Articles

Nobel Perdamaian untuk Para Wanita Hebat

Perspektif Online
23 October 2011

 

Nobel Perdamaian untuk Para Wanita Hebat
Oleh: Didiet Budi Adiputro
Seperti  tak mau kalah untuk mendukung gerakan gelombang demokratisasi  yang tengah berlangsung  di timur tengah dan negara dunia ketiga lainnya , Komite Nobel Norwegia memutuskan untuk memberi penghargaan tertinggi berupa Nobel perdamaian 2011 kepada tiga orang wanita yang dianggap berdedikasi mewujudkan gerakan perdamaian dan pro demokrasi.
Mereka adalah dua wanita yang berasal dari Liberia, negara asal legenda sepakbola AC Milan George Weah , yaitu  Presiden Liberia Ellen Johnson-Sirleaf, dan rekan senegaranya Leymah Gbowee. Mereka dianggap berjasa dalam memobilisasi sesama perempuan untuk menentang perang sipil di negara mereka yang berlangsung bertahun-tahun. Serta dari wilayah timur tengah, daerah dimana wanita masih banyak dianggap sebagai second class citizens, penghargaan nobel diberikan kepada seorang aktivis hak-hak perempuan dan demokrasi asal Yaman, Tawakkul Karman. Mereka bertiga mendapatkan penghargaan prestisius sebesar 1.5 juta US Dollar.
Johnson-Sirleaf yang berumur 72 tahun adalah presiden perempuan pertama yang dipilih secara bebas di Afrika. Ia akan maju lagi untuk masa jabatan kedua dan untuk sementara berada di urutan teratas dalam pemilu presiden putaran pertama. Sementara itu Gbowee berhasil memobilisasi dan mengorganisasi perempuan lintas etnis dan lintas agama untuk mengakhiri perang saudara di Liberia. Ia juga berjuang guna memastikan partisipasi perempuan dalam pemilu.
Khusus untuk Karman, dinobatkannya wanita berusia 32 tahun ini sebagai wanita Arab pertama dan termuda yang menerima nobel, ternyata banyak mendulang simpati terhadap gerakan emansipasi di tanah Arab yang dikenal diskriminatif terhadap kaum wanita. “ini merupakan kemenangan bagi wanita Arab di seluruh dunia”, ujar Karman seperti yang dikutip dari sebuah harian nasional.
Perjuangan panjang Karman dalam melawan diktator korup Yaman  Presiden Ali Abdullah memang dikenal militan. Dari mulai merasakan dinginnya jeruji besi penjara , dibenci para politisi ekstrim, sampai pembredelan media dan organisasi pernah dia rasakan.
Perjuangannya dalam menentang rezim anti demokrasi di Yaman banyak bergerak di bidang pengerahan massa, inflitrasi dalam partai politik dan tentunya kampanye lewat media jurnalistik. Istri Mohammed al Nahmi ini pernah menulis artikel berjudul “Yemen’s Unfinished Revolution” di harian ternama The New York Times. Dalam tulisannya dia menyerang Amerika dan Arab Saudi yang selalu mendukung rezim korup Presiden Saleh, dengan dalih memberantas terorisme. Padahal rezim ini menurut Karman adalah salah satu rezim yang kerap melakukan pelanggaran HAM, terutma bagi kaum wanita.
Dia pernah mendirikan "Women Journalists Without Chains", sebuah LSM yang berjuang untuk kebebasan jurnalistik. Selain berdemo menentang rezim korup, di tahun 2007 dia juga pernah menerbitkan dokumen mengenai kekerasan pemerintah terhadap pers yg dilakukan sejak 2005.
Sementara itu di bidang Hak Asasi Manusia, Karman yang juga merupakan salah anggota dari Partai Islah yang terkenal konservatif, pernah menerbitkan artikel yang menyerang anggota partainya perkawinan perempuan dibawah umur 17 tahun. Sejak itulah dia dianggap oleh banyak orang termasuk koleganya di partai sebagai seseorang yang tidak Islami. Karena itu mulai 2004 dia berani melepaskan cadar yang selama ini menutupi wajahnya. Dia menganggap bahwa cadar itu hanya sebuah tradisi, bukan ajaran agama.
Tentu saja bukan hanya mereka bertiga dan keluarganya saja yang merasa bangga dengan penghargaan itu. Tapi juga semua wanita di Asia dan Afrika yang terinspirasi akan perjuangan mereka dalam menegakan demokrasi dan hak asasi manusia. Semoga akan terus lahir wanita - wanita hebat seperti Karman, Sirleaf, Gbowee, Suu Kyi, Cory Aquino, atau Sri Mulyani yang membuat kita bangga sebagai warga Asia Afrika.

