Articles

Mencuri Kejernihan dari Kerancuan Bank Century


09 December 2009

 

Oleh: Didiet Budi Adiputro
Setelah  kasus Bibit – Chandra mereda, isu tentang permasalahan Bank Century gantian menjadi berita utama di semua media. Opini, berita dan berbagai analisis berseliweran setiap harinya.  Namun, hingga kini kerancuanlah yang masih mendominasi berita dan informasi yang diterima masyarakat.
Mencuri kejernihan dari kerancuan di saat seperti ini memang harus dilakukan segera. Itu yang dilakukan Wimar Witoelar dalam wawancara dengan Jaleswari Pramodhawatrdani  tentang permasalahan Bank Century. Menurut Wimar, banyak terjadi kerancuan di tengah opini masyarakat yang berkembang. Misalnya saja tentang anggapan pemakaian uang rakyat dalam proses pembailoutan Century oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Belum lagi anggapan bahwa pemakaian uang 6,7 Triliun itu pasti merugikan negara. Banyak orang yang salah persepsi mengenai uang yang dipakai oleh LPS. Dana LPS  dikumpulkan dari premi bank peserta penjaminan simpanan. Negara memberikan modal awal sebesar Rp. 4 Triliun, namun sejak berdiri tahun 2005,  LPS berhasil melipat gandakan modalnya hingga Rp. 18 Triliun . Dana itulah yang dipakai untuk melakukan penyelamatan atau bailout Bank Century.
Yang seharusnya paling kritis adalah pihak bank yang uangnya dipakai untuk bail out, bukan masyarakat umum yang tidak terpenhgaruh,  kata Wimar. Jika dilihat dari kondisi waktu itu , penyelamatan Bank Century adalah sebuah keputusan yang tepat
Waktu itu dunia perbankan di Indonesia sedang sangat gelisah. Kemungkinan kegagalan bank meni mbulkan kecurigaan antar bank. Ancaman rush (penarikan uang besar-besaran) menjadi . Meskipun kita sudah tahu bahwa terjadi penjarahan uang nasabah oleh pemilik century Robert Tantular, namun jika kita membiarkan century rontok, maka akan muncul sentimen negatif yang beresiko menimbulkan efek sistemik. Seperti rumah kebakaran di tengah perkampungan padat, meskipun rumah itu kecil namun apinya harus dipadamkan terlebih dahulu  jika tidak kebakaran akan merembet k rumah lainnya. Di sanalah LPS tampil sebagai pemadam kebakaran. Oleh karenanya gerakan yang menuntut Boediono dan Sri Mulyani untuk turun justru akan berakibat kontraproduktif. Kenapa? Karena kedua orang ini dikenal sebagai pengawal reformasi birokrasi dan sosk anti korupsi di pemerintahan saat ini. Maka, para pengemplang pajak yang selama ini diburu Sri Mulyani bisa bernapas lega. “ Kalau ada orang yang bersih di cabinet ini, orangnya ya Sri Mulyani dan Boediono”, ujar Wimar.   Selain itu dengan dicopotnya sosok Sri Mulyani yang dikenal pro pasar dan investasi tentu saja akan berdampak menciptakan sentimen negatif di pasar dan investor akan pergi dari Indonesia.   

 

 

Wawancara Radio Jaleswari Pramodhawardani dengan Wimar Witoelar

Oleh: Didiet Budi Adiputro

Setelah  kasus Bibit – Chandra mereda, isu tentang permasalahan Bank Century gantian menjadi berita utama di semua media. Opini, berita dan berbagai analisis berseliweran setiap harinya.  Namun, hingga kini kerancuan mendominasi berita dan informasi yang diterima masyarakat. 

Harus segera mencuri kejernihan dari kerancuan di saat seperti ini. Itu yang dilakukan Wimar Witoelar dalam wawancara dengan Jaleswari Pramodhawardani di acara radio Perspektif Baru  tentang permasalahan Bank Century. Menurut Wimar, banyak terjadi kerancuan dan salah persepsi total dalam opini masyarakat. Misalnya saja tentang anggapan pemakaian uang rakyat dalam proses pembailoutan Century oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sangat keliru, anggapan bahwa pemakaian uang 6,7 Triliun itu pasti merugikan negara. Banyak orang yang tidak mengerti soal  uang  LPS. Dana LPS  dikumpulkan dari premi bank peserta penjaminan simpanan. Negara hanya memberikan modal awal sebesar Rp. 4 Triliun, namun sejak berdiri tahun 2005,  LPS berhasil meningkatkan modalnya hingga Rp. 18 Triliun . Dana itulah yang dipakai untuk melakukan penyelamatan atau bailout Bank Century. 

