Articles

[Wimar Show] Faisal Basri menjelaskan masa depan


16 March 2013

oleh: May Sarah dan Wimar Witoelar

Faisal Batubara atau yang lebih akrab disapa dengan Faisal Basri kini tengah disibukkan dengan banyak kegiatan yang masih berhubungan dengan aktivitas mengajar di beberapa kampus di Indonesia. Ia menjelajah hampir seluruh wilayah Indonesia termasuk Pontianak, Makassar dll.  Kali ini, Faisal Basri yang juga calon Gubernur Jakarta 2012 membagikan pengalamannya dan perspektif barunya mengenai politik di Wimar Show.

 

 

Sekarang ini, Faisal hanya ingin bermanfaat bagi banyak orang. Ketika dirinya dinyatakan gagal menjadi Gubernur Jakarta, aktivitasnya kontan difokuskan untuk memberikan edukasi kepada kaum muda dengan jiwa yang semangat. Menurutnya, kaum muda harus dilibatkan dalam segala aspek kehidupan di Negara ini karena kaum memiliki pandangan yang progresif, mandiri dan inovatif. Apabila kaum muda dilibatkan juga kedalam politik, korupsi akan makin menurun secara magnitude.

“Kesadaran berpolitik yang baik bagi saya tidak harus berada didalam lingkup partai politik, kita bisa melakukan hal terbaik diluar partai politik. Harus diselenggarakan agenda – agenda yang menurut kita baik untuk kemajuan bangsa”, ujar Faisal Basri yang juga lahir dari calon independen pada saat dirinya mencalonkan menjadi Gubernur Jakarta. 

Apabila dilihat dari pandangan Faisal Basri mengenai politik di Indonesia, Indonesia memiliki tipe politik yang cenderung sprinter, pelari jarak pendek. Menurutnya calon politisi di Negara ini juga harus mentargetkan politik untuk tahun 2019 juga. Jadi, perhatian para calon politisi tidak hanya untuk kurun waktu 2014 saja, harus long term. Berdasarkan keyakinan Faisal, pemilu di Indonesia harus menerapkan sistem eliminasi.

Ditekankan, masyarakat harus diberikan pengetahuan mengenai track record para calon pemimpinnya sebelum mereka memutuskan untuk memilih pemimpinnya pada pemilu. Sebagai contoh adalah Prabowo dan Aburizal Bakrie. Rakyat harus mengerti dengan jelas mengenai sejarah calon pemimpin mereka supaya rakyat juga dapat memilih dengan bijak. Media dalam hal ini perperan penting untuk mengekspos calon politisi tersebut.

Banyak yang tidak mengetahui kelakuan calon Presiden 2014 pada tahun transisi 1997-1998, bagaimana ada tokoh yang melakukan penculikan dan kekerasan yang tidak selayaknya dilakukan pejabat Negara. Tokoh demikian belum mempertanggung jawabkan pelanggaran HAM di forum nasional ataupun internasional. Calon lain lagi melakukan korupsi dan manipulasi pada skala besar sehingga memelaratkan banyak orang dan Negara. Pelanggaran mereka dapat tersembunyi dari masyarakat karena mereka menguasai media nasional dengan uang hasil korupsi itu.

“Masyarakat harus dapat menghindari afiliasi media seperti media cetak maupun siaran televisi, jangan sampai masyarakat terdoktrin mengenai kepentingan oligarki yang dapat membuat rugi rakyat ini”, ujar Faisal Basri menutup perbincangannya dengan Wimar Witoelar di Wimar Show. 

Print article only

0 Comments:

« Home