Articles

Agus Martowardoyo korban politik serakah


27 February 2013

dari the Jakarta Post

terjemahan bebas

 

 

Pada saat dimana diperlukan  kebijaksanaan berwawasan jauh menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia, keputusan Presiden untuk mencalonkan Agus Martowardoyo menjadi Gubernur BI mungkin akan mengekspos indonesia pada resiko ekonomi dan menghambat reformasi Kementrian Keuangan.

Baru-baru ini SBY mencalonkan Agus yang dikenal integritas dan keteguhannya, untuk memimpin Bank Indonesia dan tidak memberikan masa kerja kedua pada Darmin Nasution yang jabatannya selesai di bulan Mei 2013. Kebijaksanaan ini berarti bahwa kecepatan reformasi mungkin diperlambat di Kementrian Keuangan, dan bahwa Bank Indonesia akan kehilangan Darmin yang diakui secara internasional sebagai salah satu dari gubernur Bank Sentral terbaik didunia.

Kalangan ekonom menganggap koordinasi yang kuat dalam masalah moneter dan fiskal antara Agus dan Darmin telah membantu perekonomian indonesia mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tegar di tengah kelambatan ekonomi dunia.  Tony Prasetiantono, seorang ekonom dari Universitas Gajah Mada, mengatakan dengan sekian banyak tantangan ekonomi dimasa depan Presiden seharusnya jangan mengubah komposisi tim ekonomi yang sekarang. Seorang anggota kabinet yang tidak ingin disebut namanya, mengatakan pada hari Minggu bahwa Agus menjadi korban tekanan-tekanan yang ditimbulkan oleh politisi dan pimpinan bisinis berpengaruh, yang terganggu oleh kebersihan Agus Martawardoyo. Anggota kabinet itu mengatakan memang susah bagi Presiden untuk mempertahankan Agus, tekanan melawan dia sudah terlalu besar dari berbagai pihak. Sejak Agus ditunjuk Menteri Keuangan pada bulan mei 2010 , ia sudah membangun reputasi yang kuat untuk kominten pada reformasi dan sikapnya yang tegas melawan politisi dan bisnis terkait politik yang memanfaatkan Anggaran Negara dan kebijaksaan fiskal.

Pujian yg diberikan pada Agus mirip dengan pujian yang diberikan kepada pendahulunya Sri Mulyani Idrawati, icon reformasi yang diberhentikan sebagai menteri keuangan setelah lima tahun memegang jabatan itu. Setelah Sri Mulyani berselisih dengan keluarga Bakrie yang dipimpin Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum dan calon presiden dari partai Golkar, Yudhoyono terpaksa mendukung penunjukannya sebagai Managing Director Bank Dunia yang mengakibatkan dia harus mundur dari pemerintah. Agus juga punya sejarah bentrok dengan politisi Golkar dan keluarga Bakrie perihal pembelian 7% saham pemerintah pada perusahaan tambang emas PT Newmont Nusa Tenggara yang juga diminati keluarga bakrie. Agus mantan direktur utama Bank Mandiri yang dimiliki negara juga membuat resah pengusaha waktu dia menentang pembangunan jembatan selat sunda mega proyek dengan biaya 10milyar dolar, dia menolaknya karena tidak mematuhi peraturan kerjasama swasta dan pemerintah, proyek itu dikelola oleh pengusaha besar Tommy Winata melalui Arta Graha Group. Kontroversi seputar proyek ini juga telah menimbulkan perselisihan antara agus dengan menko perekonomian Harta Rajasa yg adalah juga ketua partai amanat nasioal.

Hatta yang anak perempuannya nikah dengan anak laki-laki Yudhoyono bersama beberapa menteri sudah lama mendukung proyek jembatan selat sunda ini yang orang katakan akan menjadi warisan Yudhoyono. Agus juga akhir-akhir ini membuat jengkel beberapa tokoh senior Partai Demokrat yang menyalahkan Agus karna tidak melindungi Andi Malarangeng dari tuduhan korupsi yang membuatnya harus mundur sebagai Menpora. Andi yang disebut sebagai tersangka korupsi dalam skandal Hambalang adalah seorang politikus top partai Demokrat dan anggota lingkaran dalam Yudhoyono. Seorang anggota DPR pada komisi 11 yang tidak ingin disebut namanya mengatakan, Agus disalahkan karna tidak mengingatkan Andi untuk menggunakan anggaran negara secara prudent, dan Agus dianggap memberikan keterangan yang tidak mendukung Andi ketika diminta oleh KPK.

Agus juga mengalami oposisi internal dengan keputusannya untuk melanjutkan reformasi yang dimulai oleh Sri Mulyani di Kementrian Keuangan. Seperti kebiasaan budaya korupsi di kantor pajak dan kantor bea cukai. Kordinator ICW Danang Widoyoko mengkritik keputusan untuk menunjuk Agus ke Bank Central mengatakan bahwa pencalonan itu menunjukan bahwa Yudhoyono tidak merasa nyaman bekerja dengan Menteri dengan integritas tinggi, seakan-akan ada persekutuan antara Yudhoyono dan pemilik modal terutama dalam hal persiapan menuju pemilu 2014 kata Danang makin lama Menterinya makin baik untuk kepentingan terselubung. Posisi Menteri Keungan yang mengawasi lebih dari 60.000 pegawai dianggap lebih bergengsi daripada posisi Gubernur BI yang mengawasi hanya 5.600 pegawai.

Bank Central yang independen terhadap kabinet juga kelihatannya akan dicabut giginya dan akan menyerahkan fungsi pengawasan sistem perbankan nasional yang dikenal sebagai sumber dana kotor bagi pejabat BI kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selama beberapa tahun mendatang ini. Beberapa pejabat disebut sebagai calon pengganti Agus termasuk Darmin Nasution dan Dirjen Pajak Fuad Rahmani. Ini bukan pertama kali Presiden mencalonkan Agus untuk memimpin BI. DPR mencabut pencalonannya di tahun 2008, jika DPR menolak Agus sebagai kepala Bank Central, kelihatannya akan terjadi krisis politik di kabinet, karena jika itu terjadi menteri keuangan akan kehilangan kredibilitas antara politisi yang dikhawatirkan akan memaksa Agus mengundurkan diri.

 

Print article only

0 Comments:

« Home