Articles

Pada Pemilu 2009, tidak setuju Prabowo mendampingi PDIP


27 September 2012

Perspektif Baru

Naskah ini merupakan transkrip wawancara radio yang disiarkan sindikasi ratusan stasion radio melalui Jaringan Radio KBR 68 H, Jaringan Radio Antero NAD, Bravo FM Palangkaraya, Gemaya FM Balikpapan, Metro RGM Purwokerto, Global FM Bali, Lesitta FM Bengkulu, Maya Pesona FM Mataram, Pahla Budi Sakti Serang, Poliyama FM Gorontalo, BQ 99 FM Balikpapan, Gita Lestari Bitung, Dino FM Samarinda, Genius FM Pare-Pare, Civica FM Gorontalo, Shallom FM Tobelo Maluku Utara, Marss FM Garut, Sangkakala FM Banjarmasin, M83 FM Kutai Kartanegara, RPFM Kebumen, BFM Bangka Belitung, Sehati FM Bengkulu

Pendahuluan

Senang sekali saya bertemu dengan Anda untuk satu wawancara dengan orang yang pernah saya wawancara pada 1999 ketika Gus Dur belum lama menjadi presiden dan dia memberikan Amnesti kepada beberapa tahanan politik, salah satunya Budiman Sujatmiko. Kita akan bicara dengan Budiman Sudjatmiko dengan sangat pribadi mengenai kiprah politiknya.

 

Budiman mengatakan menempatkan orang baik saja dalam kekuasaan yang masih korup dan masih ada unsur otoriterisme tidak cukup. Kita harus building power, kita harus membangun sebuah sistem, bukan sekadar menempatkan orang baik. Karena itu dia memutuskan masuk ke partai.

 

Ketika saya sudah berpuluh-puluh tahun aktif di pergerakan mahasiswa dan politik tapi bukan di partai, saya mengamati saat puncak rezim Soeharto yang mulai di luar kendali yaitu pada 1994 ada sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang membuat suatu partai sangat radikal, bernama Partai Rakyat Demokrasi (PRD) dimana Budiman Sudjatmiko adalah ketua umumnya.

 

Saya akan memulai obrolan kita dari sana sebab itu yang membuat Anda drop out sekolah walaupun nantinya mendapatkan gelar Master di Inggris. Saya melihat pada 27 Juli 1996 terjadi insiden fisik yang besar sekali untuk ukuran zaman Soeharto, yaitu penyerbuan ke Sekretariat PDIP yang dipimpin secara kharismatik oleh Megawati. Pada saat itu ada korban jiwa, penangkapan, dan sebagainya. Lalu muncul nama Budiman Sudjatmiko yang ditangkap dan setelah insiden tersebut masuk tahanan. Silakan Anda ceritakan dari sana dengan kata-kata Anda sendiri. Mengapa Anda ditahan? Apa yang Anda lakukan di penjara? Apa yang terjadi di pikiran Anda waktu itu? Apa yang terjadi setelah Anda dibebaskan?

 

Ya, pada 1994 - 1996 kami mendirikan PRD. Usia saya waktu itu 24 tahun bersama teman-teman yang kurang lebih setara dan sebaya usianya. Kami merasa bahwa Soeharto sudah berkuasa terlalu lama. Kami pelajari banyak rezim-rezim diktator yang berkuasa 30 tahun,  menurut kami itu sudah terlalu lama, sehingga kami berpikir bahwa gerakan demokrasi yang sudah banyak muncul harus lebih straight forward, lebih frontal menghadapi Soeharto. Saya mendirikan PRD dengan tuntutan jelas seperti Soeharto harus mundur.

 

Jadi, apakah itu artinya lebih anti Soeharto daripada ideologi kiri?

 

PRD seperti gabungan dari berbagai macam tradisi perlawanan. Dari mulai tradisi liberal sampai kiri, multi dari partai, demokrasi, kemudian negara kesejahteraan, sebenarnya lebih ke sana arahnya. Jadi, nasionalisme yang  sifatnya kerakyatan. Yang menarik adalah kebanyakan teman-teman PRD adalah aktivis-aktivis keagamaan. Orang-orang pesantren, PMII, PMKRI, pastor-pastor gagal, jebolan pesantren, tapi kami sepakat bahwa ideologi yang kami inginkan lebih kepada sosial demokrasi. Itu sebenarnya tujuan kami.

