Articles

Status kini politik luar negeri Amerika Serikat

Perspektif Online
25 May 2011

oleh: Budi Adiputro

 

 

Kalau kita bicara mengenai topik politik luar negeri dunia, mau tidak mau pasti kita pasti menyinggung peran Amerika serikat di dalamnya. Bagaimana tidak, pasca berakhirnya perang dingin yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, Amerika menjadi satu – satunya negara superpower dunia yang tersisa. Hal ini tentu membuat Amerika punya peran dominan dalam percaturan politik internasional di bidang ekonomi, politik  sosial , pertahanan, perubahan iklim. 

Oleh karenanya kebijakan luar negeri AS selalu menarik untuk dibahas oleh para ilmuan dan masyarakat, karena mungkin saja kebijakan itu akan berpengaruh kepada diri mereka. Sebagai pemerhati politik internasional khususnya Amerika Serikat, mantan Juru Bicara Presiden Wahid Wimar Witoelar diundang oleh jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina untuk memberikan lecture mengenai US Foerign Policy kepada kurang lebih sekitar 50 orang mahasiswa HI di sana. 

Yang disoroti WW kali ini tentu saja mengenai apa yang disebutnya “Arab Spring and Mideast Strategy”, yaitu gerakan demokratisasi di beberapa negara timur tengah yang bermula dari Tunisia, Mesir,Libya, Yaman, Bahrain, Suriah dan mungkin akan menjalar ke negara lain. Tentu saja gerakan demokrasi ini didukung penuh oleh Presiden Obama yang berjanji akan memberikan bantuan bagi negara timur tengah yang berhasil melewati proses demokratisasi. Karena “jualan” Amerika ke seluruh dunia memang tak jauh –jauh dari demokrasi, perdagangan bebas dan penegakan Hak Asasi Manusia.

Namun dalam menyikapi konflik menahun antara Israel dan Palestina, Presiden Obama ternyata punya pandangan berbeda dari para Presiden pendahulunya, dalam bagaimana memberlakukan Israel. “Meskipun Presiden Obama tahu bagaimana pentingnya lobby Yahudi  bagi recovery perkonomian  AS pasca krisis, tapi dia berani mengambil kebijakan yang bertentangan dengan Israel”, ujar Wimar. Hal itu bisa kita lihat dari bagaimana pernyataan keras Wapres Joe Biden dan Menlu Clinton terhadap pembangunan pemukiman Yahudi oleh Israel. 

WWpun pesimis solusi dua negara yang selama ini dibicarakan akan kembali gagal terwujud. Selain karena Israel yang tetap membangun pemukiman Yahudi di tanah Palestina, dari pihak Palestina, para pejuang Hamas juga tidak menghendaki berdirinya negara Israel berdaulat yang berdampingan dengan Palestina. Apalagi  kalau kita berkaca pasca perjanjian damai Oslo tahun 93 yang ditandatangani pemimpin PLO Yaser Arafat dan PM Israel  Yitzhak Rabin dengan dimediasi oleh Presiden Clinton dan Raja Husein dari Jordania, yang gagal terwujud. Karena perlawanan Hamas yang tak mau kompromi dan pembunuhan terhadap PM Rabin oleh garis keras di Israel.  

Selain masalah Timur Tengah, banyak pertanyaan yang diajukan mahasiswa terutama mengenai posisi Indonesia di mata AS. Dengan jujur  WW mengatakan bahwa peran Indonesia sebenarnya tidak terlalu penting di mata AS. Tidak seperti yang digembar gemborkan selama ini mengenai kedekatan emosional antara Obama dan Indonesia.  Menurut WW justru Indonesia malah menjadi liability bagi AS. Karena Presiden Obama tidak mau dikaitkan dengan Islam terlalu jauh. “Kepentingan AS di Asia saat ini adalah China”, tekan WW.

Yang paling penting, WW berpesan kepada mahasiswa untuk realistis dan jangan menjadi generasi xenpohobia. "Indonesia kini memasuki era chauvinistik yang berbahaya", terang WW. Karena kita harus bisa belajar dari kesalahan Presiden Soekarno yang selalu berteriak anti asing dan pro nasionalisme tapi hasilnya NOL BESAR. 

Mengenai peluang Presiden Obama di pemilu 2012 yang akan datang, WW masih tetap optimis Presiden Obama akan terpilih kembali untuk masa jabatan yang kedua kalinya.  Alasan pertama karena mesin Partai Demokrat yang masih lebih kuat dari Republik, dan yang kedua Republik tidak punya calon lain yang berkualitas bisa menandingi Obama. “Bahkan nama Sarah Palin saja masih disebut sebagai calon kandidiat dari Republik”, ujar WW yang mengambil gelar sarjana dan masternya di George Washington University berseloroh sambil tertawa menyudahi lecture hari itu.

