Articles

Rachland Nashidik: Pelanggaran HAM mempersulit tugas kepresidenan

Wimar Live
14 June 2009

oleh Didiet Adiputro

Demokrasi telah membawa kita dalam posisi dimana rakyat diberi kebebasan yang otonom untuk menentukan seperti apa nasibnya beberapa tahun kedepan lewat pemilu untuk memilih calon pemimpin. Dengan adanya kebebasan ini kita dituntut untuk lebih selektif  dalam melihat program atau rekam jejak calon pemimpin kita. Salah-salah pilih justru kita bisa terjerembab kedalam persoalan yang lebih berat lagi. Hadir di Wimar Live edisi ini, Direktur Eksekutif Imparsial Rachland Nashidik yang membeberkan fakta mengenai rekam jejak calon pemimpin kita terutama dalam hal pelanggaran HAM.

 

 

Rachland mengaku kecewa dengan adanya gejala ’amnesia’ di masyarakat setiap menjelang pemilu terkait dengan kasus–kasus pelanggaran HAM yang dilakukan negara, namun belum tuntas pengungkapannya hingga hari ini. Bahkan dua diantara perwira kontroversial yang dianggap paling terlibat dalam berbagai peristiwa kejahatan negara itu, saat ini sedang berlomba untuk menduduki kursi kekuasaan lewat mekanisme demokrasi. ”Kita tidak boleh membiarkan demokrasi ini dimanfaatkan sebagai cara  untuk menciptakan amnesia”, tutur Rachland

Untuk itu menjadi hal yang sangat penting bagi masyarakat untuk mengetahui keterkaitan calon-calon ini dengan kasus pelangaran HAM sebagai referensi bahan untuk memilih. Meskipun dua cawapres yang ditengarai terlibat pelanggran HAM masa lalu ini tidak pernah dinyatakan bersalah, namun Rachland punya beberapa fakta lain.

Misalnya dalam laporan terbaru  Komite Kebenaran dan Parsahabatan (KKP) Inonesia – TimTim, dinyatakan secara tegas bahwa seorang cawapres mengetahui semua detail peristiwa pembumihangusan kota, pembunuhan, dll yang mengakibatkan lebih dari 2000 warga sipil tewas. Karena ternyata pembumihangusan yang dilakukan milisi tersebut dilakukan dibawah koordinasi TNI yang dipimpinnya waktu itu.       

Sementara itu mengenai cawapres satu lagi yang terkait penculikan aktivis. Meskipun dia tidak pernah diadili di mahkamah militer  seperti beberapa bawahannya di Tim Mawar, namun tokoh tersebut telah dipecat dari dinas kemiliteran oleh Dewan Kehormatan Perwira. Karena dalam kasus penculikan aktivis mahasiswa itu dia dianggap melakukan tindakan yang melampaui kewenangannya. ”Sebagian besar dari mereka (aktivis yang diculik) hingga kini belum kembali”, ungkap direktur Imparsial ini

Selain itu Rachland menekankan harapannya bahwa pemimpin kita tidak boleh  menjadi beban negara di masa depan, apalagi terkait kasus pelanggran HAM. Hal ini mengingatkan pada kasus mantan diktator Chile Jenderal Agusto Pinochet yang mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup, sehingga dianggap memiliki imunitas di bidang hukum. Namun ketika dia sedang berkunjung ke Inggris, justru dia ditahan karena ada salah satu korban yang menuntut. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan 'Pinochet Precedent'. Nah, apa jadinya kalau hal ini terjadi pada wakil presiden kita kedepan. Bukankah itu justru itu jadi beban presiden dan negara?

”Jadi jangan pernah berpikir bahwa jabatan wapres akan memberikan imunitas yang akan melindungi dirinya dari kemungkinan internasional justice”, seru Rachland.

 

Saksikan video-nya:

Print article only

40 Comments:

  1. From frank benjamin on 15 June 2009 01:14:06 WIB
    Malah kita yang jadi sulit untuk memilih.
  2. From wimar on 15 June 2009 05:28:49 WIB
    nggak usah sulit Mas.. kalau percaya Rachland, janganlah pilih kedua orang itu. Kalau tidak percaya, silakan pilih pelanggar HAM. Kalau ragu2, sekarang anda tambah informasi, tidak tambah bingung. Tidak usah percaya 100 persen, tapi kalau ada keraguan, ya jangan dip;ilih dong. Kecuali anda lebih ragu pada yang lain.

