Articles

Era Informasi, Orang Malah Kehilangan Arah

koran SINDO
14 March 2010

 

Era Informasi,Orang Malah Kehilangan Arah
Sunday, 14 March 2010
Teman dekat saya yang mahasiswa bertanya, ”Mengapa mahasiswa sekarang sangat lemah dalam penghayatan masyarakat? Kok banyak sekali demo asalasalan, memihak orang yang banyak bersalah, menghujat orang yang jelas berguna untuk negara kita?” 
Kata-katanya terdengar sebagai ungkapan yang subjektif, sama dengan subjektivitas saya. Kalau mau objektif, mungkin orang harus bilang bahwa mahasiswa berjiwa bebas. Dia melawan kemapanan dan tidak bisa diatur. Objektivitas dan subjektivitas tidak datang dengan ukuran.Yang penting sekarang bukan soal subjektif atau tidak, tapi apakah orang tahu perbedaan mana yang benar atau tidak? 
Sebab media banyak dimiliki orang yang berkepentingan dengan politik dan dua televisi berita merupakan milik pihak yang tidak suka dengan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),maka tidak bisa diharapkan kebenaran akan keluar dari kedua televisi itu. ”Koran” besar juga entah mengapa mengambil sikap berseberangan dengan Presiden. Hal yang jarang terjadi sejak ”koran” itu menyerang Presiden Habibie dengan argumen yang lebih bisa dimengerti. 
Aktivitas mahasiswa dan demonstrasi massa yang diatur aktivis dalam tiga bulan ini didasarkan atas praduga bahwa Sri Mulyani dan Boediono itu bersalah. Kalau bukan kesalahan kriminal, dicari kesalahan kebijaksanaan. Kalau tidak bisa ditunjukkan kesalahan kebijaksanaan karena negara kita terhindar krisis ekonomi akibat kebijaksanaan mereka, dicari kesalahan administratif dalam pelanggaran aturan.
Kalaupun itu tidak ketemu, diembuskan kesalahan ideologi neolib, pengikut Barat,dan sebagainya. Yang paling mengecewakan adalah tuntutan atas mereka untuk mundur walaupun tidak ada bukti melakukan kesalahan.Argumen gerakan ini adalah agar pemeriksaan bisa dilakukan dengan bebas. Dari keinginan ini lahir disinformasi yang membuat orang kehilangan arah. 
Apakah SMI (Sri Mulyani Indrawati)- Boed (Boediono) benar bersalah? Setelah Pansus bekerja tiga bulan,tidak ditemukan bukti kriminal. Logika pembuktian terbalik dengan mudah bisa menunjukkan bahwa kedua pejabat itu bersih. Apalagi dibandingkan dengan pendakwa mereka di DPR dan partai. Namun, mereka tetap dinyatakan bersalah berdasarkan pengambilan suara yang emosional. 
Mahasiswa bukannya melihat dengan mata kritis,malah ikut arus mempersalahkan sampai meminta mereka mundur.Kalau ini dinyatakan sebagai move politik, masuk akal. Jelas, partai politik yang kalah pemilu itu ingin cepat bersiap untuk menguatkan posisi pada 2014.Kita tidak naif terhadap politik. 
Namun,yang menyedihkan dan membuat luka dalam kelangsungan kehidupan masyarakat adalah bahwa proses kriminalisasi orang tak bersalah memorak-porandakan penghayatan orang terhadap yang benar dan yang salah. Orang terlalu sering mendengar kebohongan sehingga mulai mengalami internalisasi kepalsuan yang dipropagandakan.
Apakah Barack Obama patut dicurigai? Ya, kata ekstremis, karena Amerika Serikat lebih banyak melakukan teror daripada teroris.Apa betul? Kalaupun betul, apakah Obama termasuk pendukung teroris? Orang yang sedikit tahu kenyataan tersenyum, bahkan tertawa mendengar pendapat yang bodoh ini. Kenyataannya adalah dunia mengambil napas lega ketika Obama terpilih menjadi Presiden AS.Terutama karena ia mengalahkan George W Bush yang merusak perdamaian dunia akibat kebijaksanaan unilateral melawan Irak dan Afghanistan. 
Secara implisit, Bush dianggap memandang terorisme itu sebagai perwujudan perang peradaban antara dunia Barat dengan dunia Islam. Obama menentang paham itu dengan tegas dan menang dengan dukungan mayoritas rakyat AS. Sebagian besar rakyat Amerika menganut pluralisme budaya. Buku-buku tulisan Obama menunjukkan komitmen yang mendalam terhadap pluralisme. Ibunya merasa lebih nyaman bekerja di Indonesia daripada di kampung halamannya di Amerika Serikat. 
Suami keduanya, Soetoro,adalah orang Indonesia dan Obama memiliki adik seibu bernama Maya Soetoro yang lancar berbahasa Indonesia.Kalau mahasiswa masih curiga terhadap Obama,itu refleksi ketidaktahuan. Apakah demo mahasiswa itu benar? Pada waktu kasus Bank Century mulai dihebohkan, di Makassar mahasiswa merusak Gedung Kentucky Fried Chicken dan mobil yang diparkir di depannya. 
Berkali-kali mahasiswa juga ikut berdemonstrasi melawan Menteri Keuangan SMI tanpa menunjukkan pengertian sama sekali terhadap tugas seorang menteri keuangan. Mereka tidak tahu jasanya membangun stabilitas lembaga keuangan dan kontinuitas pasar modal. Dari ketidaktahuan mengalir serangkaian sikap tanpa logika, melanjutkan sikap yang sudah terlanjur diambil.Apakah SMI-Boed harus berhenti? Mengapa? Apakah DPR harus memboikot Menteri Keuangan? Mengapa? 
Lebih mendasar lagi,sangat banyak fakta teknis yang tidak diketahui oleh aktivis politik dan mahasiswa. Andaikata sekarang diadakan kuis dengan pertanyaan sederhana mengenai perbankan,kenegaraan, dan hukum, kita tidak yakin pimpinan aksi bisa menjawab. Apa alternatif terhadap bailout? Apa itu rekapitalisasi bank dan apakah Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melakukannya dengan uang negara? 
Apa itu LPS? Sekarang masih ada tidak? Bank Anda anggota LPS bukan? Kalau aktivis memihak kepada politisi yang berasal dari dunia bisnis, patut mereka mempertanyakan perusahaan mana yang paling menikmati fasilitas pemerintah? Sejauh mana kemajuan bisnis politisi partai dibantu oleh fasilitas pemerintah? Sejauh mana kerugian politisi ”kotor” kalau orang ”bersih”seperti SMI dan Boediono tetap memegang jabatan dan tanggung jawab reformasi ekonomi? 
Kembali pada pertanyaan teman, mengapa mahasiswa sekarang lemah dalam penguasaan masalah? Jawabannya adalah sebagai berikut. Secara pukul rata, mahasiswa itu kekurangan masukan dan arahan. Bukan kekurangan informasi, tapi kekurangan informasi yang disiapkan menjadi paket dan kekurangan daya menyerap informasi mentah. Karena seringnya kita berganti pemerintahan sementara tidak ada pergantian rezim,paket arahan yang biasanya keluar dari pemerintahan tidak efektif dan lama-lama ditiadakan. 
Presiden yang ingin memberikan arahan cenderung ditolak sebelum arahannya dipelajari. Menjadi orang yang percaya pada kekuasaan memberi kesan yang kurang hebat. Sebaliknya, memberi dukungan kepada oposan terkesan sebagai sikap yang satria bagi aktivis mahasiswa.Sangat mudah untuk memberikan dukungan pada gerakan yang disemangati perlawanan seperti Kompak (Koalisi Masyarakat Sipil Anti-Korupsi) atau KAPAK (Komite Aksi Pemuda Anti-Korupsi). 
Bahkan, Indonesia Corruption Watch (ICW) yang semula adalah badan yang teknokratis dan memelopori penggalian kasus korupsi akhirnya tidak mau ketinggalan mencela setiap usul konstruktif yang datang dari penguasa. Terakhir yang lucu adalah tuntutan ICW untuk mengganti Ketua DPR karena sikapnya otokratis. Hal semacam itu berada jauh dari wilayah ICW. 
Tokoh yang banyak bicara ditampilkan oleh stasiun TV berita menjadi sangat populer walaupun yang disampaikan di layar televisi lebih banyak kecurigaan dan kebencian, bukan fakta untuk menegosiasikan jalur sempit menuju reformasi. Tidak ada input yang memberikan kesan positif mengenai pemerintahan. Tentu,kita tidak menginginkan keadaan zaman Soeharto di mana pemerintah selalu dicitrakan positif karena justru regimentasi semacam inilah yang membuat kita menolak rezim Soeharto. 
Meski demikian,hilangnya sumber informasi yang positif menjadi masalah ketika sekarang pemerintahan mulai menunjukkan hasil positif. Sayang sekali, pemerintah sebagai sumber informasi positif terdiskreditkan habis oleh malapraktik puluhan tahun yang dilakukan rezim Soeharto.(*) 
Wimar Witoelar 
 

 

 

Wimar Witoelar 


 


Teman dekat saya yang mahasiswa bertanya, ”Mengapa mahasiswa sekarang sangat lemah dalam penghayatan masyarakat? Kok banyak sekali demo asalan, memihak orang yang banyak bersalah, menghujat orang yang jelas berguna untuk negara kita?” 


