Articles

Asal Usul - Bob


09 July 2000

 

BOB
SEBETULNYA namanya Robin, tetapi ia lebih senang dipanggil Bob. Nomornya 171994 kalau tidak salah, karena catatan saya hilang. Itu adalah nomor pengemudi taksi yang membawa taksi warna kuning di Kota Melbourne, Australia.
Sopir taksi sering menjalankan peran penting dalam kehidupan seseorang dalam perjalanan. Bob langsung menjalankan peran penting ini. "Apa itu koper Anda?" katanya sambil menunjuk koper abu-abu bertali merah.
"Oh ya betul. Kok tahu?"
Dengan tangkas Bob menjawab, "Habis menurut komputer saya, hotel memanggil taksi ini untuk mengantar Anda ke bandar udara. Dan karena Anda datang tanpa koper, pasti yang di pintu itu punya Anda."
Betul sekali. Saya kira koper sudah dimasukkan oleh orang hotel ke dalam bagasi mobil, makanya koper itu ditinggal saja. Untung ada Bob. Dia memang senang menjaga penumpangnya.
Dalam perjalanan dia cerita tentang satu keluarga yang pernah diantarkannya ke bandar udara. Ternyata waktu sampai di bandara, salah satu kopernya ketinggalan. Waktu mereka panik Bob mengatakan, "Tenang, tunggu saja di sini. Saya akan ambil."
Lalu ia balik sendiri dengan taksinya dan mengambilnya ke hotel. Untuk jasa tambahan ini, Bob cukup dibayar AUD (Dollar Australia) 10 untuk mengganti waktunya. Padahal menurut meter, perjalanan tambahan itu bernilai AUD 45.
Ia baik pada penumpangnya. Tetapi bila penumpangnya bukan orang baik, Bob bisa keras juga. Belum lama ia membawa penumpang yang tidak mau membayar. Alasannya, tarifnya terlalu mahal.
Lho, kata Bob, itu memang segitu menurut meter. Tetapi orang itu tidak mau bayar, karena ada tambahan gara-gara pajak baru bernama GST, yang ia merasa tidak perlu bayar karena ia bekerja pada suatu lembaga nonprofit.
Itu membuat Bob sangat berang dan mereka berdebat keras. Ujungnya bukan pukul-pukulan, tetapi Bob membawa penumpangnya ke kantor polisi. Dia tinggalkan penumpang rewel itu di kantor polisi.
"Tetapi apakah akhirnya dia ba yar?" tanya saya. Bob menjawab, oh ya, polisi memutuskan orangnya harus bayar. Tambah lagi AUD 10.
"Buat apa?" Untuk pengganti ongkos waktu yang terpakai dalam urusan itu, kata Bob.
BOB sudah menjadi pengemudi taksi sejak tahun 1974. Sebelumnya, ia menjadi tentara dan ditempatkan di Vietnam. Berbeda dengan pengemudi taksi lain, Bob tidak banyak menyuarakan pendapat politik. Ia lebih banyak bercerita mengenai pekerjaannya dan perlengkapan yang membantu tugasnya.
Antara lain ia bangga sekali dengan komputer yang memuat segala data dan mengirimkan data perjalanan ke kantor pusat. Di sana orang bisa memantau jumlah penumpang, asal dan tujuan perjalanan, jam berangkat, sampai kepada lokasi mobil taksi yang ia bawa.
Data dikirim melalui satelit yang menggunakan program pemantauan geografis. Setiap saat, kantor pusat tahu taksi Bob ada di mana. Sehingga kalau ada persoalan, Bob tinggal memijit tombol, dan mobil taksi lain terdekat dapat memberikan pertolongan, atau memanggil polisi.
Katanya sistem pengendali bahaya ini jarang dipakai, karena hanya satu dari seribu penumpang yang menimbulkan masalah. Tetapi yang penting, alat ini membawa ketenangan.
Bob memang kelihatan tenang dalam pembawaan. Ia bercerita tentang anak-anaknya yang sudah besar dan bekerja, dan istrinya yang bekerja mengurus suatu guest house dengan 40 kamar di pinggir kota.
Mereka tinggal di suatu rumah dalam kompleks itu, dan Bob mengerjakan pekerjaan perawatan guest house itu sekali seminggu. Reparasi ringan, mengecat dan menambal yang bocor. Untuk pekerjaan ini, Bob menerima AUD 250. Jumlah yang cukup besar karena AUD 10 sudah cukup untuk makan kenyang di rumah makan biasa.
Karena suami istri punya penghasilan dan anaknya sebagian sudah bekerja, sebetulnya ia sudah bisa pensiun, katanya. Tetapi ia tidak tenang kalau tidak bekerja. Soalnya, ia senang bertemu penumpang dan menambah kenalan.
"Wah, Anda pasti banyak kawan dong. Orang tentu senang naik taksi Anda." Oh ya, Bob membenarkan.
Bahkan, dengan malu-malu ia mengaku, dua tahun yang lalu ia terpilih sebagai pengemudi taksi terbaik tahun itu, "Taxi Driver of the Year".
Pemilihan pengemudi terbaik ini dilakukan oleh penumpang taksi melalui angket dalam daftar isian di koran. Kehormatannya besar dan hadiahnya juga menyenangkan, yaitu senilai AUD 10,000 dan boleh diambil dalam salah satu dari dua bentuk. Bisa dijadikan potongan terhadap biaya lisensi taksi yang besarnya AUD 50,000 dan bisa juga dalam bentuk liburan ke tempat yang paling disukai senilai AUD 10,000 itu.
Karena Bob tidak memiliki taksi yang memerlukan lisensi, ia memilih liburan beserta istrinya, mungkin ke Singapura atau Hongkong. Liburan boleh dilakukan kapan saja dalam jangka waktu lima tahun.
RENCANA ke depan? Tidak ada. Ia senang dengan pekerjaannya, senang dengan hidupnya dan senang dengan lingkungannya.
Bob sebetulnya tidak sendiri dalam ketenangannya. Banyak orang seperti Bob yang mempunyai pekerjaan sederhana tetapi penting, dan menjalankannya dengan bertanggung jawab. Bagi mereka profesionalisme bukan suatu istilah tetapi gaya hidup sehari-hari.
Sama juga dengan penjaga lapangan tenis di Selandia Baru, manajer apartemen di Finlandia dan pemandu museum di Amerika Serikat. Sama juga dengan pengemudi taksi di Jakarta dan guru SD di Pondok Labu dan pegawai negeri di Banjarmasin.
Bedanya, Bob dan orang seperti dia mendapat imbalan yang layak dan jaminan sosial untuk kesehatan, pendidikan, dan hari tua. Karena kebetulan mereka hidup dalam negara di mana kebaikan mendapat imbalan yang lebih besar daripada kekuasaan, negara yang mempunyai apa yang disebut sebagai civil society.
Wimar Witoelar - Asal Usul, 9 Juli 2000

