Articles

Membangun harapan melalui pilihan politik

Perspektif Online
12 March 2012

Membangun harapan melalui pilihan politik

oleh Wimar Witoelar

 


Banyak yang mengagumi Sri Mulyani, banyak yang juga tidak. Banyak yang membenci Menteri Keuangan terbaik ini akibat propaganda negatif yang didengungkan oleh media partai selama 2 tahun. Ini semua membuat pencalonan Sri Mulyani oleh partai Serikat Rakyat Independen menjadi cerita yang menarik secara politik.

Menarik apabila rakyat Indonesia bisa menggunakan hak individu politiknya untuk memilih seorang presiden yang jujur, tegas, dan mampu. Tapi lebih penting daripada terpilihnya Sri Mulyani adalah pengalaman politik yang dapat diraih apabila rakyat Indonesia mengerti betul apa yang dipertaruhkan dalam pemilihan umum. Pencalonan Sri Mulyani akan mempertaruhkan sesuatu yang lebih luas dari jabatan kepresidenan. Yang dipertaruhkan adalah keyakinan orang akan masa depan dirinya dalam masyarakat Indonesia. Bisa dikatakan ini adalah pertaruhan antara harapan dan putus asa, membangun harapan melalui politik.

Kita bisa melihat kasus yang lebih dekat di depan mata yaitu pemilihan gubernur DKI. Pemilihan Gubernur DKI sudah mencatat beberapa calon peserta. Kita ambil sebagai contoh dua calon Gubernur dari dua partai besar. Baru-baru ini Golkar menyatakan akan mencalonkan Alex Noerdin yang sekarang gubernur Palembang, yang tengah dianggap terlibat kasus korupsi termasuk wisma atlet, walaupun tidak dihukum. Partai satu lagi yaitu partai yang sedang bermasalah, Partai Demokrat, malah sampai tulisan ini diturunkan belum bisa memutuskan apakah akan mencalonkan Fauzi Bowo atau Nachrowi. 

Bagi publik, nama dan foto calon partai besar yang sudah terpampang ini dianggap tidak menarik jika kita dengar pembicaraan di social media dan dalam percakapan sehari-hari. Orang katakan rasanya sama saja gurem semua, lebih baik golput lagi seperti dulu. Ada calon yang lebih menarik perhatian pro dan kontra yaitu pasangan Faisal Basri dan Biem Benjamin. Untuk calon ini sudah terlihat dukungan emosional secara fisik pada waktu kedua orang ini mendaftarkan di KPUD terlihat ribuan orang yang menyatakan semangatnya secara fisik. Kalau untuk pendaftaran saja sudah turun sebanyak itu orangnya dan kalau sudah berhasil mengumpulkan 400.000 KTP maka bisa dibayangkan kemungkinan yang akan terjadi apabila pasangan calon Faisal-Biem itu benar-benar tampil dalam Pemilukada. Tapi menurut kabar KPUD tidak meloloskan pasangan independen ini.

Banyak banyak analisa politik mengenai golput tapi menurut pernyataan dari teman-teman, orang memilih menjadi golput karena tidak tahu harus pilih siapa dan juga tidak yakin apa pilihannya itu akan ada gunanya. Kunci untuk membangkitkan semangat orang bukan panggilan normatif. Orang akan tergugah oleh panggilan kepentingan langsung. Jadi kalau orang punya kepentingan untuk mencari penyelesaian jalan macet, korupsi, kekurangan infrastruktur maka orang akan terpanggil untuk memilih pimpinan baru.

Kami melakukan suatu eksperimen amatiran di tempat kerja kami dengan kira-kira 12 orang yang kelihatannya tidak punya minat politik. Ditanyakan pada masing-masing, selain hal-hal sehari-hari apa yang menjadi concern anda? Kegiatan sehari-hari misalnya bekerja, makan, jalan-jalan, kencan, urusan keluarga, apakah masih ada sisa kapasitas dalam dirinya untuk mempunyai interest atau minat dalam hal lain?

