Articles

Faisal Basri: Mengapa Saya Memilih Bersikap Lugas dalam Kasus Century?

kompasiana
31 January 2010

 

Mengapa Saya Memilih Bersikap Lugas dalam Kasus Century?

Seorang yang tak mencantumkan identitas mengirim pesan singkat (SMS) hari minggu kemarin. Isinya sebagai berikut:

Bpk Faisal Basri Yth. Saya mengamati bpk dan menujukkan tdkindependen dalam menanggapi terkait dgn skandal Bank Century? Sgt disayangkan, mengapa bpk hrs bersikap spt itu! Ingat bhw bpk didengar dan dihargai masyarat selama ini karena bpk pengamat yg tajam, kritis dan memiliki integritas strong> yg kuat. Apa sih yg diberikan Budiono dan Sri Mulyani pd anda sampai mau “bunuh diri”?” (catatan: isi sms saya cantumkan utuh, hanya space yang saya ubah supaya tampilannya lebih enak dibaca, dan istilah yang dicetak tebal.) 

Dua hari sebelumnya saya mengisi acara di Surabaya. Panitia penyelenggara bercerita pada saya bahwa ada seorang anggota yang selalu hadir kalau saya sebagai pembicaranya mengatakan kali ini ia tak mau hadir karena Faisal Basri sudah tidak kritis lag i. Alasan peserta tersebut adalah karena saya mendukung pemerintah dalam bailout Bank Century.

Sewaktu diundang Pansus Century pada 21 Januari lalu, seorang anggota Pansus dari Partai Golkar, Harry Azhar Aziz, mengatakan: “Sikap kritis Faisal meredup.” Harry juga menyindir sikap inkonsistensi Faisal: “Setahu saya, Faisal Basri dikenal sangatlah kritis. Saya masih ingat, beliau pernah ungkapkan adanya potensi kerugian negara di Dirjen Pajak sampai Rp 7 triliun. Namun sekarang, kok kelihatannya berubah,’’ kata Harry Azhar Aziz, dalam sidang Pansus Centurygate, malam ini (Kamis, 21/1). Dikutip dari Rakyat Merdeka online.

Ada empat kata kunci dari tiga nukilan di atas: independen, integritas, kritis, dan inkonsisten. Kesemuanya mengandung penilaian bahwa saya tidak lagi kritis, tidak konsisten, dan tidak independen. Saya telah berubah, oleh karena itu diragukan integritasnya.

Tiga cuplikan yang saya angkat bisa mewakili banyak sekali penilaian terhadap saya belakangan ini, terutama setelah kasus Century merebak. Reaksi teman dan kerabat macam-macam. Ada yang men-delete saya sebagai teman di Facebook. Ada yang mencaci-maki lewat sms, email, dan milis. Ada pula yang “sebel” karena “sayang” sebagai cerminan dari pepatah: sahabat sejati adalah yang selalu mengingatkan, bukan yang kerap memuji.

Saya tak ingin membela diri. Apalagi mengklaim sinyalemen-sinyalemen di atas ngawur. Tidak.

***

Terus terang, saya sempat terombang-ambing menyikapi kasus Century ini. Cukup lama saya tak menyampaikan pandangan atau opini berkaitan dengan Century dan tak mau diwawancarai oleh media cetak maupun elektronik tentang Century. Saya tak memiliki cukup data dan informasi untuk bersikap dan menyampaikan pandangan. Apalagi mengingat isu Century kala itu sangat simpang siur, banyak dibumbui oleh fantasi, dan sarat muatan politis.

Dengan berjalannya waktu, saya memperoleh banyak sekali data dan informasi. Bermula dari seorang sahabat yang mengirimkan via email resume hasil audit BPK dan kronologis Century. Setelah itu, saya kebanjiran data dan informasi. Beberapa hari kemudian saya memperoleh hard copy hasil audit lengkap BPK yang sangat tebal (lebih tebal dari kitab suci).

Bahan yang juga sangat berharga adalah rekaman suara rapat KSSK tanggal 20-21 November 2008. Rekaman yang berdurasi lebih dari 4 jam saya santap hingga menjelang subuh.

Sekarang saya memiliki cukup bahan, baik dalam bentuk hard copies maupun soft copies. Tak terkecuali bahan bacaan dari pemberitaan media massa sejak Oktober 2008 hingga dewasa ini. Setiap hari saya menerimabriefing media yang sangat lengkap dari seorang sahabat yang baik hati. Bahkan saya diperlihatkan pemetaan media dan nara sumbernya.

Mendalami kasus Century sungguh sangat menyita waktu. Sedangkan menyikapi kasus ini melibatkan perasaan.

***

Perbedaan pandangan adalah hal yang lumrah. Perdebatan sengit adalah bunga demokrasi, demi menghasilkan “kebenaran” walau mungkin tak pernah mencapai kebenaran 100 persen. 

Dalam menyaring data dan informasi, saya menemukan banyak kebohongan atau setidaknya inkonsistensi pada sejumlah opinion leaders. Beberapa Postingan di Kompasiana membuktikan hal itu. Dari hari ke hari senarai inkonsistensi kian panjang, bahkan ada blog khusus untuk itu.

Belakangan, perkembangan kian brutal dan fulgar, tak lagi mengindahkan etika dan moral.

Pengalaman terakhir yang saya alami sendiri ialah ketika Radio Trijaya menggelar acara mingguan “Polemik” bertajuk “Evaluasi 100 Hari Pemerintahan SBY”. Acara ini menghadirkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan tiga ekonom, termasuk saya.

Tak sampai setengah jam sejak kehadiran Menteri Keuangan, datang rombongan demonstran yang berorasi di depan lokasi acara, Warung Daun di depan Taman Ismail Marzuki. Kebisingannya menerobos pintu dan jendela gedung. Hampir semua wartawan yang meliput acara berhamburan ke luar. Tinggal kami para pembicara, moderator, dan segelintir lainnya yang tetap di dalam.

Para demonstran meneriakkan: “Sri Mulyani maling, Sri Mulyani maling ….” berulang kali, bersahut-sahutan.

Bukan acara tersebut dan laporan pandangan mata demonstasi yang hendak saya ceritakan. Melainkan, SMS yang beredar setelah itu, yang mungkin sebagian Kompasianer pun menerimanya.

Ini isi SMS-nya:

“Sangat disesalkan sikap Menkeu Sri Mulyani mengacungkan jari tengah dan perkataan FUCK kpd para mahasiswa”,  demikian kata Ali Muchtar Ngabalin. (Sabtu, 30/1/10, jam 10.00 WIB Warung Daun Cikini. Sumber: FK. Ampera)

Sedemikian keji isi SMS itu. Produser acara, Bung Eddy Koko, serta merta membantah isi SMS itu. Ini SMS lengkap Bung Eddy:

“SAYA EDDY KOKO, BERADA DI SEBELAH SRI MULYANI MENGANTAR KE MOBIL SEBAGAI PENGUNDANG/PRODUSER ACARA. JADI SAYA MELIHAT DIA MELAMBAI KEPADA PENDEMO DAN TERSENYUM. DEMI ALLAH SAYA TIDAK MENDENGAR SRI MULYANI MENGUCAPKAN KATA KATA. JUGA SAYA TIDAK MELIHAT SRIMULYANI MENGACUNGKAN JARI TENGAH SEPERTI SMS YANG BEREDAR INI:  Breaking News: SRI MULYANI ACUNG JARI TENGAH KPD MAHASISWA. “Sangat disesalkan sikap Menkeu Sri Mulyani mengacungkan jari tengah dan perkataan FUCK kpd para mahasiswa”,  demikian kata Ali Muchtar Ngabalin. (Sabtu, 30/1/10, jam 10.00 WIB Warung Daun Cikini. Sumber: FK. Ampera).  Cc: Bung Ngabalin”

Sikap dan pandangan saya mungkin salah. Namun, sampai sekarang, sikap dan pandangan saya bertolak dari keyakinan dan kesadaran penuh yang bersumber dari data dan informasi yang saya miliki. Sikap dan pandangan saya bisa saja berubah kalau ada data dan informasi yang membuat saya sampai pada kesimpulan yang berbeda.

