Articles

Wawancara lama Wimar di majalah Indonesia 2014

Indonesia 2014
18 February 2013

 

Wimar Witoelar

"Yang Punya Kualifikasi Belum Tentu Menang"

 

11 Februari 2013

 

INDONESIA2014 - Setiap warga negara berhak menjadi calon presiden (capres), baik mencalonkan diri atau dicalonkan. Di tengah makin banyaknya bermunculan para capres, Wimar Witoelar, mantan juru bicara kepresidenan Era Gus Dur, mengingatkan agar masyarakat berdaya untuk memilih pemimpinnya.

Dengan memilih secara rasional, rakyat ikut menentukan nasib negara ini ke arah yang lebih baik. Untuk itu perlu ada kesadaran bahwa mereka punya suara yang sangat menentukan bagi perkembangan bangsa ini.

Kendati Wimar adalah salah satu inisiator yang mengusung Sri Mulyani sebagai capres, baginya, siapapun yang menjadi presiden tak jadi soal. Yang terpenting adalah presiden mendatang orang yang baik, jujur, dan tidak korupsi. Berikut wawancara lengkapnya (18/12):

Apa tanggapan Anda terhadap survei LSI ‘Menuju Pilpres 2014 yang Lebih Berkualitas’?

Saya heran saja bahwa nama-nama yang muncul hampir semua kategori kuat. Itu bukan nama-nama yang sehari-hari dianggap kuat oleh media mainstream. Yang jarang terlihat di poster-poster di jalan-jalan.  

Survei ini memang, yang saya dengar, sengaja mengambil responden yang tahu, yang well-informed, yang terpelajar. Maka tidak heran para capres yang muncul di survei itu adalah orang-orang yang punya kualifikasi. Tapi yang saya tahu di dalam demokrasi tidak selalu orang yang punya kualifikasi yang menang. Itulah kenapa George Bush bisa jadi Presiden Amerika.  

Nah, biasanya kan dalam Pemilu teorinya rakyat memilih dari hati. Di Indonesia ini susah, karena sudah didahului media yang kompromis terhadap calon-calon yang melakukan praktik politik yang gelap. Praktik politik dan bisnis.

Saya bersyukur ada kelompok orang yang bisa didengar yang memberikan penilaian terhadap capres atas dasar kualifikasi rasional. Siapa yang akan terpilih nanti kita tidak tahu. Paling tidak ada suara yang mengimbangi histeria masyarakat yang terpana dengan orang yang dielu-elukan oleh media yang dibayar.

Menurut Anda, bagaimana kans Sri Mulyani? Anda kan dikenal salah satu inisiator yang mengusung Sri Mulyadi sebagai capres...

Kalau kans untuk jadi presiden itu tentunya masih akan melalui berbagai tahap. Bagi kami, Sri Mulyani akan dipilih atas dasar kekuatannya, yaitu kejujurannya, integritas, ketegasan, dan kemampuannya. Bukan atas dasar kekuatan kampanye. Sri Mulyani akan dipilih oleh orang yang mengetahui siapa yang baik dan siapa yang kurang baik. Survei LSI ini membantu sebagai panduan. Kalau ada orang yang tidak tahu siapa capres yang qualified dia bisa lihat ke situ.

Kami, selain partai, juga memobilisasi melalui sosial media. Juga network masyarakat sipil dan masyarakat akademik. Kalau orang bisa melihat sedikit saja kebohongan di balik propaganda kemarin, soal Century dan sebagainya, saya sih yakin dalam hatinya warga akan lebih preferSri Mulyani daripada orang-orang yang dikenal kotor. Menurut saya sih semuanya itu akan berubah pandangannya terhadap Sri Mulyani.

Apakah masyarakat prefer Sri Mulyani, Mahfud MD atau Dahlan Iskan dan lainnya, bagi saya, tidak jadi soal. Yang penting capres itu orang baik. Saya pribadi menginginkan dalam Pemilu ada kesempatan warga biasa yang tidak berpolitik bersuara dan mengatakan: ‘Saya capeklah dengan politik partai itu, saya menginginkan orang yang baik.’ Nanti silakan orang baik mana yang menang. Secara pribadi saya kira Sri Mulyani akan menang.

Sri Mulyani sendiri memang sudah menyatakan siap dan mau dicalonkan?

Tidak secara terbuka. Karena dia di Bank Dunia kan masih menjabat. Yang belum siap itu Partai SRI. Sri Mulyani sih sudah siap. Jadi tidak usah ditanya lagi. Menjadi capres kan bisa membahayakan keluarga. Merusak kehidupan keluarga. Dia kan punya suami, punya anak. Kami tidak mau menyeret dia ke dalam kancah politik kecuali kalau partainya sudah siap.

Kalau sudah siap dari segi partai, pendukung, mungkin survei kami juga, kami akan bilang “Ani, rakyat itu memerlukan presiden. Bukan presiden seperti Ani, tapi memerlukan Ani.”

Kalau dia tidak berniat, buat apa kami capek-capek. Kalau tidak berniat mengapa dia tidak hentikan saya. Dia berterima kasih kepada kami bukan karena kami ingin menjadikan dia presiden, tapi bahwa kami merehabilitasi namanya. Menunjukkan bahwa dia orang baik. Tidak ada orang lebih baik dari dia dalam kancah publik, yang tidak punya ambisi politik.  

Selain kasus Century, beberapa kalangan mengatakan bahwa kalau Sri Mulyani jadi presiden sistem ekonomi Indonesia menjadi neoliberal. Apalagi sekarang di Bank Dunia. Komentar Anda?

Apa sih yang disebut sistem neolib itu? Kalau dia di Bank Dunia, kenapa? Apa itu rumah prostitusi? Bukan kan. Itu adalah bank yang mengatasi masalah kemiskinan di dunia. Anggotanya ada 200 negara dan direksinya juga diambil dari berbagai negara. Dan menjadi direksi di situ merupakan suatu kehormatan. Kalau tidak salah dari Asia baru Sri Mulyani saja. Presiden Obama yang juga pemegang saham World Bank menganggap dia sangat qualified.Kalau dia, karena orang Amerika, sepertinya sudah jadi presiden direktur.

Jadi, label neolib itu adalah propaganda kosong. Sri Mulyani tidak curang. Bayar anaknya sekolah ke Amerika saja tidak kuat waktu itu. Sekarang dia tinggal di Washington, jadi bisa sekalian sekolahkan anaknya di sana.

Kalau dibilang neolib itu tidak memerhatikan orang miskin, Sri Mulyani mengadakan kredit-kredit pedesaan. Yang tidak memerhatikan orang miskin itu mereka yang menggenangi lumpur di Sidoarjo atau yang membunuh mahasiswa di tahun 1998.  

Menurut Anda apa yang dibutuhkan Indonesia ke depan?

Dibutuhkan kepercayaan dan keyakinan rakyat bahwa mereka ikut menentukan nasib negara ini. Yang pertama rakyatnya dulu. Rakyat harus merasa berdaya untuk memilih pemimpinnya. Yang model bagaimananya itu terserah masing-masing saja.  

Kira-kira kriteria pemimpin macam apa yang dibutuhkan Indonesia mendatang?

Kriterianya jujur, tidak bohong, tidak korupsi. Itu pasti. Harus. Lebih dari itu biar tiap orang tentukan pilihannya sendiri. Saya punya pilihan. Orang lain punya pilihan. Yang penting adalah ada kesadaran rakyat bahwa dia punya suara.

 

Print article only

0 Comments:

« Home