    Kebingungan tidak datang dari orang lain tapi lahir dalam diri kita sendiri. Informasi selalu bermanfaat
  3. From nsudana on 15 June 2009 05:51:02 WIB
    Wimar kelihatannya dibayar oleh Capres tertentu..ngomongnya hanya memojokan pesaing SBY saja.Apa penjelasannya saat SBY mimpin rapat 27 Juli? (komentar Permadi) Disitu banyak korban manusia !
  4. From wimar on 15 June 2009 07:58:56 WIB
    pak nsudana, kalau mau angkat peristiwa 27 Juli please minta Ibu Megawati, beliau perlu membela pendukunganya yang menjadi korban peristiwa itu. Saya sendiri tidak banyak tahu tentang peristiwa itu, dan mendukung setiap usaha memperjelasnya.
  5. From iwan on 15 June 2009 11:47:42 WIB
    Suprise, acara yg saya tonton ndak sengaja itu memahas topik yg \"panas\". Salut buat HOST dan Nara sumber-nya. mudah-mudahan acaranya bung WIMAR tetap berlangsung ( jangan dicekal lagi kayak dulu ). Pesan ; Cari pemimpin di Republik ini kok ya, padahal banyak yg muda yg berprestasi..daripada yg tua banyak masalah...
  6. From Nasionalis on 15 June 2009 12:02:33 WIB
    Kenapa isu HAM baru dibangkitkan selama kampanye, kenapa dalam lima tahun masa kepemimpinan SBY tidak pernah ada tuntutan kepada SBY untuk penyelesaian pelanggaran HAM. Kenapa harus sekarang?
  7. From HERU W on 15 June 2009 13:44:06 WIB
    Kalau kita cermati biaya pemilu (legislatif, presiden, gubernur bupati dsb) yg demikian besarnya. Ratusan trilyun rupiah hanya untuk menentukan siapa (blm tentu yg terbaik) yg akan pegang kemudi atas bahtera yang makin terseok di tengah samudra kapitalisme yg kian kejam. Yang tak pernah peduli dengan penderitaan rakyat kecil, selain napsu untuk mengekskploitasi. Terbayangkah oleh mereka sebuah ralitas, bahwa bagian terbesar rakyat, tidak hanya dengan peluh dan air mata untuk sekedar menunda lapar mereka. Kadang hati, harga diri, bahkan keyakinan mereka campakkan agar bisa bertahan hidup. Kapan suksesi kepemimpinan di alam demokrasi ini melibatkan mata hati ...........?
  8. From abdudiof on 15 June 2009 13:53:20 WIB
    @nsudana
    Ngerti gak sih sampean ........

    Topik di atas tidak ada kaitanya dengan Mega kok,kalopun nyrempet ada 3 Jendral yang bakal jadi pemimpin negara ini ,pilih yang tidak bermasalah di dunia INT.
    Sampean sdh ikut-ikutan nuduh
    Kalo Sampean pilih Mega ya pilih aja ! bereskan !

  9. From robert eskapa on 15 June 2009 15:52:07 WIB

    saya tidak menuduh mas Wimar memihak SBY, tapi diskusi anda dengan Rachland soal capres / cawapres pelanggar HAM, jelas telah menyudutkan Wiranto dan Prabowo. opini penonton diskusi anda bisa tergiring untuk memilih SBY-Boediono. well, pembentukan opini memang bisa bersifat halus atau pun kasar.. Materi diskusi Anda memang terlalu "menjurus".
    Hmmm, saya bukan pendukung wiranto atau prabowo, apalagi saya tidak punya hak memilih, meskipun sudah puluhan tahun hidup di indonesia....
  10. From retno koesdiati on 15 June 2009 16:34:22 WIB
    klo 2 cawapres pelanggar HAM berat sampai lolos dalam pilpres dan dalam kampanyenya malah sok merasa lebih bersih terus gmn nasib negara dan bangsa kita ke depan ? salah kaprah
  11. From Dr. Mahmud Zulkarnain Ph.D on 15 June 2009 18:08:16 WIB
    CAWAPRES JK-Win maupun Mega-Pro;Kalau yg diutarakan sdr.Rachland itu pada umumnya rakyat Indonesia yg intelectual tahu, soal sepak terjang mereka selama mereka masih aktif di ABRI. Yang penting apa mereka sudah "BERTOBAT"; kalau belum akan timbul praduga "Terulang kembali" => http://www.detiknews.com/read/2009/03/12/001552/1098054/10/wiranto-dan-prabowo-harus-bertanggung-jawab-atas-kerusuhan-mei-98.dan juga peristiwa bumi-hangus TIMTIM.

    Kalau Boediono, siapapun tahu beliau seorang yg relatif LURUS, realistis dan teknokrat sejati terutama dibidang ekonomi. Atas dasar inilah salahsatu kriteria SBY mengikatnya utk mendampinginya.

