Articles

Sikap tiga Capres mengenai Lumpur Lapindo


10 June 2009

 

dalam masa kampanye

MegaPro terjun  secara dramatis di Lumpur Sidoardjo, bela korban Bakrie

JK menuduh Bakrie melanggar HAM dengan mengorbankan rakyat Sidoardjo

tapi

jauh sebelum masa kampanye

SBY sudah ambil sikap lebih dulu,  menolak intervensi dan membiarkan saham Bakrie anjlok di Bursa. Secara publik memanggil dan  menegur Nirwan Bakrie karena membiarkan korban lumpur.

Print article only

57 Comments:

  1. From Ludjana on 11 June 2009 06:01:37 WIB
    Sebelum masa campaign mah Mega dan Kalla diam seribu bahasa

    Itulah Kalla: Yang dia sebut hanya yang hasil hasil saja.
    Padahal kegagalan juga harusnya ditanggung Prees dan Wapres juga

    Kalau Mega sih ......
  2. From ardyansah on 11 June 2009 08:49:31 WIB
    ini bukan berarti isyarat dukungan dari seorang Wimar kepada salah seorang calon kan???
  3. From anggana bunawan on 11 June 2009 08:56:55 WIB
    emang, blakangan ini sikap tim sukses kandidat beberapa calon menyebalkan,, kaya paling suci aja,, contoh ekonom yang dulu pernah menjabat, mngkritik soal ekonomi.. waktu beliau menjabat.. apa kabar???
  4. From ipungmbuh sh on 11 June 2009 08:59:42 WIB
    ah..mas wimar, pasti mau jadi staf ahli SBY yaa nanti yaa.
    hayooo
  5. From Mundhori on 11 June 2009 10:27:33 WIB
    Hanya satu yg dibutuhkan para kurban lumpur Lapindo adalah implementasi, realisasi dari sikap dan pernyataan para capres itu. Derita mereka sebagai pengungsi lebih 3 tahun sungguh dahsyat. Harta benda hilang, sanak dan keluarga hancur berantakan. Perekonomian dan pendidikan anak anak terbengkelai, sehingga masa depan tidak jelas. Janji memang sudah ditebarkan, kerugian akan diganti. Bahkan sebagain sudah dilaksanakan.Yg dampaknya akan timbulkan kecemburuan, benturan sikap, dll efek negative. Kini muncul pertanyaan besar, masihkah akan diperhatikan kehidupan rakyat yg menderita itu oleh para pemimpin yg kini berebut kursi kepresidenan itu ??
  6. From Adhit on 11 June 2009 15:32:29 WIB
    Kayanya Om WW dukung SBY nih, lanjutkan Om...
  7. From kangtris on 11 June 2009 16:25:13 WIB
    kalo saya sih...ga peduli bapak2 pada ngomong apa...yg penting tindakan nyata realisasi bagi korban lapindo ....hemmmm
  8. From Kholika on 11 June 2009 17:45:30 WIB
    inti dr masalah ini adalah ketidak tegasan pemerintah dalam memberikan putusan kepada objek yg membuat permasalahan ini adalah pt lapindo brantas dengan pemiliknya...

    bukan berfikir negatif atau menuduh ya om wimar, tapi menurut saya sendiri pemerintah sekarang memiliki hubungan dan balas jasa atas keikutsertaan pemilik lapindo brantas dalam menjadikan seseorang sebagai pemimpin bangsa ini, jadi untuk mengambil tindakan yang tegas dan nyata sangat susah sehingga membiarkan dan mentelarkan para korban dr lumpur lapindo ini.. dan itu mungkin adalah sebuah konflik kepentingan..

    mungkin om wimar coba untuk menyelidiki lebih dalam atau coba untuk bertanya siapakah donatur besar yang membiayai capres SBY&JK dalam terpilihnya mereka menjadi ca/wapres sekarang ini?

    semoga pertanyaan tentang donatur ini dapat di jawab secara jujur oleh yang bersangkutan sehigga menjadi lebih jelas dan terbuka.

    terimakasih om wimar.

    bila memang
  9. From Semadi Putra on 11 June 2009 18:22:44 WIB
    Sebenarnya kalo dilihat dari logika, lumpur lapindo itu kan menstinya bisa berhenti dengan cara nutup lubang keluarnya lumpur... tapi setelah di coba dengan scientist handla dari ITB pun belum ada hasilnya.. ya mau gimana lagi Presiden ya bisanya pasti cuman menanyakan hasilnya gimana, wong dia sendiri juga ga tau mesti ngapain...

    Sebenarnya di kesempatan seperti inilah bagi rakyat yang merasa dirinya tertindas langsung aja lapor ke capres2 tertentu PASTI di follow up... gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.. hehehe.. ya pak wimar?? soalnya kalo uda jadi pemimpin biasanya sibuk ama urusan yang besar-besar, terus menterinya sibuk deh main golf, jadi lupa juga ama rakyatnya.. hahahaha.. MERDEKA!!!

    http://semadiputra.wordpress.com
  10. From wimar on 11 June 2009 18:46:06 WIB
    apakah lebih penting cerita mengenai saya, atau bagaimana sikap capres terhadap kelanjutan kasus Lapindo?
  11. From Bibeh on 11 June 2009 23:12:08 WIB
    Ai..aii, banyak sekali topik yang menarik, mau mulai dari mana, jadi bingung
    Dari yang ini saja, ya. Apa tidak salah datanya, Om?

    Pemerintah, nalangin kok, tapi sebagian (liat peta terdampak dan pembenahan infrastruktur). JK meyakinkan bahwa Keluarga Bakrie tidak akan lari dari tanggung jawab. (Beda toh dari pengemplang BLBI). Megawati, yang mrakarsai Suramadu, dan juga rencana Jembatan Selat Sunda (tapi keburu lengser).

    HAM vs Militer/Polisi ya kembali kepada hubungan antara Alat Negara vs Masyarakat Sipil.

