Articles

Chatib Basri: Jangan Pertaruhkan Perekonomian Indonesia

Perspektif Online
17 December 2009

Isu pokoknya bukan soal bela Sri Mulyani – Boediono. Itu terlalu personal. Yang lebih penting adalah kita coba selamatkan nasib kita sendiri dalam arti tabungan kita, pendapatan kita, pekerjaan kita, dengan mendorong supaya ekonomi tidak diganggu. Jadi kalau membuat pernyataan atau sikap maka tujuannya adalah bagaimana menyelamatkan ekonomi Indonesia dari tekanan politik ini.

Chatib Basri: Jangan Pertaruhkan Perekonomian Indonesia
Oleh: Hayat Mansur
 
Ekonom dari Universitas Indonesia DR M. Chatib Basri mengatakan saat ini aspek politik sudah lebih dominan dalam isu Bank Century karena menyangkut kursi di kabinet. “Kalau memang mau berkelahi mengenai posisi kursi boleh saja. Namun jangan donk ekonomi Indonesia dipertaruhkan karena korbannya akan terlalu banyak dan biayanya juga terlalu mahal kalau ekonomi kita rusak,” kata Chatib Basri.
 
----------------------------
 
Saat ini Perspektif Online sangat senang mengangkat topik Bank Century karena banyak terjadi kerancuan pada permasalahan Bank Century yang dilontarkan politisi dan beberapa pihak seperti terekam di media mainstream. Guna terus memberikan kejernihan pada publik, kali ini Perspektif Online dan Perspektif Baru membahas Bank Century dengan ekonom Chatib Basri atau yang juga akrab dipanggil Dede Basri.
 
Menurut Dede Basri, isu Bank Century merupakan isu yang besar sekali. Selama ini orang hanya melihat isu tersebut sebatas Bank Century dan terkait Sri Mulyani - Boediono. Namun ada yang lebih jauh dari hal tersebut dan tidak sebatas pada Sri Mulyani – Boediono, yaitu negara ini dipertaruhkan.
 
Contoh Dede, saat Bank Century mau diselamatkan (bail out) banyak sekali beredar pesan layanan singkat (SMS) mengenai bank-bank yang mau dirush. Bahkan ketika ada demontrasi di satu kantor wilayah yang dekat dengan sebuah bank membuat orang ribut bahwa bank tersebut dirush.
 
“Itu untuk menunjukkan bagaimana kepanikan yang  terjadi saat itu,” kata Dede. Apalagi Indonesia tidak melakukan penjaminan penuh terhadap dana pihak ketiga (blanket guarantee) di perbankan. Jadi dalam situasi itu maka mau tidak mau  kita tidak boleh mengambil risiko. Kalau terjadi suatu bank kolaps maka dampaknya bisa sistemik. Keputusan bail out akhirnya harus diambil.
 
Sekarang jika krisis global terjadi lagi kemudian ada bank yang terkena atau kolaps, maka pertanyaannya adalah apakah Menteri Keuangan, siapa pun dia, berani untuk mengambil tindakan penyelamatan. “Kalau tidak, saya sebagai investor akan bertanya adalah untuk apa saya menaruh uang di Indonesia. Saya lebih baik menaruh uang di negara yang memberikan jaminan 100%  atau blanket guarantee,” kata Dede. Ini bukan sesuatu yang konspiratif, ini sesuatu yang rasional saja. Semua orang akan berusaha mempertahankan uangnya.
 
Jika melihat perlakuan terhadap Sri Mulyani dan Boediono seperti saat ini, Dede tidak yakin siapa pun Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia tidak akan berani mengambil tindakan penyelamatan bank untuk menyelamatkan negara ini. “Berarti yang terjadi adalah orang baik di-punish (dihukum), sedangkan yang kurang baik di-reward (diberi angin) dengan kejadian seperti ini.”   
 
Dede menegaskan bahwa sektor keuangan merupakan bisnis kepercayaan. Yang paling utama adalah orang percaya atau tidak dengan Indonesia. Kalau tidak percaya maka akan meninggalkan Indonesia. Saat ini anchor (jangkar) dari investor baik domestik maupun asing adalah Sri Mulyani dan Boediono. Kalau anchornya tidak ada maka investor akan bertanya siapa yang akan melindungi kepentingan di dalam ekonomi saya seperti tabungan dan lain-lain.
 
