Articles

Suatu hari di Fresh Market

AREA magazine
16 November 2009

oleh: Wimar Witoelar

Ada suatu supermarket yang menyenangkan dekat rumah saya. Memang mahal tapi top banget, kualitas dagangannya tiada duanya. Terutama sayur-sayuran segar, ada yang organik ada yang biasa. Kalau mau makan enak dan segar saya makan disana. Biasanya ketemu teman yang senang belanja kecil untuk ayahnya di rumah. Kadang-kadang juga makan sendiri, sudah dikenal seperti di rumah sendiri. Semua ramah dan tertib. Kebetulan juga banyak langganan orang asing karena lokasi dan harganya memang cenderung dapat langganan macam-macam.

Suatu hari di minggu lalu, suasana ideal ini dipecahkan oleh teriakan keras, melengking dan penuh kekerasan. Bukan satu kata tapi serentetan kalimat, bahkan paragraph memaki-maki seseorang dalam bahasa asing, entah bahasa Eropah Timur atau Amerika Latin. Mungkin juga bahasa Inggris biasa. Tidak jelas sebab jauh. Saya duduk di counter salad dan sashimi, teriakan bersumber di pintu masuk. Mungkin juga saya tidak mengerti kata-katanya karena langsung trauma ketakutan. Sebab segera nyata bahwa ini bukan orang memarahi orang check-out mengenai urusan discount atau voucher gratis. Terlalu keras, diluar control, dan bengis teriakan itu. Teriakan yang hanya bisa keluar antara suami istri.

Itu membuat saya traumatik. Sebab waktu kecil saya pernah mendengar tante tetangga kami datang dan memarahi suaminya di rumah orang tua saya karena suaminya itu main kartu sampai malam. Waktu itupun bahasa yang dipakai adalah bahasa Belanda campur bahasa daerah, dan saya tidak mengerti semuanya, tapi yang jelas semuanya menakutkan. Waktu itu usia saya sebelas tahun dan masih belum tahu banyak mengenai manusia. Kakak saya yang b erusia limabelas tahun selalu menjelaskan kejadian seperti ini, membuat semuanya menjadi jelas walaupun sekarang saya sadar bahwa saya sering terlalu cepat percaya, jadi gambaran mengenai kehidupan tidak pernah lengkap sampai saya mengalami beberapa kegetiran di usia dewasa.

Yang dijelaskan kakak saya adalah bahwa tante dan oom itu memang selalu bertengkar dan kebetulan saja malam itu suaminya sedang main kartu di rumah. Jadi isu pokoknya bukan soal main kartu, tapi pertengkaran yang sudah kronis. Waktu saya ditanya mengapa mereka bertengkar, katanya itu normal bagi suami istri, kalau sudah lama nikah.

Saya tidak lanjutkan pertanyaan itu walaupun saya lihat ibu dan ayah saya tidak pernah bertengkar, walaupun rasanya sudah lama sekali mereka menikah. Ibu saya suka marah tapi bukan terhadap ayah saya dan ayah saya jarang marah kecuali pada wasit sepakbola kalau kesebelasan Persidja kalah.

Marah yang terdengar di Fresh Market itu beda sekali. Itu marah yang tidak pernah saya dengar dalam lingkungan kenalan kami. Dua kali pernah saya lihat. Sekali waktu saya masih SMP di daerah Menteng dan makan mie baso di Jalan Sabang.  Sekonyong-konyong ada laki-laki memaki-memaki seorang perempuan yang tadinya tenang-tenang makan mie sendiri. Begitu dimarahi, perempuan itu melompat menyerang laki-laki dan terjadi pukul-pukulan. Sangat menyeramkan, bukan seperti pukul-pukulan bola tenis atau puku-pukulan tinju, tapi pukul-pukulan tanpa sistem, asal pukul dan tempeleng dan tarik rambut. Mengerikan sebab tidak ada peran gender. Dua-duanya melakukan kekerasan, sampai dikerubungi orang banyak sampai ada orang bermuka arif memisahkan mereka berdua. Selera untuk makan mie baso hilang setelah melihat insiden itu.

