lagi mau bikin KTP lebih dari satu
    Mereka juga mungkin tidak tahu atau pura pura tidak tahu kalau Pemilu ini dibuat oleh lebih dari 519,800 an TPS dengan jutaan petugas TPS dan kalau yang salah dan bermasalah itu kurang dari 1% dari TPS yang ada.
    Dari kesimpulan hiruk pikuk hingar bingar atas hasil Pemilu saat ini meskipun datanya baru kita terima berdasarkan data quick count, ada beberapa perasaaan kesimpulan yang bisa kita tangkapa yang kita lihat ada pada sebagian orang orang kita tersebut:
    Pertama, memang kita tidak diajari oleh orang tua sejak dulu kalau kita harus menerima sebuah kegagalan atau kekalahan dan memberikan penghargaan pada teman kita yang berhasil.
    Kedua, harus dibuat perubahan budaya kalau 'nunjuk jari' jedepan itu sisa jari tangan empat lainnya itu harus didarhakan ke bawah jangan diarahkan kepada badan kita....

    Bravo buat Kang WW, tadi malam diacara TVRI malam mingguan bersama Slamet Raharjo, memberikan pencerahan pada salah seorang budayawan 'sejenis' itu tadi bagaimana tentang pola prinsip 'ilmu Keukeuh' tersebut....
  31. From eduard on 21 April 2009 01:34:14 WIB
    Hasil hitungan suara terbagi pada 3 besar PD PDIP Golkardata terakhir 13 juta swing voter di sisa sura 155 juta gambaran hasil pada 13 juta rasa rasanya tidak beranjak pada tiga besar
    Pilihan kinerja dari DPR 2004 / 2009
    Pada pemilu capres dan wapres kinerja pemerintah 2004 2009 puas pada tingkat Executve jika ini paralel di masyrakat.caucasus partai untuk mendapatkan kursi dan suara 20% kursi 25% suara berkoalisi.semoga 3 partai besar pero;ehan suara 1 Plus 45 % Kursi 50 % Suara Populasi penduduk tiap Provinsi.KTP dan tinta usulan yang bagus utk buruk sangka.Nomer pin Password dengan mengunakan Teknology yg diadop pada ATM.1.Transfer uang atas nama kpu ditujukan Rekening Capres dan wapres nilai rp 1.000.00.setelah transfer nomer pin ( empat digit limit jumlah pemegang PIN ??? ) hangus.Flow chart dan Program setelah uji coba.

