Articles

ASAL USUL: Kronis, tetapi tidak Akut

Harian KOMPAS
18 June 2000

 

Kronis, tetapi tidak Akut
KATANYA, bakteri selalu ada dalam setiap tubuh manusia. Kalau daya tahan tubuh sedang rendah, bakteri itu bisa menimbulkan penyakit. Akan tetapi kalau kondisi badan kita kuat, bakteri itu tidak berbahaya. Memang berkeliaran, tetapi biarin aja, buat apa repot-repot.
Masyarakat Indonesia sedang lemah, banyak yang mengomel bahwa elite politik ribut melulu, pers terlalu bebas, pakar membingungkan. Padahal bukan itu soalnya. Yang jadi soal, kita lemah dan merasa tidak berdaya. Disiplin sosial, keacuhan dan kroni Soeharto membuat kita lemah. Sementara pemerintah tidak menggunakan kesempatan. Tidak memperbaiki ekonomi, tidak memberi kepemimpinan, terutama tidak menyampaikan isyarat sejuk. Padahal, pada dasarnya tubuh Indonesia ini sangat kuat. Berasal dari keragaman, jati diri yang kuat, memiliki pemikir dan penyair layak untuk negara besar.
Demokrasi tidak bisa tumbuh kalau kekuasaan dan kontra-kekuasaan melecehkannya. Perspektif akhirnya hilang, Buloggate memang jelek, tetapi Baligate lebih jelek, apalagi Soehartogate yang terdiri atas ribuan kasus. Skandal makin mengecil dari Suharto ke Habibie sampai Gus Dur, tetapi Soeharto dibiarkan dan Gus Dur diributkan. Koalisi reformasi melupakan tanggung jawab mereka sebagai elite politik baru. Malah Golkar yang bertanggung jawab atas keambrukan masa lalu, dibiarkan bersolek.
Indonesia sakit, tetapi tidak akan ambruk. Walaupun bakteri berkeliaran seperti penyerang Belanda dalam wilayah pertahanan Denmark, perjalanan suatu negara lebih dari 2 x 45 menit. Kita memang sakit kronis, bertahun-tahun, tidak hilang-hilang, tetapi tidak akut, tidak segera berbahaya. Penyakit kita lebih berat dari ketombe yang sama sekali tidak berbahaya kecuali di iklan TV, tetapi bukan penyakit yang bisa mematikan secara mendadak.
Pemikiran ini mendasari laporan berjudul Chronic, but not Acute yang diterbitkan International Crisis Group (ICG), suatu lembaga internasional yang berpusat di Brussel. Harold Crouch, Indonesianis senior yang kini bergabung di ICG, menciptakan judul ini untuk analisa Indonesia yang mendapat kehormatan terdaftar sebagai salah satu negara krisis di dunia. Menurut ICG: Krisis Indonesia dewasa ini bersifat kronis dan tidak akut. Negara ini menghadapi masalah dan tantangan serius dalam bidang politik, kewilayahan, kemasyarakatan, hukum dan ekonomi tetapi tidak berada pada titik pecah dan terjun kedalam khaos. Di lain pihak, pemerintah belum mampu menunjukkan jalan kearah penyelesaian tantangan-tantangan ini.
KARENA krisis Indonesia sebagian terkait dengan krisis Asia, perhatikanlah negara yang tidak jauh dari kita dalam jarak, ukuran pembangunan dan suasana. Hari-hari ini saya kebetulan berada di Bangkok. Maklum, orang senang makan, jadi yang terkesan adalah banyaknya makanan kaki lima yang bermutu tinggi. Dari dulu memang enak, tetapi sekarang mencapai keragaman yang luarbiasa. Mulai dari masakan kari dan sayur mayur dan ikan dan daging, kemudian jajanan sate, daging panggang, pisang goreng sampai sandwich jenis Barat yang dipotong kecil-kecil dan kopi susu yang lebih enak dari hotel berbintang. Katanya kaki lima menjadi semarak karena jalan semakin macet, dan profesional membeli makanan ini untuk dimakan di mobil dan di kantor dan di kereta api dalam kota. Dengan daya beli yang pulih, pasar menjadi semarak.
Kemudian kereta api dalam kota, suatu kenikmatan tersendiri. Namanya Skytrain, dalam kurang dari setahun mengubah peta Kota Bangkok. Jarak waktu satu jam sekarang dicapai dalam waktu lima menit. Kita tidak lagi berpikir mengenai macet tetapi memilih tempat yang dilalui Skytrain. Untuk lihat-lihat juga lumayan, menghilangkan stres kerja di kota besar. Bagusnya, kereta api kota ini tidak dibangun di atas korupsi dan nepotisme seorang pemimpin politik, tetapi masuk bagian perencanaan ekonomi yang sudah lama dan kini bisa dihidupkan lagi.
IMF mengatakan Kamis lalu bahwa perekonomian Thailand mungkin tumbuh lebih cepat dan lebih tinggi (sampai lima persen) dari perkiraan, dengan didorong oleh konsumsi dalam negeri dan ekspor. Sementara pemerintah Indonesia masih kucing-kudingan dengan IMF dan memberi peluang kepada bakteri politik untuk membodohkan masyarakat, di Thailand IMF baru menyelesaikan final review mengakhiri paket bantuan sebesar USD 17 Milyar yang diberikan pada tahun 1997. Suku bunga diperkirakan akan mencapai rekor terendah sementara inflasi tetap sekitar 2 sampai 3 persen. Masalah terbesar yang dihadapi Thailand adalah kredit macet yang hampir 50 persen. Hampir setengah dari kredit macet ini telah mengalami restrukturisasai dengan arbitrasi pemerintah, tapi masih tersisa kira-kira 400 Trilyun kalau dihitung dalam Rupiah hari ini. Ini patut membuat kita mengelus dada, karena kita tahu BPPN kita belum saja sempat membuktikan kesungguhannya di tengah badai politik kecil dan besar yang mengganggu (dan diciptakan oleh) Pemerintah Indonesia.
Bakteri kita membuat penyakit, karena pemerintahan kita lemah. Di Thailand, pemerintahan sering lemah, tetapi masyarakat tidak segan menggantinya. Antara 1970 dan 2000, pemerintah telah berganti belasan kali. Walaupun sekali dua kali cukup kejam, tapi pada umumnya pergantian pemerintah dianggap proses politik saja, bukan suatu bedah masyarakat. Mereka tidak terpukau pada konsep kita bahwa kekuasaan harus dipertahankan untuk menjamin kestabilan. Dari Presiden yang keras sampai yang aneh sampai yang lucu, kita terpukau, melemah dan membiarkan bakteri berpesta. Sekarang kita sadar bahwa masyarakat perlu diperkuat. Apakah dengan aliansi baru, dengan Poros Nasional, dengan Rembug Nasional, dengan wacana, tapi yang jelas dengan percaya diri. Walaupun kondisi kita kronis, tetapi tidak akut. Kita boleh mencoba memperkuat diri.
Wimar Witoelar - Asal Usul, 18 Juni 2000

