Articles

Kunci strategis Pemilu 2014


17 June 2013

ISU STRATEGIS DAN PEMILU 2014

oleh: Melda Wita dan Nurul Aini

 

Perjalanan Wimar ke Washington DC seperti pulang kampung setelah 11 tahun tidak pernah kembai. Tidak ada yang berubah di Washington selama 11 tahun ini, sedangkan di Indonesia banyak sekali yang telah berubah. Dihadapan diaspora Indonesia di Washington DC,  Wimar berbagi perspektif mengenai perkembangan Indonesia selama 10 tahun ini, bagaimana Indonesia menjalankan perjalanan demokrasi serta pandangan ke arah Pemilu 2014.

Pemilihan presiden punya karakter yang berbeda-beda. Pada Pemilu pertama setelah Orde Baru di tahun 1999 masyarakat Indonesia masih kaget setelah Soeharto jatuh, sehingga kehilangan arah. Setahun kemudian tampil harapan bahwa kekuatan baru akan menang. Kenyataannya tidak demikian. Pemilihan Umum di Indonesia tidak dapat ditebak. Saat ini di Indonesia terjadi keresahan dalam menghadapi pemilu disebabkan berita yang ada di media formal. Berita formal menyenangkan bagi owner media tersebut karena memberitakan hal-hal positif bagi mereka. Namun bagi rakyat, propaganda palsu bertentangan dengan fakta, sehingga orang bingung akan memilih siapa sebagai presiden.

Kita mulai terlalu sering mendengar bahwa zaman Soeharto lebih baik dari zaman sekarang, kalau iya jangan – jangan orang terkena Stockholm Syndrome dan enggan meninggalkan Soeharto. Saat ini masyarakat Indonesia adalah masyarakat bebas. Kita memiliki kekuatan dan hak langsung dalam memilih Presiden. Presiden Indonesia dipilih secara ‘one man one vote’ dalam pemilihan langsung terbesar dalam sejarah dunia untuk Kepala Negara. 

Dengan dasar tersebut kita butuh memilih individu yang kuat, memiliki kharisma, mengundang trust dan mampu membawa isu strategis. Saat ini isu strategis telah membuat Indonesia menjadi perhatian internasional, yaitu Climate Change, Hutan Indonesia, dan REDD+. Walaupun di dalam negeri Presiden SBY kurang dihargai, dunia memandang SBY sebagai tokoh visioner dengan menjadi kepala negara yang secara tegas mengangkat REDD+

Di balik kejemuan politik di Indonesia, justru Indonesia menarik harapan dunia ketika SBY pada bulan November 2009 memberikan komitmen untuk menjalankan REDD dan melawan Climate Change

Saat seluruh dunia tidak sadar perubahan iklim, Indonesia justru tidak terlalu kaget karena telah biasa merasakan masalah ini melalui banjir tahunan yang terjadi karena faktor ekologis, atau banjir kiriman dari gunung ke kota. Indonesia adalah salah satu negara pertama yang akan terkena dampak global warming karena Indonesia adalah negara pesisir<

Dalam menghadapi pemilu 2014 masalahnya bukan lagi hanya tentang dukungan Golkar pada Aburizal Bakrie, Gerindra pada Prabowo dan sebagainya, tapi siapa yang lebih tanggap dalam menghadapi issue yang strategis dan memberikan arti pada Indonesia.

LSI bahkan mengeluarkan data dalam 5 besar calon individu terkuat sbg calon presiden, keluar nama Mahfud MD, Sri Mulyani, Mahfud MD. Orang2 yang dihargai sebagai individu bukanlah orang yang dihargai oleh partai

Kini calon presiden bisa berasal dari banyak pihak, sehingga rakyat tidak perlu merasa pilihannya terbatas. Opini publik melalui media harusnya membuat orang sadar bahwa kita bebas dlm memilih

Sebagian besar masyarakat Indonesia di Washington DC baru mengetahui bahwa 16 Mei lalu diumumkan Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) No 35 Tahun 2012 yang mengembalikan hutan adat ke masyarakat adat. Momentum ini dirayakan oleh ratusan Suku Adat di Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Selama ini, sumber konflik yang paling utama di Indonesia adalah pertikaian tanah. Masalah SARA dan politik tidak sebanyak itu mengemuka.

Saat ini pemilih dan calon presiden harus melihat ada lebih dari 40% calon pemilih yang tidak memilih dalam Pemilu tahun 2009. Mereka adalah orang yang tidak tahu Pemilu atau skeptis dan menjadi “golput” karena merasa tidak punya pilihan. Tahun ini orang semakin kecewa dan resah terhadap sistem politik, tapi justru makin penting lagi kita memilih karena yang bisa membuat hasil Pemilu lebih baik hanyalah pemilih itu sendiri. Dan Pemilu 2014 akan menjadi penting kalau kita bisa memilih wakil dan pimpinan rakyat yang mengerti isu strategis.

 Pemilu 2014 membuat Indonesia resah karena calon-calon yang sudah diumumkan tidak dilihat memberi harapa. Kita dibuat makin resah lagi oleh media mainstream yang saat ini dikuasai oleh kepentingan politik masing - masing pemilik media. Peran social media saat ini jadi penting. Social media  seperti pisau. Pisau bisa berguna jika digunakan untuk memotong sayuran dan membuat makanan, namun di sisi lain berbahaya jika digunakan untuk membunuh.

Melalui social media, masyarakat juga bisa langsung mengakses informasi mengenai track record para calon pemimpin yang terekam dengan jelas. Wimar yakin bahwa tidak ada masyarakat yang akan memilih presiden yang buruk. misalnya belum mempertanggungjawabkan kejahatan HAM 1998 atau bahkan calon pemimpin yang dosanya jelas dalam bentuk korupsi dan pengabaian tanggung jawab dalam luapan Lumpur Lapindo.

 Perspektif Wimar untuk Pemilu 2014 mengharapkan masyarakat tidak lagi melihat label Partai namun melihat individu yang kuat, selain kuat karakter juga kuat visi. Pemimpin yang peduli terhadap isu strategis generasi sekarang dan mendatang yaitu Climate Change dan Hutan Indonesia. Beda Pemilu 2014 dgn tahun-tahun lalu adalah bahwa yang terpenting adalah kesadaran akan issue international

 

Print article only

0 Comments:

« Home