Kata-katanya terdengar sebagai ungkapan yang subjektif, sama dengan subjektivitas saya. Kalau mau objektif, mungkin orang harus bilang bahwa mahasiswa berjiwa bebas. Dia melawan kemapanan dan tidak bisa diatur. Objektivitas dan subjektivitas tidak datang dengan ukuran.Yang penting sekarang bukan soal subjektif atau tidak, tapi apakah orang tahu perbedaan mana yang benar atau tidak? 


Sebab media banyak dimiliki orang yang berkepentingan dengan politik dan dua televisi berita merupakan milik pihak yang tidak suka dengan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),maka tidak bisa diharapkan kebenaran akan keluar dari kedua televisi itu. ”Koran” besar juga entah mengapa mengambil sikap berseberangan dengan Presiden. Hal yang jarang terjadi sejak ”koran” itu menyerang Presiden Habibie dengan argumen yang lebih bisa dimengerti. 


Aktivitas mahasiswa dan demonstrasi massa yang diatur aktivis dalam tiga bulan ini didasarkan atas praduga bahwa Sri Mulyani dan Boediono itu bersalah. Kalau bukan kesalahan kriminal, dicari kesalahan kebijaksanaan. Kalau tidak bisa ditunjukkan kesalahan kebijaksanaan karena negara kita terhindar krisis ekonomi akibat kebijaksanaan mereka, dicari kesalahan administratif dalam pelanggaran aturan.


Kalaupun itu tidak ketemu, diembuskan kesalahan ideologi neolib, pengikut Barat,dan sebagainya. Yang paling mengecewakan adalah tuntutan atas mereka untuk mundur walaupun tidak ada bukti melakukan kesalahan.Argumen gerakan ini adalah agar pemeriksaan bisa dilakukan dengan bebas. Dari keinginan ini lahir disinformasi yang membuat orang kehilangan arah. 


Apakah SMI (Sri Mulyani Indrawati)- Boed (Boediono) benar bersalah? Setelah Pansus bekerja tiga bulan,tidak ditemukan bukti kriminal. Logika pembuktian terbalik dengan mudah bisa menunjukkan bahwa kedua pejabat itu bersih. Apalagi dibandingkan dengan pendakwa mereka di DPR dan partai. Namun, mereka tetap dinyatakan bersalah berdasarkan pengambilan suara yang emosional. 


Mahasiswa bukannya melihat dengan mata kritis,malah ikut arus mempersalahkan sampai meminta mereka mundur.Kalau ini dinyatakan sebagai move politik, masuk akal. Jelas, partai politik yang kalah pemilu itu ingin cepat bersiap untuk menguatkan posisi pada 2014.Kita tidak naif terhadap politik. 


Namun,yang menyedihkan dan membuat luka dalam kelangsungan kehidupan masyarakat adalah bahwa proses kriminalisasi orang tak bersalah memorak-porandakan penghayatan orang terhadap yang benar dan yang salah. Orang terlalu sering mendengar kebohongan sehingga mulai mengalami internalisasi kepalsuan yang dipropagandakan.


Apakah Barack Obama patut dicurigai? Ya, kata ekstremis, karena Amerika Serikat lebih banyak melakukan teror daripada teroris.Apa betul? Kalaupun betul, apakah Obama termasuk pendukung teroris? Orang yang sedikit tahu kenyataan tersenyum, bahkan tertawa mendengar pendapat yang bodoh ini. Kenyataannya adalah dunia mengambil napas lega ketika Obama terpilih menjadi Presiden AS.Terutama karena ia mengalahkan George W Bush yang merusak perdamaian dunia akibat kebijaksanaan unilateral melawan Irak dan Afghanistan. 


Secara implisit, Bush dianggap memandang terorisme itu sebagai perwujudan perang peradaban antara dunia Barat dengan dunia Islam. Obama menentang paham itu dengan tegas dan menang dengan dukungan mayoritas rakyat AS. Sebagian besar rakyat Amerika menganut pluralisme budaya. Buku-buku tulisan Obama menunjukkan komitmen yang mendalam terhadap pluralisme. Ibunya merasa lebih nyaman bekerja di Indonesia daripada di kampung halamannya di Amerika Serikat. 


Suami keduanya, Soetoro,adalah orang Indonesia dan Obama memiliki adik seibu bernama Maya Soetoro yang lancar berbahasa Indonesia.Kalau mahasiswa masih curiga terhadap Obama,itu refleksi ketidaktahuan. Apakah demo mahasiswa itu benar? Pada waktu kasus Bank Century mulai dihebohkan, di Makassar mahasiswa merusak Gedung Kentucky Fried Chicken dan mobil yang diparkir di depannya. 


Berkali-kali mahasiswa juga ikut berdemonstrasi melawan Menteri Keuangan SMI tanpa menunjukkan pengertian sama sekali terhadap tugas seorang menteri keuangan. Mereka tidak tahu jasanya membangun stabilitas lembaga keuangan dan kontinuitas pasar modal. Dari ketidaktahuan mengalir serangkaian sikap tanpa logika, melanjutkan sikap yang sudah terlanjur diambil.Apakah SMI-Boed harus berhenti? Mengapa? Apakah DPR harus memboikot Menteri Keuangan? Mengapa? 


Lebih mendasar lagi,sangat banyak fakta teknis yang tidak diketahui oleh aktivis politik dan mahasiswa. Andaikata sekarang diadakan kuis dengan pertanyaan sederhana mengenai perbankan,kenegaraan, dan hukum, kita tidak yakin pimpinan aksi bisa menjawab. Apa alternatif terhadap bailout? Apa itu rekapitalisasi bank dan apakah Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melakukannya dengan uang negara? 


Apa itu LPS? Sekarang masih ada tidak? Bank Anda anggota LPS bukan? Kalau aktivis memihak kepada politisi yang berasal dari dunia bisnis, patut mereka mempertanyakan perusahaan mana yang paling menikmati fasilitas pemerintah? Sejauh mana kemajuan bisnis politisi partai dibantu oleh fasilitas pemerintah? Sejauh mana kerugian politisi ”kotor” kalau orang ”bersih”seperti SMI dan Boediono tetap memegang jabatan dan tanggung jawab reformasi ekonomi? 


Kembali pada pertanyaan teman, mengapa mahasiswa sekarang lemah dalam penguasaan masalah? Jawabannya adalah sebagai berikut. Secara pukul rata, mahasiswa itu kekurangan masukan dan arahan. Bukan kekurangan informasi, tapi kekurangan informasi yang disiapkan menjadi paket dan kekurangan daya menyerap informasi mentah. Karena seringnya kita berganti pemerintahan sementara tidak ada pergantian rezim,paket arahan yang biasanya keluar dari pemerintahan tidak efektif dan lama-lama ditiadakan. 


Presiden yang ingin memberikan arahan cenderung ditolak sebelum arahannya dipelajari. Menjadi orang yang percaya pada kekuasaan memberi kesan yang kurang hebat. Sebaliknya, memberi dukungan kepada oposan terkesan sebagai sikap yang satria bagi aktivis mahasiswa.Sangat mudah untuk memberikan dukungan pada gerakan yang disemangati perlawanan seperti Kompak (Koalisi Masyarakat Sipil Anti-Korupsi) atau KAPAK (Komite Aksi Pemuda Anti-Korupsi). 


Bahkan, Indonesia Corruption Watch (ICW) yang semula adalah badan yang teknokratis dan memelopori penggalian kasus korupsi akhirnya tidak mau ketinggalan mencela setiap usul konstruktif yang datang dari penguasa. Terakhir yang lucu adalah tuntutan ICW untuk mengganti Ketua DPR karena sikapnya otokratis. Hal semacam itu berada jauh dari wilayah ICW. 


Tokoh yang banyak bicara ditampilkan oleh stasiun TV berita menjadi sangat populer walaupun yang disampaikan di layar televisi lebih banyak kecurigaan dan kebencian, bukan fakta untuk menegosiasikan jalur sempit menuju reformasi. Tidak ada input yang memberikan kesan positif mengenai pemerintahan. Tentu,kita tidak menginginkan keadaan zaman Soeharto di mana pemerintah selalu dicitrakan positif karena justru regimentasi semacam inilah yang membuat kita menolak rezim Soeharto. 