Insya Allah, kebenaran pada akhirnya akan datang juga. Tentu yang bersalah, yang paling bertanggung jawab atas pembiaran Bank Century, dengan beragam tipu daya, harus ditindak, diadili, dan dihukum.

Semoga kasus Century menjari pembelajaran sangat berharga dalam kehidupan demokrasi kita, terlebih bagi diri saya sendiri.

 

http://umum.kompasiana.com/2010/02/01/mengapa-saya-memilih-bersikap-dalam-kasus-century/

 

 

Print article only

48 Comments:

  1. From Indra hukama on 01 February 2010 07:56:27 WIB
    Sungguh pembunuhan karakter yang keji, untuk bu SMI dan yang lainnya.
  2. From Ade WS on 01 February 2010 08:23:17 WIB
    Aq cuma ibu2 biasa, tapi sepertinya aq gak percaya lagi kalo masih ada tokoh yang punya integritas yang bisa dipercaya pak, sepertinya siapapun yang sudah di tampuk kepemimpinan di negeri ini akhirnya tergoda imannya. Mungkin blon giliran pak Faisal aja. Blon lagi dari segi perasaan, persahabatan... sikap seseorang berubah tidak sekritis dulu lagi.
    Pak, dari pemilihan wapres aja SBY ini aneh, kok ya memilih pak Budi yang kelihatan tidak sebanding dengan dirinya (kalo SBY mangkat kan Budiono yg jadi presiden? pandanganku orangnya gak memenuhi kualitas jadi presiden, ini hanya pandangan ibu2 yg sederhana saja)
    sikap qu, jadi bertanya2 ada apa di balik pemilihan wapresnya....
    So aq tidak memilih dalam pilpres karena kecewa sikap SBY itu.
    dalam 100 hari kepemimpinannya sudah terlihat gejolak seperti ini, selayaknya berbesar hati saja seperti Gus Dur, keluar dari istana dan beri kesempatan kepada orang yang tidak membuat ragu, rakyat..!!
  3. From wimar on 01 February 2010 08:57:18 WIB
    Ibu Ade yang baik, saya tahu pasti maksud Ibu baik, jadi mohon tanggapan saya juag diterima seadanya. Kalau Ibu punya pendapat mengenai tokoh pemerintahan dan politik, itu pasti diperoleh dari menonton TV dan membaca koran. Coba pikir sebentar, siapa yang memiliki media itu. Pasti bukan IbU Sri Mulyan dan Boediono. SMI dan Boediono itu dihormato di kalangan yang bekerja dalam ekonomi, dan disegani di luar negeri, karena itu kita bisa ke pasar tiap hari, bisa simpan uang di bank. Kalau ibu ingin mendapat kesimpulan yang lebih tepat, carilah referensi yang dipercaya tanpa praduga. Kalau percaya Faisal Basri, tidak usah dengan mudah mengadili bahwa dia nantinya akan nyeleweng. Saya kenal Ibu Sri dan Faisal sejak tahun 1996, dan tidak pernah nyeleweng. Kalau Ibu kenal keluarga Gus Dur, tanyakan bagaimana dua orang itu. Kalau tidak, Ibu terpaksa mendengar dari orang lain. Apakah Ibu percaya pada orang-orang itu?
    Gus diberhentikan oleh orang semacam itu politisi yang ingin berkuasa. Ternyata beliau tidak bersalah sama sekali, dan sekarang semua orang memuja dan minta maaf. Jangan sampai terulang lagi ya Ibu yang baik. Kalau dikatakan 100 hari pertama SBY bergejolak, lalu siapa yang membuat gejolak itu Bu?
  4. From Ibnu on 01 February 2010 09:14:49 WIB
    Saya prihatin dengan media yang disetir oleh kepentingan pemiliknya. Saya lebih prihatin lagi masyarakat umum terlanjur menganggap media (televisi) sebagai penyampai fakta dan kebenaran (padahal lebih sering bias). Untunglah ada internet di mana informasi sangat beragam dan saya bisa memeproleh perspektif yg berbeda dari Bang WW, GM, maupun Faisal Basri.

    Keep rockin'!
  5. From sen on 01 February 2010 09:27:38 WIB
    Saya sih pribadi tidak kenal dengan Sri Mulyani, Boediono, Faisal, SBY, Ical, Gusdur atau siapapun yang menjadi tokoh sekarang.

    Yang saya tahu adalah belum ada bukti jelas tapi sudah banyak orang yang membuat opini. Audit BPK juga tidak jelas.
    Bukan seperti ada rekaman video atau tertangkap basah serah terima uang atau barang apapun.

    Aneh. Banyak orang yang yakin benar siapa yang bersalah siapa yang tidak. Men are not rational creatures but rationalising ones.
  6. From wimar on 01 February 2010 09:46:06 WIB
    komentar @sen sangat tepat. tidak perlu kenal orang publik kalau puinya kecerdasan dan kebersihan hati. selebihnya bisa dipelajari dari media selama media itu seimbang. kalau tidak, kecerdasan itu bisa dipakai untuk berpikir rational dan kebersihan hati dipakai untuk tidak merasionalisasi emosi. Orang emosi melihat SMI dan Boed Dokjtor dari luar negeri dan menjadi pejabat, jadi pejabat pasti korup. Itu rasionalisasi yang dipakai untuk mengumpulkan kelompok pengeroyok
  7. From Indra Tjahyana on 01 February 2010 09:58:19 WIB
    Bung Wimar,
    saya senang sekali melihat tulisan2 bung Wimar disini
    terus terang saya sepihak dengan anda dalam kasus SMI, B & Bank Century dan merasa sangat heran kenapa media2 besar yg selama ini jadi sumber berita utama saya isi berita2nya sangat tidak adil dan memojokan. Menyedihkan sekali melihat keadaan di negri ini dimana tokoh yg lurus dan hebat dibidangnya dianiaya oleh media dan politik. Semoga lebih banyak lagi orang2 yg bisa mengetahui hal yg sebenarnya terjadi.
  8. From Chiphie on 01 February 2010 10:35:07 WIB
    YAng saya mengerti dan pahami dari semua ini, ibu Sri Mulyani adalah orang pintar yang bahkan sudah pernah menjadi Direktur di IMF.
    Secara awam, lihat saja apakah beliau bermental seperti tersebut di atas ? SAya yakin beliau menjalankan tugas beliau sebaik-baiknya dan seprogesional mungkin. Beliau adalah pembantu presiden, jika kita merujuk pada kata \"pembantu\" apakah arti sebenarnya dari \"pembantu\" tersebut ?
    Bukan bermaksud kasar, tapi saya sudah capek lihat semua politik di negara ini, permakzulan dll..apakah yang bicara tentang permakzulan tersebut sudah bertanya kepada diri sendiri, sudah lebih bersihkah diri saya ? DAn apakah mereka para anggota pansus tersebut Dewa ?

    Anggota Dewan yang terhormat bertanya seperti preman pasar bertanya kepada pencuri di pasar, dengan gaya bahasa yang kurang santun dan setengah berteriak. Sebelum mengetahui seseorang bersalah atau tidak, bukannkah kita harus memegang azaz praduga tak bersalah ?