    Tapi ada loh, HAM vs Aparat Sipil, ya itu tuh Korupsi, Pungli, KKN dan sejenisnya. Ya, memang tidak terbatas kepada Aparat sipil sih, tetapi itulah, karena KKN / Pungli, kualitas HAM yang menjadi hak semua Warga Negara turun drastis.

    Di sini SBY lebih maju dari jaman Mega / Gus Dur, tetapi bukan berarti sudah baik. Ingat kasus DKP-Rohimin Dahuri. Belum lagi, KPK umurnya tinggal seumur jagung, maklum lah DPR-nya memang nggak ada niat!

    Untuk, hutang, saya lebih setuju konsep Rizal Ramli (jaman Gus Dur) dan Prabowo saat ini. Apakah dapat dilaksanakan?, gunung aja bisa dipindahkan (lebaayyy...), masa ginian aja nggak bisa. Kecuali, memang Indonesia berniat tetap menjadi donatur pemberi utang, loh, lah iya, berapa besar bagian APBN yang digunakan untuk pembayaran bunganya saja.

    Konsepnya, semua perusahaan menggunakan utang, sebagai roda-gigi penggerak (karenanya disebut: gearing) untuk mempercepat pencapaian hasil (leverage=pengungkit). Tetapi kalau hasilnya tidak menggembirakan atau malah nombok, ya buat apa utang kecuali jika hanya menguntungkan segelintir kelompok dan arranger (lobbyist utang). Ingat Indonesia ini sukanya jadi perantara = calo saja. Easy and hot money. Jual mentah, impor barang jadi, dua-duanya harus ada feenya biar lancar, dan ini yang dilestarikan. Oleh siapa, nobody knows, xi..xi...

    Saya suka style JK-Win, walaupun maunya lebih cepat dan lebih baik, tetapi tampaknya mereka berada di antara kedua pasangan lainnya. Easy going namun tidak hilang fokus maunya ke mana.

    Kalau ada pasangan yang menang dan mau mengambil semua sisi positif dari pasangan kandidat yang kalah dan masukan tulus dari pihak luar lainnya, saya percaya Indonesia akan menjadi salah satu diantara Lima yang Baru; global player di luar Empat yang Lama ada: US, Jepang, EU UK. Yakinlah.

  12. From frans on 11 June 2009 23:25:59 WIB
    tp pemerintah sekarang lah yg menerbitkan sukuk dg (calon) agunan GBK???
  13. From shinta on 11 June 2009 23:40:27 WIB
    Untung saja Bu Mega orangnya tidak pendendam, coba kalo dia dendam dengan kasus 27 Juli penyerangan markas PDI yg menurut sumber berita SBY ikut mendalanginya. Kasus orangtuanya (Bapak Soekarno) yg dizholimi oleh rezim orde baru.

    SBY kok jahat ya? membiarkan menolak intervensi dan membiarkan saham Bakrie anjlok di Bursa....kasihan dong Pak Wimar,...kan bakrie sedang tertimpa masalah kok tidak dibatu?..saham bakrie anjlok dampaknya kemasyarkat juga dong, idih jahat sekali ya SBY?..pendendam! takut popularitasnya anjlok.

    Wajar saja Bu Mega baru sekarang terlihat membantu rakyat lumpur lapindo,..menurut info Bu Mega sudah bertemu dgn mereka hanya wartawan tdk pernah meliput.

    SBY dendam sama JK, dibilang lambat
    SBY dendam sama Ibu Mega, soal BLT

    Maaf Oom Wimar Dendam ya, sama Ibu Mega?
    saya pengagum GUSDUR,..dia tdk pernah dendam dgn siapapun,.
    Oom Wimar 1,5 tahun bersama GUSDUR seharusnya telah banyak belajar dengan beliau. Pendedam akan merusakkan Jiwa dan pikiran.

    Oom Salah gak saya Pilih Mega-Pro?....

    salam shinta yg baru belajar politik....
  14. From jaka on 12 June 2009 01:03:05 WIB
    Nah ini dia ! Kalau terjun sebelum masa kampanye mah ngga menguntungkan buat narik suara atuh..lagian buat apa lihat2 lautan lumpur bau begitu..becek lagi..tapi kalau untuk narik simpati rakyat mah laen lagi ceritanya atuh,prens sadayana...

    He he he he...Kalau sohib kita bakal jadi saingan berbahaya di partai sendiri,kita harus pinter2 menjatuhkan sohib,dong..paribahasa nya sambil menyelam minum kopi...sambil jatuh\'in sohib sambil cuci tangan terus dapet simpati rakyat..sanes kitu,prens ?

    Nah ,kalau yg kalem dan yang kasep, sudah bagus tindakannya mah. Tapi dalam pandangan rakyat banyak, masih kurang .si pemilik balong tetap harus dihukum.Tapi bisakah kasus ini di arahkan ke hukum perdata dan pidana?... atau mungkin cukup dibicarakan sambil makan mie rebus dan pisang goreng ?

    Kita2 mah nonton dan makan wae lah ,sambil nungguin waktu nyontreng nanti...
    Treng treng treng...kita nyontreng...
  15. From sunugunarto on 12 June 2009 08:22:28 WIB
    Wah, makin seru komentarnya...... Lumpur lapindo adalah derita kita semua. Janganlah derita ini hanya dijadikan komoditas politik untuk sekedar mencari simpati tanpa tindakan nyata. Siapapun presidennya semoga bisa cepat mengatasi masalah dan bagi korban semoga diberi ketabahan dalam menghadapi musibah dan sabar menghadapi ujian. Amin.
  16. From berly on 12 June 2009 09:06:17 WIB
    Pemimpin yang akan datang memang tidak boleh melupakan dan harus membereskan dampak lumpur LAPINDO. Sudah banyak korban dari masyarakat setempat akan bencana ini.
    Selain itu permasalahan multidimensi bangsa ini juga harus dituntaskan dalam waktu 5 tahun ke depan. Bangsa kita sudah menjadi bangsa emosional, Pak.
  17. From Irfan Sofani on 12 June 2009 09:29:22 WIB
    Saya bener2 penasaran deh. Om WW, Faisal Basri...Emang ada kemungkinan SBY kalah nih sampe Om turun tangan begitu?

