Articles

Rizal Mallarangeng menanggapi isu dari mulai SARA sampai pelanggaran HAM

Wimar Live
30 June 2009

Episode ke-10 Wimar Live di Metro TV yang direkam tadi siang (Selasa, 30 Juni 2009) tidak jadi ditayangkan. Kenapa? Tidak tahu, tapi anda bisa baca sendiri transkripnya disini, dengan tamu Rizal Mallarangeng dari tim sukses SBY-Boediono antara lain menanggapi isu SARA antara Boediono dan Jusuf Kalla, dan memperjelas posisi SBY-Boediono dalam prinsip pluralisme dan pelanggaran HAM.

 

Transkrip oleh Didiet Adiputro

 

Segmen 1

Wimar Witoelar (WW): Selamat Sore!  Ini 'Wimar Live',  dan tanpa terasa beberapa hari lagi kita akan melaksanakan pemilihan presiden. Hanya dua pesan kalau boleh saya kasih pesan. Satu, gunakan hak pilih. Dua, yang kalah jangan ribut dan yang menang jangan sombong. Tamu saya kali ini Rizal Mallarangeng, dia akan bertanggung jawab terhadap kemenangan dan kekalahan ticket nomor dua. Ya saya belum sempat didatangi ticket nomer satu dan tiga jadi nomer dua dulu. Nomer dua ini akhir-akhir ini paling banyak publicitiy-nya dalam bentuk diserang dan dipertanyakan, termasuk anda sendiri bung Rizal,  soal selebaran. So, gimana nih saya kasih equal time, gimana respon anda?  Katanya anda yang menyebarkan selebaran mengenai agama tersebut. 

Rizal Mallarangeng (RM): Sebenarnya keliru kalau kita yang dianggap menyebarkan. Kebetulan pada waktu itu staf saya sedang menonton televisi, berita siang di TV ONE kemudian saya ditelfon. ”Pak, ini di TV muncul kelihatan ada orang menyebarkan isu yang berbau SARA terhadap Ibu Boediono”, bahwa disitu kan ditulis. Kemudian telfon ke staf monitoring, TV kan kita monitor semua, setiap detik kita lihat namanya. Saya bilang “Minta rekamannya segera”, waktu itu saya ada acara dan kemudian saya ke kantor untuk melihat rekamannya. Saya lihat di rekamannya betul, di sebuah kampanye Bapak Jusuf Kalla sebagai kandidat bukan sebagai wakil presiden tapi sebagai kandidat. Di ruangan itu secara fisik ada yang membagi–bagi, kelihatan sekali ada yang bagi- bagi kertas coklat panjang dan dalam kantong plastic. Saya lihat orang ini bebas betul, orang membaca itu dan dia membagi. Disitu kan jelas sekali dalam ruang tertutup. Kemudian saya berpikir apakah mungkin orang ini dibiarkan begitu saja? Kalau anda masuk ruang tertutup tempat wakil presiden berbicara pasti ada pemeriksaan, apalagi ini kampanye pasti timnya juga ikut memeriksa. Tapi kok dibiarkan, makanya saya kemudian bilang waktu itu saya buat konferensi pers bahwa saya ingin mempertanyakan hal ini meminta kejelasan dari Pak Jusuf Kalla sendiri, karena itulah kampanye beliau. Saya tau dan saya berniat baik, saya mengenal Pak Jusuf Kalla rasanya beliau bukan orang seperti itu, tapi mungkin ada stafnya yang keliru, mungkin juga ada orang yang sengaja membiarkan penggunaan isu-isu SARA itu di dalam kampanye yang sah. Apa sih salahnya orang beragma Katolik? Bahwa faktanya Ibu Boediono, ini fakta saja bahwa dia seorang Muslim yang taat, tapi toh kalau seorang Katolik, seorang Budha, seorang Hindu mereka kan sudara-saudara kita juga. Ngapain digunakan isu itu? Tabloid combrengan, tabloid kuning.

WW: Hati–hati nanti dimarahi lagi lho. 

RM: Nggak papa saya siap kok, saya siap disomasi lagi. Memang ini combrengan. Tetapi masyarakat punya tempat sampah, kita tidak perlu lah repot sama tempat sampah, tapi kalau tempat sampah ini masuk ke ruang kampanye seorang wakil presiden, makanya saya sebagai warga negara jangan lupa Pak Jusuf Kalla kan wakil presiden saya, wakil presiden kita. Saya boleh dong berkata pada pak Jusuf Kalla, pak jadilah teladan, katakan siapa yang salah di situ, siapa yang membiarkan isu SARA itu berkembang yang tidak benar, yang merupakan tindak pidana. Cuma disini saya Cuma minta Pak Kalla menjelaskan dan kalau memang ada meminta maaf. Meminta maaf bahwa ini bukan kesalahan saya tapi saya bertanggung jawab dan saya larang anak buah saya untuk melakukan hal serupa di  masa depan, karena ini tidak baik untuk bangsa kita. 

WW: Dan mudah–mudahan isu itu lewat karena tidak produktif ya, semua juga tidak ada niat buruk dan sekali lagi menjadi Katolik itu tidak ada salahnya. Cuma kalau memang bukan kenapa dibilang begitu. Hal lain yang banyak dibicarakan adalah poll yang mengatakan SBY–JK itu akan menang itu bayaran, yang tidak bayaran malahan menunjukan kalau dia itu merosot dalam poll. Apa reaksi anda terhadap itu? 

