Articles

Polarisasi SMI-Bakrie adalah Hujan di Hari Panas

koran SINDO
12 December 2009


oleh Wimar Witoelar


 


Kita ketahui bahwa SMI mengungkapkan pada harian The Wall Street Journal, tekanan terhadap dirinya dari Golkar yang menjalar pada masyarakat awam berpangkal pada ketidaksenangan Bakrie terhadap kebijaksanaan Menteri Keuangan.Versi online suatu grup berita nasional menduga ada empat kasus yang menjadi sumber friksi antara Bakrie dan Menteri Keuangan tersebut.Pertama,Menteri Keuangan mencabut penghentian sementara perdagangan saham PT Bumi Resources Tbk pada 7 Oktober 2008. 

Menyusul kemudian dilakukan pencekalan terhadap sejumlah petinggi Bakrie yang terkait masalah. Hal ketiga yang membuat Bakrie kurang senang adalah anggapan Menteri Keuangan bahwa semburan lumpur menuntut tanggung jawab Bakrie selaku pemilik Lapindo. Berkaitan dengan itu, ada penolakan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) terhadap sejumlah petinggi perusahaan batu bara Bakrie. Penolakan Bapepam-LK terhadap PT Energi Mega Persada, unit usaha grup Bakrie yang memiliki Lapindo, untuk mengalihkan sahamnya ke pihak lain. Terakhir ialah penolakan pemerintah atas keinginan Bakrie membeli saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara. 

Sebagai Menko Perekonomian saat itu,Sri Mulyani meminta agar seluruh saham divestasi Newmont dibeli oleh perusahaan negara atas nama rakyat. Namun, setelah Menko Perekonomian diganti, akhirnya Bakrie bisa beli saham Newmont. Pihak Bakrie mengalihkan perhatian dari tuduhan kepada isu rekaman percakapan SMI dengan Robert Tantular.Namun, Departemen Keuangan langsung membantah ada rekaman sebagaimana diungkapkan anggota Panitia Angket Bank Century DPR. Bambang Soesatyo, anggota DPR dari Golkar mengaku memiliki bukti rekaman percakapan antara Menkeu Sri Mulyani dan pemilik Bank Century saat itu Robert Tantular.

Keterangan SMI sederhana, dia tidak pernah bicara dengan Robert Tantular, malahan tidak kenal.Menarik juga bagaimana Golkar bisa punya rekaman percakapan yang tidak pernah terjadi. Dalam perkembangan terpisah, Direktorat Jenderal Pajak mengungkapkan, penelusuran dugaan pidana pajak tiga perusahaan tambang batu bara di bawah payung bisnis Grup Bakrie senilai kurang lebih Rp2 triliun. Tiga perusahaan tambang itu antara lain PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Bumi Resources Tbk (BR), dan PT Arutmin Indonesia. 

Ketiganya diduga melanggar Pasal 39 Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan atau terindikasi tak melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan secara benar.Wajar kalau orang mengira pengumuman ini dilakukan untuk mendukung SMI. Namun, Dirjen Pajak menyatakan, tak ada perintah khusus dari Menteri Keuangan dalam menangani kasus pajak Grup Bakrie. “DJP (Direktorat Jenderal Pajak) itu bukan alat politik.DJP itu bekerja secara profesional melaksanakan undang-undang,”ungkapnya. Semua ini terjadi setelah SMI secara berani menyebut nama Bakrie secara terbuka sebagai sumber penekanan terhadap Menteri Keuangan. 

Banyak yang mencela ucapan Sri Mulyani. Katanya tidak sopan, memanaskan keadaan, menyulitkan SBY,bahkan ada yang menganjurkan agar SMI damai saja dengan Bakrie. SMI menegaskan, dia tidak pernah membantah artikel The Wall Street Journal itu. Sedangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan tidak akan terganggu oleh isu retaknya hubungan antara Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. “Presiden tidak akan terganggu dengan hal-hal kecil,” kata juru bicara kepresidenan Julian Aldrin Pasha. Dalam kesempatan lain Presiden sering menyatakan bahwa keputusan bailoutadalah tepat. 

