Articles

Private Business

AREA magazine
16 November 2009

oleh: Wimar Witoelar

Anak kecil dalam lingkungan Amerika-Inggris dibiasakan menggunakan istilah 'private business' kalau mau ke kamar kecil. Kalau buang air kecil disebut little business, buang air besar disebut big business. Orang barat sangat malu-malu membicarakan fungsi-fungsi pribadi, mungkin merasa hal yang sangat pribadi kurang nyaman untuk dibahas. Maunya jangan disebut-sebut. Padahal ini hal yang menguasai hidup orang tanpa kecuali, dari mulai anak kecil sampai dewasa, dari miskin sampai kaya, dari artis sampai pejabat..

Dalam bahasa Inggris banyak istilah dengan arti yang sama:  bath, lavatory, powder room, restroom, toilet, washroom, water closet, comfort station, commode, head, john, latrine, little boy's room, little girl's room, outhouse, potty, privy, women's room, men's room. Dalam bahasa Indonesia tidak banyak, mungkin karena kita tidak  merasa harus menyembunyikan dibalik istilah macam-macam, hal yang diperlukan semua orang.

Di negara barat istilah untuk kamar kecil itu banyak, tapi kamar kecilnya sendiri susah dicari. Apalagi di Eropah, di kota modern yang memegang budaya tradisional seperti Groningen di negeri Belanda, mencari WC umum itu susah, apalagi di luar jam kerja. Di alun-alun  yang bernama Grote Markt, ada toilet umum dibawah tanah, canggih tapi baru buka jam 10 pagi. Sedangkan warga kota senang pergi minum-minum kalau weekend, dimana minum-minum itu membuat orang ingin ke belakang. Tidak jadi soal kalau mereka masih berada di kafe atau night club dimana tersedia kamar kecil. Tapi dalam perjalanan pulang dimana rata-rata orang jalan kaki atau naik sepeda, terbayang repotnya kalau ada panggilan alam. Bisa kejar-kejaran sama polisi yang tidak senang orang mabuk-mabukan sambil teriak-teriak, apalagi buang air di sembarang tempat.

 

Di Jakarta, orang tidak terlalu tertutup soal pembuangan air. Cari toilet umum gampang-gampang susah. Kalau kita  cuek, dimanapun bisa, terutama  kaum pria. Malah dulu saya lihat pemain bola buang air kecil di tengah lapangan permainan, tapi wasit tidak memberi kartu kuning. Sambil jongkok, jadi mungkin nggak mengganggu penonton. Tapi dalam dunia modern, di pusat kota agak susah. Kalau kaum neolib tidak masalah, sebab biasanya kegiatannya di lobby hotel bintang lima, kamar kecil ada di setiap lantai dan sangat nyaman. Rakyat kebanyakan bisa menggunakan toilet umum di pasar-pasar atau di pos polisi, bayar Rp 500 atau Rp 1000. Aneh juga, toilet yang sederhana harus bayar, sedangkan toilet yang biaya pembuatannya ratusan juta malah gratis. Tidak perlu juga kita menginap di hotel itu, orang yang sedang duduk disitu bebas memakai. Bahkan yang sedang lewat pun bisa mampir sebentar dan menggunakan fasilitasnya asal; berpenampilan percaya diri. Di Jakarta ada macam-macam toilet tapi belum ada yang otomatis.

 

Di Groningen ada satu toilet otomatis, setahu saya. Ada urinoir yang muncul dari bawah tanah setelah jam 10 malam, tapi saya tidak pernah lihat karena tidak pernah keluar sampai malam sekali. Di kota besar lain banyak, apalagi di kota negara teknologi seperti Berlin. Design toilet ini kira-kira sama. Bangunan dari logam yang tidak jelas peruntukannya, menyediakan satu tempat untuk memasukkan koin satu Euro. Begitu uang masuk, bangunan itu seperti hidup. Bunyi macam-macam dan membuka pintu. Seakan-akan terhipnotis, kita melangkah masuk. Sederhana, tapi pertama kali saya melihat alat ini di Berlin, saya terbengong-bengong mencari pintu masuk. Datang seorang penduduk asli yang tidak sabar melihat orang asing gaptek memperlambat kebutuhannya masuk toilet umum. Karena warga disana disiplin, ia menunggu, walaupun sambil ngomel dan menyuruh saya baca papan petunjuk pemakaian disebelahnya. Ada dalam bahasa Jerman, Inggris, Perancis dan Turki, berhubung di kota itu banyak imigran. Melihat saya lama baca teks bahasa Inggris, dia membentak: “Itu bahasa Inggris, kamu nggak ngerti. Baca bahasa kamu sendiri!!” sambil menunjuk ke bagian bahasa Turki. Karena takut, saya pura-pura membaca walaupun tidak mengerti sama sekali bahasanya, walaupun wajah saya mungkin dianggap wajah Turki.

