Articles

Satu Dekade Q Film Festival

Perspektif Online
13 October 2011

 

Satu Dekade Q Film Festival:  "Sebuah Cara Mengekspresikan Isi Hati"
Oleh: Didiet Budi Adiputro
Mempertontonkan kehidupan kaum lesbian, gay, biseksual dan transeksual (LGBT), kemudian  mengkampanyekan persamaan hak - hak mereka secara vulgar, apalagi mempraktekannya secara gamblang di tengah masyarakat, nampaknya masih sulit diterima dengan mudah di Indonesia. Selain masih dianggap tabu,kehidupan LGBT juga dinilai bertentangan dengan budaya 'timur', yang kata banyak orang menjadi ciri khas Indonesia yang harus dipertahankan. Entah budaya timur mana sebenarnya yang dimaksud, masih sangat abstrak.
Dengan segala macam persepsi miring dan berbagai aksi penentangan, sekelompok seniman yang juga peduli akan persamaan hak kaum LGBT berhasil menyelenggarakan sebuah event tahunan Q Film Festival. Yaitu sebuah festival yang memutar sekitar 100 film bertema gay, lesbian, biseksual, transgender, hak asasi manusia dan HIV/AIDS.
Tidak terasa sudah 10 tahun Q Film Festival ini berlangsung dan berhasil menyedot perhatian penonton dan juga para penentang tentunya. Di tahun 2011 saja, Q Fest yang diselenggarakan dari tanggal 1 - 7 Oktober ini sudah berhasil menyedot sekitar 1.900 orang penonton. sebuah angka yang cukup lumayan untuk ukuran festival film indie.
Selain animo, tentunya kita  tidak akan lupa bagaimana aksi penolakan juga ikut mewarnai festival ini dalam sepuluh tahun perjalanannya. Tahun lalu saja misalnya, kita ingat bagaimana segerombolan preman FPI dengan memekikkan nama Tuhan, menggerebek Goethe Haus untuk membubarkan festival ini karena dianggap mempromosikan kehidupan seks bebas dan seks menyimpang,  . Untungnya penyelenggaraan tahun ini bebas dari gangguan-gangguan seperti itu.
Untuk tahun ini , Q Film Festival ditayangkan di beberapa tempat seperti Pusat Kebudayaan Prancis, Erasmus Huis, Kineforum TIM, kantor Kontras, dan Teater Salihara. Dari sanalah sebuah karya hasil kreatifitas yang sarat pesan persamaan hak, naluri manusiawi dan juga sindiran terhadap kondisi sosial bisa dinikmati pecinta film di Jakarta.
Bagi anda para orang tua yang selalu khawatir jika membiarkan anak anda yang masih dibawah umur pergi tanpa edukasi yang cukup untuk menonon film dewasa, tenang saja. Selain film – film yang diputar telah lulus sensor, penonton juga wajib mendaftar dan menunjukan KTP sebelum menonton. Panitia tidak mematok harga tiket dalam tiap penayangan, namun bagi pengunjung yang bersimpati bisa menyumbang secara sukarela di kotak donasi yang disediakan.  Jika tidak memberi donasi , maka anda bisa menikmati film berkualitas dengan gratis.
Jika sudah memenuhi prasayarat, maka anda bisa menonton berbagai judul film yang ditayangkan oleh penyelenggara seperti  …Dalam Botol yang merupakan film gay pertama asal Malaysia, Lovely Man sebuah film yang bercerita tentang kisah bapak dan anak, dimana si bapak bekerja sebagai waria yang setiap malam ‘mangkal’ di taman lawang. Film besutan Teddy Soeriaatmadja (Banyu Biru, Badai Pasti Berlalu)  ini dibintangi bintang film ternama seperti Donny Damara dan Raihaanun. Serta banyak film lainnya dari berbegai negara.
Suka tidak suka, dengan berlangsungnya Q Film Festival selama 10 tahun, maka Indonesia bisa menunjukan bahwa kita telah selangkah lebih maju dalam menhormati hak – hak kaum minoritas.
-- 
Didiet Adiputro

 

 

 Sebuah Cara Mengekspresikan Isi Hati

 

Oleh: Didiet Budi Adiputro

Mempertontonkan kehidupan kaum lesbian, gay, biseksual dan transeksual (LGBT), kemudian  mengkampanyekan persamaan hak - hak mereka secara vulgar, apalagi mempraktekannya secara gamblang di tengah masyarakat, nampaknya masih sulit diterima dengan mudah di Indonesia. Selain masih dianggap tabu,kehidupan LGBT juga dinilai bertentangan dengan budaya 'timur', yang kata banyak orang menjadi ciri khas Indonesia yang harus dipertahankan. Entah budaya timur mana sebenarnya yang dimaksud, masih sangat abstrak.

 

Dengan segala macam persepsi miring dan berbagai aksi penentangan, sekelompok seniman yang juga peduli akan persamaan hak kaum LGBT berhasil menyelenggarakan sebuah event tahunan Q Film Festival. Yaitu sebuah festival yang memutar sekitar 100 film bertema gay, lesbian, biseksual, transgender, hak asasi manusia dan HIV/AIDS.