Para investor telah menyatakan kepada Dede bahwa mereka tidak yakin jika ada bank yang bermasalah lagi akan diselamatkan karena tindakan yang benar terhadap Bank Century malah di-punish. Padahal di seluruh dunia tindakan tersebut dilakukan dan dianggap sebagai sesuatu yang salah dan dihukum. “Kalau itu terjadi dan para investor menarik uang ke luar negeri maka rush di bank bisa terjadi dan rupiah bisa mencapai Rp 12.000-an per dolar AS,” papar Dede.
 
Akibatnya lagi, persoalannya bukan mengenai Sri Mulyani dan Boediono tapi semua orang yang memiliki tabungan dalam bahaya, dan ekonomi Indonesia ada dalam bahaya. Jadi yang dilakukan sekarang ini secara tidak langsung menyiapkan Indonesia menuju kepada kerapuhan sistem keuangan karena yang dilakukan adalah mencegah orang untuk berbuat baik. “Ini saya kira yang membuat persoalan lebih krusial dibandingkan isu Bank Century itu,” tegas dia.
 
Dede Basri mengatakan yang penting saat ini adalah memahami persoalan ini sangat penting. Jadi isunya bukan soal bela Sri Mulyani – Boediono. Itu terlalu personal. Yang lebih penting adalah kita coba selamatkan nasib kita sendiri dalam arti tabungan kita, pendapatan kita, pekerjaan kita, dengan mendorong supaya ekonomi tidak diganggu. Jadi kalau membuat pernyataan atau sikap maka tujuannya adalah bagaimana menyelamatkan ekonomi Indonesia dari tekanan politik ini.
 
“Jangan sampai gonjang-ganjing politik membuat nilai rupiah jatuh, bank tutup, orang tidak bisa kerja, pengangguran naik. Celaka kita kalau harus mengulangi kesalahan itu,” kata dia.
 
Sebagai penutup, Wimar Witoelar memberi komentar bahwa di suatu pertempuran, kalau sekarang pertempuran untuk kesejahteraan ekonomi, tidak ada posisi netral. Jadi kita harus mengambil pihak. “Kalau saya berpihak pada pemeliharaan kestabilan ekonomi. Karena itu kita harus lebih banyak mengetahui isu ini,” tegas Wimar
 
Lalu, ke mana Anda akan berpihak??

 

 

Oleh: Hayat Mansur

 


 Ekonom Universitas Indonesia DR M. Chatib Basri mengatakan saat ini aspek politik dominan dalam isu Bank Century karena menyangkut kursi di kabinet. “Kalau memang mau berkelahi mengenai posisi kursi boleh saja. Namun jangan ekonomi Indonesia dipertaruhkan karena korbannya akan terlalu banyak dan biayanya juga terlalu mahal kalau ekonomi kita rusak,” kata Chatib Basri.

Ini diucapkan dalam wawancara dengan Wimar Witoelar pada Perspektif Baru (PB)  yang akan ditayangkan akhir minggu depan. Saat ini PB dan PO memberikan fokus pada topik Bank Century karena banyak terjadi kerancuan yang dilontarkan politisi dan beberapa pihak seperti terekam di media mainstream. Guna terus memberikan kejernihan pada publik, kali ini Perspektif Online dan Perspektif Baru membahas Bank Century dengan ekonom Chatib (Dede) Basri.

Menurut Dede Basri, isu Bank Century merupakan isu yang besar sekali. Selama ini orang hanya melihat isu tersebut sebatas Bank Century dan terkait Sri Mulyani - Boediono. Namun ada yang lebih jauh dari hal tersebut dan tidak sebatas pada Sri Mulyani – Boediono, yaitu negara ini dipertaruhkan. 

Bulan November 2008, sebelum Bank Century diselamatkan (bail out) banyak sekali beredar SMS mengenai bank-bank yang mau dirush. Bahkan ketika ada demonstrasi di satu kantor wilayah yang dekat dengan sebuah bank, orang ribut mengira bahwa bank tersebut dirush. 