    Ga tau sih Om, hanya kayaknya lebay aja. Beda konteksnya waktu Om, Mahfudz MD, Marsilam, Adhie Massardi belain Gus Dur. Emang saat itu beliau dizalimi. Semua resources dikuasai musuh. Nah ini, media aja dikuasai SBY, kok khawatir amat?

    Pls do let me know dong Om, seandainya Prabowo yg kepilih, efek negatifnya apa sih terhadap demokrasi di negeri ini? Iya saya akui dia dulu penjahat. Tapi apa emang ada kemungkinan dia balikin alam demokrasi ini balik ke Orde Baru? Atau HAM bakal disepelekan? Nah itu SBY jadi Presiden juga ga bisa ngejerat Muchdi PR. Sama aja toh?

    Om sih gitu, utk hal ini aja Om ga mau buka2an. Macem SBY yg ngambek saat Butet monolog. Santun sih santun Om. Tapi kalo santunnya fake utk apa? Bukannya kita sepakat bahwa kita udah cape sama hipokrisi di negeri ini? Santun santun kok malak Pertamina....Kata Gus Dur mah: podho wae...

    Sedih juga sih ngeliat Pak Boed. Kayaknya orangnya tulus. Nah tinggal Om nih. Mau buka2an ga?
  18. From wimar on 12 June 2009 10:11:24 WIB
    Irfan yang baik tapi gelisah,

    Kalau ada keberatan pada SBY, sampaikan padanya, saya tidak mengurusnya. Lebih banyak yang keberatan pada Butet kok.

    Kalau anda pikir SBY ngambek, kenaoa sekaligus bilang media dikuasai dia?

    Kalau sedih lihat pak Boed, tenang aja, dia baik2 saja kok, senang kampanye.

    Kalau minta saya buka2an, mau buka2an soal apa ya? Tanya yang spesifik deh.

    Kalau anda percaya Prabowo akan bawa kebaikan, pilih saja dia, sekalian Megawati juga pilihan anda.

    Ini demokrasi Bung, masing2 orang tentukan pilihannya sendiri.

    Dan nggak usah terlalu ngurusin orang lain kecuali orang yang mau dipilih.

    Obama bilang: Nggak usah teriakin lawan, pilih saja calon kamu. Nanti tinggal hitung hasilnya.
  19. From anggana bunawan on 12 June 2009 10:39:16 WIB
    mari berpendapat pada substansi dari topik yang kita bahas.

    kalau masalah personal kita kan punya hak buat memilih siapa saja.. mungkin bagi saya, saya yang paling layak jadi presiden.. dan seterusnya

    banyak alasan mendasar, terutama dalam masa kampanye saat2 ini banyak cara2 yang tidak tepat dalam mengkritik, seperti monolog butet saat kampanye damai, maksudnya apa? kalau orang jadi tersinggung ya wajar... karena arah monolog tersebut menohok incumbent yaitu pak sby, bagi saya etika berpolitik kampanye beberapa hari belakangan sudah diluar batas..

    dan memang bukan masalah mau dijawab atau disanggah, mendengar penjelasan tim sukses saja makin lama makin ngawur dan keluar konteks.. smua janji surga.. dulu ngapain aja waktu berkuasa.. HALOOOO....
  20. From wimar on 12 June 2009 10:51:07 WIB
    iya Angga, ada orang yang tidak sanggup memikirkan substansi jadi mengkomentari reaksi.

    Kalau ada orang tersinggung langsung dipertanyakan oleh orang yang begitu, biarpun yang membuat tersinggung itu adalah ucapan yang tidak pada tempatnya.

    Dalam setiap masyarakat demokrasi maju ada 30% yang tidak bisa mengikuti. Yang dapat 70% boleh mengasihani yang ketinggalan dan mendidik mereka.
  21. From wimar on 12 June 2009 13:27:21 WIB
    Shinta, kelihatannya anda memang harus pilih Mega.. silakan, dasarnya tidak perlu rasional kok, memilih itu hak warga
  22. From febs on 12 June 2009 13:33:55 WIB
    Mea Culpa,
    Three in One mrpkn tipe ideal presiden bg negara ini a.l.:
    Cerdas, Berani dan Jujur, kettiga karakter ini wajib ada mnrt sy, sayangnya dan menariknya dr ketiga pasangan tsb ada yg Berani dan Jujur tp tidak Cerdas, ada juga yg Cerdas dan Jujur tp tidak Berani, dan ada juga yg Cerdas dan Berani tp tidak Jujur.

    Lalu, siapa yg memunuhi btk Three in One ini?.......Gus Dur!!!
    tp krn Gus Dur nggal maju, jd sy & Bgs Indonesia hrs memilih yg terbaik dr yg ada tersaji.....
    ...dan Selamat Memilih!!!
    Tks.
  23. From arie on 12 June 2009 15:39:23 WIB
    Soal lumpur Lapindo

    Ala Mega - Murni cari simpati, kan oposisi.

    Ala JK - retorika - kan wapres hrsnya cuma manut gmn bapak saja.

    Ala SBY - Bingung, Rakyat tetep menderita, Bakrie pun dibiarkan kelelep. -We simply cannot call that as solution-

    Substansi Lumpur lapindo itu adalah bencana nasional, Kita bisa berandai; kalau seandainya lumpur lapindo terjadi diproyek BUMN (EX: pertamina/PLN) bagaimana kira2 penyelesaianya? Katakanlah seperti tragedi meledaknya reaktor nuklir Chernobyl, banjir New Orleans (yg sudah diusulin dibangun tanggul tapi ga diapprove). Kalau BUMN punya hak2 khusus dlm berusaha kita harus ingat bahwa Lapindo bayar untuk setiap transaksi yang dilakukannya tidak punya priviledge.

