Articles

Justin Bieber dan Keong Racun

AREA magazine
13 October 2010

 

 
Kalau Anda bukan ABG, kemungkinan besar nama Justin Bieber tidak punya arti bagi Anda. Tapi kalau Anda mengikuti social media, Anda pasti tahu penyanyi sensasional berusia 16 tahun itu, bahkan sempat lihat di YouTube. Dia membuat kejutan industri musik dengan sukses di luar dugaan, sekelas “freak goal” yang dibuat melawan Sunderland oleh Cesc Fabregas secara tidak sengaja, dari tendangan clearance gagal oleh Anton Ferdinand. Dalam kasus Justin, tangan ajaib yang mensukseskannya adalah Usher.
Oke lah, ini bukan pameran nama yang Anda tidak kenal. Tapi, ingin berbagi cerita mengenai sukses terbesar seorang artis musik masa kini, sukses yang tercipta dengan pemanfaatan YouTube dan social media. Masih tidak tergugah? Cobalah search dengan keyword Justin Bieber – Baby di YouTube dan Anda bisa lihat video clip yang telah dilihat 330 juta kali saat tulisan ini dibuat. Social media lain seperti Twitter dan Koprol membahas Justin Bieber secara intens, walaupun di Indonesia masih disaingi Shinta dan Jojo. 
Justin Bieber anak Kanada dari Ontario. Awalnya ketika ibunya mulai pasang video anaknya di YouTube (gampang, video saya nyanyi lagu Elvis di YouTube juga ada) dan mulailah pertumbuhan popularitas seperti virus. Lagu yang dibawakannya memang sudah populer, nomor-nomor Usher, Chris Brown, Justin Timberlake. Video lagu-lagu Justin menarik perhatian seorang eksekutif musik, yang mengundang Justin Bieber ke Atlanta ketemu Usher penyanyi top r ‘n b. Usher memenangkan persaingan dengan Justin Timberlake dan masuklah Justin dalam kontrak dengan Island Record. Kelanjutannya memecahkan semua rekor sejarah musik digital. Menyusul terobosan lagu "One Time" dan peluncuran My World last November, Justin Bieber melebihi 100 juta views di YouTube. 
Orang yang tidak suka musik, YouTube, dan social media akan dingin terhadap Justin Bieber. “Apa-apan, sih?” Masih banyak yang lebih penting sekitar kita, kata orang bijaksana. Tapi orang cerdas harus tahu, bahwa penting tidak penting itu diputuskan suara terbanyak dalam masyarakat bebas. Dan, sekarang ini suara terbanyak ditentukan dalam fenomena social media yang melakukan promosi digital dan viral (seakan virus); ini sebetulnya fenomena campuran antara teknik digital, analog, dan media cetak. Justin Bieber menjadi bintang di internet, kemudian diperbesar lingkupnya oleh TV jadul, dengan dihias publikasi dan promosi media cetak. Pokoknya, Justin Bieber adalah seorang bintang, suka atau tidak. Dia telah muncul di acara talk show David Letterman, acara The View, live show di banyak acara, mendapat ranking satu dalam review di majalah Rolling Stone untuk My World 2.0. Di Twitter, dia bisa diikuti pertumbuhan suksesnya dengan didatangi 90.000 tweeps per hari. Justin Bieber mendapat 11.000 follower baru tiap hari di Twitter, yang bisa membuat trolls kesal luar biasa.
Kita sendiri punya cerita sukses musik melalui social media, yaitu Keong Racun. Sepintas lalu tidak ada apa-apanya, video YouTube menampilkan dua gadis manis Jawa Barat secara close-up full screen di YouTube. Mereka menyanyi lagu dangdut berjudul “Keong Racun.” Tapi, dalam waktu satu bulan sejak dipasang online, video ini telah menarik lebih dari satu juta views di YouTube dan meningkat sebagai trend di Twitter secara internasional, karena peserta Twitter Indonesia paling dominan di dunia. Konon kabarnya, video ini mau di-upload ke Facebook, tapi ukuran filenya terlalu besar. Akhirnya, Sinta and Jovita “Jojo” Adityasari memasangnya di Youtube. Terjadilah sukses instan.
Sekarang, setiap orang bisa nyanyi atau bicara di depan kamera dan mendapat penonton instan bukan saja di Indonesia, tapi di seluruh dunia melalui social media. Mungkin, sukses di social media merupakan puncak aktualisasi. Tapi, sukses dalam ukuran uang masih harus diperolah dari dunia nyata. Sinta dan Jojo mendapat tawaran kontrak tapi masih ragu karena merasa tidak mempunyai bakat. Sesungguhnya, mereka belum tahu, sukses tidak mengikuti bakat tapi mengikuti suara terbanyak. Kalau orang bilang dia berbakat, buat apa disangkal?
Apakah Sinta dan Jojo akan mengikuti sukses Justin Bieber? Berat. Ibarat pemain tennis Suwandi yang menjadi juara kelas junior yang tidak bisa tembus 100 besar dunia. Sukses profesional tidak bisa diperoleh dengan membatasi diri pada Indonesia. Angelique Wijaya menjadi juara junior Wimbledon dengan mengalahkan Dinara Safina di final. Sekarang Dinara Safina pernah mencapai nomor satu dunia, sedangkan Angie kena cedera sebelum tembus 50 besar. Pemain Rusia seperti Maria Sharapova dan Anna Kournikova dibesarkan di Amerika Serikat dan bicara serta berpenampilan internasional. Sinta-Jojo bisa sukses seperti Justin Bieber, tapi harus ada Usher versi lain yang mengangkat sukses Keong Racun ke industri musik dunia.