Print article only

8 Comments:

  1. From Ludjana on 26 May 2011 06:15:40 WIB
    Obama memerintah seolah olah tidak sambil campaign untuk 2nd term.
    Lebih dari 90% orang Yahuidi pilih Obama, tapi dia berani minta Israel untuk kempalai ke batas tahun 1967.
    Hebaaaat !
  2. From komen kartasuadma on 05 June 2011 07:44:15 WIB
    Soal Sukarno, Kang, berarti kita harus jadi orang OPORTUNIS, dan meninggalkan kebanggaan Nasional kita? Bangga sebagai bangsa Indonesia bukan berarti bersifat chauvinis. Sukarno memberikan kita sebuah martabat, lebih jauh berharga dibandingkan soal kemelaratan. dibandingkan dg SBY yg sudah melarat tapi tak punya martabat.
    Realistis tidak harus berarti menjual harga diri kan......
  3. From dony on 06 June 2011 16:37:21 WIB
    "Karena kita harus bisa belajar dari kesalahan Presiden Soekarno yang selalu berteriak anti asing dan pro nasionalisme tapi hasilnya NOL BESAR."

    trus solusinya gmana pak biar nggak nol besar?
  4. From access_access on 06 June 2011 17:39:28 WIB
    baca aja berita2 ini dari aljazeera, times, cnn, dll. ga ada hal yg baru dari kuliah itu.

    amerika mulanya ragu2 utk "nurunin" mubarak karna mubarak itu udah jadi sekutu as puluan taon dari pergantian anwar sadat. tapi karna tekanan rakyat mesir yg mangkin kuat, baru dah amerika bilang kalo mubarak harus turun.

    partai republik punya calon kuat yaitu newt gingrich. sapa bilang republik ga punya calon kuat? palin? palin is a joke.

    saya ga yakin o'bama akan kepilih lagi. kebijakan dia ttg health reform itu banyak yg ga seneng. tapi satu hal yg saya seneng dari o'bama yaitu minta israel kembali perjanjian ttg tapal batas taon 67 biar cuman dianngep angin doangan ama si benyamin. liat aja pidato dia di capitol hill pan? but at least, it's better than nothing, no?
  5. From access_access on 06 June 2011 17:41:06 WIB
    baca aja berita2 ini dari aljazeera, times, cnn, dll. ga ada hal yg baru dari kuliah itu.

    amerika mulanya ragu2 utk \\\"nurunin\\\" mubarak karna mubarak itu udah jadi sekutu as puluan taon dari pergantian anwar sadat. tapi karna tekanan rakyat mesir yg mangkin kuat, baru dah amerika bilang kalo mubarak harus turun.

    partai republik punya calon kuat yaitu newt gingrich. sapa bilang republik ga punya calon kuat? palin? palin is a joke.

    saya ga yakin o\\\'bama akan kepilih lagi. kebijakan dia ttg health reform itu banyak yg ga seneng. tapi satu hal yg saya seneng dari o\\\'bama yaitu minta israel kembali perjanjian ttg tapal batas taon 67 biar cuman dianngep angin doangan ama si benyamin. liat aja pidato dia di capitol hill pan? but at least, it\\\'s better than nothing, no?
  6. From Arie on 10 June 2011 20:36:24 WIB
    Karena “jualan” Amerika ke seluruh dunia memang tak jauh –jauh dari demokrasi, perdagangan bebas dan penegakan Hak Asasi Manusia. 'SETUJU dan bisa dibeli cash atau kredit walaupun kondisi sekarang ketulusannya mulai diragukan'

    WWpun pesimis solusi dua negara (IS-Pal)yang selama ini dibicarakan akan kembali gagal terwujud. 'SETUJU air sama minyak ga bisa nyampur, kecuali digoreng pake cabut veto, dikonsumsi rame2 pas masih panas, hmm yummy'

    peran Indonesia sebenarnya tidak terlalu penting di mata AS. "SETUJU, kalo penting udah naik status diplomatiknya jadi Ally dan bukan Friend, yah berteman aja ya ga usah pacaran, biayanya mahal"

    WW berpesan kepada mahasiswa untuk realistis dan jangan menjadi generasi xenpohobia. 'SETUJU, tapi tenang WW, jarang ada Mahasiswa yg koleksi album lagu perjuangan, kalo ada yg xenophobia itu ga gaul aja. Mahasiswa jangan juga jadi apatis, fatalis, bokis apalagi anarkis- hari geneee anarkis, makan tuh batu@#$!'

    WW masih tetap optimis Presiden Obama akan terpilih kembali untuk masa jabatan yang kedua kalinya. "SETUJU jangan lupa doain Obama panjang umur.. amit2 deh jgn sampe kaya om Kennedy atau Om Martin...'





  7. From donny sulistyo on 13 June 2011 08:02:07 WIB
    tetap ditunggu info-infonya yg menarik pak..salam dari warga aremania...
  8. From agussupri on 18 June 2011 13:34:08 WIB
    zamat dahulu juga melarat,tapi dengan nasionalisme bangsa ini bisa memerdekakan diri

« Home