“Contoh ini menunjukkan bagaimana panik yang  terjadi saat itu,” kata Dede. Apalagi Indonesia tidak melakukan penjaminan penuh terhadap dana pihak ketiga (blanket guarantee) di perbankan. Dalam situasi itu maka mau tidak mau  kita tidak boleh mengambil risiko. Kalau terjadi suatu bank kolaps maka dampaknya bisa sistemik. Keputusan bail out akhirnya harus diambil. 

Sekarang jika krisis global terjadi lagi kemudian ada bank yang terkena atau kolaps, maka pertanyaannya adalah apakah Menteri Keuangan, siapa pun dia, berani untuk mengambil tindakan penyelamatan. “Kalau tidak, saya sebagai investor akan bertanya, untuk apa saya menaruh uang di Indonesia. Saya lebih baik menaruh uang di negara yang memberikan jaminan 100%  atau blanket guarantee,” kata Dede. Ini bukan sesuatu yang konspiratif, ini sesuatu yang rasional saja. Semua orang akan berusaha mempertahankan uangnya. 

Jika melihat perlakuan terhadap Sri Mulyani dan Boediono seperti saat ini, Dede merasa siapa pun Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia, pemerintah tidak akan berani mengambil tindakan penyelamatan bank untuk menyelamatkan negara ini. “Kenyataan yang terjadi adalah orang baik di-punish (dihukum), sedangkan yang tidak baik di-reward (diberi angin) dengan kejadian seperti ini.”    

Dede menegaskan bahwa sektor keuangan merupakan bisnis kepercayaan. Yang paling utama adalah orang percaya atau tidak dengan Indonesia. Kalau tidak percaya, orang maka akan meninggalkan Indonesia. Saat ini anchor (jangkar) dari investor baik domestik maupun asing adalah Sri Mulyani dan Boediono. Kalau anchornya tidak ada, maka investor akan bertanya siapa yang akan melindungi kepentingan di dalam ekonomi saya seperti tabungan dan lain-lain. 

Para investor telah menyatakan kepada Dede bahwa mereka tidak yakin jika ada bank yang bermasalah lagi akan diselamatkan karena tindakan yang benar terhadap Bank Century malah di-punish. Padahal di seluruh dunia tindakan tersebut dilakukan dan dianggap sebagai sesuatu yang benar dan tepat.  “Kalau itu terjadi dan para investor menarik uang ke luar negeri maka rush di bank bisa terjadi dan rupiah bisa mencapai Rp 12.000-an per dolar AS lagi,” papar Dede. 

Akibatnya lagi, persoalannya bukan mengenai Sri Mulyani dan Boediono tapi semua orang yang memiliki tabungan dalam bahaya, dan ekonomi Indonesia ada dalam bahaya. Jadi yang dilakukan sekarang ini secara tidak langsung menyiapkan Indonesia menuju kepada kerapuhan sistem keuangan karena yang dilakukan adalah mencegah orang untuk berbuat baik. “Ini saya kira yang membuat persoalan lebih krusial dibandingkan isu Bank Century itu,” tegas dia. 

Dede Basri mengatakan yang penting saat ini adalah memahami persoalan ini. Isu pokoknya bukan soal bela Sri Mulyani – Boediono. Itu terlalu personal. Yang lebih penting adalah kita coba selamatkan nasib kita sendiri dalam arti tabungan kita, pendapatan kita, pekerjaan kita, dengan mendorong supaya ekonomi tidak diganggu. Jadi kalau membuat pernyataan atau sikap maka tujuannya adalah bagaimana menyelamatkan ekonomi Indonesia dari tekanan politik ini. 

“Jangan sampai gonjang-ganjing politik membuat nilai rupiah jatuh, bank tutup, orang tidak bisa kerja, pengangguran naik. Celaka kita kalau harus mengulangi kesalahan itu,” kata dia. 

Sebagai penutup, Wimar Witoelar memberi komentar bahwa di suatu pertempuran, seperti sekarang pertempuran untuk kesejahteraan ekonomi, tidak ada posisi netral. Kita harus mengambil pihak. “Kalau saya berpihak pada pemeliharaan kestabilan ekonomi. Karena itu kita harus lebih banyak mengetahui isu ini,” tegas Wimar.

