Articles

Pengusutan Century Adalah Serangan Pemodal dan Politisi

Perspektif Online
22 December 2009

oleh Didiet Adiputro


 

Semakin hari nampaknya dukungan kelompok intelektual berintegritas terhadap upaya penyelamatan Bank Century semakin meluas. Kali ini giliran para intelektual dan aktivis yang tergabung dalam Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) menyatakan dukungannya. P2D yang beranggotakan antara lain Rahman Tolleng, Todung Mulya Lubis, Rocky Gerung, Rachland Nashidik, Robertus Robert, HS Dillon dll, secara tegas menyatakan langkah bail out terhadap Century sudah benar jika dilihat dari segala aspek baik itu politik, ekonomi ataupun perundang -undangan.  Justru kita seharusnya bersyukur dengan langkah tepat penyelamatan Bank Century November 2008 silam, karena kestabilan ekonomi yang kita rasakan sekarang di tengah resesi perkonomian dunia adalah "efek sistemik" dari bail out tersebut. Karena tujuan bailout  bukan menyelamatkan Century, tapi lebih luas lagi yaitu menyelamatkan perekonomian nasional.

Dalam sebuah  diskusi yang dilaksanakan di kantor P2D di Jl. Sawo Jakarta Pusat, P2D beranggapan bahwa paksaan politik dalam kasus bank Century ini adalah serangan terhadap benteng terakhir integritas politik pemerintahan SBY. Menkeu dan Wapres adalah dua dari sedikit figur yang tersisa yang masih memiliki integritas, pejabat bersih dan jujur di lingkaran SBY. Serangan terhadap dua figur ini dimaksudkan untuk melapangkan jalan bagi kombinasi kepentingan konglomerat hitam, koruptor dan business politician (bukan hanya politisi yang berbisnis, tapi juga politisi yang memperdagangkan politik).

Rahman Tolleng menilai bahwa jika proses pansus yang tidak berimbang ini diteruskan, maka kemungkinan kita akan menuju pada situasi deadlock dan berujung pada krisis konstitusional. Karena pada dasarnya seluruh proses politik ini bersifat destruktif (merusak), jika melihat dari proses yang berjalan. Rahman juga menegaskan bahwa hak angket yg dipakai sekarang ini sebenarnya peninggalan dari sistem parlementer yang kita anut di tahun 50an, dan sama sekali bukan ciri pemerintahan presidensial. "Baru ketika ingin menjatuhkan Gus Dur saja, mereka mulai melihat lagi hak angket ini", ujar Rahman.

Menyikapi hasil audit BPK yg menurutnya baru berupa temuan saja dan belum diverifikasi kebenarannya, Robertus Robert menyarankan kalau panitia angket memiliki niatan baik untuk menyelesaikan masalah ini secara tuntas,  seharusnnya pansus angket terlebih dulu harus menyelidiki validitas temuan BPK yang dijadikan acuan pansus sebelum  beralih pada proses selanjutnya. "Jangan ditelan bulat-bulat", ujarnya. Apalagi jika dianalisis secara psikologi,  Rahman Tolleng berpendapat bahwa hasil audit BPK ini bisa dibilang mengandung dendam politik tersendiri, karena faktanya Ketua BPK saat ini pernah dicopot dari jabatan Dirjen Pajak oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Tapi Robert menilai bahwa pansus memang sudah memiliki vonis terlebih dulu sebelum persidangan dimulai. Jadi dicarilah dalil yg bisa memperkuat asumsinya tersebut, dan kebetulan hasil audit BPK semakin membuka jalan menuju kesana." Faktanya BPK tidak dapat membuktikan adanya aliran dana yang menyimpang , namun entah karena motif dan kepentingan apa, BPK secara berlebihan mengevaluasi bail out  terhadap Bank Century dari segi hukum", ujar aktivis P2D ini.

Sementara untuk menjawab teka-teki di masyarakat menyangkut kemungkinan adanya aliran dana yang mencurigakan, menurut Rachland Nashidik, proses penyelidikan sebaiknya dilakukan secara proaktif oleh KPK untuk membuktikan dugaan ini. Dengan begitu, masalah ini akan semakin terang benderang sehingga masyarakat dapat menilai mana yang benar dan mana yang salah. Karena akan sangat menyedihkan jika gerakan masyarakat sipil acap kali ditunggagi "penumpang gelap" yang punya kepentingan politik jangka pendek.