    Seharusnya, Hukum UU crisis menuntut pemerintah tangani langsung/bayar dulu rakyat yang menderita, kalau belum ada buat Dekrit, Tinggal Hitung kontribusi pajak bakrie selama mereka beroperasi, tanpa ribut2 perintahkan konsultan untuk estimasi aset Lapindo/Bakrie (tanpa hrs tunggu nilainya jatuh) baru bicara dengan Bakrie soal pengembalian dari dana yang sudah dikeluarkan. Dimengerti kalo itu akan menpengaruhi tabungan negara APBN/APBD, tapi apa perlunya pundi uang saat bencana selain memberikan pada yang membutuhkan?

    Itu lebih baik beretika dibanding bikin jalan tol yang katanya pake uang pajak tapi kita tetep saja harus bayar.

    Saya yakin org professional sekelas Bakrie tidak akan balik menjadi alergi sama pemerintah yang bisanya habis manis sepah dibuang. & korban lumpur ga usah berpanas2 teriak2 di istana negara cuma buat diusir komandan polisi karena presiden ngga tahan denger suara ribut yang ngeganggu meeting!

    Ketiga sikap Capres tidak mendapatkan credit dari saya satu pun terutama untuk ibu Mega & SBY, Catatan untuk JK notionnya ga begitu jelas karena posisinya hanya sbg wapres yg protokolernya ngikutin presiden saja,





    sejauh pemerintah siap?
  24. From Albert on 12 June 2009 15:55:07 WIB
    sepertinya memang unavoidable pak WW, apalagi sekarang masa kampanye, semua orang merasa dirinya paling benar. Jadi ingat Wimar's Live dengan ibu SM kemarin, banyak orang yang tidak ingin rakyat Indonesia pintar, karena akan lebih gampang dikontrol. Walau memang pada akhirnya, selama tidak ada paksaan, sah-sah saja, tapi memang, ignorance is bliss.

    Jadi, yang sebaiknya dilakukan adalah menelaah dan mendiskusikan apakah substansi dari kalimat-kalimat itu benar atau tidak, bukan mengurusi apakah ini merupakan tacit support atau bukan.
  25. From rachmat triadi on 12 June 2009 18:44:42 WIB
    (maaf kalau agak diluar konteks, awal kampanye pileg tempo hari salah satu capres dengan berapiapi penuh semangat berteriak mengomentari BLT \"uang dhambur-hamburkan .....\". kemudian menjelang ahir kampanye, dengan penuh \"kasih sayang\" pengikutnya mendampingi para penerima BLT dengan membagikan air gelas, indah sekali. eh pileg sudah selesai, BLT masih berlangsung tak segelintirpun para kampanyewan nampak mendampingi . . . . agaknya episode usai berganti sibuk ngurusi hasil pileg . . .
  26. From Fendy on 13 June 2009 00:47:17 WIB
    Kalo menurut saya mending presidennya tetep bapak SBY, sebab dari yang sudah sudah kalo ganti presiden mesti ganti kebijakan...kenaapa?ada yang tahu?apakah urusan pribadi atau negara...so..kenapa ga nerusin yang sudah ada??
  27. From Odiboni on 13 June 2009 04:29:05 WIB
    Tahun 2005, sebelum reshuffle, menkeu Jusuf Anwar berbeda pendapat dg menko perekonomian Aburizal Bakrie soal pajak ekspor batu bara.

    Waktu itu Jusuf Anwar menetapkan pajak sebesar 5% dimana Bakrie yg juga berbisnis batubara keberatan. Menurut Aburizal, pajak ekspor memberatkan pengusaha, dan baru bisa dikenakan bila harga batu bara mencapai US$ 50 per ton. Tapi, apa kata Jusuf? "Sampai kodok berbulu pun, harga batu bara tak akan sampai segitu."

    Apakah ini alasannya shg Jusuf Anwar dicopot dan Aburizal Bakrie tetap dlm kabinet (digeser jd menko kesra)?

    Kembali pada soal Lapindo, terbit Perpres No. 14 Tahun 2007 tentang BPLS dan Perpres No. 48 thn 2008. Lapindo "hanya" menanggung dampak lumpur thd desa yang tergenang lebih awal. Ini hanya mencakup 3 desa. Sementara, desa2 yg tergenang belakangan menjadi tanggungan APBN.

    Menurut Subagyo (anggota Dewan Pakar Walhi Institute) dan Joeni Arianto Kurniawan (staf pengajar FH Unair), perpres ini bertentangan dengan UU ttg Pokok-pokok Agraria dan UU Migas ttg cara2 penyelesaian sosial kemasyarakatan korban lumpur.

    Pada tahun 2007, jumpa pers dadakan diadakan di istana negara. Presiden SBY berbicara di depan media, ia "mengetuk hati" penculik Raisya Ali utk mengembalikan anak tsb kepada orang tuanya.

    Dan saya pun bertanya-tanya, mungkin Pak SBY lupa utk juga "mengetuk hati" Aburizal Bakrie jika bertemu dalam rapat kabinet?

    http://www.korbanlumpur.info/kabar-korban/berita/452-penggantian-aset-korban-yang-tak-kunjung-beres-.html
  28. From Odiboni on 13 June 2009 04:44:38 WIB
    Dan jauh sebelum masa kampanye, seperti dalam artikel pak Wimar yg juga dimuat di koran Sindo, 20 Oktober 2008:

    \\\"Menyelamatkan Bakrie, SBY kelihatan Orde Baru sejati\\\"

    http://perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=970

    Bakrie pertama kali dibantu Suharto kedua kali dibantu SBY ketiga kali dibantu SBY lagi

    Jauh sebelum masa kampanye :-)
  29. From Intox on 13 June 2009 11:27:15 WIB
    "Obama bilang: Nggak usah teriakin lawan, pilih saja calon kamu. Nanti tinggal hitung hasilnya. "

    Maaf Pak Wimar, saya gak setuju. Bukan masalah "teriakin lawan", tapi attitude seperti yg diucapkan Obama itu terkesan apatis. Padahal kita sudah berapa ribu tahun semenjak Plato menyebut2 ide demokrasi, kenapa kita masih bersifat primitif melihat "demokrasi" hanya sebagai ajang voting?

