Articles

[Wimar Show] PSSI menghadapi Match Fixing


25 February 2013

oleh: May Sarah

 

 

Sepakbola merupakan olahraga yang populer diseluruh dunia. Seluk beluk dunia sepakbola begitu menarik untuk diperbincangkan. Inilah yang menjadi daya tarik Wimar Show untuk mengangkat tema olahraga dalam episode tapingnya kali ini (25/2). Narasumbernya adalah pakar komunikasi Halim Mahfudz, Sekretaris Jendral PSSI ini yang sedang sibuk mengatasi krisis yang terjadi pada PSSI.

Halim, yang juga pendiri Halma Strategic, yaitu sebuah perusahaan konsultan Public Relations yang fokus pada crisis management dan reputation management mengaku bahwa terdapat perbedaan ketika dirinya mengatasi masalah dalam berbagai kasus di perusahaan dengan mengatasi kontroversi dalam PSSI. Mengatasi kasus dalam diri PSSI bukanlah hal yang mudah walaupun Halim telah berkiprah didunia komunikasi dan Public Relations, karena banyak sekali kekuatan politik yang mengintervensi PSSI.

Salah satu yang menjadi perhatian Halim adalah permainan Match Fixing yang saat ini banyak melanda permainan sepakbola Indonesia. Match Fixing yang juga melanda sepakbola Eropa, Korea, dan Afrika, kini bahkan menjadi hal yang biasa dalam pertandingan sepakbola di Indonesia. Masalah match fixing dan perjudian adalah sumber dari masalah PSSI yang sering disebut sebagai masalah politik padahal sesungguhnya adalah profit motive dalam bentuk ekstrim yaitu greed.

 “Sebagai Sekjen PSSI, saya bertanggungjawab untuk membenahi organisasi PSSI, dimulai dari pembenahan komunikasi, penghapusan match fixing hingga menetapkan regulasi yang lebih ketat karena sepakbola adalah cabang olahraga yang memerlukan hal tersebut”, jelas Halim yang mengambil studi Asia Tenggara di Cornell University, Ithaca, New York.

Halim menjelaskan bahwa match fixing yang terjadi di pertandingan sepakbola Indonesia melibatkan oknum asing yang ingin menarik untung dari olahraga sepakbola, dilakukan melalui sindikat Internasional. Sindikat ini terstruktur dengan baik tapi kini dihadapi  FIFA yang telah mengambil inisiatif yang baik untuk menghapus match fixing. Hanya saja, PSSI kurang berkomunikasi dengan FIA. PSSI telah membentuk lembaga Integrity Unit yang bertugas  mengendalikan match fixing dan perjudian yang volume uangnya mencapai triliunan rupiah menurut estimasi analis.

Sekjen PSSI ini menyatakan bahwa selain PSSI yang memperhatikan kontroversi ini,  Menpora RI juga turut mengambil andil untuk mengatasi krisis. Menpora telah membuat komitmen untuk memperbaiki sepakbola di Indonesia. Sebagai langkah berikut PSSI akan melaksanakan Kongres Luar Biasa pada tanggal 17 Maret mendatang untuk membahas revisi statuta, unifikasi liga dan pengembalian anggota ExCo yang telah diberhentikan. Keseriusan Menpora juga terlihat pada keinginan menyusun Tim Nasional dari pemain dua liga Indonesia yaitu Liga Primer Indonesia (LPI) dan Indonesia Super Liga (ISL) untuk bertanding di Arab Saudi. Pada tahun ini kedua liga tersebut masih berjalan paralel dan pada tahun 2014, kedua liga tersebut akan digabungkan menjadi satu. 

Print article only

0 Comments:

« Home