    SBY : Relatif Jujur dan lurus. Kalau terpilih tentu akan bekerja lebih serius dan tegas menindak yg bersalah tanpa tedeng aling2 lagi karena dukungan yg sudah mayoritas.

    Tapi sayang, para koalisinya terutama "PKS" yg sangat berbeda tujuan yg berlandaskan keagamaan (Islam KERAS, FUNDAMENTALIS PRO BIN LADEN). Jika hal ini, SBY tidak cepat2 mengambil sikap dan berjanji kepada rakyat untuk mampu mengatasi IDEOLOGI YANG SANGAT SYARIAH (ISLAM KERAS)MAKA AKAN BERANTAKAN (NKRI BISA2 BUBAR JALAN=>Unity to diversity)DAN BISA2 suara dalam PILPRES 8 JULI 2009 mendatang akan berpindah kekubuh lawannya atau akan terjadi 2 putaran yang sangat berbahaya karena dipastikan kubuh JK-Win akan bergabung dengan kubu Mega-Pro, dan kemungkinan besar akan RUNTUH jika tidak segera mengiklankan diri untuk "MENTOLERIR KEADAAN TERSEBUT", seperti kursi2 yang STRATEGIS yg akan diberikan kepada orang2 PKS,seperti menteri P&K, Menteri Agama,Menteri Kesehatan dll
    http://www.slideshare.net/guest4424dd/grand-strategy-pks
    SBY harus segera mengambil sikap jika ingin menang ! atau WIN_PRO bertobat maka ada HARAPAB MENANG! demikian juga dengan JK berjanji/bersumpah tidak akan rasis lagi =>http://www.indonesiamedia.com/2004/11/early/local/local-1104-protest.htm
  12. From bung tobing on 15 June 2009 18:24:11 WIB
    Ah kok saya tidak berpendapat Wimar dibayar oleh capres tertentu. Inilah orang Indonesia, giliran kandidat yang didukungnya dikritik langsung bilang si pengkritik dibayar kandidat lainnya, tanpa mencoba membuka mata untuk mengetahui kebenaran.

    Menggelikan memang, kasus TimTim dan penculikan oleh Tim Mawar seakan sudah tidak ada di ingatan banyak masyarakat Indonesia. Mereka di belakang kematian dan hilangnya penduduk sipil, buat saya pribadi (entah yang lain) ini hal yang sangat serius.

    Setahu saya, salah satu cawapres itu bahkan sudah diblacklist oleh beberapa negara Barat.
  13. From Evi Novianti on 15 June 2009 20:57:21 WIB
    Pelanggaran HAM adalah isu penting bagi negara demokrasi, jadi pemimpin yang punya beban masa lalu TIDAK MUNGKIN bisa menjalankan tugas dengan baik. Bagi rakyat Indonesia mohon pilih pemimpin amanah & minim beban masa lalu jadi beliau bisa bekerja maksimal.
  14. From Audry Maulana on 15 June 2009 22:01:01 WIB
    iya ya, yang bikin saya bingung, knapa waktu bu Mega menjabat sebagai presiden menggantikan gus dur, kasus 27 juli tidak banyak mendapat perhatian dari beliau? knapa baru sekarang pak permadi teriak-teriak masalah dalang dibalik 27 juli..kenapa tidak dari dulu, ketika bu mega berkuasa? kalau dari dulu sudah diselesaikan, orang yang dituduh sebagai dalang kasus ini tentu tidak akan pernah menjadi presiden republik ini dong? aneh betul..
  15. From shinta on 16 June 2009 00:16:44 WIB
    Untuk pelanggar HAM saya setuju harus dihukum.
    Dari ke 3 Palanggar HAM :
    1. SBY
    2. WIRANTO
    3. PRABOWO
    yang telah dihukum/pecat karena pelanggaran HAM adalah PRABOWO, untuk yang berdua kapan?

    Saya akan pilih Mega-Pro karena Prabowo sudah pernah dihukum alias dipecat sekarang kesempatan dia berbuat baik dan kedepannya membangun negeri ini,...ayo Mas Prabowo jangan merasa terbeban dengan masa lalu-MU, biarlah oranglain menuduhmu tapi Tuhan maha pemurah dan rakyat bijak.

    Buat SBY dan WIRANTO karena tidak pernah diadili dan lolos hukum HAM maka dengan menyesal Shinta tidak memilih anda.

    Untung Pak Wimar memberitakan ini kalo tidak saya tidak tahu kalo SBY juga terlibat nodai HAM.

    Shinta makin rasional memilih MEGA-PRO
  16. From frank benjamin on 16 June 2009 01:55:24 WIB
    SAYA .. PRESIDEN DAN RAKYAT

    Rakyat, bukan hanya merupakan akibat atau hasil dorongan biologis untuk mengembangbiakan keturunan dan melestarikan jenis keturunan manusia, tetapi juga merupakan alat perjuangan saya untuk melenyapkan dan menghindari naluri dasar rasa takut sebagai akibat dari manusia yang berpikir.

