Articles

Siapa bilang kopi tidak punya etika

Perspektif Online
23 November 2009

oleh Didiet Budi Adiputro

Oleh : Didiet Budi Adiputro
“eh, kita ngopi yuk”, ajakan seperti ini tampaknya sudah sangat familiar kita dengar sehari – hari. Biasanya minum kopi di kafe atau warung tradisional  bisa jadi sarana kita untuk tukar pikiran,curhat, berbisnis, bicara politik atau sekedar kongkow-kongkow aja. Kopi bukan hanya sekedar minuman lezat  dan beraroma nikmat yang bisa bikin otak kita terus “on”, tapi  dibalik itu aktivitas ngopi juga bisa menjadi  simbol  situasi yang bahagia, tenang, dan damai.
“Kalau situasi negara tidak aman, bagaimana orang bisa dengan tenang pergi ke coffee shop dengan santai , yang ada kita harus demonstrasi  tiap hari”, paling tidak itu pendapat Wimar Witoelar yang juga penikmat kopi. Kalau dipikir memang betul sih, karena biasanya ciri khas orang yang kongkow di coffee  shop  adalah selalu tersenyum dan tertawa. Karena suasana di kedai kopi selalu bisa membuat orang menjadi relaks dan senang.
Anyway, sudah jadi rahasia umum bahwa Negara kita terkenal sebagai penghasil kopi keempat  terbesar di dunia, setelah Brazil, Vietnam , dan Afrika . Tapi bukan hanya keunggulan secara kuant itas saja,namun kita punya beragam cita rasa kopi yang bernilai tinggi dari berbagai daerah. Meskipun secara umum di dunia  pada dasarnya hanya terkenal dua jenis kopi saja yaitu Arabica  dan robusta, namun karena kondisi geografis daerah di Indonesia dan cara pengolahan yang berbeda-beda justru menghasilkan warna tersendiri dari masing – masing kopi. Oleh karenanya diversifikasi rasa, tingkat kekentalan dan keasamannnya berbeda-beda, meskipun sama-sama berasal dari  tanah Indonesia.
Sebut saja  mulai kopi Aceh, Sumatra Lintong, Sumatra mandailing, Lampung, Bondowoso, Bali, , Flores , Papua Wamena, sampai  Kopi Luwak yang legendaris. Namun sayangnya, jenis kopi Arabica  yang bernilai lebih tinggi karena kualitasnya ,justru lebih minim dikembangkan di Indonesia, dibanding robusta  yang selama ini jadi andalan ekspor. Entah apa penyebabnya.
 Namun dari segi kualitas kita punya  varietas andalan yang selalu dicari orang dimana-mana, yaitu Kopi Luwak. Kopi Luwak adalah kopi yang dihasilkan dari biji kopi yang diambil dari kotoran Luwak, hewan sejenis musang pemakan buah kopi yang banyak hidup di Sumatra dan Jawa.  Secara alamiah, luwak akan memilih dan mengkonsumsi buah kopi terbaik. Dalam perjalanannnya biji kopi yang ikut termakan ikut keluar secara utuh bersama kotoran luwak, karena pencernaan luwak memang tidak bisa mencernanya.
Nah, biji kopi itulah yang kemudian diproses dan pada akhirnya akan menjadi kopi luwak bercita rasa tinggi dan mahal harganya, karena jadi incaran penikmat kopi sedunia. Oleh karena semakin tingginya permintaan , kini mulai banyak dibuat penangkaran-penangkaran luwak di beberapa daerah. Jadi  jika dulu luwak bisa secara liar memilih buah kopi terbaik pilihannya, kini manusialah yang memilih buah kopi untuk mekanan si luwak. Meskipun sudah tidak secara alami, harga kopi luwak tetap selangit.
Membuat kopi  juga harus memilki seni dan cara tersendiri kalau mau aroma rasa kopi bisa keluar secara maksimal. Tentu saja tidak sesimple yang kita lakukan selama ini, yaitu masukan kopi, gula lalu aduk bersamaan dengan dituangnya air panas. Menurut pemilik Anomali Café yang juga ahli pembuat kopi Irfan Helmi, membuat kopi tidak sesederhana itu.  Selain takaran kopi yang harus pas dengan gelas/cangkir, air yang digunakan untuk menseduhpun harus berkisar  80-90 derajat celcius.”jangan pakai air mendidih, karena cita rasa kopi akan rusak” , ujar putra betawi asli ini.
Masih ingat ciri khas James Bond ketika dia ingin minum martini, dia selalu pesan minumannya Shaken, not stirred (dikocok tapi jangan diaduk). Hal ini nampaknya juga berlaku buat kita yang ingin menikmati kopi. Lazimnya memang setelah kita menseduh kopi dengan air panas, secara normal kita langsung ambil sendok dan mulai mengaduk. Menurut Irfan, itu cara yang salah dalam menyajikan kopi.  sarannya jangan mengaduk kopi karena aromanya akan lebih cepat hilang, biarkan ampasnya mengendap perlahan.  Justru proses pencampuran kopi dilakukan dengan cara menuangkan air panas secara berputar ketika kita menyeduh kopinya . Diamkan selama kurang lebih 4 menit, baru setelah itu kita bisa merasakan  kenikmatan cita rasa kopi sejati. 
Ternyata tidak segampang yang kita kira selama ini karena semua memang ada caranya dan tidak boleh asal, kalau kita ingin mendapatkan kualitas terbaik dari kopi yang akan kita minum. Selamat mencoba dan menikmati nikmatnya kopi IndonesiOleh : Didiet Budi Adiputro