 

Print article only

6 Comments:

  1. From wongiseng on 22 December 2009 20:23:14 WIB
    Saya ada kliping apa yang dikatakan oleh analis pasar, anggota DPR dan politisi seputar kondisi perbankan tahun 2008, sebelum dan beberapa saat setelah keputusan penyelamatan di ambil.

    Nuansa pendapatnya jauh berbeda dengan apa yang dikatakan pansus angket saat ini. Tidak bermaksud nyepam, tapi kalau mau liat kliping yang saya highlight dengan diigo, bisa mampir ke sini.

    Kali-kali bermanfaat untuk mengingatkan apa kata mereka dulu.

    http://slides.diigo.com/list/wongiseng/century
  2. From Arifin on 22 December 2009 21:48:09 WIB
    Ada apa dengan perpolitikan di Indonesia ???
    Pejabat yang mempunyai integritas tinggi di tuduh berbuat curang!!!

    Padahal hasil temuan BPK belum diverifikasi kebenarannya,
    Tinggal tunggu waktunya apa yang akan terjadi jika orang baik dituduh tidak baik dan sebaliknya.

    Semoga rakyat dapat melihat kebenaran sejati murni asli
  3. From swaradila on 22 December 2009 22:53:13 WIB
    Mas WW, jika yang dikedepankan adalah logika dan nurani maka membaca dan mengikuti berbagai berita tentang kasus BC ini
    selama 15 menit, kita akan langsung mengerti siapa benar dan siapa ngaco, next setelah 30 menit kita akan mengerti apa tujuan di blow-up nya case ini, namun setelah 1 jam...jadi ngeri euyyy....kita akan mengerti kalo rakyat kita sedang digiring ke jurang !?? wuiiihhhh serem pisan si balakurawa ini yackkk....
  4. From Eka K. on 22 December 2009 23:52:16 WIB
    Tidak saja upaya mematikan KPK dengan menzalimi Bibit - Candra dan kini semakin kentara bahwa Antazari ternyata juga menjadi target, orang2 se-credible dan sebersih SI beserta Boediono pun menjadi incaran untuk dilengserkan...
    Mau dibawa kemana negara Indonesia ini..??
    Wahai para intelektual atau siapa saja yang menyadari akan ketidakimbangan issue yang berkembang saat ini, marilah kita sosialisasikan lebih luas lagi melalui segala media untuk membuka kesadaran rakyat akan terancamnya perekonomian bangsa ini lantaran permainan politik oleh sekelompok orang yang bertopeng kepentingan rakyat.
    Semoga dari nurani yang baik dan kebenaran sejati akan membawa bangsa ini lebih baik di masa depan..!
  5. From Chandra on 23 December 2009 20:13:21 WIB
    To bail out or not to bail out, that is (NOT)the question. Padahal yang dibedah seharusnya misteri bagaimana bank(ir) maling tapi ajaib itu bisa nilep dan siapa saja beneficiary dari duit tilepan itu
  6. From Hamim on 27 December 2009 09:58:12 WIB
    Pendapat tokoh tokoh diatas ini tepat sekali

    Terutama kalimat ini:
    "Menyikapi hasil audit BPK yg menurutnya baru berupa temuan saja dan belum diverifikasi kebenarannya, Robertus Robert menyarankan kalau panitia angket memiliki niatan baik untuk menyelesaikan masalah ini secara tuntas, seharusnnya pansus angket terlebih dulu harus menyelidiki validitas temuan BPK yang dijadikan acuan pansus sebelum beralih pada proses selanjutnya. "Jangan ditelan bulat-bulat", ujarnya. Apalagi jika dianalisis secara psikologi, Rahman Tolleng berpendapat bahwa hasil audit BPK ini bisa dibilang mengandung dendam politik tersendiri, karena faktanya Ketua BPK saat ini pernah dicopot dari jabatan Dirjen Pajak oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati."

    Memang BPK itu pengadilan ?
    Padahal mereka juga tahu bahwa ketua BPK itu orang yang dipecat Sri Mulyani.

    Pengkacauan oleh orang orang yang kebetulan jadi anggita DPR ini pasti sudah direncanakan lama dengan pendanaan yang disediakan oleh orang orang yang sempat dirugikan olah Sri Mulyani.

    Jadi:" BIRDS OF THE SAME FEATHER, THEY FLOCK TOGETHER"

    Tidak memerlukan kepintaran untuk menyimpulkan bahwa mereka itu menginginkan Sri Mulyani minggir, atau .....kekacauab di dunia ekonomi kita.

    Masa kita harus mengalah

    Kitu dukung D{SBY-Boed.

« Home