Articles

Ada bahaya yang lebih besar

Perspektif Online
22 December 2009

oleh Wimar Witoelar

Ada bahaya yang lebih besar dari kerusakan politik dan kerusakan sistem ekonomi.

Dibalik perdebatan yang menjemukan mengenai bailout, aliran dana, konspirasi politik dan pertarungan kelompok, ada bahaya yang lebih besar yaitu hilangnya kejujuran dan penghargaan pada karakter.
Semua tahu siapa yang orang baik-baik dan siapa yang tidak, tapi banyak yang mengabaikan soal karakter dalam sikap terhadap kasus Century. 
Seorang politikus muda yang bersih dan cerdas sejak ia mahasiswa mengagumi Sri Mulyani sebagai dosen cerdas di FEUI, dan memuja ekonom bersih seperti Bediono. Tapi dalam suasana panas sekarang, dia menanggalkan perasaan itu dan bergabung dengan politisi yang mem-blur kaidah ekonomi dan good governance. Dia meninggalkan actuan moral yang dibangunnya bersama orang biasa yang berharap perbaikan  di tahun 98, memperkuat barisan yang mengeroyok Sri Mulyani dan Boediono.
Semua sebetulnya melihat kokohnya integritas dan intelijensi Boediopno dalam interogasi Pansus. Agak  kontras dengan orang2 yang melakukan interogasi. Sementara mereka kehabisan pertanyaan, sesudahnya mereka bicara TV bahwa jawaban Boediono kurang lengkap. Ketika ditanya apa yang kurang lengkap, tidak bisa menjawab.
Banyak wartawan yang melihat SMI tampil dengan jujur, dan menunjukkan tanda simpati pada pejabat yang bersih ini. Seorang wartawan setelah dikunjungi SMI di kantor redaksi menulis dalam twitter (teks asli): 
Today's lesson f s/advanced/langs/en.js" type="text/javascript">// DATA[ rom boediono (at DPR) and sri mulyani (at my office): be clean and professional,and you can face anything.
After this evening meeting,I will join any Sri Mulyani supporters group in facebook,hehehe
emang beda dibanding tamu2 artis atau VVVIP lain,she is really good for this country.
I think this country need her,a lot of her
VVVIP guest result for me : I believe her more,and I hate those politicians more.
Runtut jelas cerdas dan terbuka nih VVVIP. orang jujur emang selalu enak bicaranya
Impresif dan transparan.VVVIP yang dapat dipercaya
emang beda dibanding tamu2 artis atau VVVIP lain,she is really good for this country.
Ada yang menulis komentar berikut di web site ini:
Mas WW, jika yang dikedepankan adalah logika dan nurani maka membaca dan mengikuti berbagai berita tentang kasus BC ini selama 15 menit, kita akan langsung mengerti siapa benar dan siapa ngaco, next setelah 30 menit kita akan mengerti apa tujuan di blow-up nya case ini, namun setelah 1 jam...jadi ngeri euyyy....kita akan mengerti kalo rakyat kita sedang digiring ke jurang !?? wuiiihhhh serem pisan si balakurawa ini yackkk....
Kembalilah pada nurani, tangkap penjahat, but this lynch mob from destroying the basic valuews we hold dear in our heartsAda bahaya yang lebih besar dari kerusakan politik dan kerusakan sistem ekonomi.

Dibalik perdebatan yang menjemukan mengenai bailout, aliran dana, konspirasi politik dan pertarungan kelompok, ada bahaya yang lebih besar yaitu hilangnya kejujuran dan penghargaan pada karakter.

Semua tahu siapa yang orang baik dan siapa yang tidak, tapi banyak yang mengabaikan soal karakter dalam sikap terhadap kasus Century. 

