Articles

Wimar Witoelar Yakin Sri MulyanI Tak Bersalah


03 December 2009

 

http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2009/12/03/brk,20091203-211769,id.html
Wimar Witoelar Yakin Sri MulyanI Tak Bersalah
Kamis, 03 Desember 2009 | 19:41 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta -Pakar komunikasi dan mantan juru bicara Presiden era pemerintahan Abdurrahman Wahid, Wimar Witoelar merasa yakin Menteri Keuangan, 
Sri Mulyani Indrawati tak bersalah dalam kasus Bank Century. Dia mengenal Sri Mulyani bukan hanya sebagai menteri keuangan melainkan juga sebagai kekuatan 
reformasi pemerintah selama ini.
“Saya senang ada panitia angket, supaya menjaga agar kasus ini tidak digiring ke arah tertentu, dan kelihatan siapa yang berbuat jahat. Secara pribadi saya 
merasa orang dalam gedung ini bukan yang berbuat jahat,” kata Wimar di Departemen Keuangan, Kamis (3/12).
Wimar datang ke Departemen Keuangan didampingi beberapa stafnya sekitar pukul 16.00 WIB menemui Sri Mulyani. Dia mengaku sejak dahulu mendukung Sri Mulyani. 
Oleh sebab itu, dia datang menemui Sri untuk memperoleh fakta terkait kasus Bank Century. “Karena saya sering berhubungan dengan orang dan sebagian punya 
salah persepsi atau digiring persepsinya,” ujarnya.
Wimar mengakui banyaknya kemungkinan unsur kejahatan Bank Century. Tapi, dia berharap kasus Bank Century tak melulu dipersoalkan berdasarkan praduga. 
Apalagi, jika praduga itu ditujukan kepada pejabat yang sangat diperlukan untuk melanjutkan tugasnya membangun reformasi.
Dia merasa upaya untuk menggiring opini masyarakat dalam kasus ini sangat kuat sehingga menyebabkan kerancuan. Dia menduga upaya itu dilakukan pihak 
kepentingan tertentu. Padahal, menurut Wimar, masalah Bank Century sudah sangat jelas, yakni aspek pencegahan dari kerusakan sistemik perekonomian dan adanya 
dugaan pernjarahan. 
Layaknya pemadam kebakaran, dia menganalogikan seorang Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia bertugas memadamkan kebakaran. “Tapi dia tak punya 
wewenang untuk menangkap orang-orang yang menjarah di tengah kebakaran itu,” katanya.
Oleh sebab itu, sejak awal dia menilai Komite Stabilitas Sistem Keuangan bekerja demi stabilitas sistem keuangan. Pada saat itu, kata dia, Bank Century 
berpotensi menjadi sumber risiko sistemik bagi perekonomian. “Saya percaya, termasuk orang-orang yang sekarang mengkritik pada waktu itu juga tidak ada yang 
menpersoalkan,” katanya.
AGOENG WIJAYA 
Wimar: Pisahkan antara Penyelamatan Century dan  Pidana
http://www.republika.co.id/berita/93364/Wimar_Pisahkan_antara_Penyelamatan_Century_dan_Pidana
By Republika Newsroom
Kamis, 03  Desember 2009  pukul 20 :11 :00 Nasional  »  Berita
JAKARTA--Masalah Bank Century hendaknya perlu dilihat secara jernih. Harus ada  pemisahaan terkait dengan penyelamatan Bank Century yang berdampak sistemik dengan kasus pidana yang ada di dalam Bank itu. Hal itu disampaikan oleh Pakar Komunikasi Wimar Witoelar, usai bertemu dengan  Menteri Keuangan Sri Mulyani, di Departemen Keuangan, Jakarta, Kamis (3 /12).
" Harus dibedakan antara keputusan tentang sistemik risk dan kasus pidana," ujar  Wimar. Menurut dia, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bekerja untuk melakukan  stabilitas sektor keuangan. Bank Century pada krisis waktu itu dinilai menjadi  sumber sistemik risk.
"Saya percaya, termasuk orang-orang yang sekarang  mengkritik pada waktu itu kondisi akhir tahun 2008  tidak ada yang  mempersoalkan, bahwa kondisi saat itu krisis, " ujar dia.
Apa yang dikatakaan Jusuf Kalla, adanya perampokan dalam Bank Century itu  harus diusut.
Dia waktu itu bisa memerintahkan polisi untuk menangani kasus itu.
"Tapi untuk kasus stabilitas keuangan tentu kompetensinya dari KSSK, Menkeu  dan BI," ungkap dia.
Dia menilai, sekarang ada upaya untuk menggiring opini masyarakat ke arah  tertentu.
"Saya tidak bisa katakan opini masyarakat bergeser ke mana. Tapi ada  upaya untuk menggiring opini masyarakat sangat kuat oleh orang-orang tertentu  yang mungkn punya kepentingan tertentu," papar Wimar.
Sejak beberapa waktu terakhir Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bertemu  dengan beberapa pakar. Selain Anies Baswedan dan juga Wimar Witoelar,  sebelumnya Menkeu juga berkomunikasi dengan Guru Besar Hukum Universitas  Indonesia Hikmahanto Juwana dan Guru Besar Hukum Ekonomi Universitas  Indonesia Erman Rajagukguk.
thr/kpo
http://web.bisnis.com/umum/sosial/1id149748.html
Bisnis Indonesia
Kamis, 03 /12 / 2009 20 :06  WIB
Anis & Wimar beri masukkan kepada Menkeu
oleh : Agust Supriadi
JAKARTA (bisnis.com): Menkeu Sri Mulyani Indrawati meminta masukan  dari sejumlah akademisi terkait polemik kasus Bank Century.  Sore tadi, Rektor Universitas Paramadina Anis Baswedan dan pakar  Komunikasi Wimar Witoelar mengunjungi kantor Menteri Keuangan.
Sehari sebelumnya, Pakar Sosiologi Komunikasi Universitas Indonesia Imam Prasodjo juga tampak di Depkeu.
Pada Selasa lalu, dua Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Erman Rajagukguk dan Hikmahanto Juwono juga dimintai pendapatnya  terkait legalitas kebijakan KKSK.
Anis menjelaskan kunjungannya ke Depkeu untuk mendiskusikan situasi  nasional saat ini, termasuk kasus Bank Century. Dia menilai sudah  saatnya memandang kasus yang merebak dari sisi legalitas, tidak lagi  dari sisi politik.  "Harus sudah mulai bicara berdasarkan fakta, bukan teori. Dulu  mengkritik polisi karena menduga Bibit Chandra tanpa fakta. Sekarang  kita menggugat Bank Century tanpa fakta. Padahal sudah ada BPK dan  nanti PPATK," jelas dia.
Terkait kasus Bank Century, dia menilai saatnya BPK dan PPATK serta  Bank Indonesia mengungkap semuanya ke publik dengan transparan.
" Jangan jadikan komoditas, nanti RI tersandera. Masa hampir dua bulan  bicara dua kasus ini saja. Banyak agenda penting yang harus  diselesaikan."
Saat ini, lanjut dia, waktunya memfokuskan perhatian pada bagaimana  memeratakan pertumbuhan ekonomi di seluruh Indonesia.
"Sebenarnya  tidak penting di mana ibu kota, yang penting pusat pertumbuhan  tersebar di semua tempat."
Sementara itu, Wimar Witoelar yang pernah menjabat sebagai  penasihat mantan presiden Abdurahman Wahid menuturkan sebagai  warga yang bertanggung jawab dirinya kebijakan penanganan krisis.
Kendati ada keputusan yang dipersoalkan karena diindikasi ada tindak  kejahatan, tetapi tidak ada yang bisa dikenakan praduga.
"Terutama pejabat-pejabat yang masih sangat diperlukan untuk  melanjutkan, bukan saja pekerjaan rutin, tapi juga reformasi sistem  keuangan.
Sri Mulyani, selain Menteri Keuangan, adalah kekuatan  reformasi pemerintah yang sudah terbukti selama 5  tahun," tuturnya.
Wimar menilai persepsi masyarakat perlu diluruskan terkait perkara Bank Century.  Untuk itu, dia ingin membantu masyarakat melihat segala kasus secara jernih  sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. (tw) bisnis.com


