Articles

Sisa-sisa terakhir oligarki politik Orde Bar


06 December 2012

Wimar Witoelar

Ical Tidak Bisa Menang Tanpa Partai dan Uang

Menurut pengamat politik Wimar Witoelar, Aburizal Bakrie melambangkan sisa-sisa terakhir oligarki politik era Orde Baru. Di dalam Orde Baru dan di dalam oligarki itu ada politisi yang memiliki sikap tertentu. Ada juga orang-orang yang korupsi lepas dari politik. Menurut Wimar, Aburizal Bakrie mewakili keduanya, baik oligarki politik dan korupsi secara pribadi. Karena mewakili sisa-sisa oligarki politik, kekuatan oligarki politik itu hanya satu, yaitu partai dan uang. Selama partai dan uang itu berbicara dia bisa maju. Wimar juga menilai bisnis Bakrie bukan naik turun tapi semakin turun.

Untuk mengetahui lebih jauh apakah kondisi bisnis Ical saat ini bisa mengantarkannya jadi presiden pada Pilpres 2014, berikut petikan wawancara The Politic dengan pakar komunikasi yang mengaku kenal dekat dengan Ical sejak muda ini:

Bagaimana pendapat Anda mengenai bisnis Ical saat ini?

Aset terbesar Ical Bumi Resources secara evaluasi pasar itu turun. Bisnis Aburizal Bakrie itu akhirnya akan mengandalkan leverage. Jadi, pinjaman atas dasar nilai pinjaman. Sebut saja Epicentrum Walk, semua itu menggunakan dana pinjaman.

Karena itu dia mulai meronta-ronta, mencari duit sama Rothschild. Karena Rothschild ribut uang di BUMI dipakai oleh Nirwan Bakrie untuk kegiatan lain. Jadi dia itu lagi deal mau jual ANTV. Putra Ical Anindya Bakrie langsung membantah tidak. Asyik juga tweet aku, no body ditanggapi oleh Anindya Bakrie oh tidak. Tapi sumber saya mengatakan tadinya mau.

Tapi kalau dilukiskan sebagai kekalahan kan nggak bisa. Kenyataannya ANTV itu tidak bisa mengatakan profit, itu loss centre. Saya pernah jadi Komisaris ANTV. Jadi saya tahu dia tidak pernah profit. Baik ANTV maupun TV-One itu adalah program proyek politik. Nggak apa-apa asal mendukung kegiatannya. Jadi dia mulai tambal sulam. Dia lihat segala itu mulai nggak berhasil.  Dari pengalaman dia tahu bahwa bisnis adalah gambling. Bisnis adalah keberanian. Sejak tahun 1964 saya kenal dia, dia memang selalu bilang begitu, bisnis adalah gambling.

Golkar di bawah Ical menurut Anda bagaimana?

Kalau menurut saya Golkar akan redup. Kalau dia hati-hati turun, ganti calonnya yang lebih baik, Nurul Arifin atau yang lain masih bisa merebut simpatik.  Jadi arah tujuannya Aburizal Bakrie itu ingin menjadi pemimpin nasional sebelum Pemilu 2014. Sebab 2014, dia belum pasti menang. Tapi kalau sekarang dia jadi Wapres karena kekuatan DPR, kalau ada impeachment kan DPR itu menentukan, Golkar masih menang. Nah, kalau sekarang dia menjadi Wapres, maka dia di 2014 itu posisinya menjadi incumbent Wapres. Jadi calon lebih enak. Itu yang dia rencanakan. Daripada keluar dana kampanye banyak-banyak, lebih baik sekarang aja. Kalau dia bisa ajukan tanggal Pemilunya sekarang. Tapi kita bukan sistem parlementer, jadi tunggu sampai 2014.

Jika Ical jadi presiden, kabarnya untuk menyelamatkan bisnis-bisnisnya. Pendapat Anda?

Ini adalah usaha terakhir, adiknya Nirwan Bakrie tidak setuju Ical berpolitik. Karena dia menjadi banyak mengalami kesulitan. Tapi Ical lebih pintar dari Nirwan, dia berpolitik bukan karena politik. Kecil kok motivasi politiknya, tapi untuk menyelematkan bisnis. Siswono, Ical, Taufik, semuanya orang-orang dari anak buah Ginanjar. Itu pernah bilang, Wim daripada lo cape-cape, lo tuh terima aja jabatan politik, lo utang ke bank dihapus. Siswono di BNI dihapus, Ical di BPPN dihapus, jadi di politik itu arti dokter kuat terhadap kebangkrutan. Tidak ada penguasa yang bangkrut.

Dengan kondisi bisnisnya saat ini, menurut Anda apa bisa mengantarkan Ical jadi presiden?

Ya…, menurut saya itu susah, tapi dia lebih tahu lah. Nah, dia itu sangat instingtif, sangat reaktif tidak lagi berpola, karena dia membangun kariernya dari keturunan yang mampu, status sosial yang top. Sebagai orang ITB, insinyur zaman Orde Baru, dia dekat dengan Ginanjar, Soedarmono, dan tidak pernah harus berjuang. Yang dia perjuangkan itu kedekatan dengan penguasa. Begitu tahun 1998, dunia penguasa jungkir balik, Ical bangkrut di situ kan?

Waktu itu saya konsultan BPPN. Dia datang ke saya. “Yaa saya nggak ada kekuasaan, walaupun elu tau gua kan .. mikirnya sederhana gak bisa di luar peraturan. Yaa, gua cuma perlu Rp 1 triliun nih gua pinjemin. Tahu-tahu dia lolos. Karena dia bikin deal entah dengan siapa.  Banyak orang bikin deal, tapi saya enggak sebut namanya. Orang sekonyong-konyong kaya, dari mana tuh yaa.. Jadi ada yang sekonyong-konyong kaya, ada uang yang nggak tau di mana. Sambung-sambung aja.. tahu kan uang yang nggak tahu di mana.. uang Soeharto, Soekarno.. itu kan yang nggak tau ada di mana. Dipegang sama orang-orang yang mendadak kaya.

 

 

 

Menurut Anda apakah Ical tidak bisa menang tanpa partai dan uang?

Betul, Ical tidak bisa menang tanpa partai dan yang. Dia tidak menang dalam beauty contest. Dia itu tidak punya pasar di pemilih yang fair. Dia punya pasar di sistem oligarki.  Sistem lama, di mana partai berbicara dan uang berbicara. Santo, Sopan

 

Print article only

0 Comments:

« Home