Articles

IMX menemukan identitas melalui Maro dan kawan-kawan (UPDATED)


06 August 2013

Sekian tahun yang lalu Maro Alnesputra berceritera suasana IMX. Sekarang, ceritanya masih sama, orangnya bergantian

terakhir, IMX buka bersama di Street Gallery, kebetulan ketemu Yugo Isal, simpatisan besar IMX. Foto dari kamera dia menjadi update  terbaru untuk artikel Maro Alnesputra ini

 

 

 

 

oleh: Maro Alnesputra

Sudah lama orang merasakan bahwa InterMatrix Communications bukanlah perusahaan biasa. Walaupun kecil, dengan orang semuanya berjumlah dibawah 25, tapi daftar nasabahnya mengagumkan. Perusahaan raksasa termasuk klien IMX: perusahaan swasta terbesar Indonesia di bidang tenaga listrik, di bidang semen, di bidang telekomunikasi. Perusahaan dunia seperti The Body Shop dengan alm Anita Roddick menjadi kawan baik selain klien. Lembaga swasta internasional dan perwakilan pemerinth asing merupakan langganan. Event yang diselenggarakannya termasuk yang paling prestigius.

Tapi kalau mau dikatakan perusahaan besar juga tidak betul. Gaji pegawainya sedang-sedang saja, walaupun ada jaminan kesehatan, transportasi, makan dan pinjaman lunak. Mau dibilang mapan, tapi pegawainya ganti-ganti, banyak masuk banyak keluar. Semuanya tidak jelas kecuali satu, yaitu bahwa IMX merupakan gudang pengalaman. Bisa dilihat di website ini, bisa dilihat melalui foto di flickr, IMX adalah perusahaan yang sangat terbuka dan banyak menyediakan fun and laughter selain kerja serius.

Salah satu kelebihan IMX adalah keberhasilan menarik interns dari berbagai sekolah di dalam dan luar negeri. Dan semuanya berprestasi, termasuk yang terakhir mendapatkan hadiah blog terbaik untuk pendatang baru.

Sekarang kalau ditanya, apa sebetulnya identitas IMX? Maka jawab yang paling tepat adalah: IMX adalah perguruan, sekolah atau training center dimana kepalanya lebih merupakan coach daripada eksekutif klise. Pegawai masuk dan keluar seperti mahasiswa, yang tetap tinggal itu rektor, dekan, dosen dan administrasi.

Baru-baru ini rekan kita Maro Alnesputra keluar dari IMX untuk memulai karir di lembaga internasional dengan gaji beberapa kali kelipatan gaji IMX. Sedihkan pimpinan IMX?

Tidak, malah saling menyalami. Congratulations! Kita menghasilkan satu lagi alumnus sukses.

Dengarlah ceritanya dari orang bersangkutan, berikut ini.

---

Di hari Jumat pagi di salah satu ruang tunggu di Changi Airport, Singapura, saya duduk menunggu keberangkatan pesawat saya menuju ke Jakarta.

 

Masih tidak percaya rasanya, Dua minggu lalu tawaran itu datang,dan mulai pertengahan November saya harus siap memulainya. Semua terjadi begitu cepat dan tiba-tiba.

 

Sambil menunggu dan mengunyah permen, saya mengambil iPod Touch baru saya dan melihat ke bagian picture library. Ah baru sempat saya masukkan tiga buat photo ke dalamnya. Salah satu fotonya membuat saya termenung panjang.

 

Siapkah saya? Tepatkah keputusan ini?

"Is that your family?"

 

Pertanyaan itu datang dari orang yang duduk di sebelah bangku saya di ruang tunggu. Kaget juga mengetahui ada orang asing yang tiba tiba mengeluarkan pertanyaan itu. Ah…, rupanya dia sedang melihat ke arah iPod Touch saya yang menampilkan foto saya dan teman-teman kerja saya waktu acara Outing di Yogyakarta. Bukannya menjawab, saya hanya tersenyum dan kembali memandang foto tersebut. Saya bingung harus menjawab apa.