oleh Wimar Witoelar

KATANYA, bakteri selalu ada dalam setiap tubuh manusia. Kalau daya tahan tubuh sedang rendah, bakteri itu bisa menimbulkan penyakit. Akan tetapi kalau kondisi badan kita kuat, bakteri itu tidak berbahaya. Memang berkeliaran, tetapi biarin aja, buat apa repot-repot.

 

Masyarakat Indonesia sedang lemah, banyak yang mengomel bahwa elite politik ribut melulu, pers terlalu bebas, pakar membingungkan. Padahal bukan itu soalnya. Yang jadi soal, kita lemah dan merasa tidak berdaya. Disiplin sosial, keacuhan dan kroni Soeharto membuat kita lemah. Sementara pemerintah tidak menggunakan kesempatan. Tidak memperbaiki ekonomi, tidak memberi kepemimpinan, terutama tidak menyampaikan isyarat sejuk. Padahal, pada dasarnya tubuh Indonesia ini sangat kuat. Berasal dari keragaman, jati diri yang kuat, memiliki pemikir dan penyair layak untuk negara besar.

 

Demokrasi tidak bisa tumbuh kalau kekuasaan dan kontra-kekuasaan melecehkannya. Perspektif akhirnya hilang, Buloggate memang jelek, tetapi Baligate lebih jelek, apalagi Soehartogate yang terdiri atas ribuan kasus. Skandal makin mengecil dari Suharto ke Habibie sampai Gus Dur, tetapi Soeharto dibiarkan dan Gus Dur diributkan. Koalisi reformasi melupakan tanggung jawab mereka sebagai elite politik baru. Malah Golkar yang bertanggung jawab atas keambrukan masa lalu, dibiarkan bersolek.

 

Indonesia sakit, tetapi tidak akan ambruk. Walaupun bakteri berkeliaran seperti penyerang Belanda dalam wilayah pertahanan Denmark, perjalanan suatu negara lebih dari 2 x 45 menit. Kita memang sakit kronis, bertahun-tahun, tidak hilang-hilang, tetapi tidak akut, tidak segera berbahaya. Penyakit kita lebih berat dari ketombe yang sama sekali tidak berbahaya kecuali di iklan TV, tetapi bukan penyakit yang bisa mematikan secara mendadak.