RM: Sebelum itu saya ingin menanggapi, tadi mas Wimar kan bilang bahwa saya bertanggung jawab untuk memenangkan calon nomer dua. Sebenarnya ini kerja tim mas, ini terutama  bahwa poll-nya itu tinggi saya tidak komentari , bahwa kalau toh itu tinggi kreditnya kepada presiden sendiri yang begitu bagus, begitu santun dan begitu sincere membangun Indonesia, dan juga kepada Pak Boediono yang mendampingi beliau. Banyak orang yang menyangka semula bahwa ini orang tidak ngerti apa-apa tapi ngertinya cuma ekonomi saja, ternyata beliau bisa bicara mengenai jatidiri bangsa, soal kebudayaan, soal persatuan Indonesia dengan begitu baik jadi saya kira itu sebabnya.

WW: Ya, tapi orang bilang menurut anda itu Boediono oke, orang lain lihat dia sekarang sebagai pahlawannya neolib bahkan berani menyalahi keinginan wakil presiden untuk membiayai program listrik untuk rakyat 

RM: Kalau Pak Boediono ini kan, Pak Kalla mengatakan bahwa beliau menggebrak meja lah, begini begitu, itu kan keliru sebenarnya. 

WW: Dia tidak gebrak meja? 

RM: Mungkin dia gebrak meja, tapi kita tidak tahu. Tapi kan intinya waktu itu Pak Boediono sebagai Menko Perekonomian ingin memastikan setiap sen, karena beliau kan bertanggung jawab bersama menteri keuangan. “ini kan uang rakyat jangan macam-macam”. Jadi kalau keluar uang rakyat bukan untuk kepentingan siapapun kecuali kepentingan rakyat. Bukan untuk kepentingan kelompoknya sendiri, atau pengusaha keluarganya  atau jaringan teman-temannya yang ada banyak di Indonesia atau di luar negeri. Kalau beliau berkata kita harus cermat dalam mempelajari apa sih yang mau dikeluarkan?, siapa yang diuntungkan? Itu kan tugas beliau, apakah ada yang gebrak meja atau tidak , Presiden sudah berkata kalau beliau jangan pernah..... menteri-menteri ini kan pembantu presiden bukan pembantu wakil presiden.  

WW: Wakil presiden juga membantu presiden. 

RM: Jadi inilah etika pemerintahan yang sebenarnya kita sama-sama harus jaga. Tidak baik apa yang ada di dalam kabinet sebagai sebuah tim kemudian dipertengkarkan. Ini kan sangat over  

WW: Memamerkan cucian kotor di depan tetangga 

RM: Dengan segala hormat pada Pak Kalla, mungkin niatnya baik tapi alangkah baiknya jika kampanye ini... saya sendiri kan tidak pernah mengkritik kalau tidak merespon sesuatu. 

WW: Dan saya juga tidak pernah memotong orang kecuali break. 

 

 

Segmen 2 

WW: Jawaban Rizal Mallarangeng terhadap pertanyaan saya terhadap SBY untuk orang yang tidak mendukungnya tidak kredibel, karena dia juru bicara. Tapi saya akan tanya saja pertanyaan yang membuat orang gemes. Apa mungkin SBY mendukung pluralisme? Kenyataannya dibiarkan sekian perda bernafaskan syariah, Ahmadiyah tidak dibela secara tuntas, UU Pornografi dibiarkan, pokoknya banyak sekali hal-hal yang dibiarkan berlalu yang menjauhkan Indonesia dari pluralisme. Bagaimana record SBY dalam pluralisme. Apakah nanti akan lebih baik atau tidak? 

RM: Pertanyaan ini memang bagus sekali. Ini seorang Larry King of Indonesia. Memang seorang Presiden kan, beliau ini berdiri ditengah berbagai arusnya Indonesia. Indonesia ini kan plural, begitu bhinneka, banyak hal yang di dalam masyarakat ini saling berbeda. Tugas Presiden adalah mewakili begitu banyak cabang-cabang sungai yang menjadi sungai besar bernama Indonesia. Kadang-kadang beliau harus mengambil kebijakan, dimana beliau harus melihat bahwa prinsipnya kita harus toleran, prinsipnya kita harus saling menghargai. Tapi satu kebijakan harus dikeluarkan untuk sementara. Agar apa prioritas pertama? Kita stabil, kita saling menghargai, yang berikutnya kita susun. Tetapi memang beberapa kasus yang sudah lewat, itu beberapa kaum minoritas berkata bahwa “aduh kita mungkin agak ragu”. Tapi percayalah bahwa Pak SBY dan Pak Boediono, dua-duanya anak orang biasa itu sangat memahami bahwa Indonesia ini kekuatannya justru karena keberagamannya. Bukan kelemahan kita beragam, kita begitu banyak suku, begitu banyak bahasa tapi justru kuat. Nah, inilah kadang-kadang dalam kebijakan konkret seorang pemimpin berhadapan dengan dilemma. Politik itu kan taktik, tetapi strategi kedepan semakin plural, semakin demokratis, semakin terbuka dan semakin sejahtera saya kira itu tujuannya. 

WW: Asal jangan terlalu sering aja berpolitik nanti terus belak–belok  

RM: Jadi ini tugas kita-kita semua lah, tugas mas Wimar, tugas saya sebagai sahabat-sahabat untuk mengingatkan ”Pak, memang politik ini kadang-kadang tidak langsung garis lurus tapi ada koridornya”. Bapak-bapak yang memegang kekuasaan, siapapun bisa Pak Jusuf Kalla, Ibu Megawati , Pak SBY , mereka orang–orang yang terhormat tapi kita beritahu kepada mereka. Saya tim kampanye tapi saya tidak segan- segan untuk mengingatkan nanti misalnya insya allah terpilih bahwa, bapak ini ada koridor saya tahu bahwa politik tidak simple tapi ada koridor yang saya kira kita semua sepakat supaya Indonesia menuju arah yang semakin baik dan semakin baik. 