Meski demikian,hilangnya sumber informasi yang positif menjadi masalah ketika sekarang pemerintahan mulai menunjukkan hasil positif. Sayang sekali, pemerintah sebagai sumber informasi positif terdiskreditkan habis oleh malapraktik puluhan tahun yang dilakukan rezim Soeharto.

bagian berikut tidak turut dimuat oleh SINDO:

Kasus Pansus adalah topik  yang sangat tidak penting. Pematangan demokrasi,  penegasan pluralisme, manajemen ekonomi, perubahan iklim adalah empat tema yang harus didukung dengan tidak disandera oleh kepentingan . Dalam tiap kategori permasalahan, ada pilihan-pilihan yang harus diambil. Diperlukan pertisipasi masyarakat dan kecerdasan mahasiswa untuk ramai-ramai memikirkan opsi yang ada. Sistem parlementer atau presidensial? Pengamanan desentralsiasi. Pluralisme  dikaitkan dengan pencegahan sikap ekstrim seperti hukum syariah.

Semua dialog ini bisa dibuka kembali kalau kita membuka belenggu informasi dari tangan kuat politik uang. Tegaskan regulasi media untuk membatasi bias politik pada televisi. Ciptakan program dan stasion yang menekankan sosialisasi permasalahan dan presentasi fakta. Dukung pemberdayaan masyarakat yang tidak diwakili di DPR dan media. Jika pengertian dasar ini dipahami, pengaturan teknis relatif mudah diatur.

 




 


 

Print article only

50 Comments:

  1. From Masykur on 15 March 2010 05:43:47 WIB
    Jujur saya sependapat dengan bapak, tapi bukan karena saya pegawai pajak lho ya.. ehm :D ..tentang bail-out Century, saya lebih condong pada pernyataan Budiono; bawa saja ke meja hijau, biar plong semua. Toh baik Budiono maupun Sri Mulyani siap bertanggung jawab atas kebijakan yang dihebohkan tersebut, selama itu di meja hijau, bukan di panggung politik (dan di panggung media pula). Selain itu, yang sering dilupakan orang banyak adalah; pertama, nasib para nasabah 'korban' Century yang simpanannya menguap begitu saja.. kedua, dari sisi orang awam, bail-out Century sama sekali tidak berdampak negatif pada kehidupan ekonomi rakyat. Justru setelah menjadi kasus (dan pansus) yang berlarut-larut, sedikit banyak mempengaruhi jalannya perekonomian negara ini, paling tidak, pemerintah saat ini hampir tidak memiliki ruang gerak untuk menjalankan program-programnya karena 'terpaksa' disibukkan oleh berlarut-larutnya kasus bail-out Century tersebut. Mahasiswa? wah, saya enggan berkomentar, karena saya hanya lulusan D1 :D
  2. From Susy Rizky on 15 March 2010 06:19:34 WIB
    Sebetulnya mahasiswa yang bagus lebih banyak kok Oom Wim. Cuma cenderung lebih senang diskusi daripada turun ke jalan. Yang turun ke jalan itu saya yakin persentasenya kecil sekali, tapi pakai mic dan speaker jadi kesannya gimana gitu lohh...
  3. From wimar on 15 March 2010 06:53:37 WIB
    persis Susy, jadi net effect adalah informasi dari mahasiswa yang baik tenggelam dalam banjir disinformasi dari mahasiswa turun ke jalan. Motornya adalah provokasi TVOne dan Metro TV dan uang Bakrie. Poor SMI remains the nation's hero, tapi sangat mungkin tersia-siakan oleh kebisingan disinformasi
  4. From Susy Rizky on 15 March 2010 07:19:35 WIB
    Dalam beberapa diskusi yang 90% dihadiri oleh mahasiswa sebagai floor, mereka menyambut kami dengan antusias pada waktu kami memperkenalkan diri sebagai pendukung SMI di Facebook...Padahal teman-teman dan saya sudah siap disumpah serapahi, ternyata yg terjadi malah sebaliknya...
    Makanya saya optimis Oom, masih banyak mahasiswa yg baik. Yg dijalanan itu siapa kita nggak tau...jaket bisa di beli di Proyek Senen Oom.
  5. From wimar on 15 March 2010 07:23:02 WIB
    Susy punya nama twitter? saya ingin angkat disana juga, dan dui koprol
  6. From Nusa Arkad on 15 March 2010 07:38:05 WIB
    dua televisi besar itu seperti air bah. memberi informasi seperti banjir, keruh dan penuh sampah.
    demo-demo itu, menurut saya om. karena ketidakcerdasan memilah informasi yang bening dan yang keruh. lalu terjebak histeria massa. dan massa itu sampah, tidak punya logika, dan tidak punya tanggung jawab individu.

    alangkah menyebalkan jika orang-orang yang berguna buat negeri ini, terus diganggu oleh histeria massa yang disesatkan air bah informasi tersebut.

    mudah-mudahan publik semakin cerdas, memilah sampah yang bisa didaur ulang dan yang harus dibakar.

  7. From Susy Rizky on 15 March 2010 07:48:08 WIB
    Saya punya twitter tapi masih belum canggih make nya Oom Wimar, @susyrizky. Padahal saya lihat cukup efektif untuk menggalang dukungan buat SMI dan Pak Boed.
  8. From jaka on 15 March 2010 08:08:10 WIB
    Lagi-lagi strategi simplifikasi ...
    sayah berdoa pak SBY dan tim mampu melakukan counter yg baik terhadap strategi merusak logika publik ini ,agar masyarakat tidak menganggap berita2 di kedua televisi itu sebagai suatu kebenaran setelah dibombardir berita2 bohong itu...

    Kalau soal demo mah,ngga usah dikuatirkan lah...itu mah cuma preman yg dikasih jaket almamater saja...Apalagi yg di makasar itu ,hampir semua tau siapa juragannya di sana..

  9. From yalber on 15 March 2010 08:35:16 WIB
    sepakat sm tulisan om wimar. kalau dibikin survei di kampus, para aktivis itu bakalan malu kalau ternyata jumlah mahasiswa tipe ini mungkin sekitar 5%.

    mahasiswa kita masih berpikir 'melawan pemerintah' itu keren dan berani. mereka terobsesi seperti pendahulunya yang berhasil menumbangkan suharto. dan kebanyakan aktivis sekarang ini berkemampuan intelektual rendah, mahasiswa yang pinter pinter udah malas ikutan demo. sekarang aktivis mahasiswa di isi oleh mereka yang melihat peluang politik selepas tamat kuliah.

    sama dengan para aktivis LSM dan pengamat politik, aktivis mahasiswa melihat peluang mencari popularitas di media saat ini adalah dengan cara klasik yaitu 'melawan pemerintah'
  10. From Nofriyon Nasir on 15 March 2010 08:52:57 WIB
    Saya bagikan, mudah2an teman2 mhsw menbacanya. tapi saya yakin tak semua mahasiswa bersikap seperti yang berdemo/merusak itu. thanks
  11. From wandi on 15 March 2010 09:11:47 WIB
    sebenarnya mahasiswa yg ikut demonstrasi hanya sedikit sekali,hanya puluhan orang, tetapi karena di beritakan berulang-ulang maka kesannya seolah-olah demonstrasi tersebut di lakukan oleh seluruh mahasiswa.
  12. From Mochdihato on 15 March 2010 09:21:33 WIB
    Saya setuju bahwa informasi2 yg tidak benar di media tv akan berdampak signifikan terhadap opini publik. Kita harus memaklumi bahwa sebagian rakyat kita baru bisa menikmati pemberitaan dari tv, masih jauh dari media cetak apalagi internet. Buat acara pemilu 2014 nanti sudah harus mulai difikirkan aturan main tv2 swasta yg akan dipakai sebagai kampanye politik si pemilik tv
  13. From Muhammad Miftakhul Ikhsan on 15 March 2010 10:14:41 WIB
    saya sangat setuju dengan pemikiran pak wimar...
    menurut pandangan saya, mereka-mereka yang \"menyerang\" SMI-Boed hanyalah sekelompok orang yang mementingkan golongannya sendiri saja...
    CMIIW!
  14. From benhan on 15 March 2010 10:29:09 WIB
    WW, Susy Rizky kan pentolannya FB grup KPI-SMI. Dan di grup kami itu banyak juga mahasiswa yang bisa berdialog dengan jernih. Saya setuju dengan Susy, waktu taping Barometer-SCTV saja mahasiswa cukup okelah perspektifnya soal Century ini.
    Problem utama ada sekelompok mahasiswa melakukan politik praktis di kampus, ada forum2 mahasiswa bayaran, ada yg mau mulai rintis karir politik sehingga menurut mereka vokal beroposisi itu gagah.
    Penjernihan informasi lewat Facebook, twitter dan lewat tulisan2 di perspektif ini sangat membantu untuk menyeimbangkan arus informasi yang sudah berat sebelah dan menyesatkan ini.
  15. From budi susetyo on 15 March 2010 12:43:53 WIB
    saya setuju dengan om wimar. diskusi kantor guru ketika istirahat tidak simpatik sama sekali dengan sikap DPR yang emosional dan hanya ingin meningkatkan citra yang sudah jelek. setelah mendengar pidato pak SBY kami bertambah mantap dengan langkah presiden, SBY, Boediono, SMI maju terus kami semua mendukung.

