Articles

Troll tidak Bete

Djakarta! magazine
05 August 2010


oleh Wimar Witoelar

Dalam penerbangan ke Bangkok, saya menyenggol seorang penumpang yang sedang minum bir. Saya sendiri tidak sadar karena gang kelas ekonomi sempit dengan kapasitas penumpang penuh. Tapi saya berpaling ketika terdengar sang tersenggol itu mengatakan sesuatu. Rupanya dia orang Inggris, dan mengulangi komentarnya dengan aksen yang sering terdengar dari seorang fanatik sepakbola. Katanya dengan nada biasa: "Get your f****** a** out of my face." Mungkin karena nadanya tidak keras, saya tidak memberikan reaksi dengan marah. Malah saya berkata: "Oh, I'm sorry, I didn't realize it," dengan senyum apologetik. Dia menjawab dengan ekspresi baik dan memberi isyarat "nggak apa-apa lah"

Terbayang kalau saya marah. Walaupun kaki saya lemah, tangan dan bagian atas tubuh saya justru kuat. Bisa saya pukul orang itu, dan andaikatapun dia orangnya kuat, dia bisa repot. Karena dia tidak akan berdaya, dalam keadaan duduk terikat sabuk pengaman, sementara saya bebas dalam posisi berdiri. Bisa saya pukul dia berkali-kali sampai pramugari datang memisahkan kami, dan saya diserahkan pada polisi waktu mendarat di Bangkok.

Itu tentu cuman fantasi belaka, sebab seumur hidup saya belum pernah terlibat perkelahian, Kalau terancam saya lari atau membuat joke mengalihkan perhatian, kalau marah saya tidak berani memukul karena takut dibalas atau takut kasihan sama orangnya andaikata dia kalah. Seperti dikatakan Michael Jackson: " I'm a lover, not a fighter". Yang menjadi pikiran serius adalah mengapa orang bisa marah sampai mengeluarkan umpatan jorok, untuk suatu pelanggaran yang rasanya kecil. Ada kemungkinan: pelanggaran itu terasa berat bagi dia, atau orangnya memang gampang marah. Atau gampang mengeluarkan umpatan, seperti Tweetster  yang menghias tiap tiga kalimat dengan "f-word" atau s***.

Saya tidak pernah menginvestasikan emosi untuk marah pada orang semacam itu. It is his problem, not mine. Malah bagus bahwa dia memberi teguran, menjadi reality check supaya tidak sembarangan nyenggol orang di pesawat terbang. Pernah saya dikomentari orang juga bahwa dia melihat saya di Pondok Indah Mall, katanya kasihan kelihatan tua banget jalan pakai tongkat. Jadi kata dia, dia tidak akan menghina saya lagi, kasihan. Saya menjadi sangat amat sedih membaca tweet itu, karena mengingatkan bahwa bagi dunia luar, saya memang patut dikasihani jalan dengan tongkat (walaupun karena penyakit kaki, bukan karena tua), Saya marah pada penulis tweet itu tapi sebentar saja, diganti oleh rasa terima kasih bahwa ada yang mengingatkan bahwa saya memang sudah tua, agar jangan selalu menunjukkan pergaulan saya dengan orang muda yang sekarang menjadi teman terdekat saya di kantor dan di luar. Orang yang memberikan komentar itu juga jelas tidak suka pada saya, dan mengaku biasanya dia suka menghina saya. Apa alasannya, tidak tahu, tapi saya selalu berusaha memperbaiki diri setiap ada koreksi.

Sekarang saya tidak pernah memberi komentar sindiran pada klub sepakbola yang banyak pendukungnya, karena usaha untuk humor pernah dianggap sebagai pelanggaran agama. orang berbudi asam di pesawat terbang beda dengan orang agresif di Twitter. Yang di pesawat itu memang tersinggung, sedangkan pencela di Twitter tidak selalu punya alasan untuk tersinggung, tapi ingin menarik perhatian. Tiap orang punya sifat narsisistik, dan di Twitter persentase mereka (atau kami, sebab saya juga narsis) lebih besar daripada di luaran. Bagi orang narsis, hal yang paling dikuatirkan adalah bahwa dia tidak dipandang atau istilah sekarang "tidak eksis". Struktur Twitter didasarkan pada follower, makin banyak follower maka dengan sendirinya makin banyak didengar.

Dalam istilah gaul Internet, dikenal "troll" yang gemar memasang komentar menghasut, mengganggu atau keluar topik sengaja untuk memancing response orang lain dan menjadikan dirinya terkenal.

Khusus dalam hal Twitter, seorang yang tidak dikenal bisa membuat dirinya terkenal dengan dua cara. Pertama, dengan mengeluarkan gagasan yang bagus sehingga disebar luaskan oleh orang yang punya follower banyak. Cara kedua adalah dengan menjadi troll yang memancing reaksi orang terkenal, dan membuat dirinya terkenal juga. Cara ini banyak disukai orang baru di Twitter kita. Mereka itu bukan orang yang marah, tapi troll yang perlu perhatian.

 

Print article only

2 Comments:

  1. From arfian on 06 October 2010 12:28:04 WIB
    iya pak wimar, saya juga merasa di dunia maya Indonesia jadi banyak sekali internet troll...
    lihat saja komentar2 di detik.com atau di kaskus atau di kompas.com
    banyak banget yang isinya makian2 tidak berdasar atau hinaan2 lain yang menyerang individu tertentu
    apalagi di website2 yang bisa \"like\", makin senang tuh internet troll karena ada pengukur sesukses apa dia trolling hahaha

    sedikit intermezzo
    ada komik pendek judulnya \"How a troll is born\"

    http://thenextweb.com/shareables/files/2010/08/troll-500x821.png
  2. From dmitri on 15 October 2010 18:05:57 WIB
    WW, minggu lalu saya bantu seorang nenek bertongkat mencapai tempat duduk di taman. Jarak cuma 20-an meter, tapi semeternya perlu satu menit buat nenet tua yang gemetaran dibawah ujan. Katanya jalan-jalan sudah biasa, tapi hari ini kok kurang kuat. Setelah ngobrol sebentar saya minta pamit, dan dia berterima kasih. Ternyata rasanya lebih baik dari jatuh cinta sama cewek. Matanya jadi terlihat muda, tangannya jadi kelihatan terawat. Saya harap suatu hari nanti ada perempuan muda yang membantu saya. Semoga kaki WW cepat sembuh, atau paling tidak banyak teman muda yang siap bantu.

« Home