 

Kami mendirikan PRD pada 1994 sebagai persatuan, kemudian pada 1996 sebagai partai. Kebetulan saat bersamaan PDI di bawah pimpinan Megawati, yang sebenarnya ada di dalam sistem itu, dianggap oleh Orde Baru sebagai ancaman (status quo) sehingga ada upaya untuk menyingkirkan, namun ada perlawanan dari masa pendukung Megawati. Di situlah kemudian massa pendukung Megawati dan gerakan-gerakan pro demokrasi di luar PDI, seperti PRD salah satunya, bersolidaritas dan menciptakan sebuah ruang di kantor PDI sebagai mimbar bebas untuk semua orang mengeluarkan unek-unek politiknya.

 

Apakah kerusuhan berdarahnya pada 27 Juli 1996 melibatkan atau tidak PRD dan Budiman?

 

Itu diserbu oleh pendukung Soerjadi (Ketua Umum PDI tandingan – Red). Ya, jelas tidak.

 

Tapi, mengapa Anda ditangkap?

 

Kami dianggap sebagai dalang insiden tersebut. Setelah ada perlawanan dari pendukung PDI dan juga dari rakyat Jakarta, sehingga kota Jakarta terbakar pada 27 Juli. Sesudah itu kami dituduh sebagai dalang karena kami dianggap mendalangi Mimbar Bebas selama satu bulan sebelumnya.

 

Apakah benar Anda mendalangi Mimbar Bebas?

 

Kami menjadi salah satu unsurnya tetapi itu tetap dianggap sebagai memprovokasi orang untuk benci Soeharto, benci Orde Baru.

 

Apakah Anda juga mendalangi  kerusuhan pembakaran setelah rezim Soeharto jatuh?

 

Oh, itu tidak.

 

Mengalami hari-hari sangat dramatis sebelum, selama, dan sesudah Soeharto jatuh. Peristiwa penyerangan kantor PDI di jalan Diponegoro dimana orang-orang rezim menyerbu sehingga terjadi banyak kematian, dan sesudahnya ada reaksi balik dimana orang terpicu berkiprah, dan barang kali karena itu juga sentimen anti Soeharto tumbuh. Setalah itu Anda berada di tahanan. Berapa lama Anda ditahan?

 

Sebenarnya divonis 13 tahun, tapi tuntutannya 15 tahun oleh jaksa. Namun terjadi proses reformasi sehingga Soeharto jatuh pada 1998. Kemudian ada amnesti Presiden Habibie.  Seluruh tahanan politik lain diberi amnesti kecuali kami PRD. Kami ditawari grasi. Kalau amnesti berarti keputusan menahan mereka dianggap salah, kemudian pemerintah mengkoreksi. Kalau grasi berarti putusan menghukum kami dianggap benar, hanya kami diampuni atas kebaikan, kami menolak. Saya dengan teman-teman menolak bebas kalau atas nama grasi.

 

Siapa lagi dari PRD yang masuk tahanan?

 

Ada Petrus H. Haryanto, J. Kurniawan, Garda Sembiring, I Gusti Agung Anom Astika, Dita Indah Sari di Surabaya dan masih ada yang lainnya, sehingga kami menolak untuk keluar karena grasi. Baru pada masa Gus Dur kami diberi amnesti, yaitu tidak lama setelah beliau menjadi presiden. Pada 10 Desember 1999, saat hari Hak Asasi Manusia (HAM) kami dibebaskan oleh amnesti dari Presiden Gus Dur.

 

Tidak lama setelah itu, saya bertemu dengan Budiman Sodjadmiko dan diberi wawancara di Perspektif Baru juga. Barangkali Anda bisa lihat lagi wawancaranya di website kami. Itu suatu kehormatan, dan tetap saya anggap suatu kehormatan.  Saya ingin mempelajari  evolusi sesudahnya. Apakah selama tiga tahun setelah itu Anda tidak ikut gerakan 1998 dan sebagainya, atau ikut dari balik sel penjara?

 

Ya, teman-teman PRD tetap bergerak meskipun tidak menggunakan nama PRD lagi, bahkan pada 1998 beberapa teman yang tidak tertangkap bersama kami pada 1996 masih bergerak di luar dan kemudian mereka menjadi korban penculikan pada 1998.

 

Apakah Anda tidak termasuk korban penculikan?

 

Saya sudah ada di dalam penjara. Saya relatif aman dengan ada di dalam tahanan.

 

Apakah teman-teman Anda menjadi korban penculikan?

 

Itu adalah kepemimpinan PRD pasca saya di penjara. Jadi waktu kami di penjara, kami mendelegasikan agar teman-teman di luar mengambil alih kepemimpinan.