    sebagian kecil mahasiswa sekarang kehilangan arah pergerakan dan tidak simpatik, mudah dibeli, tidak murni. sebagai mantan aktivis 98 saya kecewa. Bravo mahasiswa penerus bangsa jangan ikutan demo yang ga jelas apalagi sampai dibayar.TVone dan MetroTV berat sebelah. Makasih
  16. From Heri NXI on 15 March 2010 13:47:53 WIB
    informasi dari media televisi yg ada saat ini sangat ter-politisir. parahnya, berita2 dari sudut pandang politis mereka, disajikan kepada masyarakat sebagai sebuah kebenaran. senang dengan temen2 mahasiswa yg masih kritis & pro-aktif, tapi sedih juga melihat perjuangan mereka yg "urakan".
  17. From Mundhori on 15 March 2010 14:40:02 WIB
    Pilar keempat demokrasi yaitu pers (media) saat ini sangat kuat perannya, karena pilar yg lain seperti DPR sudah tidak dipercaya lagi oleh rakyat. Lembaga yudikatif turut tersorot oleh media, sementara eksekutif/ pemerintah sedang diuji dalam masalah bail out BC. Karena pers (media) sendiri dikuasai oleh kapitalis yg sedang berhadap hadapan kepentingan dg pemerintah. Sehingga power media untuk mem blow up permasalahan pemerintah jadi meraja lela tanpa keseimbangan demi kepentingan pemilik media Kini media yg netral apakah masih ada ??. Yang eksis media kapitalis Dampaknya kebebasan informasi secara liar mengaburkan permasalahan berubah menjadi pemicu komplik di masyarakat, yang dengan mudah dapat dieksplor menjadi porspek dalam bentuk informasi yg spektakuler
  18. From Jean Gerardino on 15 March 2010 16:47:34 WIB
    WW,

    kalo mau dianalogikan secara \"goblok-goblokan\" mungkin mahasiswa yg turun ke jalan itu mirip dengan korps baju coklat Sturmabteilung (SA) - nya Nazi di era kebangkitan Hitler yang berperan sebagai enforcer di lapangan. Kerjanya cuma bikin rusuh doang. Sementara dua televisi swasta itu lebih mirip seperti corongnya Joseph Goebbels, menteri propaganda, yang tugasnya memang memberikan disinformasi sebanyak-banyaknya & seluas-luasnya kepada publik.

    setuju banget sama Susy bahwa mahasiswa yang baik masih sangat JAUH lebih banyak dibanding mereka yang kelakuannya bikin preman terminal jadi minder. wong yang demo di kampus UI aja (FAM-UI)disumpah serapahi sesama mahasiswa jaket kuning karena bikin malu almamater. tabik!
  19. From Korlap on 15 March 2010 17:31:18 WIB
    Bang Wim,.....sebenarnya mau demo atau mau diskusi kalau menurut saya sih tergantung pilihan aksinya saja jadi enggak perlu kita benturkan, keduanya sama sama sah, kontradiksi kedua aksi ini hanya akan membuat dinamika kesadaran politik mahasiswa akan set back kembali ke masa Orde Baru lagipula bukankah kebebasan beropini dan berdemontrasi itulah salah satu tujuan dan cita cita reformasi 1998 khan ? Mungkin Bang Wim sebagai mantan aktifis punya ide agar bagaimana gerakan massa politik mahasiswa saat ini tidak kehilangan greget idealisme intelektualnya seperti pernah terjadi di masa lalu misalnya : Malari, Gerakan Mahasiswa 1978, Demo SDSB, Demo anti pembreidelan Tempo dan klimaksnya tahun 1998. Nah kalau hal ini sudah terjawab saya kira akan mudah buat kita memetakan demo2 mahasiswa akhir2 ini, selain itu saya percaya publik politik Indonesia saat ini semakin cerdas dan tecerahkan, mungkin yang terbaik di Asia Tenggara, dalam melihat fenomena politik dan demo2 berikut liputan media massa (mau milik siapa juga media tersebut), lambat laun isu isu yang dianggap tidak signifikan akan hilang dengan sendirinya dan terlihat hanyalah sebagai petualangan politik belaka......gimana Bang Wim....??? Hidup Reformasi.....!!
  20. From djaka on 15 March 2010 17:37:34 WIB
    Bukankah situasi semacam ini dulu juga yang mendorong Pemerintah Soeharto memberlakukan NKK-BKK jaman 1975 (Daoed Joesoef) dulu ? Tangan2 organisasi politik terlalu masuk ke organisasi mahasiswa. Sementara itu, organisasi mhs takut bersekutu dgn dunia usaha (pdhal baik bagi profesionalitas mereka) krn takut terkooptasi.

    Tampaknya, pemerintah atau regulator lainnya, atau pihak2 yg punya kuasa, hrs bisa menemukan resep jitu bgmn mengarahkan energi mhsw Indonesia supaya bermanfaat bg kemajuan bangsa, bukan jd kepanjangan tangan politisi.
  21. From Fajar Riadi on 15 March 2010 22:42:33 WIB
    Setuju Om Wimar. Saya sendiri juga masih mahasiswa. Kalau boleh memberi sedikit pandangan Om, mahasiswa tidak langsung melihat arah gerakan dari perspektif ke Metro TV atau TV One. Tapi kepada aktivis-aktivis yang sering ditampilkan oleh kedua stasiun TV itu. Metro TV dan TV One memang bias, tapi aktivis-aktivis jebolan jaman reformasi juga patut menjadi tempat wasangka: bagaimana mereka bisa sebegitu brutalnya mengkritisi pemerintahan. Saya tidak berburuk sangka kepada personal. Tapi ketika mahasiswa melihat dan mendengar orang-orang dengan label pengamat politik, ekonom, atau ahli-ahli yang lain, mereka mudah saja tergiring dengan opininya.
    Saya sepakat pada kalimat Om Wimar bahwa mahasiswa \"Bukan kekurangan informasi, tapi kekurangan informasi yang disiapkan menjadi paket dan kekurangan daya menyerap informasi mentah\", tapi media juga terlalu cepat memberi label kepada seseorang sebagai ahli, dll. trims
  22. From hok on 15 March 2010 23:33:26 WIB
    Dalam perspektif saya , masyarakat Indonesia harus sudah waspada terhadap peristiwa2 politik di Indonesia saat ini.

    Bukan tidak mungkin semua peristiwa ini merupakan campur tangan pihak luar yg memanfaatkan para pengusaha dan politisi bermasalah Indonesia -dengan tanpa disadari- ,untuk melemahkan posisi geopolitik Indonesia di percaturan dunia dan merusak persatuan dan kesatuan bangsa ini, setelah melihat ketangguhan Indonesia dalam menghadapi krisis ekonomi 2008 yg baru lalu yg dimotori oleh SBY,SMI dan Boediono.

    Adalah sangat bijaksana bila Rakyat Indonesia Raya, mahasiswa berintelektual baik, serta komponen2 media massa bersikap waspada untuk tidak mudah dihasut dan terpancing untuk melemahkan negeri Indonesia Raya yg kita cintai ,bukan ?
  23. From Chandra on 15 March 2010 23:46:06 WIB
    Namanya juga politik, yang dituju kekuasaan dan caranya kerap kali memang penuh dengan intrik dan kebohongan.Yang saya khawatirkan bahwa satu saat SBY bakalan "buang" SMI dan Boediono sdh mulai kelihatan tanda2nya. Baca http://www.detiknews.com/read/2010/03/15/182633/1318773/10/presiden-sby-minta-pertimbangan-boediono-dan-sri-mulyani . Seperti Soeharto yang bersemboyan Menang Tanpo Ngasorake, SBY dengan bahasa tubuhnya mingkin lagi minta SMI dan Boediono "tahu diri". Yakin hakkul yakin bahwa kedua pahlawan reformasi itu yang seperti saya orang Jawa, sdh bisa tangkap isyarat2. Mudah2an saya salah.
  24. From Rubiyanto on 16 March 2010 01:46:31 WIB
    benar Pak, gelombang reformasi yang melaju cepat, malah banyak membuat orang bingung ... weleh-weleh ....
  25. From Takdir Somali on 16 March 2010 07:58:13 WIB
    Banyak pemuda cerdas sudah bicara disini. Aku yg hanya lulusan SD jadi tambah bisa menghayati apa yang sedang terjadi sekarang. Mahasiswa yang akan jadi penerus/pemikir di negeriku ini sekarang kok malah jadi monster yang menakutkan. Ngomong, teriak sesukanya, bahkan merusak sudah menjadi budayanya. Tapi aku jadi lega, menurut penuturan mBak Suzy, masih banyak mahasiswa yg masih \"mau\" menggunakan logika sehatnya untuk \"ngalah\" tidak populair dengan tidak mengikuti arus \"heroisme\" melawan pemerintah. Gagah sih gagah, tapi kalau isinya copong buat apa menjadi \"gagah\" spt ini.
    Hoamat saya.