WW: Sebagai pemain tennis anda mungkin tahu bagaimana orang main set kesatu, set kedua, set ketiga ya. Kalau set kesatu, dan kedua masih bisa tentatif, set ketiga pointnya harus jelas. Jadi apa yang harus diperjelas mengenai point pluralisme disini dan juga keberpihakan pada rakyat. Sebab banyak yang bilang memang berbau Neolib maupun istilahnya saya tidak ngerti. 

RM: Neolib itu neoliberalisme. Ini sebuah istilah dari perkembangan Amerika sebenarnya dimana partai Republikan ada cabang-cabangnya dan yang paling kanan yang paling libertarian itu disebut Neolib. Indonesia kan tidak mungkin Neolib, BUMN kita adalah konglomerasi terbesar ekonomi Indonesia, peran pemerintah sangat aktif, ada kebijakan-keijakan pro rakyat dalam 5 tahun yang amat sangat meningkat. Jangan lupa anggaran kita yang terbesar untuk pendidikan, kedua kesehatan dan pertahanan. Kalau Neolib kan semuanya sangat minimal. Itu kan fakta saja, itu tuduhan yang dipakai untuk menyederhanakan masalah. Orang tidak mau berdebat. 

WW: Kalau Neolib maka peran negara kan minim ya? 

RM: Bukan cuma minim, tapi secara filosofis dihilangkan meskipun secara praktis pasti ada. Tetapi kita kan tidak mungkin pernah hilang , di dalam konstitusi pasti ada. Bahkan seorang Pak Boediono 20 tahun lalu menulis buku bersama Pak Mubyarto berjudul Ekonomi Pancasila. 

WW: Jadi tidak kurang kerakyatannya ya 

RM: Dan buku itu kita terbitkan lagi. 

WW: Orang lain 20 tahun lalu mungkin belum baca buku ekonomi ya? 

RM: Belum pikir soal kerakyatan, tiba-tiba ngomomg tentang kerakyatan.  

WW: Oke mungkin sekarang kesabaran pak SBY itu terpuji. Tapi buat saya dan kawan-kawan itu terkadang gemes. Kita ingin tahu tanggapannya terhadap statement bahwa dia itu tidak bisa kerja, tidak bisa memutuskan, tidak bisa ngapa-ngapain, sementara yang mengerjakan yang bagus-bagus, yang tegas, yang cepat  itu orang lain. Sekarang kalau orang lainnya tidak ada di samping dia bagaimana? 

RM: Memang pak SBY kan tidak suka menonjol-nonjolkan. Misalnya kasus Aceh. Pertama-tama kan Pak Kalla mengklaim bahwa kasus Aceh beliau yang atur. Pertama-tama kan harus dikatakan bahwa perdamaian Aceh adalah jasa dari rakyat Aceh. Merekalah yang pertama-tama paling menderita, paling menanti berharap dan berupaya kalau itu mungkin, rakyat yang menerima dengan tangan terbuka ,iu pertama. Yang kedua kalau peran Pak Kalla cukup baik di dalam perundingan Helsinki. Perundingan Helsinki ini kan sebuah elemen dalam strategi besar yang ditetapkan oleh presiden. Bahwa ini begini, pak Kalla harus begini begitu, saya harus kontrol, saya harus cek tapi you do it (kata presiden). Pak Kalla itu instrumennya Presiden, kadang-kadang memang mungkin bukan Pak Kalla tapi mungkin timnya pak Kalla seolah membalik, seolah-olah Pak Kalla Presidennya yang mengatur semua. Padahal beliau berada di dalam sebuah strategi besar dimana komandan tertingginya namanya Presiden Republik Indonesia. Memang Presiden kita bukan orang yang suka, apalagi menggebrak meja. Beliau sangat santun dan megakui juga kalau Pak Kalla kawan yang baik, wakil presiden yang juga memerankan diberikan peran, belum pernah seorang presiden memberikan ini. 

WW: Iya tiba-tiba seperti MU yang punya Wayne Rooney yang sedikit galak bisa bikin goal. 

RM: Kalau kita lihat dari Amerika. Wakil Presiden yang paling efektif kan Dick Cheney dibawah George W Bush, tapi dia kan tidak pernah ngomong. Kalau banyak ngomong pasti tidak efektif. 

WW: Bagaimana perasaan Presiden di tembak-tembak gitu, atau anda apakah ada keinginan untuk satu saat saya akan jelaskan atau biarkan badai berlalu. 

RM: Kita sabar kecuali menyangkut prinsip dasar bernegara. Seperti isu SARA, kenapa saya ngomong keras dalam hal ini? Karena isu SARA merendahkan teman-teman yang beragama Katolik atau Islam sendiri dalam kampanye resmi. Dia mengikis rasa kebanggaan kita menjadi fondasi Indonesia. Kalau itu disentuh, kita semua bersuara lantang. Tetapi mudah-mudahan hal ini tidak terlalu lama. Sebenarnya yang mengikat kita sebagai bangsa apa sih sebenarnya?  

WW: Ya jelas itu tidak boleh main-main dan itu harus kita ingat, sementara kita harus break dulu untuk kembali dengan Rizal Mallarangeng dan kembali di Wimar Live.

