Articles

Saatnya Menghidupkan Kembali Partai Orang Biasa


13 June 2010

 

Saatnya Menghidupkan Kembali Partai Orang Biasa  
Sunday, 13 June 2010
Pada 4 Desember 1998, sekelompok orang, kira-kira berjumlah 200, berkumpul di satu ruang di Jalan Jenderal Sudirman. Mereka datang dari berbagai kalangan. Plural dalam arti seluasluasnya, ada yang muda ada yang tua, dari berbagai latar belakang etnik, agama,pendidikan,dan ideologi. 
Kalau diingat namanya,seakan suatu pesta ulang tahun antarteman yang diselenggarakan InterMatrix. Social gathering sebelum ada social media.Sebut saja nama yang teringat. Selebritas seperti Dewi Gita, Nita Tilana, dan Reza Artamevia. Ada lagi aktivis bersemangat Fadjroel Rahman, Martin Manurung, pengusaha Arifin Panigoro, ahli hukum Prof Dimyati Hartono, Dr Albert Hasibuan, mantan ju ara dunia bulu tangkis Tan Joe Hok, tokoh anutan Marsilam Simanjuntak, Ali Sadikin, mantan wartawan Atmakusuma, musikus Addie MS,sineas Slamet Rahardjo, Garin Nugroho, Eros Djarot, ahli ekonomi Sri Mulyani, Dede Basri,Ketua Divisi Perburuhan YLBHI Teten Masduki, dan lebih dari seratusan lagi undangan. Kelakarnya adalah mendirikan ”Partai Orang Biasa” dan diskusinya membahas definisi ”orang biasa”. 
Definisinya tidak ketemu sampai sekarang dan tidak penting. Yang penting adalah cita-cita bersama yang didorong oleh keinginan ”orang biasa” untuk meninggalkan apa yang mengganggu kehidupan masyarakat kita selama berpuluh-puluh tahun sampai saat itu. Premis yang tidak terucapkan adalah bahwa kita tidak usah memilih antara menjadi hero atau penjahat. Tidak semua orang yang hadir itu mengikuti jalan yang konsisten dalam tahun-tahun sesudahnya. Namun, niat awalnya semua baik dan kita menghargai semua yang pernah punya cita-cita. Kita bukan ingin menilai perjalanan tiap individu pendukung ”Partai Orang Biasa” ini, melainkan menghargai bahwa kekuatan ”orang biasa” itu besar. Contoh yang konkret tentang itu terlihat pada Munir. 
Waktu itu, dia anak muda yang terkenal gigih mengusut Prabowo dalam kasus penculikan belasan mahasiswa.Diadinilaisebagaiorang biasa yang dalam bekerja mampu melintasi garis-garis politik.Koordinator Kontras itu adalah manusia biasa yang sepak terjangnya luar biasa justru karena integritasnya dan bahkan menjadi narasumber inspirasi bagi bangsa ini. Acara malam itu banyak mendapat perhatian media yang pada umumnya memiliki sikap positif. Salah satu berita singkat di harian Ibu Kota dapat dilihat di tautan ini: http://bit.ly/ai4f8t. Masa depan kita tersembunyi dalam masa lampau kita.Kalau kita rajin, kita akan menemukan akar rumput kita.Demokrasi kita telah mengakar dan sering mulai tumbuh. 
Dalam lumpur sekalipun dia tumbuh. Kunci masa depan ada dalam masa lampau, tapi kuncinya ada di orang sekarang, sebab orang lama telah menghilangkan kunci. Kekuatan utama kunci itu adalah kemampuan mendengar dan berbicara dengan orang biasa dan mengajak masyarakat umum untuk turut serta dalam diskursus publik. Bukti masa kini akan kekuatan akar rumput paling nyata terlihat dalam social media. Konten jaringan sosial memang beragam. Namun, dalam topik yang menyangkut kehidupan masyarakat terlihat bahwa kecenderungan orang adalah untuk membela kebebasan. Ini berarti melawan penekanan, kemunafikan, dan penyalahgunaan uang dan kekuasaan. Tiap hari kita lihat Twitter, Facebook, Kaskus, Tumblr, Koprol, danblog-blog. 
Dialog sosial memberdayakan warga biasa menjadi aktif dalam mempertanyakan atau mendukung kebijaksanaan publik yang memiliki dampak pada kehidupan orang dalam keseharian. ”Orang biasa” bukan penguasa dan bukan pengacau. Mungkin punya kekuasaan, tapi tidak menindas. Mungkin pejuang, tapi tidak eksklusif. Ketika pemimpin tidak dipercaya,warga menemukan kepercayaan diri. Kata peneliti hukum dan politik Indonesia almarhum Dan Lev, ”Indonesia punya negara lemah, pemerintah lemah,tapi masyarakat kuat.” Namun, bagi kita, masyarakat Indonesia kuat.Yang membuat masyarakat kuat adalah ”orang biasa”. 