    Sebaiknya TV nasional tidak lagi menyiarkan acara pansus2 tersebut secara langsung di televisi, karena seprti ajang para anggota Dewan itu membuat mereka terlihat pintar padahal sangat memuakkan



  9. From Riri on 01 February 2010 10:38:05 WIB
    Saya masih percaya dengan integritas orang-orang seperti bang Faisal dan pak Wimar. Anda dan pak Wimar selalu memberikan perspektif yang berbeda dan menambah pemahaman kepada banyak orang. Saya sendiri banyak belajar dari orang-orang seperti bang Faisal dan pak Wimar. Sebagai orang yang pernah berkecimpung di media, saya kecewa dengan tampilan media terutama televisi akhir-akhir ini. Para pekerja media televisi seringkali menyampaikan informasi mengenai ibu Sri Mulyani dan pak Boediono secara sepihak. Seharusnya media bisa bersikap cover both side dalam menyajikan berita, bukan sekedar mengejar rating dan share semata. Tapi saya mengerti mengapa para pekerja media bersikap demikian, bisa jadi karena permintaan pemilik modal sehingga menampilkan informasi sepihak seperti itu. berkaitan dgn ibu Sri Mulyani dan pak Boediono, saya masih percaya kebenaran bahwa keduanya bersih akan segera muncul.
  10. From Aan on 01 February 2010 10:43:37 WIB
    Menyedihkan,...banyak orang yang melakukan tindakan dan melemparkan fitnah dilakukan secara sengaja dengan menyetir opini publik. Tindakan yang tidak bermoral dan nista, walaupun mengaku sebagai intelektual dan terhormat. Kami orang awam memiliki nurani yang bisa merasakan semua itu. Terus berjuang SMI, kalahkan semua monster rakus itu!!!
  11. From didiet on 01 February 2010 10:58:57 WIB
    @Indra; oleh karenanya bung Indra, kita sebagai orang biasa harus membantu masayarakat untuk melihat masalah secara jernih, dengan menyebarkan informasi yang jernih pula. melawan media hitam yang punya kepentingan politik hitam, sebenarnya bisa kita lakukan melalui media2 seperti ini, dimana dikskurusus di tengah masyarakat dapat terjadi tanpa ada intervensi atau pengaruh giringan media tertentu.

  12. From Diana Rosianti on 01 February 2010 11:16:02 WIB
    Semakin hari semakin menyedihkan ulah para politisi ini, hanya demi sesuatu dan karena sesuatu, mereka menghalalkan segala cara. Bahkan dengan membuat opini buruk tanpa fakta. Penayangan Kasus Century sudah seperti tayangan infotaintment, yang penting menarik, yang penting beda...menyedihkan.
    Bu Anim Pak Boediono....Allah tidak tidur, mungkin meyakitkan berbagai pembunuhan karakter itu, tp jika bersabar menghadapinya dan tetap konsisten dengan plan dan kerja untuk bangsa ini, Insya Allah kebaikan yang akan didapat pada akhirnya. Emas gak bisa tertukar dengan loyang, sekeras apapun loyang berupaya menyepuh dan berganti warna...
  13. From Wildan on 01 February 2010 12:46:13 WIB
    Kang WW, saya sebenarnya mau rada rada istirahat perang maya dalam ghazwull fikri maya seperti ini walaupun tangan terakhir agak gatal untuk mengomentari topik yang sama.

    Dari kasus Century ini kayak kayaknya kita ini secara tidak sadar sudah diombang ambing oleh sebuah \'fantasi\' issue yang secara frontal diberondongkan pada kita dengan argumen argumen yang memang tidak mungkin masuk dalam nalar yang benar.

    Coba kita telaah pada awal pembentukan Pansus: dasar pemikirannya sederahana saja bahwa ada sebuah \"kebijakan\' pada bulan nopember 2008 kemudian dari 2008 - 2009 akhir diendapkan dulu karena takut salah sasaran kalau peluru \'fana\' ini ditembakan saat Pemilu.....

    Kemudian dari \'buah kebijakan\' itu ditembakanlah secara frontal issue penyalah gunaan peruntukannya, meskipun sang penembak issue awal ini sudah tahu kalau sang penjahat pembobolnya sudah masuk dalamn tahap persidangan.

    Ironinya, tembakan tembakan \'fana\' issue itu diberondongnya diawali dengan pembentukan tim 9 yang berisi \'anak-anak singkong\' politikus model kampus yang punya peruntungan bagus bisa \'ngendon\' masuk senayan serta politikus politkus muda yang kurang tempat di rubrik \'infotainment\' kalah sama Miing dan Eko Patrio.

    Coba lihat itu dikeseharian sidang pansus, bagaimana mereka membunyikan celotehnya macam sidang pemilihan ketua OSIS yang bicara tidak nyambung antara gerak bibir dengan gerak mimik muka dan mata dan ironinya pernah seorang anggota pansus ketika diminta mengulang pertanyaannya lagi oleh salah seorang saksi dengan enteng dia bilang bahwa pertanyaan saya itu diluar kepala saya sehingga saya lupa untuk mengulangnya kembali.....

    Sehingga saking sudah limbungnya dengan phenomena sendiri, ada catatan notulen rapat dianggap sebagai sebuah kesimpulan dan itu dibawa bawa kemana mana photo copiannya, ada tulisan \'transkripsi\' sudah dianggap sebagai sebuah dokumen final yang bisa dimodifikasi tulisan tulisannya (eg: yaa robert....ya robert.....hehe...heh......)

    Sampe ada anggota pansus ngotot minta contoh tanda tngan padahal itu sudah diakui oleh yang bersangkutan.....ada seorang anggota pansus yang saking bodohnya dia \'wakl out\' dalam sebuah rapat konsultasi.....

    dan yang lebih ironi lagi...seorang yudi latif pengamat \'politik?????\' ikut ikutan bego sampai sampai harus nyanyi di democrazy hanya sekedar ingin melecehkan SBY....

    Jadi menurut saya sih, kita ini buang buang energi saja untuk meresponse dengan logika atas kedunguan sang pelempar issue yang pada ujungnya ujungnya sebenarnya hanya ada satu kepentingan yaitu bagaimana bisa mengamankan beberapa issue mereka mulai dari kemplangan pajak, balas dendam politik karena kalah pilpres, balas dendam politik karena kalah pileg...atau balas dendam politik karena tidak kebagian apa apa......

    yang lebih rugi lagi kalau kita harus sampai meresponse sang \'mohtar ngabalin\"....

  14. From Martinus Nugroho on 01 February 2010 12:50:50 WIB
    Saya merasa lega, akhirnya Faisal Basri ikut bicara soal ini. Pendapatnya, yang membuktikan bahwa orang waras dan baik di negeri ini belum punah, juga sangat melegakan.
  15. From Mohamad Ridwan Surono on 01 February 2010 12:59:19 WIB
    Nurani saya mengatakan SMI menpunyai integritas.
  16. From widiesusanto on 01 February 2010 13:02:27 WIB
    yang teriak maling pd SMI-BOED orang yg sama, dan gak pernah mau belajar. mungkin udah trima duit banyak hasil maling uang rakyat alias ngemplang pajak. apa motivasi teriak maling? sekedar isi perut dan muncul di berita, gak banget deh. SMI-BOED kemungkinan besar bersih karena gak pake baju kuning dan gak punya kamera dan pena. SMI-BOED hanya salah mempercayai orang2 yg ternyata semproel. SBY-Semua Bilang Ya iya lah, ya karna benar dan gak kesu2
  17. From Anton on 01 February 2010 13:20:21 WIB
    Bung Wimar yang saya hormati,

    Dari pengamatan saya , dari semua yang berteriak-teriak dan berdemo soal century, hanya 10% yang benar mengerti permasalahannya.90% hanya tahu sepotong2 dan sudah berani berasumsi dan menuduh yang bukan-bukan terhadap BDN dan SMI.

    Saya melakukan sebuah survey kecil-kecilan pada teman2 dan anggota keluarga saya. Hampir 90% lebih tidak memahami tapi sudah berani berpendapat aneh-aneh.Semuanya hanya tahu dari Partai Metro TV dan Partai TV ONe ( yang kebetulan kedua-duanya oposisi ) bahwa negara rugi 6.7 TRiliun dan itu kesalahan pemerintah. Ada yg berkomentar begini :"katanya SMI dan BDN mencuri 6.7 yah , tapi dibiarkan sama SBY. hah !"

    Kita yang tahu sangat mengerti bagaimana angka 6.7 itu, bahwa itu untuk menyelamatkan nasabah(rakyat) dan perekonomian dan bukan menyelamatkan century/robert tantular. Berapa jumlah yang harus dibayar karena penjaminan pemerintah yang memang merupakan cost yang dikeluarkan supaya masyarakat percaya perbankan dan mau menyimpan uang di bank.


    Bayangkan, orang2 seperti itu yang setiap hari berpendapat dan berteriak2 di jalan-jalan , ditambah dengan ada yg terus - menerus mengompori karena punya tujuan2 terselubung.