    Rakyat, sangat berharga bagi saya bukan karena ia merupakan hasil fungsi biologis yang penting atau karena ia adalah rakyat yang luar biasa istimewa, tetapi karena ia memberi saya makna dalam sebuah arti kesempurnaan hidup dan tempat kedudukan yang kokoh selama hidup ini.

    Apa yang menjadikan saya terikat kuat dengan rakyat saya, terlepas dari dorongan biologis pada umumnya, adalah sikap menyamakan (identifikasi) rakyat itu seperti badan saya sendiri.

    Tidak ada kekuatan magis biologis yang bisa mengarahkan saya untuk menerima milik saya sendiri dan menolak apa yang tampaknya asing bagi saya. Keterlibatan dan keterikatan serta pandangan khusus saya terhadap rakyat saya bukanlah disebabkan oleh sifat-sifat atau watak masing-masing individu, tetapi disebabkan karena rakyat itu adalah milik saya.

    Rakyat, juga memberi saya bahan perenungan tentang waktu dan kekuatan saya. Harapan saya adalah bisa lebih dalam menenggelamkan diri dalam peran sebagai presiden, baik secara fisik maupun kejiwaan agar dapat mengurangi pemikiran atas diri saya sendiri dan tentang apa yang sedang saya kerjakan di atas panggung dunia ini. Saya ingin keterikatan dan terlibat dalam peran sebagai presiden, sesuai dengan batas-batas kebutuhan biologis atau instink, sekaligus memenuhi adanya kebutuhan jiwa saya sendiri yang paling pokok.

    Memang keterikatan emosional saya terhadap rakyat saya pada dasarnya adalah keterikatan atau cinta yang bersifat mementingkan diri sendiri, karena saya selalu dipengaruhi oleh naluri rasa takut sebagai manusia biasa yang memiliki pikiran.
  17. From Ludjan on 16 June 2009 04:37:35 WIB
    Kita terus terang saja:
    PO ini memihak (tidak usah dijelaskan memihak yang mana)
    Demikian juga Wimar Live
    Dan ini tidak pernah disangkal oleh WW.

    Dan itu hak mereka.
    Asal saja tidak berbohong (kalau bohonpun akan ketahuan).

    Ke"berpihakan" ini (dalam bidang ini) saya lebih hargai dari pada orang atau badan yang terima untuk melaksanakan apa saja asal dibayar, tanpa perdulikan hati nurani diri sendiri.


    Jadi kita ada beberapa pilihan:
    baca atau tidak
    beri komentar atau tidak beri komentar

    Kalau komentar kita ngawur akan dibaca orang juga.
  18. From Siregar Julio on 16 June 2009 04:47:03 WIB
    SBY juga punya record yang jelek dalam penegakkan HAM. Jangan lupa kalau SBY pernah menjabat Kaster ABRI. SBY juga dianggap terlibat kasus Timor timur. Malah SBY diindasikan juga terlibat dalam peristiwa mei yang melibatkan banya intelijen. SBY mempunyai banyak jaringan intelijen dan menggerakkan tentara intelijen dalam kasus Mei 1998
  19. From wimar on 16 June 2009 04:59:59 WIB
    Betul, PO memihak, Wimar sangat jelas memihak. Dari dulu juga tidak pernah netral.

    Kami dulu memihak melawan Suharto, memihak gerakan reformasi, memihak Presiden Wahid, memihak ekonomi tanpa jargon, memihak melawan korupsi, dan terutama memihak melawan kekejaman dan kekerasan negara.
  20. From Intox on 16 June 2009 07:13:08 WIB
    Memihak adalah hal yg baik, mempunyai sikap. Sifat netral atau "tau damai aja" lah yg paling berbahaya (dan paling menyebalkan!).

