Articles

Agenda Politik untuk Orang Non-Politik


26 June 2010

 

Keputusan Kembali pada Orang Biasa
Orang biasa di Australia tidak semua mengikuti politik, tapi semua kena dampak keputusan untuk mengganti Kevin Rudd dengan XXXXX sebagai Perdana Menteri. Kevin Rudd diganti karena Partai merasakan dia makin merosot dimata publik, dan parlemen semakin menekan dia. Kalau PM Australia, pasti akan ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari Australia. Jadi pada saat diadakan pemilihan umum, orang biasa sudah harus tahu perbedaan antara PM XXXX dan penantangnya, kalau tidak maka dia tidak boleh ngomel belakangan. Ini satu contoh dalam pengertian yang dibawakan oleh 'rising star' Benny Handoko: 'Kamu tidak wajib mengerti politik, tapi politik akan selalu mengejar kamu.'
Panglima Tentara USA di Afghanistan Jedndral XXX Chrysler mengundurkan diri setelah mengeritik habis atasannya termasuk Presiden. Obama tidak ada pilihan kecuali memberhentikannya dan menggantinya dengan Jendral David Petraeus, veteran tahap akhir perang Irak. Kebijaksanaan ini akan mempengaruhi anggaran perang AS, pengiriman anak muda sebagai tentara, dan konstelasi terorisme. Luapan minyak mentah di Teluk Mexico dikenal sebagai BP Oil Spill karena perusahaan minyak terbesar di dunia ini diduga melakukan kejahatan publik. Presiden Obama aklhirnya menuntut BP menyediakan US$ 20 Billion (kuranglebih Rp 180 Trilyun) untuk perbaikan dan ganti rugi. BP pasti melawan tapi suara publiok lebih kuat. Obama memilih publik, tidak melindungi BP.
Pendapat orang biasa lebih bernilai di Australia atau di Amerika Serikat, dibandingkan dengan di Indonesia. Di Indonesia, publik punya pendapat, tapi keputusan dilakukan dalam ruang tertutup. Publik sudah kuat suaranmya pada waktu Pemilu, tapi tidak waktu pemerintahan hasil Pemilu berjalan. Mayoritas SBY tidak disangsikan melebihi 60% sementara Golkar hanya belasan persen, tapi kalau kita amati kejadian sekarang, seakan-akan pemenang Pemilu adalah Golkar. Kita tidak bisa menyalahkan Golkar karena partai politik harus memperjuangkan kepentingannya. Kita tidak bisa menyalahkan pemilih yang Orang Biasa, karena sudah bisa membedakan calon yang baik dengan yang tidak.
Tapi kita boleh heran mengapa sekarang keputusan politik diambil diluar selera publik. Kelihatannya penentu kebijaksanaan adalah kartel politik yang menjadi wadah kerjasama antara modal besar dengan peraih suara terbesar di Pilpres. Mungkin Orang Biasa kurang senang dengan lolosnya penghindar pajak, luapan lumpur Lapindo dan kesewenangan kelompok terkaya, dan kurang fokusnya pemerintah pada persoalan rakyat. Maka pertanyaan harus dialamatkan pada Orang Biasa sendiri, bukan pada Aburizal Bakrie atau SBY, karena yang bisa mengubah keadaan hanyalah Orang Biasa. Para elite sudah puas dengan keadaan sekarang, seperti draw pada pertandingan Piala Dunia.
Sekretaris Gabungan Koalisi sudah puas dengan keadaan sekarang, sebab posisinya bisa mengamankan penbyidikan pajak dan gugatan luapan lumpur. Tidak bisa disangsikan, pengaruhnya pada Presiden melebihi pengaruh suara rakyat. Presiden sendiri puas dengan keadaan sekarang, sebab ini menjamin posisinya sampai tahu 2014. Kesempatan terbuka lebar pula untuk SBY-Bakrie menentukan presiden mendatang, yang membuka jalan lebar pada Bakrie karena SBY tidak bisa dicalonkan lagi, kecuali ada perubahan UUD.