Harusnya pihak bank yang keberatan kalau uangnya dipakai secara keliru, karena bank yang langsung terpengaruh,  kata Wimar. Jika dilihat dari kondisi waktu itu , penyelamatan Bank Century adalah sebuah keputusan yang tepat.  Di akhir 2008 itu dunia perbankan di Indonesia sangat gelisah. Kemungkinan kegagalan bank menimbulkan kecurigaan antar bank. Ancaman rush (penarikan uang besar-besaran) menjadi-jadi. Meskipun kita sudah tahu bahwa terjadi penjarahan uang nasabah oleh pemilik century Robert Tantular, namun jika kita membiarkan Century jatuh, maka akan muncul sentimen negatif yang akan  menimbulkan efek sistemik.

Seperti rumah kebakaran di tengah perkampungan padat, meskipun rumah itu kecil namun apinya harus dipadamkan terlebih dahulu.  Jika tidak,  kebakaran akan merembet k rumah lainnya. Di sanalah LPS tampil sebagai pemadam kebakaran. Oleh karenanya gerakan yang menuntut Boediono dan Sri Mulyani untuk turun justru merugikan masyarakat.  Apalagi menjadikan Boediono dan Sri Mulyani sasaran kampanye antikorupsi. Justru kedua orang ini dikenal sebagai pengawal reformasi birokrasi dan sosok utama anti korupsi di pemerintahan saat ini. Maka, para pengemplang pajak yang selama ini diburu Sri Mulyani bisa bernapas lega.

“ Kalau ada orang yang bersih di kabinet ini, orangnya adalah Sri Mulyani dan Boediono”, ujar Wimar.   Selain itu, jika terjadi pemberhentian Sri Mulyani yang dikenal pro pasar dan investasi, dapat dipastikan investor akan pergi dari Indonesia.  

Betul bahwa terjadi perampokan Bank Century, tapi lucu kalau tuduhan itu dialamatkan pada Sri Mulyani  dan Boediono. Kalau saja para aktivis itu mengerti persoalan, maka perhatian harus diarahkan pada  Robert Tantular yang melarikan uang sebanyak Rp 4 T. Sampai sekarang uang itu tidak jelas ada dimana.  Kejadiannya semua sebelum Sri Mulyani dan KSSK memutuskan bailout. Justru bailout menyelamatkan Bank Century dari pembubaran setelah perampokan.

Print article only

29 Comments:

  1. From Triyatni on 10 December 2009 05:32:35 WIB
    Revolusi sering memakan anak kandungnya sendiri! Saya baca tulisan Dahlan Iskan tentang keberpihakannya pada SMI. Mengharukan!
  2. From Wongiseng on 10 December 2009 05:52:23 WIB
    Komentar tidak penting, bagian bawah artikel ini barangkali perlu dihapus karena hanya perulangan dari yang atas.

    Sri Mulyani dan Budiono yang bersih menjadi target, investor akan pergi dari Indonesia.

    Dua pihak yang akan gembira, yang langkahnya selama ini terhambat oleh dua orang bersih tersebut, dan pihak-pihak yang got nothing to lose dari perginya investor.
  3. From wimar on 10 December 2009 06:09:16 WIB
    Terima kasih Wongiseng, memang artikel itu masuk dua kali karena kesalahan software. Sekarang sudah diperbaiki. Terima kasih banyak
  4. From Haerudin Amin on 10 December 2009 09:15:08 WIB
    Penjelasannya ga logis bang wimar, tiga hal yang dijelaskan diatas tentang dana talangan yg dilarikan 4 t,kalo itu uang siapa yg dilarikan, uang nasabah kan? diganti dengan talangan? makin rancu penjelasannya. Tau dirampok di bantu heran .......LPS bukan Uang rakyat dari poremi bank..emang waktu berdiri LPS 2005 punya modal uang gubernur bi yah? pasti uang rakyat kan? buakn uang lps juga karena lps mengauasi dalam bentuk managament dan pengadmistrasian penjaminan nasabah bank...setiap namanyua orang pro pasar bagi ukuran masyarakat Indonesia adalah orang yang tyelah terlibat merusak dan menyengsarakan rakyat Indonesia.........pemikiran ini jadi partisan sejkali
  5. From wimar on 10 December 2009 09:21:38 WIB
    @Haerudin Amin: tadi di TVOne ada ibu nangis2 karena uang tabungannya di suatu bank dulu hilang setelah banknya bubar.
    bailout menyelamatkan bank dan nasabah, dan polisi menangkap Robert Tantular .. bukan perampoknya yang dibantu, Pak :)