    Justru sikap masyarakat seharusnya pro aktif. Bukan pro aktif dalam memilih orang/representatif saja, tapi juga dalam regulasi2 yg krusial. Ini yg kurang dari demokrasi modern. Sekarang terlalu sarat dgn iklan, image, dan sentralisasi kekuatan.

    Mungkin kita harus bergerak kearah yg lain, tidak melulu harus kepresidenan seperti ini. Kehidupan terlalu berbasis kepamrihan dgn sistem seperti ini. Bolehkah saya terus bermimpi bahwa kehidupan yg lebih layak dan adil bisa dicapai oleh semua orang?
  30. From titiw on 13 June 2009 12:04:52 WIB
    HAhaha.. aku buka postingan ini karena aku pikir WW akan bertele2.. namun dengan tulisan yg dikit ini, ternyata lebih NENDANG!!!
  31. From wak tul on 13 June 2009 13:26:31 WIB
    Hmmm....

    Bagus-bagus n menarik sekali...
    Tapi saya kira sejuta OBAMA pun g akan mampu menyelesaikan tragedi Lapindo. Sebab semua sudah terjadi dg dampak sedemikian luas.
    Lagian siapa juga yg suruh melawan hukum dasar UUD 1945 (Bumi air dan seluruh kekayaan alam dikuasai oleh negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat).
    Ketika saya bermain dg kincir angin, saya tidak mampu menahan kehendak penguasa institusi tempat saya bekerja, sebab tujuan beliau adalah kekuasaan saja. Beda dg SOP.
    Pertanyaannya :
    SOP Lapindo Brantas bagaimana ???
    apakah layak mengebor perut bumi utk explorasi minyak di lingkungan industri dan pemukiman ???


    Terimakasih n wassalam
  32. From imam on 13 June 2009 22:48:20 WIB
    2 kali pemilu ga ada gus dur, ga rame ah. Ga ada ungkapan lucu dan cerdas (mungkin pernyataan lucu & cerdas ga penting bagi presiden, tp kerja presiden sampai saat ini biasa2 aja juga tuh!), jujur (tidak berusaha ngikutin mainstream isu-isu populer utk kampanye), penuh visi (yang merasakan dampak/manfaatnya anak cucu kita nanti)dan.. tengil pada segelintir manusia brengsek di indonesia! Sayangnya manusia brengsek Indonesialah yang banyak bercokol di aparatur-aparatur negara.
  33. From wimar on 14 June 2009 04:43:21 WIB
    intox, kalau anda ingin berbagi kearifan dan mengajak orang berdialog, pakailah nama yang betul dan cantumkan alamat email.

    akan lebih didengar

  34. From Evi Novianti on 15 June 2009 00:06:44 WIB
    Saya pengusaha properti yang kebetulan salah satu konsumen saya korban lumpur lapindo. Dari hasil diskusi dgn yang bersangkutan diketahui bahwa Pemerintahan Pak SBY sdh berusaha maksimal menyelesaikan bencana ini. Program relokasi dan pembayaran bertahap hasilnya sdh dirasakan bahkan sebagian dari mereka juga sdh punya rumah baru. Sedang saat ini yang masih bermasalah sebenarnya hanya sedikit & InsyaAllah akan selesai. Tapi ingat bahwa tak ada gading yang tak retak, tentu dengan segala daya upaya Pak SBY tidak mungkin memuaskan semua pihak, kita sebagai warga negara tetap harus memiliki perspektif yang positif bahwa dibalik semua bencana selalu ada kebahagiaan.
  35. From delvi on 15 June 2009 17:19:11 WIB
    SBY: no angel!
    Mega: no angel!
    JK: no angel!
    an ultimate thing to do: vote for the lesser devil!
  36. From artha on 15 June 2009 18:05:43 WIB
    Bung WW, saya tidak setuju dg ketiga capres-cawapres di atas. "Kecelakaan" dalam dunia perminyakan bukan hanya terjadi di Sidoarjo, baiknya di antara mereka "study banding" bagaimana pemerintah2 negara lain menyelesaikan masalah yg terkait nyawa dan kerugian, piper alpha case misalnya. Sekedar bicara.

    Saya juga minta maaf (maaf, terikut2 tradisi minta maaf) tidak setuju dg tulisan di atas, yg bertolak belakang dengan postingan WW di Perspektif Online 06 November 2008 yg saya kutip di bawah ini.

    Di balik kegembiraan berita kemenangan Obama, Rabu pagi jam 7:30 Sri Mulyani (SMI) perintahkan BUMI dibuka suspension-nya. Lalu Bakrie 'naik banding' ke SBY. Jam 8:30 SBY perintahkan SM tutup lagi listing BUMI di bursa.

    Sebagai bawahan SMI laksanakan perintah Presiden, tapi kemudian jam 18:00 ia mengajukan pengunduran diri dari Kabinet. Jam 20:00 SBY panggil SMI minta maaf dan minta dia tidak resign. SMI setuju asal pagi ini BUMI di-release. Maka terjadilah pagi tadi, walaupun tentu saja, dalam 10 menit BUMI sudah suspended lagi karena auto rejection.

    ----
    jadi yg intervensi atau yg menolak intervensi pemerintahan mana?
    ----

    maaf, saya juga jadi bingung neh.


  37. From Bibeh on 15 June 2009 22:54:20 WIB
    Saga BUMI, harus diurut sampai kepada gagalnya pemerintah waktu itu membeli KPC, karena ternyata BUMI dapat membeli dengan harga yang lebih murah, pakai utangan lagi!!. Brilyan!!!