 

Saat bingung, manusia harus bepikir dan saya pun melakukannya. Pikiran saya melayang jauh, teringat ketika untuk pertama kalinya saya masuk ke sebuah tempat. Sebuah tempat yang akan mentransformasi saya secara menyeluruh. Sebuah tempat bernama InterMatrix.

 

Berbekal gelar BA di Marketing Communication dari sebuah universitas di Australia membuat saya cukup percaya diri ketika memasuki InterMatrix .

 

Hey, kenapa tidak boleh percaya diri? Saya lulus dengan nilai kategori DISTINCTION, saya fasih berbahasa inggris, saya punya beberapa prestasi di bidang marketing, dan saya dalam usia produktif. Saya siap untuk menghadapi tugas – tugas pertama saya. Menulis proposal? Siapa takut? Analisa SWOT? Siap Melaksanakan! Saya sudah tak sabar melaksanakan tugas tugas canggih. Namun InterMatrix ternyata punya rencana lain untuk tugas pertama saya.

 

 

LOGISTIC 101

 

 

"MA, tugas pertama MA adalah untuk mengurus logistik untuk proyek client kita bulan depan."

 

Itulah kata kata yang tiba-tiba muncul di pop up messenger computer saya yang dikirim oleh CL, supervisor saya.

 

BENGONG. itulah yang saya lakukan ketika membaca pesan tersebut. Logistik? Apaan tuh? Tidak ada bayangan sama sekali mengenai proses dan cara-caranya. Saya tidak pernah mengambil subject Logistic 101 ketika masih kuliah dulu, dan andai adapun rasanya tidak akan tertarik untuk mengambilnya.

 

Tidak lama, saya pun menemukan jawabannya. Ternyata dalam waktu kurang dari 1,5 bulan saya diharuskan :

 

  • Mempersiapkan 1000 paket goodybag bagi peserta,media,pembicar, dan pejabat pemerintah [note: semua barang-barangnya belum ada di InterMatrix dan harus diambil secara berkala setiap minggunya dari kantor client]
  • Merancang dan menyiapkan 4 backdrop untuk keperluan sesi TV, sesi diskusi, dan sesi seminar [note: semua bahan yang digunakan tidak boleh mengandung bahan plastik karena tidak ramah lingkungan]
  • Mendapatkan sponsor yang mau menyumbangkan secara gratis 4 set furniture untuk keperluan seminar, diskusi, dan sesi TV [note: semua perabotan tidak boleh dari kayu langka ]

    Hah? Musti.bungkus 1000 Goodybag? Minta sponsor Furniture secara gratis? Gimana cara? Namun saya bukanklah seorang yang mudah menyerah dan paling anti akan kegagalan. Saya bertekad untuk ‘menghadapi’ tugas ini. Tugas yang bagi sebagian orang mungkin bukan dikategorikan sebagai tugas canggih atau bergengsi.

    Tekad saja ternyata tidak cukup, proses pengelolaan logistik ternyata sangat rumit. Dengan SDM yang terbatas di InterMatrix serta padatnya kegiatan semua karyawannya, saya harus pandai mengatur target target sebagai berikut:

     

     

     

    1. GOODYBAG HARUS RAPI & LENGKAP

     

    Tiap 1 hari dalam 1 minggu saya pergi ke kantor client bersama mas Misman untuk mengambil belasan kardus-kardus besar dari lantai 4 ke lobby bawah. Kalau kardusnya tidak muat di mobil, kami harus kembali lagi di sore harinya. Hal yang paling menyebalkan bagi saya bukanlah soal capek mengangkat kardus-kardusnya atau bolak balik dari Fatmawati ke tempat client. Namun justru kenyataan pahit bahwa saya harus bolak balik mengangkat kardus kardus besar di hadapan begitu banyak gadis-gadis cantik yang bekerja di kantor client tersebut. Si Pengangkat Kardus dari Fatmawati, mungkin itu julukan mereka setiap kali melihat saya turun naik mengangkat kardus di kantor. Bukan nilai jual sama sekali bukan?