Insiden kedua yang saya lihat adalah dipinggir kalan di kawasan Cinere. Saya dikagetkan ketika menyetir mobil sebab ada perempuan berambut panjang lari keluar dari warung sendirian dan berguling-guling di tengah jalan. Untung jalannya tidak ramai, hanya ada mobil saya, dan saya menghentikan mobil menjadi semacam pelindung untuk perempuan yang berguling-guling itu. Pasangan lelakinya rupanya menyusul keluar dengan santai, dan bukannya dia mengangkat perempuan itu, malah dia memaki-maki.

Sampai sekarang saya tidak tahu asal-usul peristiwa konflik itu. Ada keinginan tahu, tapi tidak berani menyelidiki. Kekerasan di film bisa diterima sebagai bagian cerita, tapi kekerasan dalam kehidupan nyata terlalu kompleks bagi saya. Saya hanya merasa, bahwa pihak yang terluka itu bukan hanya yang dimarahi, tapi juga orang yang marah-marah itu. Menurut pikiran saya, kalau orang sampai keluar marah di tempat yang tidak masuk akal seperti Fresh Market, pasti ada kepedihan mendalam yang terpendam jauh dalam pelosok hati sanubari orang itu. Saya tidak ingin menjadi orang yang marah seperti itu.

 

 

Print article only

13 Comments:

  1. From febs on 17 November 2009 10:34:59 WIB

    .....spt jg phil collins Another day in paradise.......:)

    tks
  2. From Felix Oey on 18 November 2009 19:19:57 WIB
    Thanks for the insightful essay on husband-wife relationship. My comments: The main reason Si Tante was furious: not because her hubby was playing card that night, but according to Freud her sexual appetite has not been satisfied for years. Should her husband perform as Mike Tyson or Casanova on bed, she would bring him pisang goreng and hot kopi luwak and wait at home patiently.... playing bridge until midnight will heighten the passion!!!
    When a father was abusive at home, he might have been abused as a child or raised in a loveless and violent home. Or he was just a loser at work. To exert his power he attacks his wife and children.
    Fortunately Pak Wimar has had an ideal upbringing during childhood which leads to a successful career in life.
    As Emerson said: For every minute you remain angry, you are giving up sixty seconds of peace of mind! The choice is yours.
    Cheers,
    Felix (Filosof Dodol)
  3. From Rangga aditya on 19 November 2009 00:46:58 WIB
    yep, itu akan selalu menjadi \"luka\". Saya jadi inget waktu umur 9 tahun, ketika itu bapak saya beradu mulut dengan ibu saya. Pertama kali melihat ibu saya menangis. Untungnya disini ibu saya bisa meredam emosi (walau menangis), tidak jengut2an apa lagi adu fisik. memang bapak saya rada \"darting\" sehingga mudah meledak. Saya selalu diwanti-wanti sama ibu saya supaya tidak mengikuti jejak seperti bapak saya. Namun sering juga \"kepleset\". Takutnya kebawa sampai nikah nih om.... Apa sebaiknya saya jadi vegetarian yah. Konon vegan itu jauh lebih \"lembut\" sifatnya daripada pemakan daging.... Mmm ... Ngomong2 daging, sebentar lagi idul adha nih... Lho kokk ngelantur, hehehe
  4. From Irfan Sofani on 19 November 2009 08:41:11 WIB
    Om WW pa kabar??? Tulisan yg sangat bagus. Keren. Saya pribadi cape jg ngikutin maraton menilai SBY. Ga jelas sih. Ga seperti rejim Gus Dur yg jelas item putihnya.

    Yg kepikir sekarang agak mirip ke tulisan Om WW. Keseharian yg dekat. Saya ga berani lagi ngomong sama temen2 di luar Bdg utk come on visit Bandung...ga temen di luar kota atau partner di luar negeri. Beberapa tahun yg lalu saya masih selalu bilang, ayo maen dong ke sini, it is highland (dan temen dari luar surprise dan menanggapi...wow highland..dingin dong. Mau ah maen ke sana kapan2).