 

Pemikiran ini mendasari laporan berjudul Chronic, but not Acute yang diterbitkan International Crisis Group (ICG), suatu lembaga internasional yang berpusat di Brussel. Harold Crouch, Indonesianis senior yang kini bergabung di ICG, menciptakan judul ini untuk analisa Indonesia yang mendapat kehormatan terdaftar sebagai salah satu negara krisis di dunia. Menurut ICG: Krisis Indonesia dewasa ini bersifat kronis dan tidak akut. Negara ini menghadapi masalah dan tantangan serius dalam bidang politik, kewilayahan, kemasyarakatan, hukum dan ekonomi tetapi tidak berada pada titik pecah dan terjun kedalam khaos. Di lain pihak, pemerintah belum mampu menunjukkan jalan kearah penyelesaian tantangan-tantangan ini.

 

KARENA krisis Indonesia sebagian terkait dengan krisis Asia, perhatikanlah negara yang tidak jauh dari kita dalam jarak, ukuran pembangunan dan suasana. Hari-hari ini saya kebetulan berada di Bangkok. Maklum, orang senang makan, jadi yang terkesan adalah banyaknya makanan kaki lima yang bermutu tinggi. Dari dulu memang enak, tetapi sekarang mencapai keragaman yang luarbiasa. Mulai dari masakan kari dan sayur mayur dan ikan dan daging, kemudian jajanan sate, daging panggang, pisang goreng sampai sandwich jenis Barat yang dipotong kecil-kecil dan kopi susu yang lebih enak dari hotel berbintang. Katanya kaki lima menjadi semarak karena jalan semakin macet, dan profesional membeli makanan ini untuk dimakan di mobil dan di kantor dan di kereta api dalam kota. Dengan daya beli yang pulih, pasar menjadi semarak.

 

Kemudian kereta api dalam kota, suatu kenikmatan tersendiri. Namanya Skytrain, dalam kurang dari setahun mengubah peta Kota Bangkok. Jarak waktu satu jam sekarang dicapai dalam waktu lima menit. Kita tidak lagi berpikir mengenai macet tetapi memilih tempat yang dilalui Skytrain. Untuk lihat-lihat juga lumayan, menghilangkan stres kerja di kota besar. Bagusnya, kereta api kota ini tidak dibangun di atas korupsi dan nepotisme seorang pemimpin politik, tetapi masuk bagian perencanaan ekonomi yang sudah lama dan kini bisa dihidupkan lagi.

 

IMF mengatakan Kamis lalu bahwa perekonomian Thailand mungkin tumbuh lebih cepat dan lebih tinggi (sampai lima persen) dari perkiraan, dengan didorong oleh konsumsi dalam negeri dan ekspor. Sementara pemerintah Indonesia masih kucing-kudingan dengan IMF dan memberi peluang kepada bakteri politik untuk membodohkan masyarakat, di Thailand IMF baru menyelesaikan final review mengakhiri paket bantuan sebesar USD 17 Milyar yang diberikan pada tahun 1997. Suku bunga diperkirakan akan mencapai rekor terendah sementara inflasi tetap sekitar 2 sampai 3 persen. Masalah terbesar yang dihadapi Thailand adalah kredit macet yang hampir 50 persen. Hampir setengah dari kredit macet ini telah mengalami restrukturisasai dengan arbitrasi pemerintah, tapi masih tersisa kira-kira 400 Trilyun kalau dihitung dalam Rupiah hari ini. Ini patut membuat kita mengelus dada, karena kita tahu BPPN kita belum saja sempat membuktikan kesungguhannya di tengah badai politik kecil dan besar yang mengganggu (dan diciptakan oleh) Pemerintah Indonesia.

 

Bakteri kita membuat penyakit, karena pemerintahan kita lemah. Di Thailand, pemerintahan sering lemah, tetapi masyarakat tidak segan menggantinya. Antara 1970 dan 2000, pemerintah telah berganti belasan kali. Walaupun sekali dua kali cukup kejam, tapi pada umumnya pergantian pemerintah dianggap proses politik saja, bukan suatu bedah masyarakat. Mereka tidak terpukau pada konsep kita bahwa kekuasaan harus dipertahankan untuk menjamin kestabilan. Dari Presiden yang keras sampai yang aneh sampai yang lucu, kita terpukau, melemah dan membiarkan bakteri berpesta. Sekarang kita sadar bahwa masyarakat perlu diperkuat. Apakah dengan aliansi baru, dengan Poros Nasional, dengan Rembug Nasional, dengan wacana, tapi yang jelas dengan percaya diri. Walaupun kondisi kita kronis, tetapi tidak akut. Kita boleh mencoba memperkuat diri.

 

 

 

Print article only

0 Comments:

« Home