Articles

Asal Usul - Tidak Ikut 17 Agustus

Harian KOMPAS
30 September 1997

oleh: Wimar Witoelar

Tahun ini saya tidak ikut merayakan 17 Agustus, Hari Kemerdekaan kita. 
Bukan karena tidak mau, tapi kebetulan tanggal itu tidak muncul dalam 
kehidupan saya. Kebetulan saya pulang dari Los Angeles, berangkat dengan GA 
801 tanggal 16 Agustus malam, begitu naik terus tidur lama sekali. 
Bangun-bangun mendarat di Denpasar sudah jam 08:00 pagi, ternyata sudah 
tanggal 18 Agustus. Padahal katanya kami hanya melewati satu malam saja. 
Jadi tanggal 17 Agustus 1997 hilang untuk selamanya bagi penumpang 
penerbangan itu, ditelan "Garis Tanggal Internasional" yang agak 
mengerikan. Apakah sekian ratus orang itu (kebanyakan orang Indonesia) lalu 
hilang nasionalismenya? Saya rasa tidak. Rata-rata kami senang jadi orang 
Indonesia. Malah saya bangga bahwa maskapai penerbangan kita yang biasanya 
menjadi bahan omelan dan sumber lelucon, kali ini memberikan performance 
yang bagus sekali. Tepat waktu, pelayanan prima, film bagus, dan yang jelas 
murah. Waktu mendarat, ternyata dikemudikan oleh pilot senior yang akan 
pensiun keesokan harinya. Sayang beliau tidak menghubungi saya melalui 
nomor telepon yang saya titipkan pada pramugari. Tadinya saya ingin bertemu 
dan berterima kasih padanya, karena orang profesional semacam pilot Garuda 
itu adalah salah satu sebab yang membuat saya bangga menjadi orang Indonesia. 

Orang Indonesia lain yang membuat saya bangga adalah Yayuk Basuki dan Utut 
Adianto, yang disini cukup dihormati tapi di luar negeri lebih dikagumi 
lagi, menimbulkan kekaguman pada bendera merah putih. Apalagi Susi Susanti 
yang menangis di Barcelona, dan pak Cahyadi penjual ketoprak di Pondok 
Indah yang menyekolahkan anaknya di Yogya. Mana ada di Amerika, orang yang 
begitu maju tanpa dukungan negara? Belum lagi para guru SD dan para petugas 
imigrasi dan polisi lalulintas di jalur Puncak yang bekerja dengan tekun 
dan tenang. Mereka menyumbang keseimbangan pada kesan bahwa petugas 
negara kita tidak bisa dipercaya. Mereka adalah harapan kita agar citra 
institusional yang sudah lama negatif tidak terus-terusan memberi kesan 
bahwa Indonesia adalah negara yang dijajah oleh bangsanya sendiri. 

Nasionalisme tidak perlu dipompa oleh semboyan dan upacara. Tidak perlu 
mencari kebanggaan yang dibuat-buat. Syukurlah Presiden tidaK menyetujui 
penjualan sepatu secara paksa kepada anak sekolah, sehingga kita terhindar 
dari proyek yang bisa menambah isi gudang lelucon pahit kawan-kawan saya 
yang sudah siap dengan judul "Sepatu Nasional". Tidak perlu ada 
pengorganisasian dukungan untuk simbol nasionalisme, agar simbol muncul 
sebagai hasil kebanggaan. Rakyat kita cukup tenteram kalau tidak dipaksa 
kesana kesini. Stabilitas menjadi kehendak semua orang. Tapi alangkah 
bagusnya kalau stabilitas itu muncul sebagai hasil pembangunan, bukan 
sebagai prasyarat komunikasi sosial. Kalau pemerintah bagus, negaranya 
stabil dengan sendirinya. Nasionalisme tidak perlu dipersoalkan sebagai 
konsep apalagi sebagai prasyarat, baik untuk bintang olahraga maupun untuk 
pengusaha. Terlalu sedikit waktu kita untuk menyisihkan waktu dalam 
definisi yang menghilangkan makna. 