Wimar Witoelar Yakin Sri MulyanI Tak Bersalah

Kamis, 03 Desember 2009 | 19:41 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Pakar komunikasi dan mantan juru bicara Presiden era pemerintahan Abdurrahman Wahid, Wimar Witoelar merasa yakin Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati tak bersalah dalam kasus Bank Century. Dia mengenal Sri Mulyani bukan hanya sebagai menteri keuangan melainkan juga sebagai kekuatan reformasi pemerintah selama ini.

“Saya senang ada panitia angket, supaya menjaga agar kasus ini tidak digiring ke arah tertentu, dan kelihatan siapa yang berbuat jahat. Secara pribadi saya merasa orang dalam gedung ini bukan yang berbuat jahat,” kata Wimar di Departemen Keuangan, Kamis (3/12).

Wimar datang ke Departemen Keuangan didampingi beberapa stafnya sekitar pukul 16.00 WIB menemui Sri Mulyani. Dia mengaku sejak dahulu mendukung Sri Mulyani. Oleh sebab itu, dia datang menemui Sri untuk memperoleh fakta terkait kasus Bank Century. “Karena saya sering berhubungan dengan orang dan sebagian punya salah persepsi atau digiring persepsinya,” ujarnya.

Wimar mengakui banyaknya kemungkinan unsur kejahatan Bank Century. Tapi, dia berharap kasus Bank Century tak melulu dipersoalkan berdasarkan praduga. Apalagi, jika praduga itu ditujukan kepada pejabat yang sangat diperlukan untuk melanjutkan tugasnya membangun reformasi. Dia merasa upaya untuk menggiring opini masyarakat dalam kasus ini sangat kuat sehingga menyebabkan kerancuan. Dia menduga upaya itu dilakukan pihak kepentingan tertentu. Padahal, menurut Wimar, masalah Bank Century sudah sangat jelas, yakni aspek pencegahan dari kerusakan sistemik perekonomian dan adanya dugaan pernjarahan. 

Layaknya pemadam kebakaran, dia menganalogikan seorang Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia bertugas memadamkan kebakaran. “Tapi dia tak punya wewenang untuk menangkap orang-orang yang menjarah di tengah kebakaran itu,” katanya.

Oleh sebab itu, sejak awal dia menilai Komite Stabilitas Sistem Keuangan bekerja demi stabilitas sistem keuangan. Pada saat itu, kata dia, Bank Century berpotensi menjadi sumber risiko sistemik bagi perekonomian. “Saya percaya, termasuk orang-orang yang sekarang mengkritik pada waktu itu juga tidak ada yang menpersoalkan,” katanya.

AGOENG WIJAYA 


Wimar: Pisahkan antara Penyelamatan Century dan  Pidana

By Republika Newsroom

Kamis, 03  Desember 2009  pukul 20 :11 :00 Nasional  »  Berita

JAKARTA--Masalah Bank Century hendaknya perlu dilihat secara jernih. Harus ada  pemisahaan terkait dengan penyelamatan Bank Century yang berdampak sistemik dengan kasus pidana yang ada di dalam Bank itu. Hal itu disampaikan oleh Pakar Komunikasi Wimar Witoelar, usai bertemu dengan  Menteri Keuangan Sri Mulyani, di Departemen Keuangan, Jakarta, Kamis (3 /12).

" Harus dibedakan antara keputusan tentang sistemik risk dan kasus pidana," ujar  Wimar. Menurut dia, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bekerja untuk melakukan  stabilitas sektor keuangan. Bank Century pada krisis waktu itu dinilai menjadi  sumber sistemik risk.

"Saya percaya, termasuk orang-orang yang sekarang  mengkritik pada waktu itu kondisi akhir tahun 2008  tidak ada yang  mempersoalkan, bahwa kondisi saat itu krisis, " ujar dia.

Apa yang dikatakaan Jusuf Kalla, adanya perampokan dalam Bank Century itu  harus diusut. Dia waktu itu bisa memerintahkan polisi untuk menangani kasus itu. "Tapi untuk kasus stabilitas keuangan tentu kompetensinya dari KSSK, Menkeu  dan BI," ungkap dia. Dia menilai, sekarang ada upaya untuk menggiring opini masyarakat ke arah  tertentu.

"Saya tidak bisa katakan opini masyarakat bergeser ke mana. Tapi ada  upaya untuk menggiring opini masyarakat sangat kuat oleh orang-orang tertentu  yang mungkn punya kepentingan tertentu," papar Wimar. Sejak beberapa waktu terakhir Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bertemu  dengan beberapa pakar. Selain Anies Baswedan dan juga Wimar Witoelar,  sebelumnya Menkeu juga berkomunikasi dengan Guru Besar Hukum Universitas  Indonesia Hikmahanto Juwana dan Guru Besar Hukum Ekonomi Universitas  Indonesia Erman Rajagukguk.

thr/kpo



Bisnis Indonesia

Kamis, 03 /12 / 2009 20 :06  WIB

Anis & Wimar beri masukkan kepada Menkeu

oleh : Agust Supriadi

JAKARTA (bisnis.com): Menkeu Sri Mulyani Indrawati meminta masukan  dari sejumlah akademisi terkait polemik kasus Bank Century.  Sore tadi, Rektor Universitas Paramadina Anis Baswedan dan pakar  Komunikasi Wimar Witoelar mengunjungi kantor Menteri Keuangan.