  26. From Aris Rismawan A on 17 March 2010 12:37:47 WIB
    Maaf saya hanya punya pendapat yang berbeda dengan rekan2 dan Pak Wimar. Menurut saya kenapa mahasiswa sampai demo ke jalan2 (Sebagian kecil), adalah impact dari pemerintahan sendiri dan juga wakil rakyatnya. Apakah benar pemerintahan Pak SBY, dengan anak buahnya SMI dan Pak Boed tidak punya kepentingan sendiri atau golongan?.
    Impact dari pemerintahan terhadap sebagian masyarakat atau mahasiswa adalah sudah terlalu lamanya dan bosannya program2 yang dijalankan pemerintahan tidak mencapai kepada pihak yang paling dasar yaitu masyarakat kecil, pengangguran masih banyak, infrasturktur masih kurang bagus bahkan jelek, dsb. Program2 dari Pak SBY dan Bu SMI adalah program2 yang bagus dan brilliant tapi implementasi dan sasaran kepada masyarakat kecil tidak mengena.
    Kalau impact dari wakil rakyat adalah, suara rakyat kecil kadang tidak di dengar, kenapa tiap kantor wakil partai di DPC, DPD atau DPP tidak membuka layanan masyarakat untuk keluhan dan saran, missal dibuka tiap hari kamis setiap minggunya supaya bisa menampung aspirasi yang sebenar2nya dari masyarakat dan dapat disampaikan di DPR pusat nanti, coba Partai Demokrat, Golkar, PKS, PDIP, dan yang lainnya membuka layanan aspirasi masyarakt setiap seminggu sekali, kemungkinan bisa meminimalisir masyarakat atau mahasiswa yang demo ke jalan sehingga sampai brutal.
    Jadi intinya mahasiswa yang berdemo di jalan adalah sebagai salah satu aspirasi yang disampaikan oleh sebagain mahasiswa yang berbeda pendapat jadi menurut saya sah-sah saja karena memang impact dari pemerintahannya sendiri juga wakil rakyatnya.
    So, saya harapkan jangan menyalahkan mahasiswa yang tidak bisa memilah informasi yang baik dan benar ataupun stasiun TV, baik itu TV one atau TV-TV yang lainnya pasti sama, akan digunakan untuk kepentingan umum dan pemiliknya. Coba kalau Partai democrat atu Pak SBY punya stasiun TV pasti melakukan hal yang sama. Coba oleh rekan2 analisa mengenai sikap dari Pak Pohan sewaktu diadakannya konprensi pers mengenai buku Gurita Cikeas, Pak Pohan terlihat dengan sengaja memancing emosi George sehingga sampai terjadi pedampratan George oleh bukunya ke kepala Pak Pohan. Apakah ini bukan intrik politik supaya si George bisa di ajukan ke pengadilan?. Coba lihat lagi ada 2 orang staf ahli kepresidenan dengan gagahnya dan lantangnya membongkar adanya kasus LC fiktif, yang notabene mereka ini adalah staf ahli bidang bencana tetapi terjun sampai harus menyelidik kasus LC fiktif?, aneh bin ajaib seharusnya mereka ini memberikan program2 untuk menanggulangi bencana2 alam seperti bencana longsor, apakah mereka ini ada untuk mengkoordinir bantuan di lapanagan? apakah ini bukan intrik politik?.
    Hal lainnya mengenai Billout Century, menurut saya memang sudah betul dan sesuai dengan policy ataupun peraturan, tapi menurut rasa “KEADILAN” dimata masyarakat apakah sudah adil?. Menurut saya belum adil?, kenapa?, SMI dan Pak Boed (Pemerintahan) dengan begitu mudahnya memberikan bantuan kepada sebuah bank kecil sehingga mencapai 6.7T, memang diakui pada waktu itu krisis, tapi apakah harus sebesar itu bantuannya?.
    Jadi tolong rekan2 disini untuk bisa mengerti kenapa mahasiswa atau masyarakat sampai berdemo ke jalan. Memang pemerintahan sekarang ini masih kurang adil terhadap masyarakat kecil.
    Rekan2 bisa lihat Negara tetangga kita seperti Singapore, apa yang mereka lakukan pada waktu krisis 2008?, mereka membantu sector keuangan juga sekalian membantu kepada msyarakat pada umumnya contohnya adalah pemerintahan Singapore memberikan discount pajak pada waktu itu kepada masyarakat supaya beban pajaknya berkurang, kemudian membuka dan mencarikan lapangan pekerjaan seluas2nya kepada masyarakat. Jadi disini dirasakan oleh masyarakat keadilan dari pemerintahan mereka, satu sisi bantu perekonomian di sector perbankan disisi lainnya membantu masyarakat dalam menghadapi krisis.
    Coban bandingkan dengan kebijakan dengan pemerintahan kita?, apakah sudah adil?, mohon rekan2 sendiri yang menilainya.
    Jadi sekali lagi mohon, rekan2 disini dalam menilai terhadap sesuatu perlu penilaian disertakan pula dengan cara “SEBAB-AKIBAT”, sebabnya apa? Mahasiswa atau rakyat berdemo ?, akibat dari apa?. Kalau memang tidak ada sebab sudah pasti tidak akan ada yang berdemo. Nah tolong rekan-rekan semuanya dan Pak Wimar untuk bisa menganalisis sesuatu secara “Sebab-akibat”, bukan sekedar penilaian background atau track record seseorang itu bagus, terus karena kurang memilah informasi, terus karena stasiun TV ini dan itu kepunyaan seseorang. Sudah pasti siapapun itu baik yang punya uang ataupun kekuasaan pasti punya kepentingan sendirinya dan golongannya.
    Saya cinta sekali tanah air dan Bangsa Indonesia ini cuman terkadang sedih, kenapa bisa kalah dengan Negara-negara lain yang sudah kecil tidak punya pula sumber daya alam?, seperti Singapore ini hanya Negara makelar saja tapi bisa membangun begitu hebatnya dan punya cadangan devisa yang besar, akan tetapi kita Negara besar punya sumber daya alam yang besar pula belum bisa seperti mereka?, apakah karena pemimpin kita ataukah karena rakyatnya?. Rekan2 sekalianlah yang bisa menilai.
    Mudah2an kedepan kita punya pemimpin yang jujur, adil, berani dan tidak takut atas kebenaran.
    Salam.
    Aris
    Yang lagi merantau
  27. From JULIUS on 17 March 2010 15:36:27 WIB
    Mahasiswa, aktivis, pengamat butuh panggung. TV*ne dan M##ro Tv butuh berita agar agar asap dapur tetap ngebul. kalo saya malah kasian ngeliat prensenter kedua tivi tersebut keliatannya orang pintar tapi disetir oleh pemrednya yg notabene pemred juga sangat mengamankan kepentingan si pemilik. hmm untunglah ada social media.
  28. From hirawan on 17 March 2010 16:35:43 WIB
    Saya angkat topi buat Bung Wimar. Saya sangat setuju pemikirannya. memang sekarang ini sdh mulai dgn generasi tawuran baik Politisi maupun Mahasiswa termasuk juga para rakyat kecil di desa, semua maslah sekarang penyelesaianya pakai tawuran ,pakai otot atau otak dengkul bukan intelektual. kantor desa diserang, kantor Polsek dibakar dilempari dsb.......!!! Ini mennjukan sdh berhasilnya para reformist yg kebablasan menerapkan demokrasi yg liberal tanpa batas kearifan. Motornya kita tahu Kyiai H Amien Rais yg katanya pernah menjadi Pimpinan organisasi besar islam dan bahkan pernah jadi ketua MPR. menurut saya memang sudah sepantasnya kalau ada orang yg menyebut dia sebagai anak kecil, atau kita gelari Provokator, kita kalau dia sdh bicara pasti peristiwa2 besar terjadi. Payahlah sekarang ini yg benar bisa jadi salah juga sebaliknya yg salah bisa jadi benar. Audzubillahimindzalik....maju terus bung Wimar .....!!!!!!!!
  29. From agusti esden on 17 March 2010 17:50:58 WIB
    bung wim, saya juga mantan demonstan era suharto, pernah merasakan duduk di kantor \\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\"laksus\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\", tapi saya tidak mengerti kalau mahasiswa sekarang jadi tidak beretika? dan katanya jadi demo bayaran? kapan lagi hati nurani mereka bicara dengan tulus tanpa imbalan. Dan bagaimana nasib bangsa ini nantinya kalau mereka itu nantinya menjadi penjabat negara? Alangkah malangnya nasib bangsa ini, kalau media masa telah berbuat memancing anarkis. Para politikus yang duduk di Senayan juga melakukan perbuatan anarkis kalau sampai memboikot SMI. Jadikanlah hukum sandaran utama bangsa, jangan sampai omong doang dan anarkis menjadi patokan hukum.
  30. From edyragil on 17 March 2010 19:29:02 WIB
    saya sependapat dengan tulisan bang wimar. banyak media dan pemimpin media terokuptasi oleh politikus. mereka ingin tampil wah seolah garang itu berpihak pada rakyat
  31. From djaka on 17 March 2010 22:33:09 WIB
    Ini sekedar menanggapi "pembelaan" Pak Aris (Posting 26.)