    Kalo sebelum menjadi presiden orang2 ini siap untuk membunuh saudara2nya sendiri, bagaimana nanti jika memiliki kekuatan yg lebih besar?
  21. From Siregar Julio on 16 June 2009 09:25:46 WIB
    Bicara masa lalu apalagi soal HAM ternyata SBY juga tidak bersih. Ingat peristiwa Mei 1998 posisi SBY sebagai Kastaf Teritorial juga perlu dipertanyakan. Pada saat peristiwa Mei 1998 ketika Wiranto dan Prabowo ada di Malang, dimanakah SBY pada saat itu. Posisi SBY sebagai Kaster banyak berhubungan dengan tentara intelijen. SBY menggerakan tentara intelijen untuk membuat konstelasi politik di Indonesia menjadi kacau. Dalam peristiwa kudatuli,SBY juga dianggap terlibat. SBY malah pernah menyarankan kepada Wiranto untuk melakukan kudeta. Jika kita lihat di-struktur kepimpinanan ABRI, posisi SBY sebagai Kaster ABRI dibawah posisi Wiranto sangat strategis. SBY juga terlibat pada kasus Timor Timor dan SBY dianggap sebagai penjahat perang. Untuk lebih jelasnya bukankah lebih baik dibuka pengadilan untuk mengusut keterlibatan SBY, Wiranto dan Prabowo.
    Kenapa tidak pernah ada pengadilan kasus Mei 1998.
    Soal kewarganegaraan Prabowo, Rachland Nasidik berasumsi berdasarkan keterangan Muladi. Jika hal ini dipersoalkan di pengadilan tentu Rachland Nasidik bisa masuk penjara karena tidak punya alasan yang kuat soal dwi kewarganegaraan.

    Jadi tidak ada yang bersih (saat itu) jika kita ukur kacamata penegakkan Demokrasi di Indonesia.
  22. From Arief on 16 June 2009 10:07:27 WIB

    Pelaku kejahatan HAM, memang akan menjadi topik utama dalam pilpres 2009.

    dari yang melakukannya sampai yang menjabat 3 tahun yang sedikit terdengar ingin menyelesaikannya atau 5 tahun yang tidak pernah terdengar ingin menyelesaikannya.

    Saat ini pencitraan sangat penting untuk calon2 ini.

    http://informasidanopini.blogspot.com ->Tips BlackBerry dan Personality Development
  23. From ciroe on 16 June 2009 12:51:28 WIB
    Manusia memang diciptakan untuk memihak. Memihak Tuhan (kebaikan) dan bukan memihak setan (keburukan). Tapi karena kebebasan, memihak setan pun boleh tapi tanggung sendiri resikonya. Saya memihak kepada kebaikan. Namun kebaikan kadang begitu absurd, maka untuk lebih mudahnya, saya memihak orang yang saya anggap deket pada kebaikan tanpa lupa bahwa orang itu tidak mungkin 100% baik. Jadi, dari 6 orang yang ada, Pak Boed lah orang nya. gitu aja kok repot. (eh pas milih Pak Boed ternyata dapat bonus SBY).
  24. From Arie on 16 June 2009 15:58:08 WIB
    @DR. M. Zulkarnain PHD
    seorang PHD bisa langsung memutuskan bahwa PKS (Islam KERAS, FUNDAMENTALIS PRO BIN LADEN), Sad... mana referensinya? Anda telah memfitnah mereka yang benar dengan ilmu dan gelarnya dan saya yakin anda berbohong dengan identitas anda sendiri, True liar...so sad..

    Yang lucu saya baca dari partai demokrat di kompas, kalau komentar JK mengenai SBY dalam soal Aceh itu melanggar etika kenegaraan, bagi saya Wistleblower seperti JK harus diberi penghargaan layaknya mereka yang membocorkan korupsi kolega2 mereka ke KPK. Itulah salah satu bentuk doktrin kemiliteran, shut up or to be shut down.

    Kompetisi lewat record track masa lalu memang penting, sayangnya semua pasangan capres/wapres punya record masa lalu, pasti karena mereka semua pernah di militer. Selama militernya tidak dipucuk pimpinan (presiden), tidak akan terlalu menjadi masalah, sekarang saatnya militer mendukung sipil dengan baik, beri dorongan dan semangat. Anda pernah didoktrin dengan ideologi apa, bila 20 tahun anda berada dalam ideologi itu maka apakah mungkin misalnya seorang yagn puluhan tahun militer dan telah menjadi sipil bisa menghilangkan cara pikirnya dalam sekejap. Militer ya militer dan bisa jadi militant.