Kita tidak tahu apakah SMI berpikir jauh mengenai akibat pernyataan tunjuk hidung itu. Dia bukan seorang politikus dan bukan orang yang terlalu memikirkan posisi dan jabatan. SMI adalah seorang profesional tulen, seorang yang sederhana dalam etika publik. Seperti Mimi yang sederhana dalam opera “La Boheme”, SMI sering mengatakan, “Saya hanya orang yang menjalankan undangundang.” Kalau ada yang melanggar UU dan peraturan,dia melakukan tindakan sebagai menteri karena itu kewajibannya. Tidak ada kebencian terhadap orang tertentu dan tidak ada fasilitas khusus yang diberikan kepada kawan-kawannya. 

Sebaliknya Aburizal Bakrie adalah orang yang kompleks berskala besar. Perusahaannya memberi pekerjaan pada puluhan ribu orang, penghasilannya besar, permasalahannya besar. Seorang pengusaha ulet yang melanjutkan kekayaan bapaknya menjadi konglomerat modern. Dia juga masuk dalam politik dan pemerintah. Pada waktu dia masuk Kabinet 2004-2009, dia menjadi orang terkaya di Indonesia, setelah dilanda utang dan menitipkan diri pada pemerintah lepas krisis moneter 1998. Sekarang dia menjadi ketua umum partai yang pernah menguasai seluruh politik Indonesia. Aburizal Bakrie punya banyak pendukung. 

Demonstran yang berteriak anti-bailout banyak memuja dia walaupun Bakrie setuju bailout dan sering memintanya. Orang yang antineolib mendukung Golkar walaupun ketua umumnya adalah contoh sukses sistem neolib. Jadi kalau harus memilih antara SMI dan Bakrie, pilihannya jelas. Tiap orang punya selera masing-masing dan dalam alam demokrasi sekarang, kita punya pilihan bebas. Kita punya suara, kalau media memberikan tempat. Kalau tidak, kita punya blog dan Facebook. Menarik, kalau kekisruhan masyarakat disederhanakan menjadi pilihan antara dua kutub. Ini perkembangan yang sehat, mencuri kejernihan dari kerancuan. 

Sudah terlalu lama kita membiarkan orang bersikap kasar sampai menendang-nendang gambar pejabat negara yang tidak bersalah, mencaci maki kebijaksanaan yang tidak dimengerti. Perbedaan antara SMI dan Aburizal Bakrie mengembalikan perspektif kita pada pilihan sederhana dan murni. Tanpa mengubur masalah dalam penjelasan panjang-panjang, kita ramai-ramai dan sendiri-sendiri melakukan pilihan sendiri: SMI atau Bakrie?

Polarisasi SMI-Bakrie adalah hujan di hari panas.Mudahmudahan hujan yang menyiramkan air penyejuk pada kita semua akan cepat mengakhiri kerusuhan yang dibuat-buat demi kepentingan politik dan harta.(*) 

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/289965/34/

Print article only

33 Comments:

  1. From indra on 13 December 2009 04:57:00 WIB
    Kalo aku mendukung KPK untuk memeriksa keduanya, beserta semua pejabat atau mantan pejabat publik yg terkait dgn kasus korupsi atau penyalahgunaan wewenang :D
    Boleh kan bung wimar?
  2. From wimar on 13 December 2009 06:05:32 WIB
    sangat boleh, pak indra juga boleh diperiksa ... kan ada Undang-Undangnya
  3. From rangga aditya on 13 December 2009 10:42:07 WIB
    semoga saja hujan di hari panas ini tidak membuat kita sakit flu ... :D

    masih mengikuti perkembangan berita ini, belom bisa memberikan komentar banyak apa lagi memihak/mendukung salah satu .... ngomong-ngomong kok jadi lebih "seru" berita dari pada sinetron yah Om W? hehehehe ...
  4. From Felix on 13 December 2009 11:48:53 WIB
    Pak WW,

    Tolong kasih tahu Ibu Sri utk segera membuka rekaman di rapat KSSK tanggal 20 November 2008 itu di muka umum. Buat konferensi pers, dan perdengarkan rekaman itu dan bagikan juga transkrip nya. Minta ahli informatika/telematika utk bersaksi atas ke otentikan rekaman tersebut.

    Sekarang ini sudah jaman nya trial by the media, dan dua media utama di televisi TvOne dan Metro jelas tidak berpihak kepada Ibu Sri, dan semakin lama kebohongan ini berlarut semakin berat utk Ibu Sri karena mereka pasti tidak akan tinggal dan berusaha membangun opini publik bahwa Ibu Sri bersalah, bahwa Robert ada dalam rapat KSSK.