Di hari-hari ini, ”orang biasa” berharap dan menjadi harapan. Semua institusi telah runtuh digigit rayap.Penegak hukum, pengadilan, DPR/MPR, partai politik mengundang putus asa, ketawa kosong sampai geram kehabisan kata. Ini terjadi karena pemerintah tidak menggunakan legitimasi dan tidak memiliki kemauan politik yang konstruktif. Kursi jabatan dipakai sebagai payung kekuasaan untuk tabungan politik. Presiden menjaga legitimasi bukan dengan memihak nurani, tapi dengan mencari dukungan politik kepartaian dan menghindari keputusan pahit. Sebaliknya, oposisi yang seyogianya mengambil kendali politik tidak percaya diri dan tidak membentuk pemimpin. Paling celaka, medan politik ditentukan oleh paradigma lama. 
Angin segar masyarakat bukan bertiup di lembaga resmi, tapi bertiup di luar gelanggang. Kelas menengah, kaum profesional,ibu rumah tangga ngomel-ngomel, sementara sistem tak peduli.Dalam kehampaan kepemimpinan formal ini, ”orang biasa” adalah benteng pertahanan terakhir melawan kerancuan, kekerasan,dan kekuasaan. ”Orang biasa”adalah penonton yang setia,tapi dalam drama modern kita, penonton harus ikut main.Di sinilah kita berada, ”orang biasa Indonesia”.Sebagian sudah menemukan peran,sebagian siap terjun. Karena pikiran orang biasa sudah lama tersimpan dalam masyarakat, saatnya sekarang menghidupkan konsep ”Partai Orang Biasa”. 
Sejak pencetusan seriushumor pada tahun 1999 itu,banyak peserta malam ”orang biasa”maju dalam tugas kemasyarakatan penting. Banyak pula yang aktif di pemerintah dan DPR.Namun, tidak ada yang membangun partai politik besar.Akibatnya, pemikiran individu tetap menjadi pemikiran individu dengan sekali-sekali saling memperkuat. Ini tidak jadi soal kalau kelembagaan berkembang baik di luar usaha individu. Kenyataannya tidak demikian, orang baik menjadi korban mesin politik yang lahir dalam masa Reformasi, tapi tidak berperan sama sekali dalam proses reformasi. Bahkan, politisi dan pengusaha yang besar dalam tahun-tahun terakhir ini mengambil manfaat dari negara sambil merugikan pembentukan negara yang sehat. Kebutuhan akan ”Partai Orang Biasa” sangat nyata, tapi risikonya mungkin lebih nyata lagi. 
Susah dibuat jaminan bahwa partai baru akan konsisten dalam kesederhanaan tujuan memperjuangkan orang biasa. Sangat besar kemungkinan bahwa partai baru akan kembali mengakumulasikan keanggotaan dan kekuatan yang kontraproduktif terhadap reformasi. Namun, ada pula harapan bahwa setelah sekian kali gagal, kita belajar dari sejarah dan akhirnya bisa membentuk lembaga atau partai yang tepat memenuhi kebutuhan. Spesifikasinya bisa ditegaskan agar tidak menjadi angan-angan kosong. Apakah organisasi itu mau langsung dibuat partai atau sebagai gerakan terlebih dahulu? Dasar yang harus dipakai adalah dasar sekuler pluralis.Tidak perlu diartikan sebagai kurang hormat pada agama, hanya menekankan pemisahan urusan negara dengan agama. 
Dengan sendirinya, partai harus memisahkan nilai pribadi dengan nilai negara, tidak membedakan antaragama dan antarlatar belakang etnik,budaya,serta latar belakang sosial. Partai yang ditujukan untuk rakyat luas tidak bisa dikaitkan dengan kesetiaan primordial dengan tokoh masa lalu yang tinggal menjadi simbol. Harus ada mekanisme pengumpulan dana secara terbuka untuk mencegah uang menjadi acuan kekuasaan.Dasarnya harus positif, bukan sebagai pelarian dari pihak yang kalah pemilu atau kalah persaingan dalam partai.
Tidak bisa ada kaitan dengan kelanjutan dinasti politik dan tidak berpegang pada tokoh yang berkelakuan jauh dari keteladanan Intinya, ”Partai Orang Biasa” mempersatukan orang baik dan menarik batas terhadap pelanggar hukum, korupsi,dan kerancuan bisnis serta politik. Kalau ada keinginan ini, sekarang saatnya menghidupkan ”Partai Orang Biasa”.(*) 
WIMAR WITOELAR 