 

Dengan memperhatikan gambar-gambar, saya bisa mengerti cara operasi masuk dengan koin, tapi yang lainnya tidak jelas. Masuk saja dulu supaya tidak ditungguin orang yang tidak sabar itu. Didalamnya semua menarik, bersih tidak ada cela sedikitpun., Semua dari kaca dan logam dan sangat bersih. Heran juga bisa bersih begitu, siapa yang sempat bersihkan? 

 

Sebelum mulai melakukan apa yang mau dilakukan, saya coba mengamati alat-alat, tekan kenop sana sini. Tahu-tahu sekonyong-konyong terjadi serangkaian aksi. Bunyi mesin menderu, toilet dibilas otomatis, terus diangkat dan masuk ke dinding sementara air menyemprot ke sekitar toilet itu sampai bersih. Sambil saya melihat tercengang, kemudian pintu terbuka lebar. Saya lihat orang tadi masih menunggu. Karena tidak mau bikin gara-gara, saya melangkah keluar dengan tenang seakan-akan sudah selesai urusan.  Begitu orang itu masuk , saya bergegas lari ke hotel masuk kamar dan menggunakan toilet pribadi.

PRIVATE BUSINESS

Anak kecil dalam lingkungan Amerika-Inggris dibiasakan menggunakan istilah 'private business' kalau mau ke kamar kecil. Kalau buang air kecil disebut little business, buang air besar disebut big business. Orang barat sangat malu-malu membicarakan fungsi-fungsi pribadi, mungkin merasa hal yang sangat pribadi kurang nyaman untuk dibahas. Maunya jangan disebut-sebut. Padahal ini hal yang menguasai hidup orang tanpa kecuali, dari mulai anak kecil sampai dewasa, dari miskin sampai kaya, dari artis sampai pejabat..

Dalam bahasa Inggris banyak istilah dengan arti yang sama:  bath, lavatory, powder room, restroom, toilet, washroom, water closet, comfort station, commode, head, john, latrine, little boy's room, little girl's room, outhouse, potty, privy, women's room, men's room. Dalam bahasa Indonesia tidak banyak, mungkin karena kita tidak  merasa harus menyembunyikan dibalik istilah macam-macam, hal yang diperlukan semua orang.

Di negara barat istilah untuk kamar kecil itu banyak, tapi kamar kecilnya sendiri susah dicari. Apalagi di Eropah, di kota modern yang memegang budaya tradisional seperti Groningen di negeri Belanda, mencari WC umum itu susah, apalagi di luar jam kerja. Di alun-alun  yang bernama Grote Markt, ada toilet umum dibawah tanah, canggih tapi baru buka jam 10 pagi. Sedangkan warga kota senang pergi minum-minum kalau weekend, dimana minum-minum itu membuat orang ingin ke belakang. Tidak jadi soal kalau mereka masih berada di kafe atau night club dimana tersedia kamar kecil. Tapi dalam perjalanan pulang dimana rata-rata orang jalan kaki atau naik sepeda, terbayang repotnya kalau ada panggilan alam. Bisa kejar-kejaran sama polisi yang tidak senang orang mabuk-mabukan sambil teriak-teriak, apalagi buang air di sembarang tempat.

 

Di Jakarta, orang tidak terlalu tertutup soal pembuangan air. Cari toilet umum gampang-gampang susah. Kalau kita  cuek, dimanapun bisa, terutama  kaum pria. Malah dulu saya lihat pemain bola buang air kecil di tengah lapangan permainan, tapi wasit tidak memberi kartu kuning. Sambil jongkok, jadi mungkin nggak mengganggu penonton. Tapi dalam dunia modern, di pusat kota agak susah. Kalau kaum neolib tidak masalah, sebab biasanya kegiatannya di lobby hotel bintang lima, kamar kecil ada di setiap lantai dan sangat nyaman. Rakyat kebanyakan bisa menggunakan toilet umum di pasar-pasar atau di pos polisi, bayar Rp 500 atau Rp 1000. Aneh juga, toilet yang sederhana harus bayar, sedangkan toilet yang biaya pembuatannya ratusan juta malah gratis. Tidak perlu juga kita menginap di hotel itu, orang yang sedang duduk disitu bebas memakai. Bahkan yang sedang lewat pun bisa mampir sebentar dan menggunakan fasilitasnya asal; berpenampilan percaya diri. Di Jakarta ada macam-macam toilet tapi belum ada yang otomatis.