    Bagaimana tidak kacau negeri ini ???
  18. From Felix on 01 February 2010 14:32:26 WIB
    @Bu Ade WS,

    kalau bu Ade WS tidak setuju bahwa pak Boediono layak jadi Presiden Indonesia, tentu adalah hak ibu dan sah2 saja.. saya pun juga punya hak utk berpendapat bahwa pak Wiranto & pak Prabowo tidak layak jadi presiden Indonesia karena masa lalu mereka yg penuh pelanggaran HAM. Dan semua itu sudah lalu di pemilu yg lalu.. rakyat Indonesia sudah menentukan dgn hak nya utk memilih dan mayoritas dari mereka berpikir bahwa lebih baik pak Boediono yg menjadi Presiden jika ada apa2 dgn Presiden nya di banding dgn pak Prabowo & Pak Wiranto. kalau ibu tidak setuju dgn hal itu yah tunggu saja 5 tahun lagi..
  19. From Felix on 01 February 2010 14:36:59 WIB
    Pak WW,

    kapan mau interveiw Ibu SMI lagi ? Biar beliau menjelaskan langsung tentang seluruh permasalahan seputar kasus Century ini..
  20. From uban nugroho on 01 February 2010 14:58:02 WIB
    Dengan era pencitraan sekarang ini, seringkali kita terjebak pada keadaan 'kalau dilihat benar'. Bukan lagi mana yang benar mana yang salah. Komunikasi juga amburadul. Ketika tokoh-tokoh berbicara pada konteks 'keekonomian' dan buntu malah melarikan diri ke pencitraan dan politik, waduh .............
  21. From Dimas on 01 February 2010 15:52:18 WIB
    dari tadi ngomong panjang lebar, tapi kosong makna.
    apa yg kamu maksud lugas faisal???
    kamu sama saja dengan politikus lainnya...mencari sensasi dan popularitas aja.
  22. From febs on 01 February 2010 16:10:21 WIB
    org2 yg selalu bersemangat memojokkan dan akan mendongkel SMI & Budiono, mereka sgt percaya akan keniscayaan isu PEMAKZULAN, yg sebenarnya sgt sulit, mereka begitu tergiur dgn imbalan yg akan diperoleh jika proyek ini berhasil 100%, dan mereka jg yakin 2 figur ini begitu rapuh, sehingga dgn trus diserang pribadi mereka, mereka yakin 2 figur ini akan RESIGN dgn sendirinya. Meski menggelikan dan juga menyedihkan, tapi ini hrs dihadapi dan dilalui, dan utk Ibu SMI dan Pak Boediono, STAND FAST!!


    tks

  23. From Tita on 01 February 2010 19:07:18 WIB
    saya sangat mendukung bu sri, percaya dgn beliau, sy juga kagum dgn pak wimar dan pak faisal basri yg mengatakan dgn sebenarnya, sy benci sm media yg tidak netral, spt tv milik anggota parpol yg selalu memberitakan yg tdk berimbang, menggiring opini publik, makanya berita ttg century sellau memojokkan pihak tertentu
  24. From tjhin on 01 February 2010 19:13:06 WIB
    masyarakat kita telah di brainwash oleh media2 yg berafiliasi keparpol dan kepentingan politik pemiliknya
    sungguh sangat miris meliat dua pendekar ekonom kita ibu sri mulyani dan bapak boediono telah dibunuh karakternya oleh media2 tersebut
    saya percaya integritas ibu srimulyani dan bapak boediono, beliau2 adalah pendekar2 ekonomi yg telah membawa indonesia aman dari terpaan krisis global
  25. From triwinata on 01 February 2010 19:20:52 WIB
    Yth Bung Wimar,

    Melihat keadaan dimana SMI da Boediono di tekan terus dgn pembentukkan opini yang menggebu2 oleh media corong2 oposisi, apakah ada upaya dari bung Wimar dkk untuk mengcounter via media yang juga bisa di simak masyarakat luas, kalau internet saya pikir kurang luas cakupannya, kalau mau fair sih TV dilawan TV juga, untuk adik2 mahasiswa perlu dibuka wawasannya, mungkin dengan sering2 mengadakan diskusi ilmiah
  26. From pingkan on 01 February 2010 19:46:17 WIB
    Bung Wimar, mudah-mudahan sudah baca tulisan ini:
    Kelemahan Metodologi Pansus Century
    Friday, 29 January 2010
    Asvi Warman Adam
    Ahli Peneliti Utama
    pada Pusat Penelitian
    Politik LIPI
    http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/301029/

    dan saya sebagai orang awam, masih percaya dengan integritasnya SMI & B. Juga sangat disayangkan bahwa segelintir keluarga kita sebangsa dan setanah air NKRI, sangat bangga memelihara dendam, serta "berbahagia" berpihak kepada keculasan dari pada kebenaran.
  27. From uban nugroho on 01 February 2010 19:48:44 WIB
    Membaca berita sore ini dengan Tag SBY dalam Bahaya.
    Lho apa lagi ini koq sudah tendensius begini ? Kalau ini di awali dari skandal century, tolong deh. pikir lagi. pikir lagi. Yang sekarang ini bukan Gus Dur lho, yang begitu ikhlas memberi pelajaran pada bangsa ini bahwa jabatan itu bisa dilepas begitu saja, oleh siapa saja dan beliau legowo (keluar istana saja pakai pakaian santai).
    Kalau saya pikir, bangsa ini sudah kehilangan jati dirinya. Disindir pun tidak mengambil manfaatnya, tapi marah. Coba saja ketika gambar GARUDA di ARMANI, marahnya minta ampun tapi tidak segera mengambil hikmahnya. Kalau saja Garuda itu benar-benar ada didada pemimpin negeri ini dan rakyat bangsa ini, tidak ada contekan semua 'gaya demokrasi' di negeri ini. Persis plek !! Mulai gaya kampanye, bikin patung sampai ada usulan impeachment, lha kok ngono ??
    Sebenarnya saya sangat menunggu Menpora kita langsung bergerak membangkitkan nasionalisme pada generasi muda, yok kita sematkan sang garuda dan sang saka merah putih di dada. Lho kok saya jadi nunggu ?
    Tapi memang komunikasi di elit sepertinya mandeg pak Wimar. Saya sangat bingung juga kalau ahli komunikasi ikutan mengkritik tapi juga ikutan berpolitik. Saatnya pak Wimar ikutan menerobos membuka kebuntuan ini. namiun sayang saat pak Wimar mendampingi Ibu Sri Mulyani dan diserang, kemudian seperti menarik diri.
    Biarkan para menteri bekerja pada masing-masing kementriannya bukannya ikutan nimbrung pada masalah partainya. Jadi begitu seratus harus bukan wes ewes bablas mikire.
  28. From sjeline tenardi on 01 February 2010 20:21:52 WIB
    Saya tidak mengenal ibu Sri Mulyani secara pribadi, tapi saya selalu selalu membaca dan mengikuti perkembangan karier Sri Mulyani ber-tahun2 dan percaya bahwa beliau orang yang cerdas dan berkarakter mulia. Dan saya sangat tidak percaya berita2 yng negatif apapun mengenai beliau, sebab karakter seseorang sudah terbentuk dan tidak berubah begitu saja. Saya hanya prihatin kalau orang2 tertentu sampai tega menganiayai seseorang karena alasan enggan membayar hutang pajak misalnya atau menginginkan posisi Sri Mulyani yng strategis.
  29. From arthur on 01 February 2010 20:38:43 WIB
    @ibu AdeWS,agak aneh ,setelah membaca uraian pak Faisal,anda masih berpendapat seperti itu,inilah contoh betapa "racun"yg disebarkan oleh media spt metro tv dan tv-one sdh berhasil menyesatkan begitu banyak orang.
    Ttp utk ibu Ade,sy tetap merasa "aneh",krn ibu punya akses ke internet,sehingga seharusnya memiliki cakrawala yg lbh luas.
    Yg juga "ajaib",orang seperti ali ngadalin ini tetap "laku" diundang sebagai pembicara.
  30. From ramadhan on 02 February 2010 12:32:19 WIB
    Stop nonton TV. Perbanyak browsing di I nternet
  31. From ciroe on 02 February 2010 13:50:58 WIB
    Karakter tidak terbentuk dalam semalam dan tidak luntur seketika. Dari jejak langkah orang-orang yang sekarang riuh di media, kita tentunya dapat sedikit meluangkan waktu menengok apa yang telah orang-orang itu kerjakan setahun, dua tahun, lima tahun atau sepuluh tahun yang lalu. Seketika kita jadi tahu, kepada siapa kita selayaknya lebih percaya, kecuali kita cukup bebal.
    Orang baik tak pernah kalah, orang jujur tak pernah rugi. Terus maju orang-orang baik!
  32. From indra alirusin on 02 February 2010 14:14:35 WIB
    pak faisal, tdk perlu takut kehilangan cap dan atribut apapun n tdk demi kepentingan apapun harus berani bicara yg benar secara konsisten kendati harus melawan arus persepsi yg sdh terlanjur mengvonis ibu sri muyani bersalah.
    kalau dari analis n pandangan bapak bahwa ibu sri mulyani sdh bertindak benar sesuai kapasitas sebagai pemutus dalam situasi saat ini sdh selayaknya menyampaikan apa adanya.