 

 

 Menuju Partai Orang Biasa: Asal-Usul Wimar Witoelar

 

Pada 4 Desember 1998, sekelompok orang, kira-kira berjumlah 200, berkumpul di satu ruang di Jalan Jenderal Sudirman. Mereka datang dari berbagai kalangan. Plural dalam arti seluasluasnya, ada yang muda ada yang tua, dari berbagai latar belakang etnik, agama,pendidikan,dan ideologi. 

Kalau diingat namanya,seakan suatu pesta ulang tahun antarteman yang diselenggarakan InterMatrix. Social gathering sebelum ada social media.Sebut saja nama yang teringat. Selebritas seperti Dewi Gita, Nita Tilana, dan Reza Artamevia. Ada lagi aktivis bersemangat Fadjroel Rahman, Martin Manurung, pengusaha Arifin Panigoro, ahli hukum Prof Dimyati Hartono, Dr Albert Hasibuan, mantan juara dunia bulu tangkis Tan Joe Hok, tokoh anutan Marsilam Simanjuntak, Ali Sadikin, mantan wartawan Atmakusuma, musikus Addie MS,sineas Slamet Rahardjo, Garin Nugroho, Eros Djarot, ahli ekonomi Sri Mulyani, Dede Basri,Ketua Divisi Perburuhan YLBHI Teten Masduki, dan lebih dari seratusan lagi undangan. Kelakarnya adalah mendirikan ”Partai Orang Biasa” dan diskusinya membahas definisi ”orang biasa”. 

Definisinya tidak ketemu sampai sekarang dan tidak penting. Yang penting adalah cita-cita bersama yang didorong oleh keinginan ”orang biasa” untuk meninggalkan apa yang mengganggu kehidupan masyarakat kita selama berpuluh-puluh tahun sampai saat itu. Premis yang tidak terucapkan adalah bahwa kita tidak usah memilih antara menjadi hero atau penjahat. Tidak semua orang yang hadir itu mengikuti jalan yang konsisten dalam tahun-tahun sesudahnya. Namun, niat awalnya semua baik dan kita menghargai semua yang pernah punya cita-cita. Kita bukan ingin menilai perjalanan tiap individu pendukung ”Partai Orang Biasa” ini, melainkan menghargai bahwa kekuatan ”orang biasa” itu besar. Contoh yang konkret tentang itu terlihat pada Munir. 

