Articles

Parpol Lakukan Kejahatan Publik


21 December 2012

http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=38433 

 

Kelas Menengah Sumbar Kawal Lima Capres Alternatif

 Padang Ekspres • Kamis, 20/12/2012 11:20 WIB • • 128 klik

Padang, Padek—Lima calon pre­­siden alternatif pilihan kelas me­­n­engah terdidik Indonesia di­sam­­but antusias oleh publik. Ka­la­ngan kampus, tokoh mas­ya­ra­kat dan media siap meng­a­wal lima tokoh nasional yang diang­gap mampu membawa peru­ba­han terhadap masa depan Indo­ne­­sia agar masuk dalam bursa ca­lon presiden 2014.

 

Hasil survei opinion leaders yang dirilis Lembaga Survei In­do­nesia (LSI), menjadi tam­pa­ran bagi partai politik karena ca­lon presiden yang diusungnya, ti­­dak masuk dalam radar kelas m­e­­nengah yang dinilai paling la­yak memimpin Indonesia pada 2014-2019. Fakta ini menun­juk­kan pilihan capres dari partai po­li­tik, tidak sesuai dengan se­lera rak­yat pemilih.

 

Tokoh capres alternatif 2014 pi­lihan para profesor dan p­e­mim­­pin media massa di Indone­sia ini, sekaligus mengonfirmasi bah­­wa bangsa ini tidak krisis ke­pe­mimpinan nasional. Seperti di­ketahui, lima besar capres 2014 pilihan opinion leaders hasil Survei LSI adalah Mahfud MD, Jusuf Kalla, Dahlan Iskan, Sri Mulyani Indrawati dan Hida­yat Nurwahid.

 

 

“Selama ini, bisa saya kata­kan par­tai politik telah mela­ku­kan ke­jahatan publik dengan me­ngu­sung capres 4L (lo lagi lo lagi). Hak publik mendapatkan pe­­mimpin nasional dari tokoh-to­­koh bangsa di luar partai, di­tu­tup aksesnya oleh partai po­litik,” te­gas Wimar Witoelar, to­koh na­sional yang juga mantan Juru Bi­cara Presiden Abdurrah­man Wa­hid, dalam diskusi pu­blik ber­ta­juk Capres 2014: Upa­ya Pe­ning­katan Kualitas Pilihan Pe­milih.

 

Pembicara lain dalam dis­kusi publik yang digelar LSI kerja sama Majalah Indonesia 2014 dan FISIP Unand di Au­di­to­rium Kampus Unand, Lima­u­ma­nih, kemarin, adalah Prof Greg Barton, Indonesianis yang juga pakar politik Islam Indonesia dari Monash University, Australia. Lalu mantan Ketua Kom­nas HAM Pusat Ifdal Kasim, Koordinator LSI Wilayah Jambi, Riau dan Kepri Edi Indrizal dan pa­kar politik Unand Asrinaldi A, de­ngan moderatror Wakil Pe­mim­pin Redaksi Padang Eks­pres Nashrian Bahzein.

 

Prof Greg Barton mengaku ter­kejut dengan hasil survei LSI de­ngan narasumbernya dari ka­la­ngan menengah terdidik se­bagai responden. Aburizal Ba­kri (ARB) yang selama ini dianggap se­ring muncul dan digadang-ga­dang menjadi calon presiden oleh Partai Golkar, justru posisi­nya jauh di bawah hasil survei. Pilihan kelas menengah Indonesia justru jatuh pada nama-nama yang tidak dibesar-besar­kan selama ini. “Lima besar ca­pres 2014 pilihan elite tadi, me­reka bukan orang-orang yang ter­sangkut Soeharto atau Orde Baru,” katanya.

 

Pria yang tengah melakukan ri­set di Indonesia itu, mengin­gat­kan agar hasil survei opinion lea­dersmenjadi pertimbangan par­tai politik dalam mengusung ca­pres RI 2014 mendatang. “Jika PDI-P, Demokrat dan Golkar ti­dak berpikir secara arif, maka akan hilang kansnya. Tergan­tung dari parpol, bila memilih al­ternatif calon dari LSI ini, akan lebih baik,” katanya.

 

Dia juga menyatakan setuju jika ada calon-calon muda yang tam­pil untuk menjadi pemimpin Indonesia ke depan. “Saya setuju kalau ada yang muda,” ujarnya dalam logat Indonesia.

 

Wimar Witoelar  berpen­da­pat, hasil survei opinion leaders LSI yang ternyata berbeda de­ngan pilihan parpol tersebut, mem­berikan pilihan berkualitas ke­pada pemilih untuk memilih ca­lon pemimpin nasional. Ber­jarak­nya aspirasi parpol dengan rak­yat, membuktikan krisis ke­percayaan rakyat terhadap par­pol sudah berada di titik nadir. “Con­toh saja Jokowi-Ahok, me­nang bukan karena Gerindra dan PDI-P, tapi karena dia sen­diri. Itulah suara rakyat yang mun­cul, rakyat sudah cerdas,” ujar­nya.

