Articles

Talkshow: Musuh Bersama

Gatra
02 September 2002

Veven Sp. Wardhana

Harus dicatat, Wimar Witoelar-lah yang mengangkat pamor tayangan talkshow di televisi, terutama lewat tayangan "Perspektif" di SCTV. Karena tayangan "Perspektif" itulah, acara dialog di televisi jadi jam tayang yang bersejajar dengan hiburan kuis, musik, dan sinetron, termausk kualitas jurnalistik televisi yang tergarap macam "Dunia dalam Berita".

Yang dilakukan Wimar lewat acaranya adalah deskaralisasi sumber. Jika sebelumnya, terutama di TVRI, talkshow semata diisi narasumber yang berasal dari instansi pemerintah dan sejenisnya, atau para akademikus yang berbicara sangat canggih dalam bahasa "dewa", "Perspektif" bahkan menghadirkan anybody yang bukan saja tak berasal dari universitas dan tak bergelar atau berpangkat, melainkan juga menggunakan bahasa masyarakat umum sehari-hari. Itu terutama saat narasumbernya seorang anak tanggung yang bekerja sebagai joki three in one yang bercita-cita jadi Menteri Pendidikan.

Desakralisasi "Perspektif" lainnya : narasumbernya begitu kritis terhadap pola politik rezim orde Soeharto, sementara sebelumnya cenderung menyangga rezim yang berkuasa. Itu sebabnya, usai Wimar Witoelar menghadirkan narasumber Mochtar Lubis yang jauh dari eufemisme serta indonesianis Willian Liddle yang mengelupas topeng kebesaran perpolitikan rezim penguasa, "Perspektif" kemudian dibredel dari udara.

"Perspektif" yang terbredel malah mempertegas posisinya sebagai ikon acara unjuk wicara di televisi dan media elektronik lain:radio; yakni suara-suara narasumber yang "dimusuhi" Soeharto menjadi resep kuncinya. "Musuh" itu bisa bermakna sosok perorangan, bisa pula berarti isi statemen yang berseberangan dengan rezim penguasa. Maka, di radio-radio pun menjadi kerap terdengar suara Abdurrahman Wahid dan terutama Ali Sadikin, yang sebelumnya begitu kerap diwawancarai namun jarang dimuat hasilnya.

"Musuh" politik Soeharto malah berkembang menjadi "kawan bersama" untuk melawan Soeharto. Karena itu, karena masyarakat kian gerah terhadap represi Orde Baru, suara-suara yang dimusuhi Soeharto jadi representasi masyarakat yang gerah tersebut. Jadinya, pertanyaan-pertanyaan Wimar Witoelar dalam talkshow-nya sekedar "gimmick" untuk memancing pernyataan yang menunjukkan posisi keterseberangannya dengan penguasa.

Akhirnya, bukan dalam rubrik resmi talkshow semata “gimmick” dan statemen berseberangan itu perlu dimunculkan. Pseudo-talkshow pun kemudian diselap-selipkan di celah-celah acara berita. Dari sini, lahirlah momentum monumental wawancara presenter SCTV Ira Koesno dengan Sarwono Kusumaatmadja yang beribarat-ibarat:negeri Indonesia sedang sakit gigi;agar sakitnya hilang,cabutlah gigi yang sakit itu;sementara gigi merupakan representasi Presiden (kala itu) Soeharto.

Soeharto terlengserkan,rezim berganti dan bergantian. Di era Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, jumlah tayangan talkshow kian berjubel. Talkshow menjadi andalan mata tayangan televisi bersejajar dengan acara hiburan. Bahkan, tak jarang muncul talkshow dadakan yang sama sekali jauh dari perencanaan. Apalagi saat-saat menjelang dan di tengah Sidang Istimewa MPR, Juli 2001. Polanya sama dan sebangun dengan saat Soeharto berkuasa, yakni:narasumber yang muncul berasal dari luar lingkaran istana,selain suaranya harus berseberangan atau setidaknya kontroversial. Dalam situasi macam inilah, lahir sosok Andi Alfian Mallarangeng, juga Imam B. Prasodjo, yang lebih sebagai selebriti ketimbang ilmuwan.

Jika hari ini dalam pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri tak begitu banyak talkshow diagendakan, termasuk nyaris tiada talkshow dadakan di luar agenda, pertanyaannya: berhasilkah Megawati tak menciptakan “musuh” sehingga dia terhindar dijadikan “musuh bersama”? Saya hanya mencatat, dalam peringatan setahun pemerintahannya, betapapun banyak suara kritis terhadapnya, toh itu tidaklah segegap gempita sebagaimana terjadi pada era Soeharto dan Gus Dur.

Boleh dikata, tiada bintang baru yang muncul dalam talkshow pada era mutakhir. Tiada lagi selebriti yang berasal dari kalangan aktivis dan musuh politik Soeharto sebagaimana ketika Orde Baru, atau para akademikus dalam zaman Gus Dur. Posisi selebriti kembali ke pangkuan para artis yang terlibat cinta lokasi, bercerai,berebut harta gono-gini, dan sejenisnya, yang bercerita berjejal-jejal dalam mata tayang yang disebut infotainment.

Kini, talkshow kembali ke khittah, yakni sebagai perbincangan yang dipertunjukkan, talk in show; setelah sebelumnya makna talkshow cenderung semata talk for show. Namun, harus diakui, karena format talk for show itulah yang lebih menarik minat, termasuk menarik minat para pengggemar untuk berfoto bersama dengan narasumber yang kadang jadi selebriti. Karenanya, topik talkshow pun tak lagi didasarkan pada aktualitas secara umum, melainkan karena adanya keinginan aktualisasi, seseorang, atau lembaga tertentu yang ingin mem-public relations-kan diri. Untuk itu, kemungkinan pemilihan topiknya pun sangat tergantung duit sponsor. 

Dari Gatra

Print article only

1 Comments:

  1. From keket on 29 September 2006 10:28:36 WIB
    setiap pemerintahan slalu punya keunikan.jaman si bapak,talkshow perspektif "dibredeli",denger2 bapak kita itu sakit hati ga jadi tamu pertama.udah ga diundang diomongin2 tanpa bayar royalti katanya.hehehe
    jaman si ibu,mungkin selain "my way" lagu favoritenya, "silence is golden" adalah lagu wajibnya.jadi dech always silent...duh...
    klo Gus Dur, walau 1000 musuh di sisi kiri dan berlaksa di sisi kanan, cuex aja, life goes on folks!!!
    blog juga bisa jadi format talkshow terabadi yang tidak akan dibredeli siapapun.
    kalo di amrik ada OW (Oprah Winfrey) di sini ada WW (Wimar Witoelar), ga beda kemampuannya.
    The Award of Talkshow King goes on to......................Wimar Witoelar, give applause everbody!
    Congratz WW!

« Home