Banyak yang harus berpikir lama tapi pada umumnya bisa keluar juga jawaban. Yang satu bilang saya senang memikirkan soal candi dan benda budaya di Jawa Tengah, di Kota tua Jakarta dan merasa jengkel kenapa benda-benda itu tidak terurus. Seorang ibu muda sangat concerned pada masalah kesehatan umum misalnya flu burung, kanker serviks, hubungan cuci tangan dengan infeksi. Keprihatinan terhadap kesehatan umum menimbulkan kesadaran bahwa pemerintah tidak menjangkau concern orang biasa. Ada beberapa yang concerned mengenai korupsi walaupun ada juga yang hanya latah. Tapi semua sadar masalah keadilan. Setiap orang punya concern tentang hal publik tapi tidak setiap orang mengaku bahwa dia punya perhatian terhadap politik, dan menganggap politik itu suatu kegiatan tersendiri. Mereka tidak sadar bahwa hal publik yang harus diatur bersama maka satu-satunya jalan adalah jalan politik.

Keinginan pribadi bisa menjadi suatu keinginan bersama, yang pada waktunya bisa memacu gerakan moral. Menurut Robertus Robert, dosen filsafat di Universitas Indonesia, dari nilai-nilai pribadi tumbuh gerakan moral. Kalau kemudian ingin membuat perubahanmaka gerakan moral itu harus menjadi gerakan politik. Itulah gerakan politik yang dilakukan oleh Faisal Basri, yang dilakukan oleh orang-orang SMI-K dan SRI dengan mendukung Sri Mulyani.

Perlu beberapa langkah saja untuk menyimpulkan bahwa kalau orang-orang positif ingin dijadikan pemimpin formal maka harus ada gerakan politik. Itu sebetulnya makna pencalonan Sri Mulyani. SRI tidak hanya berguna untuk pendukung Sri Mulyani saja tapi dia pasti berguna juga untuk setiap orang yang merasakan kebuntuan, kekentalan oligarki politik. Tekanan ini dapat dicairkan oleh suara segar. Gerakan politik yang paling bermanfaat, paling kuat, bukanlah mendirikan partai, bukanlah mengumpulkan pendukung, tetapi bersuara pada Pemilu kelak.

Suara itu bisa diberikan tanpa harus merasa terbelenggu oleh calon partai lama, kalau anda sendiri ikut mendorong munculnya partai baru. Partai yang membangun harapan dari pilihan politik baru.

 

Print article only

2 Comments:

  1. From R Muhammad Mihradi on 13 March 2012 14:10:26 WIB
    Bagi saya, publik kini tengah luntur harapan. Tidak mudah melacak sosok berintegritas. Baik ideologi, kehidupan pribadi dan nilai-nilai yang bermanfaat bagi publik. Dalam kondisi demikian, tidak heran bila sebagian publik kita boleh jadi alergi politik. Kekecewaan terlalu menumpuk. Janji tergeletak dimana-mana.
    Dalam kondisi demikian memang---bisa jadi--kita butuh partai politik baru yang lebih segar, bervisi dan menjanjikan. Tapi itu masih perlu diuji waktu dan konsistensi.
    Karena itu, saya lebih menggagas bahwa apapun bentuk dan format berpolitik, kembali ke nilai-nilai etis politik bagi saya kata kunci. Jujur, anti korupsi dan peduli publik adalah hal yang dapat ditimbang untuk memfilter pilihan apapun bagi masa depan kita. Ntahlah...
  2. From deapurnama on 16 March 2012 11:43:17 WIB
    menurut saya,, justru masyarakat kini tidak banyak mempunyai harapan apalagi orang* kecil,,
    justru partai politik banyak tidak menanggapi semua itu !!
    malah banyak yang korupsi ! jadi banyak sekali masyarakat miskin sampai anak* jalanan yang tidak terjamah oleh partai plitik ( di abaikan )

« Home