    LPS didirikan dengan modal awal dari pemerintah, kemudian ditambah dana premi bank dan penghasilan operasi. Sekarang modalnya sudah 18T, sebagian besar adalah milik bank. Ketua Perbanas setuju 6,7T dipakai LPS sebab kalau tidak, banknya sendiri akan kena rush dan jatuh

    kalau ini dianggap partisan, wajar saja karena semua orang itu partisan, termasuk Bapak
  6. From Akbar on 10 December 2009 09:55:17 WIB
    @ Haerudin Amin
    Apa lagi sih yang tidak logis? Yang di bail out bank nya, demi menyelamatkan nasabah, dan sistem perbankan nasional. Pemilik yang maling itu dipenjara, bukan dibantu. Duitnya duit LPS, bank nya jadi milik LPS. Kalau harganya sudah bagus bisa dijual, duit LPS kembali. Modal awal LPS yg 4T dari negara tidak disentuh karena dari premi modal mereka sudah 18T.

    Pro pasar menyengsarakan rakyat? nah jelas anda partisan. Sepertinya banyak orang sudah apriori dengan SMI dan Budiono karena label neoliberal dll. Kasus Century hanya dijadikan alasan untuk menyerang mereka berdua. Apa salahnya sih mekanisme pasar? fair play? transparansi? birokrasi yang bersih? Hal-hal itulah yang mereka berdua perjuangkan.

    Sedih juga melihat peringatan hari antikorupsi kemarin. Dua orang yang berjuang melawan korupsi dijadikan bulan bulanan. Yang menyerang mereka malah para maling yang berteriak maling. Tapi itulah Indonesia. Penuh dengan maling yang bisa mempengaruhi opini publik dan membuat "the good guys" terlihat seperti penjahat.



  7. From sumodirjo on 10 December 2009 13:13:46 WIB
    Mengenai dana yang lari untuk kampanye itu bagaimana bang? fakta atau fitnah? penyelamatan century yang berlebihan ini bukannya justru akan memberi insentif orang lain untuk melakukan kecurangan yang sama?
  8. From Andy on 10 December 2009 14:17:26 WIB
    Kalau para politisi "pro rakyat" itu masih menyangka bahwa "investor" atau "pasar" itu adalah orang-orang sejenis George Soros atau Warren Buffet, baiklah saya katakan di sini bahwa kalau Sri Mulyani dan Boediono berhasil dilengserkan lewat akrobat politik, maka tabungan saya senilai Rp 550,000 akan segera berganti menjadi satu lembaran USD 50.

    Terserahlah kalau yang lain tetap mau pegang Rupiah kalau ekonomi kita mau dijalankan sesuai maunya para pengamat di televisi itu. Saya sih ogah.

  9. From anan on 10 December 2009 16:06:42 WIB
    memang benar uang tersebut bukan uang rakyat "secara langsung". namun anda memberikan analisa : "maka akan muncul sentimen negatif yang akan menimbulkan efek sistemik." diantaranya adalah rush (waktu itu rush sendiri masih berupa PERKIRAAN, tidak saya bahas disini), siapa sih pelaku rush? tentu rakyat, berarti rakyat punya andil dalam "perputaran perekonomian LPS" tersebut dimana saham yang mereka tanam adalah "kepercayaan" yang diwujudkan dengan "tetap menyimpan uang dalam bentuk tabungan".
    jadi secara tidak langsung rakyat tetap memiliki saham didalam uang tersebut, kalau bank bisa bayar premi, uang untuk membayar premi dari siapa? kalau bukan keuntungan dari sirkulasi modal (tabungan rakyat).
    Jika menurut Anda waktu itu kebakaran Century harus "dipadamkan", demi menjaga kepercayaan rakyat, Apakah sekarang "boediono dan sri mulyani" juga harus dipadamkan... (demi menjaga kepercayaan rakyat...)
  10. From djaka on 10 December 2009 18:44:55 WIB
    Terima kasih Pak Wimar. Di tengah kebingungan publik, orang2 berpengaruh spt Bapak, atau Dahlan Iskan, sangat diperlukan untuk mengendalikan opini publik yang mulai termakan umpan. Kita tidak dapat mengharapkan terlalu banyak pada Boediono dan SMI bicara sendiri, mereka bukan PR.
  11. From Oerip Suparto on 10 December 2009 22:57:09 WIB
    Lepas dari mana asal dana yang digunakan, yang masyarakat ingin tahu adalah aliran dananya,kaitan dengan deposan besar dan hubungannya dengan kampanye pemilu baik legislatif maupun presiden.