 

 

Oleh: Didiet Budi Adiputro


 

Seperti  tak mau kalah untuk mendukung gerakan gelombang demokratisasi  yang tengah berlangsung  di timur tengah dan negara dunia ketiga lainnya , Komite Nobel Norwegia memutuskan untuk memberi penghargaan tertinggi berupa Nobel perdamaian 2011 kepada tiga orang wanita yang dianggap berdedikasi mewujudkan gerakan perdamaian dan pro demokrasi.

 

Mereka adalah dua wanita yang berasal dari Liberia, negara asal legenda sepakbola AC Milan George Weah , yaitu  Presiden Liberia Ellen Johnson-Sirleaf, dan rekan senegaranya Leymah Gbowee. Mereka dianggap berjasa dalam memobilisasi sesama perempuan untuk menentang perang sipil di negara mereka yang berlangsung bertahun-tahun. Serta dari wilayah timur tengah, daerah dimana wanita masih banyak dianggap sebagai second class citizens, penghargaan nobel diberikan kepada seorang aktivis hak-hak perempuan dan demokrasi asal Yaman, Tawakkul Karman. Mereka bertiga mendapatkan penghargaan prestisius sebesar 1.5 juta US Dollar.

 

 

Johnson-Sirleaf yang berumur 72 tahun adalah presiden perempuan pertama yang dipilih secara bebas di Afrika. Ia akan maju lagi untuk masa jabatan kedua dan untuk sementara berada di urutan teratas dalam pemilu presiden putaran pertama. Sementara itu Gbowee berhasil memobilisasi dan mengorganisasi perempuan lintas etnis dan lintas agama untuk mengakhiri perang saudara di Liberia. Ia juga berjuang guna memastikan partisipasi perempuan dalam pemilu.

 

Khusus untuk Karman, dinobatkannya wanita berusia 32 tahun ini sebagai wanita Arab pertama dan termuda yang menerima nobel, ternyata banyak mendulang simpati terhadap gerakan emansipasi di tanah Arab yang dikenal diskriminatif terhadap kaum wanita. “ini merupakan kemenangan bagi wanita Arab di seluruh dunia”, ujar Karman seperti yang dikutip dari sebuah harian nasional.

 

Perjuangan panjang Karman dalam melawan diktator korup Yaman  Presiden Ali Abdullah memang dikenal militan. Dari mulai merasakan dinginnya jeruji besi penjara , dibenci para politisi ekstrim, sampai pembredelan media dan organisasi pernah dia rasakan.

 

Perjuangannya dalam menentang rezim anti demokrasi di Yaman banyak bergerak di bidang pengerahan massa, inflitrasi dalam partai politik dan tentunya kampanye lewat media jurnalistik. Istri Mohammed al Nahmi ini pernah menulis artikel berjudul “Yemen’s Unfinished Revolution” di harian ternama The New York Times. Dalam tulisannya dia menyerang Amerika dan Arab Saudi yang selalu mendukung rezim korup Presiden Saleh, dengan dalih memberantas terorisme. Padahal rezim ini menurut Karman adalah salah satu rezim yang kerap melakukan pelanggaran HAM, terutma bagi kaum wanita.

 

Dia pernah mendirikan "Women Journalists Without Chains", sebuah LSM yang berjuang untuk kebebasan jurnalistik. Selain berdemo menentang rezim korup, di tahun 2007 dia juga pernah menerbitkan dokumen mengenai kekerasan pemerintah terhadap pers yg dilakukan sejak 2005.

 

Sementara itu di bidang Hak Asasi Manusia, Karman yang juga merupakan salah anggota dari Partai Islah yang terkenal konservatif, pernah menerbitkan artikel yang menyerang anggota partainya perkawinan perempuan dibawah umur 17 tahun. Sejak itulah dia dianggap oleh banyak orang termasuk koleganya di partai sebagai seseorang yang tidak Islami. Karena itu mulai 2004 dia berani melepaskan cadar yang selama ini menutupi wajahnya. Dia menganggap bahwa cadar itu hanya sebuah tradisi, bukan ajaran agama.

 

Tentu saja bukan hanya mereka bertiga dan keluarganya saja yang merasa bangga dengan penghargaan itu. Tapi juga semua wanita di Asia dan Afrika yang terinspirasi akan perjuangan mereka dalam menegakan demokrasi dan hak asasi manusia. Semoga akan terus lahir wanita - wanita hebat seperti Karman, Sirleaf, Gbowee, Suu Kyi, Cory Aquino, atau Sri Mulyani yang membuat kita bangga sebagai warga Asia Afrika.

 

 

 

 

Print article only

2 Comments:

  1. From erna on 24 October 2011 06:53:20 WIB
    Saya bangga thd mereka semua. Semoga semakin banyak perempuan spt mereka di negeri ini dan dunia, yg berjuang tidak hanya untuk hak perempuan tp juga hak-hak kemanusiaan bagi smua orang, terlebih anak-anak. Let's start from where you are now.
  2. From didiet on 24 October 2011 07:14:24 WIB
    sudah saatnya Indonesia punya Presiden perempuan lagi

« Home