Articles

Tenerife

AREA magazine
11 March 2012

 

Tenerife
January, 24th 2012 |  by  Wimar Witoelar  | 0
 
Dalam sebuah diskusi yang diikuti oleh kelompok mahasiswa, ternyata tidak ada yang mengenai kejadian Tenerife. Katanya jaman sekarang tidak pernah dengar, tidak jadi topik. Tidak di koran, tidak di televisi, tidak di majalah. Padahal kejadian itu dahsyat betul, tabrakan dua pesawat terbang di Tenerife. Pesawat naas itu dua-duanya Boeing 747 dari dua pesawat penerbangan paling besar dan paling berpengalaman di dunia waktu itu. Musibah Tenerife terjadi pada tanggal 27 Maret 1977 ketika dua pesawat Boeing 747 beradu pada landasan Los Rodeos Airport di pulau Tenerife, bagian dari kepulauan Canary. Dengan korban 583 orang meninggal, ia adalah musibah paling berat dalam sejarah penerbangan. Akibat dari salah pengertian komunikasi, pesawat KLM berusaha take off sementara pesawat Pan Am masih ada pada landasan. Tabrakan yang terjadi menghancurkan semua 248 penumpang di  KLM dan 335 di pesawat Pan Am. Sekarang orang sudah lupa peristiwa itu. Tapi banyak orang merasa bersalah. Komisi Keamanan Penerbangan memanggil pilot paling senior sebagai konsultan. Ternyata ia sudah meninggal, karena dia salah satu pilot yang terlibat tabrakan.
Tentu kita tahu peristiwa 11 September 2001, terorisme kejam yang merobohkan dua gedung tertinggi di New York dan membawa maut pada 5000 lebih orang. Tapi rasa teror orang sekarang sudah tidak lagi seperti tahun 2003. Sekarang peristiwa itu termasuk catatan sejarah. Mulai ada orang yang lupa, atau tidak menyimak kekejamannya, sehingga waktu Osama bin Laden tertembak mati, banyak yang merasa simpati. Lupa bahwa dia pemimpin jaringan yang mengatur serangan dahsyat pada World Trade Center itu. Tapi siapa yang sebetulnya bersalah?
Mengapa bisa lupa? Karena orang harus melanjutkan hidup. Apapun peristiwanya, kalau tidak mati dalam peristiwa tersebut, orang harus melanjutkan hidupnya. Orang harus moving on setelah melakukan pilihan, melarikan diri dari kenyataan atau menerimanya.
Rasa bersalah, rasa membenci diri sendiri, tidak menghasilkan apa-apa kecuali menghalangi kemampuan untuk moving on. Orang sering disiksa rasa bersalah, seakan-akan dia menyebabkan aib pada dirinya, padahal belum tentu demikian. Dalam bahasa Inggris dibedakan antara accident dan disaster. Accident disebabkan oleh kesalahan manusia. Disaster diluar kekuasaan manusia. Orang bisa belajar dari accident, dimulai dengan menyadari kesalahan dirinya. Disaster tidak terhindarkan, memang diluar kekuasaan seseorang. Untuk keduanya, tidak ada gunanya membiarkan rasa bersalah terlalu lama. Derita dialami, kini tibanya melanjutkan hidup.
Kasus Tenerife dan WTC mudah. Orang ingin bangkit dari kesedihan secepat mungkin. Lain dengan penderitaan pribadi. Ada yang tidak bisa lepas, menyimak peristiwa masa lalu terasa lebih alamiah daripada melangkah ke masa depan. Banyak lagi bencana besar, pembunuhan massal di Jerman pada zaman Hitler, kematian ratusan ribu orang oleh bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki, tsunami di Aceh dan Thailand. Ingatan orang mengenai peristiwa-peristiwa itu berbeda dalam intensitas dan rasa tanggung jawab. Setiap kasus dibahas ratusan seminar, buku, film, puisi. Sangat terlalu besar untuk dibahas disini.
Yang inti, orang harus moving on apapun peristiwanya. Kalau kita merasa rendah, bersalah tanyakan pada diri anda apakah memang anda serendah itu. Mungkin anda tidak punya kualitas untuk menjadi presiden, tapi pertanyaan yang lebih relevan adalah, apakah anda cukup baik untuk mendapat bagian dari kebahagiaan?
Perbaikan diri terjadi sebagai akibat dari kegiatan lain. Tidak bisa kita secara sadar membuat diri kita lebih baik. Tapi kita bisa berusaha menerima diri seadanya.  Acceptance adalah kontrak pada diri sendiri untuk untuk menerima musibah yang pernah terjadi pada masa lalu. Hargai masa lalu, tapi jangan biarkan merusak masa depan. Jangan dijadikan modal hidup. Jadikan sejarah hidup, backdrop kehidupan yang lama-lama tidak mengganggu masa depan. Seperti Tenerife.