 

 

Print article only

15 Comments:

  1. From Hamim on 18 December 2009 06:20:39 WIB

    Dede betul sekali: yang dipertaruhkan adalah ekonomi Indonesia.
    Wimar Witoelar juga betul sekali: dalam "pertarungan ini tidak ada posisi netral"

    Mungkin saja dari tim 9 itu yang betul betul cari kebenaran mengenai tidakan bailout bank Century itu, tapi sangat disangsikan.

    Apalagi dengan kalahnya (tapi tidak mengaku kalah) dari Bambang Sutyanto yang dngan gegabah saja membuka polemik mengenai percakapan Mulyani-Marsillam (yang dikiranya Robert Tantular). Dia katanya disuruh.
    Siapa yang menyuruh ?

    Seharusnya: sekali lancung ke ujian, seumur orang tak percaya.

    Tapi, anggota anggota DPR yang itu memang konyol sekali.

    Saya juga "agak" heran mengenai sikap SBY, masa dia tidak membela orang orang yang dia angkat jadi pembantu pembantunya.

    Tapi SBY mah SBY, kita baru akan mengerti sikap demikian itu kemudian.

    Yang penting bagi kita:"Membela yang benar !!!"

  2. From rangga aditya on 18 December 2009 07:38:58 WIB
    benar kata bapak Chatib Basri. kenapa para elit tidak berfikir demikian? (itupun kalau mereka niat untuk mensejahterakan rakyatnya) tujuan awal dibukanya hak angket ini kan agar persoalan clear dan kita dapat menagkap yang salah dan we can go on forward! jangan sampe dech nilai rupiah turun :( ampun dech... nanti saya gagal lagi nich beli mekbuk wakakak ...
  3. From Chandra on 18 December 2009 09:39:27 WIB
    Taruhlah kebijakan SMI dan Boediono itu salah, so what? Nanti kalau ternyata pembiaran BC menyebabkan krisis, yang digebuk juga dua pejabat itu. Jadi sebetulnya, rame2 gerakan anti SMI ini adalah proyek mereka yang kalah Pileg/Pilpres buat bertualang naik panggung dengan mengorbankan kepentingan nasional yang lebih luas. Gak sabar nunggu 2014. Saya tadinya share kebanggaan WW bahwa kita2 ini boleh membanggakan kedewasaan berdemokrasi. Eh, kok nyatanya jadi begini ya? Amies Rais, PDIP dll itu bisa bikin kita jadi kaya Thailand.
  4. From Bona Simanjuntak on 18 December 2009 10:31:22 WIB
    Demokrasi dan keterbukaan jangan di persalahkan. Kasus Bank Century mutlak adalah sebuah pola sistemik yang di ambil tentunya dengan alasan khusus yang bisa di lindungi juga oleh undang undang informasi. Sayangnya masyarakat kita menjadikan konsepsi dari aturan demokrasi menjadi batu sandungan untuk kebebasan itu sendiri.

    Senada dengan Pak Dede, perlu perhatian yang jauh lebih besar dari sekedar apa yang telah di tampilkan di media terutama media televisi, berpikir secara rasional akan dapat melihat peran penting mengapa kebijakan itu itu diambil dan kembalikan kepada tupoksi jabatan.

    Wahai para media televisi sadarlah dan kembalikan profesionalisme anda dengan melakukan perbandingan berita agar masyarakat tidak di kerucutkan pada pada satu pendapat yang pada akhirnya hanya memberikan angin segar terhadap kepentingan golongan.
  5. From i.k.kisna on 18 December 2009 14:20:19 WIB
    kebiasaan para elit politik yang ditiru supoter sepakbola yaitu, tidak mau 'fairplay' kalau kalah tim-nya tidak terima malahan melakukan amuk masa secara membabi-buta segala yang ada dirusak adalagi komentar2 asal reaktif dan ngaco dari tokoh2 yang bukan berilmu dalam bidangnya hingga masyarakat awam semakin bingung?! kalau yang sudah ngerti cuma nggumam "terlalu...!!"
  6. From Supardi on 18 December 2009 18:45:00 WIB
    Sangat setuju sekali...
  7. From Bibeh on 18 December 2009 19:58:04 WIB
    Secara garis besar, tujuan pansus:
    1. Mencari kemungkinan pelanggaran UU terkait bail-out.
    2. Mengurai komplikasi terkait bail-out termasuk perubahan aturan perbankan.
    3. Mengurai aliran dana.
    4. Mencari tahu proses pembengkakan dana bail-out.
    5. Mencari tahu potensi kerugian negara termasuk kemungkinan penyelamatan keuangan negara.