    Metode pembungkusan Goodybag juga tidak kalah rumitnya. Apalagi karena Goodybag untuk setiap event ternyata berbeda isinya. Sebagai orang yang terlahir skeptical (yes, I’m a Libra), setiap hari saya selalu menghitung dan memeriksa isi goodybag yang sudah selesai dibungkus. Percaya deh menghitung logistik setiap hari itu bisa membuat mata juling dan kepala pening.

     

    Saya juga harus belajar tentang tehnik melipat rapi semua goodybag ini. Dengan adanya media kit yang cukup tebal bagaimana cara supaya kitnya tidak rusak. Bagaimana cara memasukkan produk yang sedikit namun goodybag bisa kelihatan penuh dan nggak malu-maluin. Bagaimana supaya kardus yang dibutuhkan tidak banyak, namun juga tidak beresiko jebol? Dalam ilmu logistik di InterMatrix, terlalu banyak kardus adalah pemborosan uang (karena kadang harus dibeli dengan uang, namun sehabis acara langsung dibuang), dan yang pasti hanya menyulitkan SDM InterMatrix itu sendiri.

     

    Otomatis,tidur saya pun terganggu karena setiap malam yang terbayang-bayang adalah apakah tadi saya sudah benar menghitungnya? Apakah tadi ada yang belum dimasukin brosur? Kardus goodybag bakal jebol gak ya?

     

    Tidur selama satu bulan tak terasa manis sama sekali.

     

     

     

    2. BACKDROP HARUS BAGUS & MURAH

     

    Perancangan dan Pembuatan Backdrop sendiri masih merupakan hal yang baru bagi saya. Ditemani dan dibantu oleh Rizka, Graphic Designer InterMatrix, saya sibuk mengusulkan design kepada setiap project manager dari tiap event sekaligus harus menghadapi vendor langganan InterMatrix saat itu. Hal yang saya paling benci adalah menawar harga, karena saya adalah orang yang paling tidak enakan dalam proses tawar menawar. Hal ini makin dipersulit karena materi backdrop menjadi mahal karena terbuat dari kayu, bukan dari sticker yang tidak ramah lingkungan. Saya mendapat tekanan dari dua belah pihak. Pihak kantor saya bersikeras dengan harga A sementara pihak vendor langganan tetap kukuh dengan harga B.

    Meski akhirnya kantor saya setuju dengan harga yang diberikan si vendor langganan, namun saya belajar banyak dari pengalaman itu. Untuk program-program setelah itu, saya berhasil menemukan vendor baru yang kooperatif dengan harga jauh lebih murah dari yang ditawarkan si vendor langganan. Sejak saat itu akhirnya semua program InterMatrix tidak pernah lagi menggunakan vendor langganan yang dulu [note: saya dengar vendor langganan yang lama itu benci setengah mati sama saya sampai sekarang, ya siapa suruh bu kasih harga mahal banget?]

     

     

     

    3. FURNITURE HARUS DAPAT GRATIS

     

    Untuk pencarian sponsor furniture gratis (yang produknya tidak menggunakan kayu langka), saya benar benar putus asa. Setiap hari saya mencari-cari di yellowpages (‘holy bible’ saya untuk semua progam-program di InterMatrix) nomer kontak semua perusahaan furniture di seluruh Jakarta. Namun usaha approach agar perusahaan itu bersedia mensponsori secara gratis itulah yang luar biasa susah

     

    Proses approach yang biasa terjadi saat itu adalah:

     

     

    Pembicaraan Telepon:

     

     

    Perusahaan Funiture (PF): Bagian Marketing, bisa dibantu?

    Saya: Iya Mbak, nama saya Maro dari InterMatrix, saya ingin menawarkan kerja sama untuk mengsponsori event client saya gratis dengan system barter, kira kira saya boleh ke sana untuk bertemu dan memberikan proposalnya?

    PF: Hm,…gratis ya? Barter? Hmmm kayaknya tidak untuk sekarang yah, maaf saya sedang sibuk. Permisi (Telepon ditutup)

     

     

    Semua approach dilakukan, namun hasilnya masih nihil. Sampai akhirnya 1 minggu sebelum hari H, saya berhasil menemukan satu perusahaan furniture yang bersedia mengsponsori secara gratis.