Seorang politikus muda yang bersih dan cerdas sejak ia mahasiswa mengagumi Sri Mulyani sebagai dosen cerdas di FEUI, dan mengandung respek besar ekonom bersih seperti Boediono. Tapi dalam suasana panas sekarang, dia menanggalkan perasaan itu dan bergabung dengan politisi yang mem-blur kaidah ekonomi dan good governance. Dia meninggalkan acuan moral yang dibangunnya bersama orang biasa yang berharap perbaikan  di tahun 98, kini memperkuat barisan yang mengeroyok Sri Mulyani dan Boediono.

Semua melihat kokohnya integritas dan intelijensi Boediono dalam interogasi Pansus. Agak  kontras dengan orang2 yang melakukan interogasi. Sementara orang Pansus kehabisan pertanyaan, tapi sesudahnya bicara di TV bahwa jawaban Boediono kurang lengkap. Ketika ditanya apa yang kurang lengkap, tidak bisa menjawab. :)

Banyak wartawan yang melihat SMI tampil dengan jujur, dan menunjukkan tanda simpati pada pejabat yang bersih ini. Seorang wartawan setelah dikunjungi SMI di kantor redaksi menulis dalam twitter (teks asli): 

  • Today's lesson from boediono (at DPR) and sri mulyani (at my office): be clean and professional, and you can face anything.
  • After this evening meeting, I will join any Sri Mulyani supporters group in facebook
  • emang beda dibanding tamu2 artis atau VVVIP lain, she is really good for this country.
  • I think this country need her, a lot of her
  • VVVIP guest result for me : I believe her more,and I hate those politicians more.
  • Runtut jelas cerdas dan terbuka nih VVVIP. orang jujur emang selalu enak bicaranya
  • Impresif dan transparan. VVVIP yang dapat dipercaya
  • emang beda dibanding tamu2 artis atau VVVIP lain, she is really good for this country.

Ada orang lain yang menulis komentar berikut di website ini:

Mas WW, jika yang dikedepankan adalah logika dan nurani maka membaca dan mengikuti berbagai berita tentang kasus BC ini selama 15 menit, kita akan langsung mengerti siapa benar dan siapa ngaco, next setelah 30 menit kita akan mengerti apa tujuan di blow-up nya case ini, namun setelah 1 jam...jadi ngeri euyyy....kita akan mengerti kalo rakyat kita sedang digiring ke jurang !?? wuiiihhhh serem pisan si balakurawa ini yackkk....

Kembalilah pada nurani, tangkap penjahat, but atop the lynch mob from destroying the good people and the values that we hold so  dear in our hearts

 

p.s. Alangkah senangnya kalau kami diizinkan membuka nama dan foto dari sumber berita ini, untuk sama-sama membuka jendala dalam ruang sumpek ini dan mengalirkan udara bersih dan sinar matahari mengembalikan kehidupan yang sehat kedalam masyarakat kita

 

 

Print article only

36 Comments:

  1. From B. Simanjuntak on 23 December 2009 01:55:42 WIB
    Setuju dengan pendapat itu, profesionalisme memang terkadang memang bisa di politisasi tetapi percayalah sejarah akan mencatatnya. Mari media jangan memotong informasi dan menggiring opini publik ke arah yang salah. Dan publik mulailah mencerna secara komprehensif...
  2. From reko on 23 December 2009 05:33:22 WIB
    btw boleh tahu siapa politikus muda itu bung WW? saya tidak tahu bagaimana perasaan bung WW, ditinggal teman seperjuangan sewaktu berkiprah di 'partai orang biasa'...sabar bung WW. Ternyata teman seideologi saja bisa berpaling. Kira2 tujuannya apa ya bisa beralih? jabatan, karier or money...Salut buat bung WW, semoga terus sehat dan tajam...Dari bung WW saya belajar jadi orang itu harus punya prinsip dan tahu posisi kita ada dimana (tidak abu abu).
  3. From ipungmbuh on 23 December 2009 08:00:00 WIB
    Pertanyaannya sebenarnya sederhana : \"Uangnya kemana?\"