  25. From Didit on 16 June 2009 17:50:27 WIB
    Pertama-tama saya sangat salut kepada Pak Wimar atas keberaniannya dalam mengorek informasi dari Pak Rachland!! Sangat berani dan tidak seperti moderator2 acara lain yang menurut saya terlalu 'ramah' tentang isu capres atau cawapres.. Sayang, jam penayangan yang terlalu malam membuat tidak banyak orang menonton acara ini. padahal ini adalah sebuah fakta penting.
    Sekali lagi, saya tidak mengatasnamakan pendukung salah satu calon, namun kepada semua saudara sebangsa marilah kita membuka mata dan telinga kita..
    Saya sendiri mengakui bahwa saya adalah salah satu orang yang lupa dengan fakta tersebut.. Mengenai komentar2 diatas, menurut saya kita seharusnya bersikap objektif dengan tidak buru2 menuduh pak wimar ataupun pak rachland dibayar oleh capres tertentu,, bla..bla..bla.. sudah cukup semua skenario sempit dan sangat non sense tersebut..
    Bagi saya jelas,, kedua orang tersebut tidak akan melakukan hal bodoh dengan membicarakan sesuatu yang tanpa fakta (apalagi di TV) kepada para mantan jendral tersebut. resiko dibredel,, diintimidasi,, ataupun bahkan di'hilangkan' sempat menghinggapi pikiran saya ketika menonton acara ini.. Artinya,, sebaiknya pak rachland dan pak wimar memang memiliki data akurat mengenai hal ini.. Dan kenyataannya, mereka memang memilikinya.... Salut!!!!!!!!!
  26. From jaka on 16 June 2009 23:23:11 WIB
    Kalau menurut saya mah ,pak prabowo dan pak wiranto lebih baik menjelaskan apa adanya kepada rakyat Indonesia dan masyrakat internasional mengenai perbuatan2 yg dituduhkan kepada mereka berdua...Siapa tau seluruh masyarakat bisa menerima penjelasan mereka...

    lagian mereka punya uang banyak sekali untuk bisa membiayai rehabilitasi nama baik mereka...bukan begitu,prens sadayana ?

    Kalau sahaya jadi mereka ,pertama ,saya akan minta sama Pa Wimar untuk jadi bintang tamu dalam acara beliau...Terus minta sama produser acara tersebut untuk ditayangkan pada prime time show.Jam 7 an wib malam deh...biar rahayat Indonesia tahu kabeh apa yg sebenarnya terjadi dalam tragedi mei 98 ,kerusuhan berdarah2 timtim dan aksi2 \"ksatria berdarah\" lainnya (kayak judul komik aja)...

    Kedua ,hubungi CNN channel dan Aljazeera untuk wawancara eksklusif dan disiarkan ke seluruh dunia..biar hakim2 di mahkamah internasional tau duduk perkaranya..

    Tapi... sahaya jadi berpikir ,apakah mereka berani melakukan ide sahaya itu? ahh..emang gue pikirin kata orang jakarte..

    pokoknya mah, sahaya bakalan nyontreng yg relatip ngga ada masalah di dalam dan luar negeri aja dah ..daripada nyontreng yg bakalan bikin malu kita ,rahayat Indonesia...bisa bisa diledekin temen2 bangsa lain di tempat kerja..ooo,who is that guy in jail ?Is he your vice president?...aya aya wae...

  27. From Pecinta SBY Berbudi on 17 June 2009 05:26:11 WIB
    Salut dengan acara Mas Wimar, membuka mata kita agar jangan memilih Calon Pemimpin pelanggar HAM berat. Seperti yang kita ketahui, mereka bertiga dituduh melanggar HAM (baru dituduh loh ya, karena baik Gus Dur,yg mas Wimar ikut didalamnya, Mega maupun SBY sendiri tidak pernah membawa persoalan ini ke Pengadilan, karena takut??), Wiranto kasus TimTim, Prabowo kasus Mei 1998, SBY kasus 27 Juli dan Darurat Sipil di Aceh pada tahun 2003 (yg sama dgn DOM)maka menurut saya lebih berbahaya memilih Capres yg melanggar HAM daripada memilih Cawapres yg melanggar HAM. Setuju khan Mas?
  28. From Sudiding Irsyad on 17 June 2009 10:27:34 WIB
    Salam Om Wimar,
    Menyikapi acara Wimar Live, saya akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa Om Wimar memang sangat berbeda dengan Gus Dur dalam menyikapi persoalan ini. Pertama, Om Wimar mengesampingkan pesan bijak yang mengatakan bahwa "orang bijak adalah orang yang mendengar dengan dua telinga". Kaidah ilmiah tentang perdebatan suatu kasus yang belum atau tidak bisa dibuktikan oleh pengadilan adalah menghadirkan persfektif yg saling berhadapan bukan monopoli satu pihak, apalagi perdebatan itu dilakukan di ruang publik dan menjelang pilpres. Kedua, Gus Dur pernah mengatakan bahwa Beliau mau dibunuh oleh Pak Harto selama 3 kali tapi Beliau maafkan karena keinginan itu bukan disebabkan oleh dendam pribadi tapi karena menjalankan kebijakan negara yang mengutamakan stabiltas. Jadi justifikasi terhadap Pak Wiranto dan Pak Probowo tidak bisa dilakukan sepanjang belum ada pengadilan terhadap Alm Pak Harto sebagai pemegang kendali negara krn Alm Pak Harto. Ketiga, Curigailah orang karena gagasannya bukan karena siapa dia, meskipun track record penting tapi dalam alam demokrasi dan kepercayaan kita pada hukum, gagasanlah yang harus dijual bukan sosok dan tanggujawab kita hanyalah mengawasi dan menanggihnya. Keempat, Menurut J. Habermas bahwa "Kalau ingin mengetahui kebenaran, ujilah dengan kesalahan2". Acara Wimar Live memperlihatkan kalau Om punya interest pribadi tapi buat saya itu tidak menjadi masalah sepanjang Om Wimar mau menutupinya dengan menghadirkan Capres-Cawapres yang Om dukung dan kemudian mempertanyakan hal2 negatif yang dibicarakan orang tentang mereka kepada Capres-Cawapres itu.