 

 

 

oleh Wimar Witoelar 

 

SEBETULNYA namanya Robin, tetapi ia lebih senang dipanggil Bob. Nomornya 171994 kalau tidak salah, karena catatan saya hilang. Itu adalah nomor pengemudi taksi yang membawa taksi warna kuning di Kota Melbourne, Australia.

 

Sopir taksi sering menjalankan peran penting dalam kehidupan seseorang dalam perjalanan. Bob langsung menjalankan peran penting ini. "Apa itu koper Anda?" katanya sambil menunjuk koper abu-abu bertali merah.

 

"Oh ya betul. Kok tahu?"

 

Dengan tangkas Bob menjawab, "Habis menurut komputer saya, hotel memanggil taksi ini untuk mengantar Anda ke bandar udara. Dan karena Anda datang tanpa koper, pasti yang di pintu itu punya Anda."

 

Betul sekali. Saya kira koper sudah dimasukkan oleh orang hotel ke dalam bagasi mobil, makanya koper itu ditinggal saja. Untung ada Bob. Dia memang senang menjaga penumpangnya.

 

Dalam perjalanan dia cerita tentang satu keluarga yang pernah diantarkannya ke bandar udara. Ternyata waktu sampai di bandara, salah satu kopernya ketinggalan. Waktu mereka panik Bob mengatakan, "Tenang, tunggu saja di sini. Saya akan ambil."

 

Lalu ia balik sendiri dengan taksinya dan mengambilnya ke hotel. Untuk jasa tambahan ini, Bob cukup dibayar AUD (Dollar Australia) 10 untuk mengganti waktunya. Padahal menurut meter, perjalanan tambahan itu bernilai AUD 45.

 

Ia baik pada penumpangnya. Tetapi bila penumpangnya bukan orang baik, Bob bisa keras juga. Belum lama ia membawa penumpang yang tidak mau membayar. Alasannya, tarifnya terlalu mahal.

 

Lho, kata Bob, itu memang segitu menurut meter. Tetapi orang itu tidak mau bayar, karena ada tambahan gara-gara pajak baru bernama GST, yang ia merasa tidak perlu bayar karena ia bekerja pada suatu lembaga nonprofit.

 

Itu membuat Bob sangat berang dan mereka berdebat keras. Ujungnya bukan pukul-pukulan, tetapi Bob membawa penumpangnya ke kantor polisi. Dia tinggalkan penumpang rewel itu di kantor polisi.