    Tapi kepentingannya menjadi tidak sederhana. Kaum elit menikung kaum elit, melihat sejarah bangsa ini berulang.
    LANJUTKAN!
  4. From wimar on 23 December 2009 08:10:05 WIB
    ipungumbuh, kalau "uangnya kemana" sih semua juga pengen tau.. tapi sebagian lebih semangat menghentikan sri mulyani - boediono dengan tekanan media, berita palsu dan memanfaatkan kebodohan orang. itu yang saya maksud dengan "ada bahaya yang lebih besar"
  5. From imron46 on 23 December 2009 08:51:38 WIB
    Susah menjadi orang jujur di Negeri ini, selalu ada Pendeta Dorna dan Sengkuni dalam setiap wilayah, selalu ada TUKANG FITNAH, PROVOKATOR dll yang mengedepankan kepentingan kelompok dibanding kepentingan bangsa secara Luas.
  6. From Redy Wibisono on 23 December 2009 09:24:27 WIB
    Setiap melihat dan mendengan berita di TV tentang DPR mensikapi kasus yg ada mulai dari Susno Duaji s/d Century spt-nya ada yg kurang pas dalam hati saya.

    Susno Duaji yang jelas2 spt itu, DPR salut dan support tepuk tangan dengan kompak, sakit hati ini melihat acara live saat itu.
    Ibu Sri Mulyani dan Bpk Budiono yang nyata2 bisa mengangkat bangsa ini dari keterpurukan serasa dicari salah-nya.

    Masih banyak Oknum yang sistemik di negara kita ini disemua badan dan departemen yang ingin menghambat bahkan menghentikan laju reformasi demi untuk kepentingan pribadi, golongan dan partai.

    Melalui Comment ini saya support SBY & Team dalam menciptakan Indonesia sebagai mercusuar dunia.

  7. From Otto Nasri on 23 December 2009 09:48:56 WIB
    Setuju dengan artikel diatas, Kwik Kian gie selalu cerita tentang profesor Kodok dimana seorang profesor ditanya seorang anak tentang berapa kali lompatankah di perlukan si kodok untuk menyebrang parit, setelah memakai segala teori dan hitungan matematis maka profesor menjawab 8 Kali lompatan, seorang anak jalanan menyanggah dia bilang hanya 1 Kali, karena selebih nya kodok tersebut berenang ( Ini cerita andalan Kwiek sang profesor ekonomi ), PErtanyaannya kalau cerita ini di berikan sebagai jawaban terhadap kasusu Centuri tentunya Pak Kwiek mencoreng muka sendiri karena Pak Kwiek lah yang salah memberikan tafsiran bukan karena Bodoh, tatpi karena Beliau dan juga komentator ekonomi lainnya tidak berada dalam situasi tersebut, mereka hanya menjawab secara teori yang mereka pelajari dan tidak menjalani kegentingan tersebut.
    Jadi harus lebih banyak yang beranai berbicara seperti, PARA BANKIR yang preminya di pakai untuk LPS Apakah mereka menolak (TIDAK )
    Tetapi MEDIA seperti Metro TV, TV One paling senang mengajak dan meminta pendapat komentator komentaor ekonomi yang seperti ini spt Ichsanudin Noorsi,Drajat wibowo,Kwiek dll, dimana nota bene mereka tidak ada di industri dan dapet duit banyak terus dari komentar nya yang berantakan dan membohongi rakyat itu.

    Terakhir : PErnahkan bapak bapak mengintrospeksi diri mengapa kalian tidak ada lagi di kabinet...?..karena rakyat nggak suka dan itu harus diakaui biar anda bisa merubah prilaku ketimbang menuduh orang lain curang...