    Mengapa tidak dibiarkan Pansus angket dipimpin oleh PDI-P, saya lihat Maruarar Sirait cukup baik, ketimbang Idrus M yang diragukan masyarakat, kalau memang bersih dan sudah sesuai dengan regulasi mengapa takut ?
  12. From jaka on 10 December 2009 23:50:32 WIB
    Prens sadayana...Pertanyaan sayah adalah kira2 siapakah dari lawan atau mungkin kawan Presiden SBY sendiri yg mempunyai anak buah, uang, Mesin politik, Manajemen politik dan Motif politik ,untuk melakukan tekanan politik semacam kasus bank century itu terhadap beliau,ya?

    Mungkin sebaiknya pak SBY buka saja kepada masyarakat Indonesia,siapa saja orang2 itu. Persis seperti pidato soal Drakulla itu lho, pak presiden !
  13. From Jil Kalaran on 11 December 2009 16:50:07 WIB
    Saya percaya sama kebersihan Sri Mulyani dan Boediono. Kasus Century sejak awal diramaikan sudah saya yakini memang bernuansa politis. Ada agenda besar melengserkan Boediono dan Sri Mulyani. Dan ketika membaca pernyataan Sri Mulyani tentang Ical, maka makin yakinlah bahwa semua ini merupakan usaha untuk mendongkel kedua orang bersih itu.
  14. From ari on 12 December 2009 07:48:47 WIB
    @ Haerudin Amin, sebaiknya anda belajar dulu lah, males banget baca comment anda.

    last two weeks, I met a big investor at the investor conferences, and after the discussion we have the same conclusion about Indonesia.
    What is the biggest risk for Indonesia now? ..the answer is if Mr Budiono and Mrs. Sri Mulyani resign.

    jadi bapak2 politisi, apakah Bapak ingin para investor menarik dana-nya dari Indonesia, rating Indonesia turun, suku bunga naik, rupiah anjlok, hutang macet dimana2, pabrik2 stop produksi, PHK dimana2 ?

    marilah kita bangun negeri ini ! belajarlah dr china, kasus thailand, dan majunya pendidikan di India.
  15. From Nizar G Bunyamin on 12 December 2009 18:08:09 WIB
    Saya sih masih pilih Neolib Jujur dan penuh integritas, daripada yang berlabelkan moral dan agama tapi korup.
  16. From wimar on 13 December 2009 06:07:21 WIB
    Betul Nizar, neolib dan sebagainya kan cuman istilah aja, yang penting adalah sikap dan perilaku dan prestasi.
  17. From Satrio on 13 December 2009 08:08:15 WIB
    Saya idem dengan komentar bung Nizar di atas. Pak Wimar terima kasih atas pencerahannya.
  18. From Adel Utomo on 13 December 2009 15:04:18 WIB
    Terima kasih pak Wilmar, tulisan-tulisan bapak sangat membantu saya yang mahasiswi ini kembali dapat mengerti permasalahan yang dianggap tabu dan juga permasalahan yang hanya dipandang sebelah mata oleh \'mahasiswa\' lain seperti saya yang mungkin hanya melihat sesuatu berdasarkan pemberitaan media, dan tentu saja mengambil kesimpulan atas dasar ikut-ikutan. Contohnya mendukung SMI dan Budiono mundur dari jawaban. Saya rasa, masalah bank Century ini merupakan masalah bagi orang-orang tertentu saja, bukan otang awam seperti saya dan orang-orang lain yang tida mengerti secara pasti seperti apa \'dana\', \'rush\', \'bailout\' dan lain sebagainya. Istilah-istilah perbankan dimudahkan dan menimbulkan persepsi yang beraneka ragam, sehingga masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan rendah justru mengimplementasikan setiap masalah secara instan sehingga mudah terpengaruh.