    Salam hormat saya Om Wimar.
    Diding
  29. From Harari on 17 June 2009 12:23:58 WIB
    Dari peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM yang serius itu saya berkesimpulan: bahwa yang bersangkutan tidak mempunyai rasa TANGGUNGJAWAB sedikitpun sabagai perwira tinggi. Malahan sebaliknya anakbuah yang melakukan perintah mereka menjadi KORBAN. Bagaimana kelak bila Negara ini diperintah oleh orang-orang yang tak kenal Tanggungjawab?
    Satu hal lagi yang menjadi pertanyaan: Apa gerangan yang mendorong Prabowo pernah beberapa waktu tinggal/tidur di rumah kecil tinggi di atas pohon besar di seberang rumahnya Jl.Cendana sepulangnya dari penyerbuan di Timtim. Aneeeeh!
  30. From Budy on 17 June 2009 12:55:20 WIB
    setahu saya pada saat itu SBY menjabat sebagai KASOSPOL (maaf kalo saya salah), dalam segala tindakan apapun yang masih di dalam 1 kesatuan ABRI/TNI beliau pun harus bertanggung jawab. terlebih lagi WIRANTO yang menjabat sebagai PANGLIMA ABRI pada saat itu. kalo mau bicara seperti itu berarti semua tidak ada yang terpilih.

    Tapi cuma PRABOWO lah yang di anggap bertanggung jawab dalam kasus penculikan dengan tim mawar nya.

    apa kita ga malu punya presiden yang suka nya melempar batu sembunyi tangan, mencari kambing hitam, dan bersifat pengecut ?

    saya salut dengan PRABOWO yang berjiwa besar walaupun di kambing hitam kan oleh kesatuan nya (ABRI).

    MAJU TERUS PANTANG MUNDUR .MEGA-PRO .... KITA INGIN PERUBAHAN EKONOMI
    DAN TETAP SEMANGAT !!!!
  31. From nukuk on 17 June 2009 13:19:51 WIB
    Kenapa setiap baru mau naik menjadi capres atau cawapres kasus tersebut dibahas???

    Bukankah pengadilan militer juga sudah membuktikan bahwa cawapres yang berinisial PS tidak terlibat kejadian 1998..jadi kalo menurut saya ini hanya akal2an salah satu team sukses aja...
  32. From intan on 17 June 2009 16:46:47 WIB
    Bangsa kita ini bangsa 'amnesia'dan tak pernah belajar dari masalalu. Koreksi masalalu tidak pernah ada kok ngomong pengampunan. Prabowo,Wiranto tidak pernah dibawa kemaja hijau. Prabowo hanya dipecat dari jabatannya oleh dewan etik tni, untuk kejahatannya dia tidak pernah diadili. Kalau dia bertanggung jawab harusnya untuk 13 orang yg belum kembali dia harus dibawa kemaeja hijau. Sama halnya Wiranto dia selalu berupaya melindungi dirinya dari upaya hukum. Bagaimana dia pinjam tangan Menhan untuk menolak pemanggilan atas dirinya oleh KOmnas HAM. SBY memang dokumen atas kejahatannya belum ada tapi dia bertanggungjawab atas tidak berjalannya agenda reformasi atas penegakan hukum dan ham serta pengabaian terhadap kasus2 pelanggaran HAM. Kekebalan hukum dan perlindungan hukum untuk jendral2 itu jelas sekali terus menerus dilakukan bangsa kita. KOreksi masa lalu sangat penting untuk menuju bangsa yang beradab dan bermartabat.
  33. From Syihabudin,S.E on 17 June 2009 19:33:08 WIB
    PENJAHAT HAM YANG SAMPAI TERSOROTI OLEH DUNIA INTERNASIONAL ALANGKAH LEBIH BAIKNYA TIDAK MENJADI SALAH SATU PEMIMPIN DI NEGERI INI KARENA SUNGGUH MENYEDIHKAN BILA HAL ITU TERJADI
  34. From abdudiof on 18 June 2009 11:58:52 WIB
    - PENGUMUMAN -