    Salam Perjuangan...
  8. From wulan on 23 December 2009 10:05:22 WIB
    kami semua sungguh geram melihat ketidakadilan ini. suatu ujian bagi negara kita memerangi kebodohan dan pembodohan. saya harap anda-anda semua, terutama yang punya pengaruh baik di mata masyarakat bisa mendukung menangnya kebenaran tanpa henti. saya tidak rela negara saya hancur hanya karena kebodohan yang dimanfaatkan para rakus lewat media yang tidak independent.

    salam dan doa,
    wulan.
  9. From Felix on 23 December 2009 10:30:00 WIB
    Org dgn mudah melihat memang ada rekayasa di dalam pansus century ini.. persis seperti ketika org melihat adanya rekayasa terhadap kasus Bibit-Chandra. Dgn makin terbukanya berita2 dari periode akhir 2008 org semakin ingat bahwa memang ada krisis di periode tersebut dan justru org2 yg sekarang berkoar2 bahwa bank century tidak sistemik seperti Melchias Mekeng dan Drajad Wibowo secara on the record berkata yg sebaliknya di akhir 2008.
    Semakin pansus DPR menyerang & meragukan bahwa di akhir 2008 ada krisis ekonomi maka semakin jatuh lah kredibilitas mereka di mata masyarakat. Hanya para die harder anti "neolib", mungkin seperti teman pak WW itu, dan para konglomerat hitam, serta para barisan sakit hati di pilpres kemarin yg masih gencar menyerang Ibu Sri & pak Boediono. The silent majority seperti nya sudah sadar apa yg terjadi dalam pansus tersebut.
  10. From Dewi on 23 December 2009 10:48:36 WIB
    saatnya mendengarkan hati nurani siapa yang seharusnya kita dukung.
  11. From febs on 23 December 2009 10:50:53 WIB
    ........\"Runtut jelas cerdas dan terbuka nih VVVIP. orang jujur emang selalu enak bicaranya\"...........

    honest people speak with their hearts, where flowers are bloomed
    while dishonest people speak with their stomachs, where garbage is located, so it stinks!

    dlm situasi ini, orang2 yg ingin menurunkan/menjatuhkan SMI, tanpa mereka sadari sebenarnya mereka sedang akan melentingkan SMI keatas, ke puncak, ke tempat lebih tinggi dari posisinya saat ini.

    melihat acara pansus century, terlihat jelas bahwa pernyataan Gus Dur masih sgt relevan, \'DPR (MASIH) SEPERTI TAMAN KANAK-KANAK!!\'

    tks
  12. From B. Simanjuntak on 23 December 2009 11:19:16 WIB
    Hati hati dengan politisasi kepentingan dari pemilik media plat Kuning. Pemotongan informasi berdampak sistemik pada opini publik.
  13. From elsadra on 23 December 2009 13:10:42 WIB
    dengan membaca realitas yg ada, tampak sekali keberadaan pansus hanya memolitisir keadaan. however, kt mmbutuhkan sosok spt sri mulyani dan budiono..
  14. From Ridwan on 23 December 2009 15:41:08 WIB
    Mungkin ini adalah hal sepele bagi sebagian orang yang sudah mengerti tapi saya hanya ingin mengingatkan kepada bangsa Indonesia bahwa kita harus sangat selektif dalam penerimaan informasi dari media massa. Harus diingat bahwa banyak stasion-stasion televisi dan media massa itu dimiliki oleh orang-orang politik yang punya \"special interest\" terhadap dunia politik di Indonesia. Oleh karena itu, berita2 dan opini2 yang diutarakan oleh para \"Pengamat\" ekonomi ataupun politikus di media massa tersebut adalah notabene opini dari orang2 yang mempunyai interest yang sepaham dengan sang pemilik media massa. Perlu diketahui bahwa media massa adalah salah satu cara yang paling efektif dalam membentuk suatu opini publik, apalagi di negara yang tingkat pendidikannya masih tergolong relatif masih rendah. Oleh karena itu, mari kita bersama2 menghimbau dan mengingatkan kepada orang2 di sekitar kita untuk lebih \"berhati-hati\" dalam menerima informasi yang diberitakan oleh media massa di Indonesia, apalagi yang jelas2 pemiliknya itu adalah orang2 yang jelas2 aktif di dunia perpolitikan Indonesia. Dengan hal2 sepele ini, kita bisa membantu untuk membangun Bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.
  15. From wimar on 23 December 2009 15:46:19 WIB
    Betul sekali, Pak Ridwan. Kita tidak punya media yang membela kepentingan umuma. Wartawan kita sudah semakin aktif dan bebas, akan tetapi kebebasan mereka dibatasi oleh agenda opemilik media. Tidak ada jalan mudah selain meningkatkan pengetahuan dan membentuk jaringan terpercaya untuk bertukar berita dan pandangan melalui media seperti website ini, blog dan social media.
  16. From sonny on 23 December 2009 16:05:43 WIB
    Pembenahan birokrasi Depkeu telah membangkitkan kembali motivasi seorang karyawan rendahan seperti saya untuk kembali optimis. Setelah belasan tahun bekerja tanpa tujuan kecuali menghemat gaji untuk anak istri, akhirnya dibawah kepemimpinan beliau saya memberanikan diri mengambil lompatan besar. Walaupun terlambat sekian tahun, tapi semangat kompetisi tetap membara (belajar dari sang inspirator - bu Sri).

