Articles

Wimar: Pemuda Tak Suka Dinasehati, Tapi Ingin Diajak Berbagi Perspektif

Perspektif Online
06 November 2011

 

oleh: Didiet Budi Adiputro

 

Membicarakan  pemuda dan politik, nampaknya agak naïf jika dua hal itu dihubungkan saat ini. Meskipun gerakan politik pemuda masih ada, dan  organisasi kepemudaan masih menjamur. Namun dengan kondisi saat ini dimana pemuda kebanyakan dilanda apatisme pada proses politik, serta diiringi  tumbuh suburnya oligarki kartel politik di tingkat elit, menjadi sebab kenapa terasa agak naïf menghubungkan keduanya.

Harapan publik pada politisi mudapun terus menurun.  Seperti yang digambarkan survey LSI, bahwa tinggal 24,8 persen publik yang percaya dengan politisi muda. Padahal jelang pemilu 2009 lalu, wacana dikotomi tua – muda begitu mendominasi.

Ketua Majelis Pertimbangan SMI Keadilan Wimar Witoelar ketika memberikan  orasi politiknya di deklarasi organisasi Asosiasi Pemuda Independen (API)  mengatakan, meskipun rezim orde baru berhasil tumbang,  di masa reformasi ini lahir sebuah rezim demokratis tapi berjiwa oligarki. Apalagi banyak gerbong politisi muda eks 98 yang juga turut masuk ke dalam sistem. Meskipun mayoritas anggota Parlemen kita berusia di bawah 50 tahun. tapi lihat saja kinerja legislasi, budgeting  dan kontrol mereka  yang masih jauh dari ideal. Jadi memang tidak ada jaminan bahwa yang muda lebih baik dari orang tua.   

“Inti kepemudaan  adalah  imajinasi. Kalau kita punya imajinasi kita akan selalu hidup muda, tak peduli apakah umurnya 20 , 50 atau 60 tahun”, ujar Wimar. Wimar juga menegaskan kepada peserta deklarasi yang didominasi kaum muda, bahwa saat ini kita harus bersatu dengan membuat sebuah gerakan yang mampu menembus batas usia, gender,  primordial yang bisa menjadi ujung tombak untuk meruntuhkan oligarki politik. Karena orang baik tidak bisa hanya diam saja atau malah golput dan membiarkan hal-hal buruk terus terjadi.

Munculnya API diharapkan bisa menjadi oase di tengah kebutuhan sebuah organisasi yang berjalan dengan kekuatan perjuangan nilai. Dengan moto “Buku, Pesta dan Cinta” kumpulan anak – anak muda ini tidak hanya mengandalkan nafsu ambisi politik, tapi mempunyai tujuan nila yang ingin diwujudkan lewat sistem politik yakni etika publik, demokrasi, pluralisme, kesetaraan gender dan keadilan sosial. 

Apalagi sama seperti dulu dan mungkin terjadi juga pada saat ini, yaitu organisasi politik pemuda yang ada kebanyakaan berbasis primordial, gender  dan agama. Meskipun banyak, kesannya anak muda yang berpikiran ‘bebas’ saat ini terasa kering akan pilihan. “Ini adalah gerakan perubahan secara damai dan kita punya peluang melakukan sesuatu untuk mengurangi keburukan itu”, tambah Wimar.  

Kembali ke topik pemuda dan politik , salah satu kader API Berthy Bernadetta optimis bahwa pemuda punya peran besar untuk turut ikut mewarnai politik Indonesia. “Sejarah menunjukkan, keduanya  (baca: pemuda dan politik) terkait erat, dan apa yang terjadi dalam sejarah itu masih relevan hingga hari ini, meski kita saksikan sekarang di Indonesia sepertinya semangat pemuda sedang redup.

Lalu bagaimana cara mengajak pemuda yang apatis,dan berpotensi golput agar mau peduli pada politik? Menurut  Wimar yang juga pernah menjadi aktivis mahasiswa, pada dasarnya anak muda itu tidak senang kalau terus dinasehati atau diajari. Mereka  lebih asyik kalau sama–sama berbagi perspektif. “Saya tidak ingin mengubah pendapat orang yang sudah punya sikap, tapi saya bisa jadi referensi kalau ada yang ingin mencari perspektif”, ujar Wimar menawarkan diri.

 

 

 

Print article only

6 Comments:

  1. From Susy Rizky on 07 November 2011 06:03:46 WIB
    API ini sesuatu banget yah... Penggagasnya anak-anak muda yang penuh semangat, penuh kebersamaan. Semoga ikatan persaudaraan yg terjalin dapat terus dijaga, demi Indonesia yang lebih baik. Bersama pemimpin yang jujur, tegas dan mampu yang akan membawa Indonesia keluar dari situasi gelap saat ini.

    Hidup API!
  2. From @Dewinov on 09 November 2011 16:38:24 WIB
    wah senang sekali dengan munculnya API ini, ikut bangga menjadi pemuda Indonesia. You\'re so true W, Inti kepemudaan adalah imajinasi. Imajinasi memiliki negara yang menghargai pluralisme yang dipimpin oleh pemimpin yang jujur, tegas, dan mampu.
  3. From Faisal Wendi on 17 November 2011 06:37:14 WIB
    API di wilayah kota jogja dmn om? On topic: Kepemudaan/pemuda tdk suka dinasihati itu adalah kondisi saat ini,dan memang benar seperti itulah kesimpulan secara umum dr kenyataan yg bs kt lihat. Namun alangkah baiknya jika kepemudaan (yg berusia 30,40,ato 60 tahun itu) dapat memiliki sikap "legowo" / lapang dada / open mind dalam menerima teguran,koreksi,evaluasi dr pimpinannya dmnpun dia beraktifitas, serta menjadikan hal tsb sbg bentuk nasihat yg seharusnya direnungkan unt mengawali pengambilan sikap-sikap perbaikan kedepan. Pergerakan pembinaan moral kemanusiaan, & pembinaan mental spiritual (kecerdasan mental spiritual) menjadi alternatif opsi yg sgt logis utk kondisi saat ini.
  4. From Buffee on 25 November 2011 20:58:17 WIB
    A rloling stone is worth two in the bush, thanks to this article.
  5. From baqor on 08 December 2011 15:53:53 WIB
    memang benar kecendrungan pemuda tidak ingin di nasehati tetapi pemuda selalu mempunyai imajinasi tingkat kreatif potensial yang sangat tinggi mencontoh dengan sikap lebih baik ketimbang dinasehati yang lebih cendrung lebih banyak menambahkan beban dan membodohi para pemuda dari pada memberikan solusi,“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno)http://apolo7-net.blogspot.com/
  6. From sri on 23 December 2011 23:45:04 WIB
    Terkadang kami merasa bingung pak ,,mau mengeluarkan bakat dimana dan kemana,,dulu saya pandai berpendapat dan mengeluarkan aspirasi,,mungkin kalau misalnya tidak adanya suatu kebetulan,,semua itu tinggallah kenangan..bayangkan saja hanya kebetulan bukan sengaja,,,
    dulu ada seorang guru saya lewat di depan kelas saat kami diskusi,mungkin beliau merasa ide yang saya keluarkan bagus,akhirnya beliau mengajak saya bergabung ke osis,bayangkan pak kalau misalnya beliau tidak lewat dan tidak mau peduli sama saya dan teman-teman ,mungkin kami sekarang menjadi remaja brutal yang tidak tertarik apa-apa.
    itu semua karna kami tidak tau arah kemana dan harus bagaimana.

« Home