Sehari sebelumnya, Pakar Sosiologi Komunikasi Universitas Indonesia Imam Prasodjo juga tampak di Depkeu. Pada Selasa lalu, dua Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Erman Rajagukguk dan Hikmahanto Juwono juga dimintai pendapatnya  terkait legalitas kebijakan KKSK. Anis menjelaskan kunjungannya ke Depkeu untuk mendiskusikan situasi  nasional saat ini, termasuk kasus Bank Century. Dia menilai sudah  saatnya memandang kasus yang merebak dari sisi legalitas, tidak lagi  dari sisi politik.  "Harus sudah mulai bicara berdasarkan fakta, bukan teori. Dulu  mengkritik polisi karena menduga Bibit Chandra tanpa fakta. Sekarang  kita menggugat Bank Century tanpa fakta. Padahal sudah ada BPK dan  nanti PPATK," jelas dia.

Terkait kasus Bank Century, dia menilai saatnya BPK dan PPATK serta  Bank Indonesia mengungkap semuanya ke publik dengan transparan. " Jangan jadikan komoditas, nanti RI tersandera. Masa hampir dua bulan  bicara dua kasus ini saja. Banyak agenda penting yang harus  diselesaikan." Saat ini, lanjut dia, waktunya memfokuskan perhatian pada bagaimana  memeratakan pertumbuhan ekonomi di seluruh Indonesia. "Sebenarnya  tidak penting di mana ibu kota, yang penting pusat pertumbuhan  tersebar di semua tempat."

Sementara itu, Wimar Witoelar yang pernah menjabat sebagai  penasihat mantan presiden Abdurahman Wahid menuturkan sebagai  warga yang bertanggung jawab dirinya kebijakan penanganan krisis. Kendati ada keputusan yang dipersoalkan karena diindikasi ada tindak  kejahatan, tetapi tidak ada yang bisa dikenakan praduga. "Terutama pejabat-pejabat yang masih sangat diperlukan untuk  melanjutkan, bukan saja pekerjaan rutin, tapi juga reformasi sistem  keuangan. Sri Mulyani, selain Menteri Keuangan, adalah kekuatan  reformasi pemerintah yang sudah terbukti selama 5  tahun," tuturnya.

Wimar menilai persepsi masyarakat perlu diluruskan terkait perkara Bank Century.  Untuk itu, dia ingin membantu masyarakat melihat segala kasus secara jernih  sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. (tw) bisnis.com

 

 

Print article only

53 Comments:

  1. From hok on 03 December 2009 23:34:59 WIB
    Seperti apa yg dinyatakan oleh Pak Wimar bahwa Sri Mulyani tidak bersalah, saya setuju dengan beliau. Sekalipun saya tidak mengenal dan tidak pernah berjumpa dengan menkeu tersebut.Tapi saya mengetahui banyak dari buah2 yg dihasilkan dari kebijakan2nya bagi Indonesia.

    Mungkin penilaian saya subyektif. Namun saya percaya secara psikologis,bahwa pertama ,orang jujur dan bijaksana akan bertindak dengan tindakan yg masuk akal dan manusiawi. Dan hal ini sudah ditunjukkan oleh Sri Mulyani dengan berusaha mencari solusi kepada orang2 yg kompeten dalam bidang2 yg berkaitan dengan kasus Bank Century itu seperti,pakar politik,guru2 besar ekonomi,sosial,hukum dsb.Bukan dengan cara2 kasar dan rendahan.

    Kedua, orang sekaliber Sri Mulyani dengan kecerdasan dan penguasaan pengetahuan bidang keuangan tingkat dunia serta nama baik, tidak akan gegabah melakukan kecurangan2 yg merugikan negara Indonesia yg sedang dilayaninya.

    Saya bersyukur Sri Mulyani tidak menghadapi semua manuver2 politik tersebut dengan cara-cara yang sama dengan para penyerangnya ,entah dengan membiayai demo2 tandingan atau cara-cara mobilisasi massa dan media lainnya yg membuat rakyat tidak nyaman.Sehingga lambat laun akan membangkitkan simpati rakyat terhadap dirinya.

    Dalam kasus ini,muncul satu pertanyaan dalam benak saya yaitu mengapa ketika keputusan bailout itu akan dilakukan ,semua orang /tokoh bangsa(?) yg berteriak2 agar Sri Mulyani dan Budiono turun itu, mereka tidak mencegahnya ?

    Adalah tidak salah kalau orang Amerika bilang ,shame on you,buddies ! Bukankah demikian?
  2. From sen on 04 December 2009 02:42:27 WIB
    Setuju dengan pak Wimar, banyak hal yang dibahas hanya dengan praduga.

    DPR seharusnya lebih mengurus soal lain seperti tenaga kerja(lokal maupun tki), masalah menciptakan iklim business yang meningkatkan lapangan pekerjaan, dll.

  3. From Hamim on 04 December 2009 03:23:46 WIB
    Bravo !!!

    Bagus sekali, WW !!
    Ini statement gamblang mempertahankan yang benar.

    Dan cukup menonjol !!!
    Tempo hebat .

  4. From Harimurti on 04 December 2009 04:53:39 WIB
    saya percaya integritas sri mulyani, titik !
  5. From FH on 04 December 2009 07:19:34 WIB
    Good point...selamatkan Mbak Ani dan usut penyalahgunaan wewenang. Pelajaran buat Mbak Ani dan Pak Boed bahwa ternyata penumpang gelap yang ikut ternyata banyak sekali. Bahkan bisa2 dengan dalih prosedur teknis maupun hukum Beliau2 dapat terbawa. Mari kita ajak good guys hati2, bad guys semakin canggih kerjanya ...tetap kita tetap jernih jaga yang baik buang yang buruk.
  6. From margana paripurna on 04 December 2009 09:54:00 WIB
    terkadang nurani kita membisikkan siapa yg sbenarnya salah, tapi karena bukti logis tidak / belum ditemukan, maka yg salah akan divonis benar, dan demikian sebaliknya.
    duh...gusti...tolonglah kami merumuskan sistim hukum yang lebih efektif...
    http://pelemgurih.blogspot.com
  7. From nie on 04 December 2009 14:48:13 WIB
    Apakah ini gejala "kriminalisasi" lagi seperti Cicak vs Buaya?! Masalah wewenang yg dipidanakan karena keputusannya.
  8. From catur on 04 December 2009 15:26:26 WIB
    Saya juga mempunyai keyakinan yang sama seperti pak wimar...
  9. From febs on 04 December 2009 16:16:24 WIB
    buat ibu sri mulyani:

    STAND FAST!!!

    boleh jadi, ini spt yg dialami megawati jaman orba, hanya dtgnya arus angin dari arah yg berbeda, dan bisa sj menghasilkan hsl yg sama spt megawati (jadi presiden RI) atau mungin juga sebaliknya, so the choice is yours, maam!
    tks
  10. From Felix on 04 December 2009 16:39:46 WIB
    Pak WW,