    Saudara sebangsa dan setanah air tidak usah basa basi Mari kita pilih JENDERAL yang:

    1.Reformis
    2.Intelektual
    3.Tidak berantakan kalo ngomong
    4.Sedikit Dosanya
  35. From Chandra on 18 June 2009 16:37:32 WIB
    Aku malu jika punya presiden yang nasibnya sama dengan presiden Sudan yang bakalan jadi pesakitan di Mahkamah Internasional Den Haag. Mau?
  36. From shinta on 18 June 2009 22:45:51 WIB
    Mmmm sepertinya bukan mas prabowo yg bermasalah bagi oom wimar,...oom wimar pintar aje bikin opini seperti ini,...coba kalo Mas Prabowo yg jadi cawapres SBY tentu yang dipermasalahkan pasti lain lagi.

    Ini karena oom wimar gak suka sama megawati karena oom pernah jadi Jubirnya Gusdur tapi dilengserkan oleh DPR dan pencetusnya Amien Rais dan Yusril juga yg menaikkan Gusdur. Sebenarnya jatah presiden taon 1999 itu jatah ibu mega tapi karena Amien dan Yusril yg memang gak suka mega mencari alternatif asal jangan mega.

    Coba SBY-PRABOWO mungkin ceritanya lain, Oom tulisan saya ini dimuat ya?...kalo memang oom seorang yg jujur dan demokratis tolong blak-blakan....

    biarlah mereka bertarung dengan adil sekarang kita sebagai jurinya,...

    salam shinta pencinta Mega, SBY dan JK
  37. From eduard on 22 June 2009 19:34:23 WIB
    Delik Pelangaran HAM .... Laporan Korban Pelangaran HAM .... KOMNAS-HAM.Terjadi kasus Baru Advokasi LSM Ke Komisi HAM....

    KONVENSI HUMAN RIGHT TELAH DI RATIFIKASI OLEH INDONESIA ?

    Hukum ACARA yang mengatur HAM .... RUU Rumusan bersama( BADAN BADAN NEGARA )

  38. From Hanna Aryani on 24 June 2009 09:50:24 WIB
    Setelah membaca ini, saya tak segetol kemarin mengkampanyekan KA Purbaya (SBY-BD).
    Karena mulai timbul keyakinan bahwa pemilu hanya 1 putaran.
  39. From Rizal on 26 June 2009 15:36:35 WIB
    dunia udah kebalik balik, masak orang yang jelas jelas salah
    dan terhukum malah disanjung sanjung, dijadikan calon wakil presiden, orang yang belum terhukum dan belum dibuktikan terhukum malah dibilang pengecut. orang sah sah aja kalo mo komentar, tapi saya kok bingung sama logikanya. Silahkan aja kalo mo pilih jagoan masing masing gak ada yang salah dengan itu, sama halnya saya bingung dengan logika cacat diatas adalah hak saya untuk bingung. :)

    oh ya tentang perubahan ekonomi, lucu ketika orang sedang susah tahun 1998 doi tidak bersedia nongkrong di indonesia, kedengeran juga nggak gaungnya, tapi setelah ekonomi balik lagi ke track semula langsung pulang terus tiba tiba rame petantang petenteng tunjuk sana tunjuk sini. Sepakat bung wimar, orang indonesia emang amnesia, sayangnya dengan iklim demokrasi seperti sekarang justru orang amnesia itu yang menentukan nasib kita semua.
  40. From arthur on 28 June 2009 20:46:01 WIB
    Utk.audry maulana(14),sby pelanggar HAM utk kasus 27 juli,itukan kata permadi,si dukun yg ga pernah benar kalo meramal.Komandan di lapangan waktu itu adalah pangdam,sutiyoso.Anehnya,mega mendukung dia jadi gubernur lagi,ini menyebabkan banyak kader pdip yg sakit hati dan keluar,selanjutnya kita lihat perolehan suara pdip hancur di pemilu 2004. Utk shinta(15) dan siregar(21),perlu anda ketahui,pak rachlan nasidiq adalah pakar HAM yg sdh di akui dunia international,sangat jelas yg dikatakannya,pelanggar HAM berat adalah wiranto dan prabowo,kalau mau ditimbang dosanya,memang wiranto juaranya(kasus mei 98,trisakti,semanggi 1 dan 2,tim-tim).Sebagai tambahan,kita semua tentu sdh maklum,siapa dalang pembunuh munir,dimana dia?tanya deh ke pak Rachlan.Sby mgk ter-srempet juga,paling tdk.,dia tahu dalang peristiwa mei,tapi tidak kuasa utk mencegah,jadi menurut saya,pilihlah yg paling sedikit cacadnya.

« Home