Waktu itu, dia anak muda yang terkenal gigih mengusut Prabowo dalam kasus penculikan belasan mahasiswa.Diadinilaisebagaiorang biasa yang dalam bekerja mampu melintasi garis-garis politik.Koordinator Kontras itu adalah manusia biasa yang sepak terjangnya luar biasa justru karena integritasnya dan bahkan menjadi narasumber inspirasi bagi bangsa ini. Acara malam itu banyak mendapat perhatian media yang pada umumnya memiliki sikap positif. Salah satu berita singkat di harian Ibu Kota dapat dilihat di tautan ini: http://bit.ly/ai4f8t. Masa depan kita tersembunyi dalam masa lampau kita.Kalau kita rajin, kita akan menemukan akar rumput kita.Demokrasi kita telah mengakar dan sering mulai tumbuh. 

Dalam lumpur sekalipun dia tumbuh. Kunci masa depan ada dalam masa lampau, tapi kuncinya ada di orang sekarang, sebab orang lama telah menghilangkan kunci. Kekuatan utama kunci itu adalah kemampuan mendengar dan berbicara dengan orang biasa dan mengajak masyarakat umum untuk turut serta dalam diskursus publik. Bukti masa kini akan kekuatan akar rumput paling nyata terlihat dalam social media. Konten jaringan sosial memang beragam. Namun, dalam topik yang menyangkut kehidupan masyarakat terlihat bahwa kecenderungan orang adalah untuk membela kebebasan. Ini berarti melawan penekanan, kemunafikan, dan penyalahgunaan uang dan kekuasaan. Tiap hari kita lihat Twitter, Facebook, Kaskus, Tumblr, Koprol, danblog-blog. 

Dialog sosial memberdayakan warga biasa menjadi aktif dalam mempertanyakan atau mendukung kebijaksanaan publik yang memiliki dampak pada kehidupan orang dalam keseharian. ”Orang biasa” bukan penguasa dan bukan pengacau. Mungkin punya kekuasaan, tapi tidak menindas. Mungkin pejuang, tapi tidak eksklusif. Ketika pemimpin tidak dipercaya,warga menemukan kepercayaan diri. Kata peneliti hukum dan politik Indonesia almarhum Dan Lev, ”Indonesia punya negara lemah, pemerintah lemah,tapi masyarakat kuat.” Namun, bagi kita, masyarakat Indonesia kuat.Yang membuat masyarakat kuat adalah ”orang biasa”. 

Di hari-hari ini, ”orang biasa” berharap dan menjadi harapan. Semua institusi telah runtuh digigit rayap. Penegak hukum, pengadilan, DPR/MPR, partai politik mengundang putus asa, ketawa kosong sampai geram kehabisan kata. Ini terjadi karena pemerintah tidak menggunakan legitimasi dan tidak memiliki kemauan politik yang konstruktif. Kursi jabatan dipakai sebagai payung kekuasaan untuk tabungan politik. Presiden menjaga legitimasi bukan dengan memihak nurani, tapi dengan mencari dukungan politik kepartaian dan menghindari keputusan pahit. Sebaliknya, oposisi yang seyogianya mengambil kendali politik tidak percaya diri dan tidak membentuk pemimpin. Paling celaka, medan politik ditentukan oleh paradigma lama. 

Angin segar masyarakat bukan bertiup di lembaga resmi, tapi bertiup di luar gelanggang. Kelas menengah, kaum profesional,ibu rumah tangga ngomel-ngomel, sementara sistem tak peduli.Dalam kehampaan kepemimpinan formal ini, ”orang biasa” adalah benteng pertahanan terakhir melawan kerancuan, kekerasan,dan kekuasaan. ”Orang biasa”adalah penonton yang setia,tapi dalam drama modern kita, penonton harus ikut main.Di sinilah kita berada, ”orang biasa Indonesia”.Sebagian sudah menemukan peran,sebagian siap terjun. Karena pikiran orang biasa sudah lama tersimpan dalam masyarakat, saatnya sekarang menghidupkan konsep ”Partai Orang Biasa”.