     

     

     Bukan main girangnya saya. Ketika saya mengumumkannya melalui pop ups kepada semua rekan di kantor, jawaban supervisor saya Cl, benar benar bagaikan air sejuk di oase yang kering.

     

    "TERPUJILAH ENGKAU DI ANTARA SEMUA PRIA!!"

     

    Akhirnya satu keberhasilan ! Hore. Saya dipuji oleh atasan saya! Sepele bagi orang lain mungkin, tapi jelas kebanggaan luar biasa bagi saya (Buat yang nganggep sepele: WOI! Lo kira nyari furniture gratisan gampang apa? 4 set pula.).

    Meskipun akhirnya pelaksanaan Event itu akhirnya diundur dari jadwal semula ke tahun berikutnya, saya tidak pernah menyesal dengan semua yang telah saya pelajari dan lakukan di bulan-bulan pertama di InterMatrix tersebut. Karena pada saat event itu terlaksana, saya bisa dengan bangga mengatakan bahwa saya sudah cukup ahli di dalam bidang logistic. (ya minimal bisa deh menyumbang draft rancangan buat buku Logistic For Dummieshehe..) .

     

    Semua proses logistic untuk event tersebut (yang bahkan goodybangnya bertambah jadi sekitar 1300-an) dapat tereksekusi secara rapi dan lancar. Event itu bahkan akhirnya memenangkan Best Program untuk regional Asia Pacific, yang berarti secara gak langsung proses logistic yang bagus dan rapi turut mengkontribusi kemenangan itu dong (ngarep boleh kan).

     

    Satu hal yang saya benar benar pelajari adalah untuk jangan pernah meremehkan bagian logistic.

     

    It’s complicated, it’s exhausting, it’s tricky, and most of all, it’s essential.

     

     

     

    PERSPEKTIF

     

    Tentu saja akhirnya saya diberi kesempatan juga untuk mengerjakan tugas-tugas ‘canggih’ yang saya impikan sebelumnya. Analisa SWOT, developing communication strategies, doing research, calculating impact and results, blog journalism, creating CSR concept, creating campaign taglines, government relation, dan lain-lain adalah tugas-tugas saya selama saya bekerja di InterMatrix.

     

    Gila aja kalau selama bertahun tahun di InterMatrix cuma ngerjain logistic, males juga kali yahh hehehe….

     

    Tapi percaya atau tidak, pengalaman pertama saya dalam mengurus logistic saat masuk InterMatrix adalah titik awal yang benar benar merubah perspektif saya dalam berkarir. Proses mengurus logistic bagi saya adalah sama dengan proses mengurus karir hidup manusia.

     

    Mau tau kenapa ?

    • Membungkus sebuah goodybag agar bisa kelihatan penuh dengan hanya sedikit isi adalah sama dengan bagaimana kita menutupi kekurangan dan kelemahan yang ada dengan memaksimalkan keahlian kita di satu bidang. Bos besar saya pernah bilang bahwa orang gak perlu bisa semua hal, tapi harus bisa satu hal yang benar benar maksimal.
    • Mencari vendor backdrop yang bisa memenuhi semua kepuasan kita untuk jangka waktu ke depan adalah seperti mencari dengan sungguh-sungguh bidang spesialisasi yang kita minati dan cintai untuk masa depan karir. When we love our job, we would not be hesitated to work 24/7! InterMatrixlah yang membantu saya menemukan passion pada dunia CSR.
    • Proses mencari sponsor furniture gratis adalah seperti proses untuk pantang menyerah di dalam kondisi apapun dan untuk selalu mau belajar dari nol dalam bekerja. Dimana pun kita dan berapapun usia kita, kemauan belajar dari nol adalah keharusan.
    • Namun yang tanpa disangka sangka, adalah proses mengangkat kardus turun naik lantai di depan gadis gadis cantik yang benar benar memberi impact kepada perspektif karir saya. Karena proses ini benar benar membuka mata saya akan pelajaran berharga yang sangat ditanamkan InterMatrix: Membuang ego dan gengsi saya untuk mau meniti karir dari bawah dan tidak pernah malu dengan pekerjaan apapun yang saya kerjakan.