 

Supaya datang dari sumber yang pertama, berapa orang yang kira-kira yang diculik?

 

Ada Andi Arief, Nezar Patria, Suyat, Widji Thukul, ada Raharjo Waluyo Jati, Mugiyanto, Herman Hendrawan. Itu tujuh orang yang dari PRD.

 

Apakah semuanya dilepas kembali?

 

Tidak. Yang dilepas kembali adalah Andi Arief, Nezar Patria, Raharjo Waluyo Jati, Mugiyanto. Yang tidak kembali adalah Widji Thukul, Suyat, Hendrawan, Petrus Bima Anugrah.

 

Kemana empat orang yang tidak kembali, apakah mereka mati?

 

Menurut pihak yang berwenang, mereka sudah melepas semua tahanan. Kemungkinan ada satuan lain yang kembali menculik mereka setelah dilepas. Memang saya pernah bertemu Raharjo Waluyo Jati, salah satu korban penculikan yang dilepas. Kalau tidak salah, Jati atau Nezar bercerita ke saya bahwa mereka memang pernah terlihat di kantor polisi. Mereka sudah dilepas oleh sekapan Tim Mawar guna dipindahkan ke kantor polisi Mapolda jika tidak keliru. Mereka juga melihat bahwa di sana ada Petrus Bima Anugrah atau Hendrawan berada di tempat yang sama. Artinya mereka sudah dilepas juga dari sekapan. Namun kemudian Jati atau Nezar yang bercerita kepada saya bahwa sebelum dilepas dia diberi pesan yang bunyinya seperti ini, “Kamu akan dilepas pulang kampung dan kamu harus pulang. Kamu jangan menengok ke belakang selama di perjalanan, ada orang yang mengawasimu. Dia akan memastikan kamu sampai di rumahmu dengan selamat. Tapi kamu tidak usah menengok, kamu tidak usah cari tahu siapa dia.” Alasannya untuk memastikan mereka yang dilepaskan itu sampai rumah dengan selamat karena ada indikasi beberapa yang dilepas, diambil oleh kesatuan lain. Itu ceritanya, itu pengakuannya.

 

Setelah ke luar dari tahanan, Anda aktif kemana–mana dan sekarang menjadi salah seorang tokoh besar di PDIP. Di PDIP ada Megawati mungkin Anda tidak akan menjadi ketua umum tapi Anda adalah suara progresif di PDIP. Saya ingin melihat dari saat itu sampai di kini. Sikap Anda terhadap rezim Soeharto sangat jelas, Sikap Anda terhadap Prabowo, saya tidak tahu, tapi dari cerita tadi saya kira tidak beda dengan kita. Kemudian sikap Anda sebagai orang luar sistem, orang pertanyakan mengapa kemudian bergabung dengan PDIP? Saya tidak terlalu pertanyakan tapi barangkali Anda ingin menjelaskannya sedikit?

 

Ketika Gus Dur jatuh, saya kemudian melakukan evaluasi. Evaluasinya begini; menempatkan orang baik saja dalam kekuasaan yang masih korup dan masih ada unsur otoriterisme, menurut saya, tidak cukup. Kita harus building power, kita harus membangun sebuah sistem, bukan sekadar menempatkan orang baik. Saya melakukan refleksi. Kemudian, okay saya akan melakukan jarak dulu dari Indonesia. Saya kuliah ke luar negeri. Gus Dur yang memberi endorsement, saat itu dia sudah tidak menjadi presiden lagi. Kemudian kepulangan saya dari Inggris bertepatan dengan pemilihan presiden (Pilpres) 2004.

 

Saat itu ada pilihan bergabung dengan Megawati atau Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saya melihat bahwa saya harus memilih Megawati, bukan karena Megawati-nya tapi karena PDI Perjuangan. Di situ ada sebuah institusi yang sudah jadi yang pada masa Orde Baru pernah menjadi bagian gerakan reformasi, terlepas dengan segala kekurangannya. Saya merasa saya harus membangun demokrasi dan untuk itu harus membangun sistem. Karena itu saya ingin memilih untuk melakukan penguatan sistem. Kalau ke SBY, menurut saya, sosok SBY sangat melampaui institusi partainya.  Pada waktu itu bagi saya kurang pas.

 

Saya masuk PDI Perjuangan karena saya ingin membangun sistem dan sistem ini pernah menjadi gerakan reformasi. Kemudian orang-orang yang saya kenal pada zaman 27 juli dulu juga berada pada institusi yang sama. Pada 2009 saya sebenarnya tidak begitu berminat masuk DPR, tapi kemudian Pramono Anung memberi dukungan kepada saya.