    Selamat berexpriment
  32. From gigihpw on 22 April 2009 04:21:32 WIB
    berhubung saya termasuk ABG,maka saya akan memilih parpol dan caleg yg mengutamakan Teknologi.Setau saya,belum ada parpol yg berani memasang platform kampanye tentang Teknologi.Jadi saya golput..Tapi untuk caleg saya akan milih Roy Suryo(tapi berhubung roy suryo Dapilnya di Jogja,sedangkan saya di SOLO..ya,terpaksa golput lagi).Saya golput,bukan berati saya tidak menjunjung tinggi Demokrasi,tapi saya hanya ingin memberikan suara saya pada orang/parpol yg mampu memenuhi aspirasi saya di bidang teknologi.
  33. From Buntu Sijagat on 27 April 2009 11:40:17 WIB
    ternyata...apa yg diulistrasikan p\' wimar saya tidak dapat masuk ke mall, karena maklum entah terlalu ketatnya pengawasan di pintu masuk layanan tiket masuk, atau karena petugasnya yg tidak terbiasa memperhatikan calon konsumen yg ingin mendapatkan produk pilihan tersebut.
    Barangkali konsultan yang diberi tanggung jawab untuk melayani calon pelanggan dalam menerima ordernya dalam transaksi pembayaran untuk kegiatan operasional tidak dipenuhi oleh pihak produsen, atau produsennya yg tidak punya modal, dan konsultan di bayar di belakang.
    Pasalnya, untuk menjalankan kesepakatan pengelolaan proyek itu juga tidak terlepas dari biaya operasional, sementara biaya operasional katanyaa tidak diperolehnya. Hal hasilnya untuk melakukan survei pendataan calon pelanggaan setia tidak teridentifikasi. Barangkali ada setting kali ya p\' wim dari sononya. sehingga arsip yg kadaluarsa dikapai lagi padahal kalau mau mempromosikan produk baru dgn keragamannya kan harus dilakukan perubahan sana-sini biar data itu menjadi akurat. (.....ini plesetan ilustrasi di atas).
    Jadi susah juga ya p\' Win, hasil evaluasi setelah implementasi 9/4/2009 ternyata banyak bertebaran informasi simpang siur, apakah sesama konsultan yang mendptkan sub kontrak yang saling lepas tangan.
    gimana ya p\' win ke depannya? kita mau melakukan perubahan pasar, ternyata tidak didukung oleh riset pasar yang memadai, ada alat IT (canggih), namun karena SDM pengelolaanya tidak canggih dalam memposisikan diri betapa penting dan muatan pengetahuan dari dampak penggunaan peralatan IT tidak dimanfaatkan secara efisien. Ada cara-cara baru dalam membangun sistem informasi (jangan deh) cukup membangun sistem database...kok dipersulit. teknologi berbasis online saat ini kan sudah tersedia, bahkan keragaman bagaimana dalam menjakau input informasi itu dapat dibangun berdasarkan data yang dapat dioleh kembali....eehh malah pake imaje segela yang nota bene akan berpelunag error dan terhambatnya data untuk diolah.
    Sayang juga, kalau konsultan IT menyedorkan prinsip-prinsip kerja statis...dan takut dgn konsep kredible. Padahal kalau mau dipahami secara ilmiah IT dan perangkat pengolah informasi secara umum memberikan kemudahan - ke efektifan - ke efisien dari sisi waktu - infrastrutur, dll.
    Kesimpulan akhirnya, kalau dalam pilpres konsultannya masih menggunakan konsultan itu juga dikhawatirkan dalam proses pemutakhiran data menjadi sia-sia, walaupun teknologi pengolah informasinya canggih, tapi mentalitas berpikir dari konsultan yg diberi mandat tidak secara secara jernih...yang pada akhirnya pihak pemangku mandat dalam pelaksanaan pilpres ke depan, haruslah mengoptimalkan soft competensi yang ada, jika berdasarkan normatif yang ada (hard competensi), diyakini hasilnya kurang memuaskan, yang ujung-ujungnya menjadi perdebatan yg tak ada habisnya. Jadi sulitlah untuk dipahami, pengetahuan ilmiah juga dikelola dengan akurasi akan menghasilkan output yg memiliki nilai.


  34. From Buntu Sijagat on 27 April 2009 11:44:56 WIB
    ....hasilnya bener tuh p\' win menjadi ribet, bahkan lebih ribet apa yg diprediksikan...maklum p\' rupanya konsultannya kaget dpt order besar..tapi tidak diimbangi dgn kompetensi yang ada. sehingga ahsilnya ambur adur
  35. From ref on 13 May 2009 20:38:34 WIB
    kata Mas \"kita hanya perlu memilih kalo cari barng dToko dan tidak perlu mengetahui semuanya...tapi Mas bilng lagi kita harus mengetahui orang2 yg akan kita pilih...
    untuk memilih kita harus mengetahui seluruhnya donk.paling tidak latar belakangnya...tapi kalo gak ada yg cocok dengan kebutuhan kita gimana donk? goLput ajah kaLi yahh..
  36. From jojo on 02 June 2009 22:45:52 WIB
    kalau saya che.. dalam pemilu che....asyik...
    tapi yang bikin bingung terlalu banyak partaii..yang ikut
    jadi ribet dhe...........

« Home