Articles

Jangan sampai tenggelam dalam lumpur

Perspektif Online
09 November 2010

 

Komunikasi politik menjadi salah satu faktor yang dipercaya bisa menjadi sebuah kekuatan besar yang meguntungkan, sekaligus kelemahan jika tidak bisa dikelola dengan baik. Oleh karenanya membahas praktek komunikasi politik seperti cara berbicara, berpidato, menyapa konstituen, menjalin hubungan antar kekuatan politik,  apalagi di tingkat kepresidenan menjadi sangat menarik untuk dibahas. Karena berkaitan langsung dengan pribadi Presiden dan juga style kepresidenanya.
 
Namun bagi Mantan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wimar Witoelar, dalam sebuah Public Lecture berjudul ”Komunikasi Politik Seorang Pemimpin, Antara Menyampaikan dan Mendengarkan”,   komunikasi politik bukan hanya sekedar public speaking, dan belum tentu hal itu menjadi penentu berhasil atau tidaknya masa kepresidenan. Presiden Soekarno misalnya, seorang yang pandai berpidato dengan jargon – jargon anti asingnya , ternyata pada faktanya pemerintahanya kacau balau karena Indonesia mengalami kegagalan politik dan ekonomi yang morat – marit.
 
Sementara Presiden Soeharto dengan komunikasi yang minim, namun bisa menciptakan pemerintahan yang efektif . ”Jadi kita tidak bisa menilai Presiden hanya dari public speakingnya saja”, ujar Wimar.
 
Menurut Dewi Fortuna Anwar bahkan di negara yang tidak demokratis, komunikasi politik bukan sebuah hal yang penting. ”Komunikasi Pak Harto hanya untuk menciptakan kontrol untuk mempertahankan kekuasaan”, ujar Juru bicara Presiden Habibie bidang luar negeri ini.
 
Namun semuanya mulai beruah ketika Presiden Habibie berkuasa dan kemudian dilanjutkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid, yang meskipun sangat singkat masa kepresidenannya telah berhasil membuat legacy yang bisa terus kita nikmati sampai sekarang. seperti demokrasi, kebebasan pers, dan desakralisasi lembaga Kepresidenan. ” Presiden jatuh tapi , nilai-nilainya tetap hidup”, tambah Wimar.
 

 

oleh: Budi Adiputro

Komunikasi politik menjadi salah satu faktor yang dipercaya bisa menjadi sebuah kekuatan besar yang meguntungkan, sekaligus kelemahan jika tidak bisa dikelola dengan baik. Oleh karenanya membahas praktek komunikasi politik seperti cara berbicara, berpidato, menyapa konstituen, menjalin hubungan antar kekuatan politik,  apalagi di tingkat kepresidenan menjadi sangat menarik untuk dibahas. Karena berkaitan langsung dengan pribadi Presiden dan juga style kepresidenanya.

 Namun bagi Mantan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wimar Witoelar, dalam sebuah Public Lecture berjudul ”Komunikasi Politik Seorang Pemimpin, Antara Menyampaikan dan Mendengarkan”,   komunikasi politik bukan hanya sekedar public speaking, dan belum tentu hal itu menjadi penentu berhasil atau tidaknya masa kepresidenan. Presiden Soekarno misalnya, seorang yang pandai berpidato dengan jargon – jargon anti asingnya , ternyata pada faktanya pemerintahanya kacau balau karena Indonesia mengalami kegagalan politik dan ekonomi yang morat – marit.

 Sementara Presiden Soeharto dengan komunikasi yang minim, namun bisa menciptakan pemerintahan yang efektif . ”Jadi kita tidak bisa menilai Presiden hanya dari public speakingnya saja”, ujar Wimar.

Menurut Dewi Fortuna Anwar bahkan di negara yang tidak demokratis, komunikasi politik bukan sebuah hal yang penting. ”Komunikasi Pak Harto hanya untuk menciptakan kontrol untuk mempertahankan kekuasaan”, ujar Juru bicara Presiden Habibie bidang luar negeri ini.