    Biar bagaimana, setiap masalah harus dilihat dari dua sisi, dan bukan dari provokasi oknum-oknum tertntu.
  19. From Bob Yusuf on 13 December 2009 15:20:18 WIB
    Mungkin perlu sedikit diluruskan. LPS adalah Lembaga Penjamin Simpanan, semacam asuransi, bukan penjamin bank. Premi diambil dari para penabung. Jadi kalaupun Century tidak dibail out, nasabah tetap dibayar (dibawah Rp 2 milyar) oleh LPS. Yg dijamin adalah tabungan, giro dan deposito.

    Sebaliknya kalau LPS membail-out bank, seperti Century, bisa cepat tutup LPS, karena transaksi bank itu banyak, ada L/C, hutang piutang antar bank, bank notes, dll. Sementara transaksi ini kan tidak dipotong premi oleh LPS. Bayangkan Century sekecil itu 6,7 trilyun. Kalau bank menengah atau besar dibail out gak akan cukup duit LPS. Makanya harusnya yg dibail out nasabah saja, yg lain tidak perlu.

    Namun memang dalam kasus ini, mungkin bu Sri Mulyani terpengaruh oleh keadaan genting di Wallstreet, Lehman Bros,
    Bear Sterns, dan di Eropa juga. Tapi saya percaya integritas SMI dan dia jadi menteri karena kapabilitasnya yg sudah teruji, jadi kita harus percaya pada judgementnya.

