Articles

Issue Strategis Pemilu 2014, bersama mahasiswa American University


07 July 2013

oleh: Aristya Rizky Badzlina (ARB) dan Wimar Witoelar (WW)


Pada tanggal 17 Juni 2013, USINDO (US-Indonesian Society) mengundang Wimar Witoelar memberikan perspektif mengenai issues politik Indonesia dalam Pemilu 2014. Pertemuan dihadiri masyarakat Washington DC yang punya minat terhadap Indonesia. Salah satunya adalah Profesor Pekkoon Heng, yang menjadi pengajar di American University sejak 2001. 

Tiga minggu kemudian Prof Pekkoon Heng membawa 10 mahasiswa S1 dan S2 yang mengambil kuliah Studi Asia Tenggara untuk kunjungan belajar ke Kuala Lumpur dan Jakarta. Dia menghubungi InterMatrix dan meminta Wimar Witoelar menyajikan bahan yang sama untuk para mahasiswanya. Atas kebaikan pemilik gedung, acara diadakan di suatu ruangan di Energy Building. Inilah isi pembahasan:

“Demokrasi adalah sebuah proses, dan proses adalah sesuatu yang dapat menghasilkan hal baik maupun hak buruk.” Indonesia adalah negara demokrasi dan sudah 4 kali berganti presiden sejak 1999 dalam alam demokrasi, setelah ebelumnya berpuluh-puluh tahun diipimpin dua presiden tanpa pemilihan umum, Sukarno dan Suharto.

Tahun 1998, Indonesia terkena akibat krisis moneter yang sangat hebat bersama dengan negara Asia lain. Kebetulan pemerintah Suharto sudah kehilangan kepercayaan publik sehingga Suharto harus turun digantikan sementara oleh BJ Habibie.

Pada Pemilu pertama 1999, Habibie mengundurkan diri dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menang suara di MPR sebesar 373 melawan 313 suara untuk Megawati. Akan tetapi koalisi Poros Tengah yang mendukung Gus Dur tidak dapat memaksa Gus Dur untuk meninggalkan niat independen Gus Dur dalam pluralisme, pembasmian korupsi, dan demiliterisasi. Civil society diberi jalan untuk mengungkap pelanggaran HAM Mei 1998, sedangkan tokoh2 Orde Baru sudah kembali mengisi kekuatan reformasi. Akhirnya Presiden Abdurrahman Wahid dijatuhkan oleh voting di MPR dan Wakil Presiden Megawati menghabiskan sisa periode Presiden 2001-2004.

Setiap pemilihan Presiden membawakan tema tertentu:

1999: Perubahan rezim (tidak berhasil)

2004: Konsolidasi Politik (berhasil meredam reformasi)

2009: Melanjutkan periode stabilisasi

2014: Menyelamatkan Natural Assets?

Calon-calon yang sudah resmi diumumkan tidak mengundang harapan perbaikan negara. Gerindra mencalonkan Prabowo Subianto Djojohadikusumo, mantan Komandan Jendral Kopassus yang menjadi pusat kontroversi dan dugaan pelanggaran HAM terutama seputar perstiwa penculikan, pembunuhan dan perkosaan Mei 1998.

Golkar mencalonkan Aburizal Bakrie, pengusaha besar yang membesarkan assetnya dengan kolaborasi pemerintah , termasuk mengalihkan beban biaya dan beban moral genangan Lumpur Lapindo kepada pemerintah semasa dia menjadi anggota Kabinet.

Satu tahun sebelum Pemilu, masyarakat sebagian besar belum tahu mau memilih siapa. Diperkirakan lebih dari 40% tidak memilih pada Pemilu 2004, yang akan menjadi blok terbesar suara karena partai tidak akan ada yang bisa meraih lebih dari 25%.

Dulu orang yang skeptis pada politik memilih Golput. Tapi sekarang banyak orang yang tidak mau menyerahkan negara kepada orang2 yang jelas tidak bisa dipercaya. Pimpinan civil society dan LSM punya banyak perhatian dan upaya pada issue2 strategis yang menentukan kehidupan masa depan. Menjulang diantaranya adalah urgensi menyelamatkan hutan, lahan gambut dan aset tanah milik masyarakat adat. Issue ini paling strategist karena kelanjutan kehidupan tergantung kehidupan hut an.

Jika pilihan dalam Pemilu 2014 dapat dikaitkan dengan kepentingan strategis ini, maka kita bisa menyelamatkan aset alam Indonesia sekaligus menyelamatkan sistem politik kita.

 

Print article only

0 Comments:

« Home