    Sekarang boro2. Galian yg ga kelar2 (itungan taun..itu gimana insinyur sipilnya?). Macet (ga macet jam 24 sampe jam 6 pagi). Waktu ramadan kemaren ada kejadian yg memberikan insight. Sambil kaki pegel ngatur kopling di kemacetan, saya terenyuh melihat orang lain berkendara motor yg berdesak2an. Mengejar waktu magrib jam buka puasa. Dari 3 jenis kendaran: angkot sebagai transportasi publik, motor sebagai sarana transportasi pribadi masyarakat kebanyakan, mestinya mobil pribadilah (yg paling nyaman (karena ber ac dan bisa denger musik). Toh buktinya saya tidak merasa. Kesel aja yg ada ngeliat galian yg ga beres2. Kalo mobil saja sudah tidak nyaman, gimana lg motor apalagi angkot yg driving ethic nya kita tau sendiri? Yg amazing motor2 itu mencari cara bagaimana cepat melawati jalan macet karena galian. Tanpa perlu komando mereka lihai sekali berputar2 dalam kepusingan. Ada yg naek trotoar, ada yg muter ngikutin jalan mana yg lampunya hijau di perempatan. Sibuk luar biasa, tapi mereka rela (atau kepaksa?).

    Dengan cuaca yg tidak dingin lagi, bagaimana saya bisa berkata ayo dong maen ke Bdg...(nah saya sendiri udah males kemana2).

    Dalam kemacetan itu saya terharu melihat kegigihan orang2 bermotor yg mengejar waktu buka puasa itu. Kita bisa tahu Tuhan toh akan mengganjar mereka dengan kebahagiaan berbuka puasa bersama keluarga. Namun saya tidak tahu, adakah Tuhan akan menuntun jiwa2 mereka utk melakukan perlawanan terhadap pemerintahan yg tidak becus mengurus mereka? Ga usah jauh2 pemerintah pusat, pemerintah kota saja dulu.

    Terpikir usualan Bang Faisal Basri utk mindahin ibukota ke Kalimantan, saya berfikir lebih jauh, apa tidak sebaiknya kita melakukan semacam kolonisasi Kalimantan (wuih kejem betul ya?).
  5. From sen on 19 November 2009 09:26:20 WIB
    Interesting article.

    Filosof Dodol : I don't think the problem is sexual. It might be so if the husband who is unhappy.

    When the wife is unhappy, most likely the problem is not enough income.

    Also, I know many vegetarians that can not contain their anger. Anger is not because of what you eat.

  6. From Mundhori on 19 November 2009 10:58:10 WIB
    Keruwetan pikiran bisa mendorong orang tanpa pikir panjang berteriak sekeras kerasnya yg tentu akan mengganggu lingkungannya. Keruwetan dampak kalau tdk dipakainya hasil kajian Tim 8 juga akan mampu mendorong masyarakat berteriak semaunya sendiri karena harapan kerja Tim 8 sungguh dinantikan. Kenapa dulu dibentuk Tim 8 kalau hasil kerjanya tidak dipercaya untuk dilaksanakan. Muasal dari situlah bakal muncul keruwetan mainset social yg ada risiko. Seandainya dulu SBY sebagai presiden cukup hanya memanfaatkan subordinate dibawahnya. Apakah itu dewan pertimbangan presiden, atau staf ahlinya, atau para pendekar di partainya, atau nyewa para linuhung saja tanpa harus ada SK presiden bentuk Tim 8, untuk cari solusi kroditnya buayagate., sudah pasti keruwetan tdk akan se krodit saat ini. Bahkan kata ahli politik SBY bertindak ragu karena terjepit. Kalau hasil kerja Tim 8 sampai tidak dilaksanakan, setidaknya tidak sepenuh hati diperhatikan, atau minimal ditoleh, ada minimal dua nilai negatip, yaitu hilangnya kepercayaan, bisa jadi tokoh tokoh Tim 8 mutung, purik dan masyarakat akan puyeng, kalap atau apatis. Minimal akan berteriak sekeras kerasnya untuk menghilangkan rasa tidak puasnya
  7. From yasinta hanifah on 19 November 2009 12:14:49 WIB
    wah..pernah aku melihat pasangan (entah suami isteri atau masih pacaran) berantem di pinggir jalan raya,tepatnya di bunderan deket gedung BEI.
    ngeliatnya sih seru banget bangetan karna aku sebagai penonton (si perempuan mau naik ojek,ditarik2 sama yang laki.smpe si tukang ojeknya bingung bgt,dan akhirnya ganti ojek).
    tapi,kl jadi 'objek'nya pasti ada perasaan sedih bercampur malu tuh..hihi
  8. From RB. Raditya Mahendrata on 19 November 2009 21:38:05 WIB
    Malem Pak Wimar... (Padahal Mas Satya saya panggil Oom di Koprol). Baru kali ini mampir di perspektif. 12 tahun malang melintang di yahoo sama google, dan baru kali ini singgah buat nyempetin diri baca tulisan Pak Wimar.