Kasus korupsi, hutang pajak, perusakan lingkungan dan perampasan hak rakyat bisa diabaikan oleh kartel koalisi, selama partner koalisi berteguh saling menjaga. Tapi kalau kartel goyah, kemungkinan perbaikan akan terbuka. Jangan kira semua anggota partai Golkar. Sekumpulan tokoh senior sangat tidak puas dengan pimpinan Golkar sekarang karena sangat nyata yang dijaga olehnya adalah kepentingan bisnis pribadi, bukan kepentingan partai. Ini analisa, bukan fakta. Jadi boleh didebat,l tapi tidak bisa disomasi. Silakan berdebat, itu namanya demokrasi. Tapi kalau Orang Biasa tidak ikut berdebat, maka tidak ada pihak yang  berani bersuara melawan Sekretaris Gabungan, nama kartel kita itu. Informasi mengenai keresahan sementara personil Golkar termasuk menterinya tidak muncul di media, tapi disampaikan kepada Orang Biasa.
Bola ada di pihak Orang Biasa untuk menambah partisipasi permainan dan membentuk serangan balik. Permainan bertahan Orang Biasa sudah cukup baik, melihat kasus Pritha, kasus Bibit-Chandra babak pertama, kasus Pansus gagal dan kemenangan SMI. Tinggal sekarang mencuri kesempatan serangan balik untuk mengembalikan hak rekyat melalui proses demokrasi. Kita selamat dari Orde Baru melalui proses demokrasi, tapi kita sekarang terperosok karena proses demokrasi juga. Banyak pemain politik yang siap menerima bola dari Orang Biasa. Tinggal mengolah  bola untuk membuka serangan.
Siapa sebetulnya Orang Biasa yangh disebut-sebut? Definisinya tidak ketemu sampai sekarang, dan tidak penting. Yang penting adalah cita-cita bersama yang didorong oleh keinginan orang biasa untuk meninggalkan apa yang mengganggu kehidupan masyarakat kita selama berpuluh-puluh tahun sampai saat itu. Premis yang tidak terucapkan adalah bahwa kita tidak usah memilih antara menjadi hero atau penjahat. Tidak semua orang yang hadir itu mengikuti jalan yang konsisten dalam tahun-tahun sesudahnya. Namun, niat awalnya semua baik dan kita menghargai semua yang pernah punya cita-cita. Kita bukan ingin menilai perjalanan tiap individu pendukung Partai Orang Biasa ini, melainkan menghargai bahwa kekuatan orang biasa itu besar. Contoh yang konkret tentang itu terlihat pada Munir. Kita sangat boleh kagum dan berterima kasih kepada Goenawan Mohamad yang mengenbalikan Bakrie Award termasuk uang tunai Rp 100 juta plus bunga. Kita sangat berharap ini menjadi bola salju yang diikuti dengan keberanian serupa dari Orang Baik yang masih bekerja dengan pendanaan Bakrie Group. Tapi kita tidak boleh menuntut apa-apa pada mereka, sebab mereka Orang Baik yang merasa tidak punya pilihan lain. Yang bisa dilakukan Orang Biasa adalah me nciptakan iklim yang mempermjudah muncul tokoh menunjukkan integritas seperti Goenawan Mohamad.
Integritas Orang Biasa selalu bertahan, sebab tidak ada alasan untuk mengorbankannya selama orang paham akan gunanya sikap mandiri. Dalam lumpur sekalipun, integritas bisa tumbuh. Bukti kekuatan integritas Orang Biasa terlihat dalam social media. Dalam topik yang menyangkut kehidupan masyarakat terlihat bahwa kecenderungan orang adalah untuk membela kebebasan. Ini berarti melawan penekanan, kemunafikan, dan penyalahgunaan uang dan kekuasaan. Tiap hari kita lihat Twitter, Facebook, Kaskus, Tumblr, Koprol, dan blog-blog bersuka ria meyarakan kebebasan. Katanya, freedom means nothing left to lose, feeling good is good enough for me.
Setiap sistem politik mempunyai ciri masing-masing. Orang Biasa di Australia tidak lama lagi akan memilih Perdana Menteri baru. Kalau tidak puas, mereka bisa minta ganti PM lagi. Tidak ada batas dalam sistem parlementer. Tidak suka pada DPR, pilih pagi, dan DPR baru memilih Perdana Menteri. Sistem presidential yangh ada di Amerika Serikat lebih mirip kita disini. DPR dipilih sekali lima tahun, Presiden dipilih langsung setiap lima tahun juga. Tidak ada gunanya mencoba menerobos aturan ini, karena hasil Pilpres sudah benar, Yang tidak benar adalah tumbuhnya kartel politik dari orang yang tidak terpilih dalam Pemilu, tapi mempunyai kekuatan uang sebagai hasil kolusi dan korupsi. Dalam soal penting sederhana ini, Orang Biasa punya peran. Mau mendukung koalisi kepentingan, atau membela kepentingan publik?