    Sebenarnya, kelima tujuan itu sangat bagus, sayangnya mereka politisi yang lebih menitikberatkan urusan politis.

    Dari awal, sebelum ada pansus, para politisi veteran di dalam dan di luar DPR, sudah punya target person penting pemerintahan, walaupun mereka berkeras tidak akan meng-impeach Presiden.

    Saya pikir, dari urutan sasaran pansus, jelas target utamanya bahkan sebelum semuanya kelar dicari tahu (cermati berita sekon per sekon).

    Kalau saya bilang, tujuan 1-5 tidak tercapai secara paripurna pun anggota pansus akan puas bila target politis mereka tercapai. (lihat arsip berita, bahwa mereka tidak mau terjebak pada aliran dana dan dalam hal menilai kerugian negara).

    Saya pikir 3-5 tidak tercapai pun, kalau 1-2 sudah cukup memenuhi target politis mereka, mereka dengan bangga akan
    berkata pansus berhasil dan anggaran rakyat tidak sia-sia.

    Saya berharap 3-5 dapat digunakan untuk memperbaiki loophole yang ada di 1-2. Secara sistem ini lebih ajeg, dari pada mentargetkan person. Walaupun person dan sistem dua hal yang tidak terpisahkan.

    Saya pada posisi di mana? as i said, dari sejak dulu: saya
    lebih suka sistem yang berjalan baik. Orang dapat saja salah, dan terserah mau diberi kesempatan memperbaiki diri / sistem berapa kali (maksimum dua kali deh).

    Sistem yang tidak pernah baik ya, sampai kapan pun dan berapa banyak orang diganti-ganti, ya tetep saja kinerja begitu-begitu saja.

    Semasa pilpres/wapres saya pernah bilang, saya suka paduan
    dari kecekatan JK, ketegasan SM, dan gelora PS. Maaf, Pak B, tidak saya sebut waktu itu karena BI memang Independen dan lagipula itulah hasil pilihan aklamasi DPR.

    Track record, ya, dilihat juga, karenanya ketika ada malfunction: orang diberi KESEMPATAN memperbaiki diri dan
    sistem DIPERTIMBANGKAN untuk di-overhaul.

    Kenyataannya sekarang, sistemik atau tidak: Ekonomi Indonesia baik, diantara keterpurukan ekonomi dunia. Ekonomi Indonesia biasa, diantara berkah yang seharusnya dimanfaatkan.

    Kerja bareng semua Kelembagaan Negara dan swadaya masyarakat (swasta) yang business as usual?.

    Selanjutnya: Apakah mengganti sistem / person akan menimbulkan dampak sistemik baru atau tidak. Kalau tidak ada jaminan, maka saya tidak sama puasnya dan tidak sama bangganya dengan DPR yang puas bila 1-2 tercapai secara politis saja apalagi kelima-limanya tidak paripurna.

    Saya bangga dengan Pemerintahan dan DPR/DPD terpilih, tetapi kata si Fulan, siapa yang butuh keduanya kalau kehidupan dulu dan sekarang, berjalan apa adanya. Yang ada malah ngrecokin karena roda kehidupannya terseret-seret hal yang sama sekali di luar jangkauannya.

    Penutup: Toh saya berpartisipasi di Pileg dan Pilpres/wapres, saya punya preferensi terhadap Prerogatif Presiden atas para pembantunya. Beterima kasih, diberi ruang beruneg-uneg oleh Oom Wimar. Selamat menuju tahun yang baru. Semoga Indonesia lebih baik saja.
  8. From hok on 18 December 2009 22:16:42 WIB
    Dengan jatuhnya Sri Mulyani dan Boediono tentunya para pemodal kisruh Bank Century ini akan menangguk 3 keuntungan yaitu
    Pertama, bargaining politik untuk jabatan yg diincar sebelumnya .

    Kedua, memperoleh keuntungan selisih kurs RUPIAH dan DOLLAR AS yg besar ( dimungkinkan lagi bila The Fed menaikkan suku bunganya tahun depan), karena pemodal kekisruhan politik ini kemungkinan besar para pemegang DOLLAR AS yg memarkir uangnya di Singapura dan negara2 aman lainnya.