    Bahwa kesempatan "kembali" terbuka bagi siapapun (termasuk yang bermaksud menunggangi) untuk mengambil alih BUMI (baca: KPC, walau tidak penuh, karena nyatanya Klik India lebih berjaya) tergantung siapa yang dapat memanfaatkan keadaan ketika ada kasus Repo.

    Di sini juga ada PNM (pesero loh!) yang terlibat langsung, belakangan piutangnya sudah dilunasi. Kalau saya pemegang repo, secara kasar, akan menggantikan kepemilikan lama yang terkena default. Kecuali ada detail lain di dalam perjanjian repo itu.

    Tapi tidak penting, BUMI (KPC) milik siapa (berlaku juga untuk entitas usaha lainnya), yang penting kontribusinya kepada kemashalatan bangsa.
  38. From Intox on 16 June 2009 07:05:46 WIB
    Pak Wimar, anggap saja ini nama pena.

    (maaf OOT).
  39. From Jailani on 16 June 2009 13:39:45 WIB
    Pak kalla...coba lihat komentar Bapak yang terhormat Jusuf kalla pada 16/06/2008..dia bilang penelitian Davies dan timnya bukan acuan mutlak untuk menyatakan PT Lapindo Brantas bersalah. Harus melalui putusan pengadilan..truss PN Jak Sel memutuskan lapindo tidak bersalah...Golkar juga salah satu partai yang menolak interpelasi Lapindo..sekarang Pak JK bilang Bakrie melanggar HAM dst...kenapa tidak dari dulu di bilang melanggar HAM pak ? Biar dipilih masy sidoarjo ya???
  40. From ricky on 16 June 2009 14:34:43 WIB
    Permasalahan di negeri ini karena terlalu banyak merasa jd pemimpin. SBY udah teriak2, marah2 sampe berkantor di Sidoarjo agar penanganan Lapindo disegerakan, tapi nihil. Ini dikarenakan apa? Kemungkinan emang stafnya ingin menjatuhkan pimpinannya (SBY) atau stafnya merasa dia yg lebih tahu permasalahan daripada pimpinannya, jd instruksi atasan ga dilaksanakan. Kurasa diperlukan lebih banyak "pengikut sejati" daripada "pemimpin sejati" di negeri ini.
  41. From Felix on 17 June 2009 01:15:04 WIB
    @Bibeh:
    "JK meyakinkan bahwa Keluarga Bakrie tidak akan lari dari tanggung jawab. (Beda toh dari pengemplang BLBI)"

    Salah... pak JK berkata LAPINDO tidak akan lari dari tanggung jawab... please bedakan LAPINDO dgn keluarga Bakrie... karena sekarang keluaraga Bakrie bukan lagi pemilik LAPINDO...:) Pak JK sudah berkali2 pasang badan utk membela Bakrie dalam kasus lumpur porong ini, salah satu nya adalah dgn membiarkan keluarga Bakrie lepas dari tanggung jawab.

    http://www.apakabar.ws/forums/viewtopic.php?f=1&t=37447

    @Shinta & artha,

    Yg meng inisiasi & kekeh membuka suspensi saham BUMI adalah Ibu Sri Mulyani, mungkin karena beliau berpikir bahwa pasar harus fair, kalau mau anjlok karena kesalahan mis management dari pihak BUMI yah biarkan saja anjlok, kenapa harus di berikan preferential treatment. Yg meminta supaya tidak dibuka adalah SBY, beliau meng sms Ibu Sri Mulyani supaya berbicara dulu dgn Ical Bakrie sebelum membuka suspensi BUMI. Seingat saya Ibu Sri Mulyani menolak berbicara dgn Ical karena tidak ada hubungan nya menko kesra dgn pasar modal. Dan Ibu Sri Mulyani berusaha mengkontak pak SBY tapi tidak berhasil. Ibu Sri Mulyani & Bapak Erry Firmansyah ketua BEI memutuskan utk mencabut suspensi BUMI dan mengumumkan keputusan tersebut. 10 Menit kemudian mereka di kontak oleh "pejabat yg lebih tinggi" (kemungkinan besar dari kantor cawapres)yg memerintahkan utk tidak mencabut suspensi BUMI. Ibu Sri Mulyani bersama eselon I depkeu kemudian mengajukan surat permohonan pengunduran diri tapi di tolak pak SBY.

    Itu kronologis nya yg saya ingat dari membaca di Tempo. Pak Wimar yg dekat dgn Ibu Ani mungkin bisa mengkonfirmasikan apakah kronolgis peristiwa tersebut benar adanya.... Saya tunggu lho Pak...:)
  42. From Anton on 17 June 2009 11:19:11 WIB
    Lumpur Lapindo sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu, tapi dampaknya sampai hari ini belum terselesaikan, karena pemimpin kita lebih peduli pada kekuasaan dari pada manusia. Biaya begitu besar yg telah dikeluarkan seharusnya pertolongan pd manusia yg menjadi korban didahulukan bukan perbaikan tanggulnya yg diutamakan. Nyawa orang Indonesia disini tidak berharga dimata pemimpinnya kalau dibanding dengan negara-negara lain. Akhirnya semua yg dilakukan sia2, perbaikan infrastruktur tidak selesai, penyelesaian ganti rugi bagi korban lumpur juga tidak selesai. Sudah saatnya kita belajar bekerja membangun negara ini dengan rencana yg matang/program yg jitu. Kita memiliki banyak orang pandai, tapi hanya pandai bicara /bersilat lidah,pandai mengkritik/mencari kesalahan orang lain, tapi tidak pandai bekerja
  43. From Bibeh on 17 June 2009 22:03:39 WIB
    Ia, Lapindo secara de jure, sudah dijual, dan saya tidak tahu ada malaikat bisnis yang bersedia membeli suatu perusahaan hanya untuk menjadi juru bayar.

    Mungkin Om WW bisa nyediain waktu dengan NDB atau ADT dalam sesi WL di Metro, sekedar kilas balik Lumpur Lapindo / Sidoarjo \\\\:).