 

oleh Wimar Witoelar

Orang biasa di Australia tidak semua mengikuti politik, tapi semua kena dampak keputusan untuk mengganti Kevin Rudd dengan Julia Gillard sebagai Perdana Menteri. Kevin Rudd diganti karena Partai merasakan dia makin merosot dimata publik, dan parlemen semakin menekan dia. Kalau PM Australia, pasti akan ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari Australia. Jadi pada saat diadakan pemilihan umum, orang biasa sudah harus tahu perbedaan antara PM Julia Gillard dan penantangnya, kalau tidak maka dia tidak boleh ngomel belakangan. Ini satu contoh dalam pengertian yang dibawakan oleh 'rising star' Benny Handoko: 'Kamu tidak wajib mengerti politik, tapi politik akan selalu mengejar kamu.'

 

Panglima Tentara USA di Afghanistan Jendral Stanley McChrystal mengundurkan diri setelah mengeritik habis atasannya termasuk Presiden. Obama tidak ada pilihan kecuali memberhentikannya dan menggantinya dengan Jendral David Petraeus, veteran tahap akhir perang Irak. Kebijaksanaan ini akan mempengaruhi anggaran perang AS, pengiriman anak muda sebagai tentara, dan konstelasi terorisme. Luapan minyak mentah di Teluk Mexico dikenal sebagai BP Oil Spill karena perusahaan minyak terbesar di dunia ini diduga melakukan kejahatan publik. Presiden Obama aklhirnya menuntut BP menyediakan US$ 20 Billion (kuranglebih Rp 180 Trilyun) untuk perbaikan dan ganti rugi. BP pasti melawan tapi suara publiok lebih kuat. Obama memilih publik, tidak melindungi BP.

 

Pendapat orang biasa lebih bernilai di Australia atau di Amerika Serikat, dibandingkan dengan di Indonesia. Di Indonesia, publik punya pendapat, tapi keputusan dilakukan dalam ruang tertutup. Publik sudah kuat suaranmya pada waktu Pemilu, tapi tidak waktu pemerintahan hasil Pemilu berjalan. Mayoritas SBY tidak disangsikan melebihi 60% sementara Golkar hanya belasan persen, tapi kalau kita amati kejadian sekarang, seakan-akan pemenang Pemilu adalah Golkar. Kita tidak bisa menyalahkan Golkar karena partai politik harus memperjuangkan kepentingannya. Kita tidak bisa menyalahkan pemilih yang Orang Biasa, karena sudah bisa membedakan calon yang baik dengan yang tidak.

 

Tapi kita boleh heran mengapa sekarang keputusan politik diambil diluar selera publik. Kelihatannya penentu kebijaksanaan adalah kartel politik yang menjadi wadah kerjasama antara modal besar dengan peraih suara terbesar di Pilpres. Mungkin Orang Biasa kurang senang dengan lolosnya penghindar pajak, luapan lumpur Lapindo dan kesewenangan kelompok terkaya, dan kurang fokusnya pemerintah pada persoalan rakyat. Maka pertanyaan harus dialamatkan pada Orang Biasa sendiri, bukan pada Aburizal Bakrie atau SBY, karena yang bisa mengubah keadaan hanyalah Orang Biasa. Para elite sudah puas dengan keadaan sekarang, seperti draw pada pertandingan Piala Dunia.