 

"Tetapi apakah akhirnya dia bayar?" tanya saya. Bob menjawab, oh ya, polisi memutuskan orangnya harus bayar. Tambah lagi AUD 10.

 

"Buat apa?" Untuk pengganti ongkos waktu yang terpakai dalam urusan itu, kata Bob.

 

BOB sudah menjadi pengemudi taksi sejak tahun 1974. Sebelumnya, ia menjadi tentara dan ditempatkan di Vietnam. Berbeda dengan pengemudi taksi lain, Bob tidak banyak menyuarakan pendapat politik. Ia lebih banyak bercerita mengenai pekerjaannya dan perlengkapan yang membantu tugasnya.

 

Antara lain ia bangga sekali dengan komputer yang memuat segala data dan mengirimkan data perjalanan ke kantor pusat. Di sana orang bisa memantau jumlah penumpang, asal dan tujuan perjalanan, jam berangkat, sampai kepada lokasi mobil taksi yang ia bawa.

 

Data dikirim melalui satelit yang menggunakan program pemantauan geografis. Setiap saat, kantor pusat tahu taksi Bob ada di mana. Sehingga kalau ada persoalan, Bob tinggal memijit tombol, dan mobil taksi lain terdekat dapat memberikan pertolongan, atau memanggil polisi.

 

Katanya sistem pengendali bahaya ini jarang dipakai, karena hanya satu dari seribu penumpang yang menimbulkan masalah. Tetapi yang penting, alat ini membawa ketenangan.

 

Bob memang kelihatan tenang dalam pembawaan. Ia bercerita tentang anak-anaknya yang sudah besar dan bekerja, dan istrinya yang bekerja mengurus suatu guest house dengan 40 kamar di pinggir kota.

 

Mereka tinggal di suatu rumah dalam kompleks itu, dan Bob mengerjakan pekerjaan perawatan guest house itu sekali seminggu. Reparasi ringan, mengecat dan menambal yang bocor. Untuk pekerjaan ini, Bob menerima AUD 250. Jumlah yang cukup besar karena AUD 10 sudah cukup untuk makan kenyang di rumah makan biasa.

 

Karena suami istri punya penghasilan dan anaknya sebagian sudah bekerja, sebetulnya ia sudah bisa pensiun, katanya. Tetapi ia tidak tenang kalau tidak bekerja. Soalnya, ia senang bertemu penumpang dan menambah kenalan.

 

"Wah, Anda pasti banyak kawan dong. Orang tentu senang naik taksi Anda." Oh ya, Bob membenarkan.

 

Bahkan, dengan malu-malu ia mengaku, dua tahun yang lalu ia terpilih sebagai pengemudi taksi terbaik tahun itu, "Taxi Driver of the Year".

 

Pemilihan pengemudi terbaik ini dilakukan oleh penumpang taksi melalui angket dalam daftar isian di koran. Kehormatannya besar dan hadiahnya juga menyenangkan, yaitu senilai AUD 10,000 dan boleh diambil dalam salah satu dari dua bentuk. Bisa dijadikan potongan terhadap biaya lisensi taksi yang besarnya AUD 50,000 dan bisa juga dalam bentuk liburan ke tempat yang paling disukai senilai AUD 10,000 itu.

 

Karena Bob tidak memiliki taksi yang memerlukan lisensi, ia memilih liburan beserta istrinya, mungkin ke Singapura atau Hongkong. Liburan boleh dilakukan kapan saja dalam jangka waktu lima tahun.

 

RENCANA ke depan? Tidak ada. Ia senang dengan pekerjaannya, senang dengan hidupnya dan senang dengan lingkungannya.

 

Bob sebetulnya tidak sendiri dalam ketenangannya. Banyak orang seperti Bob yang mempunyai pekerjaan sederhana tetapi penting, dan menjalankannya dengan bertanggung jawab. Bagi mereka profesionalisme bukan suatu istilah tetapi gaya hidup sehari-hari.

 

Sama juga dengan penjaga lapangan tenis di Selandia Baru, manajer apartemen di Finlandia dan pemandu museum di Amerika Serikat. Sama juga dengan pengemudi taksi di Jakarta dan guru SD di Pondok Labu dan pegawai negeri di Banjarmasin.

 

Bedanya, Bob dan orang seperti dia mendapat imbalan yang layak dan jaminan sosial untuk kesehatan, pendidikan, dan hari tua. Karena kebetulan mereka hidup dalam negara di mana kebaikan mendapat imbalan yang lebih besar daripada kekuasaan, negara yang mempunyai apa yang disebut sebagai civil society.

 

 

 

 

Print article only

0 Comments:

« Home