 

 

Segmen 3

WW: Isu yang sedikit dibicarakan adalah isu pelanggaran HAM, walaupun dibicarakan sangat teoritis dan sangat abstrak. Padahal itu concern kita, bagaimana concern kita sekarang bisa punya negara yang tidak korup dan tidak melanggar HAM. Tapi pelanggaran HAM itu nyata, sebab di antara kandidat ada orang yang diperkirakan punya keterlibatan.  Terus orang akan bilang, siapa? Ya, you tahu sendiri! SBY juga dong karena dia tentara dan sebagainya. jadi apa bedanya SBY dengan jenderal-jenderal lain? 

RM: Tapi kan ada pelaku langsung yang kita lihat misalnya apa yang terjadi dengan pak Prabowo. Kita kan harus dalam hal ini harus berterus terang, mungkin kita tidak sepenuhnya benar, tapi saya kira pak Prabowo owes us an explanation. Jadi misalnya Pak Prabowo pernah diberhentikan oleh Pak Wiranto lagi, karena kita semua tahu penculikan mahasiswa. Ada beberapa orang, masih ada yang belum ditemukan sampai sekarang. Ini kan hidup orang, satu orang saja manusia Indonesia kita harus hargai. Apalagi beberapa orang. Pak Prabowo ini diberhentikan dari militer karirnya yang semula cemerlang karena ini. jadi kalau saya pernah baca bahwa itu demi bangsa atau apa. Saya tidak tahu, mana ada pendculikan demi bangsa? Jadi kita harus menjelaskan pada masyarakat, kalau mau pilih silahkan tapi kita harus beri complete information, bahwa si tokoh ini Jenderal Prabowo pernah diberhentikan dari militer karena kasus penculikan mahasiswa dan tokoh-tokoh aktivis. Kalau masyarakat masih mau memilih ya silahkan bahwa tugas kita memberi tahu bahwa Pak Prabowo misalnya yang mengatakan ekonomi kerakyatan lebih baik uangnya untuk beriklan tentang nelayan, tentang buruh, tentang macam-macam ketimbang langsung membantu. Ini kan menggunakan nelayan, menggunakan petani untuk kepentingan politiknya saja. Tergantung rakyat apakah kalau tetap mau memilih orang yang seperti ini. 

WW: Tapi kalau anda sebagai pihak yang ada di depan menunjukan kesalahan-kesalahan saingan tidak takut kalau dia kalah nanti ngamuk? 

RM: Saya tidak punya ketakutan apapun kalau membela sebuah prinsip yang benar bagi Indonesia pak Wimar. Saya dari kecil ayah saya sudah meninggal, ayah saya meninggal ini dalam pekerjaannya, dalam baktinya sebagai walikota Pare-Pare. Usianya sangat muda 36 tahun.jadi saya dalam hidup saya selalu dikatakan oleh ibu saya, bahwa kalau kamu benar kamu tidak boleh takut pada apapun. Jadi saya anggap dengan bertanya ke Pak Prabowo, pada Pak Wiranto juga. Pada saat beliau Pangab kan Indonesia kacaunya minta ampun.  

WW: Sekarang beralih ke Pak Wiranto. Pak Wiranto kelihatannya orangnya baik-baik sekali, lembut , banyak nyanyi, dsb. 

RM: Kalau kita lihat track recordnya jangan sembunyikan bahwa ketika beliau menjadi Pangab, Indonesia ini hancur-hancuran keamanannya. 

WW: Kan dia bilang hanya disuruh Presiden sebagai pelaksana yang baik. 

RM: Itu kata dia, Presiden kan sudah meninggal masa kita ungkat – ungkit siapa yang tahu lagi? Tetapi fakta bahwa dia bertanggung jawab pada keamanan, dia Pangab lo,Pangab! Jakarta ricuh, Timor timur berdarah, segala macam berdarah. Kalau Pak Wiranto sebagai Pangab gagal kok mau jadi wakil Presiden. Kenapa tidak, mengalah saja pada generasi yang lebih muda, saya berbaikti pada negara, saya berkorban, nggak mau jadi wapres, saya nggak mau jadi tokoh politik, silahkan saya dukung dari belakang , saya tahu saya pernah keliru dalam memimpin Indonesia. Kan kita justru sayang pada Pak Wiranto kalau dia mengatakan itu. Tapi sekarang semua record itu ditutup, seolah –olah waktu beliau Pangab dia gilang gemilang. Padahal Indonesia sangat tidak aman, dia penanggung jawab tertinggi keamanan. 

WW: Kalau cawapres yang satu Boediono tidak terlibat pelanggaran HAM? 

RM: Tidak ada satupun, Pak Boediono ini dalam track recordnya dari bawah, dari anak yang sederhana. Saya bertemu gurunya di Blitar 

WW: Yang Muhamadiyah itu?

RM: Ada yang Muhamadiyah ada yang SMAN Blitar. Saya tanya, dia bilang ”Mas, sejak dulu Pak Boediono tidak pernah neko-neko, orang tuanya sangat amat sederhana, sampai tidak punya tas Pak Boediono ke sekolah”. Bukunya itu dikelempit di kantongnya, tapi saya tanya ” Eh, nilainya berapa?” dulu 9 terus. 

WW: Kalau pinter barangkali Neolib barangkali, karena bisa berkomunikasi dengan orang yang bodoh gitu. Sekarang orang pinter biasanya dicap neolib kan? 

RM: Pak Boediono ini saya sering menggoda, Pak Boediono ini kalau pinter mungkin banyak orang yang sama pinter ,tapi Pak Boediono lebih beruntung.You can’t beat the lucky guy.  

WW: Pak Rizal, Indonesia ini milik orang pintar dan orang bodoh juga ya, jadi jika nanti yang dikalahkan termasuk orang bodoh juga, bagaimana merangkul mereka agar mau tetap menjadi bagian dari mosaik yang bernama Indonesia. 