 

Sekretaris Gabungan Koalisi sudah puas dengan keadaan sekarang, sebab posisinya bisa mengamankan penyidikan pajak dan gugatan luapan lumpur. Tidak bisa disangsikan, pengaruhnya pada Presiden melebihi pengaruh suara rakyat. Presiden sendiri puas dengan keadaan sekarang, sebab ini menjamin posisinya sampai tahu 2014. Kesempatan terbuka lebar pula untuk SBY-Bakrie menentukan presiden mendatang, yang membuka jalan lebar pada Bakrie karena SBY tidak bisa dicalonkan lagi, kecuali ada perubahan UUD.

 

Kasus korupsi, hutang pajak, perusakan lingkungan dan perampasan hak rakyat bisa diabaikan oleh kartel koalisi, selama partner koalisi berteguh saling menjaga. Tapi kalau kartel goyah, kemungkinan perbaikan akan terbuka. Jangan kira semua anggota partai Golkar. Sekumpulan tokoh senior sangat tidak puas dengan pimpinan Golkar sekarang karena sangat nyata yang dijaga olehnya adalah kepentingan bisnis pribadi, bukan kepentingan partai. Ini analisa, bukan fakta. Jadi boleh didebat,l tapi tidak bisa disomasi. Silakan berdebat, itu namanya demokrasi. Tapi kalau Orang Biasa tidak ikut berdebat, maka tidak ada pihak yang  berani bersuara melawan Sekretaris Gabungan, nama kartel kita itu. Informasi mengenai keresahan sementara personil Golkar termasuk menterinya tidak muncul di media, tapi disampaikan kepada Orang Biasa.

 

Bola ada di pihak Orang Biasa untuk menambah partisipasi permainan dan membentuk serangan balik. Permainan bertahan Orang Biasa sudah cukup baik, melihat kasus Pritha, kasus Bibit-Chandra babak pertama, kasus Pansus gagal dan kemenangan SMI. Tinggal sekarang mencuri kesempatan serangan balik untuk mengembalikan hak rekyat melalui proses demokrasi. Kita selamat dari Orde Baru melalui proses demokrasi, tapi kita sekarang terperosok karena proses demokrasi juga. Banyak pemain politik yang siap menerima bola dari Orang Biasa. Tinggal mengolah  bola untuk membuka serangan.

 

Siapa sebetulnya Orang Biasa yangh disebut-sebut? Definisinya tidak ketemu sampai sekarang, dan tidak penting. Yang penting adalah cita-cita bersama yang didorong oleh keinginan orang biasa untuk meninggalkan apa yang mengganggu kehidupan masyarakat kita selama berpuluh-puluh tahun sampai saat itu. Premis yang tidak terucapkan adalah bahwa kita tidak usah memilih antara menjadi hero atau penjahat. Tidak semua orang yang hadir itu mengikuti jalan yang konsisten dalam tahun-tahun sesudahnya. Namun, niat awalnya semua baik dan kita menghargai semua yang pernah punya cita-cita. Kita bukan ingin menilai perjalanan tiap individu pendukung Partai Orang Biasa ini, melainkan menghargai bahwa kekuatan orang biasa itu besar. Contoh yang konkret tentang itu terlihat pada Munir. Kita sangat boleh kagum dan berterima kasih kepada Goenawan Mohamad yang mengembalikan Bakrie Award termasuk uang tunai Rp 100 juta plus bunga. Kita sangat berharap ini menjadi bola salju yang diikuti dengan keberanian serupa dari Orang Baik yang masih bekerja dengan pendanaan Bakrie Group. Tapi kita tidak boleh menuntut apa-apa pada mereka, sebab mereka Orang Baik yang merasa tidak punya pilihan lain. Yang bisa dilakukan Orang Biasa adalah menciptakan iklim yang mempermudah muncul tokoh menunjukkan integritas seperti Goenawan Mohamad.