Sejak pencetusan serius-humor pada tahun 1999 itu,banyak peserta malam ”orang biasa”maju dalam tugas kemasyarakatan penting. Banyak pula yang aktif di pemerintah dan DPR. Namun, tidak ada yang membangun partai politik besar.Akibatnya, pemikiran individu tetap menjadi pemikiran individu dengan sekali-sekali saling memperkuat. Ini tidak jadi soal kalau kelembagaan berkembang baik di luar usaha individu. Kenyataannya tidak demikian, orang baik menjadi korban mesin politik yang lahir dalam masa Reformasi, tapi tidak berperan sama sekali dalam proses reformasi. Bahkan, politisi dan pengusaha yang besar dalam tahun-tahun terakhir ini mengambil manfaat dari negara sambil merugikan pembentukan negara yang sehat. Kebutuhan akan ”Partai Orang Biasa” sangat nyata, tapi risikonya mungkin lebih nyata lagi. 

Susah dibuat jaminan bahwa partai baru akan konsisten dalam kesederhanaan tujuan memperjuangkan orang biasa. Sangat besar kemungkinan bahwa partai baru akan kembali mengakumulasikan keanggotaan dan kekuatan yang kontraproduktif terhadap reformasi. Namun, ada pula harapan bahwa setelah sekian kali gagal, kita belajar dari sejarah dan akhirnya bisa membentuk lembaga atau partai yang tepat memenuhi kebutuhan. Spesifikasinya bisa ditegaskan agar tidak menjadi angan-angan kosong. Apakah organisasi itu mau langsung dibuat partai atau sebagai gerakan terlebih dahulu? Dasar yang harus dipakai adalah dasar sekuler pluralis.Tidak perlu diartikan sebagai kurang hormat pada agama, hanya menekankan pemisahan urusan negara dengan agama. 

Dengan sendirinya, partai harus memisahkan nilai pribadi dengan nilai negara, tidak membedakan antaragama dan antarlatar belakang etnik,budaya,serta latar belakang sosial. Partai yang ditujukan untuk rakyat luas tidak bisa dikaitkan dengan kesetiaan primordial dengan tokoh masa lalu yang tinggal menjadi simbol. Harus ada mekanisme pengumpulan dana secara terbuka untuk mencegah uang menjadi acuan kekuasaan.Dasarnya harus positif, bukan sebagai pelarian dari pihak yang kalah pemilu atau kalah persaingan dalam partai.

Tidak bisa ada kaitan dengan kelanjutan dinasti politik dan tidak berpegang pada tokoh yang berkelakuan jauh dari keteladanan Intinya, ”Partai Orang Biasa” mempersatukan orang baik dan menarik batas terhadap pelanggar hukum, korupsi,dan kerancuan bisnis serta politik. Kalau ada keinginan ini, sekarang saatnya menghidupkan ”Partai Orang Biasa”.(*) 

terbit di SINDO 14 Juni 2010

 

 

Print article only

19 Comments:

  1. From febs on 14 June 2010 13:15:50 WIB
    Hidupkan...
    Lanjutkan...
    Go for it Pak WW
    This is the time

    Dan Selamat atas dihidupkan kembali Partai Orang Biasa.


    Tks

  2. From Yoga on 14 June 2010 15:32:50 WIB
    Glad to have someone on my side..keep going WM!
  3. From Ludjana on 15 June 2010 03:06:54 WIB

    Saya setuju dengan adanya partai baru. Memang diperlukan, kalau kita lihat partai partai besar yang ada sekarang

    PD: Pada mulanya saya kira PD itulah yang akan jadi partai yang kita harapkan. Tetapi partai pilihan saya itu (karena SBY calon Presidennya) lain dari partai ideal saya. Karena ternyata PD itu membentuk dinasti, dan berpartner dengan partai lain yang tidak baik, hanya untuk dapat berkuasa..

