Articles

Pemanasan Global sebagai Peluang Bisnis

Sindo
03 November 2011

PDF Print
Thursday, 03 November 2011
Segelintir pengusaha di Indonesia sebagaimana di seluruh dunia sedang berusaha membuat terobosan dengan menerapkan konsep Reduction of Emissions through Deforestation and Degradation Plus (REDD+) dalam usahanya. 

Mereka mencoba membuktikan bahwa Indonesia siap untuk investasi jangka panjang.Sebab lingkungan itu aset jangka panjang. Konsep REDD+ sendiri merupakan strategi jangka panjang untuk mengurangi bahaya pemanasan global yang ditimbulkan oleh perlakukan hutan yang tidak ramah lingkungan. REDD+ sudah merupakan istilah yang sangat “seksi” dalam diskusi publik internasional dan sangat relevan buat Indonesia. Konsepnya langsung kena pada kelanjutan kehidupan alam, bukan saja di hutan tapi di seluruh kepulauan Indonesia.

Akar permasalahannya adalah perubahan iklim yang disebabkan meningkatnya emisi karbon yang menimbulkan “efek rumah kaca”. Maka terjadi pemanasan di mana-mana membuat bumi semakin panas,fenomena yang kita kenal dengan istilah global warming. Efeknya sudah kita lihat dengan mencairnya cadangan es dunia di gunung dan pulau negara dingin seperti Tanah Hijau (Greenland, Denmark) di mana untuk pertama kalinya orang bisa melihat tanah yang biasanya tertutup oleh es sepanjang tahun. 

Dampaknya di negara kepulauan akan lebih serius, karena es yang cair di negara dingin akan meninggikan permukaan laut.Kepulauan Seribu bisa menderita dengan kenaikan permukaan laut beberapa sentimeter saja. Bahkan bisa ada pulau yang hilang menjadi pulau bawah laut. Masih lumayan kalau pulau yang tenggelam itu tidak dihuni orang. Bagaimana kalau ada orangnya? 

Mengerikan sekali apa yang bisa terjadi di pulau Jawa di mana banyak sekali orang tinggal di pantai utara,bahkan dalam kota besar seperti Jakarta, Cirebon,Semarang dan Surabaya. Dengan kenaikan permukaan laut dua meter, puluhan juta penduduk pulau Jawa akan kehilangan nafkah dan tempat tinggal.Pasti penyakit akan menyebar,dan fasilitas penanganan kesehatan ditelan air laut. 

Posisi Hutan 

Sebagai dasar paradigma baru,kita jangan melihat kayu sebagai hasil hutan yang paling banyakmemberi kan keuntungan bisnis.Perhatian kita harus dipalingkan pada tata airnya, lalu biodiversitas flora dan fauna. Hutan harus dikelola dengan baik, jangan ditebang atau dibiarkan turun mutunya. Keunikan REDD+ adalah bahwa usaha pemeliharaan hutan itu bisa menghasilkan uang untuk pengelolanya. 

Dengan memelihara kualitas hutan, penambahan emisi karbon dari hutan akan dihindari. Karena seluruh dunia berkepentingan terhadap penurunan emisi karbon, maka ada konsensus internasional yang memungkinkan perusahaan di dunia industri untuk mengompensasi emisi karbon di pabriknya dengan memberikan dana pada negara dan pengusaha yang bisa menurunkan emisi karbon. 

Hitungannya dinyatakan dalam carbon points yang diperdagangkan di pasar karbon internasional. Rumit dan canggih, memerlukan pelopor bisnis yang berpandangan jauh.Tapi karakteristik bisnis sepanjang masa adalah,bahwa pengusaha yang sanggup menghadapi risiko finansial dan waktu,akan menuai hasilnya pada jangka panjangnya. Ada beberapa aspek lain yang penting untuk memberikan kelayakan pada skema REDD+. 

Usaha REDD+ tidak boleh mematikan kegiatan ekonomi konvensional seperti perkebunan kelapa sawit, pulp and paper dan tambang batu bara.Memang diperlukan reformasi besar pada industri seperti tambang batubara untuk mencegah perusakan hutan lebih lanjut. Dan lahan yang disediakan untuk kelapa sawit dan kertas harus dibatasi sesuai dengan kapasitas hutan menjaga kualitasnya.

