Articles

Bank-bank setuju bailout

Perspektif Online
25 December 2009

 

Jakarta - Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) berpendapat keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) membuat kekhawatiran industri perbankan hilang karena menyelamatkan Bank Century.

 "Keputusan KSSK membuat kekhawatiran bank-bank hilang, karena menyelamatkan seluruh sistem keuangan dengan menyelamatkan sebuah Bank," ujar Ketua Perbanas Sigit Pramono di Gedung Departemen Keuangan, Jakarta, Rabu (23/12/2009).

 Sigit mengatakan pendapatnya bukan hanya berandai-andai atau sebuah omong kosong belaka. "Terbukti hingga kini sistem keuangan kita masih kuat. Kenyataan kemarin keputusan diambil dan selamatkan sangat tepat dan kita tidak bisa mundur dari pilihan-pilihan tersebut," jelasnya.

Seharusnya, menurut Sigit, persoalan akan muncul jika menyelamatkan Bank Century akan membuat sistem keuangan hancur baru. "Hal ini bukan untuk membela 1 sampai 2 pejabat, tetapi lebih kepada mempertahankan stabilitas sistem keuangan," katanya.

Negara lain menurut Sigit, seperti AS dimana puluhan bank ditutup. "Kita cuma satu, kenapa tidak bersyukur," tegasnya.

Sigit berpendapat saat ini yang harus dikhawatirkan adalah jika nantinya terjadi krisis, Indonesia belum punya undang-undang sebagai protokol krisis.

"Kenapa tidak fokuskan diri kita untuk mengurus hal itu. Apa nanti jika ada krisis lagi kita akan terus berulang-ulang bentuk Pansus. Undang-undang yang harus disusun ini nantinya akan bisa memperjelas definisi sistemik sehingga tidak ada dispute ke depannya," papar Sigit.

Dalam pertemuan dengan Menteri Keuangan, Sigit menjelaskan kekhawatiran yang terjadi di saat bank Century gagal kliring yang ditambah dengan adanya krisis global.

 Kekhawatiran tersebut yakni :

       1. Fenomena perpindahan dana dari sekelompok bank ke kelompok bank lain yang dipersepsikan lebih aman. Atau flight to quality .

       2. Ada persoalan likuiditas sehingga pinjaman antar bank macet. Bank-bank tersebut tidak yakin terhadap kondisi mitra-mitranya. Bank yang kemarin bagus bisa berubah tiba-tiba, krisis likuiditas merupakan momok yang paling ditakuti bankir karena dampaknya bisa mematikan dan bikin bank kolaps.

       3. Negara tetangga terapkan blanket guarantee , sedangkan kita hanya Rp 2 miliar, maka jika ada resiko bank ditutup dan dana hanya diganti Rp 2 miliar maka apa yang dilakukan nasabah di bank lain? Karena nasabah dari dana di atas Rp 2 miliar lebih dari 60 persen total Dana Pihak Ketiga.(dru/dnl)

Print article only

6 Comments:

  1. From Sunu Gunarto on 26 December 2009 09:31:39 WIB
    Selama ini kebanyakan kita mendapat info kasus BC dari media masa yang dipenuhi pendapat dari pengamat ekonomi, pengamat politik, orang awam yang \"mengotak-atik\"/menganalisa bailout BC sesudah kejadian. Dengan semakin banyak kesaksian para pelaku bisnis (bankir, pengusaha, yang notabene bukan pengamat) akan memberi info berimbang kepada khalayak awam yang tidak paham : teknis perbank-an, UU keuangan BI dan manajemen krisis keuangan. Bravo.....terimakasih pencerahannya.

    (http://formulabisnis.com/?id=sunu_g)
  2. From Ludjana on 27 December 2009 06:04:13 WIB
    Bagus sekali
    Tetapi kenapa baru sekarang ?
    Apa perlu dirundingkan dulu dengan semua anggota Perbanas ?
    Barangkali karena ingin teliti betul, agar jangan setengah tengah.

    Tapi barangkali bagusan baru sekarang, jadi Pansusnya terpaksa cari alasan lain untuk mengacau
  3. From ottonasri on 28 December 2009 14:29:30 WIB
    Terimkasih harusnya lebih banyak lagi Pihak yang benar benar berhubungan langsung dengan keputusan KSSK tersebut angkat bicara karena kalau mau menolak merekalah ( PERBANAS ) yang harus menolaknya menolak karena yang dipakai adalah Uang premi dari Para Bank yang masuk dalam program LPS.
    Setelah bertemu dengan Boediono dan anggota pansus menjadi bingung maka sekarang mereka mempermasalahkan hadirnya MArsilam Simanjuntak dalam brain storming KSSK ( Bukan Rapat KSSK), rapat KSSK sendiri tidak dihadiri oleh marsilam karena rapatnya tertutup.

    Sungguh memalukan Kolaborasi Pansus, TV One dan Metro TV didalam pemeberitaan ini, dan sikap mereka dalam mewawancara penulis buku GURITA CIKEAS yang walaupun Reporter itu tau bahwa isinya sampah yang nggak berguna tetapai tetap dipakai yang penting Bisa memfitnah.
  4. From Arie on 29 December 2009 06:15:04 WIB
    hehe, ya tentu saja setuju, masa mau diselamatin nolak.. ada2 saja.
  5. From Pemerhati on 04 January 2010 15:09:34 WIB
    Banyak kalangan praktisi perbankan (bukan pengamat, bukan politikus) menilai bahwa tindakan pemerintah untuk mem- bail-out Bank Century "tidak salah", terbukti dari kondisi ekonomi yang relatif baik sejauh ini dalam melewati krisis ekonomi yang selama ini terjadi di seantero dunia.
    Nah apakah ada keputusan ekonomi yang "lebih baik" dari itu, seperti misalnya tidak membail-out Bank Century, tetap tidak bisa dibuktikan, tetap hanya sebatas argumen saja meski bisa sampai berbusa-busa.

    http://pemerhati.blog.com/
  6. From Chika Putri on 15 January 2010 18:56:54 WIB
    Masalah utamanya bukan pada saat keputusan \"Bail out\" atau \"Tidak Bail Out\".

    Masalah utamanya adalah Bank Century (dan cadangan bank-bank tidak sehat lainnya) memang sengaja diskenariokan untuk kemudian di-Bail-Out-kan sejak rancangan atau proses merger/akuisisi semula (Danpac, Piko, CIC, dsb).

    Proses keputusan dan eksekusi menunggu saat-saat yang tepat, yakni ketika Presiden sedang berada di luar negri untuk waktu yang cukup lama. Keberadaan Wapres pada saat itu mereka anggap dapat diabaikan.

    Lalu yang menjadi pertanyaan, siapa sajakah yang paling diuntungkan dari skenario Bail-Out ini? Untuk keperluan apa sajakah dana sebesar 6,7T tersebut? Terutama jika dikaitkan pada selang-waktu keputusan dan eksekusi Bail-out tersebut.


    Salam,
    http://astagacom-lifestyle-on-the-net.blogspot.com/

« Home