    Yg harus jadi target adalah bagian pengawasan BI, karena mereka yg mengetahui dari awal masalah ini. Jangan2 ada hunky punky antara pengawasan BI dgn pemilik Century.
  20. From Doni on 14 December 2009 15:43:07 WIB
    @ari :
    Apa hanya karena faktor SMI dan BO saja investor bakal tetep di Indonesia? Gak lah.. Rasanya terlalu berlebihan menganggap investor lari hanya gara2 mereka turun.. Kasian sekali saya sebagai rakyat kalau hanya tergantung dari mereka. Tanpa atau dengan SMI dan BO Indonesia akan tetap hidup.
  21. From Otto on 15 December 2009 08:08:50 WIB
    Pencucian otak oleh media elektronik benar benar sudah parah dan merusak, yang benar jadi salah dan salah menjadi benar, kalau ada yang ingin jadi nge top di TV caranya mudah buat saja data Palsu seperti SBY terima 1 T dari Century, trus kalau di tanya mana datanya, Bilang saja bahwa kami akan simpan untuk pembuktian nantinya dan harusnya tugas Polisi yang menyelidiki apakah ini benar atau salah. Gosip murahan seperti ini paling laku di TV One dan Metro TV sekarang ini, tanpa perlu menyelidiki penyebar kabar bohong akan di wawancara untuk kepentingan politik mereka di 2014 atau siapa tau SBY jatuh.
    Jadi kalau saja kita mau berpikir secara sederhana saja maka jelaslah bahwa isu SMI dan BOED ini si kemukakan setelah mereka kehilangan isue untuk terus menggoyang pemerintah, tiba tiba muncul seseorang yang mengaku Pengacara yang sudah lama tidak terdengar dan bicara tentang supremasi hukum.
    PEsan untuk Pak Wimar kalau di undang talk show di TV tanya dulu lawan debatnya Pak kalau nggak Mutu bisa aja di terima terus Pak Wimar diam aja karena nggak level, atau kalau perlu sekali kali walkout untuk memberi pelajaran kepada host TV yang hanya nyinyir dan mengadu domba masyarakat saja.
  22. From Susiana on 15 December 2009 12:30:07 WIB
    Terima kasih ulasannya Pak Wimar.., sedih saya melihat Ibu Ani dan Pak Boediono diperlakukan sangat tidak fair tanpa memperhatikan prestasi beliau-beliau itu.. Banyak yang mengail di air keruh..., ditambah lagi dengan media yang memblow-up permasalahan demi komersialisasi belaka. Saya kagum sama Pak Wimar waktu menanggapi pengacara yang -menurut saya- \"belagu\" itu di TV kemarin. Saya sebel juga sama reporternya yang suka motong omongan orang.. Tapi Pak Wimar memang sangat cool nanggapinnya... Sip!!
  23. From hary martono on 17 December 2009 10:31:52 WIB
    Setuju sekali atas pendapat bahwa dengan kondisi pada akhir nopember 2008 itu BC tidak ditutup atau tetap dibiarkan hidup. Yang mengusik rasa keadilan adalah bail-out jumlah segede itu untuk mengganti asset bodong bank dalam bentuk Surat Berharga Valas yang unsecured, apalagi penerbitnya adalah pemilik bank. Deposan dan kreditur besar seharusnya memintakan penggantiannya kepada pemilik atau itu adalah merupakan resiko bisnis yang harus ditanggung CEO nya sendiri dan bukan dimintakan pada LPS. Rasanya itu praktek bank zaman sebelum independensi bank sentral.
  24. From Benny Handoko on 17 December 2009 13:10:12 WIB
    Setuju dengan Otto dan Susiana, tampak sekali media tv yang dimiliki dua taipan politisi tersebut punya agenda tertentu... sayangnya tvone kemarin salah undang narasumber. Pak Wimar tanpa basa-basi bisa menyorot agenda yang selama ini disembunyikan para produsernya...
    Berlindung di balik baju kebenaran, namun mempropagandakan kebohongan
    Saya berharap figur2 seperti WW, Dahlan Iskan bisa tampil kembali di tv (mungkin selain tvone dan metro) untuk menyeimbangkan arus berita mainstream saat ini
  25. From Syahlan on 19 December 2009 22:40:25 WIB
    @Doni: Jangan ngeliat SMI dan BO nya saja, pak. lihat dampaknya terhadap kepastian hukum di indonesia. siapa yang mau investasi di indonesia kalau orang-orang seperti SMI dan BO malah \'dijadikan\' koruptor tanpa proses yang jelas. Jangankan mereka, saya yang bangga dengan kewarganegaraan Indonesia saya saja pusing..
  26. From Donidaan on 21 December 2009 09:04:01 WIB
    Saya termasuk yang tidak percaya kepada kejujuran ataupun integritas SMI dan Boediono demikian juga dan Bang WW. Sudah jelas nyata-nyata bailout bank century adalah kebodohan dan kesalahan masih saja ada orang yang membela.Bagaimana negeri ini mau maju kalau orang salah dan bodoh menjadi petinggi negeri?
  27. From wimar on 21 December 2009 09:09:50 WIB
    kenapa bailout salah pak DOnidaan? Pansus aja sekarang mengalihkan pada merger Bank Pikko. Waktu terjadi bailout, anggota Pansus sekarang setuju. lihat http://www.facebook.com/album.php?aid=2044150&id=1090815621&page=4
  28. From indri on 23 December 2009 22:09:47 WIB
    saya juga sedih dgn media massa yg justru tdk proposional... ke-sok tau-an mereka dgn para politis dan pengamat yg mendadak tampak sbg pahlawan kesiangan akan jd pedang yg justru akan menjatuhkan perekonomian negara ini...apa perlu menunggu trjd rush dan ambruknya perekonomian indonesia yg sdh dpt rating bagus..dan dolar naik..dan apa2 mahal..br nyadar atau mlh kebingungan mencari siapa lg yg perlu dilengserkan stlh SMI dan pak Boed? rasanya terlalu mahal hrg yg harus dibayar hanya demi kepentingan politik segelintir kelompok....
  29. From Natalis,Gmni on 03 March 2010 17:02:14 WIB
    mank bnar tu century yang lg bkin hbo tu di bantu, cman brapa sih subnganya buat masyarakat..? klaw di liahat dri aspek ekonminya sih wajar,tapi apa gna klw tu cman utk orang kya aj,shiga klaw dri aspek sosialnya ga ada..0%.cba klaw dna 6,7T tu di pke bwat pmbangunan eknomi masyarakat marhaen..?
    mank gblok atw apalh bhasanya bwat orang yg mgang kbijakn ngara ini..msa orang uda kya kok dibantu,sedang orang yang ntar lgi mw mati krna lpar dibiarin...

    mank benar Bung Karno prna blang Revolusi Belum selesai..! atau Tan Malaka jga prna bilang Merdeka 100%..!
    bangsa ini memang masi dijajah ma orang2nya sndri..

    satu lgi Bung...! Sukarno dgan ajaran Trisaktinya mgatakan; \\\" Bangsa yang besar dan sakti adalah bangsa yang berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan!\\\" lalu bagaimana dgan kondisi kekinian bangsa ini..?eknomi hnya mlik pgusaha kya,pliti dimliki oleh orag yang ga punya nurani,lalu kebudayaan mjadi gak jelas..maw keamerikaan jg ngak,mw kejepangan jg negak..,klau dlu budaya bgsa qta unik, skarag aneh?

« Home