    Mudah-mudahan saat saya kembali ke tanah air, nahkoda masih di tangan ibu kami... buat kami beliau adalah jaminan bahwa ide-ide segar kami dapat kami realisasikan sejalan dengan reformasi yang senantiasa berjalan. Semoga...
  17. From B.Simanjuntak on 23 December 2009 18:11:39 WIB
    Bung Wimar, memang kita tidak mempunyai media televisi berita yang mempunyai "independensi" dari para pemain politik di Indonesia. Tetapi nurani serta keberanian para journalis maupun individu di dalamnya harusnya mampu memberikan informasi yang seimbang. Beberapa waktu lalu ketika memberikan workshop untuk Online Journalism untuk beberapa media di Indonesia dan Australia, hampir seluruh wartawan mengeluh tentang masalah independensi.

    Sayangnya sebagian dari masyarakat kita masih terlalu mudah untuk mengkultuskan media yang mengambil sisi negatif dari sosok seseorang tanpa melihat secara komprehensif dan mencari perimbanganya. Kasus Century adalah salah satunya dimana korbannnya adalah para putra/i terbaik bangsa.
  18. From Sunu Gunarto on 23 December 2009 19:20:56 WIB
    Jeritan jujur dari seorang bawahan @sonny, terinpirasi dari \"boss\" untuk bangkit dari keterpurukan. Full semangat bung......

    Benar bang @Ridwan bahwa parpol yang besar & kuat finansialnya mempunyai jaringan media masa (TV, radio, koran) untuk menyuarakan kepentingannya, sehingga kalau kita mencermati berita / komentar di metrotv, tv one, ke arah mana mereka condong dalam kasus BC ini. Tidakkah perspektif bang WW pernah off air dari metrotv karena merugikan parpol tertentu saat itu?

    Saya setuju dengan bang @febs, bahwa kasus BC ini merupakan ujian awal (?) bagi ibu SMI untuk meningkatkan kwalitas kenegarawanannya (mudah-mudahan ibu lulus. Amin). Mungkin masih ada ujian-ujian lain yang lebih berat, walahualam.
    Yang perlu diwaspadai barangkali serangan itu tidak hanya ditujukan ke ibu SMI, mungkin juga ke orang-orang dekat beliau : suami, anak, orangtua, keponakan, saudara dan lainnya. Serangan itu tidak harus hujatan, cercaan,namun bisa berupa pemberian fasilitas/kemudahan, materi, jabatan dan lain-lain yang bisa dijadikan alat untuk menyerang balik. Waspadalah !