    justru saya bangga sama bapak sdh bertindak bijak n ikuti nurani disertai dgn data2,analis yg tajam n lugas menyampaikan informasi yg benar kepada publik dalam pansus century.

    saat ini semakin kabur pansus century mau dibawa kemana?sesuai tulisan bapak beberapa pekan yg lalu semua energi bangsa dibuang percuma untuk hal2 yg kontraproduktif dibandingkan bagaimana mencari peluang para pengusaha menghadapi afta dll, pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan perekonomian desa dll.

    semoga bapak tetap bisa kritis n menulis sesuai nurani bapak yg bermanfaat untuk publik di indonesia.





  33. From Anjar D on 02 February 2010 18:24:38 WIB
    Yah kalau saya simple aja lebih percaya mana ahli ekonomi atau politikus..yah ahli ekonomi donk tentunya
  34. From arif on 02 February 2010 20:03:39 WIB
    trimakasih atas berbagi info mengenai pandangan pak faisal basri...klo boleh saya berkomentar pak wimar, saya juga mengagumi integritas dan kecerdasan bu ani dan pak boed, klo saja saya pernah menjadi mahasiswa mereka, saya pasti bangga.tp dalam kasus century itu memang benar ada sebuah kroni yg sengaja memanfaatkan situasi, dari pak robet sampai (maaf) deretan pejabat BI yang katanya diragukan keprofesionalitasnya...
  35. From Tono on 03 February 2010 11:12:06 WIB
    Media sudah tidak bisa lagi di kontrol maka media menjadi korup ....

    TV one adalah salah satu media yang suka "mengompori" bukan untuk mencari penyelesaian. Sayang masyarakat Indonesia suka di "kompori" jadi mereka berhasil ditonton banyak orang dan mendapat iklan.

    Yang terpenting setelah banyak yang nonton mereka memasukkan kehendak (misi) mereka.

    Banyak yang lupa kalau Bambang S. pernah melakukan kesalahan fatal saat mengungkap SMI tapi kenapa mereka masih memakainya? Mestinya sumber yang gawur masuk black list dong.
  36. From Teguh Hidayat on 03 February 2010 16:13:46 WIB
    Pak Wilmar yg sangat berwawasan. Saya punya pertanyaan.

    Memang jika kita memperhatikan media2 yg begitu agresif menyalahkan org2 tertentu (dalam hal ini Sri Mulyani & Boediono), maka kita memang tidak sepantasnya lagi menerima setiap justifikasi yg disajikan di media. Mengenai perilaku media yg seperti itu, menurut saya adalah wajar krn masyarakat kita lebih suka berita yg jelek2, atau menjelek2an org2 atau pihak tertentu. Bad news is good news. Lebih dari itu, pemilik media kan hanya segelintir org saja? (pak wimar tau lah siapa) Mrk inilah yg mengontrol sepenuhnya isu2 yg berkembang di masyarakat.

    Baik SM maupun BD, mereka terlalu baik untuk terlibat dalam kasus Century, setidaknya demikianlah menurut pendapat saya. Termasuk mengenai pndapat bung faisal yg mendapat tentangan dr banyak org. Menurut saya, terlepas dr pro & kontra, semua pendapatnya masuk akal dan menggunakan argumentasi yg tidak mengada-ngada, padahal saya pribadi tidak sependapat dgn beliau.

    Tapi pak wimar, the case had been occured, so someone had to be blamed! Meskipun para politisi partai demokrat mengatakan: nothing is wrong with the bailout, namun faktanya Robert Tantular telah dipenjara, sejumlah nasabah bank telah dirugikan, dan uang trilyunan telah dikeluarkan tanpa pertanggung jawaban yg jelas. Itu adalah situasi yg terlalu buruk untuk dinilai sebagai 'nothing is wrong'.

    someone had to be blamed, only we don't know who. if not some of 'them', then who? mohon tanggapannya. maaf jika bahasa saya amburadul
  37. From Prihatmono on 04 February 2010 09:32:16 WIB
    Sebenarnya saya malas menanggapi berita2 di internet juga, krn banyak komentar di media2 internet yang gunakan bahasa2 sangat kasar. Saya malu, mengapa orang Indonesia bisa jadi seperti itu. Namun saya ingin satu saja tulis di situs ini, krn apresiasi saya terhadap situs Bung Wimar yang paling santun, baik nara sumber maupun komentatornya.

    Judul tulisan saya dlm hal Century ini adalah \"RELATIF\".
    Bagi grup SBY, SM, Bd, Demokrat, maka pembelaan itu masuk akal. Bisa menjadi benar dengan berlindung di bawah payung \"Kebijakan Pemerintah\". Alasan \"sistemik\" juga bisa benar, tapi bukan krn faktor psikologis. Sistemik ini krn para nasabah di Bank Century dg simpanan di atas 2M, kebanyakan adalah badan Pemerintah dan \"kooperasinya\". Apabila tidak ditukar, maka akan timbul kekacauan finansial di Pemerintah juga. Dlm hal terakhir ini Pemerintah \"terjebak kondisi\".

    Kita mestinya juga berpegang pada kebenaran, bahwa telah terjadi kesalahan di masalah Century, sejak mergernya 3 bank bermasalah itu. Setelah itu terjadi manipulasi jasa Bank kepada nasabah, yang luput dari pengawasan BI. CAR yg minus adalah data riil yg mesti diwaspadai utk segera diambil tindakan. Kemudian kalau dasarnya \"kebijakan Darurat\", mestinya tak perlu mengarahkan Perpu dsb utk mengarahkan agar Century bisa di-bailout. Cukup dengan pengumuman keadaan darurat, maka Century di-suspend, uang nasabah berapapun ditukar, adili pengurus Bank yg korup. Mohon kita jangan berlindung di balik \"Media pers itu milik siapa ?\", dsb. Masyarakat kita juga bisa cerdas dan punya nurani, jd tak mudah dipengaruhi media begitu saja. Soal lawan2 politik, harusnya kita pahami bahwa \"Musuh kitalah yang paling bisa menunjukkan kesalahan kita\".

    Saya hanya melihat hal2 aneh saja dlm Grup SBY ini. Ada apa di balik pemilihan Bd menjadi Wapres dan SM di posisi sentral ekonomi ? Bagi saya kesannya adalah \"balas budi\". Berikutnya ada apa dg Polisi, Kejaksaan, KPK yang juga terjadi peristiwa aneh2 ?

    Saya hormat kepada seluruh presiden kita kecuali Sht. Beliau semua punya peran di zamannya masing2. Hbb dg egalitarian, GsD dg integritas wilayah dan pluralisme, Mg dg fairness, SBY dg stabilitas. semua ini akan mengantar ke gerbang Indonesia masa depan.