 

Integritas Orang Biasa selalu bertahan, sebab tidak ada alasan untuk mengorbankannya selama orang paham akan gunanya sikap mandiri. Dalam lumpur sekalipun, integritas bisa tumbuh. Bukti kekuatan integritas Orang Biasa terlihat dalam social media. Dalam topik yang menyangkut kehidupan masyarakat terlihat bahwa kecenderungan orang adalah untuk membela kebebasan. Ini berarti melawan penekanan, kemunafikan, dan penyalahgunaan uang dan kekuasaan. Tiap hari kita lihat Twitter, Facebook, Kaskus, Tumblr, Koprol, dan blog-blog bersuka ria meyarakan kebebasan. Katanya, freedom means nothing left to lose, feeling good is good enough for me.

 

Setiap sistem politik mempunyai ciri masing-masing. Orang Biasa di Australia tidak lama lagi akan memilih Perdana Menteri baru. Kalau tidak puas, mereka bisa minta ganti PM lagi. Tidak ada batas dalam sistem parlementer. Tidak suka pada DPR, pilih pagi, dan DPR baru memilih Perdana Menteri. Sistem presidential yangh ada di Amerika Serikat lebih mirip kita disini. DPR dipilih sekali lima tahun, Presiden dipilih langsung setiap lima tahun juga. Tidak ada gunanya mencoba menerobos aturan ini, karena hasil Pilpres sudah benar, Yang tidak benar adalah tumbuhnya kartel politik dari orang yang tidak terpilih dalam Pemilu, tapi mempunyai kekuatan uang sebagai hasil kolusi dan korupsi. Dalam soal penting sederhana ini, Orang Biasa punya peran. Mau mendukung koalisi kepentingan, atau membela kepentingan publik?

 

Print article only

14 Comments:

  1. From Mundhori on 28 June 2010 09:26:58 WIB
    Kalau memang kondisinya sudah begitu, sudah pantaslah orang non politik ambil peran. Tentu saja harus diorganisasikan oleh seorang tokoh melalui media. Faktanya memang harapan pada parpol tidak efektif. Lewat integritas pemenang pilpres juga kurang menggigit karena terkendali kekuasaan pemegang modal besar. Politik kartel yang kini menguasai Indonesia. Menemukan tokoh yg mampu mengorganisasikan gerakan, itulah yg nggak mudah. Mau tidak mau harus lewat peran organisasi non politik yg telah ada. Apkah itu ormas, LSM, organisasi profesi, dll. Tapi apakah mereka mau dan mampu.Atau menunggu munculnya seorang tokoh luar biasa yg punya kapasitas pemimpin baru Untuk itu peran media sangat membantu. Memobilisasi massa rakyat. Dimulai partisipasi mengkritisi situasi negari ini, kemudian ditingkatkan gerakan yg lebih konkrit lagi, yaitu menolak keputusan politik yg tidak menguntungkan rakyatlewat gerakan massa. Dan akhirnya mungkin impian gerakan semacam revolusi dengan derajat ekspektasi revolusi damai.
  2. From Endah Sri Hartati on 28 June 2010 10:27:09 WIB
    Pendapat orang biasa mulai terlihat minimal dengan tampilnya Beni Handoko meladeni debat dengan anggota2 DPR dan gencarnya tampilan WW dengan pendapatnya yang cerdas di berbagai event. Sehingga DPR mulai memperhitungkan pendapat orang biasa terbukti dengan ditinjau ulangnya dan mempertimbangkan kembali usulan Dana Aspirasi. Mari kita persatukan tekad kita, integritas kita untuk mensupport ide-ide bagus orang-orang biasa untuk memperbaiki negeri ini.
  3. From julio herry on 28 June 2010 15:22:13 WIB
    Banyak keanehan-keanehan yang terjadi di negeri ini. Mungkin krn peradaban politik dan para elit politik dinegeri ini yang tidak beradab, entahlah.
  4. From jaka on 01 July 2010 02:53:20 WIB
    Sayang seribu sayang , pada akhirnya pemerintah sekarang ini mulai menunjukkan \"wajah asli \"nya .

    Pendapat sayah mah ,pemimpin sekarang ini bukannya peragu tapi seorang oportunis yg mencari aman bagi kepentingan diri sendiri alias bukan seorang pahlawan bagi kepentingan masyarakat kita.
    Apalagi pengusaha yg satu itu ,semua orang sudah tau lah kualitas manusia ini.Boro2 memikirkan kepentingan masa depan negeri ini ,prens...merusak sih iya..