    (http:formulabisnis.com/?id=sunu_g)
  19. From Dhonny on 23 December 2009 19:43:51 WIB
    ..saya baca di salah satu artikel mengenai kesedihan Ibu SM karena merasa sendirian menghadapi masalah saat ini, sementara disisi lain harus menunjukkan ketegaran sebagai seorang LEADER di hadapan anak bauahnya...mudah2an beliau membaca posting2 komentar yg positif2 ini sehingga tidak merasa sendiri menghadapi "badai" yg ada....
  20. From Chandra on 23 December 2009 20:30:19 WIB
    Justru karena SMI dan Boediono itu bersih, jujur,cakap dan berintegritas, maka mereka harus dihabisi oleh politisi yang hanya bisa bernafas, hidup dan berkuasa apabila reformasi gagal. Politisi itu ada dalam dunia bisnis, BPK, di DPR, di mainstream media pokonya ada dimana2. Bung WW jangan coba2 menggugah nurani mereka, sebab seperti kata mendiang Nurcholis Madjid, pelita hati mereka telah padam.
  21. From jaka on 24 December 2009 07:11:27 WIB
    He ha ha ha ha ha ha ha.....Pa Wim, sayah ingin memperjelas mengenai kontrasnya integritas dan intelijensi anggota pansus dengan Pak Boed .

    Kata lain dari kontras itu adalah anggota pansus kelihatan sekali N G A W U R dan B O D O H dibandingkan penampilan Wakil Presiden kita yg Profesor Ekonomi itu...ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha...Terbayang oleh sayah, anggota2 pansus yg tidak ketauan juntrungan sekolahnya ,menginterogasi sang profesor ekonomi...ha ha ha ha ha ha ha ha ha...

    Sayah jadi geli ketika membaca tulisan Pa Wim ini...maklum sayah tidak bisa nonton acara interogasi konyol semacam itu di tanah air..sayang sekali, ya..

    Aya aya wae...ditunggu joke2 kasus century yg berikutnya lagi,Pa Wim....ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
  22. From wimar on 24 December 2009 07:32:49 WIB
    pak jaka, ini bukan topic untuk joking ya... tapi mau contoh beda century dengan itb:
    waktu saya mahasiswa elektro, karena saya banyak tidak mengerti dosen, saya jadi drop out dan sekolah di tempat lain.
    kalau di pansus, dosennya dihimbau menonaktifkan diri
    :)
  23. From budigunawan on 24 December 2009 07:44:45 WIB
    Apa yg telah dilakukan oleh Boediono & SMI sudah tepat untuk bangsa ini.Sebagai pengusaha kondisi akhir 2008 adalah`sangat mengkhawatirkan.Tidak dapat kami bayangkan apa yg terjadi jika
    keputusan penyelamatan BC tdk dilakukan??.Kalau terjadi sesuatu siapa lagi yah yang di salahkan??.
    Maju terus ibu SMI dan pak Boediono doa kami sekeluarga dan anak bangsa ini menyertai anda berdua.
  24. From Lehonahu Pniel on 24 December 2009 12:01:38 WIB
    Hutang pajak group Bakrie sebesar > 2 trilyun plus denda 4X lipatnya, total > 10 trilyun masih mengendap. SMI sebenarnya punya pilihan mundur kalau tidak bisa tegas kepada orang kuat.
  25. From jaka on 24 December 2009 22:20:30 WIB
    Pa Wim @ : huuaaha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha....memang bener Pa Wim ,"Mahasiswa" pansus ini rupa2nya banyak tidak mengerti banyak ilmu ekonomi ,tapi mereka lebih banyak sok tahu nya ...mahasiswa pansus ini hanya mengerti main kartu domino ,tapi tidak mengerti efek domino ha ha ha ha ha ha ha ha....

    Sama seperti wartawan amatiran,sebatas tahu tapi tidak mengerti . Beritanya pun jadilah berita sok tahu..ha ha ha ha ha ha ha ha ha...
  26. From tugimin on 25 December 2009 12:47:38 WIB
    Ada yg tahu informasi ttg "gurita cikeas" ngga ???


    salam
  27. From hok on 27 December 2009 21:58:16 WIB
    Jaka@: Tampaknya anggota2 pansus BC yg ingin menjatuhkan Sri M /Boediono dan target terakhir SBY itu, lebih mengerti pentingnya aliran dana konglomerat hitam yg masuk ke kantong mereka daripada kepentingan bangsa dan negara Indonesia Raya.