 

 Wimar Witoelar

Kalau Anda bukan ABG, kemungkinan besar nama Justin Bieber tidak punya arti bagi Anda. Tapi kalau Anda mengikuti social media, Anda pasti tahu penyanyi sensasional berusia 16 tahun itu, bahkan sempat lihat di YouTube. Dia membuat kejutan industri musik dengan sukses di luar dugaan, sekelas “freak goal” yang dibuat melawan Sunderland oleh Cesc Fabregas secara tidak sengaja, dari tendangan clearance gagal oleh Anton Ferdinand. Dalam kasus Justin, tangan ajaib yang mensukseskannya adalah Usher.

Oke lah, ini bukan pameran nama yang Anda tidak kenal. Tapi, ingin berbagi cerita mengenai sukses terbesar seorang artis musik masa kini, sukses yang tercipta dengan pemanfaatan YouTube dan social media. Masih tidak tergugah? Cobalah search dengan keyword Justin Bieber – Baby di YouTube dan Anda bisa lihat video clip yang telah dilihat 330 juta kali saat tulisan ini dibuat. Social media lain seperti Twitter dan Koprol membahas Justin Bieber secara intens, walaupun di Indonesia masih disaingi Shinta dan Jojo. 

Justin Bieber anak Kanada dari Ontario. Awalnya ketika ibunya mulai pasang video anaknya di YouTube (gampang, video saya nyanyi lagu Elvis di YouTube juga ada) dan mulailah pertumbuhan popularitas seperti virus. Lagu yang dibawakannya memang sudah populer, nomor-nomor Usher, Chris Brown, Justin Timberlake. Video lagu-lagu Justin menarik perhatian seorang eksekutif musik, yang mengundang Justin Bieber ke Atlanta ketemu Usher penyanyi top r ‘n b. Usher memenangkan persaingan dengan Justin Timberlake dan masuklah Justin dalam kontrak dengan Island Record. Kelanjutannya memecahkan semua rekor sejarah musik digital. Menyusul terobosan lagu "One Time" dan peluncuran My World last November, Justin Bieber melebihi 100 juta views di YouTube. 