setelah wawancara Perspektif Baru, Irvan menjelaskan cara pembuatan kopi panas

 

“Eh, kita ngopi yuk”, ajakan seperti ini tampaknya sudah sangat familiar kita dengar sehari – hari. Biasanya minum kopi di kafe atau warung tradisional  bisa jadi sarana kita untuk tukar pikiran,curhat, berbisnis, bicara politik atau sekedar kongkow-kongkow aja. Kopi bukan hanya sekedar minuman lezat  dan beraroma nikmat yang bisa bikin otak kita terus “on”, tapi  dibalik itu aktivitas ngopi juga bisa menjadi  simbol  situasi yang bahagia, tenang, dan damai.

“Kalau situasi negara tidak aman, bagaimana orang bisa dengan tenang pergi ke coffee shop dengan santai , yang ada kita harus demonstrasi  tiap hari”, paling tidak itu pendapat Wimar Witoelar yang juga penikmat kopi. Kalau dipikir memang betul sih, karena biasanya ciri khas orang yang kongkow di coffee  shop  adalah selalu tersenyum dan tertawa. Karena suasana di kedai kopi selalu bisa membuat orang menjadi relaks dan senang.

Anyway, sudah jadi rahasia umum bahwa Negara kita terkenal sebagai penghasil kopi keempat  terbesar di dunia, setelah Brazil, Vietnam , dan Afrika . Tapi bukan hanya keunggulan secara kuantitas saja,namun kita punya beragam cita rasa kopi yang bernilai tinggi dari berbagai daerah. Meskipun secara umum di dunia  pada dasarnya hanya terkenal dua jenis kopi saja yaitu Arabica  dan robusta, namun karena kondisi geografis daerah di Indonesia dan cara pengolahan yang berbeda-beda justru menghasilkan warna tersendiri dari masing – masing kopi. Oleh karenanya diversifikasi rasa, tingkat kekentalan dan keasamannnya berbeda-beda, meskipun sama-sama berasal dari  tanah Indonesia.

Sebut saja  mulai kopi Aceh, Sumatra Lintong, Sumatra Mandailing, Lampung, Bondowoso, Bali, Toraja, Flores , Wamena, sampai  Kopi Luwak yang legendaris. Namun sayangnya, jenis kopi Arabica  yang bernilai lebih tinggi karena kualitasnya ,justru lebih minim dikembangkan di Indonesia, dibanding robusta  yang selama ini jadi andalan ekspor. Entah apa penyebabnya.

Namun dari segi kualitas kita punya  varietas andalan yang selalu dicari orang dimana-mana, yaitu Kopi Luwak. Kopi Luwak adalah kopi yang dihasilkan dari biji kopi yang diambil dari kotoran Luwak, hewan sejenis musang pemakan buah kopi yang banyak hidup di Sumatra dan Jawa.  Secara alamiah, luwak akan memilih dan mengkonsumsi buah kopi terbaik. Dalam perjalanannnya biji kopi yang ikut termakan ikut keluar secara utuh bersama kotoran luwak, karena pencernaan luwak memang tidak bisa mencernanya.

Nah, biji kopi itulah yang kemudian diproses dan pada akhirnya akan menjadi kopi luwak bercita rasa tinggi dan mahal harganya, karena jadi incaran penikmat kopi sedunia. Oleh karena semakin tingginya permintaan , kini mulai banyak dibuat penangkaran-penangkaran luwak di beberapa daerah. Jadi  jika dulu luwak bisa secara liar memilih buah kopi terbaik pilihannya, kini manusialah yang memilih buah kopi untuk mekanan si luwak. Meskipun sudah tidak secara alami, harga kopi luwak tetap selangit.

Membuat kopi  juga harus memilki seni dan cara tersendiri kalau mau aroma rasa kopi bisa keluar secara maksimal. Tentu saja tidak sesimple yang kita lakukan selama ini, yaitu masukan kopi, gula lalu aduk bersamaan dengan dituangnya air panas. Menurut pemilik Anomali Café yang juga ahli pembuat kopi Irfan Helmi, membuat kopi tidak sesederhana itu.  Selain takaran kopi yang harus pas dengan gelas/cangkir, air yang digunakan untuk menseduhpun harus berkisar  80-90 derajat celcius.”jangan pakai air mendidih, karena cita rasa kopi akan rusak” , ujar putra betawi asli ini.