RM: Ini kan sebenarnya bukan kalah dan menang. Pasti saya kalau diberi kesempatan akan datang ke Pak Kalla untuk beri selamat, saya akan datang ke Pak Wiranto untuk memberi selamat, saya akan datang kepada ibu Mega untuk beri selamat, saya bahkan akan datang ke Pak Prabowo untuk beri selamat. They did a good job di dalam usaha masing-masing. Kita tidak boleh tidak jujur kepada masyarakat, apa yang terjadi di masa lampau adalah basis kita kedepan. Kalau Prabowo bisnya menutup-nutupi pernah terlibat dalam sebuah kasus yang melanggar HAM. Atau dianggap terlibat, itu kan kebohongan publik. 

WW: Saya kira mereka Pak Wiranto, Pak Prabowo bisa mengakhiri suatu masa dalam hidupnya dengan baik. Karena dia menunjukan sportifitas dan masyaraktat menilai dan mereka tetap menjadi warga Indonesia yang baik. 

RM: Saya waktu kecil kan olahragawan. Kalau olahragawan itu prinsipnya satu, kalau bertarung sejauh-jauhnya, sekuat-kuatnya begitu selesai salaman.  

WW: Tapi ada juga pemain tennis yang kalau kalah banting raket. Apa anda yakin walau bagaimana pun Pilpres ini akan berahir dengan damai, tidak seperti di Iran dsb.  

RM: 5 tahun lalu banyak orang menganggap, itu kan pemilu presiden langsung, banyak orang menganggap kalau Indonesia akan kacau, ternyata tidak. Dan majalah Economist cover storynya ”Indonesia Shining”. Saya kira sekali lagi Indonesia akan menjadi contoh bagi banyak negara yang lain, tetangga kita kan banyak yang demokratis kemudian jadi kacau. Kita akan menjadi contoh buat mereka, dan begitu banyak negara lain bahwa Indonesia adalah sangat besar, sangat plural tapi kita bisa maju dan lebih baik lagi dalam demokrasi. 

WW: Karena dulu kacau sekarang jadi damai. Pandangan anda terhadap perlakuan media diluar Metro TV ya, terhadap kampanye ini, apakah itu lebih banyak positifnya? 

RM: Media kita sedang belajar menggunakan kebebasan mereka, sehingga kita respek terhadap posisi masing-masing media. Kebebasan pers yang netral sepenuhnya itu kan sebuah ilusi, orang boleh berpihak. Semua wartawan manusia biasa. Tetapi kita berikan kesempatan yang sama pada piihak yang lain. 

WW: Oke. Terimakasih, dan hanya dua hal. Yang pertama, jangan lupa memilih, yang kedua yang kalah jangan ribut. Wimar Live.

Print article only

38 Comments:

  1. From Anthony Fajri on 01 July 2009 01:21:58 WIB
    Kok gak ditayangkan ya?
  2. From Hamim on 01 July 2009 02:25:10 WIB
    Kenapa Metro tidak jadi menyiarkan ?

    Barangkali Metro tidak menyiarkan karena Pra dan Wir akan marah , terutama terhadap segmen ke 3, dimaba mereka tidak muncul terlalu favourable.
    Tetapi kan memang begitu, kan ?

    Tetapi kenapa tidak diedit/dihilangkan saja ? Barangkali mereka karena takut Malarangreng bikin buntut, sedabgkan pihak sanapun sudah ngancamL: hati hati, lu !"

    Anyway, terima kasih kepada PO untuk memberi tahu kita. Wawancara ini sangat penting: terutama yang memunculkan apa yang menyebabkan SBY kurang berani muncul membela minoritas, ialah pemeluk agama yang tidak cocok dengan minoritas lain.

    Mayoritas kan seperti kita kita iniL toleran terhadap pendapat dan cara cara orang lain, asal tidak mengganggu kita.
  3. From adi iman on 01 July 2009 04:18:39 WIB
    verbal, dan langsung menusuk jantung!
    saya jadi tau kenapa tidak ditayangkan...
  4. From Ahmad Mughni on 01 July 2009 06:20:30 WIB
    kok pertanyaan bung WW gak tajam ya ? apa terkait dengan endorsement bung WW pada pasangan SBY-Boediono ?
  5. From wimar on 01 July 2009 07:09:55 WIB
    Bapak Ahmad Mughi itu lebih senang perhatikan saya daripada Capres? Bentuk pendapat sendiri, ga usah nanggapin pendapat orang Pak. Yang penting Bapak memilih ya... gak ada yang ngatur suara Bapak :)
  6. From reza on 01 July 2009 09:37:01 WIB
    ea memag kata orang yang terhina akan menjadi yang paling mulia

    http://puskel.blogspot.com/
  7. From Sunu Gunarto on 01 July 2009 09:49:15 WIB
    kalau saya sih ....anggap wajar kalau episod ini tidak ditayangkan.....karena akan menguntungkan pihak SBY-Boediono,
    sementara kita tahu boss Metro-tv kan pendukung JK-Wir.......
  8. From Felix on 01 July 2009 10:51:32 WIB
    Iya aneh mengapa yah tidak ditayangkan Metro TV ? Apa telah terjadi pencekalan ? Saya sudah tunggu2 yg muncul malah Metro Files tentang DI/TII
  9. From win on 01 July 2009 13:52:57 WIB
    Pantes aja ngga disiarkan...ngga aneh lha isinya ginian sih barangkali harus cari narasumber yang bukan tim sukses langsung Pak ( walaupun rasanya tahu siapa yang didukung WW)
  10. From Ricky on 01 July 2009 14:39:21 WIB
    Pers itu harusnya netral dlm segala hal, terutama dalam Pilpres ini.
  11. From Arie on 01 July 2009 21:06:13 WIB
    Metro gimana neh..? Asli hardtalk, ga ada pilihan but to spit it out! Tapi mungkin ada baiknya juga Metro ga tnayangin, sebenarnya I expect more relieving answers from RM, tapi akhirnya freestyle judo juga, mudah2an para pemain pemilu tidak pada berakhir di ICU.