Orang yang tidak suka musik, YouTube, dan social media akan dingin terhadap Justin Bieber. “Apa-apan, sih?” Masih banyak yang lebih penting sekitar kita, kata orang bijaksana. Tapi orang cerdas harus tahu, bahwa penting tidak penting itu diputuskan suara terbanyak dalam masyarakat bebas. Dan, sekarang ini suara terbanyak ditentukan dalam fenomena social media yang melakukan promosi digital dan viral (seakan virus); ini sebetulnya fenomena campuran antara teknik digital, analog, dan media cetak. Justin Bieber menjadi bintang di internet, kemudian diperbesar lingkupnya oleh TV jadul, dengan dihias publikasi dan promosi media cetak. Pokoknya, Justin Bieber adalah seorang bintang, suka atau tidak. Dia telah muncul di acara talk show David Letterman, acara The View, live show di banyak acara, mendapat ranking satu dalam review di majalah Rolling Stone untuk My World 2.0. Di Twitter, dia bisa diikuti pertumbuhan suksesnya dengan didatangi 90.000 tweeps per hari. Justin Bieber mendapat 11.000 follower baru tiap hari di Twitter, yang bisa membuat trolls kesal luar biasa.

Kita sendiri punya cerita sukses musik melalui social media, yaitu Keong Racun. Sepintas lalu tidak ada apa-apanya, video YouTube menampilkan dua gadis manis Jawa Barat secara close-up full screen di YouTube. Mereka menyanyi lagu dangdut berjudul “Keong Racun.” Tapi, dalam waktu satu bulan sejak dipasang online, video ini telah menarik lebih dari satu juta views di YouTube dan meningkat sebagai trend di Twitter secara internasional, karena peserta Twitter Indonesia paling dominan di dunia. Konon kabarnya, video ini mau di-upload ke Facebook, tapi ukuran filenya terlalu besar. Akhirnya, Sinta and Jovita “Jojo” Adityasari memasangnya di Youtube. Terjadilah sukses instan.

Sekarang, setiap orang bisa nyanyi atau bicara di depan kamera dan mendapat penonton instan bukan saja di Indonesia, tapi di seluruh dunia melalui social media. Mungkin, sukses di social media merupakan puncak aktualisasi. Tapi, sukses dalam ukuran uang masih harus diperolah dari dunia nyata. Sinta dan Jojo mendapat tawaran kontrak tapi masih ragu karena merasa tidak mempunyai bakat. Sesungguhnya, mereka belum tahu, sukses tidak mengikuti bakat tapi mengikuti suara terbanyak. Kalau orang bilang dia berbakat, buat apa disangkal?

Apakah Sinta dan Jojo akan mengikuti sukses Justin Bieber? Berat. Ibarat pemain tennis Suwandi yang menjadi juara kelas junior yang tidak bisa tembus 100 besar dunia. Sukses profesional tidak bisa diperoleh dengan membatasi diri pada Indonesia. Angelique Wijaya menjadi juara junior Wimbledon dengan mengalahkan Dinara Safina di final. Sekarang Dinara Safina pernah mencapai nomor satu dunia, sedangkan Angie kena cedera sebelum tembus 50 besar. Pemain Rusia seperti Maria Sharapova dan Anna Kournikova dibesarkan di Amerika Serikat dan bicara serta berpenampilan internasional. Sinta-Jojo bisa sukses seperti Justin Bieber, tapi harus ada Usher versi lain yang mengangkat sukses Keong Racun ke industri musik dunia.

 

 