 

Di Groningen ada satu toilet otomatis, setahu saya. Ada urinoir yang muncul dari bawah tanah setelah jam 10 malam, tapi saya tidak pernah lihat karena tidak pernah keluar sampai malam sekali. Di kota besar lain banyak, apalagi di kota negara teknologi seperti Berlin. Design toilet ini kira-kira sama. Bangunan dari logam yang tidak jelas peruntukannya, menyediakan satu tempat untuk memasukkan koin satu Euro. Begitu uang masuk, bangunan itu seperti hidup. Bunyi macam-macam dan membuka pintu. Seakan-akan terhipnotis, kita melangkah masuk. Sederhana, tapi pertama kali saya melihat alat ini di Berlin, saya terbengong-bengong mencari pintu masuk. Datang seorang penduduk asli yang tidak sabar melihat orang asing gaptek memperlambat kebutuhannya masuk toilet umum. Karena warga disana disiplin, ia menunggu, walaupun sambil ngomel dan menyuruh saya baca papan petunjuk pemakaian disebelahnya. Ada dalam bahasa Jerman, Inggris, Perancis dan Turki, berhubung di kota itu banyak imigran. Melihat saya lama baca teks bahasa Inggris, dia membentak: “Itu bahasa Inggris, kamu nggak ngerti. Baca bahasa kamu sendiri!!” sambil menunjuk ke bagian bahasa Turki. Karena takut, saya pura-pura membaca walaupun tidak mengerti sama sekali bahasanya, walaupun wajah saya mungkin dianggap wajah Turki.

 

Dengan memperhatikan gambar-gambar, saya bisa mengerti cara operasi masuk dengan koin, tapi yang lainnya tidak jelas. Masuk saja dulu supaya tidak ditungguin orang yang tidak sabar itu. Didalamnya semua menarik, bersih tidak ada cela sedikitpun., Semua dari kaca dan logam dan sangat bersih. Heran juga bisa bersih begitu, siapa yang sempat bersihkan? 

 

Sebelum mulai melakukan apa yang mau dilakukan, saya coba mengamati alat-alat, tekan kenop sana sini. Tahu-tahu sekonyong-konyong terjadi serangkaian aksi. Bunyi mesin menderu, toilet dibilas otomatis, terus diangkat dan masuk ke dinding sementara air menyemprot ke sekitar toilet itu sampai bersih. Sambil saya melihat tercengang, kemudian pintu terbuka lebar. Saya lihat orang tadi masih menunggu. Karena tidak mau bikin gara-gara, saya melangkah keluar dengan tenang seakan-akan sudah selesai urusan.  Begitu orang itu masuk, saya bergegas lari ke hotel masuk kamar dan menggunakan toilet pribadi.

Print article only

3 Comments:

  1. From Hamim on 17 November 2009 05:27:24 WIB
    Khusus mengenai \"kamar kecil\"

    Dulu (lebih dari 15 tahun yl)ada artikel mengenai \"kamar kcil\" di salah satu mejalah favorit di Indionesia mengenai perbedaan kamar kecil UMUM di Indonesia dan di Singapore.
    Isi artikel ini saya ingat terus karena ini masih berlaku sekarang.

    Di Singapore toilets umu selalu bersih.
    Di Indonesia sebaliknya, selalu kotor. Yang bersih dan bisa dipakai umum di Jakarta hanyalah di kantor kantor peusahaan perusahaan asing.

    Seperti yang saya tulis diatas, sekarang juga masih begitu.
    Tentu saja rata rata, ada juga yang bersih.
  2. From adjy123 on 21 November 2009 17:05:36 WIB
    Semua pasti pernah ke toilet makanya jadi topik menarik disini. Di jkt toilet bersih/kotor ada dan banyak. Di LN cuma ada yg bersih aja.Jadi Jkt lebih komplit bukan? Apalagi soal toilet alias pembuangan akhir, mau yg kotor ada mau yg bersih tersedia.
  3. From wulan on 22 January 2010 23:54:04 WIB
    @adjy123 wah siapa bilang toilet di LN bersih semua?.klo kita pergi ke eropa misalnya dan dalam perjalanan jauh keluar kota mampir deh ke autogrill, itu ngeri bnaget toilet ceweknya.gak semua sih. tapi saya pernah nemuin yag serem2 disana. di cina juga setau saya parah banget loh.gada bilik jadi urusannya yaudah bakal dilihat sama sebelahnya.. soal toilet di singapore, aduh i have to tell you.mungkin kalau kamu ke public library atau shopping mall emg pasti bersih dan nyaman karena mostly semua pakai automatic flush pakai sensor gerak. tapi kalau sekali-kali ke tempat yang ada toilet manualnya atau bahkan shopping mall seklaipun kalau belum sempet dibersihin, ya ampuun, aku pikir juga budayanya yang jorok.saya gak bisa deskripsikan lengkap tapi kalau liat tempat sampahnya akurasa itu bukan soal belum dibersihin, tapi soal budaya membuang sampah pribadi yang mencerminkan kejorokan penggunanya.

« Home