    Jangan tunggu sampai rapat pansus baru di buka karena sudah akan sangat telat (Januari 2009 katanya), buka dulu supaya opini publik sudah tahu siapa yg benar dan salah, dan dgn demikian org2 pansus itu tidak lagi bisa berkutik karena opini publik sudah menentang mereka terlebih dulu sebagai penyebar berita bohong.

    Tolong di sampaikan ya pak..
  5. From Tecko on 13 December 2009 17:45:32 WIB
    Itulah kalau pedagang jadi politikus... segala cara bisa dihalalkan...
  6. From Tono on 13 December 2009 19:58:44 WIB

    Well, menurut saya generalisasi yang salah kalo berfikir orang yang tidak setuju dengan sri mulyani berafiliasi dengan Bakrie dan partai yang notabenenya tidak pro rakyat seperti golkar .. tokoh2 seperti Fadroel Rahman dan rakyat biasa seperti saya (dan jutaan orang diluar sana), yakin tidak beraliansi pada siapapun, kecuali beraliansi pada kebenaran, dan beraliansi kepada keinginan untuk menuntaskan persoalan ..

    Saya fikir salah satu jalan yang tepat menyelesaikan konflik ini adalah memberikan mandat kepada KPK untuk mengambil alih kasus Century dan menugaskan akuntan publik seperti PWC untuk melakukan audit investigasi karena sekarang sepertinya kita susah untuk percaya kepada PPATK ataupun BPK ..
  7. From Hans Utomo on 13 December 2009 22:08:05 WIB
    Saya mendukung penuh Bu Ani dan Pak Boed...negara ini butuh negarawan seperti mereka agar bisa bersih, professional dan maju. Kalau memang harus terjungkal dari Kabinet sekarang, why not establish a new politic party dgn tema inti: "Indonesia Bersih dan Sejahtera". Mungkin Bang Wimar bisa jadi Arsitek Pndiri Partai baru tersebut???
  8. From Felix on 13 December 2009 23:43:55 WIB
    Pak WW,

    Terima kasih atas konferensi pers nya. ternyata pak WW & Ibu Sri lebih cepat berpikir nya dari saya... (sudah pasti lah yaooow.. :)) karenanya tanggapan saya yg sebelum ini tolong di abaikan saja.

    Konferensi pers nya bagus, tapi sayang pak Marsilam agak emosian di situ.. mestinya jangan sampai begitu karena next target nya adalah pertanyaan: Mengapa & utk urusan apa pak Marsilam ada dalam rapat KSSK tersebut..? pak WW punya PR lagi nih utk the next press conference.. :) yg menjelaskan mengapa pak Marsilam layak hadir di dalam rapat KSSK itu.. meski yg musti nya tidak separah "rekaman percakapan antara SMI dgn RT" tapi saya rasa akan lebih sulit secara tehnis utk di jelaskan..
  9. From jaka on 14 December 2009 03:46:50 WIB
    Betul, Pa Wim ,kita harus menyetop kekisruhan yg dibuat2 ini !! Sekarang mah tergantung kita , mau pilih
    Sri Mulyani si pegawai negara yg cerdas ,sederhana ,bersih dan lurus tegas,
    atau
    Mr aburizal bakrie pengusaha neolib jago kandang dan manja pengecut ,yg merengek-rengek untuk dikasih fasilitas utangan dari pemerintah Indonesia terus menerus tapi kemudian tidak tau diri memalsukan laporan pajak Rp 2,1 trilyun alias mau nyolong duit negara/rakyat melalui 3 perusahaannya itu serta pencipta penderitaan lumpur lapindo.

    Ayo Bu Sri ,Lawan terus si drakulla ekonomi itu !! The bloggers akan membantu anda melalui blog2 yg ada di seluruh dunia cyber !!
    Manfaatkan face book !!

    Wahh..sayah jadi bersemangat nih ! he he he he...

  10. From Sunu Gunarto on 14 December 2009 10:44:33 WIB
    Benar bung WW, mana yang benar antara dua kutub SMI-AB tergantung pada keberpihakan kita. Di alam demokrasi ini kita bebas memilih. Bila kita berpihak pada ibu SMI, berarti ibu SMI yang benar. Namun bila kita berpihak pada AB, berarti AB yang benar. Bagi ibu SMI ini ujian sangat bagus. Bila bisa lulus dari ujian awal ini mungkin ada ujian-ujian lain yang lebih berat. Semoga ibu tetap tabah dan konsisten menjalankan amanah undang-undang untuk mensejahterakan rakyat dengan penuh keadilan. Di akhir semester 2013 nanti paling tidak sudah ada satu calon pengganti SBY yang sudah matang kenegarawanannya. Amin. Ayo, partai politik mana jagomu, mumpung masih jauh, mulai digosok-gosok biar cemerlang nantinya.