    Jadi bener kata Pa Wim, sekarang tergantung kita yg adalah orang2 biasa untuk memilih pemimpin yg bisa mendahulukan kepentingan publik pada tahun 2014 nanti.

    Sejarah baru yg bersih harus kita mulai dari sekarang!! Jangan biarkan koalisi kepentingan penguasa pengusaha itu menutupi segala kecurangan dan kekotoran dengan cara memenangkan pemilu 2014.

    Sakitu wae lah dari sayah.

  5. From Benediktus Yohan on 01 July 2010 11:43:55 WIB
    Kondisinya sulit, sebab banyak Orang Biasa ini masih resah memikirkan perutnya yang kelaparan setiap hari. Suara Orang Biasa yang sangat kuat untuk melanggengkan seorang wakil ke DPR bahkan seorang menjadi Presiden, tampaknya murah sekali dibeli dengan uang pada saat kampanye. Orang Biasa secara tak sadar terjebak dan mereka sendiri jadinya yang "berperan" melanggengkan kartel ini. Tapi saya harap banyak Orang Biasa yang tetap memegang integritasnya.
    Bung WW, pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar suara Orang Biasa bisa didengar dan berpengaruh kepada mereka yang tuli itu?
    Selain di Australia, di Jepang pun PM seringkali diganti mengikuti selera Orang Biasa (baca publik). Apakah ada mekanisme dalam UU yang memungkinkan kita untuk "menurunkan" wakil rakyat dan menunjuk yg baru. Atau "mengganti" Presiden yang kita pilih jika kinerjanya buruk? Kalau ada, mungkin baru mereka mau mendengar suara Orang Biasa (taruhannya jabatan mereka). Tapi rasanya mekanisme UU sudah diatur sedemikian rupa untuk "saling menyelamatkan" jabatan.
    Semoga Bung WW dan kawan-kawan senantiasa dikuatkan untuk terus berjuang sebagai Orang Biasa melawan kartel Orang Politik.
  6. From uban nugroho on 02 July 2010 02:13:59 WIB
    Akhir-akhir ini, saya sebagai masyarakat biasa merasa diamnaja untuk memperoleh informasi yang begitu mengalir deras. Namun sayang, informasi itu datang dengan isi yang kadang memancing menguras energi dan tidak fokus.
    Semisal masalah SMI, masalah Susno, masalah Ariel yang terakhir ini masalah Sisminbakum. Permasalahan2 itu mempunyai tokoh sendiri, namun sayangnya setiap pembahasan dan penyelesaian seakan jauh dari isi permasalahan itu sendiri - apalagi endingnya. Anehnya setiap permasalahan muncul, yang membahas juga ahli-ahli dibidangya semua. Jadi mereka profesional, mereka orang tidak biasa karena menyandang jabatan dan titel yang segaris. Tapi maaf, orang biasa jadi bingung karena simpang siurnya pendapat mereka.
    Semisal masalah SMI, awalnya ada tuduhan ada atau tidak dana mengalir ke salah satu partai, dalam perjalanan melenceng sasaran tembaknya, malah ke individual.
    Masalah Susno, dari makelar kasus melenceng ke individual juga. Susno sasaran tembak, padahal makelar itu memang ada.
    Masalah Ariel, mungkin memang dia yang bikin rekaman itu. Tapi ada niatan buat diedarkan nggak ya ? Tapi kalau akan mempermasalahkan siapa yang mengedarkan sebagai tujuan undang2 ITE, koq jauh banget ya ? Contoh yg sederhana saja, di mall yg sangat terkenal di jakarta, terkenal dari lokasi, dan dari bebasnya penjualan DVD \'bajakan\' banyak koq materi filmnya yang bersifat \'uncersor\' dipajang. Tapi masayarakat banyak juga akan tahu kalo ada razia untuk film2 itu justru kalau pagi-pagi kios itu dengan serentak tutup. Aneh khan ? Koq mereka lebih tahu. Masalahnya adalah kenapa justru yang dituju dalam undang-undang ITE itu begitu bebas, namun untuk seorang Ariel begitu malah ditelanjangi oelh bangsanya sendiri ? Mulai dari cara penanyangaan di berita, infotainment malah sudah presiden cepat turun tangan. Secara pribadi, pornografi, tidak setuju dan memang harus dibatasi. Tapi dalam membahas kasus Ariel, ada yang aneh.
    Dan terakhir kasusnya Yusril.... lha koq ramenya sekarang ?
    Sebagai orang biasa sehari-hari kita disodori gambaran, kalau orang \'tidak biasa\' kadang dalam mencapai tujuan memang sering mencla-mencle. Tapi maaf, orag biasa lebih konsekuen dalam menjalani hidup bernegara, sabar .....
    Dari menuruti ganti minyak tanah menjadi \"bom\" LPG misalnya, sabar ,,,,
    Sebagian Pilkada menghasilkan konflik, namun orang biasa juga sabar .......
    Tapi jangan keliru membaca kesabaran orang biasa itu .... saat pemilihan nanti, ya gantian sabar kalau nggak kepilih. Nanti orang biasa akan memilih yang sama sabarnya ke pejabat yang dalam menjabat dikorbankan namun masih tetap sabar.
  7. From jonni koswara on 02 July 2010 04:03:44 WIB
    Teman2 , masyarakat Indonesia harus segera disadarkan akan bahaya laten dari kartel2 politik pengusaha penguasa itu terhadap kelangsungan berbangsa dan bernegara kita. Kalau tidak, mereka akan menang lagi dalam pemilu 2014 dengan sokongan duit dari konglomerat2 \"hitam\" Indonesia.