    pesen saya jaga kesehatan batin aja deh buat para kandidat... kayaknya yang masih khusyu cuma JK deh, ga pernah keliatan stress.. senyum terus!
  12. From arofik on 01 July 2009 21:57:54 WIB

    Dari berbagai polling SBY-BOEDIONO tampaknya yg paling berpeluang, maka tak heran 3 Malaranggeng bersaudara habis2an memihak pasangan no2..ujung2nya adalah duit dan kekuasaan...

    Saya sendiri pernah mendengar dari salah satu tim sukses salah satu guberbur yg baru terpilih bahwa Andi Malarangeng telah menyalahgunakan jabatannya dengan meminta setoran sebesar 175juta agar surat pengesahan Gubernur yg akan ditanda tangani presiden cepat selesai...

    Di alam demokrasi ini, kalau Rizal M bisa menuduh, saya juga berhak menyampaikan apa yg saya dengar...

  13. From Chandra on 01 July 2009 21:59:11 WIB
    No wonder lah...kalau tidak ditayangkan. Rizal memang begitu sering terlalu vulgar dan karenanya counter productive. Sorry to say, adalah salah menunjuk tipe orang seperti ini untuk jadi tim sukses. Dalam beberapa kesempatan saya melihat ybs mengeluarkan kata2 yang kurang santun seperti comberan dll. Itu gak SBY banget.Itu tidak baik mas Rizal. Perlu mempertimbangkan voters behavior yang kurang suka dengan sikap yang begitu. Satu lagi, KPU jangan terlalu bikin rambu2 kampanye terlalu banyak, seperti melarang isu SARA. Biarin aja orang bikin isu sara - seperti Obama "dituduh" Islam oleh orang2 yang tdk. suka. Toh, pembuat isu itu sendiri akan menuai akibat yang negatif.
  14. From Albert on 02 July 2009 02:19:51 WIB
    Tajam yah interviewnya.. mungkin tidak ditayangkan karena dianggap tidak netral, etc etc.. bisa jadi bos metro sendiri intervensi, who knows.

    Mengenai masalah pluralisme, memang benar masih banyak kami yang minoritas masih "ragu-ragu", termasuk saya. Kalau my parents sih sudah jelas, mereka commit mega-pro, katanya mending balik orba daripada syariah. Tapi saya juga seram kalau tiba-tiba kita mengangkat Chavez Indonesia.. mulutnya aduhai.

    Saya masih ragu.. aaaaaargh!
  15. From febs on 02 July 2009 08:30:58 WIB
    setuju dg chandra #13

    tambahan
    pemilik metro tv jurnalis asli berbeda dgn statiun tv lainnya dan juga pendukung JK, so kl ditunda atau tdk ditayangkan sy melihat sbg suatu kewajaran. Buat sy yg penting Wimar Live msh jalan krn stlh pilpres msh byk isu yg bisa diangkat tanpa menggunakan kata2 yg kasar.
    tks
  16. From raja satya on 02 July 2009 09:36:45 WIB
    Soal isu pelanggaran HAM, jangan dilihat dari satu "perspektif" saja. Ada perspektif lain, misal "garis komando" dalam sistem ketentaraan, dll. yang Anda semua sudah tahu.

    Soal kata RM: "Saya tidak tahu, mana ada penculikan demi bangsa?"
    Itulah, jangan sampai "tujuan menghalalkan cara", ini mengerikan. Mungkin tujuannya mulia, tapi caranya harus mulia juga.
  17. From Siktus Harson on 02 July 2009 10:21:52 WIB
    Enak sekali baca verbatim ini. lugas, jelas, dan ada nuansa kejujuran di sana.

    saya berpikir begini...

    meskipun Bung Rizal agak emosional menanggapi selebaran SARA, saya pikir itu wajar saja. siapa tidak marah kalau menyebarkan kabar bohong tentang keluarga saya, orang yang saya cintai, orang yang saya kagumi? Dalam hal ini, apalagi untuk menjatuhkan duet SBY-Boediono.

    isu ini memang mungkin tidak mempan karena sebagian besar warga Indonesia sudah berpikir lebih maju daripada kaum fundamentalis.

    Namun, saya kira poin yang dibuat Bung Rizal bukan saja karena tim sukes SBY-Boediono, tapi isu yang lebih besar adalah kenapa orang Katholik/Kristen atau non Muslim masih tetap saja didiskreditkan di negara kita?

    Saya kira salah satu faktor yang membuat Metro TV tidak menayangkan (menunda) ini adalah karena isu ini seperti dinamit yang siap meledak; atau juga mungkin karena memang bos Metro adalah orang Golkar??