    Partai Golkar: Partai ini sekarang dikuasai oleh para pengusaha untuk lebih memajukan usahanya yang mengalahkan usaha untuk kepentingan bangsa. Uang adalah senjata ampuh mereka, dan –sampai sekarang- telah membuktikan keampuhannya: sampai bisa menurunkan seorang menteri keuangan yang tidak disangsikan integritasnya.

    PDI-P: Memang sekuler. Tetapi terlalu berpijak kepada kultus individu. Sehingga Bung Karno – yang banyak jasa jasanya- dilupakan kesalahan kesalahannya dan dijadikan idola. Sayangnya disamping ”pendinastian” itu, juga sekularismenya dijadikan untuk melawan partai partai Islam dan juga dijadikan wadah bagi orang orang non Islam. Jelas mendukung ke-dinasti-an.

    NasDem: Apakah ini akan jadi partai baru yang kita harapkan ? Saya rasa bukan . Karena yang terdaftar di NasDem ini adalah orang orang yang kecewa dari partai lain (dari Golkar diantaranya). Dan mereka anggap NasDem sebagai wadah pelarian.


    Pernah di masa lalu ada gerakan yang terdiri dari orang orang ”baik”, dan bergabung dalam Majelis Amanat Rakyat (MARA), untuk melawan kezaliman dicktator dan menuju pendemokrasian. Kita bikin kesalahan waktu itu dengan menunjuk Amien Rais sebgai ketua. Padahal dia memang berambisi untuk jadi Presiden.

    Hendaknya Partai Orang Biasa baru itu jangan diserahkan pimpinannya atau koordinasi kepada yang punya interest pribadi. Sedangkan ketua Partainya diserahkan kepada orang lain tang tidak punya minat pribadi seperti Amien Rais waktu itu. Sebagai contoh: Kalau saya usulkan Sri Mulyani untuk jadi Presiden, jangan dia jadi ketua Partai. Tetapi tentunya bisa dijadikan daya penarik.

  4. From jaka on 15 June 2010 09:19:25 WIB
    Mangga atuh , kita promosikan partai orang biasa itu segera !

    Biar gampang diingat ,namanya ya Partai Orang Biasa saja.
    Ada yang mau jadi pengurus ?
  5. From Jean on 15 June 2010 10:34:35 WIB
    @ Ludjana : kandidat ketua partai so pasti WW ya hehehe... ditambah beberapa anak muda lain seperti Benny Handoko, Sonny Tan, dll. Atau bisa juga Ludjana sendiri ;)