Namun semuanya mulai beruah ketika Presiden Habibie berkuasa dan kemudian dilanjutkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid, yang meskipun sangat singkat masa kepresidenannya telah berhasil membuat legacy yang bisa terus kita nikmati sampai sekarang. seperti demokrasi, kebebasan pers, dan desakralisasi lembaga Kepresidenan. ” Presiden jatuh tapi , nilai-nilainya tetap hidup”, tambah Wimar.

Wimar menambahkan bahwa jatuhnya Presiden Wahid secara politis adalah pengalaman buruk bagi negara, tapi bukan tragedi. Karena legacy yang kuat ditinggalkan dalam penguatan demokrasi, pluralisme, demiliterisasi dan humanisme. Kalau SBY? "Jangan sampai jatuh." kata Wimar, "Gus Dur secara politis tenggelam di laut, tapi SBY kalau jatuh akan membawa negara tenggelam dalam lumpur"

 

 

 

Print article only

7 Comments:

  1. From Mundhori on 15 November 2010 10:58:17 WIB
    Komunikasi akan efektif apabila menyangkut kepentingan rakyat. Secanggih apapun komunikasi apabila tidak menyinggung masalah kepentingan umum, fokusnya kesejahteraan umum akan sia sia saja. Sukarno berhasil memikat hati rakyat dengan keahian berkomunikasi karena semua menyangkut kepentingan rakyat di bidang politik, yaitu pasca kemerdekaan rakyat butuh kebanggaan politik untuk mengembalikan penderitaan akibat penjajahan. Suharto sedikit berkomunikasi dg rakyat, tetapi karena mampu mendatangkan kesejahteraan, maka awetlah dia. SBY dikenal lihai dalam menggalang komunikasi dg pencitraannya, tetapi apakah yg dikomunikasikan tsb. menyangkut kepentingan rakyat ?? Masih dalam perdebatan. Karena secara umum situasi politik terpengaruh politik kekuasaan, di mana semua parpol hanya memikirkan cara merebut kekuasaan, kepentingan rakyat menjadi terabaikan, makanya sitausi Negara rentan gejolak.Ditambah persoalan bencana alam yg tak kunjung reda, menjadi masalah tersendiri. Maka harapannya sadarlah smeua pihak, kepentingan rakyat didahulukan, Jangan diabaikan. Jangan sampai tenggelam dalam lumpurlah.
  2. From Arie on 15 November 2010 21:54:46 WIB
    SBY tidak akan jatuh karena komunikasi politiknya masih seimbang, kepentingan asing terpelihara baik dan kepentingan dalam negeri terakomodir dalam rekonsiliasi. Pak Karno jatuh karena kepentingan asing yang tidak terakomodasi, sebaliknnya pak Harto gagal dengan rekonsiliasi politik dalam negeri, sementara Gus Dur gagal karena komunikasinya sulit dimengerti. Komunikasi yang baik dan efektif mnrt saya yang mampu meningkatkan kualitas hubungan, meningkatkan saling pengertian yang akhirnya berujung pada kestabilan dan penghidupan yang lebih baik. Diluar batasan itu hanya provokasi..
  3. From frans on 17 November 2010 00:35:17 WIB
    om sy blm paham dg perumpamaan "..tapi SBY kalau jatuh akan membawa negara tenggelam dalam lumpur"

    apa maksdny tenggelam dalam lumpur?
  4. From Toko Bunga Surabaya on 12 December 2010 15:03:16 WIB
    Om Wimar sebelumnya mohon maaf dulu dan salam kenal..saya gak ngerti Politik om..bisa jualan bunga
  5. From mustafa khalid zubaidi on 15 December 2010 14:37:18 WIB
    dear pak,
    ya Sby memang ngambang dan saat2 ini demokrat n sby suka mencari-cari masalah seperti kasus yogya, dan pembatasan premium, apabila negara sudah tidak sanggup mensubsidi secara gentle mundur saja, sebelum negara ini tenggelam dalam lumpur
  6. From Samuel on 30 January 2011 21:27:32 WIB
    'tenggelam dalam lumpur' in my humble opinion mungkin maksum om wimar, lapindo (setgab kuning)
  7. From Catur on 15 May 2011 07:30:07 WIB
    Lumpurnya semakin tinggi ya Om menutupi kebijakan SBY

« Home