    Saya masih tetap mendukung KPU yang tetap melarang menggunakan isu SARA dalam setiap kampanye. karena ini saya pikir sebuah refleksi perjalanan sejarah bangsa di mana isu suku, agama, ras, telah menjadi senjata yang memecah belah persatuan.

    salut buat Pak Wimar. maju terus
  18. From masklowo on 02 July 2009 12:09:23 WIB
    apa yang dicari dari politik kan tetap kekuasaan.
    kita liat aja sisa orde baru (masih) bisa jadi oposisi jika sby menang
  19. From ali on 02 July 2009 15:42:00 WIB
    kenyataan di lapangan saya banyak melihat dan juga mengalami masa pemerintahan selama lima tahun ini, dana bos untuk pendidikan banyak yang tidak sampai ke siswa, jaminan kesehatan pun demikian, pemerintahan dalam negeri cukup amburadul saya bikin ktp harus merogoh 150.000 untuk 1 orang yang dulu cukup 50.000 ( di Riau ). subsidi minyak goreng hanya untuk pengusaha tidak sampai ke pembeli akhir, beras miskin bukan untuk rakyat miskin danmasih banyak lagi yang lainnya... saya rasa kita coba pilihan no 3, jelas subsidi yang diberikan pelaksanaanya cukup teledor. kpu amburadul. apakah pemerintah akan mengambil kebijakan akan hal ini ?
  20. From Wildan on 02 July 2009 23:34:19 WIB
    Kang WW, masih kekhwatiran saya bertambah usai pilpress nanti dari hasil acara debat Capress malam ini pada bagian akhir, dimana saat moderator bertanya pada masing masing : apa yang akan dilakukan apabila masing masing capres ada yang tidak menang dalam pilpress nant, dari ketiga kandidat itu hanya satu yang menjawab bahwa dia akan memberi selamat pada pemenang sementara dua capres lainnya tidak memberi statement tsb.....so...ini kekhwatiran saya usai pilpres nanti.....mudah mudahn saya kembali salah dalam perasaan ini....
  21. From Felix on 02 July 2009 23:46:04 WIB
    @Albert,

    kalau Mega memang saya tidak meragukan komitmen beliau akan pluralitas, tapi Pro nya itu yg saya tidak jamin...

    Kalau mau balik ke orde baru dgn nuansa syariah.. pilih JK-WIN :)
  22. From Felix on 03 July 2009 00:00:59 WIB
    @Wildan,

    saya juga merasakan ke khawatiran yg sama... seperti nya yg siap kalah cuma capres no. 2. Takut nya jika pilpres ini ternyata benar berlangsung satu putaran dan yg menang adalah capres no. 2 yg siap kalah ini, wah apa yg akan di lakukan oleh kedua capres yg lain, apa mau bikin ribut ? Apalagi dari track record nya cawapres2 mereka sudah ketahuan bahwa utk urusan bikin ribut ini mereka lah ahli nya.

    Jadi kelihatannya khusyu itu tidak menjamin batin nya tenang yah, bisa saja yg kelihatan khusyu itu ternyata lebih ketar ketir dari yg lain, atau malah sudah menyiapkan plan B should he didn't win the presidential race.
  23. From Mundhori on 03 July 2009 09:52:51 WIB
    Sayang tak disiarkan di tv. Sebenarnya wawancara kampanye yang bagus. Menggali kejujuran, memancing emosi, meneropong isu. Namun benar pula riskan. Tapi sebagai menguak karakter calon pemimpin nasional, mestinya tak perlu dikawatirkan. Atau mungkin WW yang ketakutan. Kalau RM ngaku tak takut. Namun mungkin pula tv nya takut kena semprit KPI. Mubazirlah
  24. From wimar on 03 July 2009 10:00:53 WIB
    @Mundhori bagus komentarnya tapi agak aneh ya...

    WW yang mewawancarai, masak WW yang membreidel? mikir dong. apalagi WW pasang transkrip lengkap disini...

    yang menentukan acara tv ditayangkan atau tidak itu siapa? ... pemilik stasion tv kan ... jadi yang takut siapa?

    coba mikir 10 menit terus kirim jawaban hehe
  25. From Muhammad Samsir on 03 July 2009 10:10:28 WIB
    dari cara nanya-nya, bung Wimar ini gak terlalu pintar2 amat ya...?
    nanya-nya tendensius sih, ketemu ma Rizal yg penjual kecap itu... ya pantes aja gak di siarin.
    gak mutu sama sekali!!!
  26. From Muhammad Samsir on 03 July 2009 10:10:47 WIB
    dari cara nanya-nya, bung Wimar ini gak terlalu pintar2 amat ya...?
    nanya-nya tendensius sih, ketemu ma Rizal yg penjual kecap itu... ya pantes aja gak di siarin.
    gak mutu sama sekali!!!
  27. From Chandra on 03 July 2009 14:50:18 WIB
    Masih tentang Malarangeng Brothers. Aku pikir2 lama2 kok rasanya the Malarangengs ini jadi liability buat SBY, apalagi setelah Andi bikin blunder di Makassar. Walaupun Andi tidak secara eksplisit mengatakan apa yang dituduhkan orang, tapi sebagai jubir Presiden dia tdk boleh membuat statement yang bisa dibelokkan untuk menusuk dia. He should learn a lot from WW on PR-101 Mendingan mereka di istirahatkan dulu. Kalau tidak, bisa2 SBY elektebilitasnya meluncur turun lagi.
  28. From Rizal on 03 July 2009 16:55:36 WIB
    @felix & @albert kok jadi bawa2 syariah? kan topiknya bukan itu.... Lagipula kenapa takut, wong UU-nya (kalau ada) tidak "mengusik" anda? Bukannya adanya UU Syariah memberikan bukti bahwa kita itu plural?
  29. From TOMY on 03 July 2009 20:14:54 WIB
    Salut buat teman2 sangat kritis,tapi tuk Pilpres nya yg realistis saja Y,kt gw sih yg realistis is no 2 yg lain stop dreaming.
  30. From wimar on 04 July 2009 06:45:47 WIB
    dalam dua masalah yang dihebohkan - Rizal soal selebaran Monitor dan Andi Alfian soal pidato di Makassar - dua bersaudara Mallarangeng tidak bersalah. Titik.