 

Jadi, apakah selama 2004 -2009 Anda aktif di PDIP?

 

Aktif di PDI Perjuangan dan saya melakukan pembinaan pemuda. Kemudian saya berkeliling ke cabang-cabang dan diundang karena saya dianggap aktivis yang dulu pernah terlibat dalam 27 Juli. Mereka kenal saya, saya diundang ke berbagai tempat meskipun saya tidak punya jabatan formal apapun.

 

Sewaktu masuk PDIP, Anda kok bisa mendukung partai yang berkerja sama dengan Gerindra yang dipimpin oleh Prabowo seperti di Pilpres 2009 dan Pilkada Jakarta kemarin. Apa Anda tidak merasa ikut merehabilitasi Prabowo dari orang yang tidak jelas perannya menjadi orang yang respectable? Apa Anda akan bertanggung jawab kalau Prabowo muncul di puncak nasional?

 

Ok, pada 2004 tidak ada Prabowo, tapi hanya pada 2009 sewaktu Pilpres. Posisi di PDI Perjuangan pada waktu itu menjelang pencapresan, posisi saya sebenarnya lebih dekat kepada Taufik Kiemas, walaupun tidak terlalu dekat begitu. Tapi kemudian ada keputusan Partai. Di situ konsekuensi sebagai orang dalam organisasi, bahwa ketika organisasi sudah memutuskan, kita harus mengikuti.

 

Saya tidak mau menjadi juru bicara, saya berkerja di dalam partai dan saya mengambil posisi yang memang tidak terlalu ingin untuk dilihat seperti muncul di televisi, posisi saya lebih administratif. Itu untuk yang 2009.

 

Pada 2012 jelas peran Prabowo sangat besar, muncul seorang Jokowi  yang sangat dicintai rakyat, kharismatik dan sangat terang masa depannya. Sebagian dari suksesnya diatribusikan terhadap dukungan PDIP dan Gerindra.

 

Tapi kalau saya lihat di bawah, saya melihat dari kacamata PDIP, itu ada urunan (sumbangan) dari PDIP di cabang-cabang. Itu tidak hanya Solo tapi juga di Jogja termasuk cabang–cabang PDI yang tidak ada hubungannya dengan Solo ikut urunan. Bahkan mereka ikut menyerahkan sukarelawan untuk berkerja  di Jakarta.

 

Kesatu, itu dari pembiayaan. Kedua, dari segi sebesar apapun biaya,  kalau tanpa ada kerja keras orang di bawah maka itu tidak akan terjadi. Saya melihat, dalam hal ini saya bertanggung jawab untuk kemenangan Jokowi (dalam Pilkada Gubernur Jakarta – Red) di daerah Tanah Abang, yang bekerja kebanyakan kader partai kami. Saya melihat hanya partai kami yang menonjol.

 

Saya tahu Tanah Abang tidak terlalu besar perannya, tapi Djan Farid sangat berperan. Djan  Farid lebih berkontribusi untuk Pasar Tanah Abang, tapi Kecamatan Tanah Abang adalah  tanggung jawab saya untuk pimpinan anak cabang (PAC) dan ranting-ranting PDIP. Jadi saya turun dengan tim saya. Kalau membicarakan masalah biaya, kebetulan setiap anggota DPR fraksi PDIP diminta biaya sekian rupiah.

 

Artinya, saya tidak melihat bahwa cabang maupun ranting partai dibiayai oleh orang lain. Saya merasa kita yang membiayai sendiri. Setiap Anggota DPR PDIP dan masing-masing  anak cabangnya juga membiayai. Untuk ukuran saya cukup besar, tapi saya senang-senang saja, dan mereka berkerja dengan mesin itu.

 

Sekarang setelah Jokowi menang, apa Anda bisa mempertahankan agar Jokowi mempunyai loyalitas kepada rakyat yang memilih dan mungkin kepada PDIP, dan tidak akan memindahkan loyalitasnya kepada Prabowo yang mungkin menyediakan dana baginya?

 

Saya jamin. Jokowi adalah orang yang konsisten, bahkan Jokowi yang pernah mengingatkan saya dulu  “Bud, kita harus konsisten.” Saya percaya bahwa apa yang disampaikan ke saya dulu itu adalah cerminan dari dia. Saya pun akan balik mengatakan, “Pak, dulu Bapak pernah mengingatkan saya, sekarang saya ganti mengingatkan Bapak.“

 

Print article only

0 Comments:

« Home