Print article only

14 Comments:

  1. From hok on 14 October 2010 22:19:36 WIB
    Setuju ,pak Wimar.
    Untuk melangkah ke panggung dunia memang tidak mudah.Itu membutuhkan kesempatan ,keberanian,kepercayaan pada diri sendiri dan profesionalitas dari org2 yg menjalaninya.
  2. From grammar on 16 October 2010 12:58:37 WIB
    makasi buat infonya om
    <a href="http://english-for-future.blogspot.com">grammar</a>
  3. From @dekurisme (di twitter) on 18 October 2010 12:14:33 WIB
    emang media yang dianggap sepele sama orang Indonesia kebanyakan terkadang bisa luar biasa mendongkrak popularitas orang, tapi sayangnya hanya segelintir orang saja yang paham kayak beginian. kadang orang yang narsis di jejaring sosial dianggap kebanyakan orang kayak ga ada kerjaan.
  4. From R Muhammad Mihradi on 19 October 2010 11:10:00 WIB
    Globalisasi teknologi memang merubah keadaan. Tapi, untuk sebagian, globalisasi bisa ditunggangi sekedar senang-senang. Muncul di you tube sekedar buat happy. Tidak terlalu jelimet dan bercita-cita luhur ke industri. Meski seperti joj0-shinta tergelincir masuk industri(dengan happy tentu saja) tapi sekali lagi tidak diskenariokan.
    Jadi. hidup mungkin pilihan. menjadi apapun, lokal, nasional atau internasional, yang penting dengan bebas dan sadar memenuhi pilihan berikut konsekuensinya.
  5. From Harry Nizam on 19 October 2010 13:31:30 WIB
    Kisah Justin Bieber dan Keong Racun (Sinta-Jojo)
    merupakan dua kisa yang serupa tapi tak sama.
    Yang satu international, yang lainnya nasional.
    Tapi bukan tidak mungkin dikemudian hari akan
    muncul orang Indonesia yang bisa tampil sukses
    secara internasional.

    multibrand.blogspot.com
  6. From gusti roby navela on 24 October 2010 00:20:13 WIB
    keong racun, justin beiber, bocah korea, dll.. pengen narsis di youtube juga ni.. tapi apa ya?? sesuatu yg baru, unik, kreatif, positif dan membuat sensani berbeda...

    oh iya, main ketempat saya donk, http://vrince.wordpress.com
  7. From bram on 25 October 2010 22:25:03 WIB
    itulah bedanya indo dg diluar negeri, negara berkembang/miskin mana bisa disamakan dg negara maju. kesempatan disana jauh lebih besar tentu. makanya klu mau sukses lebih lagi ya harus keluar negeri lah....
  8. From Syilla on 03 November 2010 14:46:08 WIB
    Pengen narsis pasti ada di cita-cita hati banyak orang :)

    http://klikfokus.com/blog/
  9. From Sam on 03 November 2010 22:27:49 WIB
    New Member, salam kenal. Jadi antara kualitas dan suara (penggemar)terbanyak tidak selaras/harmonis yang penting komersil. Wah, saya kira dengan begulirnya waktu yang instan-instan gitu bakalan hilang tak berbekas ... karena memang tak berkelas ....

    (www.medbase.co.cc, www.terapimusik.co.cc)
  10. From sewa mobil on 11 November 2010 15:19:50 WIB
    ya memang sekarang sudah banyak banget orang2 yang cepat terkenal dengan lewat you tube...
  11. From Kartika on 10 December 2010 02:08:52 WIB
    Usher versi lain untuk sinta dan jojo..? hahaha :D
    sepertinya mereka memang membutuhkan si "Usher versi lain" untuk jadi mentor agar lebih terkenal.. U Rocks Pak Wim!!! \m/
  12. From Jack on 09 January 2011 10:43:19 WIB
    Mungkin social Media memang tidak dirancang untuk mencetak legenda-legenda baru, tapi kecepatan penyebaran data dalam social media memang bekerja seperti virus, cepat dan masif. Sinta dan Jojo mungkin terkenal sekarang, tapi sampai kapan? akan lahir lagi Sinta-Jojo yang baru kan? Untuk Sinta-jojo, segeralah bergabung dalam dunia nyata, bekerja keras, belajar dan belajar. karna untuk menjadi legenda.. masih banyak hal yang belum berubah..
  13. From obat alami diabetes on 11 April 2011 12:25:53 WIB
    socialmedia ,sekarang ini bisa menjadi jembatan untuk mengantarkan kesuksesan secara intstan asal dengan kreatifitas seni yang memang positif dan bisa dinikmati oleh pecintanya
  14. From ifi on 07 May 2011 09:24:45 WIB
    hebat,,justin biber,..!!!

« Home