Articles

Ramai-ramai Gunakan Hak Suara di PEMILU 2014 untuk Selamatkan Bumi dari Pemanasan Global


03 October 2013

 

 

oleh: Tea Marlini Chandra

 

Menuju 0 Golput: Ramai-ramai Gunakan Hak Suara di PEMILU 2014 untuk Selamatkan Bumi dari Pemanasan Global


Pada Pemilu 2014 masyarakat harus memilih calon presiden (Capres) dan calon legislatif (Caleg) berdasarkan isu strategis bukan lagi pada sosok atau figur sang calon. Satu isu utama yang harus menjadi tolak ukut menentukan presiden dan anggota legislatif dalam Pemilu 2014 adalah pemanasan global yang telah mulai menjadi kenyataan saat ini.

 

Urgensi isu lingkungan hidup khususnya pemanasan global menjadi tolak ukur menentukan presiden dan anggota legislatif dalam Pemilu 2014 dibahas dalam Perspektif Baru Road Show to Campus bertemaPemanasan Global Isu Strategis di Pemilu 2014. Acara ini digelar di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Selasa (1/10).

 

Acara yang merupakan hasil kerja sama Yayasan Perspektif Baru (YPB), Konrad Adenauer Stiftung (KAS), dan Universitas Gadjah Mada tersebut menghadirkan pembicara Direktur Eksekutif WALHI Abetnego Tarigan, Senior Associate on Climate Change & Green Investment DNC Advocates at Work Gita Syahrani, dan Dr. Ahmad Maryudi, Dosen Universitas Gadjah Mada. Sedangkan Wimar Witoelar, pendiri YPB, menjadi moderator.

 

Saat mengawali diskusi, Wimar Witoelar mengatakan Pemilu adalah sarana bagi masyarakat untuk ikut menentukan arah negara selama lima tahun mendatang melalui hak suara yang dimilikinya. Hak suara tersebut harus dimanfaatkan dengan memilih Capres dan Caleg yang paham dengan isu pemanasan global dan tidak skeptis dengan hal ini. “Banyak pihak merasa bahwa isu pemanasan global ini tidak seksi untuk diusung ke dalam kampanye, padahal disadari atau tidak, kita ini hidup di alam yang sudah semakin rusak kondisinya. Jika hal infrastruktur, pendidikan, ekonomi telah berhasil diperbaiki, namun jika bumi dimana kita tinggal saat ini terlanjur hancur, percuma saja kan?” jelas Wimar.

 

Menurut Dr. Ahmad Maryudi, Capres dan Caleg jangan meremehkan isu lingkungan hidup termasuk pemanasan globalIsu lingkungan hidup adalah bagian dari isu politik di banyak negara. Bahkan pemanasan global sudah menjadi isu lingkungan yang mengglobal. “Partai Hijau/Green Party di banyak negara terus berkembang dan terus mendapat banyak dukungan, contohnya di Jerman yang baru beberapa waktu lalu melakukan pemilu dan dimenangkan oleh partai hijau.” kata dia. Selain Jerman, beberapa Negara juga menunjukkan bahwa partai hijau kini mulai dilirik oleh warganya, “Jadi ya memang sudah mulai terlihat bahwa masyarakat dunia ingin melakukan gerakan besar untuk memperbaiki bumi kita.” Jelasnya.

 

Abetnego mengimbau agar pada Pemilu tahun depan masyarakat mempertimbangkan dan menganalisa latar belakang serta track record politik para calon terutama di bidang lingkungan hidup, seperti apakai termasuk orang yang merusak hutan atau tidak. Dikutip dari presentasi oleh Direktur WALHI tersebut, tidak sedikit bahkan banyak penguasa politik merangkap sebagai pengusaha yang menggerus kekayaan alam kita seperti batu bara, kebun kelapa sawit dan sebagainya. Bahkan tidak jarang keuntungan hasil usaha tersebut dialokasikan untuk dana kegiatan berpolitik. Selain faktor tersebut, sikap acuh pemerintah saat ini terhadap protes masyarakat mengenai isu lingkungan, juga menjadi salah satu yang perlu dipertimbangkan dalam menilai caleg dan capres pada PEMILU 2014. “Kelestarian lingkungan hidup adalah kunci pertumbuhan ekonomi dan keutuhan negara kita. Setuju dengan Bang Wimar, kita perlu pemerintah yang tidak skeptis dengan isu pemanasan global yang sudah semakin membahayakan dunia,” tuturnya. 

 

Menurut Gitasebuah lembaga internasional pernah menyampaikan bahwa seandainya suhu bumi naik 2 derajat celsius, maka keadaan bumi akan semakin mengkhawatirkan: es di kutub mencair, permukaan air laut naik menjadi kira-kira dua meter dan bencana lainnya yang mungkin terjadi. “Tahukah Anda, bahwa ternyata bumi saat ini sudah naik 1,4 derajat Celsius, artinya kita perlu secara serius menanggapi, berkomitmen dan mengambil tindakan untuk melindungi bumi dari pemanasan global.” Jelasnya. Pada tahun ini pemerintah Indonesia telah mulai menunjukkan pro lingkungan dengan berbagai kebijakannya seperti perpanjangan moratorium pemberian izin baru dan penyempurnaan tata kelola hutan dan lahan gambut, serta pendirian Badan Pengelola REDD+ yang baru saja diresmikan. “Ini baru langkah awal, setelah Presiden SBY tidak lagi memimpin, Indonesia membutuhkan pemimpin yang peduli, berkomitmen tinggi dan mampu melanjutkan perjuangan ini. Generasi muda perlu diingatkan bahwa faktanya lebih dari 50% calon pemilih 2014 nanti itu adalah generasi mereka.” kata Gita.

 

Upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup termasuk mencegah pemanasan global merupakan kegiatan masifyang memerlukan political will bersama untuk terus mendorong kerangka kebijakan pemerintahan ke arah yang pro lingkungan. Jadi masyarakat Indonesia terutama generasi muda harus mau menggunakan hak pilihnya dan memilih calon yang mengusung isu strategis pemanasan global atau pro lingkungan hidup pada Pemilu 2014.  

Print article only

0 Comments:

« Home