    (http://formulabisnis.com/?id=sunu_g)
  11. From Akbar on 14 December 2009 11:51:49 WIB
    Satu lagi alasan Bakrie untuk menyingkirkan SMI & Budiono:
    Artikel di Tempo terbaru: Indikasi penggelapan pajak beberapa perusahaan milik Bakrie. Total kerugian negara 2.1 triliun. Tak heran bila pukulan balik mereka sangat keras terhadap SMI.

    http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/12/14/LU/mbm.20091214.LU132215.id.html


    "Namun, kata Tjiptardjo, sebetulnya kasus ini agak lama terendap. Para penyidik pajak telah memeriksa dugaan rekayasa itu pada 30 Juni lalu, setelah menemukan bukti rekayasa lebih gawat lagi di perusahaan Bakrie lain, yakni PT Kaltim Prima Coal, pada 2009. Kaltim Prima diduga merekayasa pembayaran pajak yang merugikan negara Rp 1,5 triliun. Belakangan ada juga dugaan rekayasa di PT Arutmin Indonesia US$ 39 juta.

    Total jenderal, perusahaan-perusahaan batu bara di bawah Bakrie ini ditengarai menggelapkan pajak hingga Rp 2,1 triliun. Kalau terbukti, ini rekor baru penggelapan pajak yang pernah terjadi di Indonesia. Rekor sebelumnya dipegang Asian Agri Group—perusahaan kelapa sawit milik orang terkaya di Indonesia, Sukanto Tanoto—yang diduga menggelapkan pajak selama 2002-2005 sebesar Rp 1,4 triliun."

  12. From toto suwanto on 14 December 2009 12:14:20 WIB
    aburizal dan sri mulyani adalah putra putri terbaik bangsa, yg mempunyai kelebihan masing2. bedanya sri mulyani lbh sedikit permasalahanya banyak prestasinya. yg jd masalah apakah media boleh mengadili seseorg yg blm jelas kesalahnya? apakah dr masyarkt tdk tergerak hatinya untuk meluruskanya atau mlh terbw isue tersebut ! pdhl menurut saya skrg waktunya berkarya bukan bergosip dijadikan karya. om wimar saya sependapat dengn anda !
  13. From Robby on 14 December 2009 13:25:38 WIB
    Pernyataan Dirjen Pajak soal kasus pajak Bumi muncul di beberapa koran Sabtu (12 Des), hanya terpaut dua hari setelah Sri Mulyani membuat pernyataan di Wall Street Journal pada Kamis (10 Des). Keduanya tidak ada kaitan? Come on ....!!! Sekarang pajak bahkan sudah dijadikan alat politik??? Kenapa kasus penggelapan pajak Sukanto Tanoto tidak kunjung dibawa ke meja hijau? Karena tidak ada persoalan politik di baliknya???
  14. From Sony Wu on 14 December 2009 13:34:53 WIB
    Saya percaya bahwa Menteri Keuangan Sri Mulyani orang yang cerdas dan punya niat baik membangun bangsa ini. Tapi setelah pemutaran rekaman rapat KSSK dalam siaran pers Menteri Keuangan sendiri-- Minggu kemarin-- mohon maaf saya jadi ragu. Paling tidak yakin 100 persen lagi. apalagi haqul yakin seperti saudara Wimar ini.

    Cobalah baca isi rekaman itu ( diputar Sri Mulyani sendiri di Depkeu)

    Sri Mulyani, "Ya udah rapat tertutup sekarang kita.... Ya Robert ..."