    Yang saya kuatirkan adalah pengusaha \"hitam\" itu akan memanfaatkan presiden pemenang pemilu 2014 nanti ,seperti yg dilakukannya terhadap presiden sekarang. Sampai kecurangan2 dan korupsi2 mereka terhapuskan oleh pembuatan peraturan2 baru yg mereka atur sendiri melalui mekanisme perundangan2an di dpr. wowwww Seraaaam !!!

    Harapan saya sebagai orang biasa adalah saya tidak akan tertipu lagi dalam memilih pemimpin di tahun 2014 nanti. Cukup tertipu satu kali saja...

    Jadi, issue politik bagi rakyat Indonesia ke depan adalah KEPENTINGAN RAKYAT YES , KEPENTINGAN PRIBADI NO !!



  8. From Andri Irawan on 05 July 2010 10:59:22 WIB
    Orang biasa seperti saya ini sudah 'males' dengan Politik, setelah konsisten dengan golput semenjak jaman Soeharto sampai dengan Pemilu terakhir, sekarang membaca hal-hal berbau politik pun juga males. Suka banget baca perspektif, tapi kalau ada bau-bau politik jadi segan baca, tapi dibaca juga. Sekedar eksis saja. Orang biasa mungkin butuh eksis saja, 'tidak diakui' juga tidak apa-apa. Jadi tanpa agenda juga tidak masalah.
  9. From Aan hidayat on 27 July 2010 11:38:56 WIB
    Orang biasa melihat masalah adalah sangat jujur dan netral, seperti komentar mas uban nogroho di atas, kita memang selalu sabar, dan saya juga, tapi saya juga bisa muak dengan segala yang ngga beres ini, kalau ngga di ajak oleh ortu untuk mencoblos, saya pasti udah golput dalam pilkadal jember beberapa waktu lalu, alasan nya apa lagi kalau bukan kepercayaan saya yang memang udah pada titik nol dengan yang namanya pemerintah (apalgi pemerintah daerah). sering sekali saya dikecewain dengan yg namanya birokrasi, mereka menyebut nya \"oknum\", sebuah tangkisan bahwa memang birokrasi sarang nya \"oknum\".
    sampai cara cara parpol yang sering memperjual belikan suara, apalagi kriteria parpol dalam memilih calon nya kalau bukan money power?