Tapi tidak ada niat untuk mengurangi sumbangan industri lama ini pada pertumbuhan ekonomi nasional. Pekerjaan menghadapi perubahan iklim adalah pekerjaan yang bukan saja amat besar tapi melibatkan semua institusi dan semua sumber daya masyarakat.Bukan hanya ilmu, tenaga dan uang, tapi juga mekanisme bisnis.Bila sesuatu usaha itu tidak menarik untuk dijadikan ajang bisnis maka kemajuannya akan tersendatsendat. 

Pekerjaan altruistik dari lembaga yang berniat baik atau dari pemerintahan tidak menimbulkan dinamika seperti halnya pekerjaan yang bermotif bisnis di mana orang bisa mendapatkan hasil materiil dari usahanya. Tidak perlu kita nyatakan secara sinis bahwa greed is good, tapi hanya bisa kita akui bahwa andaikata suatu usaha itu tidak menghasilkan keuntungan bisnis dari dalam proyeknya sendiri, maka biaya pengelolaannya termasuk biaya waktu itu akan menjadi beban dari subsidi masyarakat yang lain. 

Jadi, kalau usaha mengurangi emisi karbon dari hutan itu mempunyai sense bisnis maka dia akan bebas dari keharusan memberikan beban subsidi akan menjadi populer dan lama-lama akan menjadi gaya hidup yang baru. Tujuannya memang sangat besar dan global yaitu mencegah kenaikan suhu bumi dengan cara mencegah emisi karbon bertambah lagi dengan cara menemukan dan mengurangi sebab-sebab yang membuat karbon itu. 

Bisnis Karbon 

Dikatakan tadi bahwa hutan adalah penting angkanya masih banyak bisa dihitung dan diperdebatkan. Tapi yang mengejutkan orang adalah bahwa emisi karbon yang orang kenal sebagai polusi dalam kehidupan sehari-hari itu bukan hanya terjadi sebagian besar di kota dalam bentuk urban polution dalam bentuk lalu lintas yang macet pabrik yang mengepulkan asap.Tapi justru sumbernya di hutan di mana sebagai penyimpan karbon terbesar di dunia maka karbon yang disimpan itu akan keluar cepat kalau dia dibakar atau kalau tempat penyimpanannya di hilangkan misalnya dengan penebangan. 

Dengan adanya bisnis yang bernada, bernuansa REDD+, reduksi pengurangan emisi itu bisa diatasi dan dengan adanya skema carbon market. Dengan pasar karbon, orang yang melakukan pengurangan emisi karbon di lapangan itu akan mendapat rewardini yang dicari oleh para pengusaha carbon trading di Indonesia dan di dunia luar atau di negara-negara lain. 

Alangkah baiknya kalau masyarakat melihat usaha ini bukan hanya untuk menghargai, tetapi untuk didukung, ditiru dan mengubah sama sekali paradigma pengelolaan hutan dari merusak hutan sekarang menjadi mengelola hutan dengan cara yang ramah karbon. Akhirnya semuanya menuju pada yang disebut ekonomi rendah karbon di mana semua diperhitungkan bukan hanya cost-nya secara finansial, tetapi juga cost-nya pada alam di mana nominasi paling penting adalah emisi karbon.● 

WIMAR WITOELAR
Pengamat Sosial-Politik 
dan Lingkungan          

Print article only

3 Comments:

  1. From fabian accumax on 04 November 2011 15:42:21 WIB
    apapun bisnisnya jangan sampai mengganggu keseimbangan alam.Saat ini yg namanya industri sebagian besar menimbulkan kerusakan ekosistem. Jadi tolong minimalkan kerusakan kerusakan tersebut.....
  2. From hadi on 06 November 2011 01:32:38 WIB
    waduh,ngeri ya om kalau membayangkan dampaknya.mana saya kurang mahir berenang lagi !.
    oh iya om ! kalau berkenan,mampir ke blog saya

    http://penulis-indonesia.blogspot.com
  3. From ijonk on 08 November 2011 11:00:18 WIB
    ngeri bgt om...tp saya mendukung semua aktifitas bisnis ataupun lainnya yang berupaya untuk mengurangi efek pemanasan global.....

« Home