 

Tidak terasa sudah 10 tahun Q Film Festival ini berlangsung dan berhasil menyedot perhatian penonton dan juga para penentang tentunya. Di tahun 2011 saja, Q Fest yang diselenggarakan dari tanggal 1 - 7 Oktober ini sudah berhasil menyedot sekitar 1.900 orang penonton. sebuah angka yang cukup lumayan untuk ukuran festival film indie.

 

Selain animo, tentunya kita  tidak akan lupa bagaimana aksi penolakan juga ikut mewarnai festival ini dalam sepuluh tahun perjalanannya. Tahun lalu saja misalnya, kita ingat bagaimana segerombolan preman FPI dengan memekikkan nama Tuhan, menggerebek Goethe Haus untuk membubarkan festival ini karena dianggap mempromosikan kehidupan seks bebas dan seks menyimpang,  . Untungnya penyelenggaraan tahun ini bebas dari gangguan-gangguan seperti itu.

 

Untuk tahun ini , Q Film Festival ditayangkan di beberapa tempat seperti Pusat Kebudayaan Prancis, Erasmus Huis, Kineforum TIM, kantor Kontras, dan Teater Salihara. Dari sanalah sebuah karya hasil kreatifitas yang sarat pesan persamaan hak, naluri manusiawi dan juga sindiran terhadap kondisi sosial bisa dinikmati pecinta film di Jakarta.

 

Bagi anda para orang tua yang selalu khawatir jika membiarkan anak anda yang masih dibawah umur pergi tanpa edukasi yang cukup untuk menonon film dewasa, tenang saja. Selain film – film yang diputar telah lulus sensor, penonton juga wajib mendaftar dan menunjukan KTP sebelum menonton. Panitia tidak mematok harga tiket dalam tiap penayangan, namun bagi pengunjung yang bersimpati bisa menyumbang secara sukarela di kotak donasi yang disediakan.  Jika tidak memberi donasi , maka anda bisa menikmati film berkualitas dengan gratis.

 

Jika sudah memenuhi prasayarat, maka anda bisa menonton berbagai judul film yang ditayangkan oleh penyelenggara seperti  …Dalam Botol yang merupakan film gay pertama asal Malaysia, Lovely Man sebuah film yang bercerita tentang kisah bapak dan anak, dimana si bapak bekerja sebagai waria yang setiap malam ‘mangkal’ di taman lawang. Film besutan Teddy Soeriaatmadja (Banyu Biru, Badai Pasti Berlalu)  ini dibintangi bintang film ternama seperti Donny Damara dan Raihaanun. Serta banyak film lainnya dari berbegai negara.

 

Suka tidak suka, dengan berlangsungnya Q Film Festival selama 10 tahun, maka Indonesia bisa menunjukan bahwa kita telah selangkah lebih maju dalam menhormati hak – hak kaum minoritas.

 

 

 

-- 

 

 

 

Print article only

5 Comments:

  1. From good on 14 October 2011 13:59:44 WIB
    emang
  2. From @Dewinov on 15 October 2011 01:01:14 WIB
    Kalau ngaku pluralis harus terima dengan keberadaan Q film festival ini. Buka wawasan dengan menerima perbedaan. Kedewassan tidak diukur oleh umur, tapi dengan keterbukaan kita menerima perbedaan
  3. From abdurroni on 17 October 2011 19:49:23 WIB
    Pendapat aku justru berbeda (boleh kan??).
    Begini, yang paling cepat di ingat oleh setiap orang adalah dengan membaca,mencatat,melihat,mendengar. Jika semua persyaratan itu lengkap, maka apapun itu (peristiwa,gaya hidup,cara berpikir seseorang ,dll)akan menjadi sebuah fenomena (trend).
    Bisa dibayangkan jikalau seluruh masyarakat indonesia menjadikan hal tersebut sebagai trend, apalagi kaum muda-mudi yang cenderung lepas kendali (butuh banyak bimbingan:red)...
  4. From Fuad Nurhadi on 21 October 2011 14:16:40 WIB
    Abdurroni, lgbt itu bukan trend, tapi orientasi seksual yang diatur oleh otak manusia, yang ditentukan oleh DNA perorangan, yang diciptakan oleh Tuhan. Seorang yang heteroseksual tidak akan bisa atau mau tiba2 mencoba atau menjadi homoseksual atau banci atau biseksual kalau memang dari sononya sudah begitu. Di negara2 yang tidak menekan kebebasan berorientasi seksual, tingkat pesertanya dari dulu ya tetap tetap aja, tidak mengalami kenaikan walaupun semuanya bebas. Berbeda pendapat boleh, tapi sebaiknya anda meriset dulu jangan hanya asal bunyi.
  5. From Etha on 09 January 2012 16:30:58 WIB
    Dimana bisa mendapatkan kopian original film2 yng disebutkan diatas?

« Home