    Tabik!
  6. From Dedy Qurniawan on 16 June 2010 00:31:20 WIB
    entah mengapa saya jadi ingin ngelirik Ibu SMI setelah baca artikel ini???? hehehe :D
  7. From sony tan on 17 June 2010 14:20:19 WIB
    Perlu orang biasa dengan kesederhanaan yang luar biasa untuk menghimpun orang-orang yang terbiasa sederhana dalam sikap tetapi luar biasa dalam pemikiran.
    WW adalah tokoh yang cocok untuk itu karena menurut pengamatan saya, pergaulan WW membentang dari tokoh senior terkenal di utara hingga ke orang muda biasa di selatan. Kaum muda tinggal meneguhkan komitmen untuk bekerja keras bersama-sama mewujudkan Indonesia Baru, Indonesia Jaya. Bukan di tangan siapa-siapa, melainkan di tangan orang biasa lewat Partai Orang Biasa. Salam untuk WW
  8. From R Muhammad Mihradi on 17 June 2010 14:58:17 WIB
    Pa Wimar yang baik,
    sungguh saya termasuk saksi sejarah yang hadir diundang dengan amat tersanjung oleh pa wimar ketika deklarasi partai orang biasa dan perasaan hingga saat ini saya konsisten sebagai orang biasa yang apa adanya. Sehari-hari memberikan kuliah soal-soal hukum yang seharusnya dan tidak seharusnya. Menulis di jurnal kering. Memberikan pendampingan legal drafting untuk beberapa parlemen lokal. Dan sedang bolak balik ikhtiar menerbitkan buku.
    Nah, dengan status saya yang independen dan biasa banget di atas, saya beropini bahwa sesungguhnya disadari atau tidak, pa wimar sudah melintas zaman. Saat sekarang ada gerakan face booker sebenarnya merupakan turunan dari embrio partai orang biasa yang sesungguhnya bertabur orang-orang luar biasa. Termasuk almarhum Munir yang justru kematiannya membuktikan kekuatan bahwa moral forcenya dikenang zaman dan waktu. Pembunuhnya justru hanya sampah dan tidak ada dalam tinta gores sejarah.
    Pa Wimar, pada akhirnya memang perlu gerakan kolektif. Individu yang baik bila sendirian ia akan mati sendiri. Untuk itu, mungkin perlu dirembukkan terobosan dengan penuh gizi yang sehat.
    Hidup orang biasa dengan leader luar biasa, pa wimar.
    Moga sukses.
  9. From Mardiro on 17 June 2010 22:03:15 WIB
    klo ada partai baru semoga bukan partai yg baru mau nyari kekuasaan tapi yang membawa semangat baru dan wajah cerah yang baru untuk masyarakat..terlebih masyarakat yang tergolong "Orang Biasa"
  10. From Deace on 18 June 2010 14:18:21 WIB
    sungguh menegsankan setelah membacanya pak..

    semoga muncul ide-ide yang baru..

    nice post salam <a href="http://batu.students.uii.ac.id">deace</a>
  11. From Mundhori on 19 June 2010 10:32:05 WIB
    Menurut konstitusi eksistensi parpol bertujuan untuk rekrutmen pemimpin dengan focus memperoleh kekuasaan untuk memimpin Negara. Kalau tujuan berdirinya partai orang biasa sama, maka akan sia sia saja. Ingat tokoh tokoh independent yang selalu gagal tampil untuk memimpin negeri ini karena terbentur aturan perundangan yang sangat menguntungkan parpol. Bahkan kini negeri kita ini boleh dikatakan sudah dikuasai parpol via farksi di parlemen. Kondisi itu membuat orang baik, berprestasi, punya moral dan komitmen utama pada Negara tidak diberi kesempatan ikut proses penentuan politik Negara, yg sangat dipengaruhi para pengusaha pemegang kendali perekonomian nasional....Partai orang biasa itu nanti kalau berhasil berdiri, posisinya tidak akan lebih baik dengan status ormas, LSM,organisasi profesi, dll yang telah ada di negeri ini
  12. From Hendra Permana on 19 June 2010 11:20:20 WIB
    Kang Wimar,
    Saya usulkan untuk segera direalisasikan pembentukan "Pantai Orang Biasa", dengan ketuanya kalo bisa SMI dan Sekjennya Kang Wimar, sekaligus kita calonkan SMI untuk Presiden 2014.
    Kenapa harus SMI yang jadi Presiden?!...karena Beliau bersih, tegas dan juga yang terpenting adalah bahwa Beliau telah terbukti berani serta tidak mau tunduk pada para Pengusaha.
    Salam.
  13. From jonni koswara on 19 June 2010 23:28:21 WIB
    Good bye sby ,partai demokrat,golkar,pks,ppp,pan,hanura,gerindra on 2014 !you are old fashion bad politicians ,dude !

    WELCOME PARTAI ORANG BIASA !