    Pak, kayak publik itu tidak tahu siapa di belakang demo2 mahasiswa itu dan apa afiliasi politik mereka ?

    Terus terang saja, publik Indonesia ketika Pemilu kemarin itu kan sbtlnya "membuang dua yang terburuk". Publik juga ngga mengharap kok semua jadi adil makmur sejahtera tata tentrem kerta raharja gemah ripah loh jinawi dalam seratus hari. Tapi dgn memilih SBY-Boediono mereka berharap itu yg akan menjaga mereka, drpd milih yg dua sisanya.
  32. From Herry Jo on 18 March 2010 07:06:02 WIB
    Kawan2, pembiasan substansi berita dgn menggunakan media adalah hal yang membahayakan demokrasi. Tp kita sadari hal tersebut shg sebagian dr kita, spt Bung WW, berjuang dgn wahana yang dimiliki mencoba membalans. Tidak gampang krn sebarannya terbatas. Setiap kali sy naik taxi di Jakarta, sy mencoba melakukan "survey" kecil cara pandang supir taxi terhadap isu yg sedang hangat. Minggu lalu sy bertanya kepada 3 supir taxi, mohon tidak usah dipertanyakan keabsahan jawabannya, tp hal yg mengganggu sy adalah sewaktu sy bertanya siapa yg mereka percayai sebagai pihak yang bermoral, P.Boed-SMI atau Pansus DPR (dgn menyebut beberapa nama tokoh inisiatornya). Kawan2, mereka menjawab yang merepa percayai secara moral menjalankan kebenaran buat bangsa dan negara ini adalah Pansus DPR. Sy duduk diam dan mencoba mencari rasionalisasi jawaban tersebut...dan menurut sy, Bombardir berita membuat mereka terkooptasi dgn pameo bahwa Kalau ada Api pasti ada Asap. Kalau ada Pansus tentu karena mereka Melakukan kesalahan. Waduh, profil mayoritas penduduk negara kita adalah seperti "responden" td. Mereka "tercuci", bukan karena kebenaran tp krn pembenaran. Kawan2, sy sedih sekali, syukur dalam milis ini kawan seide (tidak harus se ideologi) memcoba berbuat. Bung WW, ada temen kita yang senang sekali mengutip Edmund Burke "The only thing necessary for the triumph of evil, if good man do nothing". Maka....Berbuatlah, berbicaralah, bertindaklah. Kawan2 aktifis mahasiswa yg melihat dr sisi yang lain jg seharusnya jangan mendiamkan, tetapi menyuarakan keyakinannya, kawan2 LSM dan akedemisi marilah mengontrol opini jika tidak sesuai dgn kompetensi anda supaya cara pandang anda tidak dipenggal-penggal sehingga substansi yg terbiaskan dan pada akhirnya menyesatkan
  33. From Aris on 18 March 2010 12:54:30 WIB
    Tanggapan untuk Pak Djaka,

    Terima kasih atas tanggapan dari Bapak.
    Saya setuju dengan Bapak untuk demo-demo yang ada sekarang adalah sudah bercampurnya dengan kepentingan dibalik demo itu sendiri apakah afiliasi politik, apakah karena propaganda stasiun televise terntentu seperti TV One dsb, atau juga murni aspirasi dari mahasiswa atau masyarakat terebut.
    Tolong di catat bahwa saya bukan melakukan “pembelaan”, tapi tolong rekan2 disini menilai dan melihat demo2 tersebut secara ‘sebab-aki bat’ atau inti dasarnya dari demo tersebut muncul. Kenapa atau sebab apa demo-demo itu muncul?, terlepas dari apakah ada intrik politik, orang dibaliknya, afiliasi politik, ataukah murni aspirasi, yang pasti muncul karena ada celah ketimpangan dari pemerintahan yang ada. Makanya di usahakan pemerintah yang bekerja sekarang, berusaha dg sekuat tenaga untuk menghindarkan hal-hal yang bersifat ketimpangan, ketidakadilan, intinya meminimalisir segala apa-apa yang bisa dijadikan alasan atau senjata bagi masyarakat atau mahasiswa untuk berdemo, ataupun bagi orang2 yang ada dibalik demo tersebut. Coba kalau tidak ada celah sedikitpun, kemungkinan besar demo-demo akan sedikit bahkan mungkin tidak ada, karena tidak ada issue yang harus di angkat kok!!.
    Nah kalau Negara sudah menjalankan keadilan, menuju pembangunan yang baik, transparan, tidak ada korupsi, jika terjadi demo berarti orang yang berdemo tersebut bisa dibilang orang yang sudah benar2 tidak tau diri, atau secara ekstrim bisa dibilang (mohon maaf) ‘orang hilang akal’.
    Saya setuju sekali dengan Bapak tentang pemilihan kepala Negara dan wakilnya, memang kita tidak punya pilihan lain?, untuk itulah kalau memang kepala Negara kita sekarang ini adalah pilihan rakyat, tolong amanah atau pilihan rakyat ini dijalankan dengan sebaik-baiknya, artinya sebagai kepala Negara harus mencoba berusaha keras untuk meminimalisir ketimpangan-ketimpangan yang ada yang bisa dijadikan celah untuk orang-orang berdemo baik murni aspirasi maupun tidak.

    Ingat sewaktu pembelian mobil mewah untuk para mentri pada masa kita sekarang ini padahal masih banyak masyarakat yang berada dibawah garis kemiskinan?, Kemudian Billout dengan mudahnya mengucurkan bantuan 6.7T, terlepas dari apakah urang tersebut milik Negara atau bukan, atau apakah sedang krisis atau tidak, yang pasti ini kebajakan atau action pemerintahan yang dirasa “TIDAK ADIL”.
    Untuk itu munculah demo2 dari masyarakat baik yang murni aspirasi maupun yang ditunggangi oleh afiliasi politik orang2 tertentu.
    Sekali lagi intinya tidak ada asap kalau tidak ada apinya, makanya diusahakan jangan membuat api sedikitpun supaya tidak ada asap.
    Semoga kepala Negara kita ini dan wakilnya mengerti akan amanah rakyat ini dan tidak menyia-nyiakkannya, bekerja terus untuk kemajuan bangsa dan kemakmuran rakyat. Toh terus terang, kalau masyarakat sudah makmur, mau presiden, wakil bahkan mentri2nya mendapatkan bonus milyaran tiap tahun atau tiap bulan bahkan, kita rakyat kecil rela dan berhak kok mereka karena sudah memakmurkan Negara dan rakyatnya, tapi kenyataannya sampai saat ini, masih saja belum bisa ke arah sana, masih terbentur kepentingan2 golongan, politik dan pribadi.
    Semoga Pak Djaka dan rekan2 yang lainya, juga Pak Wimar mengerti akan pendapat saya ini, mohon maaf jika ada kata-kata yang menyinggung ataupun tidak benar tapi intinya pendapat saya ini adalah murni dari hati nurani, bukan di tunggangi oleh afiliasi politik dari manapun, hanya semata-mata menginginkan pemerintahan yang adil, maju, dan berani karena benar sehingga masyarakatnya adil & sejahtera.

    Ohya satu lagi, karena Bapak Wimar dekat dengan Bu SMI, Pak Boed, bahkan Pak SBY dan partai Demokrat dan partai2 lainnya, mohon Bapak untuk terus memberikan nasehat tentang kepada beliau2 ini tentang bagaimana cara supaya kebijakan2, tindakan2 dan program2nya harus selalu berlandaskan kepada rasa “KEADILAN” bagi seluruh rakyat Indonesia. Intinya segala tindakanharus dipikirkan dulu apakah Adil atau tidak? Bagi masyarakat. Supaya tidak akan muncul lagi yang namanya demo, baik itu murni, ditunggangi afiliasi politik ataupun ada peran orang dibalik demo tersebut.