    Waktu Tim 9 melakukan akrobat politik nya dgn mengunjungi para tokoh nasional yg 90% adalah musuh politik nya SBY-Boediono dan kalau pun tidak dgn latar belakang questionable seperti Amien Rais, saya sebetulnya menaruh harapan pada Gus Dur sebagai org yg masih netral dan menempatkan kepentingan negara & bangsa sebagai yg paling utama. Tapi justru Gus Dur malah komentar nya malah sangat provokatif dgn menyurh tangkap Boediono & Sri Mulyani. Pak WW kan pernah dekat dgn Gus Dur, kira2 mengapa sesepuh kita yg satu kok bisa misinformed begitu jauh tentang keadaan yg terjadi sekarang ? apa karena pembisik2 nya ?
  11. From Sunu Gunarto on 04 December 2009 17:48:39 WIB
    Kalau kita menjadi pendukung pak Boed dan ibu SM, dalam kasus bank century ini mari kita menjadi PR (public relation) beliau untuk menjelaskan kepada orang-orang dekat kita (anak, isteri/suami, teman kerja, tetangga, kenalan) agar orang-orang dekat kita tidak tergiring ke opini publik yang menyesatkan. Kita masih butuh orang-orang reformis seperti beliau.

    (http://formulabisnis.com/?id=sunu_g)
  12. From Arthur on 04 December 2009 22:39:35 WIB
    @Felix,saya pernah menulis komentar yg hampir sama("dari cicak ke century",29 Nov.2009),sy rasa memang demikian,dg keterbatasan fisiknya,beliau diberikan informasi yg menyesatkan.Terus berjuang om WW utk membela yg benar!
  13. From Mundhori on 05 December 2009 09:37:04 WIB
    Gerakan tim 9 masih terbau kecemburuan politik akibat terpilihnya SBY kembali.Belum murni demi untuk rakyat.
  14. From Bibeh on 05 December 2009 21:37:32 WIB
    Saya pikir bagi nasabah baik bank atau sekuritas, yang utama adalah uang kembali. Habis perkara.

    Percuma juga kubu-kubuan. Yang kita lihat hanya keinginan politik, tanpa keinginan mengkaji aturan perbankan / sekuritas mana sih yang tidak cukup untuk melindungi nasabah.

    http://perspektif.net/article/article.php?article_id=1156

    Sudah tiga bulan lho!

    Percuma juga dipanjang-panjangin penyelesaiannya, kalau UUD (Ujung-Ujungnya Duit)-nya hangus.

    Ayo Pak Susno, tunjukin di mana ngendonya uang nasabah. Ayo Pak Tito. Lanjutkan. Lebih Cepat-Lebih Baik.

  15. From Chandra on 05 December 2009 22:13:38 WIB
    SMI adalah lokomotif reformasi birokrasi yang berbahaya bagi pejabat korup dan pedagang hitam. SMI tidak boleh sukses dan bertahan di pemerintahan sebab jika sukses dia bisa tampil di 2014 dan itu sangat berbahaya buat mereka. Oleh karenanya dia memang harus didongkel habiss. Apa yang dinyatakan WW benar adanya.
  16. From Felix on 06 December 2009 10:14:05 WIB
    @Arthur, Thanks atas informasi nya.

    @all,

    dari saat sebelum pemilihan KIB jilid 2 SMI pun sdh berusaha di goyang oleh Jusuf Kalla dari para pendukung nya yaitu Drajad Wibowo & Natsyir Mansyur (Golkar dari Sulawesi selatan) dgn mengeluarkan isue seputar kasus century. Waktu itu jelas JK berusaha berusaha mempermalukan baik SMI maupun Boediono dgn mengatakan bahwa kronologis yg di berikan SMI salah & Boediono tidak mau menangkap Robert Tantular.
    Tujuan nya adalah utk menekan SBY agar tidak lagi memilih SMI sebagai Menkeu nya karena beban politik nya akan menjadi berat, tapi ternyata SBY tidak menghiraukan segala rumor itu dan tetap menempatkan SMI sebagai Menkeu. Mungkin ini alasan mengapa SMI 'hanya" meneku dan bukan Menko. I think SBY knew that this is coming. Bayangkan kalau sekarang SMI Menko Ekonomi, bukannya head line nya akan tambah heboh lagi, Wapres & Menko Ekonomi dua2 nya terindikasi korupsi !
    Despite semua kelemahan SBY, satu yg saya salut kepada beliau adalah dia bisa membedakan loyang dgn emas nya, dan meski kelihatan lemah saya melihat nya dia masih punya pendirian & berusaha menjalankan apa yg di yakini nya sebagai benar. (bandingkan dgn Amien Rais misalnya.. yg saya sendiri semakin sulit memutus kan nya.. ini ular apa manusia...)
  17. From IKA APRIANI FATA on 06 December 2009 20:02:39 WIB
    SEMOGA API YANG dipadamkan kan terus padam ..
    meski berdampak pada penjarahan dsb, tpi fokus satu persatu,
    hingga benang ini tak lagi kusut ..amiin !!
    mnrut saya, kita lihat dgn jernih dan proporsional
  18. From Budiman Rahardjo on 06 December 2009 22:19:05 WIB
    SRI MULYANI..maju terus pantang mundur, hadapi semua cecunguk2 yang hanya teriak2 doang.
    saya pendukung anda untuk capres 2014..bravo!!!
  19. From Budiman Rahardjo on 06 December 2009 22:19:58 WIB
    SRI MULYANI..maju terus pantang mundur, hadapi semua cecunguk2 yang hanya teriak2 doang.
    saya pendukung anda untuk capres 2014..bravo!!!
  20. From indra on 06 December 2009 22:50:09 WIB
    Saya semakin tidak mngerti dgn berbagai komentar ttg kasus Century ini. Kenapa sih bukan KPK saja yg didukung utk mngusut tuntas kasus ini mulai dari pemeriksaan thd Robert Tantular, Sri Mulyani budiono, Sby sampai JK. Apa sih susahnya memeriksa mereka semua. Kalo ga salah, ya udah diungkap bhw mereka ga salah.
    Karena mnurut saya yg terpenting sekarang ini adalah mendorong proses hukum utk mngusut kasus ini (dlm hal ini KPK). Jadi berikan lah kekuatan penuh kepada KPK (lewat komentar, dukungan politik dsb).
    Membuktikan bhw "Sri Mulyani tidak bersalah" bukanlah soal keyakinan. Keyakinan "Sri Mulyani tidak bersalah" sama esensinya dgn yg meyakini "Sri Mulyani bersalah" (dan dari kedua keyakinan ini ada puluhan blog, artkel, facebook yg sejenis). Dan kita masy awam tidak belajar apapun dari keyakinan tersebut termasuk dari keyakinan bung Wimar, Felix ato pun JK, Gus Dur, Drajad dsb. Karena sekali lagi bukan keyakinan kalian yg penting, tapi penegakan supremasi hukum.

