Articles

Perilaku Pemilih dalam Pemilu 2014


04 September 2013

oleh: Nurina Ayuwardhani

Menjelang pemilu 2014, Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si. seorang dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, menyampaikan perspektifnya dalam acara Wimar Show mengenai perilaku pemilih calon presiden yang diadakan tahun 2014 mendatang.

Menurutnya, saat ini bukan lagi waktu yang tepat untuk berkutat mengenai popularitas dan elektabilitas partai/individu untuk mendapatkan kepercayaan publik. Karena yang dibutuhkan oleh publik dan bangsa saat ini ialah pemimpin yang berkualitas. Terjadi paradox of information, publik langsung percaya dengan informasi yang ada dan merasa paling tahu. Padahal volume informasi yang beredar tidak menentukkan kebenaran karena terkadang pemberitaan tidak selalu sama dengan realita. Sayangnya publik kurang menilik secara mendalam rekam jejak masing-masing calon pemimpin sehingga publik menjadi tidak rasional dalam memilih. Padahal untuk memperoleh pimpinan yang tepat harus dipilih dengan rasional, meski jika itu terjadi, ada kemungkinan publik enggan ikut pemilihan presiden.

Perilaku yang terbentuk di publik ialah sebagai sosok yang semakin berdaulat dan berani mengutarakan pendapat. Publik kini tidak bisa lagi didikte dan dimobilisasi dengan mudah oleh partai. Mereka seakan menentukan sendiri siapa dan partai apa yang akan diberi mandat. Dahulu partai selalu mencoba mendikte masyarakat, kepercayaan publik ada pada partai tanpa mengetahui sosok dibalik partai. Akan tetapi, karena partai tidak bersifat partai publik dan sulit dimasukki oleh publik sehingga terjadi protes dari publik dan kemudian mereka mencari idolanya sendiri.

Beliau menambahkan, pasalnya publik menyukai hal-hal yang tidak rumit. Calon harus menampilkan sesuatu agar disukai oleh publik.  Tidak perlu memiliki image pintar dan hebat, karena belum tentu orang yang memiliki kualitas hebat namun tidak dapat menyentuh wilayah-wilayah yang disenangi oleh publik. Maka seringkali terbentuk paradox of hope, harapan yang timbul karena merasa kecewa dengan tokoh-tokoh sebelumnya kemudian mencari tokoh idola baru. Akan tetapi kepercayaan itu seakan sirnah karena tingginya harapan yang diberikan namun pada akhirnya hasil yang diberikan tidak sebesar harapan awal.

Publik masih memiliki waktu sekitar satu tahun untuk mencari dan menemukan pemimpin yang tepat untuk bangsa ini. Hingga saat itu tiba, pergunakanlah hak suara dengan sebaik-baiknya untuk bangsa yang lebih baik.

Print article only

2 Comments:

  1. From tambang emas on 05 September 2013 13:35:05 WIB
    yupss...betul :)
  2. From dispensing valves on 26 March 2014 10:09:56 WIB
    Betul sekali
    Semoga pemimpin sekarang benar-benar mewujudkan janjinya dan tidak cuma janji-janji aja

« Home