    Ini Robert siapa ini... dalam hiruk pikuk soal Century ini hanya ada satu nama Robert yaitu Robert Tantutar.. Dia bicara dengan Robert Tantular? Bung Wimar sebagai teman karibnya Sri Mulyani mungkin menjawab?
  15. From koswara on 14 December 2009 14:21:18 WIB
    Berita mengejutkan dibaca di majalah tempo yang terbit hari ini. Ini kutipan digitalnya.
    http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/12/14/LU/mbm.20091214.LU132215.id.html
    Disana dapat dibaca alasan mengapa ada keinginan menurunkan sri mulyani. Kalau Sri Mulyani turun, maka akan keluar surat penghentian pengusutan penggelapan pajak sehingga nama BUMI RESOURCE selamat, dan lebih penting lagi, TUDUHAN KRIMINAL PAJAK pada ABURIZAL BAKRIE bisa dihapus.
    Sangat penting bagi ABURIZAL BAKRIE agar terlepas dari TUDUHAN KRIMINAL PAJAK karena dia mengharapkan namanya bersih SAAT PENCALONAN PRESIDEN 2014.
    Selain itu, dengan dikenakannya denda pajak, 500% atau 5 kali 2,1 triliun, ditambah dengan denda nilai penggelapan, maka utang BUMI RESOURCE pada pemerintah adalah 12,6 triliun rupiah, atau 2 kali bail out bank century. Pasti anjlok tuh nilai BUMI, kalau kasus penggelapan pajak terekspose.
    Jadi, wajiblah penurunan sri mulyani itu.
  16. From Dedy Purwanto on 14 December 2009 14:50:10 WIB
    Polarisasi SMI atau Bakrie ? Saya kira bukan itu domainnya, hal itu seakan mengiring opini publik pada perseteruan keduanya.

    STOP POLARISASI !!!

    Ngomong-ngomong Saya suka banget dengan aksi WW dalam diskusi di TVONE kemarin sore, blak-blakan abis... Rahma Sarita & Reza Prahardian perlu diajarin bagaimana teknik komunikasi yang baik, lama-lama jadi bingung bedain \"berita\" sama \"gosip\".
  17. From Redy Wibisono on 14 December 2009 15:19:16 WIB
    SMI dan Boediono bukan politikus tulen, SBY merekrut dalam kementrian-nya adalah semata karena profesionalisme-nya, berharap dengan merekrut banyak profesionalisme tanpa mengesampingkan kepentingan politik bisa meningkatkat derajat bangsa dan negara dimata bangsa lain.

    Jadi saya berharap teman2 politik yang mempunyai hati nurani dari relung terdalam bisa membela mana yang benar, tidak hanya memperhitungkan untung dan rugi komersial, pribadi maupun partai belaka.

    Kita set back ke tujuan murni perjuangan Bung Karno dan Bung Hatta beserta semua pahlawan kemerdekaan, klo mereka melihat apa yang terjadi sekarang mungkin mereka menangis darah terhadap apa yang terjadi selama ini.

    Bangsa dan negara diacak2 hanya untuk meraup kekayaan pribadi dan golongan semata.
  18. From Ina Bakran on 14 December 2009 15:58:58 WIB
    Bung Wilmar, I saw the pers conference at Metro yesterday. I am afraid my opinion a bit bias as I respect Ibu SMI. However I believe as adult and educated, I can say Ibu SMI just doing her job and does not mind other people business. Can people understand this. Bpk Aburizal as you said a very complicated business and polical man. He is part of problem. The fact that he has many companies and employees does not make him a guardian angel. I work in one of his company and I call tell you.. all jokes. The management does not have professional committment to staff development. All they do are 'kissing ass". I apologize for my statement, I can't help myself seeing Ibu SMI being intimidate. Is it because she is woman? a smart & intelegent woman? You people can answer this.
  19. From sony wu on 14 December 2009 17:00:58 WIB
    Saya percaya Sri Mulyani orang yang bersih. Tapi semenjak mendengar rekaman, yang diputar dalam siara pers Departemen Keuangan, Minggu kemarin saya jadi rsgu. Ini persisnya kalimat Sri Mulyani itu:

    Sri Mulyani, "Saya katakan ya sudah kita rapat tertutup, ya Robert," kata Sri Mulyani

    Sebagai orang yang merasa bahwa Sri Mulyani itu tidak bersalah, saya ingin tanya kepada Saudara Wimar, siapa yang disebut Robert oleh Sri Mulyani itu. Dari semua hiruk pikuk berita soal Century selama berpekan-pekan ini, nama Robert yang tersangkut di situ, ya, Robert Tantular itu.

    Penjelasan Departemen Keuangan soal keberadaan Robert ini bermacam-macam. Pertama, Robert memang ada di Depkeu tapi dia berada di ruangan di lantai yang lain. Kedua, Robert memang dipanggil untuk mendengar penjelasannya soal kondisi Century.. Alamak, bagaimana mungkin tuan-tuan yang ikut rapat itu bisa mendengar penjelasan Robert kalau mereka berada di ruangan dan lantai yang berbeda..