    Kita masy awam sudah jenuh dgn debat kusir politik yg ga ada ujungnya. Kalo kita serius ingin hidup dalam sistem negara yg modern, maka perkuat institusi negara (dlm hal ini yg anti korupsi). Kita bukan hidup negara tradisional yg menggantungkan kputusan hukum semata2 pada keyakinan pada segelintir elit2 politiknya.

    Trims sebelumnya....
  21. From djaka on 06 December 2009 23:39:03 WIB
    Ya Pak Wimar, ini saatnya kalangan pro SMI untuk mulai ganti berargumen. Berita2 pers minggu kemarin betul2 semuanya memojokkan SMI (dan Budiono). Tidak perlu demo2-an, tapi argumen di publik yg jelas, kuat, dan rasional.
  22. From mbecakmaneh on 07 December 2009 00:13:09 WIB
    Saya orang awam, saya juga nggak termasuk orang yang nuduh Ibu Sri, tapi saya ngerti arti sistemik, dan nggak habis pikir dengan sistemiknya Bu Sri dengan Bank Century.
  23. From elesmana on 07 December 2009 09:42:03 WIB

    Iya benar, jgn tergesa2x dulu.
    Mungkin ini kriminalitas murni (pengegelapan duit oleh robert tantular) atau memang seperti yg banyak dikatakan orang: mengalir ke orang2x tertentu.
    BPK hanya mengaudit, apakah ini masuk ke Tipikor, saat ini sdg dikerjakan oleh KPK.
  24. From Felix on 07 December 2009 10:43:14 WIB
    @Indra,

    "Keyakinan" yg anda jabarkan itu iman namanya bukan keyakinan. Dalam setiap agama ada keyakinan, (keyakinan Tuhan ada, Esa dlsbnya) itu iman dan tidak bisa di ganggu gugat. Sedangkan keyakinan yg saya miliki at least di dasar kan pada fakta dan data yg bisa di verifikasi yg kemudian di olah oleh nalar dan logika sehingga timbul lah keyakinan tersebut. Seperti saya yakin bahwa kalau saya lepas bola yg ada di gengganman saya maka dia akan jatuh ke tanah. Ini juga keyakinan tapi keyakinan yg bisa di verifikasi yg lain dari keyakinan agama.

    Misalnya, FAKTA bahwa dana LPS yg harus dikeluarkan & akan hilang selama nya utk menalangi dana pihak ketiga BC yg di JAMIN adalah 5.5 T JIKA BC di TUTUP adalah DATA yg bisa di verifikasi.
    Dari fakta tersebut maka kita bisa berpikir secara logika, bahwa menyelamat kan BC dgn harga 6.7 T bukanlah sesuatu yg tidak masuk akal, bahkan menurut saya masuk akal sekali dan malah tidak masuk akal kalau tidak di selamatkan. Karena beda nya hanya sedikit sekali dan perbedaan nya mungkin sekali di recover dgn penjualan BC di kemudian hari belum lagi kenyataan bahwa dgn di selamatkan nya BC kita tidak perlu khawatir sama sekali akan dampak sistemik nya (sort of insurance).

    Malah kita harus curiga dgn FAKTA yg ada seperti ini, jangan2 org2 yg ngotot menginginkan BC di tutup ternyata punya niat utk mencelakakan saingan bisnis nya, yg dia tahu menyimpan uang di BC. Ini pun sama buruknya dgn kalau memang ada niat utk menyelamatkan pihak tertentu dgn di bailout nya BC.

    @mbecakmaneh,

    Kalau anda tidak ngerti sistemiknya bu Sri dgn bank century maka artinya anda harus belajar lagi.
  25. From Akbar Haryono Pasaribu on 07 December 2009 17:39:25 WIB
    Terlalu banyak prasangka prasangka yang berkembang di negeri ini. dan hal yang terlalu sulit bagi saya untuk memahami seorang sri mulyani dan boediono terlibat dalam sebuah kejahatan, meskipun saya tidak mengenal beliau beliau tersebut secara pribadi.
    maka untuk sementara ini kesimpulan saya tentang bank century ini hanya karena kegagalan golkar dan pdip dalam pemilu serta cemburu boediono dan sri mulyani yang bukan dari kalangan partai politik bisa duduk di jabatan strategis tersebut.
    jadiu marilah kita kutuk ulah para politisi bila kedua orang ini harus di keluarkan dari kabinet.
    akbar
  26. From Semadi Putra on 07 December 2009 21:22:33 WIB
    Saya yakin rakyat menginginkan penuntasan kasus ini dengan cara mendapatkan informasi yang sejelas - jelasnya, bukan masalah siapa yang salah. Biarpun itu seorang presiden kalau bersalah harus di adili. Tetapi dengan presiden kita yang sekarang ini saya yakin SBY itu bersih dari apapun itu, kalo sampe dia ga bersih kan rugi dong dia menjaga citranya selama ini.. hehehe..

    Nah, kalau sri mulyani dan pak boediono saya melihat beliau berdua bersih, jadi kemungkinan cara yang akan digunakan untuk menjerat beliau dengan cara yang sama dengan kasus bibit candra yaitu penyalah gunaan wewenang,.

    Yah kita lihat aja deh hasil Pansus Angket Wakil kita.. Kapan bakalan selesai soalnya bahas Tatib aja ampir 2 hari.. kapan yah mereka belajar ngomong yang penting2 aja dan tidak mengulur-ngulur waktu?? hmmm..
  27. From chintya on 07 December 2009 22:33:43 WIB
    Saya yakin kalo Pak Boediono dan Bu Sri Mulyani bersih..
  28. From indra on 08 December 2009 05:58:02 WIB
    @ felix,

    Trims tanggapannya.
    Tepat sekali anda menangkap arah pembicaraan saya ! Dan Saya rasa satu hal prinsipil yg membedakan keyakinan anda dan keyakinan agama adalah menyerahkan kepada institusi yg kita anggap paling independen dan terpercaya utk mnguji fakta dan keyakinan anda2 (tarmasuk bung wimar dkk) versus keyakinannya yg tidak percaya pada Sri Mulyani (Gusdur dkk). Intitusi yg saya maksudkan disini adalah KPK dan kmd pengadilan. Dan bukan tim angket DPR ato pun tim 9. Jadi bung Felix, dukunglah KPK jika anda yakin seyakin2nya bhw keyakinan anda bukan "keimanan" pada Sri Mulyani.. (pasti dlm keyakinan anda pun bhw keputusan Sri Mulyani dan Budiono utk membantu bank century bukan sabda nabi yg pasti benar kan? ato malah sudah??? hehhehe.. :p ). jadi sekali lagi yg terpenting kerahkan dukungan anda pada penyidikan KPK dan pengadilan shg kita memperoleh pengujian yg seobyektif mungkin. Sri mulyani dan budiono juga tentu lebih lega kalo mereka terbebas dari tuduhan ini dgn keputusan pngadilan bukan bebas dgn bekal keyakinan para pendukungnya....