Masih ingat ciri khas James Bond ketika dia ingin minum martini, dia selalu pesan minumannya shaken, not stirred (dikocok tapi jangan diaduk). Hal ini nampaknya juga berlaku buat kita yang ingin menikmati kopi. Lazimnya memang setelah kita menseduh kopi dengan air panas, secara normal kita langsung ambil sendok dan mulai mengaduk. Menurut Irfan, itu cara yang salah dalam menyajikan kopi.  sarannya jangan mengaduk kopi karena aromanya akan lebih cepat hilang, biarkan ampasnya mengendap perlahan.  Justru proses pencampuran kopi dilakukan dengan cara menuangkan air panas secara berputar ketika kita menyeduh kopinya . Diamkan selama kurang lebih 4 menit, baru setelah itu kita bisa merasakan  kenikmatan cita rasa kopi sejati. 

Ternyata tidak segampang yang kita kira selama ini karena semua memang ada caranya dan tidak boleh asal, kalau kita ingin mendapatkan kualitas terbaik dari kopi yang akan kita minum. Selamat mencoba dan menikmati nikmatnya kopi Indonesia

 

 

Print article only

10 Comments:

  1. From dewi on 23 November 2009 19:31:47 WIB
    Mulai ngopi dari kecil, baru tahu etika mengopi sekarang. Engga rugi datang on time ke kantor, bisa dapat ilmu 'kopi' dan jadi tahu kopi pun bergender.
  2. From erwin fahlevi on 24 November 2009 09:31:17 WIB
    Sejak sekolah di kalimantan cuman sering ngeteh-jarang minum kopi.
    Waktu kuliah di Malang, malah jatuh cinta sama kopi tubruk.
    Sekarang balik ke Kalimantan, sulit nyari kopi tubruk..
    kalo ada juragan kopi yang comment mau nawarin kopi tubruk gratis. moggo, ta tampani..
  3. From Irvan Helmi on 24 November 2009 09:57:21 WIB
    Wah.. canggih ya kantornyaa.. bener2 salut sama timnya Perspektif. Seru, banyak nanya, bawel2, iseng, tapi berkesan banget :p.. hahaa.. ga tau juga bakal bikin kopi pagi2 di kantor orang.. hahaa.. sampe ketemu lagi yaa.. yukk kita \"ngoprol\".. (irvanhelmi @ koprol.com)
  4. From Chandra on 24 November 2009 11:36:46 WIB
    Jadi inget,dulu ibu beli coffee bean mentah, di sangrai terus digiling pakai gilingan kopi manual yang jadul itu.Kita nungguin sambil menghirup aromanya sampai siap disedu terus ,slurp....hem. Good old days. Buat coffee maniac,silahkan lihat cara bikin kopi di http://www.wikihow.com/Make-a-Good-Pot-of-Coffee
  5. From Mundhori on 26 November 2009 13:11:15 WIB
    Ngobrol di warung kopi,tdk lengkap kalau tdk ngomong politik gonjang ganjing buayagate tdk selesai selesai.Sehingga rakyat jadi penasaran.Sampai sampai kopi disruput habis tdk terasa. Gimana sih masalahnya ?? Kata orang kunci katanya ada di ketegasan Sby. Atau ada permainan di balik persoalan ini guna ngalihkan permasalahan yg lebih serem lagi, yaitu bailout Century bank
    Rakyat ingin tahu nih. Namun warong kopi tetap semarak setiap paginya.
  6. From faisal on 28 November 2009 17:47:13 WIB
    oke dech.. bisa dicoba nih etikanya...
    jadi ingat kata-kata alm. Mbah Surip; "barang siapa yang ingin panjang umur dan bahagia, kurangi tidur, ban yakin ngopi... ha.. ha.. ha.."
  7. From Aulawi Ahmad on 02 December 2009 20:30:39 WIB
    wah ternyata begitu etika ngopi he2, persis kalau ibuku bikin kopi, didiamkan dulu berapa menit baru dikasih gula :)
    Tq 4 share :)
  8. From MadRopeq on 13 December 2009 14:35:20 WIB
    hmm..nice thread..
    bagi yang sering ngopi di warung2 kopi jalanan, bukan di coffe shop yang berkelas, akan menemukan bedanya dari sudut harga dan penghasilan para peracik kopi tsb. Kopi di warkop biasa bisa hanya 1500-3000 per cangkir, sementara di coffe shop ternama bisa >15.000 dengan durasi waktu ngobrol bisa 1-7 jam, dengan ditemani rokok tentunya...bayangkan...
    tapi, jangan salah cita rasa kopi jalanan tidak kalah dengan kopi di tempat yang berkelas...
    save our side road coffe...=)
  9. From aan on 21 December 2009 20:44:41 WIB
    filosofi kopi,,menyegarkan
  10. From Topher on 08 September 2011 01:26:01 WIB
    Heckuva good job. I sure apprecaite it.

« Home