    Jawaban si abang akan membantu...

  20. From Deddy on 14 December 2009 17:57:22 WIB
    Menurut saya :
    1. Jangan sampai isu perseteruan ini menjadi pengalihan isu yang sebenarnya, sehingga tujuan Pansus yang semula menjadi tak jelas arahnya.
    2. Ada indikasi bahwa Rapat2 Pansus ingin dibuat tertutup dengan alasan banyak hal yang dibicarakan di Pansus terlalu di blow up oleh media karena belum tentu kejelsan dan kebenarannya. Ayo dukung biarkan rapat2 Pansus tetap menjadi rapat2 terbuka.
    3. Memang dibutuhkan political will yang kuat dari presiden untuk lebih dapat membuat kasus ini menjadi lebih cepat terungkap. Rakyat cukup capek dengan retorika2 selama ini. tanpa ada tindakan nyata. Ayo buktikan donk kalo presiden menjadi orang yang terdepan dalam memberantas korupsi.
  21. From Doni on 15 December 2009 07:43:31 WIB
    pak WW, sebenernya siapa yang memulai polarisasi ini? bukannya SMI yang mulai berbicara di The Wall Street Journal?
  22. From wimar on 15 December 2009 08:21:50 WIB
    Polarisasi terakhir dihidupkan olehb pernyataan Aburizal Bakrie bahwa SMI harus dinon aktifkan.
    Sebelumnya, Aburizal melakukan pelanggaran pajak yang sedang ditindak Dep Keuangan. Selain itu Aburizal berusaha intervensi Bursa Saham Indonesia dan dihambat oleh SMI.
    SMI sibuk mengurus Dep Keuangan, tidak ingin polarisasi.
    Aburizal Bakrie perlu melakukan apa saja supaya luput dari pengusutan Dep Keuangan
  23. From otto on 15 December 2009 08:22:37 WIB
    Bung Dedy:

    1. Mengapa musti rapat terbuka apakah agar wakil wakil rakyat tersebut bisa bersandiawara dan berebut interupsi biar di lihat penonton Telivisi bahwa dialah yang paling hebat bisa mencaci maki pejabat yang kerja kerasa menyelamatkan ekonomi dan kemudian berkata lantang bahwa kalau tidak serahkan kepada rakyat untuk mengadili...?
    2. Menurut saya politikus is Politikus...anda mestinya masih ingat kasus suap Ibu Miranda Gultom yang dibuka oleh wakil dari PDI Perjuangan yang sampai sekarang belum selesai.
    3. Bail out atau tidak, seandainya tidak di Bailout dan kemudian terjadi rush terhadap Bank level menengah yang kemudian harus di bayar juga oleh LPS dengan modal yang lebih besar dan menyebabkan ekonomi Indonesia terpuruk siapa yang anda akan salahkan...atau LSM atau ssiapapun salahkan, pasti anda dan para Komentator ekonomi ( Bukan pelaku Ekonomi ) akan menyalahkan SMI, BOED dan SBY karena tidak mampu mengambil langkah tepat dalam mengatasi masalah. ( tolong kita renungkan Semua).
    4. SMI dan Boed punya tanggung jawab terhadap itu dan harus mengambil keputusan yang cepat dan Tepat, dan itu sudah diambil dan sekarang kita nikmati bahwa sistem perbankan Indonesia memiliki kinerja terbaik diantara Bank Bank se asia dan ekonomi yang positif si sepanjang tahun 2009 ini.

    Mari berpikir jernih jangan sampai kita ini seperti komentator bola Indoensia yang pada saat menonton Manchester united main dan pada saat jeda komentator kita mencoba berkomentar tentang kesalahan Sir alex dalam strategi permainan Bola...Nggak Nyambung dan pasti ditanya emang Lu siapa........
  24. From Dodo on 15 December 2009 09:16:32 WIB
    Bung Wimar anda terlalu menyederhanakan masalah dan cenderung menyinggung orang yang berusaha netral dalam kasus bank century.
    SM smoga masih tetep konsisten, AB semua orang juga tau, dan anda juga pernah menikmati lezatnya duit AB sebagai hnor acara anda di ANTV.
    Dan jangan lupa AB salah satu penyandang dana SBY di tahun 2004.
    Tunggulah semua proses berjalan baik hukum maupun politik.