    Poin kedua yg ingin saya sampaikan, berkaitan dgn komen anda thd mbecakmaneh utk belajar. Mbecakmaneh tidak sendirian bhw masy skg ini semakin dibingungkan oleh kasus Century ini. Disini artinya ada dua sebab knpa masy tetap bingung: pertama pemerintah gagal menjelaskan kebijakan2 politik ekonominya. Jadi ada problem komunikasi yg akut dari pemerintahan sekarang ini (bung Wimar tentu paham sekali). Kemungkinan kedua, memang kebijakan pemerintah utk menyelamatkan bank Century byk bobroknya shg walo dipoles kiri kanan tetap saja keliatan cacat.
    Nah, jawaban dari kedua persoalan diatas tentu sama sekali bukan berarti kita yg tidak mengerti malah disuruh belajar. Andalah yg mengaku ahli2 ekonomi dan komunikasi BERTUGAS menjelaskan kepada kami yg awam dan bodoh2 ini utk mengerti. Kalau anda gagal menjalankan tugas tsb. Mungkin justru anda yg harus belajar berkomunikasi dgn bhs lebih sederhana dan dimengerti oleh masyarakat.

    Trims

  29. From FH on 08 December 2009 17:34:49 WIB
    Setuju bahwa penilaian kita terhadap seseorang (baca Sri Mulyani) dapat dilihat pada sepak terjangnya selama ini. Sri Mulyani bisa salah karena tidak paham politik maupun penumpang gelap tapi diyakini bahwa pengambilan keputusannya benar2 murni berdasarkan integritas dan semangat good guys. Bahkan lebih jauh lagi Sri Mulyani lebih kredibel dari seorang SBY sekalipun.....
  30. From Akbar on 08 December 2009 23:57:27 WIB
    Saya rasa penjelasan dari Sri Mulyani dan Budiono selama ini sudah cukup masuk akal. Sebuah bank kecil mau ambruk karena mismanajemen para pemiliknya. Ini terjadi di tengah situasi rawan karena krisis keuangan global. Untuk mencegah efek domino terhadap perbankan nasional , bank kecil ini diputuskan untuk diselamatkan, menggunakan dana dari LPS. LPS sendiri didanai oleh premi dari dunia perbankan, bukan ABPN. Jadi kalau dibilang "uang rakyat", ya tidak juga.
    Bank ini diselamatkan bukan untuk melindungi pemilik, tapi untuk melindungi sistem perbankan Indonesia. Hasilnya, bank telah stabil, sistem perbankan stabil, perekonomian kita juga ikut stabil dan tetap tumbuh disaat dunia sedang resesi. Bank tersebut sekarang tetap berjalan, dan bila telah sehat bisa dijual, sehingga uang LPS diharapkan bisa kembali. Jadi masalahnya dimana? Ingat kasus Lehman Brothers di AS. Pemerintah AS akhirnya menyesal membiarkan Lehman bangkrut, karena efek dominonya membuat sistem keuangan macet total. This is what systemic risk is all about.

    Masalahnya adalah kasus Bank Century ini dipakai oleh pihak2 yang berkepentingan untuk menjatuhkan Sri Mulyani dan Budiono. Kita lihat siapa yang bermain. Hadi Purnomo, ketua BPK, adalah ex dirjen pajak yang dipecat oleh Sri Mulyani. PDIP jelas punya kepentingan menjatuhkan Demokrat. Golkar penuh dengan orang2 semacam Aburizal Bakrie dan Jusuf Kalla. Ingat bagaimana Ical berusaha menjatuhkan Sri Mulyani karena dia menolak bail out Bakrie? Lalu Jusuf Kalla yang memojokkan Budiono soal proyek listrik. Yang publik tidak tahu adalah perusahaan milik Kalla atau keluarganya banyak terlibat dalam proyek listrik di berbagai daerah, dan sikap Budiono yang tegas menolak penjaminan pemerintah terhadap investor kelistrikan jelas mengancam kepentingan mereka.

    Saya rasa track record Sri Mulyani dan Budiono sudah cukup jelas. Mereka berhasil menjaga perekonomian Indonesia di tengah krisis global. Kita bisa tumbuh 4% disaat negara seperti Jepang mengalami kontraksi sampai diatas 10%. Sri Mulyani dikenal keras dalam mereformasi sarang penyamun di depkeu seperti direktorat Bea Cukai dan Pajak. Kedua orang ini juga dikenal bersih. Wajar kalau orang seperti mereka dimusuhi oleh pihak2 yang selama ini menikmati korupsi.

    Jadi saya rasa, keyakinan bung Wimar dan rekan2 lain akan integritas dua tokoh kita ini, lebih karena reputasi dan prestasi.
  31. From erlangga on 09 December 2009 09:32:58 WIB
    ya biasalah tokoh yg dapat dikorbankan contohnya seperti beliau ini...


    salam demokrasi dr erlangga
    http://susuwedus.wordpress.com/
  32. From febs on 09 December 2009 09:40:59 WIB
    @ akbar
    the enemy of my enemy is my friend

    tks
  33. From jaka on 09 December 2009 23:01:39 WIB
    Prens sadayana...mungkin judul yg bagus untuk gonjang ganjing politik Bank Century ini adalah \'maling teriak maling\' ya..

    Soalnya setelah baca sana sini data2 orang2 yg teriak2 korupsi pada Bu Sri dan pak boed itu, ternyata para maling juga! Persis hampir sama dengan kasus Bulog jaman Gus Dur.Padahal kita tahu Gus Dur tidak nyolong duit bulog itu.

    Tapi bedanya ,Presiden kita sekarang ini lebih kuat dan cerdas,ngga gampang marah dan sabaran. Jadi,kemungkinan besar bakal bisa menjinakkan para koruptor yg sedang teriak2 , SRI MULYANI KORUPTORRRR!!! KORUPTORRRRR!!!!KORUPTOOOOOOOOOOOOOOOOOOORRRR!!!