    Terima kasih.
    Salam
    Lagi merantau
  34. From Bambang Heryanto on 18 March 2010 16:50:37 WIB
    Sebaiknya kita boikot METRO TV dan TV ONE dengan menghapus channelnya di TV kita masing2. Saya sudah neggg banget dengan model pemberitaan kedua TV tersebut yang memakai cara2 infotaiment murahan. Nada pertanyaan hostnya seperti sudah diarahkan untuk mendiskreditkan.
  35. From Akbar Haryono on 18 March 2010 19:46:15 WIB
    sedih hati saya melihat praktek demokrasi yang kita lakukan sekarang ini. ada kebebasan media namun tidak disertai dengan kecerdasan untuk mencerdaskan bangsa tetapi malah menjerumuskan rakyat ke arah pembodohan. ada diskusi di TV, namun nara sumbernya yang katanya ahli alias pengamat tetapi berpihak. padahal yang namanya pengamat itu tidak berpihak. ada acara lelucon demokrasi dibawakan oleh anak muda yang pintar tapi kok membodohi anak bangsa ini. ada ahli komunikasi politik tapi kok juga lebih suka menjerumuskan orang. ada yang segerombolan politisi yang kalah pemilu masih tidak rela akan kekalahannya hanya karena salah satu lawannya bukan dari partai politik. ada sebarisan mahasiswa berbaris dengan simbol warna dan kampus yang mewakili para politisinya (umumnya warna merah) membawa gambar orang yang dimusuhinya dan membakar, menginjak, melempari. sepertinya demokrasi kita atau bahkan bangsa ini telah kehilangan idiologi. Kalau masih mengakui PANCASILA sebagai idiologi bangsa yang dipadukan dengan demokrasi, bangsa ini akan lebih elok dalam menatap masa depannya.
  36. From seto on 18 March 2010 23:31:12 WIB
    ikut menanggapi pak Aris (posting 26) kalo orang kesal dengan program pemerintah yang tidak mengena ke rakyat kecil kenapa harus demo dengan anarkis spt yg terjadi di makasar.... apakah dihalalkan utk merusak fasilitas umum yg dibiayai oleh uang pajak rakyat krn kesal dengan program pemerintah? jangan membandingkan dengan singapur yg nota bene penduduknya lebih sedikit dengan negara kita.... kita harus punya jatidiri jika boediono dan sri mulyani dianggap pengikut aliran barat atau neolib bagaimana jika mereka mengaplikasikan program singapore di indonesia? sama saja dong dengan neolib juga. sekali lagi jika hendak mengutarakan aspirasi sebaiknya dengan tertib, tidak merusak fasilitas umum (spt kantor polisi, pagar gedung DPR/MPR dll) dan jangan menyusahkan masyarakat yg laen, krn biasanya kalo demo jalan2 jadi macet...hal ini kan merugikan pengguna jalan yang nota bene adalah rakyat indonesia baik kalangan menengah ke atas atau menengah kebawah
  37. From Aris on 19 March 2010 08:51:21 WIB
    Terima kasih atas tanggapan Pak Seto.
    Saya senang sekali jika ada tanggapan-tanggapan dari rekan2 sekalian dan Pak Seto. Artinya rekan2 semua disini peduli kepada Bangsa dan Negara Indonesia tercinta ini.

    Betul saya setuju sekali dengan Bapak Seto mengenai demo ini apalagi yang menuju anarkis atau brutal, tentu seharusnya di tindak dengan tegas, dan di agama sendiri adalah dosa melakukan demo anarkis tersebut. Makanya saya mem-posting juga tanggapan saya lainnya pada nomer 33. Mohon bapak lihat tanggapan saya pada nomer tersebut dengan seksama.

    Mengenai kenapa saya bandingkan dengan Singapore, memang betul sekali Singapore adalah Negara kecil, bahkan lebih kecil dari pulau Batam. Tapi yang saya ungkapkan disini adalah sisi-sisi baiknya, bukan yang bersifat program-programnya yang jelek apalagi merusak masyarakat, coba Bapak lihat penjelasan saya mengenai discount pajak kepada masyarakat?, apakah ini jelek atau tindakaan tidak baik untuk masyarakat?, terus membuka lowongan pekerjaan bahkan mencarikan pekerjaan yang sebesar-besarnya kepada msayarakat, apakah ini program yang tidak baik?. Untuk itu makanya telah saya ungkapkan dan jelaskan di posting no.26, tolong bapak baca juga, sekali lagi diposting ini saya ungkapkan bahwa program-program yang digagaskan oleh Pak Boed, Bu SMI, dan Pak SBY sudah brilliant, tapi implementasi kepada masyarakatnya tidak mengena sampai ke masyarkat kecil dan cenderung sisi “keadilan dan Sosial’nya tidak mengena kepada masyarakat kecil, sekali lagi saya jelaskan ‘impelmentasinya’ bukan programnya.
    Dan saya setuju sekali dengan Bapak bahwa kita Negara Indonesia mempunyai jati diri Bangsa, dan jangan di ikuti program2nya Singapore, memang betul, dan saya ungkapkan dengan jelas sekali bahwa program2 Pak Boed dan SMI bagus dan brilliant. Cuman tidak ada salahnya jika ada salah satu action atau kebijakan yang baik dan untuk kemaslahatan umat/rakyat dari mana asalnya atau negaranya harus patut kita contoh. Makanya saya ungkapkan Negara Singapore ini karena Negara terdekat dengan kita. Mohon maaf jika saya membandingkan dengan Negara terdekat ini karena, wakil2 rakyat periode yang lalu2 banyak sekali kegiatan kunjungan ke Negara eropa, mesir dll, untuk alasan studi Banding?, kenapa gak ke Negara tetangga saja dulu, dan studi tentang program2nya yang baik dan demi kemaslahatan masyarakat, kalau yang tidak baik dan apalagi cenderung ke neolib sudah tentu jangan di ikuti.

    Dan untuk masalah apakah Negara itu kecil atau besar yang penting adalah management pengelolaannya Negara itu sendiri, kalau managementnya baik, adil, maju dan bagus pada program2nya sampai kepada implementasinya maka Negara tersebut akan baik dan maju, betapapun besarnya Negara tersebut.

    Jadi disini saya jelaskan sekali lagi ungkapan di posting Pak Wimar ini, adalah bahwasannya kepada rekan2 sekalian dan Pak Seno untuk telaah kembali kenapa dan apa sebabnya esensi demo tersebut muncul?, jadi tolong Bapak2 baca posting saya yang nomer 33 yah :).

    Dan untuk tanggapan Bapak yang lainnya:
    “sekali lagi jika hendak mengutarakan aspirasi sebaiknya dengan tertib, tidak merusak fasilitas umum (spt kantor polisi, pagar gedung DPR/MPR dll) dan jangan menyusahkan masyarakat yg laen, krn biasanya kalo demo jalan2 jadi macet...hal ini kan merugikan pengguna jalan yang nota bene adalah rakyat indonesia baik kalangan menengah ke atas atau menengah kebawah”.
    Saya sangat setuju sekali dengan Bapak atas demo apalagi yang bersifat anarkis dan merusak fasilitas umum yang memang sudah jelas dibiayai dari pajak masyarakat. Untuk itu untuk meminimalisir hal ini, telah saya ungkapkan diposting yang sebelumnya bahwa ada baiknya kepada partai2 politik yang ada saat ini di sarankan untuk membuka layanan kepada msayarakat atas saran, kritik, aduan dari masyarakat yang ditampung di DPC, DPW, DPP kantor masing2 dibuka setiap minggu saja misal hari kamis atau hari apapaun, untuk menampung hal tersebut sehingga masyarakat tidak berdemo ke jalan apalagi dengan anarkis dan merusak , karena di dalam agama adalah dosa.

    Sebenarnya saya senang dan bahagia sekali jika tanggapan2 di Perpektif Pak Wimar ini, bisa di diskusikan secara kopi darat, sehingga bisa diambil satu masukan2 , ungkapan, dan tanggapan2 yang bersifat positif dari rekan2 sekalian. Cuman keterbatasan jarak dan waktu sehingga menjadi kendala untuk ini.
    Dan nanti bisa terlihat keaneka ragaman tanggapan baik itu dari berbagai bidang pekerjaan, bahkan dari rekan2 yang memang sedang bekerja di pemerintahan apalagi khususnya di department yang dipimpin oleh Bu SMI, sudah pasti terlihat jelas keaneka ragamannya.

    Terima kasih banyak kepada Pak Wimar atas dipostingkannya tanggapan saya ini, mohon maaf jika ada kata-kata yang salah atau menyinggung rekan2 semuanya. Saya hanyalah seorang rakyat kecil yang begitu cinta dan peduli kepada tanah air Indonesia ini, dan tidak lain hanya sekedar mengungkapkan perasaan, pendapat, dan sebagainya di posting ini, yang memang menginginkan Negara kita ini maju, makmur dan adil.