    Saya maklum bila dlm 2 periode ini SBY masih meninggalkan catatan yg memprihatinkan pada keberfihakan pada nasib rakyat kecil. Yg dicapai hanya stabilitas ekonomi makro dan keamanan. Kita hanya bisa berharap pemerataan kesejahteraan dan pembangunan pada pemimpin berikutnya.

    Peace.......
  38. From ismail on 05 February 2010 12:53:17 WIB
    klo masalah pemerataan mah, semua orang juga pengen, tapi apa ya semua orang itu rata semangatnya untuk mau maju...
    apa semua merata kerja kerasnya...
    saya kira di indonesia juga banyak ko yang ingin maju tanpa kerja keras...akibatnya?...
    well, jangan berharap terlalu banyak untuk pemerataan kesejahteraan di masyarakat...
  39. From PLeRZ on 07 February 2010 23:11:07 WIB
    Saya PERCAYA Integritas SMI/FB dari tahun 1996 ketika proses reformasi dimulai. Saat itu bagaimana SMI mengomentari pidato kenegaraan habibie yang mengatakan, habibie yang brilyan otaknya namun soal hitung hitungan ekonomi kok ngambil kesimpulan nya kok gak logis. Inget banget tuh saya ....

    Sampai beliau dipercaya jadi menkeu, lantas sampai dipangil oleh pansus gak menghilangkan kepercayaan saya terhadap integritas beliau. Saya gak pernah risau dengan orang2 yang teriak teriak SMI maling dsbnya, karena toh seperti pak wimar saya lebih percaya SMI, dibanding yang teriak dlsbnya.

    Masalahnya bukan soal integritas, keprofesionalan, SMI yang kita ragukan. Tetapi karena pada ide \" manusia nggak ada yang sempurna \".

    Saya punya teman yang Aktivis mesjid banget.jujur, baik, tegas, ramah apa aja deh yang baik baik menurut saya.

    Suatu saat dia menjadi ketua koperasi karyawan melalui perjuangan yang keras di Rapat Luar Biasa koperasi. Dia mengatakan kepada saya mengenai tujuan mulianya membenahi koperasi dari praktek korupsi , menghalangi tindak penyelewengan dll. dan itu benar benar dia buktikan , dengan menjadikan koperasi menjadi terpercaya.

    Suatu saat dia atas nama ketua koperasi menandatangani pembelian gedung klinik karyawan dengan pembiayaan bank/dicicil. Saat itu jumlah karyawan/anggota koperasi 10.000. Gak ada yang salah pada saat itu. Sampai 5 tahun selanjutnya, karyawan berkurang menjadi 2000 orang, yang mengakibatkan gak ada uang untuk membayar cicilan bank.

    Akhirnya gedung disita bank dan koperasi sendiri harus rela kehilangan uang 800 juta yang notabene uang karyawan.
    Mulailah dikorek korek sampai diindikasikan bahwa harga beli gedung di markup pada saat proses pembelian dan ada orang orang yang menerima uang dalam jumlah yang besar atas upaya markup ini. teman saya ini bersumpah bahwa dia gak ada 1 rupiahpun menerima uang ini. Namun dia dan bersama rekan rekan yang menandatangani perjanjian jual beli ini dituntut oleh semua karyawan untuk mengembalikan uang karyawan tadi. dia dituntut mebayar sekitar 60 juta, hal yang gak mungkin dia dapatkan kecuali dia keluar dari perusahaan ( uang pesangonnya )

    Apa yang salah ? secara niat, integritas, keprofesionalan seolah olah gak ada yang salah .... ,

    Namun .......

    1. Pemimpin gak boleh berpikir hanya di waktu \" PAST \" dan \"PRESENT \" saja .... ada lagi yaitu \" FUTURE \", apakah RISK MANAGEMENT sudah dijalankan dengan baik dan benar untuk mengcounter permasalahan di FUTURE, baik ketika kondisi kedepan buruk seperti kasus teman saya, atau ketika kondisi perekonomian kedepan baik seperti kasus century

    2. Selalu waspadai Tangan Tangan Kotor dan niat niat buruk. Tangan tangan ini bukan hanya milik lawan kita, karena tentu mudah mencegahnya. waspadai tangan tangan kotor dari sahabat kita, atasan kita, bos kita, presiden kita. Selalu orang yang mengejar asas manfaat atas keputusan kita adalah orang orang yang merasa mempunyai kedekatan dengan kita.bukankah bisnisman selalu mencari kedekatan koneksi ketika ingin menggolkan apa yang mereka inginkan ?

    3. Prinsip salah hitung ketika kita ada di puncak kekuasaan. dibanding ketika kita jauh di pinggir kekuasaan.

    Alkisah, abunawas berjalan dengan 9 ekor kerbaunya. Selalu diulang ulang dia hitung jumlah kerbaunya 1,2,3 ....dstnya sampai yang ke 9. Karena kelelahan dia kendarai salah satu kerbaunya, ... seperti tadi dia hitung hitung lagi kerbaunya, 1,2,3....dst..sampai 8. Lho kemana yang satunya ??? wah hilang ketinggalan.... dia turun lantas mencari kesana kemari .... ngak ketemu, lantas dihitung ulang, kok sekarang dah balik jadi 9 ekor lagi.

    demikian berulang ulang ...sampai dia kebingungan ....pada saat mengendarai kerbaunya kebetulan dia ketemu ulama yang bijak. Lantas dia tanyakan mengenai kerbaunya yang sering datang dan pergi secara misterius\'

    \".... begitulah ceritanya wahai ulama, sekarang aja jumlahnya tinggal 8. yang satu hilang misterius\" kata abunawas.

    Lantas ulama bijak itu menyuruh abunawas menghitung ulang jumlah kerbaunya 1,2,3,.... sampai 8. tuh kan cuma 8 katanya. Lantas Ulama bijak bilang, kerbau yang ke 9 tuh yang sedang kamu naiki. ....Nah .....satu lagi kerbau yang ke 10 .....yang SEDANG naik diatasnya. ..... he he he .... silebay ...

    Salam buat SMI dan FB bung wimar ....I love you all,
  40. From dmitri on 09 February 2010 03:16:31 WIB
    @PLeRZ,
    analisa tajem. cara terbaik memiliki hubungan langsung dengan subyek (in this case: masyarakat). kesalahan berhitung selalu bisa dimaklumi, penuntutan ganti rugi dicari yang sesuai realita masing2 pihak, sehingga sama-sama rela menjalankannya, dan kesalahan jadi enggak penting lagi. itu kalau memang punya hubungan/kontak yang rutin.

    kalau kita gampang mempercayai kebaikan SMI lewat tv, kita juga gampang kehilangan kepercayaan itu lewat tv. ini bukan tugas ahli komunikasi yang jadi PR/speaker. ini sudah jadi tugas partai yang punya niatan baik. sekalian aja sambil mempersiapkan calon pemimpin 2014. proyek yang sangat jelas, perpotensi bersih dan mulia pula. keliling Indonesia ketuk pintu rumah orang kalau perlu, ajak partai lain yang setuju kalau kurang banyak tenaga. siapa tau, gara-gara kesulitan yang dilewati bersama terus jadi saling lebih percaya, saling mau berbagi.

    saya suka bingung nih. PD hanya bisa mengandalkan keretakan Golkar kalau issue-nya melibatkan pemilu. kalau untuk meluruskan persepsi masyarakat cara yang sama enggak bisa. susah (males) atau kemahalan? enggak tau. tanya aja sama anaknya SBY, kan udah jadi politikus tuh. coba kita cek, apa aja yang dibisikin bokapnya buat dia.
  41. From Wildan on 09 February 2010 12:30:53 WIB
    @Prihatmono &
    @ PLerz mudah mudahan saya tidak salah spelling....

    Anda dan tentunya saya juga sudah masuk lagi dalam pusaran samudera hiruk pikuk Century ini.......

    Dimana ombak yang harusnya muncul pada kisaran awal atau setidaknya pertengahan 2009 tapi kok dampak ombaknya baru muncul pada akhir 2009 awal 2010....kok periode PEMILU dilewat dulu Gitu lho!!!!!!!