 

Tenerife

January, 24th 2012 |  by  Wimar Witoelar 

 

Dalam sebuah diskusi yang diikuti oleh kelompok mahasiswa, ternyata tidak ada yang mengenai kejadian Tenerife. Katanya jaman sekarang tidak pernah dengar, tidak jadi topik. Tidak di koran, tidak di televisi, tidak di majalah. Padahal kejadian itu dahsyat betul, tabrakan dua pesawat terbang di Tenerife. Pesawat naas itu dua-duanya Boeing 747 dari dua pesawat penerbangan paling besar dan paling berpengalaman di dunia waktu itu. Musibah Tenerife terjadi pada tanggal 27 Maret 1977 ketika dua pesawat Boeing 747 beradu pada landasan Los Rodeos Airport di pulau Tenerife, bagian dari kepulauan Canary. Dengan korban 583 orang meninggal, ia adalah musibah paling berat dalam sejarah penerbangan. Akibat dari salah pengertian komunikasi, pesawat KLM berusaha take off sementara pesawat Pan Am masih ada pada landasan. Tabrakan yang terjadi menghancurkan semua 248 penumpang di  KLM dan 335 di pesawat Pan Am. Sekarang orang sudah lupa peristiwa itu. Tapi banyak orang merasa bersalah. Komisi Keamanan Penerbangan memanggil pilot paling senior sebagai konsultan. Ternyata ia sudah meninggal, karena dia salah satu pilot yang terlibat tabrakan.


Tentu kita tahu peristiwa 11 September 2001, terorisme kejam yang merobohkan dua gedung tertinggi di New York dan membawa maut pada 5000 lebih orang. Tapi rasa teror orang sekarang sudah tidak lagi seperti tahun 2003. Sekarang peristiwa itu termasuk catatan sejarah. Mulai ada orang yang lupa, atau tidak menyimak kekejamannya, sehingga waktu Osama bin Laden tertembak mati, banyak yang merasa simpati. Lupa bahwa dia pemimpin jaringan yang mengatur serangan dahsyat pada World Trade Center itu. Tapi siapa yang sebetulnya bersalah?


Mengapa bisa lupa? Karena orang harus melanjutkan hidup. Apapun peristiwanya, kalau tidak mati dalam peristiwa tersebut, orang harus melanjutkan hidupnya. Orang harus moving on setelah melakukan pilihan, melarikan diri dari kenyataan atau menerimanya.


Rasa bersalah, rasa membenci diri sendiri, tidak menghasilkan apa-apa kecuali menghalangi kemampuan untuk moving on. Orang sering disiksa rasa bersalah, seakan-akan dia menyebabkan aib pada dirinya, padahal belum tentu demikian. Dalam bahasa Inggris dibedakan antara accident dan disaster. Accident disebabkan oleh kesalahan manusia. Disaster diluar kekuasaan manusia. Orang bisa belajar dari accident, dimulai dengan menyadari kesalahan dirinya. Disaster tidak terhindarkan, memang diluar kekuasaan seseorang. Untuk keduanya, tidak ada gunanya membiarkan rasa bersalah terlalu lama. Derita dialami, kini tibanya melanjutkan hidup.


Kasus Tenerife dan WTC mudah. Orang ingin bangkit dari kesedihan secepat mungkin. Lain dengan penderitaan pribadi. Ada yang tidak bisa lepas, menyimak peristiwa masa lalu terasa lebih alamiah daripada melangkah ke masa depan. Banyak lagi bencana besar, pembunuhan massal di Jerman pada zaman Hitler, kematian ratusan ribu orang oleh bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki, tsunami di Aceh dan Thailand. Ingatan orang mengenai peristiwa-peristiwa itu berbeda dalam intensitas dan rasa tanggung jawab. Setiap kasus dibahas ratusan seminar, buku, film, puisi. Sangat terlalu besar untuk dibahas disini.


Yang inti, orang harus moving on apapun peristiwanya. Kalau kita merasa rendah, bersalah tanyakan pada diri anda apakah memang anda serendah itu. Mungkin anda tidak punya kualitas untuk menjadi presiden, tapi pertanyaan yang lebih relevan adalah, apakah anda cukup baik untuk mendapat bagian dari kebahagiaan?


Perbaikan diri terjadi sebagai akibat dari kegiatan lain. Tidak bisa kita secara sadar membuat diri kita lebih baik. Tapi kita bisa berusaha menerima diri seadanya.  Acceptance adalah kontrak pada diri sendiri untuk untuk menerima musibah yang pernah terjadi pada masa lalu. Hargai masa lalu, tapi jangan biarkan merusak masa depan. Jangan dijadikan modal hidup. Jadikan sejarah hidup, backdrop kehidupan yang lama-lama tidak mengganggu masa depan. Seperti Tenerife.

 

 

Print article only

1 Comments:

  1. From wulan on 20 March 2012 09:01:41 WIB
    "Did I deserve happiness?" "Yesss!!" membaca artikel ini sambil mendenger lagu andin "cause i'm moving on.."

    *thumbsup

« Home