    Terima kasih.
    Salam.
    Dari yang lagi merantau.
  38. From alex on 19 March 2010 15:53:56 WIB
    Jadi inget lagu Where Is The Lovenya Black Eyed Peas

    Wrong information always shown by the media
    Negative images is the main criteria
    Infecting the young minds faster than bacteria
    Kids wanna act like what they see in the cinema
  39. From jaka on 19 March 2010 22:22:02 WIB
    Djaka@ -posting#31 : Setuju ,pak...mahasiswa yg beneran mah ngga pernah keluyuran di jalan2 cari duit Rp 50.000/ demo plus nasi bungkus dan aqua ...he he he he...

    Lapangan pekerjaan mah sudah banyak (apalagi di tanah air, sagala macem bisa jadi duit),lagian kredit bank dibuka lebar2 ,masih bisa tidak usah bayar pajak lagi(coba aja di amrik berani tidak bayar..urusan bisa ruwet..)...masalahnya apakah orang2 itu mau dan mampu memanfaatkan itu semua...

    Jadi ,masalah sebenernya mah partai2 lagi ngumpulin simpati masyarakat untuk taun 2014. Sakitu wae lah dari sayah...
  40. From julio herry on 20 March 2010 23:52:15 WIB
    Ulasan dari penulis yang sangat bagus. menyejukan, membuka wawasan. mustinya tulisan seperti itu yang layak dimuat di media, agar banyak orang melihat, membaca dan merenungkan dengan kepala dingin dan hati yang bersih.
    Saya bolak balik membaca tulisan itu, tidak bosan, sungguh luar biasa. Ini salah satu bacaan, masukan yang terbaik yang saya pernah baca. hebat...
  41. From Indra Agus on 21 March 2010 03:11:57 WIB
    Memuaskan dan mensejahterakan 240 juta rakyat bukan hal yang mudah... akan selalu ada sebagian yang merasa tidak "terperhatikan"... dan bagi golongan yang kalah, hal ini selalu digunakan untuk menekan golongan yang sedang berkuasa.. terlepas baik atau buruknya roda pemerintahan yang dijalankan, akan selalu timbul masalah ini... yah, itu lah demokrasi yang belum matang... belum siap menerima kekalahan, belum bisa menerima kemenangan pihak lain... dan dengan "modal besar" yang mereka punya.. pihak yang kalah akan berusaha menjatuhkan yang menang... dengan segala cara... mengatasnamakan rakyat... agar terlihat seperti pahlawan... walau akhirnya malah jadi pahlawan kesiangan...
  42. From uban nugroho on 21 March 2010 08:33:21 WIB
    Kalau saja kita sadari, adalah sangat mudah kita diingat dan menyeruak dari kesamaan adalah dengan TAMPIL BEDA. Konteks ini sepertinya telah KAKU, bukan lagi baku. Semisal pada masalah Bank Century, 'pokoknya BAILOUT ITU DOSA'. Sampai-sampai 'Gayatri' tidak menyadari, kalau saja Bailout itu mungkin jauh dari masalah dananya di Bank Century. Lho kalau Banknya dilikuidasi, ya sebentar dulu, dana itu dulu masuknya lewat apa ? Simapanan ? Nah mulai penalaran yang jalan. Kalau boleh jujur kesalahan awal ini adalah kesalahan pemilik bank dalam mengelola BANK, 'kesannya' amburadul. Tapi kesalahan ini akan ditimpakan pada orang yang seharusnya menyelamatkan ekonomi dan itu telah dlakukan.
    Dan anehnya, teman-teman mahasiswa sudah terkunci rapat pada ruangan berpikir, pokoknya kalian mundur. nggak mau tahu.
    Coba dimulai debat, mengelola bank yang baik itu bagaimana sih ? Dalam lingkaran masalah ini malahan cenderung menguat kalau pemilihan salah satu Pejabat BI, dulunya pernah ada kong kalikong. Kalau saja pemilihan pejabat saja sudah dimulai dengan cara-cara seperti itu mestinya perjalanan dalam melakukan kebijakan sepertinya kok nggak akan dijalur yang semestinya.
    Secara pribadi, kok saya melihat adanya kesenjangan cara mengelola isu untuk demo jauh ..... banget apa yang diperjuankan. Semisal demo untuk BBM yang direcokin mobil tangki, okelah itu salah satu entri point mendapat perhatian, namun adakah cara lain yang lebih elegant ?!
  43. From asti on 24 March 2010 21:04:42 WIB
    sudah lama saya stop nonton TV ONE dan METRO TV,
    saya percaya kebenaran dan kebaikan tidak bisa dikalahkan. alangkah baiknya kalau media tidak digunakan sebagai tempat pelampiasan kebencian dan kekecewaan politik, dendam politik, sikap primodial dan sekterian. sehalus dan secanggih apapun metode penyampaiannya akan tersa bahwa mendia tertenu digunakan sebagai tempat pelampiasan kebencian, iri hati.

    Di forum ini, bila diijinkan posting oleh bang wimar, saya sampaikan terima kasih untuk Mas Tukul dan Mas Sule dan Aziz Gagap yang bisa membuat saya tertarik nonton TV, dan tentu saja LIGA INGGRIS Lambang Sportivitas bukan arena adu kebencian, iri hati.



  44. From Diane on 27 March 2010 12:39:15 WIB
    Saya sih lihatnya simple aja \'itu yang ambil suara di pansus, lebih mirip anak TK Tawuran\' apalagi mahasiswanya dong ? Lagi ortu aja banyak yang terlantarkan anak-anaknya baik secara metal ataupun material, atau malah kedu-duanya, gimana kita punya generasi muda yang handal ? yang terbina dan bisa melihat yang baik adalah baik yang bener2 adalah bener. Wong Bapk-nya aja nipu sana-nipu sini ...
  45. From terapi anak on 30 March 2010 01:36:40 WIB
    Yang penting harus Ingat dan Waspada saja Boss ...
  46. From Janmaree Carmody on 01 April 2010 12:04:48 WIB
    Saya sudah tidak kuat nonton 2 stasiun berita di Indonesia. Saya orang Australi dgn suami orang Indonesia dan dia sangat rajin nonton berita tiap hari, yaitu TV 1 dan Metro. Keliatan sekali dua stasiun tv tersebut memiliki agenda politik, miring terus. seperti Fox di USA.

    Stasiun berita tersebut bisa mengarahkan dan menpengaruhi pendapat masyarakyat indonesia dgn gampang.... isu apa yg mereka mau kemukakan mereka banjiri, terus politikus2 bilang "kami harus bertindak, walau gak ada dasar hukum, soalnya ini rakyat yg menuntut."
    Kan bahaya kalau 200juta orang bisa di panasin oleh 2 kelompok saja.... untung cuman satu.... bahwa kebanyakan rakyat Indonesia lebih cenderung nonton sinetron! Syukurlah!
  47. From heri phitik on 05 April 2010 15:44:57 WIB
    terimakasih pak wimar... saya orang pajak paka... 2d penempatan sumbar. saya kira seluruh indonesia mencerca kami tapi ternyata masih ada sosok wimar witolar yang masih menganggap kami.
  48. From lenny on 06 April 2010 16:11:30 WIB
    sebenarnya tanpa digiring 2 tipi itu, opini publik udah sering salah kaprah. 2 tipi itu memanfaatkan karakter bangsa ini dengan \"baik\". harapan saya, orang2 seperti bapak mau terus \"berjuang\" mengcounter opini2 salah ini. oia, tapi saya ngga terlalu khawatir lagi2 karena bangsa ini punya karakter \"pelupa\" yg hari ini dihujat, besok bisa dipuja. contohnya buanyak sekali.

    mungkin perlu ada tipi yang mengedukasi bangsa ini. banyak orang baik di negeri ini, cuma sedikit yg diberitakan.

    katanya good news is a bad news..eh kebalik ya

    sisi perjuangan menolak korupsi tidak pernah ada di tipi. yang ada berita orang korupsi terus

    beuh, banyak lho pak pejuang anti korupsi di instansi pemerintah
    cerita mereka bisa jadi inspirasi tapi ngga pernah ada di tipi.
  49. From setyobratta on 07 May 2010 02:47:52 WIB
    To Aris, comment lu keren bgt asli panjang banget.. dikit lagi ngalahin panjang articlenya om WW, saking kerennya sampe niat bgt ngebalesin org yang ngoment in lu, jangan2 nih article lu tongkrongin terus tiap hari.. kaga ikhlas ya di commentin. ud sekali aja yang 26 aja gw ud tau maksudnya keren bgt. Nyang ini jangan di commentin jg kan gw ud pro.. ya ga Sob
  50. From Tio arya on 31 October 2010 01:17:45 WIB
    wah om WW sepertinya pembela SMI ya? tapi ga apalah jadi ga jauh beda dengan dua TV yang katanya ga pro sama pemerintah (sama-sama ada yang dibela)

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home