    Yang kedua anda berdua jadi mengingatkan saya pada analogi : misalnya saya bercerita tentang keidnahan Puncak pass dengan kebun tehnya yang hijau...kemudian saat saya bercerita ttg keindahan tsb, saya bilang bahwa diantara hijuanya daun teh tersebut ada tumbuh daun \'babadotan\'....kemudian anda teriak kesana kemari....\"hoiiiii..... hoiiiiiii.....di puncak itu hanya tumbuh daun babadotan yang bau!!!!....

    Nah itulah analogi yang dibuat saat issue Cipanas....isue kerbau.......di mix dengan mundur kebelakang lagi issue teroris yang ingin menembak SBY...seolah olah itu adalah kecengengan beliau.....meskipun mereka yang menghujat SBY mafhum bahwa jelek jelek dia itu pernah jadi PANGLIMA tentara PBB .

    Jadi sebagai penutup saya, mungkin dengan gumaman saya \"cappppeeeee dehhh!...untuk menanggapi komentar anda, saya hanya bisa bilang.....jangan pernah sekali sekali kita pernah bersetuju dengan uraian uraian Faisal Akbar, Fahri Hamzah, Agun GUnanjar, Andi Rahmat apalagi Kwik Kian Gie dll karena saya sampai sekarang dan sampai nanti juga mereka tidak pernah sekali sekali akan BILANG ATAU MENULIS DALAM LAPORANNYA bahwa hasil investigasi pansus Century yang menyatakan bahwa BUDIONO DAN SMI BERSALAH.........

    yang ada adalah kata kata bersayap yang membuat mereka atau kita menjadi gerah dan yang pasti bakal tertawa ya!! yang menyuruh kita gerah!!!!!!!
  42. From Prihatmono on 10 February 2010 09:08:21 WIB
    @Ismail
    @Wildan

    Mohon maaf Bung Wimar, kalau saya mesti menanggapi dua saudaraku ini.

    Utk. Bung Ismail, pemerataan kesejahteraan bagi seluruh rakyat itu adalah amanat UUD \'45 bahkan sejak di Pembukaannya. Kita tidak perlu berharap, karena itu adalah kewajiban Presiden sebagai mandataris rakyat melalui MPR. Kalau rakyat kita sadar hukum, dan mau bertindak, maka terjadinya class action untuk menuntut pemerintah sangat mungkin dan bisa. Tetapi rakyat kita ini sangat baik, andalah salah satu potretnya. Saya punya pendapat, bahwa rakyat Indonesia ini termasuk yang paling beresiko di dunia. Krn bila mereka kerja, maka hasil kerja kerasnya tak mendapatkan imbalan yang semestinya. Namun bila tak kerja mereka akan mati. Beda dengan negara2 tetangga kita, bila terpaksa orang tidak kerja, mereka tetap dapat hidup dengan jaminan sosial hasil pajak. Saya tak hanya bisa ngomong, bahkan saya punya formula untuk membuat rakyat Indonesia dapat hidup meski sedang tanpa kerja, tanpa harus meminjam dana dari luar. Kekayaan alam indonesia yang terbarukan maupun yang tidak, masih lebih dari cukup untuk menjamin kelayakan hidup rakyat. Ingat, negara2 lain iri kepada Indonesia yang punya tanah subur. Indonesia masih punya banyak komoditas yang eksklusif, yang negara lain tidak punya. Kita hanya belum menggarapnya karena kita malas dan mau dininabobokkan. Anda perlu renungkan ini dalam2.

    Utk. Bung Wildan. Bila anda tak mau mendengarkan dan tak setuju dengan semua orang yang anda sebutkan, itu adalah hak anda, tak dapat anda paksakan kepada orang lain.

    Kasus Bank Century ini relatif kecil bila dibandingkan dengan banyak kasus lain yang jauh lebih besar dan banyak yang telah berlangsung lama, bahkan sejak jaman orde baru. Kita berada di dalam negara yang secara sistem dan mindset keliru sejak G30SPKI th 1966.

    Hukum ketatanegaraan kita jadi rancu sejak digunakannya TAP MPRS dan TAP MPR sebagai dasar hukum. Hirarki Hukum adl Pancasila-UUD45-UU-Perppu-Keppres-Permen-dsb. Tak ada TAP MPR. MPR hanya menetapkan haluan negara dalam garis2 besar, tapi tidak membuat perundangan. Karena kesalahan itu, akhirnya MPR diamputasi wewenangnya. UUD45-nya diamandemen. Sekarang jadi banyak Komisi, ada yang buat rancu. Masak bisa ada KSSK, dimana Gubernur BI bisa diperintah Menkeu. Gub BI itu independen, bagaikan Treasury. Harusnya jadi partner Presiden yang disegani, bukan diatur2 bawahannya. Aneh juga Menkeu bisa melarang BPK memberikan data ke DPR. Jangan kembalikan negara ini ke jaman ORBA, dimana hukum2 bisa di-twist. Pendapat ini murni saya renungkan, bukan dari orang lain.

    Kasus Bank Century dan beberapa kasus yang menyertainya misalnya kriminalisasi KPK, dsb adalah prestasi unit kerja negara dan rakyat Indonesia, yang mulai berani mengatakan \" Kita tidak setuju adanya korupsi, dan mari kita usut \". Dengan peliputan pers yang berani, mata rakyat bisa melihat data dari banyak sumber, mengenai kebobrokan di tingkat atas. Ini dilihat dunia luar sebagai hal baik, karena di Indonesia mulai ada gerakan anti korupsi. Mereka mulai berharap ada fairness untuk usaha di Indonesia ke depan.

    Nah dengan pembukaan kasus ini, apalagi nanti fihak2 yang harus bertanggungjawab diusut oleh polisi atau KPK, mungkin ada surprise2 baru yang kita temui seperti halnya \"fenomena Susno Duadji\". Semoga kasus2 lain yang lebih besar juga akan diusut. Bila ini terjadi, maka jaman SBY juga akan menjadi \"jaman kesadaran anti korupsi\".

    SBY memang telah memberi contoh baik dlm pemberantasan korupsi misalnya pemberantasan judi di Indonesia. Caranya dengan menekan Polisi dari Kapolri sampai Kapolsek, bila tak bisa memberantas akan dicopot jabatannya. Ternyata dalam tempo singkat judi lenyap. Ternyata tidak susah kan kalau ada niat Presiden ? Presiden akan bisa bertindak tegas, hanya jika beliau yakin tidak tersangkut. Tunjukkan beliau tidak tersangkut kasus BC dsb, dengan memberikan semangat kepada bawahannya seperti pada program pemberantasan judi tsb.

    Semoga kasus Century ini menjadi tonggak kita mengarungi century ke-21, menjadi Indonesia negeri merdeka yang berdaulat dan bebas KKN. Rakyat akan melek informasi, politik, dan hukum dengan hiruk pikuk informasi yang sekarang disaksikan. Maka ke depan, rakyat bisa memilih wakilnya dengan baik, tanpa terpengaruh iming-iming dan janji2.

    Saya tahu SBY baik, mungkin lebih banyak daripada yang anda tahu. Dan saya tahu banyak mengenai pemimpin2 di Indonesia, karena saya pernah dekat dengan lingkungan mereka. Saya punya beberapa solusi yang sedianya akan saya usulkan kepada mereka, namun saya tahan untuk memberikannya. Karena saya fikir belum saatnya, karena cengkeraman korupsi masih kental.

    Bung Wildan, pelajarilah sejarah Indonesia dengan baik, cermatilah informasi dari manapun, lalu renungkanlah. Jangan semata2 ikut2 pendapat tokoh2 tanpa anda faham betul.

    Bung2 Wimar, KKG, Faisal Basri, dsb adalah asset berharga Indonesia, yang memberikan kepada kita analisis yang tajam tentang banyak hal yang kita belum tahu. Kita harus seperti mereka, punya sikap karena kita tahu dengan baik.