    Kalau tanya kenapa, pelajari lagi faktanya.
    Kalau anda punya pendapat lain, silakan pertahankan, ini negara merdeka.

    Kalau tidak setuju dengan saya, tidak perlu marah-marah. Berikanlah suara anda tanggal 8 Mei, kita selesaikan di Pilpres dan dengan semangat kerakyatan, lanjutkan urusan kita, lebih cepat lebih baik.

    Yang kalah jangan ribut, yang menang jangan sombong
  31. From Sunu Gunarto on 04 July 2009 09:31:01 WIB
    @Felix #22
    Gak perlu khawatirlah, kita sudah terlalu capai.......untuk ribut. Rakyat sudah makin pintar, dan pengalaman menunjukkan 2 kali pemilu terakhir kita aman-aman saja. Kalau toh dulu sering ribut mungkin memang senganja dibuat dengan tujuan untuk melanggengkan kekuasaan (?). Mari kita berpikir positif saja, bahwa pilpres 8 Juli 2009 nanti akan berjalan tertib- aman-terkendali....... Yang menang tidak sombong, yang kalah tidak merusak. # Menang ora umuk, kalah ora ngamuk #. Hayo...sukseskan pilpres 8 Juli.............................
  32. From Felix on 04 July 2009 10:33:28 WIB
    @Pak Rizal,

    Tidak berniat membawa isue SARA, tapi kenyataan nya kata 'Syariah' adalah momok bagi mereka yg non Muslim di negeri ini (dan mungkin juga bagi sebagian yg Muslim juga).

    kalau memang ini adalah ranah pribadi yg tidak akan masuk ke dalam ruang publik, misal nya UU perbankan Syariah yg setiap org tidak perduli agama dan keyakinan nya bebas utk memilih nya atau utk tidak memilih nya, maka mungkin menjadi tugas anda2 yg mendukung UU Syariah utk menjelaskan nya secara detail kepada kita semua. Karena kata pepatah: "Kalau tidak kenal maka tidak akan sayang"

    Betul kan pak ? :)
  33. From Felix on 04 July 2009 10:38:32 WIB
    Saya setuju sekali dgn pak Wimar, tidak ada yg salah dgn Andi dan Rizal. Indonesia Monitor memang koran sampah, mau diapain lagi, bukti nya memang begitu kok.

    Sedangkan utk kasus Andi, tadi nya saya sempat kaget juga baca headline yg "heboh" tersebut. Tapi setelah saya dengar pidato nya langsung di TV One, saya langsung bilang hebat sekali Spin Doctor nya kubu JK-WIN. Mereka sepertinya sudah masuk ke dalam fasa desparate, segala cara pun di halalkan nya.

    Mungkin pak Wimar, bisa memuat transkrip lengkap pidato nya pak Andi Alfian di sini, biar semua org bisa lebih jelas mengerti duduk persoalaan nya.
  34. From jaka on 05 July 2009 07:06:34 WIB
    Prens sadayana, dalam demokrasi mah setiap orang boleh berpendapat atuh...

    Orang yg tau dan mengerti banyak tentang peta politik Indonesia pasti punya pendapat yg pantes untuk didengerin oleh kita2...

    Kalau soal cara dan gaya penyampaian mah pasti berbeda untuk masing2 orang atuh...sebenernya kita2 ini beruntung bisa denger pendapat orang yg ekstrovert seperti Rizal M ,sehingga paling sedikit kita jadi tau lah model capres2 dan wapres2 yg lagi bertanding sekarang...daripada kita buta sama sekali mengenai mereka...

    Sayang sekali pemilik metro tv ngga mau menayangkan wawancara tersebut ya...tapi itulah demokrasi, dia berhak juga untuk berpendapat bahwa betapa akan merepotkan posisinya kalau wawancara ini ditayangkan...

    Prens sadayana, paling afdol mah pilih aja capres/cawapres yg ngga banyak masalah dan udah tau hasil kerjanya...kalau ada kesalahan sedikit2 mah wajar wae atuh ,namanya juga manusia biasa...orang jauh bilang ,that's not big deal,bro...
  35. From Mundhori on 06 July 2009 10:03:03 WIB
    Pro P WW. Maaf baru kali ini lihat dan lalu jawab. Setiap detik terjadi perkembangan. Bisa pula pada psikologis seseorang. Dan perkembangan itu mungkin dinilai merupakan acncaman. Ini dugaan saja. Kalau p WW tidak takut siarkan, saya peprcaya saja. Betul pula statmen anda. Masa yg wawancara, yg niat tidak siarankan. Yaa bravo aja. Saya selalu dukung anda.
  36. From firman on 06 July 2009 22:57:41 WIB
    saya sepakat kalau negarawan atau tokoh2 yang ada di negeri ini harus menjadi teladan bagi masyarakat.
  37. From rafi on 07 July 2009 00:23:28 WIB
    celi kok suci banget ya. di mata boediono sebenarnya dia ga dianggap. boediono lebih hormat kepada anis baswedan...
  38. From shinta on 07 July 2009 01:06:44 WIB
    SBY telah digigit nyamuk Mallarianggeng sehingga tubuhnya witoelar (tertular) penyakit yang begitu serius makanya SBY mencari daerah yang anas (panas) dan urbaningrum ke daerah plosok dan meminta suktik DPT-DPT supaya badannya dan suaranya menjadi tinggi.

    Jentik-jentik nyamuk Mallarianggeng mengincar daerah-daerah yang subur,...

    SBY oh..nikmat...

« Home