    Pertanyaannya, Siapakah yg lebih jahat , Konglomerat hitam pemodal kisruh Bank Century ataukah Robert Tantular ?
  28. From Mundhori on 28 December 2009 09:50:27 WIB
    Dari gonjang ganjing BC yg kini belum selesai, yang paling menderita kerugian adalah rakyat. Sementara para elite sedang bertikai yg menghabiskan enersi, akibatnya kepentingan rakyat terabaikan. Bukti nyata saat sekarang rakyat tetap terseok seok mencari kehidupan tanpa ada yg membantu, memikirkan, karena waktunya habis untuk menyelesaikan masalah BC. Fokus DPR yg atas nama rakyat katanya akan membuka persolan BC secara tuntas demi untuk rakyat, rasanya bohong belaka. Dari langkah langkahnya, terlihat benar bahwa bukan kepentingan rakyat yg menjadi focus pekerjaannnya, tetapi kepentingan dirinya, partainya dan kelompoknya. Pemerintah sangat terganggu dalam menyelesaikan pekerjaannya karena waktunya untuk menyelesaikan masalah BC. Barangkali itulah bahaya yg lebih besar yg akan terjadi. Sadralah wahai semua. Rakyat menunggu janjimu atas datangnya kesejahetraan.
  29. From Yusuf Suryadin on 29 December 2009 09:36:48 WIB
    dalam suatu acara di BPPK (wisuda STAN), kalau tidak salah.. Sri Mulyani mengungkapkan satu hal yang menarik
    \"kalau anda tidak siap menerima kritik, anda berarti sudah terserang \"penyakit yang sangat sangat serius\"...
    dengan demikian, beliau menganggap apa yang sedang terjadi adalah kritik, dan beliau menerimanya dengan lapang dada...

    apa yang sedang dialami dan dihadapi sri mulyani dan boediono, terlepas dari profesionalisme dan keandalan mereka dalam melaksanakan tugas. adalah ujian bagi mereka, toh mereka bukan dewa, yang memiliki kelemahan..

    media diharapkan tidak menggiring publik ke arah yang berat sebelah. seyogyanya media netral dan mewartakan, bukan menggiring opini.

    obyektifitas media sedang dipertaruhkan saat ini

    sukses selalu untuk semua!
  30. From agus saifudin on 30 December 2009 15:43:36 WIB
    kemarin dikirimi email dari teman: "catatan dahlan iskan, hati kecil saya untuk sri mulyani", sayangnya email tsb sudah di "embel embeli" coment temen saya :"luar biasa tulisan dahlan iskan ini, pantas saja, tidak salah dia jadi tim sukses waktu itu yaaa...
    Walah, memang luar biasa membikin ruwet "mereka" semua itu, pdhl (sama pak) temen saya itu dulu begitu kagumnya sama SMI dan begitu terbaliknya paradigma dia sekarang!!!
    p.wimar, apa boleh halaman ini saya copy dan sebarkan ke temen2 yang di sini??? mudah2an bpk tidak menuduh pembajakan.... "it's justified in requesting article hopely to save our perception"
    salam....
  31. From Pemerhati on 04 January 2010 15:29:02 WIB
    Perlu diakui bahwa banyak kalangan yang “bukan fans beratnya” duet Sri Mulyani & Boediono. Mulai dari kalangan birokrat, businessmen sampai ahli-ahi ekonomi yang berseberangan dengan mazhab ekonomi yang dianut mereka. Bahkan dari partai koalisipun banyak yang merasa “tidak cocok” dengan mereka, apalagi partai oposisi. Maka logis banyak yang senang jika mereka jatuh, sehingga ada kesan mereka bermai-ramai berkontribusi (bisa berupa pernyataan) yang memojokkan Menkeu & Wapres.
    Ada hal yang lebih salah kaprah lagi, dan bahayanya nampaknya telah menjadi opini publik, bahwa berhasil atau tidaknya Pansus ini diukur dari berhasil atau tidaknya mereka menyatakan bahwa Sri Mulyani dan Boediono bersalah dan menururunkannya.

