Articles

Menjaga hutan dan masyarakat adat


06 October 2013

oleh: Nadia Rahmawati, Perspektif Baru

"Barangkali disana ada jawabnya..
Mengapa di tanahku terjadi bencana..
Mungkin tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita..
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa dosa..
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita..
Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang.."

"Barangkali disana ada jawabnya..

Mengapa di tanahku terjadi bencana..

Mungkin tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita..

Yang selalu salah dan bangga dengan dosa dosa..

Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita..

Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang.."

 

Lagu ini melatarbelakangi tema aara Perspektif Baru di Yogyakarta 1 Oktober 2013 yang didukung Konrad Adenauer Stiftung dari Jerman. Acara memberikan fokus pada Perubahan Iklim, Menjaga Hutan dan Menghargai Mastarakat Adat.

 

 

 

Acara di Yogya dihadiri Philip Mueller dari Konrad Adenauer Stiftung dari Jerman, yang mendukung kegiatan Perspektif Baru
.
.

Lagu "Berita kepada Kawan" dari Ebiet G.Ade makin menghidupkan suasana di sela obrolan Eka Prasetya,penyiar Satunama 864 AM Radio Yogyakarta dan Wimar Witoelar pada Senin silam 30 September 2013. "Berita Pada Kawan"  banyak mengungkapkan nilai-nilai yang sangat penting akan penghormatan kita terhadap alam dan terkaitnya nasib manusia dengan alam. Wimar Witoelar kembali mengungkapkan dalam pembukaannya,  bahwa bencana yang diakibatkan perubahan dalam pola-pola curah hujan air dan cuaca pada umumnya yang sekarang terjadi di seluruh dunia adalah trauma yang timbul akibat adanya  perubahan iklim. 

Perubahan iklim dari yang stabil suhunya menjadi naik beberapa derajat setiap sekian tahun. Naik satu derajat di dunia akibatnya sudah sangat besar karena  dunia ini berkaitan satu sama lain, seperti di Sleman ini yang tidak terlepas dari apa yang terjadi di Kutub Utara. Di dekat Kutub Utara terdapat pulau besar bernama Greenland yang berisikan es dan salju. Kalau terkena pemanasan, semua akan  berubah menjadi air kemudian mengalir ke laut. Akibatnya permukaan laut naik di seluruh dunia termasuk di laut Jawa. Melihat dari banjir di Jakarta, kekacauan pola pasang surut air menyulitkan nelayan yang sudah mengenal laut selama bergenerasi dan mempunyai jam-jam tertentu untuk mencari ikan. Sekarang berubah, dan perubahan yang cepat bisa mencetuskan badai atau kekacauan iklim yang tidak pernah dijumpai sebelumnya. 

Sangat berkaitannya alam dengan nasib manusia di tahun-tahun berikut, kadang-kadang luput dari perhatian orang. Perhatian pada pemilihan Presiden  2014 terfokus pada kepentingan para kandidat melalui  kasus-kasus yang dibuat-biat sebagai daftar "Top 5" seperti skandal politik, plesetan Bank Century dan lainnya.

Sayangnya perhatian umum bukan dicurahkan kepada kekayaan Indonesia yaitu sumberdaya alam tertama  hutan yang terus menerus disia siakan. Terbukti, selama tiga puluh tahun terakhir ada lebih dari setengah hutan kita yang hilang seperti di Kalimantan, Sumatera, Papua dan sederetan pulau-pulau kecil yang sudah tenggelam. 
Sangat disayangkan bila kita terpaku untuk memilih politisi tetapi kita tidak tahu apa yang ada di dalam masing-masing pikiran mereka, dan bahkan kita tidak tahu apa capres itu sebenarnya mengerti atau minimal mau mengerti tentang menjaga alam dan hutan.
Akibat pemanasan global itu menjadi parah karena sebenarnya yang terkena seluruh dunia tapi Indonesia paling cepat tersentuh karena mempunyai garis pantai yang banyak. Indonesia tercatat sebagai negara dengan garis pantai  terpanjang. Berbeda dengan Rusia, Indonesia dikelilingi laut. Bila laut naik dua meter maka 70% penduduk pulau Jawa  kebanjiran. Juga berimbas pada ribuan pulau-pulau kecil di Indonesia yang akan hilang seperti Pulau Seribu, kepulauan Riau, pulau pulau kecil lepas pantai Kalimantan, Sekitar Raja Ampat maupun  Halmahera. Pastinya bila terjadi, akan muncul penyesalan terlambat.