 

Membaca hasil survei opinion leaders LSI, Asrinaldi meni­lai jangan dianggap remeh oleh parpol. Bila parpol tetap ngotot me­ngusung pimpinan partainya se­­bagai capres, kata Asrinaldi, siap-siap saja “dihukum” rakyat pa­da Pilpres 2014 nanti. “10 be­sar capres 2014 pilihan pakar dan pimpinan media ini, harus kita paksa agar diusung parpol de­mi perubahan Indonesia. Me­lihat 10 besar capres pilihan leaders¸ membawa harapan In­d­onesia yang lebih baik,” kata As­r­inaldi yang juga salah se­orang responden dalam survei tersebut bersama Prof Saldi Isra dari Sumbar.  

 

Ifdal Kasim menyatakan banyak calon alternatif yang bisa menjadi pilihan di luar calon yang disiapkan parpol. “Mereka yang berada pada posisi tertinggi punya rekam jejak yang baik, tidak pernah melakukan keja­hatan politik, korupsi dan penya­lahgunaan kewenangan. Sebut saja Mahfud, JK, Dahlan, Sri Mulyani dan Hidayat Nur­w­a­hid,” terangnya.

 

Dia pribadi menilai hasil sur­vei itu memberikan harapan dan pilihan berkualitas pada rakyat. “Saya sendiri sebenarnya meng­harapkan tokoh muda yang tampil. Kita butuh ‘darah muda’. Tapi, tokoh muda kita saat ini malah bermasalah dengan hu­kum,” jelasnya.

 

“Soal calon muda saya setu­ju. Tinggal, orang mudanya mau tampil atau tidak. Tapi jangan jadi Nazaruddin yang tersangkut kasus korupsi. Kita (rakyat, red) pasti akan dukung yang muda. Jangan ajukan calon muda yang me­lakukan pelanggaran HAM dan pelanggaran hukum,” tim­pal Wimar menjawab perta­nyaan peserta diskusi.

 

Edi Indrizal memaparkan, survei opinion leaders mem­buktikan Indonesia punya ba­nyak tokoh nasional yang layak di­perhitungkan menjadi pe­mimpin bangsa ini. “Tapi sa­yang­nya, selama ini mereka kurang populer. Inilah gunanya survei ini. Harus ada diskusi publik, dialog dan seminar lanju­tan agar publik mengenal lagi capres alternatifnya,” ujar Edi Indrizal yang juga dosen FISIP Unand ini.

 

“Untuk menawarkan kua­litas pemilihan yang lebih baik, di­butuhkan pilihan yang lebih ber­­kualitas. Apabila pemilih se­ma­kin banyak melakukan pi­lihan secara berkualitas, maka kita optimis bisa mendapatkan pre­siden yagn lebih berkualitas. Ca­ranya, seluruh pihak harus men­dorong pendidikan politik bagi masyarakat, dan mem­be­rikan hak masyarakat untuk tidak saja sekadar tahu tokoh­nya, tapi juga sekaligus kualitas atau rekam jejak tokohnya,” kata Edi.

 

Dia menyatakan kege­lisa­han­nya dengan ancaman ting­gi­nya golput sejak reformasi ka­rena capres yang diajukan par­pol tidak berkualitas. “Yang menjadi pertanyaan kita, mau ti­dak parpol membuka diri me­ngu­sung calon-calon di luar par­pol­nya. Semua kita punya peran me­nyampaikan dan men­cerdas­kan masyarakat bah­wa masih ba­nyak calon pe­mimpin di nega­ra ini,” sambung Asrinaldi.

 

Demi masa depan Indonesia, Wimar Witolear mengajak masyarakat memilih calon presi­den yang bersih. “Jujur, tegas dan mampu. Tidak terlibat pe­lang­­garan HAM berat, tidak ter­li­bat korupsi, penggelapan pa­jak. Intinya, cari presiden yang ti­dak ber­masalah. Tidak mung­kin me­reka (parpol) ingin mem­perbaiki citra, tanpa memberikan akses pada orang-orang yang disebut tadi (survei LSI, red),” terangnya.

 

“Saya tolak Aburizal Bakri dan Prabowo sebagai capres 2014, bukan karena usianya tapi karena korupsi dan pelanggaran HAM. Walaupun dia umurnya 17 tahun, kalau dia korupsi dia saya tolak,” tambahnya.

 

Menurutnya, peran media sosial perlu ditingkatkan. “Sa­ngat perlu, media sosial, twitter, facebook dan pertemuan seperti ini. Betul, agar media juga tidak bisa macam-macam. Timur Te­ngah jatuh karena media sosial,” im­buhnya. Dia juga mengkritisi pe­ran media massa dalam mem­ba­ngun opini publik yang d­ini­lai­nya kurang men­cer­daskan mas­yarakat. (bis)

Print article only

0 Comments:

« Home