    No Regreat pernah jadi penggemar anda
  25. From wimar on 15 December 2009 09:39:37 WIB
    Bung Dodo, maaf kalau saya menyinggung orang yang berusaha netral dalam kasus bank century. Saya sendiri selalu berusaha untuk tidak netral, dan melihat siapa yang benar dan perlu dibela.
    ADa suatu koreksi, yaitu mengenai pembayaran oleh Bakrie. Saya tidak pernah dibayar oleh Bakrie. Dalam acara Perspektif Wimar di ANTV, saya dibayar oleh penguasa manajemen yang membailout Bakrie. Saya sebagai anggota Board of Directors dari luar dengan tugas mengawasi manajemen Bakrie di Antv. Setelah Bakrie mendapat durian jatuh uang besar entah dari mana, Bakrie melunasi hutangnya di Antv dan mengambil alih kembali manajemen. Saya diberhentikan.
    Prelajari fakta sebelum menyimpulkan, apalagi kalau mau menyerang :))
  26. From dobelden on 15 December 2009 13:17:36 WIB
    ternyata saya baru mampir skearang di sini.

    Pak wimar jujur juga ya bilang ga netral hehe.. saya ngikutin dulu aja ah alur ceritanya, masih lieur :D
  27. From dodo on 15 December 2009 19:28:07 WIB
    Maaf Bung WW kalau salah informasi, gak pernah punya perasaan nyeranglah......tetap pengin netral sambil nunggu proses selesai......Pis !
  28. From Iim Suarta on 15 December 2009 20:31:28 WIB
    Sampai sekarang saya masih sreg jadi penonton yang baik dulu ketimbang komentar-komentar yang justru malah memperlihatkan kebodohan permanen komentatornya meskipun dengan bahasa yang `biar terlihat pintar`.(maju terus pak Wimar..Im still your fans)
  29. From Finza on 16 December 2009 09:00:21 WIB
    Bung WW, saya sangat menghargai usaha anda membela SMI. Saya juga berempati dan kasihan dengan SMI, yang sepertinya sudah diadili oleh seluruh masyarakat akibat pemberitaan yg tidak berimbang dan objective tanpa pembelaan yg proporsional dari mayoritas media. Tahulah kita siapa2 dibalik media besar yg memang jadi acuan masyarakat itu yang terus memblowup kasus BC & SMI dengan informasi yg kadang2 berbau infotainment yg sepertinya sengaja mengarahkan pada isu2 sensitive membabi buta untuk mengaduk2 psikologi dan opini massa untuk diarahkan pada titik tertentu. Sangat terasa bau politis dalam memunculkan kasus ini tetapi sayangnya SMI bukanlah politisi, sehingga tentu sangat rentan jadi korban politisasi ini. Mudah2an ini jadi ujian bagi SMI, dan kalau lulus, sama seperti rekan di-treat sebelumnya, makin layaklah SMI menjadi RI-1 di 2014.
  30. From abie on 16 December 2009 20:55:05 WIB
    bravo mas wimar.pilihan saya ibu sri mulyani,yakin banget.setuju dengan yang mas wimar katakan tentang ibu sri,bahwa dia itu jujur dll.but for me jujur saja itu sudah cukup,seperti mas wimar.
  31. From Midin Muhidin on 17 December 2009 14:21:29 WIB
    Kita tunggu ending story episode telenovela Century yang makin menarik. Tokoh pembantu baru banyak bermunculan tapi yang paling ditunggu tokoh utamanya belum keluar kotak. Apakah akan ada klimaks? atau malah jadi anti klimaks? ;-)

    http://lintahindonesia.wordpress.com
  32. From wulan on 17 December 2009 23:45:39 WIB
    tolong pak, jangan biarkan para pemfitnah itu berpesta pora dengan keserakahannya. saya sendiri sangat resah ketika supir saya bilang pada saya kalau ia percaya smi dikendalikan oleh RT hanya karena membaca surat kabar, maaf saya lupa koran apa. ibu sri jangan pernah lalai dan lelah. kami dukung! kami juga percaya dengan kekuatan doa yang tak pernah putus.
  33. From mario on 26 March 2010 18:36:58 WIB
    kalau saya orang manado....SULUT.....
    pro Ibu Sri Mulyani.... MANTAP

« Home