    Peace.....
  43. From Win on 22 February 2010 00:35:43 WIB
    Tuduhan kepada Faisal Basri menggelikan. Orang yang menuduh Faisal Basri inkonsisten, tdk punya integritas, terperangkap pada pakem lama bahwa pihak presiden selalu salah dan yang mengatasnamakan rakyat selalu benar dengan logika 'either with us or against us' yang malas mempelajari detil. Konsistensi seperti apa sih sebenarnya yang dijadikan rujukan pihak penuduh ini? Konsistensi sebagai oposan terus atau konsistensi pada prinsip tentang apa yang dianggap benar? Saya menganggap tugas orang yang punya privilege akses thd ilmu adalah konsistensi yang kedua.

    Lalu tentang soal tajam dan kritis. Orang kritis akan mengetahui track record Faisal Basri dan tidak akan melontarkan tuduhan FB tidak kritis. Orang kritis akan berpikir berulang kali sebelum melontarkan tuduhan pihak lain tidak kritis.. yang pada ujungnya berarti orang kritis tidak akan melontarkan tuduhan2 gak bermutu bahwa pihak lain sudah tidak kritis... Tuduhan semacam itu hanya punya niat jahat menjurus pada pembunuhan karakter.. gak usah dipikirin, buang2 energi aja..

    Terakhir, tuduhan2 predikat ini menurut saya hanya membongkar kedok kedangkalan cara pikir pihak penuduh. Bicaralah tentang bukti yang telak, misalnya buktikan bahwa terdapat kongkalikong antara deposan besar Century dengan Robert Tantular lalu jika ada, buktikan bahwa hal ini diketahui oleh Pak Boediono dan Ibu SMI/KSSK.

    Bukti..bukti... emang susah klo ngomong ama orang yang cuman biasa dan bisanya ngasih janji....

    Terakhir untuk Pak FB, klo tidak salah kata Soe Hok Gie, jalan seorang intelektual adalah jalan yang sunyi, jadi masih untung Anda punya kawan seorang WW :) Don't worry, be happy...
  44. From oyong dachtar on 24 February 2010 03:48:46 WIB
    Kalau mau sedikit kritis, dengan mudah akan terlihat bahwa skandal Bank Century ini membesar dikarenakan setting kotor dari cukong2 dan calo2 digedung dewan yang terhormat yang terganggu kenyamanannya akibat bersih2 dan pembenahan birokrasi yang dilakukan Boediono dan Smi di BI dan Depkeu, ditambah kebiasaan jelek anak bangsa ini yang tidak pernah bisa mengakui kekalahan dengan sportif. Pat gulipat sejumlah anggota dewan seperti misbakhum, emir moeis dengan Bank Century toh bukan lagi rahasia dan tidak menutup kemungkinan itu dilakukan berjamaah dengan sejumlah anggota partai lainnya dan para deputy gubernur/gubernur BI pra Boediono yang terkesan memfasilitasi dan menutup2i operasi kotor di bank bobrok tersebut. Belum lagi faktor Ical Bakrie yang bisnis malingnya diobok2 Smi dan sebarisan manusia sakit hati yang dengan kekuatan media dan orang2nya didewan mem blow up kasus century ini seolah2 the best criminal case of the year dengan Boediono dan Smi sebagai aktor utamanya.
    Dengan melihat realita ini, tidaklah mengherankan kalau kemudian orang2 seperti Faisal Basri ini terkesan membela Smi dan Boediono dan sangatlah mengherankan menyaksikan Kwik Kian Gie dengan penuh semangat mendiskreditkan kedua orang baik itu.
  45. From lisa on 14 March 2010 00:40:43 WIB
    Dear Pak Wimar,

    Saya percaya integritas Sri Mulyani dan Boediono tetapi saya tidak percaya integritas SBY. Kenapa?!? Saya melihat begitu teganya SBY mengorbankan kedua orang ini demi menutupi keraguannya dalam bertindak tegas terhadap para pengemplang pajak salah satunya Bakrie. Antara Bakrie dan Sby memiliki hubungan mesra yang sangat dalam sehingga Bakrie merupakan salah satu konglomerat yang mendukung mulusnya jalan SBY menjadi R1. Ini tidak lagi disangkal dan sudah menjadi bahan omongan dan rahasia umum, dimana dalam proses pemilu perioede awal SBY, Bakrie memberikan lokasi tempat yang cukup strategis didalam areal kerajaan bisnisnya tempat team sukses sby dengan segala fasilitias yang ada. Dimana anda tahu dan rakyat juga tahu Aburizal masih tercatat sebagai anggota GOLKAR..apakah ini namanya bukan penghianatan dan bermuka dua?!?. Proses balas jasa ini meningkatlah Aburizal mendapat kursi sebagai mentri disini saja sudah tidak sangat fair, lalu pada periode kedua Sby mengangkat Fadel sebagai mentri dimana saya tau sekali bahwa Fadel memilki riwayat buruk sebagai salah satu pengemplang kredit macet yang sampai dengan saat ini tidak terbayarkan namun bersih kembali.

    Apakah anda masih mengagumi SBY srigala berbulu domba?!? Saya dulu pengagum berat SBY namun sekarang tidak sama sekali, lihatlah permainan cantik SBY dalam mendukung Aburizal menjadi KETUM GOLKAR sehingga mergerlah kekuatan keluarga mallarangeng kedalam partai ini..sungguh suatu drama yang cantik.

    Saya pikir SMI yang pintar dan Boediono pasti tahu hal ini, kenapa mereka mau saja dikorbankan?!? Wallahu Alam..tidak selamanya manusia bisa dipercaya, tetap saja lidah tak bertulang..buat saya yang memiliki integritas hanya Bapak HATTA....

    Saya juga punya cerita mengenai SMI kok, wahh..sejak jadi mentri sungguh arogan dan merasa pantas mengatakan kepada teman2nya yang jadi direktur "kok dia gak lapor gue?!?" what up..mentang2 situ mentri..please dech..tetapi ktka manusia ini mengucapkan ultah hanya dijawaba "tks" woww...so sibukah ..tidak juga...should be another word say something to appreciate.

    Oke segitu saja...buat saya...SBY bermain dibelakang sehingga GOLKAR begitu berani berkoar masing-masing antar mereka pegang kartu...namun aburizal begitu serakah belum cukupkah LAPINDO dibantu sehingga pundi2 Aburizal tetap menggelembung entahlah..hanya yang diatas yang tahu...

    SBY tau persoalan gagal bayar asuransi bakrie tetapi kenapa pemerintah masih bisa mengeluarkan surat penunjukan kepemilikian saham kepada perusahaan ini ya..!?!? nah surat ini pasti disetujui kan oleh SMI dan Boedion bukan?!?!?
    Masihkah kita tetap lugas dan berketetapan hati...saya memang bodoh gak tau sistemik tetapi kuping tidak juga tuli mendengar dari sumber terpercaya.

    Bravo Wimar...
  46. From rohmat on 14 March 2010 22:18:08 WIB
    Pak wimar,

    menurut saya semua kondisi politik ini tidak lepas dari Wiranto dan JK, mereka adalah sutradara dari semua ini,
    menurut feeling saya, Wiranto adalah tokoh dibalik Kejahatan kerusuhan 1998, dan dia juga-lah aktor penculikan dan pengeboman, uang dia banyak banget, dulu banyak 'menyebarkan jendral2x' ke tempat2x tongkrongan saya seblm pemilu...
    Utk Faisal Basri, jangan gundah omm.. kalo saya tahu nomor anda, saya akan SMS mendukung anda dan saya yakin banyak dan teramat banyak orang yg diam (golputer) namun sebenarnya mendukung anda..
  47. From hirawan on 17 March 2010 19:07:08 WIB
    Alhamdzulillah sampai hari ini masih ada orang yang nalarnya masih normal seperti Faisal Basri dan Bung Wimar. betul2 merasa lega.
    Saya mah kang kalau terjadi apa2 dengan negari ini gara2 century lebih baik perang saja, jelas tujuannya mempertahankan martabat bangsa. Dari pada diobrak abrik setan gentayangan dari Senayan..... maaf ya Setan2.
  48. From Sandra on 20 June 2011 03:31:46 WIB
    The forum is a brighter place thanks to your posts. Tahkns!

« Home