    Ingat, lumpur diperkirakan akan terus keluar selama > 30 tahun. It will take more than Rp 30T!!
  44. From A. Rofik on 18 June 2009 09:24:54 WIB
    Sebenarnya dari awal saya tdk mendukung ketiga calon tsb. tapi karena mereka yg maju, akhirnya tetap sy harus memilih yg terbaik diantaranya. Yang pasti saya tidak akan memilih SBY, karena :

    1. SBY telah gagal melindungi rakyat sidoarjo dan JATIM pada umumnya dalam mengatasi masalah lumpur Porong (saya orang Sidoarjo). Dimata kami, SBY sebagai presiden tdk tegas, baik dalam mengatasi masalah sosial dan kerusakan infrastruktur yg ditimbulkan, serta penanganan semburan lumpur yg berlarut-larut dan tdk ada kejelasan.

    2.SBY juga tidak tegas dengan membiarkan Aburizal Bakrie tetap menjadi mentri, seharusnya ada tanggung jawab moral memberhentikan Bakrie dan menyuruhnyabertanggungjawab utk mengatasi permasalahan semburan lumpur. Sebaliknya, usaha yg berada dibawah naungan Bakrie malah berkembang pesat diatas penderitaan sebagian besar rakyat Sidoarjo. Sekali2 berkunjunglah ke Porong-Sidoarjo utk mengetahui bagaimana besarnya kerusakanan infrastruktur, ekonomi dan sosial yang diakibatkan semburan lumpur Lapindo.

    3. Terus terang saya akan lebih memilih calon presiden selain SBY yg menjanjikan penanganan tuntas terhadap lumpur porong, daripada harus SBY lagi karena kami terlanjur merekam track record-nya: lambat, tidak tegas, dan tetap membiarkan Bakrie menjadi anak buah kesayangannya...
  45. From Felix on 18 June 2009 10:29:21 WIB
    @Bibeh:

    Memang tidak jelas siapa itu Freehold yg sekarang menjadi pemilik Lapindo, tapi saya rasa skenario nya mau di giring seperti ini:
    Freehold atau Lapindo menyatakan dirinya bangkrut dan tidak bisa membayar semua tanggung jawab nya atas kasus lumpur Porong. Dan tanggung jawab keuangan dari sebuah PT tidak bisa ikutan menarik owner nya. Juga ada upaya utk menyatakan bahwa kasus lumpur Porong adalah bencana alam dan bukan karena kelalaian pihak tertentu. Ujung2 nya pemerintah lah yg harus menalangi sisa dari yg tidak mampu lagi dibayar Lapindo, duit dari pajak yg kita bayar lagi yg akan di pakai utk menalangi kesalahan nya si Bakrie.

    Memang lihai mereka ini
  46. From Hakim on 18 June 2009 14:32:32 WIB
    ya itulah hasil karya para petinggi negeri ini
    s\\\\\\\'lalu mengamankan kepentingan kelompoknya, utamanya yang elit dong tentunya
    ketiga calon sih mungkin mega-pro yang kelihatan simpatik pada korban lumpur lapindo saat ini
    but laen belalang laen juga ladangnye
    lain sekarang lain juga kalau jade

    ya gitu deh
  47. From Felix on 18 June 2009 16:12:08 WIB
    @A. Rofik:

    Memang SBY itu terkesan tidak tegas dalam kasus Lapindo, bukan utk membuat pembelaan, tapi kalau mau disalahkan ada yg lebih salah lagi dalam pemerintahan SBY dalam kasus Lapindo. Kalau SBY seperti yg ditulis pak Wimar sempat memanggil Nirwan Bakrie utk 'memaksa' nya membayar para korban lumpur Porong, tapi ada pejabat negara yg sekarang mau jadi Presiden bersaing dgn SBY, malah membela keluarga Bakrie dalam kasus Porong. Dan mungkin sdr. A Rofki pun tahu yg membawa org ini lah yg membawa Abdurizal Bakrie kedalam Kabinet Indoensia bersatu nya SBY dan berusaha mempertahankan kekayaan keluarga Bakrie dgn meng suspensi perdagangan saham ketika saham keluarga Bakrie anjlok.

    Jadi kalau anda tegas dan konsisten dan satu kata dalam bertindak dan bertutur kata, anda seharus nya berkata:"...karena mereka maju akhirnya tetap sy harus memilih yg terbaik diantaranya. Yang pasti saya tidak akan memilih SBY dan Capres yg nomor 3 itu, karena:...."
  48. From Bibeh on 18 June 2009 19:51:23 WIB
    Kendala utama penanggulangan masalah lumpur adalah keterbatasan data mengenai bawah permukaan. Dana juga dink...

    Keluarga Bakrie terkesan buying time? Wajar saja, siapa juga yang mampu menyediakan dana sedemikian besar dalam waktu sekejap. Belum lagi kalau ada pihak yang ingin menunggangi keuntungan (baca: saga Bumi). Realistis saja.

    Tentunya adalah hak korban yang menuntut setiap sen haknya dipenuhi.

    Bahwa dampaknya (korban) makin meluas (ada subsidence tanah, masalah lingkungan, dll) vs Keluarga Bakrie yang berusaha melokalisir beban (dengan keputusan pengadilan, peta terdampak, alibi bencana alam, dll). Toh dua-duanya adalah anak bangsa juga.

    Kebijaksanaan Pemerintah / DPR /DPD-lah yang menentukan garis besarnya. Ingat kasus BLBI dulu.

    Business is Business, social welfare lain lagi. P3K \\\"mungkin\\\" dapat dipertimbangkan. Maaf untuk hal ini taraf kebijaksanaan saya belum nyampe.

    Untuk penanganan teknis, saya setuju dengan konsep membuang airnya saja. Caranya, maaf ilmu saya nggak nyampe. Saya sendiri tidak dapat membayangkan, kalau lumpur dibuang terus-terusan, sampai kapan, 30 tahun lho. Kalau airnya saja yang dibuang, paling tidak material pengganti subsidence tersedia dekat, langsung ambles ke bawah. Syukur-syukur langsung menutup mata airnya, ei, mata lumpurnya.