Belum tentu orang yang sibuk melakukan polling, mengeluarkan uang, mempunyai perhatian terhadap masalah hutan. Sejelas-jelasnya yang penuh perhatian terhadap hutan itu orang yang hidupnya tergantung dengan hutan yaitu masyarakat adat.
Mengenai masyarakat adat, kira kira 40 juta dari 120 juta hektar hutan Indonesia sebenernya milik masyarakat adat Mereka tinggal dan menetap disitu bergenerasi turun termurun. . Tapi pemerintah kolonial tidak mengakui mereka, karena lebih berkepentingan agar pemerintah yang menguasai tanah agar bisa memberikan  izin-izin konsesi pengusaha untuk dijadikan perkebunan karet, kelapa sawit,kertas, dsb.
Maka kelangsungan hutan terpinggirkan sama sekali, dan tanpa penjaga yang benar benar mengerti tentang hutan jadilah dianggap lebih berguna bila hutan itu dibabat untuk dijual kayunya untuk dijual dan diganti oleh tanaman sawit, padahal indonesia adalah hutan yang paling banyak keanekaragamannya. Dengan digantinya oleh satu jenis tanaman, maka persediaan karbon dioksida akan hilang . Banyak karbon yang lepas ke udara dan menyebabkan pemanasan global. Banjir itu bukan karena kesalahan teknologi, tetapi terletak pada alam yang tidak diperhatikan oleh pemimpin masyarakat.
 
Orang  yang mengerti masalah terhadap hutan dan alam adalah orang yang patut dapat kepercayaan  dari kita.Banyak yang tidak mau mengerti karena tidak ada untungnya. Mereka mengenyampingkan kepentingan masyarakat adat di hutan agar bisa lebih leluasa menggarap hutan untuk keuntungan.

Bahkan sayangnya pemerintah indonesia sengaja atau tidak sengaja terjebak hingga kepada Kementrian Luar Negri hingga tidak mengakui adanya masyarakat adat, karena takut  merepotkan bila diakui ada. Dengan masyarakat adat tidak diakui,  lebih praktis dan mudah bagi penguasa menggarap lahan hutan dan alam dengan bebas.

Pemerintah eksekutif dan DPR akan dipilih dalam Pemilu 2014. Ini ajang untuk  menerapkan kekuasaan rakyat tanpa revolusi. Tidak perlu juga untuk menunggu pemerintah hingga "ambruk".  Jalankan hak Pemilu secara normal dengan penuh perhatian dengan memilih orang-orang yang mempunyai perhatian untuk masalah hutan dan lingkungan.

Saat ini, banyak sekali model komputer digunakan orang yang sadar akan lingkungan, hutan dan alam. Tapi yang sadar dan mengerti bukan orang yang berkuasa. Kadang itu membuat kita menjadi tidak melakukan apa-apa. Padahal kita punya suara memilih. Memilih sederet orang-orang baik yang mengerti akan alam, lingkungan dan hutan untuk keberlangsungan hidup manusia kedepannya.

Dengan kilas balik melihat statistik kasar Pemilu pada waktu lalu prosentase 43% penduduk yang  seharusnya punya hak pilih tapi tidak menggunakannya justru lebih banyak dari parai pemenang yang memenangkan 33%.  Partai terbesar adalah  partai Golput.Bila diberikan suaranya kepada orang bersih dengan kualifikasi yang baik, maka orang tersebut akan mendapatkan kekuasaan didesak mewujudkan keinginan yang sesuai dengan keinginan rakyat.

Prinsipnya adalah percaya bahwa akibat pemanasan global ini akan terjadi pada kita, kecuali bila kita melakukan sesuatu. Lakukan sesuatu yang sangat sederhana adalah dengan Ikut pemilu.Mempelajari isu penting yang berkaitan dengan hutan rakyat dan melihat rekam jejak orang yang akan kita pilih.

Pilihlah orang baik yang peduli akan lingkungan dan hutan dan mengerti benar akan kekayaan alam Indonesia. 

Print article only

2 Comments:

  1. From viddy on 06 October 2013 18:41:40 WIB
    Om, ada ciri2 partai peserta pemilu yg berpihak sama alam gak ya? Atribut partai warna hijau kyk pohon aja gak bicarakan alam, n semua partai sepertinya janjinya selalu mengenai peningkatan ekonomi, keamanan dll. Janji kampanye mengenai alam gak seksi sekali sepertinya.
    dan manusia modern lebih barbar drpd masyarakat adat sepertinya,hehe....
    makasi buatkesempatannya.
  2. From trinity on 09 October 2013 09:49:06 WIB
    berharap para wakil rakyat bisa lebih peduli sama rakyat jangan korupsi mulu lah, udah cukup kali ngga malu apa makan uang rakyat kecil -.- kan kalo uangnya halal enak belanjainnya, salah satunya bisa buat beli rumah minimalis yang depannya danau kaya di www.citralakesawangan.com/?p=1405 :)

« Home