  34. From sumodirjo on 10 December 2009 13:20:25 WIB
    politikus hanyalah politikus begitu juga ekonom yang akan memenuhi permintaan tuannya
  35. From Shodeq on 11 December 2009 18:08:13 WIB
    Maaf pak wimar... sebenernya saya sangat apreciate dengan bu Sri Mulyani, dengan berbagai kebijakan strategisnya
    Tapi... Dilihat dari latar belakangnya, apakah dia bukan anggota Mafia Berkeley? Yang punya hiden agenda untuk menginvasi Indonesia atas perintah asing?
    Mohon pencerahannya pak wimar, jujur saya bingung..
    Makasih..
  36. From Cecep Mahyudi on 12 December 2009 15:52:11 WIB
    MUDAH2AN BPK SALAH,MUDAH2AN MUSUH2 POLITIK DAN EKONOMI SMI SALAH. SEMOGA MEREKA SADAR BAHWA, MEMBANGUN EKONOMI NEGERI YG CARUT MARUT INI SULITNYA SETENGAH MATI. APALAGI DIRECOKI PARA BEGUNDAL-BEGUNDAL NEGERI INI YG TUKANG `NYOLONG` DUIT RAKYAT. MUDAH2AN TUHAN MENEGAKKAN KEMBALI KEPALA SMI. SAYA HANYA ORG AWAM YG BEKERJA MEMANCING CUMI DI P.SERIBU. TIDAK MENGHARAPKAN ELITE NEGERI INI BERTENGKAR TERUS. KALAU MEMBRANTAS MALING SAYA OK, TETAPI, MENGHANCURKAN PEJUANG EKONOMI NO. DARI PULAU DAMAR YG DAMAI, SAYA HANYA BERDO`A: SEMOGA... DAN SEMOGA CUMI SAYA DAPATKAN UNTUK TETANGGA.
  37. From rae on 12 December 2009 23:27:00 WIB
    sayangnya tindakan seseorang itu benar atau tidak, tidak bisa dinilai dari orang itu baik atau tidak. orang baik pun banyak yang terpeleset. SMI pun hanya manusia biasa, bisa saja terpeleset.

    karena semua ini masih berupa praduga, untuk apa mengatakan "saya yakin SMI bersalah" atau "saya yakin SMI tidak bersalah"? kita semua di sini rasanya tidak memiliki kapasitas untuk menentukan siapa yang salah atau siapa yang benar.
    santai-santai ajalah..
  38. From wimar on 13 December 2009 06:03:47 WIB
    Rae: Terima kasih ... Saya bukan hakim, saya orang yang punya sikap, boleh dooong , Rae juga boleh unya pendirian ... Rae santai-santai ajalah yaaa :)
  39. From Rales Sukma on 13 December 2009 16:31:40 WIB
    Ibu SMI decision maker yang baik. memiliki kredibilitas dan kompetensi di jabatannya saat ini. bukti sudah ada 5 tahun. penghargaan level nasional dan internasional juga ada.

  40. From Bambang Pamungkas on 13 December 2009 22:36:01 WIB
    Adalah sangat jelas temuan BPPK dan dugaan KPK bahwa terjadi tindak kejahatan dalam kasus Century. Untuk mengurai permasalahan satu demi satu mejadi fakta, mau tidak mau harus dimulai dari pengambilan kebijakan. Sri Mulyani dan Boediono harus menjelaskan itu di depan KPK. Itu yang paling penting. Inisiatif pansus hanyalah pengawal langkah-langkah hukum yang diajukan KPK nantinya. Sebaiknya kita tetap menjunjung tinggi praduga tak bersalah. Artinya jangan langsung mencap salah atau juga pasti benar. Penjarah-penjarah Century jelas sekali ingin mengalihkan perhatian ke persoalan pribadi Sri Mulyani. Mohon Pak Wimar tidak membantu pengalihan isu tersebut. Biarkan Ibu Sri memberikan penjelasan tentang penjarahan. Membiarkan penjarahan adalah juga kejahatan juga Bung. Kalau Anda melihat seseorang dibunug tetapi Anda tidak melaporkannya, apakah Anda tidak bersalah ? Dimanakah hati kecil Anda ?
  41. From otto nasri on 14 December 2009 12:06:55 WIB
    Sungguh suatu yang sangat menyejukkan seorang WW dapat mendampingi seorang SMI untuk menjelaskan kasus Bank Century dan juga tuduhan tuduhan kasar dan tidak bermoral kepada orang yang selama ini membersihkan Dep KEU dari kebobrokan kebobrokan masa lalu,tuduhan tidak saja datang dari LSM yang tidak mengerti dan selalu saja menbohongi masayarakat dengan mengatasnamakan rakyat, mengatasnamakan uang rakyat, mengataskan namakan demi rakyat dll. Sungguh suatu yang ironis dua orang yang saat ini langka di Indonesia Bersih, Memiliki intelektual tingkat dunia, tetapi di hina dina oleh segelintir orang yang merasa merekalah yang paling benar, dan ini juga di tambah dengan Media elektronik TV yang bukan lagi menjadi Media yang menyajikan berita sesuai Fakta tetapi sudah menjadi Infotaintment politik yang bekerja berdasarkan Gosip dan rumors, dan Cover both side di maknai dengan mengadu domba dengan pertanyaan NYINYIR kepada pihak yang berbeda pendapat.
    Sungguh sedih , marah, dan sesuai dengan yang WW sebutkan Lucu dan pingin tertawa melihat BS dan pengacaranya berbicara ter bolak balik dan menyesatkan demi dendam pribadi mereka.
    Semoga makin banyak orang yang menyatakan fakta daripada Dusta, dan semoga saja ada TV yang mau menginvestigasi mengapa Robert Tantular hanya di hukum 4 tahun setelah ngemplang uang nasabah centuri, siapa jaksanya, siapa Hakimnya, dan siapa penyidiknya karena disinilah yang harus di berantas bukan seorang SMI dan juga Boediono
  42. From otto nasri on 14 December 2009 12:42:21 WIB
    Bank century ada kriminalnya jelas ada , dari penyadapan yang dilakukan oleh KPK yang mendapati susno Duaji bercakap dengan LC ( pengacara BS ), jelasa terlihat hal itu, Jelas robert Tantular dan 2 Komisaris lainnya mengelapkan uang nasabah Bank century, pertanyaannya mengapa sekarang yang diributkan SMI dan Boediono yang menyelamatkan ekonomi negara dari Krisis Financial Dunia sedang aprah parah nya, Mengapa Bukan Susno Duaji yang di bidik dan kenapa Bukan Jaksa penuntut Robert tantular yang di bongkar, Kenapa Bukan Hakimnya yang memutuskan hanya 4 tahun penjara untuk kerugian negara 6,7 T.