  49. From elvek on 19 June 2009 10:29:06 WIB
    hehe..
    kalo SBY ingin LANJUTKAN, musti pake JK, kalo gak ya ga jadi LANJUTKAN...
  50. From fadil on 20 June 2009 15:35:53 WIB
    Kalo mau jujur dan adil, kita harus nilai pendapat/kebijakan semua capres (inget: SEMUA CAPRES) waktu sebelum kampanye..
    Sejak awal2 bencana Lumpur Lapindo ini, Megawati dan PDIPnya di DPR udah ngomong agar bencana ini dinyatakan sebagai bencana nasional. Jadi pemerintah harus tegas dan bertindak cepet nyelametin rakyat dan aset negara. Sikap ini terus dipertahankan sampe sekarang udah berpasangan sama Prabowo. Kalo kebijakan ini dijalanin, uang rakyat (APBN) akan kepake banyak dan Lapindo (dan Grup Bakrie) bisa lepas dari jaratan hukum.
    SBY sendiri selama 3 tahun gak pernah bisa tegas nyelesain masalah ini dan cuma bisa nangis di depan rakyat korban lumpur, ngomel2 ke Nirwan Bakrie dan gak pernah berani mecat Aburizal dari kabinet. Ini karena SBY emang punya utang budi sama Aburizal udah ngedanain kampanye SBY-JK tahun 2004 lalu. Menurut Keppres SBY, Lapindo cuma bertanggung jawab pada sebagian kecil kerugian korban (hanya pada daerah peta terdampak), itupun pembayarannya sampe sekarang masih banyak nunggak, dan SBY gak ambil langkah apa2 untuk maksa Lapindo segera ngelunasin utangnya itu. Saya eetuju sama pendapat Felix #45, jadi ujung2nya uang rakyat juga yang akan dipake untuk nanggung kesalahan Bakrie..
    JK? Jadi wapres aja udah terang2an ngedukung Aburizal (dan semua seluk beluk bisnis Grup Bakrie), gimana kalo udah jadi presiden?
  51. From yanuar on 22 June 2009 15:07:32 WIB
    sebelum masa kampaye kemana aja ibuk2 &bapak 2 warga porong gak di perhatikan sekarang cari-cari perhatian oalahh...
  52. From Rifan on 29 June 2009 13:14:54 WIB
    Di negara yang lebih mementingkan citra atau image daripada substansi ataupun esensi sebaiknya hentikan penggunaan nama Lumpur Lapindo dan diganti menjadi Lumpur Bakrie . Cantumkan nama Lumpur Bakrie dalam peta resmi wisata di Jawa Timur misalkan situs lubang hangat lumpur Bakrie,aliran sungai lumpur Bakrie,muara lumpur Bakrie ,dll .Now that will put some pressure !
  53. From wan triyono on 01 July 2009 00:35:36 WIB
    semua harus bertanggung jawab, karena ini adalah minusnya pemerintahan JK dan SBY...akuilah bpk SBY dan JK..........kenapa ber tindak dan berbicara sekarang saat pilpres datang lagi...kENAPA TIDAK DI SELESAIKAN WAKTU MASIH MEMERINTAH...HE..HE....aneh...mang....aneh.....???
  54. From wan triyono on 01 July 2009 00:36:24 WIB
    semua harus bertanggung jawab, karena ini adalah minusnya pemerintahan JK dan SBY...akuilah bpk SBY dan JK..........kenapa ber tindak dan berbicara sekarang saat pilpres datang lagi...kENAPA TIDAK DI SELESAIKAN WAKTU MASIH MEMERINTAH...HE..HE....aneh...mang....aneh.....???
  55. From GIE on 06 July 2009 05:11:51 WIB
    Kasian bener presiden pilihanq(SBY)kok serba disalahin ya?Masalah SBY ngambek waktu denger monolognya butet mah wajar,secara penempatan butet menyampaikan monolognya salah..memang seni itu indah dan bebas.Tapi kita perlu liat kondisi dan tempat dimanan seni itu dibawakan.Coba bayangkan seni itu adalah tempe,klo tempe itu diletakkan dijalan,maka orang tidak menghiraukannya.KLo tempe kita makan,maka bernilai makanan.KLo tempe kita buang ke tempat sampah,maka bernilai sampah.Tentu seni beda dgn tempe,tetapi maksud saya disini adalah sesuatu itu bisa dibilang indah dan buruk tergantung dari penempatan dan penyajiannya...
    Bravo WW dan Bravo juga SBY-Boediono
  56. From Dwi Ana on 23 July 2009 10:55:10 WIB
    Sebagai warga yang yang mempunyai tempat tinggal di daerah ex lapindo ,kita semua tahu kondisi dan permasalahan sampai detik ini pun belum tuntas ,masyarakat ingin segera mendapatkan perhatian lebih dalam arti lain ,apa saja yang telah mereka korbankan akibat luapan lumpur lapindo ,setidaknya ada perhatian khusus dari masyarakat .karena tidak bisa dipungkiri juga mereka ada warga negara indonesia ,yang berhak mendapatkan perhatian atas hal yang terjadi ,dalam kehidupan mereka di karenakan factor meluapnya lumpur lapindo

    Setidaknya ,ada angin segar untuk mereka di ikuti action yang mengena demi kelangsungkan kehidupan mereka ,
    mereka punya anak ,istri dan keluarga

    Andaikan kita diposisi mereka saat ini ? apa yang terlintas dalam fikiran kita ,di benak kita ?

    hanya satu -Tolong kami dan tolong perhatikan hati dengan seriouse

    Salam

    Dwi Ana
    http://transquility-life.blogspot.com
  57. From badi on 27 October 2009 21:34:30 WIB
    kasus lapindo adalah konspirasi kejahatan yang terlindungi
    banyak orang yang bermain diatas tangisan rakyat

« Home