    Kalau saya pribadi, jutru hal yang Pak Wimar ceritakan menjadikan saya kebal dengan konflik. Mungkin karena kedua orang tua saya yang memang sudah biasa bertengkar di depan seluruh anaknya, dan saya mejadi sangat terbiasa. Mungkin yang terburuk adalah, saya menjadikan hal itu menjadi contoh bagi saya. Buat saya, pertengkaran itu adalah hal biasa yang harus diterima. Karena itu semua bukti adanya perbedaan yang harus dihargai. Dan mungkin itu yang membuat saya tidak pernah bisa mengendalikan emosi saya. Dimana saja, kapan saja, kalau mau berantem bin ngamuk, sok atuh... #very bad habit#
  9. From Trian Ferianto on 20 November 2009 00:21:03 WIB
    hehe... orang hidup memang aneh2 aja...
  10. From pongki on 20 November 2009 01:15:09 WIB
    Mas Wimar suka ngerjain orang nih. Ujungnya gantung gini. Jadi semacam trivia kuis: Apakah yang membuat orang di fresh market itu marah? haha..

    Tapi emang marah itu nggak enak sih. Ribuan campuran kimia hormon dan enzim mengalir kacau dalam darah kita, lewat kepala, lewat jantung, rasanya nggak karuan. Bikin rusak sistem komando tubuh. Siapa yang mau dalam kondisi begitu?

    Oia, Sekedar info nih. Tanggal 26 November 2009 Brad Sugars, pengusaha internasional dan business coach ternama dari Australia akan datang ke Indonesia, tepatnya di Jakarta International Expo, Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran. Dia akan berbagi pengalaman dan teknik-tekniknya membesarkan bisnis. Info tentang Brad Sugars bisa di lihat di alamat ini.

    Untuk reservasi hubungi:
    Studio Samuan
    Rukan Permata Senayan Blok D-33
    Telp : 021 3713 6165
    0857 153 20001 (Ning Mahayu)
    Fax : 021 5794 1173
  11. From Chandra on 20 November 2009 14:46:34 WIB
    Pertama2,maaf atas pendapat yang tidak "nasionalis atau tidak "patriotis".Konon,kata para ahli sosiologi,kita ini bangsa yg tukang ngamuk, sampe2 amuck jadi bahasa sono. Jadi kekerasan bagian dari budaya kita? Ah,masa segitunya sih.Katanya kita bangsa yg ramah tamah sehingga itu jadi jualan kita untuk menarik turis. Atau mungkin penjelasan yang paling klop adalah,kita belum bisa bangkit sejak merdeka 64 tahun yg lalu, ketinggalan dengan tetangga yang udah entah jauuuuuuh dimana. Jadinya ada gejala ramah tamah dan dan mudah ngamuk dalam satu paket sindrom yang namanya minderwardigheids complex. Wallahualam....

    ps. Makanya kita perlu pemimpin yang jujur,cerdas dan berani. Jangan pemimpin yang kerjaannya bentuk tim melulu.
  12. From The Journey of The Messenjah on 26 November 2009 17:48:48 WIB
    waaawwww.. thx artikel-nya !!
    sebagian orang bilang konflik itu dapat menjadi bumbu penyedap dari suatu hubungan.. tapi dipikir2 lagi.. terlalu banyak bumbu dapat menghancurkan hubungan itu sendiri..

    The Journey of The Messenjah
    http://www.the-messenjah.blogspot.com/
  13. From kikah setia putri on 02 November 2011 14:43:43 WIB
    gan gimana sih kalau menghilangkan rasa takut saat berantem????

« Home