    Saya bingung sebagai orang awan dengan para pakar yang terus saja membohongi rakyat dengan pernyataan Politiknya, dan juga sekali lagi media masa yang tidak cerdas dan Jeli melihat mana yang harusnya di bongkar or di investigasi.
    Salam Kenal Bung Wimar.
  43. From bambang on 14 December 2009 14:38:50 WIB
    sebagai anak bangsa aku hanya bisa geleng2 kepala. kasus bank century kan sudah ada pansus, ya biar pansus aja yang ngurusi.nggak perlu ada penggalangan opini rakyat untuk ikut ngurusi.kalo terus-terusan rakyat disuruh beropini malah - malah urusan yang lain nggak dijamah. hai mahasiswaku yang baik tolong dong demo ke pemerintah ( PLN ) masalah lampu yang sering mati, ke dinas tenaga kerja suruh buat lapangan kerja yang banyak. ke dinas pertanian agar membuat solusi terbaik untuk peningkatan hasil tani, ke dinas pertambangan untuk memaksimalkan potensi tambang dan ke dinas - dinas lainnya. politisi jangan adu mulut terus dong. saya berharap kepada rekan mahasiswa untuk bisa menolong bangsa dan negara ini untuk menjadi lebih baik.
  44. From Hidayat Grojo on 15 December 2009 13:33:09 WIB
    Waduhhh....
    Sudah kebacut , sudah kebablas kalian cara menghakimi Sri Mulyani. Mbok yao insaf gitu.

    Saran saya sebaiknya kita pakai hati nurani yang paling dalam dan sebelum mengoreksi kesalahan orang alangkah baiknya ngaca dulu dong.
    Gajah di pelupuk mata tak tampak, sementara kuman diseberang lautan jelas sekali.

    Jangan kawatir Bu Sri, aku selalu berdoa untukmu

    Hidayat Grojo
  45. From manto soetomo on 16 December 2009 11:09:49 WIB
    kalau idola kita dikriminalisasi dan mungkin dia bersalah pasti dengan instintif, kita bela mati2an, demikian juga pihak yang mengkriminalisasi kita tidak setuju kendati mereka benar. Jadi ini pertarungan dua kubu. Di celahnya itu banyak yang bermain, penumpang gelap, mafia, politik dan kekuasaan. Mungkin SMI dan Boediono tak bersalah, tapi tangan2 tersembunyi dan tekanan politik yang bisa jadi memengaruhi kedua tokoh ini. Inilah yang harus diusut. banyak memang tokoh2 kritis yang tida suka dengan SBY dengan pencitraan dirinya yang selalu berpura-pura.
  46. From Ricky on 19 December 2009 10:38:24 WIB
    Saya tetap mendukung SMIdan Boediono. Tetaplah bekerja untuk Republik ini.
  47. From Pontas Silaen on 21 December 2009 06:50:50 WIB
    Pak Wimar
    Tolong jelaskan hanya satu contoh bagaimana paradigma perpajakan sejak SriMulyani bergeser 180 derajat, walaupun Hadi Purnomo (bekas Dirjen) orang baik , tapi dia tidak mampu merubah paradigma
  48. From galant on 23 December 2009 16:17:51 WIB
    mbok yo podo sadar mas, mbak, bang, yu, pak, tujuanya murni demi rakyat atawa kepentingan pribadi/politik? bentuk tim inilah tim itulah....mendingan bentuk tim balap karung aja...tim-tim tetek bengek itu sendiri apa udah pada ngaca? tanya diri sendiri dulu apa aku pernah korupsi apa tidak? baru tanya orang apakah si A korupsi? kalo emang iya cari bukti..., jgn menggiring opini rakyat yang taunya \\\\\\\\\\\\\\\"POKONYA\\\\\\\\\\\\\\\" kalo udah ada kata2 \\\\\\\\\\\\\\\"pokoknya\\\\\\\\\\\\\\\" yang terjadi adalah tindakan2 arogansi, akhirnya yang jadi korban rakyat jg yang tidak tahu menahu apa yang di perjuangkan, trus terjadilah \\\\\\\\\\\\\\\"DEMO\\\\\\\\\\\\\\\". kalo dah begitu yang di atas (yang bikin tim-tim itu) tepuk tangan plok...plok....plok....sambil nonton TV kakinya di naikin ke atas meja, nyruput kopi rokoknya samsu kretek, sambil ngomong \\\\\\\\\\\\\\\"RASAIN LU\\\\\\\\\\\\\\\"........
  49. From Chika Putri on 15 January 2010 19:31:48 WIB
    Saya setuju jika ada yang beranggapan bahwa Ibu Sri Mulyani adalah orang baik. Dan tidak sedikit orang-orang baik justru dikerjain dan dijadikan bulan-bulanan atau kambing hitam.

    Ibu Sri Mulyani memutuskan bahwa Bank Century termasuk kategori Bank gagal yang berdampak sistemik, adalah berdasar analisa pihak Bank Indonesia cs, dan status biaya permulihan krisisnya adalah masih Rp. 632 Milyar (belum meroket menjadi Rp. 6,7 Trilyun di kemudian waktu).

    Proses merger / akusisi Bank Danpac, Piko, dan CIC hingga menjadi Bank Century (yang sejak semula memang tidak layak) adalah wewenang dan tanggung jawab Bank Indonesia.

    Semua skenario "Bail Out" ini berpusat pada Bank Indonesia cs, yang notabene kemudian menyeret dan mengorbankan Ibu Sri Mulyani.

    Salam,
    http://astagacom-lifestyle-on-the-net.blogspot.com/
  50. From Adon on 05 February 2010 00:34:15 WIB
    Setuju dengan bung Wimar. Saya masih sangat yakin Sri Mulyani adalah orang bersih dan langkahnya dalam mengambil keputusan terhadap Century sudah tepat. Hidup bung wimar...hidup Sri Mulyani...
  51. From Green Beauty on 07 February 2010 22:11:23 WIB
    Mungkin \"mereka\" beranggapan bahwa masyarakat tdk tahu kearah mana \"mereka\" akan berlabuh. Manuver politik seperti itu tentu saja tak akan mendapat simpati, tak etis bahkan memuakkan. Secara pribadi saya percaya integritas Ibu Sri Mulyani, walau beliau tak punya dukungan politis.
  52. From HERY on 09 March 2010 02:58:35 WIB
    Kalau kita jeli melihat polah tingkah para politisi di TV, sangat jelas arah pansus mau dibawa kemana.
    Gampang sekali lho...
    Tergantung kita jel nggak???
    Bravo Bang Wimar!!!
    Saya ikut mendukung perjuangan anda.
  53. From riad on 24 May 2010 14:46:19 WIB
    SMI jelas2 dipaksa dipersalahkan, akhirnya terbukti kan dia terusir & dikorbankan oleh sekumpulan bandit2 kartel yg "kawin" = GOLongan KARtel DemokarteL , dan membangun "SekBer" = SekarteL Bersama.
    itulah fakta penelikungan terhadap "tujuan bernegara yg baik", sabotase reformasi oleh kepentingan bisnis kelompok tertentu, penghianatan terhadap rakyat INDONESIA yg mereka anggap bisa & mudah di-Bodohi.
    MajuLah SMI, kita bersama tetap akan menjaga cita2 INDONESIA dgn integritas & kejujuran.

« Home