    namum begitu, orang tua selalu mengingatkan saya untuk selalu optimis apapun dan bagaimanapun keadaan nya,

    akhirnya, semoga negaraku semakin membaik
  10. From cahyo baskoro on 04 August 2010 19:44:10 WIB
    Orang biasa. Ketika sekumpulan orang biasa malakukan gerakan yg SEREMPAK, pasti akan muncul kekuatan yg LUAR biasa. Keluarbiasaan itu mungkin mampu membendung niat busuk Kartel tersebut. Kapan para orang biasa bersuara serempak, bergerak serempak , berjuang serempak ?? Semoga itu Segera.
  11. From w.sahli on 06 August 2010 15:31:12 WIB
    saya rasa yang salah ya rakyatnya sendiri. buktinya bupati/walikota yang korup saja bisa terpilih lagi..... kalau memang rakyatnya cerdas dan jujur pasti koruptor gak bakal menang di pilkada.....
  12. From fr@ns on 25 August 2010 22:53:30 WIB
    kalo baca tulisan oom ww, saya jd berpikir.. kira2:
    1. berarti org biasa 2th ini tlh "tertipu" krn keliru memberikan kepercayaan pada org yg gk bisa dipercaya, yg gk bisa tegas.. dan malah terkesan takut berhadapan langsung dg kekuatan yg dlm bhs oom sbg KARTEL POLITIK (SEKBER)??

    dan juga kebalikannya
    2. tyt org yg diberikan kepercayaan oleh org biasa ini yg terkenal sbg "JAGO STRATEGI" sengaja memilih tidak berhadapan langsung dg si Gembong KARTEL.. tp memakai ketamakan si gembong u/ menghancurkannya.. (org biasa akn mencatat bhw si gembong di 2014 mesti ditolak???)

    hmmm.. yg terjadi sbnarnya apa yg oom?? kok yg aneh2 gt spt dibiarin atau malah dikembangkan??
  13. From Miss. N on 12 September 2010 19:14:57 WIB
    Saya menangkap,inti dari artikel ini adalah Orang Biasa diharapkan melek politik agar dapat melakukan perubahan jika pemerintah berjalan tidak sesuai dengan harapan.

    Melek politik membutuhkan informasi yg akurat. Sudah menjadi rahasia umum jika media informasi di Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemberi informasi saja, tapi juga provokator, demi rating.

    Ada juga media informasi yg dimiliki oleh politikus yang tentu saja menjadi nahkoda informasi mana saja yg akan di blow up, atau dikubur dalam-dalam.

    Jadi, untuk melek politik, mampu membaca pergerakan politik dan menyuarakan pendapatanya, orang biasa pertama-tama harus bisa memilih media informasi yg independent dan berkualitas.
  14. From dorang on 08 June 2011 09:39:45 WIB
    Udah deh orang biasa kagak bakalan menang.
    Orang biasa ngancam kagak bakal pilih yg keliatan pada bejad sekarang, tapi nanti di 2014,orang biasa bakalan kecewa..kenapa??
    Karena orang2 bejad itu ud siapin duit dan perangkat it pemilu buat menangin mereka.Kita itu yg orang biasa adalah orang yg mudah lupa dan gampang di-iming2-kan duit dan gampang di rekayasa..Kasih duit waktu pemilu,maka orang biasa banyak yg otaknye kecuci alias lupa ingatan,lalu nyoblos yg lama lagi..trus orang biasa dikasih jabatan krn terpilih lalu justru jadi orang bejad juga,jadi bolak balik bakalan sama aje,mas..
    Liat contohnya bekas orang biasa yg duduk di lembaga pemilu macam anas dan andi nurpati, sekarang ud jadi orang bukan biasa..mane mikirin rakyat tuh orang setelah duduk ditempat enak..EGP...gitu aje koq repot...
    Yang paling bener buat mereka sekarang cari duit sebanyak2nya buat diri sendiri..rakyat??? EGP..
    Buat bikin negara ini pulih jadi baik kita mesti berani tebang abis...kalo perlu sampe 2 -3 generasi, jadi murni belom terkontaminasi kebejadan virus yg beredar..
    he..he..he..itu kalo orang biasa berani..emang cara frontal,abis kalo cara baik2 kayak sekarang, kagak bakalan menang cing..!!mungkin butuh 600 taon lagi dah..
    Cuaaapeee dehhhh...!!!

« Home