    InterMatrix treats all the same, no matter where they come from or where they graduate from.

     

    InterMatrix tidak butuh orang pintar, tapi butuh orang yang mau belajar dan mau bekerja.

     

    ---

    Sembari memandangi foto itu lagi pertanyaan orang asing tadi masih mengusik beban saya.

     

    Dan jawaban itu tiba tiba datang dengan sendirinya.

     

    Ketika kita mengajak keponakan kita yang paling bandel untuk menemani kita mencari hadiah ultah bagi anak teman kerja kita, ketika kita di hari minggu sore menanyakan harga genset yang murah via telepon kepada direktur keuangan kita, ketika kita mengirim kue ke rumah atasan kita karena berhalangan hadir, ketika kita rela untuk mengatasi rasa paranoid kita kepada pesawat kecil untuk menemani atasan kita dalam penerbangan yogya-bandung, ketika kita tidak bisa tidur karena menyadari betapa bodohnya ketika sebuah pertemanan yang sangat erat retak hanya karena sebuah proyek,

    Bukankah itu semua tejadi karena kita peduli terhadap mereka, bukankah itu karena kita menghargai perasaan mereka, bukankah karena kita percaya pada pendapat mereka, bukankan karena mereka adalah orang yang tidak mau kita buat terluka? Bukankah karena mereka adalah orang orang yang special bagi kita? Bukankah karena mereka…seperti keluarga kita?

     

    Ketika saya baru mau menjawab pertanyaan orang asing tadi, ternyata dia sudah tidak duduk di sebelah saya. Entahlah… mungkin dia sendiri sudah mendapatkan jawaban untuk pertanyaannya dari cara saya melihat foto tadi…….

    Tiba-tiba sebuah suara wanita terdengar menggema,.

     

     

    "Ladies and Gentleman SQ 956 is now ready to board"

     

     

    Panggilan masuk pesawat diumumkan dan saya pun berjalan melangkah menuju belalai pesawat. Entah kenapa panggilan itu seakan menyentakkan saya akan kenyataan yang harus segera saya hadapi.

     

    Perjalanan saya bersama InterMatrix kini telah mencapai garis finish, dan saya akan menuju ke destinasi berikutnya. Ke sebuah destinasi yang jauh lebih berat dan jauh lebih sulit. Ke sebuah destinasi yang medannya belum saya kuasai, dengan orang-orang yang saya tidak kenal sama sekali.

     

    Akankah saya nyaman di dalamnya? Akankah orang-orangnya akan menjadi seperti keluarga bagi saya? Akankah saya lama disana?

     

    Waktulah yang akan menjawab.

     

    Saya pun duduk, dan memasang sabuk pengaman saya. Tak lama terdengar derit suara dari pintu pesawat yang ditutup yang menandakan akan dimulainya penerbangan ini.

     

     

    Entah kenapa kerongkongan saya terasa kering. Pintu itu seakan menandakan kisah saya dengan InterMatrix yang akan segera ditutup,

     

     

    Tanpa sadar mata saya pun melihat ke arah pinggang saya.

     

    Saya pun tersenyum. Bodohnya saya kalau sampai harus takut

     

     

    Sabun pengaman yang saya pakai menandakan semua pelajaran dan ilmu yang telah saya dapatkan dari InterMatrix

     

     

    ‘Sabuk pengaman’ inilah yang akan akan terus membantu saya sampai ke tujuan destinasi berikutnya seberapapun beratnya, seberapapun lamanya.

     

    Next Destination,

     

     

    Here I come.

    Friday October 19, 2007,SQ 966 – Singapore to Jakarta

     

    Baca juga:

    Print article only

    2 Comments:

    1. From SK on 07 August 2013 09:05:04 WIB
      halo Bro Maro apa kabar nie? masih inget emang cara-cara merapikan Logistik hahahahaha, Hidup logistik :)
    2. From ingin-sembuh on 09 August 2013 08:43:57 WIB
      terima kasih mas Maro, saya jadi dapat pembelajaran bahwa ke uletan akan menjadikan keberhasilan.

    « Home