    Ketiga, lolos dari hukuman perdata atau pidana sebagai akibat dari tindakan TAX FRAUD (penggelapan pajak)Rp 2,1 Trilyun .

    Membiayai oportunis senayan dan organisasi demo kasus Bank century yg dibuat2 itu lebih murah daripada membayar hukuman pidana atau perdata sejumlah Rp. 2,1 Trilyun, bukan?
  9. From lehonahu pniel on 19 December 2009 10:45:38 WIB
    Orde Baru mendesakkan ide kepentingan umum dan pembangunan untuk melakukan represi kepada gerakan pra reformasi. Jangan ulangi kesalahan yang sama.
  10. From Ludjana on 19 December 2009 15:49:55 WIB
    Pansus mungkin is not all that bad (paling sedikit ada anggota anggota yang barangkali bermaksud baik).
    Tapi bahwa "dengan aklamasi" mereka "menghimbau" agar Wapres dan MenKeU menanggalkan jabatannya dengan sementara, menunjukan bahwa mereka ingin menang sendiri.
    Apa mereka tidak mengerti bahwa itu akan memberi kesan yang buruk bagi para investor ?
    Katanya mereka itu mewakili rakyat.

    Tapi mereka salah hitung: mereke kira SBY akan melaksanakan himbauan mereka.
    Ternyata SBY jauh lebih bijaksana daripada perkiraan lawan lawan politiknya.

    SBY tidak dengan kata kata mempertahankan Wapres dan MenKeU pilihannya, tetapi dengan tegas menolak permintaan (emh "himbauan") konyol wakli rakyat.

    No, gentlemea, wakil Presiden dan Menteri keuangan harus menjawab pertanyaan pertanyaan pansus. Tetepi tidak harus turun dari kedudukannya.


    Bravo SBY




  11. From Arie on 20 December 2009 00:39:33 WIB
    Robert & Bakrie sama2 pelaku bisnis, yang satu ditolong yang satu tidak pun bisa menjadi bahan polemik tersendiri. bagi saya siapapun the survivors they are the experts. Kalau ditanya dukung siapa, saya dukung yang benar by fact dan preference saya adalah kasus ini harus terus diusut tuntas, kenapa, supaya orang bisa ambil pelajaran untuk masa depan dan perbaikan sistem mana yang harus dilakukan, secara nurani saya percaya SM & B individu yang committed, yg pasti sanggup mempertanggung jawabkan setiap keputusannya.

    Seperti SBY belum begitu offensive menginjak gas, seperti pernah disarankan WW dalam bbrp artikelnya.
  12. From otto nasri on 21 December 2009 06:58:34 WIB
    Dear All,
    Sekedar mengingatkan bahwa kasus century merebak setelah adanya rekamam pembicaraan Susno Duadji dan Lukas oleh BPK, tetapai sekarang kok yang disuruh non aktif Mnekeu dan Boediono, imbauan penonaktifan ini sendiri di piltir oleh media karena anggota Pansus tidak menyebut nama orang atau jabatan dalam rekomendasinya.
    PErtanyaan besar nya adalah: Mengapa tidak pernah sekalipun anggota Pansus Membuka rekaman pembicaraan dan dugaan keterlibatan dari Polisi, Hakim, Jaksa yang hanya menghukum Robert Tantulan 4 Tahun setelah merampok uang negara 6,7 Triliun rupiah.

    Anggota pansus Yth : Anda buka sedang main sinetron di TV Karena siaran langsung sehingga harus memerankan peran antagonis, pake saja nalar dan hati nurani anda m karena kalau anda ingin kembali dipilih rakyat di 2014 maka sebaiknya anda bicara dengan santun dan sesuai dengan aturan yang ada.

    Ingat Amien rakyat tidak laku di Pilpres karena ngomongnya terlalu sering merasa dirinya paling benar dan orang lain salah.
    Din Syamsudin mendukung JK di Pilpres pun tidak laku karena sudah beda tujuan dengan umat muhamadyaj sendiri apalagi sekarang trus ber manuver dengan mendukung hal hal yang nggak jelas, lihat fil lasykar pelangi pak tau nggak Pak Din bahwa sekolah SD tempat kejaidan itu adalah sekolah muhamadyah dan sekarang masih banyak yang seperti itu sementara Bapak hidup bergelimang materi seprti sekerang ini.