    full comment at http://pemerhati.blog.com/2010/01/04/kasus-bank-century-the-battle-continues/
  32. From Benediktus Yohan on 07 January 2010 16:30:13 WIB
    Pak WW yang saya kagumi, terima kasih atas peringatan akan adanya bahaya yang lebih besar. Saya dari dulu memilih mengikuti perkembangan kasus Century dari Perspektif Online, karena situs/media inilah yang saya anggap masih jujur dan menghargai karakter.
    Namun, upaya Pak WW dan kawan-kawan dalam memperjuangkan kebenaran dan membuka pikiran masyarakat masih laksana 5 orang Pandawa melawan 100 orang Kurawa. Kami tunggu gebrakan-gebrakan Pak WW dalam membongkar siasat para Dorna. Saya yakin Pak WW dan kawan-kawan dapat memenangkan pertarungan melawan media-media besar dan pemberi dana di belakangnya dalam membuka wawasan masyarakat. Sama seperti Pandawa yang akhirnya memenangkan Baratayudha karena mereka memperjuangkan yang benar.
  33. From dmitri on 09 January 2010 19:12:58 WIB
    Re Jaka\'s comment: yah, kurang lebih begitulah kaum inteligensia (beda sama agen intel, ya. langit dan bumi) Rusia dulu di adili sama komite ad-hoc bergaya meja hijau ala bolshevik. bukan ideologinya yang sama2 komunis tapi perilakunya. kalau dibiarin ya tambah absurd nanti.

    as for SMI, momen untuk mundur, apa lagi kalau setelah proses hukum beliau terbukti bersih. SMI punya kans besar jadi pemimpin, dan dia mampu. main angka seharusnya bukan jadi panggilan beliau lagi, dan sudah waktunya membuka jalan bagi financier muda lainnya. ada panggilan lebih serius nih. SMI punya ruang untuk memulai dari grassroot, bukannya jadi calon hanya kalau sudah ada bukti banyak yang mau dukung kayak kebanyakan calon (maupun presiden) yang sok pemalu dan sok enggak ambisi. SBY dikasih selamat aja, nanti dia keGRan nagih2 utang lagi sama SMI. \"eh, Ibu, kebetulan sekali kita papasan. Ibu kan ingat jasa saya sebagai presiden ideal dulu, kan, Bu...\"
  34. From Totok on 14 January 2010 11:29:56 WIB
    apakah inisial politikus muda ini 'BS' ???
    Pak WW, mohon ijin men-share tulisan ini....
  35. From Chika Putri on 15 January 2010 19:04:06 WIB
    Bahaya yang lebih besar adalah jika Penguasa mulai mahir dan lihai melegitimasi / melegalisasi tindakan korupsi mereka dengan membuat segala bentuk peraturan dan prosedur yang mewadahi kegiatan korupsi mereka tersebut (apapun istilah mereka yang terkesan rumit2 itu, padahal sih tidak terlalu rumit untuk dipahami).

    Salam,
    http://astagacom-lifestyle-on-the-net.blogspot.com/
  36. From Orang Biasa on 28 January 2010 00:29:29 WIB
    Kenyataannya ada oknum dari pansus Century berupaya melengserkan SBY-Boediono dan menghancurkan kabinet. Ini menunjukan mental anggota DPR yang sudah rusak dan berjiwa kerdil.

    SBY-Boediono-Sri Mulyani yang jujur bekerja keras untuk negara malah dicaci maki. Memangnya anggota DPR sudah berbuat apa untuk negara??? Semakin lama tingkah laku pansus semakin kurang ajar dan tidak menghargai profesionalisme. Presiden juga mau dipanggil pansus, apa nggak super lebay itu? Bener kata Gus Dur kalau DPR seperti playgroup saja...

« Home