Sekarang nilai mata uang Rupiah melayang-layang seperti layangan putus. 
Dibuat obat moneter berupa suku bunga tinggi, yang ternyata menjadi "obat 
spektrum luas". Yang kena soal dollar hanya orang yang punya anak di luar 
negeri atau yang ekspor impor, tapi sukubunga tinggi yang membuat semua 
orang sesak napas, dari mulai bank dan perusahan sampai pembeli rumah 
sederhana dan pekerja bangunan. Tadi malam CNN memberitakan Bursa Efek 
Jakarta mengalami penurunan yang terbesar dari semua Bursa di Asia. Apakah 
gonjang-ganjing keuangan ini merupakan penyakit yang gawat dan sukar 
disembuhkan? Ya dan tidak, karena yang kita lihat adalah simptom penyakit 
berasal dari virus spekulasi yang dilawan oleh ketegaran sebagai hasil kita 
mengelola perekonomian Indonesia. Kemungkinan sembuhnya akan ditentukan 
oleh "fundamental" kita, yaitu keutuhan sistem manajemen nasional, terutama 
ekonomi dan politik. Begitu anak kecil kena penyakit malaria, panas dingin 
dan mencapai suhu diatas 40 derajat, kita semua berdoa dan berharap bahwa 
kesehatan fundamental anak itu cukup kuat untuk melawan penyakit itu. Ini 
perumpamaan yang diberikan oleh Jasso Winarto, pakar pasar modal. Ia 
mengatakan, ekonomi kita cukup bagus untuk melawan penyakit ini. Saya 
mengatakan, para profesional kita, para pedagang menengah kita cukup bagus, 
apalagi pengusaha kecil yang sangat kompetitif dan bekerja jujur. Tinggal 
kita lihat, apakah kita punya kepemimpinan moneter yang bisa tampi dengan 
kenegarawanan yang sejuk, komunikatif dan menenteramkan si anak kecil ini 
dan para orang tuanya. Di saat susah, bahaya terbesar adalah panik. Kembali 
pada nasionalisme, pada saat susah, kita harus bersatu dan saling 
menghormati. Rakyat menghormati pemerintah, penguasa harus menghormati rakyat. 

Sebetulnya ada sisi lain dari krisis keuangan Indonesia. Bersama baht 
Thailand, peso Filipina, ringgit Malaysia dan bahkan dollar Hong Kong, 
semuanya menjadi obyek spekulasi para dealer valuta asing dunia yang 
menggolongkannya sebagai Exotic Currency untuk dipermainkan, setelah bosan 
dengan mainan US Dollar, Yen Jepang dan Pound Inggris. Tidak salah kalau 
pemerintah menyalahkan para spekulan. Tapi kita harus ingat spekulasi 
bukanlah kegiatan eksklusif George Soros dan "Soros Bersafari" (istilah 
Hartoyo Wignyowiyoto). Spekulasi adalah suatu perilaku yang bisa dijalankan 
oleh setiap orang untuk motif keuntungan atau bahkan menghindar kerugian, 
dua motif yang sama sekali tidak melanggar hukum. Yang harus diciptakan 
adalah iklim yang tidak mengundang spekulasi, bukan iklim yang menantang 
perilaku ini. Orang biasa dan ibu rumah tangga yang menukarkan tabungannya 
kedalam US Dollar bukan bagian dari konspirasi George Soros, mereka hanya 
mencari perlindungan sebab rupanya tidak ada perlindungan lain yang memberi 
ketenteraman. 

Dari mulai usaha Yayuk Basuki untuk masuk 20 besar sampai kepada pilot yang 
menerbangkan pesawat Garuda ke luar negeri sampai kepada mata uang Rupiah 
yang dipermainkan dalam pasar uang dunia, batas negara sudah tidak tampat 
lagi. Konsep "dunia tanpa batas" kini disusul dengan konsep "Netizens". 
Kalau dulu warga masyarakat dinyatakan sebagai "Citizens" yang berasal kata 
"City" sebagai pusat peradaban melawan tirani raja-raja di pedalaman, maka 
"Netizens" berasal dari kata "Network" internasional (terutama jaringan 
Internet) yang memberikan pencerahan untuk mengimbangi negara-negara kuat 
yang melemahkan rakyatnya. Revolusi sosial bukan lagi pilihan yang menarik 
untuk siapapun, karena perubahan yang lebih lembut, lebih terhormat dan 
lebih fundamental bisa dicapai melalui kerja cerdas dan pandangan hidup 
terbuka. Budaya ini terbukti efektif menghasilkan sukses di negara lain 
dunia. Wawasan internasional dengan kesetiakawanan kepada bangsa sendiri, 
tanpa merancukan diri dengan semboyan nasionalisme. Tanpa ikut upacara 17 
Agustus, kita tetap cinta Indonesia. 

Print article only

2 Comments:

  1. From Marylouise on 31 July 2011 13:26:06 WIB
    Articles like this are an example of quick, helpful anserws.
  2. From Rhama on 31 July 2011 22:23:36 WIB
    great posting! benar-benar menikmatinya. salut! tidak sangka ini artikel 14 tahun lalu :)

« Home