Articles

Menjaga keutuhan ekonomi Indonesia


02 March 2011

 

Budi Adiputro dan Wimar Witoeelar

 

Krisis ekonomi 2008 berhasil diatasi beberapa Negara dengan baik, diantaranya Indonesia. Tapi ekonomi dunia secara keseluruhan belum menemukan format yang mantap untuk mencegah kerawanan ekonomi. Dengan sendirinya terhadi arus modal yang menunjukkan preferensi pada emerging eocnomies yang diyakini, seperti Indonesia. Arus ekonomi itu tidak selalu datang tanpa risiko, karena sebagian besar adalah investasi portfolio.

 

Risiko moneter termasuk inflasi diperbesar di Indonesia oleh tiga masalah yaitu masalah pangan , energi dan lingkungan, oleh karenanya dibutuhkan perhatian yang mendalam dan kenegarawanan global  untuk mengatasinya. Itu sekelumit pidato pembuka dari Wakil Presiden Prof.Dr. Boediono dalam acara peresmian  CRECO lembaga konsultan keuangan dan ekonomi  yang didirikan oleh  M. Chatib Basri dan Raden Pardede, sekaigus seminar berjudul “Ancaman Inflasi dan Derasnya Arus Modal Masuk” yang digagas Indika Energi dan CRECO.

 

Dalam pidatonya, Wapres menekankan bahwa persiapan menghadapi krisis pangan akibat cuaca ekstrim harus segera dilakukan  kalau kita tidak mau terjadi kegoncangan sosial dalam negeri. “Kedamaian sosial di suatu negara amat tergantung pada ketersediaan makanan. Untungnya Indonesia dalam waktu dekat belum mengalami masalah berarti  dalam hal ini”, ujar Profesor Boediono.

 

Memang kekhawatiran  Wapres mengenai ancaman krisis pangan cukup beralasan. Jika kita berkaca pada situasi konflik yang terjadi di beberapa negara seperti kerusuhan di Aljazair, krisis politik di Tunisia, sampai inflasi tinggi sebesar 18 persen yang terjadi di India semuanya dikarenakan masalah pangan.

 

Dengan potensi yang ada sebenarnya menurut Boediono, tidak ada alasan untuk meragukan potensi Indonesia untuk menjadi negara Food Surplus. Apalagi panen raya yang direncanakan mencapai 37 juta Ton akan segera terealisasi. Persiapan menuju antisipasi krisis bukan hanya jadi tanggung jawab sektor ekonomi saja, seperti mengawal indikator makro, inovasi teknologi pertanian, akses permodalan yang baik dari bank. Boediono juga menekankan pentingnya  stabilitas sosial politik yang kondusif untuk menjamin hal itu bisa berlangsumg mulus. “ Iklim sosial politik menjadi sangat penting. Sayang kalau energi kita habis untuk mengurusi hal-hal yang tidak penting “, tekan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada ini. 

 

Sementara itu dalam seminar yang dihadiri oleh Wisnu Wardhana (Co –CEO Indika Energy), Dr. Achmad Suryana (Kepala Badan Ketahanan Pangan Deptan RI), Anton Gunawan  (Chief Economist Bank Danamon), Dr. Milan Savadjil (Senior Resident Rep IMF) dan dipandu oleh Wimar Witoelar, semua pembicarta mengingatkan bahwa capital inflow secara masif yang terjadi di Indonesia sekarang ini harus diantisipasi, meskipun efeknya baik. Karena seperti dikatakan oleh Milan  Savadjil dalam  pengalaman kita, capital inflow besar  besaran ternyata bisa menjadi bahaya apabila tidak ada capital flow management yang baik mengingatkan kembali pada  tahun 98 ketika ekonomi Indonesia rontok oleh arus modal yang keluar dengan begitu cepat.

 

Menjawab pertanyaan , Wimar memberikan pendapat terkait dengan reaksi pemerintah andaikata harga minyak dunia naik oleh kriis negara Arab. Apakah pemerintah RI akan menaikan harga BBM? WW berpendapat  itu semua  tergantung apakah krisis harga minyak terjadi sebelum atau sesudah koalisi bubar. Jika masih seperti sekarang, pasti masalah harga minyak hanya akan menjadi issue yang dimanfaatkan oleh elite politik untuk memperkuat posisi mereka. Apabila pemerintah sudah dibersihkan dari oportunis,  sikap rasional seperti yang ditunjukkan oleh hadirin seminar itu akan memungkinkan sikap kenegaraan dalam pembentukan policy

Print article only

5 Comments:

  1. From yohandi99@gmail.com on 02 March 2011 14:59:21 WIB
    perekonomian yang maju dan berkesinambungan, meliputi rakyat indonesia yang seutuhnya
  2. From irma on 03 March 2011 05:14:07 WIB
    Om Wimar.. please please membahas kota-kota seperti Bogota dan Curitiba. Bogota has changed from zero to beautiful town. Si Mayor Enrique Penalosa berhasil dengan membenahi Bogota -- yg krisisnya sudah akut, kriminalitas, misery -- sewaktu diwawancara dia bilangnya "people lives in misery, not poverty, but extreme poverty called misery.." Politiknya cuman satu: Political of happines, bangun kota menjadi happy dan cantik.

    Proyek pentingnya selama dia menjabat mjd Mayor 3 tahun adalah:

    1. the bank of lands,
    2. the District's system of Parks (including the Bogota's Bike Paths Network),
    3. the District's system of libraries,
    4. the Transmilenio mass transit system, and
    5. road construction and maintenance

    Semoga pemerintah INA bisa mencontoh, at least kota-kota besar macam Jakarta, Medan, Surabaya, Makassar, dll.
  3. From sewa mobil di surabaya on 03 March 2011 15:08:08 WIB
    info yang bagus
  4. From nana sulhana on 09 March 2011 18:43:32 WIB
    http://www.luxuryheaven.blogspot.com
    Krisis Ekonomi di Indonesia Udah jadi makanan kita sehari-hari... !!! Dibutuhkan pemimpin yang JUJUR untuk memperbaiki krisis ekonomi di Indonesia. Jangan lupa berkunjung ke blogs yang saya miliki. Terima kasih Bang wimar..
  5. From obat alternatif nyeri sendi on 13 April 2011 13:31:47 WIB
    di Indonesia ini harus banyak dicari dan dikembangkan diversifikasi makanan pokok,jangan terlalu ketergantungan pada beras, karena sudah banyak lahan2 pertanian produktif yang beralih fungsi jadi perumahan.

« Home