    Dan Banyak tokoh yang lain yang mereka anggap dengan ceplas Ceplos bisa di pilih rakyat banyak.

    Demikian sebagai renungan saja untuk kita bisa lebih tajam melihat mana yang benar dan salah.
  13. From Doni Daan on 21 December 2009 09:24:00 WIB
    Artikel bung Dede nampak sekali hendak menempatkan SMI dan BOediono sebagai seorang malaikat yang kalau keduanya jatuh maka Indonesia (ekonominya) ikut runtuh bersamanya, menurut saya itu adalah amat berlebihan. Mungkin Bung Dede anak buah mereka sehingga akan membelanya tetapi cara pembelaan seperti ini adalah sangat naif, dan menafikan para ahli-ahli ekonomi Indonesia yang lain bahkan menurut saya fundamen ekonomi Indonesia sangat kuat dan tidak akan runtuh hanya karena lengsernya atau meninggalnya seratus ahli ekonomi yang ada termasuk dua orang tersebut SMI dan Boedono. Jadi kalau memang dua orang tersebut bersalah maka harus berani mempertanggung jawabkannya. Sudah terlalu lama Indonesia membiarkan para koruptor melenggang bebas menikmati hasil jarahannya, sudah terlalu lama Indonesia membiarkan badut-badut pemimpin mengangkangi rakyatnya, dan sudah terlalu lama rakyat Indonesia menderita karena kebijakan-kebijakan pemimpin yang korup. Sudah waktunya sekarang Indonesia bangkit dari keterpurukannya, sudah waktunya Indonesia sekarang menjadi negeri yang zero tolerance terhadap korupsi dan sudah waktunya Indonesia bersih dari pejabat-pejabat yang korup.
  14. From alfred on 21 December 2009 18:46:44 WIB
    Faisal Basri masih bisa kita percaya kredibilitasnya kan? Dia juga mengkritik rongrongan politis thd posisi SMI

    http://indonesiabuku.com/?p=1960
    ....
    Fasial Basri mengatakan, Indonesia bisa lolos dari krisis tahun 2008 lebih dikarenakan luck, bukan karena adanya gebrakan dari pemerintah. Selain itu, sektor perbankan nasional tidak terkena dampak subprime mortgage secara langsung.

    ”Indonesia selamat karena tidak tergantung pada ekspor. Adapun surplus neraca perdagangan karena impor yang cepat terpuruk. Daya saing Indonesia juga meningkat karena pada saat yang sama negara lain mengalami krisis sehingga kondisi ekonominya melemah,” ujarnya.
  15. From indri on 23 December 2009 23:05:03 WIB
    sy pegwai depkeu, tp perlu diingat,SMI lengser pun tdk akan mempengaruhi gaji dan posisi sy..artinya siapapun menterinya, sy tetap kerja di depkeu dan tetap digaji..bhkn sy yakin SMI jg tdk pernah tau sy adalah prajurtinya di depkeu..jd bkn krn sy pegwai depkeu mk sy condong ke SMI..krn memang sy prcya dgn integritasnya, dgn kemauannya utk mebuat depkeu mnjd institusi yg lbh baik dan governance (sy yakin ribuan pegwai depkeu brpikiran sma dgn sy..)...jd memang kita bkn membela personal disini krn memang hukum semestinya tdk melihat jabatan orng, tp nuansa politik yg tidak fair dan berniat menjatuhkan itu yg akan kita lawan mati2an...sy mlh mempertanyakan niat orng2 yg ngotot menjatuhkan kedua putra terbaik bangsa tersebut dgn mengatasnamakan rakyat...rakyat yg mana?? rakyat atau kelompok tertentu?? sy seperti melihat apa yg digambarkan dlm AL Qur'an utk orng2 spt itu : tertutup matanya, tertutup telingan, dan tertutup pula mulutnya untuk mampu melihat, mendengar, serta menyuarakan kebenaran yg berasal dr nurani...jd percuma saja berharap pd orng2 spt itu..

« Home