    BRAVO PA WIMAR !
  14. From Wisnu on 22 June 2010 17:35:29 WIB
    Pak Wimar,
    sok atuh lah, setidaknya kita yang masih ingin melihat Indonesia masih ada di 5 tahun ke depan...
  15. From MHamim on 27 June 2010 05:14:07 WIB
    Ketidak puasan kepada SBY, yang mulanya adalah perasaan sangsi, menjadi perasaan sebal pada waktu SMI berhenti, dan SBY langsung "merangkul ical".. Sekarang saya mulai tenang, dan dapat menerima: mungkin semua itu bisa dimengerti kalau kita bisa terima SBY sebagai SBY.
    Beberapa points yang saya ingat untuk diperhatikan:

    - Pada pilpres terakhir saya pilih SBY-Boediona, dan di pemilunya saya pilih Partai Demokrat. Pilhan saya itu karena memang tidak ada altenatif lain. Ternyata SBY dan Partai Demokrat meraih kemenangan diatas perkiraan. Dikira akan berakhirlah sekarang ketidak tegasan SBY. Masa dia mau menang 100 % untuk bisa tegas.

    - Itu tidak terjadi:

    - Selama 1 tahun kabinet ini bekerja, tidak kelihatan ada kemajuan dalam memberikan kepuasan perasaan kepada orang biasa, malahan dia selalu dirongrong problem,yang berklimaks pada berhentinya SMI yang seolah olah mendekatkannya PD dengan Golkar. Membikin orang biasa (seperti saya) bingung kok Golkar (ARB) dijadikan teman.

    - Tapi tetap SBY kurang dalam keberanian untuk menyebut musuh negara seperti dalam bidang agama (FPI) dan bidang korupsi seperti pengemplang pajak sering ”cuci tangan”, umo soal Anggodo, malahan perhatiannya dikalahkan oleh hal hal seperti video porno yang makin menarik perhatian menutup berita berita penting lainnya.

    - Muhamadayah bukan kawan seperti juga dibilang oleh Amien Rais: http://www.thejakartapost.com/news/2010/06/21/amien-muhammadiyah-govt-ties-‘not-amicable’.html Bukan ini saja buktnya i, tetapi sikap sikap Din Syamsudin, Syafii Maarif, Anies Baswedan juga tidak bersahabat kepada kita

    - Masuknya beberapa orang kedalam PD, ialah Ulil, Ranabaja dan Todumg ML(?) menunjukan bahwa PD bisa diterima sebagai teman, juga karena beberapa kali SBY menunjukan ketidak-begitu-cocokan dengan Golkar. Ulil punya faktor khusus dia akan menarik orang biasa beragama Islam yang pluralis, dan bisa merupakan wadah bagi kaum ini yang merasa diwadahi oleh PDI-P dan Golkar (Islam).

    - Kita lihat saja perkembangan beberapa bulan yang akan datang, apakah Partai Denokrat bis kita jadikan ”kendaraan:” POB, atau kah POB jalan sendiri dan jadi partai. Kiota selalu harus :"berpartner" dengan P2D.


    Pada saat ini, kalau kita ingin ”bergabung” dengan partai sekular yang ada, PD adalah pilihan terbaik dibanding dengan Nasdem (golongan frustasi), PDI-P (sudah set mind) dan Golkar yang terjelek dan harus hilang.

    Tentunya dengan terima SBY sebagai SBY dengan segala ke"aneh"annya. Toh tidak akan lagi dia jadi Presiden.

  16. From Novan on 28 June 2010 10:05:33 WIB
    Semoga partai orang biasa ini memang partai yang progressive revolusioner. Mari maju bersama kawan!
  17. From baju muslim on 03 July 2010 13:39:31 WIB
    lanjutkan!!^^
  18. From w.sahli on 09 August 2010 17:06:42 WIB
    Dulu saya kira PAN adalah "partainya orang biasa" ternyata setelah berjalan menjadi "bukan partai orang biasa", demikian juga PKB dan Demokrat......bahan bakunya orang biasa dan dimasak dengan resep orang biasa ternyata menjadi "bukan partai orang biasa" Mesti dengan bahan baku seperti apa dan resep seperti apa ya supaya bisa menjadi "partai orang biasa"
  19. From bikin on 15 November 2010 11:20:18 WIB
    indonesia perlu perubahan. maka dibutuhkan orang2 yang bisa membuat perubahan.

« Home